cover
Contact Name
Dr. Ide Bagus Siaputra
Contact Email
-
Phone
+62312981246
Journal Mail Official
anima@unit.ubaya.ac.id
Editorial Address
Faculty of Psychology, Universitas Surabaya Jalan Raya Rungkut Mejoyo (Raya Kali Rungkut), Surabaya, East Java, 60293
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
ANIMA Indonesian Psychological Journal
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 02150158     EISSN : 26205963     DOI : https://doi.org/10.24123/aipj
Core Subject : Social,
Anima publishes peer reviewed articles with editors and consultants providing detailed assistance for authors to reach publication. Anima publishes research reports and scientific papers in psychology and/or related sciences with the aim to advance science, knowledge, and theory of psychology.
Articles 651 Documents
Acculturation, Mental Health, and Well Being: The Experience of Indonesian Students in Germany Yuniarti, Kwartarini W.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i2.4422

Abstract

Being sojourners in Germany may cause Indonesian students stress due to acculturation. Acculturation in this study defined as culture change resulted from contact between two cultural groups. This study was to identify symptoms of general mental health status related to acculturation. The acculturation orientation and the general mental health status were measured using standardized psychometric instruments.Hypotheses were developed to see if there were any significant different on general mental health status of the students with regard to acculturation, length of stay and presence of families in Germany. A survey of 201 Indonesian students in Germany was conducted. Results were then compared to Indonesian students in Indonesia. It shows that more than a half of the sojourners kept their Asian values and behaviors. Significant different was observed on some aspects of psychological well- being, partly moderated by length of sojourning. “Hostility” was maximal in the first 2 months of sojourning and declining thereafter. Menjadi sojourner di Jerman bagi mahasiswa Indonesia barangkali dapat menyebabkan stress terkait dengan akulturasinya. Akulturasi didefinisikan sebagai interaksi dua kultur yang berbeda yang dialami pada waktu yang sama dan terus-menerus. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi symptom kesehatan mental terkait dengan akulturasinya. Orientasi akulturasi dan kondisi mental mahasiswa diukur dengan instrument psikometris yang standard. Hipotesa: apakah ada perbedaan kesehatan mental secara umum pada mahasiswa Indonesia di Jerman terkait dengan orientasi culturalnya, lama tinggal, serta keberadaan keluarga di Jerman. Survei terhadap 201 mahasiswa Indonesia di Jerman dilakukan secara “cross-sectional”. Hasilnya dibandingkan dengan mahasiswa Indonesia di Indonesia dengan kelompok yang sama. Hasil menunjukan bahwa lebih dari 50% mahasiswa Indonesia di Jerman tetap berorientasi pada nilai-nilai dan perilaku Asia terlepas dari lama tinggal di Jerman. Perbedaan signifikan ditemukan pada beberapa aspek kesehatan mental terkait dengan lama tinggal di Jerman. “Hostility” paling tinggi dialami oleh mahasiswa untuk 2 bulan pertama di Jerman.
Kristalisasi Persepsi Terhadap Pribumi Pada Perempuan Tradisional Tionghoa: Sebuah Life History Salim, Christina; Wahyuningsih, Sri
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i2.4423

