cover
Contact Name
Dr. Ide Bagus Siaputra
Contact Email
-
Phone
+62312981246
Journal Mail Official
anima@unit.ubaya.ac.id
Editorial Address
Faculty of Psychology, Universitas Surabaya Jalan Raya Rungkut Mejoyo (Raya Kali Rungkut), Surabaya, East Java, 60293
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
ANIMA Indonesian Psychological Journal
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 02150158     EISSN : 26205963     DOI : https://doi.org/10.24123/aipj
Core Subject : Social,
Anima publishes peer reviewed articles with editors and consultants providing detailed assistance for authors to reach publication. Anima publishes research reports and scientific papers in psychology and/or related sciences with the aim to advance science, knowledge, and theory of psychology.
Articles 651 Documents
High Intensity Swimming Exercise Decline Memory Retention of Young White Rats (Rattus norvegicus) Argarini, Raden; Harjanto, J. M.; Effendi, Choesnan; Herawati, Lilik; Irwadi, Irfiansyah
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v27i4.4239

Abstract

The aim of this study was to test whether high intensity swimming exercise on young white mice affect memory retention. A Randomized Post-Test Only Control Group Design was used. Subjects were 20 male rats (Rattus norvegicus wistar strain), age 1 to 1.5 months, body weight 60-100 grams, which were divided randomly into 2 groups (each consist 10 rats). The treatment group got the high intensity swimming exercise (plus 9% of body weight added load). Each treatment was conducted once a day during 1 minute and 45 seconds, three sets with rest period three times the exercise time, for four weeks. Memory retention was measured through a Y- maze test in two sessions, each with six replications. Results showed that memory retention between groups on day 4, was (65.00 ± 31.38)% in the control group, and (30.56 ± 26.68)% in the treatment group. Independent t-test results revealed significant differences between the control group and the treated group (p = .020). The conclusion is that high intensity exercise decline memory retention in young white rats. Tujuan penelitian ini adalah menguji apakah latihan renang intensitas berat pada tikus putih muda memengaruhi retensi memorinya. Desain penelitian adalah Randomized Post-Test Only Control Grup. Subjek adalah 20 ekor tikus putih (Rattus norvegicus strain wistar) jantan, umur 1-1,5 bulan, berat badan 60 – 100 gram. Melalui random assignment subjek dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (masing-masing 10 ekor) Kelompok perlakuan (10 ekor) diberi latihan renang dengan intensitas berat (beban 9% berat badan). Perlakuan diberikan satu kali per hari selama 1 menit 45 detik, tiga set dengan waktu istirahat tiga kali lama waktu latihan, selama empat minggu. Retensi memori diukur melalui test Y-maze selama dua sesi, masing-masing enam kali pengulangan. Hasil setelah hari ke-empat, pada kelompok kontrol didapatkan rerata (65.00 ± 31.38)%, kelompok perlakuan (intensitas tinggi) adalah (30.56 ± 26.68)%. Hasil independent t test menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan (p = .020). Simpulan penelitian ini adalah latihan renang dengan intensitas tinggi menurunkan retensi memori pada tikus putih muda.
Development of Mobile Phone Addict Scale Yuwanto, Listyo
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v27i4.4240

Abstract

The aim of this study was to develop the mobile phone addict scale, which was developed based on Mobile Phone Addict Index (MPAI) according to Leung’s study (2007), such as inability to control craving, anxiety and feeling lost, withdrawal/escape, and productivity loss. The development of the scale adopted items of Leung’s study. Participants were 200 students who were at late stages of adolescence selected through incidental sampling (N=200). Results of validity, reliability, and norm are further discussed. Penelitian ini bertujuan mengembangkan skala mobile phone addict, yang dikembangkan berdasarkan Mobile Phone Addict Index (MPAI) hasil penelitian Leung (2007), antara lain ketakmampuan mengendalikan ketahigan, kecemasan dan perasaan hilang, penarikan diri/pelarian, dan kehilangan produktivitas. Pengembangan skala mengadopsi butir-butir hasil penelitian Leung. Partisipan adalah mahasiswa yang berada pada tahapan perkembangan remaja akhir melalui incidental sampling (N=200). Hasil uji validitas, reliabilitas, dan norma skala didiskusikan lebih lanjut.
Academic Procrastination and Parenting Styles in Psychology Students Loa, Reny Iriani
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v27i4.4241

Abstract

The aim of this study is to test the correlation between academic procrastination and parenting styles (authoritarian, authoritative, and permissive). Subjects were all psychology students taking their final research paper on the 2011/2012 first semester, therefore the subjects (N=157)were from the 2004-2008 term students. Data collection was obtained from surveys, consisting of the Pure Procrastination Scale (PPS), EVID 2, and Parental Authority Questionnaire (PAQ). The non-parametric data was analysed with the Spearman correlation technique through the SPSS 16.0 program for Windows. Results show no correlation between academic procrastination and authoritarian parenting style, and also no correlation between academic procrastination and the permissive parenting style. The only positive correlation exists between academic procrastination and the authoritative parenting style. Another finding of this study was the negative correlation between parenting styles and need for achievement. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara prokrastinasi akademik dan pola asuh orang tua (otoriter, otoritatif, dan permisif). Subjek penelitian ini adalah semua mahasiswa psikologi (N=157) yang sedang mengambil skripsi pada semester gasal 2011/2012, berarti berasal dari angkatan 2004–2008. data diperoleh melalui survei dengan angket Pure Procrastination Scale (PPS), EVID 2, dan Pola Asuh Orang Tua (PAQ). Data non-parametrik dianalisis dengan teknik korelasi Spearman menggunakan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil menunjukkan tiga temuan, yakni: Pertama, tidak adanya korelasi antara prokrastinasi akademik dan pola asuh orang tua. Kedua, adanya hubungan antara prokrastinasi akademik dan pola asuh otoritatif orang tua. Ketiga, tidak adanya hubungan antara prokrastinasi akademik dan pola asuh permisif orang tua. Terdapat data penunjang dalam penelitian ini, yakni adanya hubungan negatif antara pola asuh orang tua dan kebutuhan berprestasi.
Health Promoting Opportunities in Urban Environment Vinck, Jan
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4243

Abstract

This paper is attempted to answer to the question ”How can psychologists, using psycho- logical science, contribute to the prevention of illness and to the promotion of health, particularly in an urban environment?” It will be shown that in this ecological approach the urban environment is of crucial importance, which opens health promoting opportunities. Media advertise for specific prod- ucts and have an influence on sale; they create social models, social norms and stereotypes. Social and cultural forces have an impact on stereotypes with regards to healthy and risky behaviour. The educational system has, in collaboration with parents, an important role in shaping healthy behaviour and establishing healthy social norms. We draw a conclusion that we should stop focusing (almost exclusively) on individual responsibility and rationality, understand health related behaviour as habits and move to working with the situational contingencies that are eliciting and reinforcing behaviour. Artikel ini berupaya menjawab pertanyaan “Bagaimana para psikolog, dengan ilmunya, mampu berkontribusi pada pencegahan penyakit dan promosi kesehatan, terutama dalam lingkungan perkotaan?” Akan ditunjukkan bahwa dalam pendekatan ekologis ini, lingkungan perkotaan amat me- nentukan, yang memberi kesempatan mempromosikan kesehatan. Media mengiklankan produk- produk spesifik dan memengaruhi penjualan; mereka menciptakan model sosial, norma dan stereotip sosial. Kekuatan sosial dan budaya memiliki dampak pada stereotip yang menyangkut perilaku sehat maupun berisiko. Sistem pendidikan memiliki, dalam kerja sama dengan para orang tua, peran penting dalam membentuk perilaku sehat dan mengukuhkan norma sosial yang sehat. Kami menarik simpulan bahwa kami harus mampu berhenti menuntut (nyaris secara eksklusif) tanggung jawab dan rasionalitas individual, memahami bahwa perilaku terkait kesehatan adalah suatu kebiasaan dan mulai bekerja dengan kemungkinan situasional yang mencetuskan dan menguatkan perilaku.
Group Differences in Learning between Students and Employees Tjitra, Hora W.; Zhang, Yang
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4244