Abstract

Using the life history method with interpretive paradigm, this research aims to reveal the Chinese identity and their perception to pribumi from a traditional Indonesian Chinese woman per- spective. The informant is an Indonesian Chinese woman born in Tanjung Balai, North Sumatra, 1944, who suffered during several riots and discriminative policies that oppress the Chinese popula- tion. This study was based on Erik H. Erikson’s contemporary psychoanalytic theory. The result re- veals that perception to pribumi was formed by earlier generations, than reshaped by consequent un- pleasant events with pribumi. This perception then constructed powerless and passive outsider identi- ty of Indonesian Chinese to adapt and survive with the conditions, causing stronger reliance to ingroup. Consequently, such perception and identity were transmitted to the next generations. Dengan menggunakan metode life history dan paradigma interpretif, penelitian ini bertujuan mengungkap identitas Tionghoa dan persepsi pada pribumi dari perspektif seorang perempuan Tionghoa tradisional. Informan dalam penelitian ini adalah seorang perempuan Tionghoa kelahiran Tanjung Balai, Sumatera Utara, 1944 yang mengalami beberapa kali kerusuhan dan kebijakan diskriminatif yang menyudutkan orang Tionghoa. Teori Psikoanalitik Kontemporer Erik H. Erikson digunakan sebagai teori utama. Hasil menunjukkan bahwa persepsi pada pribumi merupakan hasil warisan dari generasi sebelumnya, kemudian terpoles oleh pengalaman buruk dengan pribumi yang konsisten. Persepsi ini kemudian mengonstruksi identitas Tionghoa sebagai pendatang yang tidak berdaya dan pasif sebagai jalan menyesuaikan diri dan bertahan dengan keadaan, sehingga akhirnya memperkuat ketergantungan pada ingroup. Seterusnya persepsi dan identitas ini diwariskan pada generasi berikutnya.
Kriteria Kedewasaan Menurut Orang Tua dan Anaknya Berdasarkan Teori Emerging Adulthood Santoso, Milhan Kahandik; Untario, Christian; Wahyuningsih, Sri; Setyaningrum, Idfi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i2.4424

Abstract

The aim of this survey is to compare the adolescent criteria category which exists between mother and her daughter and between father and his son, where the daughters and sons were uni- versity students. Subjects (N = 175) were mother-daughter (n = 65) and father-son (n = 110) dyads. Data were collected through questionnaires, then described (analyzed) with frequency distribution and cluster analysis. Results show that the difference between mother-daughter duo lies in the biological transition and family capacity aspects, with minimal difference in role transition aspects. Results from the father-son duo reveal independence, interdependence, norm compliance, and role transition as very important adult criteria differences, whereas other criteria such as biological transition, family capacities, and chronological transition were assumed important. The results indicate that between father and son duo, which were in the same group have the same criteria. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kategori kriteria kedewasaan yang ada antara ibu dan anak perempuannya dan antara ayah dan anak laki-lakinya yang sedang berkuliah. Subjek (N = 175) penelitian adalah ibu-anak (n = 65) dan ayah-anak (n = 110) yang anak-anaknya sedang berkuliah. Data diperoleh melalui angket, kemudian dideskripsikan dengan distribusi frekuensi dan analisis cluster. Hasil menunjukkan kategori kriteria kedewasaan yang berbeda antara kelompok ibu- anak adalah aspek biological transition dan family capacities sedangkan kesesuaiannya tidak jauh berbeda, terjadi pada aspek role transition. Hasil pengolahan data kelompok ayah-anak terbagi men- jadi 2 kelompok, kelompok-1 ayah-anak menunjukkan persamaan kriteria yang dianggap penting adalah independence, interdependence, dan role transition. Kelompok-2 ayah-anak menunjukkan perbedaan kriteria kedewasaan yang dinilai sangat penting adalah independence, interdependence, norm compliance, dan role transition. Adapun kriteria yang lain seperti biological transition, family capacities, dan chronological transition dianggap penting. Hasil yang didapatkan menunjukkan an- tara ayah-anak di dalam kelompok yang sama memiliki kriteria yang sama.
Reflected Appraisals dan Mathematic Academic Self-Efficacy pada Siswa SMA Tansil, Sampurna; Aditomo, Anindito; Tjahjono, Evy
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i2.4425

Abstract

This study examined the relationship between reflected appraisal from significant others (mother, father, peers, and teachers) and students’ academic self efficacy in mathematics. Reflected appraisal is an individual’s perception about how other people evaluate him/her. Subjects for this study were students (age 16-18) from year 12 taking a science major at a Catholic high school in Surabaya (N = 241). Results indicate that reflected appraisal significantly predicts self-efficacy (R = 0.44; p<0.05). This means that students who feel they are evaluated positively by their parents, teachers, and friends, tend to have high self-efficacy scores. Penelitian ini bertujuan melihat kaitan antara reflected appraisals oleh orang-orang terdekat (ibu, ayah, teman, dan guru) terhadap self-efficacy akademis siswa dalam bidang matematika. Reflected appraisal adalah persepsi seseorang mengenai bagaimana orang lain menilai kemampuan dirinya. Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas 12 jurusan IPA salah satu SMA Katolik swasta di Surabaya berusia 16-18 tahun (N = 241). Hasil penelitian menunjukkan bahwa reflected appraisals secara signifikan memprediksi self-efficacy akademik di bidang matematika (R =0.44; p < 0.05 ). Artinya, seseorang yang merasa dipandang positif oleh orang tua, guru, dan temannya cenderung memiliki self-efficacy matematika yang tinggi pula.
The Magical Strength of Nrimo and Gotong-Royong A Quick Response Report Following the May 27, 2006 Earthquake in Yogyakarta Yuniarti, Kwartarini Wahyu
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i3.4426