Abstract

Our research focuses on learning styles and experiences and preferences for learning me- thod and media in the Chinese cultural context. Based on 302 questionnaires collected from three group—Employees, graduate students, and undergraduate students, we found that the dominant Chi- nese learning style is “Diverging” and then “Assimilating”, based on Kolb’s (1984) theory of learning styles. Learning style is stable across different demographic groups in our sample, including gender, occupation, major, and educational experience. We also found that there was a higher level of consis- tency between frequency and preference for learning media and methods in employee group than for graduate student group and for undergraduate student group. Cross-group comparison showed that there is little difference in preference for learning method and media across three groups; however, in terms of experiences (i.e., frequency of use), there is a higher degree of differences across the three groups, with employees reporting a wider range and more frequent use in general. Possible explana- tions will be discussed. Penelitian kami terfokus pada gaya belajar dan pengalaman serta pilihan metode dan media belajar dalam konteks budaya China. Berdasarkan 302 kuesioner yang dikumpulkan dari 3 kelom- pok—karyawan, mahasiswa S-2, dan mahasiswa S-1, kami menemukan bahwa berdasarkan teori Kolb (1984) gaya belajar China yang dominan adalah “menyimpang” dan kemudian “mengasimilasi.” Gaya belajar pada sampel kami cukup stabil lintas kelompok demografik yang berbeda, termasuk gender, pekerjaan, pilihan utama (major) dan pengalaman pendidikan. Kami juga menemukan adanya tingkat konsistensi yang tinggi antara frekuensi dan pilihan media dan metode belajar pada kelompok pekerja daripada pada kelompok mahasiswa S-2 dan S-1. Perbandingan lintas-kelompok menunjuk- kan bahwa terdapat sedikit perbedaan dalam pilihan metode dan media belajar lintas ketiga kelompok tersebut; namun, dalam kaitan pengalaman (misalnya frekuensi penggunaan), terdapat derajat perbe- daan yang lebih tinggi lintas ketiga kelompok, yaitu para pekerja melaporkan rentang yang lebih lebar dan secara umum lebih sering menggunakan metode dan media. Dibahas berbagai kemungkinan pen- jelasannya.
Reconciling Work and Family Responsibilities: A Global Perspective Bardoel, E.A.; Cieri, H. De
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4245

Abstract

The issue of reconciling work and family responsibilities is a major concern for working men and women whether they live in industrialized and developed nations or developing nations. In- creasingly working adults in developing countries are struggling to reconcile work and family respon- sibilities. Although they will vary depending on the cultural context, effective family friendly policies require managers to be cognizant of a number of local factors that influence employees’ work and personal lives. These factors include culture and traditions, the role of key stakeholders, public poli- cies, community resources and infrastructure, and workplace practices and demographics. Isu memadukan pekerjaan dan tugas keluarga merupakan masalah utama bagi pria dan pe- rempuan yang bekerja baik mereka hidup di negara industri dan maju atau di negara berkembang. Makin banyak pekerja dewasa di negara berkembang berusaha dengan keras memadukan pekerjaan- nya dengan kewajiban keluarga. Sekalipun hal tersebut bervariasi tergantung konteks budayanya, ke- bijakan ramah keluarga yang efektif menuntut para manajer untuk bertanggung jawab terhadap se- jumlah faktor lokal yang memengaruhi kerja para pekerja dan kehidupan pribadinya. Faktor-faktor ini meliputi budaya dan tradisi, peran kunci mereka yang terkait, kebijakan umum, sumber daya dan in- frastruktur masyarakat, dan praktik-praktik di tempat kerja dan demografi.
Healthy Urban Planning: Meaning of Sustainable Development to Improve the Quality of Human Life in the City Sulistyarso, Haryo
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4246

Abstract

Urban planning, as one of the first important process in developing a city, should also ac- commodate ethical dimensions of sustainable development which could promote health and the quali- ty of human life, through a harmonious relation between human and nature. A healthy city should meet the basic needs for all the city’s people, among others promoting a high health status and low levels of disease, a high degree of participation and control by the public over the decisions affecting their lives, health and wellbeing. Other planning policies and qualities of a healthy city are also discussed. Perencanaan kota, sebagai salah satu proses penting pertama dalam mengembangkan se- buah kota, seyogianya juga mengakomodasi dimensi etis pengembangan yang berkelanjutan yang mampu meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup manusia, melalui hubungan harmonis antara ma- nusia dan alam. Sebuah kota yang sehat wajib memenuhi kebutuhan dasar seluruh penghuni kota, an- tara lain peningkatan status kesehatan yang tinggi dan langka penyakit, tingkat keperansertaan yang tinggi dan kontrol ketat oleh masyarakat menyangkut putusan yang memengaruhi kehidupan, keseha- tan, dan kesejahteraannya. Didiskusikan pula kebijakan perencanaan dan kualitas kota sehat yang lain.
Marginalized Society in the City of Surabaya: A Proposal for Effective Solution Probowati, Yusti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4247

Abstract

Advance development of a city as big as Surabaya has created a sophisticated physical development. Nevertheless, on the other side it has enlarged the marginalized society. Marginalized society is a group of people which is due to many factors, they cannot take roles properly in the society. The number of marginalized society in East Java has been up to 26.27 % of total population, and most of them live in Surabaya. The aim of this article is to provide a description of marginalized society (such as street children, sex workers, beggars, the homeless, the homeless with psychosomatic disorder, and criminals), treatment by the government, and a proposal for effective solution from the perspective of psychology. Perkembangan pesat kota sebesar Surabaya telah menciptakan perkembangan fisik yang canggih. Namun, di sisi lain hal tersebut telah meningkatkan jumlah masyarakat yang terpinggirkan. Masyarakat yang terpinggirkan adalah kelompok orang yang karena berbagai sebab, tak mampu berperan secara tepat dalam masyarakat luas. Jumlah masyarakat terpinggirkan di Jawa Timur telah meningkat hingga 26.27 % dari seluruh populasi, dan sebagian besar tinggal di Surabaya. Tujuan artikel ini adalah mengenali masyarakat terpinggirkan (seperti anak jalanan, pekerja seks komersial, pengemis, tuna wisma, tuna wisma dengan kelainan psikosomatik, dan kriminal), penanganan oleh pemerintah, dan menyampaikan solusi efektif dari sudut pandang psikologi.
Orientasi Religius Dewasa Madya Kristen dalam Pelayanan Gereja Limanto, Yennie; Sukamto, Monique E.; Setiawan, Jenny L.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4248

Abstract

This study was conducted to evaluate the difference of religious orientation between middle aged Christians who were active and inactive in church ministry activities. Participants were the members of church community whose ages were 40-60 years (N = 50; active: 25; inactive: 25). The participants were assumed as active if they had participated in church ministry activities for at least one year and had not received any incentives. Religious orientation was measured by Religious Orientation Questionnaire which was designed in a Likert scale. The researchers also added four open-ended questions for deeper analyses. The analysis using the U Mann-Whitney Test showed the difference of religious orientation between those who were active and inactive. Those who were active in church ministry activities showed higher intrinsic religious orientation. Penelitian ini dilakukan untuk melihat ada tidaknya perbedaan orientasi religius antara dewasa madya Kristen yang aktif dan tidak aktif dalam kegiatan pelayanan gereja. Subjek penelitian adalah jemaat dewasa madya Kristen yang berada pada rentang usia 40-60 tahun (N = 0; aktif: 25, tidak aktif: 25). Subjek dinyatakan aktif, apabila aktif menjalankan kegiatan pelayanan gereja selama minimal 1 tahun dan tidak mendapatkan imbalan dalam bentuk apa pun. Orientasi religius diukur melalui angket Orientasi Religius, yang mengacu pada skala Likert. Peneliti juga menambahkan empat butir terbuka pada angket tersebut. Hasil analisis data yang dilakukan dengan teknik Uji U Mann-Whitney menunjukkan bahwa ada perbedaan orientasi religius antara dewasa madya Kristen yang aktif dan yang tidak aktif dalam pelayanan gereja. Dewasa madya Kristen yang aktif dalam pelayanan gereja memiliki orientasi religius yang lebih intrinsik.
Dimas: Gay yang Pernah Nikah Secara Heteroseksual (Sebuah Life History) Nugroho, Adi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v23i1.4249