Abstract

People’s response and ways of coping to disasters vary across events. This quick response report aims to learn about the life reconstruction of the survivors within the 1st week following the 2006 Yogyakarta earthquake. Initial unstructured interviews and observations were used during the emergency phase, and followed up with a quick survey of 677 survivors. Descriptive analysis and follow-up interviews were undertaken to verify the results. During the first three days after the disaster, survivors seemed to be in a period of shock. They accepted the event as determined by God (nrimo=accepting). The survey showed more than 90% believed that God will help them, but also that more than 90% started doing something. Local slogans can be widely observed, e.g.,“Dlingo- Bangkit” (Revive-Dlingo!!). The local belief in nrimo seemed to yield positive energy, which enabled survivors to revive in a relatively short time. The “culture-of-waiting” seemed to function as a way to unify energy in “Gotong-Royong” (or mutual assistance). Respons dan cara menghadapi bencana sangat bervariasi dalam setiap kejadian. Studi “respons cepat” ini bertujuan untuk mempelajari proses kebangkitan kembali para penderita dalam minggu pertama setelah mengalami gempa bumi.Wawancara dan observasi tak-terstruktur dilakukan pada masa darurat, diikuti dengan survei cepat pada 677 orang yang terselamatkan. Analisis deskriptif dan wawancara verifikasi dilakukan setelah survei. Periode “terguncang” dialami pada 3 hari pertama. Masyarakat menerima kejadian tersebut sebagai sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah (menerima = ”nrimo”). Hasil survei menunjukan bahwa lebih dari 90% percaya bahwa Allah pasti menolong mereka, bahkan lebih dari 90% telah melakukan sesuatu untuk bangkit kembali. Slogan “Dlingo Bangkit” banyak dijumpai di Desa Dlingo dan Turi. Tampaknya kepercayaan lokal dalam “nrimo” menyimpan energi positif, sedangkan “Gotong Royong” merupakan penyatuan energi positif dari para survivor, karenanya mereka bangkit dalam waktu yang relatif singkat.
Cognitive Load Theory and Mathematics Learning: A Systematic Review Aditomo, Anindito
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i3.4427

Abstract

Cognitive load theory (CLT) is an instructional design theory which is based on an information processing view of human cognition. Recently, proponents of this theory have claimed that all forms of “minimally-guided instruction” lead to poorer learning compared to direct instruction because they impose irrelevant cognitive load. This article critically examines this claim by reviewing the empirical evidence that it is based on. This review focuses on studies of mathematics learning. This review concludes that there is little evidence to support the strong claim made by cognitive load theory. Theoretical and practical implications of this finding are discussed. Teori beban kognitif adalah teori perancangan pembelajaran yang didasarkan pada teori pemrosesan informasi tentang kognisi. Belum lama berselang, beberapa ahli teori beban kognitif menyatakan bahwa semua metode pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk memecahkan masalah secara mandiri (minimally-guided instruction) akan membawa hasil belajar yang lebih buruk bila dibandingkan metode-metode pengajaran langsung seperti ceramah atau belajar dari contoh soal. Klaim inilah yang diulas secara kritis dalam artikel ini. Untuk mempersempit permasalahan, ulasan ini hanya akan membahas pembelajaran di bidang matematika. Ulasan ini menemukan sedikit bukti yang mendukung klaim yang dikemukakan para ahli teori beban kognitif. Implikasi teoretis dan praktis dari temuan akan dibahas.
Kecemasan dan Strategi Coping Pelacur Wanita dan Pelacur Waria Herdiansyah, Haris
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i3.4428