Abstract

This is a life history (LH) of Dimas, a gay who had been married heterosexually. LH is aimed to understand the individual through his appreciation on experiences he feels happening in his life, as well stressing his relationship with the author. LH is also used to understand how people live and work in a colonial context (oppression), oppression against homosexuality as a minority discourse. Data in this article were obtained from Dimas’ narrations, which the author collected through in-depth interviews. Other data were obtained from Dimas’ self-portrait, and other relevant researches. Results reveal Dimas’ understanding of his sexual orientation, as well as the understanding of experiences he seems to experience. Secondly the interaction of Dimas and his culture in a social construction context and the development of the homosexuality issue in Indonesia. Karya ini merupakan life history (LH) Dimas, gay yang pernah nikah secara heteroseksual. LH bertujuan memahami individu melalui pemaknaan dirinya atas peristiwa-peristiwa yang dimaknainya telah terjadi di kehidupannya, di samping juga menggarisbawahi hubungan individu dengan peneliti. LH digunakan untuk mengerti bagaimana manusia hidup dan bekerja dalam konteks kolonial (penindasan), dalam hal ini penindasan atas homoseksualitas sebagai wacana minoritas. Data yang digunakan di sini, yang utama adalah narasi Dimas yang peneliti peroleh melalui in-depth interview. Data lain berupa catatan harian dan potret diri Dimas, serta penelitian lain yang terkait. Hasil penelitian ini, yang pertama adalah pemaknaan Dimas atas orientasi seksualnya, termasuk pemaknaan atas rangkaian peristiwa yang menurutnya telah terjadi. Kedua adalah interaksi Dimas dengan budayanya dalam konteks konstruksi sosial dan perkembangan isu homoseksualitas di Indonesia.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025) Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025) Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024) Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024) Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023) Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023) Vol 37 No 2 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 2, 2022) Vol 37 No 1 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 1, 2022) Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021) Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021) Vol. 35 No. 2 (2020): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 2, 2020) Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019) Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019) Vol. 34 No. 3 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 3, 2019) Vol. 34 No. 2 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 2, 2019) Vol. 33 No. 4 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 4, 2018) Vol. 34 No. 1 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 1, 2018) Vol. 33 No. 3 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 3, 2018) Vol. 33 No. 2 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 2, 2017) Vol. 33 No. 1 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 1, 2017) Vol. 32 No. 4 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 4, 2017) Vol. 32 No. 3 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 3, 2017) Vol. 32 No. 2 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 2, 2017) Vol. 32 No. 1 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 1, 2016) Vol. 31 No. 4 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 4, 2016) Vol. 31 No. 3 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 3, 2016) Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016) Vol. 31 No. 1 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 1, 2015) Vol. 30 No. 4 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 4, 2015) Vol. 30 No. 3 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 3, 2015) Vol. 30 No. 2 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 2, 2015) Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014) Vol. 29 No. 4 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 4, 2014) Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014) Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014) Vol. 29 No. 1 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 1, 2013) Vol 28 No 4 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 4, 2013) Vol 28 No 3 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 3, 2013) Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013) Vol 28 No 1 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 1, 2012) Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012) Vol 27 No 3 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 3, 2012) Vol 27 No 2 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2012) Vol 27 No 1 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2011) Vol 26 No 4 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 4, 2011) Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011) Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011) Vol 26 No 1 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 1, 2010) Vol 25 No 4 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 4, 2010) Vol 25 No 3 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 3, 2010) Vol 25 No 2 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 2, 2010) Vol 25 No 1 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 1, 2009) Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009) Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009) Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009) Vol 24 No 1 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No.1, 2008) Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008) Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008) Vol 23 No 2 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 2, 2008) Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007) Vol 22 No 4 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 4, 2007) Vol 22 No 3 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 3, 2007) Vol 22 No 2 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 2, 2007) Vol 22 No 1 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 1, 2006) Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006) Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006) Vol 21 No 2 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 2, 2006) Vol 21 No 1 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 1, 2005) Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005) Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005) Vol 20 No 2 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 2, 2005) Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004) Vol 19 No 4 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 4, 2004) Vol 19 No 3 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 3, 2004) Vol 19 No 2 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 2, 2004) Vol 19 No 1 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 1, 2003) Vol 18 No 4 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 4, 2003) Vol 18 No 3 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 3, 2003) Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003) Vol 18 No 1 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 1, 2002) Vol 17 No 4 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 4, 2002) Vol 17 No 3 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 3, 2002) Vol 17 No 2 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 2, 2002) Vol 17 No 1 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 1, 2001) Vol 16 No 3 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 3, 2001) Vol 16 No 2 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 2, 2001) Vol 16 No 4 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 4, 201) Vol 16 No 1 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 1, 2000) Vol 15 No 4 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 4, 2000) Vol 15 No 3 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 3, 2000) Vol 15 No 2 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 2, 2000) Vol 15 No 1 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 1, 1999) Vol 14 No 4 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 4, 1999) Vol 14 No 3 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 3, 1999) More Issue