Abstract

The aim of this study was to describe the anxiety and coping strategy of women sex worker and transgender sex worker concerning their profession in three different social environments, e.g. the family, society and “cebongan” (their workplace). This study adopts a qualitative method, including interviews, observation and focused group discussion to collect the data.. Twelve subjects were recruited through a purposive sampling technique, consisting five main subjects (two women sex workers and three transgender sex workers) and seven informants. The interactive model of Miles and Huberman (1986) was used to analyse the data. Results reveal much anxiety coming from the family, society, and cebongan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kecemasan dan strategi coping pada diri pelacur wanita dan pelacur waria berkaitan dengan pekerjaan mereka sebagai pelacur pada tiga lingkungan yang berbeda yaitu lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan cebongan (tempat subjek menjajakan diri sebagai pelacur). Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan diskusi kelompok terfokus. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Subjek penelitian sebanyak 12 orang yang terdiri atas 5 orang subjek utama (2 orang pelacur wanita dan 3 orang pelacur waria), dan 7 orang informan. Metode analisis data yang digunakan adalah model interaktif dari Miles dan Huberman (1986). Melalui penelitian ini ditemukan adanya kecemasan pada lingkungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan cebongan.
Tingkat Kecemasan Kognitif dan Keyakinan Diri Para Atlet dari Berbagai Peringkat Perwakilan Barnabas, Vincent A.; Mahamood, Yahaya
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i3.4432

Abstract

Low self-confidence athletes usually experienced a high level of cognitive anxiety. Athletes’ performance level in sport was also found to be related to their cognitive anxiety and self- confidence. Research on cognitive anxiety and self-confidence of different categories of athletes’ level of performance, however is very limited. Hence, this research was conducted to investigate the influence of cognitive anxiety and self-confidence on performance of athletes of various categorical representations. The extent to which self-confidence influence cognitive anxiety among athletes was also examined. Nine hundred and eighteen Malaysian athletes were selected to complete Competitive State Anxiety Inventory 2 (CSAI-2). The findings reveal that national level athletes show a higher level of self-confidence but a lower cognitive anxiety level. Athletes representing school and university, on the other hand experienced a higher level of cognitive anxiety and lower level of self- confidence. Atlet yang rendah tahap keyakinan dirinya biasanya akan mengalami tahap kecemasan kognitif yang tinggi. Prestasi para atlet juga didapati berkait dengan tahap kecemasan kognitif dan keyakinan diri. Kajian tentang tahap kecemasan kognitif dan keyakinan diri di kalangan atlet pelbagai wakilan bagaimanapun boleh dikatakan amat kurang. Dengan itu kajian ini dilakukan untuk melihat kaitan tahap kecemasan kognitif dan keyakinan diri para atlet dari pelbagai wakilan. Kajian ini juga mengidentifikasi tahap keyakinan diri dan kecemasan kognitif para atlet yang terlibat. Sejumlah 918 atlet dipilih untuk menjawab kuesioner Competitive State Anxiety Inventory 2 (CSAI-2). Hasil kajian menunjukkan atlet negara (atlet nasional) bukan saja memiliki tahap keyakinan diri yang tinggi tetapi juga tahap kecemasan kognitif yang rendah. Sebaliknya atlet yang mewakili sekolah dan universitas mengalami tahap kecemasan kognitif yang lebih tinggi dan keyakinan diri yang lebih rendah.
Relasi Etnisitas Jawa-Cina dalam Masyarakat Majemuk Prihartanti, Nanik
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i3.4433

Abstract

This study aims to explore the personal values of the Chinese and Javanese, acccording to their own etnicity as well as other etnic perspectives. An inter-method triangulation method was used, i.e. a perception scale method toward other etnicity and questionnaire method to reveal perception towards etnicity. Subjects were 130 people consisting 68 Javanese and 62 Chinese etnic, gathered through purposive sampling in the Surakarta region. Results from the data anaysis show differences in perception between the Javanese and the Chinese, either in valueing one-self or other etnic groups. The Javanese tend to be more negative, either in judging one-self or the Chinese. Both, either the Chinese or the Javanese have labeled their own etnicity more positive than other etnics. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang jati diri etnis Jawa dan etnis Cina, baik menurut perspektif etnisnya sendiri maupun etnis lain. Metode yang digunakan adalah triangulasi antar metode, yaitu metode skala persepsi terhadap etnis dan metode angket untuk mengungkap persepsi terhadap etnis. Subjek terdiri atas 130 orang yang terdiri atas 68 orang etnis Jawa dan 62 orang etnis Cina yang diambil secara purposive sampling di wilayah Surakarta. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara Kelompok etnis Jawa dan etnis Cina, baik dalam memandang diri sendiri maupun etnis lain. Kelompok etnis Jawa cenderung lebih negatif, baik dalam memandang jati diri etnisnya sendiri maupun etnis Cina. Keduanya, baik etnis Cina maupun etnis Jawa memandang etnis sendiri lebih positif daripada etnis lain.
Mokshartham Jagaditha: Studi Etnografis Well-Being pada Warga Ashram Gandhi Etnis Bali Batuadji, Kristianto; Subandi, M.A.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v24i3.4434

Abstract

The purpose of this research was to investigate the concept of well-being among the Balinese Gandhian and the processes needed to reach such condition. The participants were the Balinese Gandhian from the Gedong Gandhi Ashram and the Ashram Gandhi Puri. Ethnographic perspective and phenomenological approach were applied in this study. Results reveal mokshartham jagadhita as a Balinese indigenous concept of well-being, referring to the physical and psycho- spiritual well-being which consists of: suka tan mewali duka (non-dual happiness), shaantih (peace), and harmony. This condition can be reached by the fulfillment of the physical, social, and psycho- spiritual needs, which transforms the personality into the ideal state of sthita-pradnya. The search for meaning was also involved during the attainment of this state. The aforementioned process involves the cognitive, affective, behavioral, and transcendental dimensions. The concept of mokshartham jagaditha is compared with the Western concept of well-being as well as with other concepts from Eastern traditions. Tujuan penelitian ini adalah menemukan gambaran mengenai konsep well-being dalam perspektif warga Ashram Gandhi etnis Bali, sekaligus mengungkap proses pencapaian kondisi well- being tersebut. Partisipan penelitian ini adalah warga Gedong Gandhi Ashram dan warga Ashram Gandhi Puri etnis Bali. Penelitian ini menggunakan perspektif etnografi dan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Bali memiliki konsep indigeneous tentang well-being yang disebut mokshartham jagadhita. Konsep ini terdiri atas komponen suka tan mewali duka (kebahagiaan non-dual), shaantih (kedamaian), dan harmoni. Kondisi ini dapat dicapai melalui proses pemenuhan kebutuhan fisik, sosial, dan psikospiritual yang mengantarkan individu pada transformasi menuju kualitas kepribadian ideal yang disebut sthita-pradnya. Proses pemaknaan sangat berperan dalam pencapaian kondisi ini. Proses ini melibatkan ranah kognitif, afektif, behavioral, dan bawah sadar. Konsep mokshartham jagadhita juga dibandingkan dengan konsep- konsep lain mengenai well-being, baik dari perspektif Barat maupun dari tradisi-tradisi Timur yang lain.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025) Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025) Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024) Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024) Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023) Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023) Vol 37 No 2 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 2, 2022) Vol 37 No 1 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 1, 2022) Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021) Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021) Vol. 35 No. 2 (2020): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 2, 2020) Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019) Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019) Vol. 34 No. 3 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 3, 2019) Vol. 34 No. 2 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 2, 2019) Vol. 33 No. 4 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 4, 2018) Vol. 34 No. 1 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 1, 2018) Vol. 33 No. 3 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 3, 2018) Vol. 33 No. 2 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 2, 2017) Vol. 33 No. 1 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 1, 2017) Vol. 32 No. 4 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 4, 2017) Vol. 32 No. 3 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 3, 2017) Vol. 32 No. 2 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 2, 2017) Vol. 32 No. 1 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 1, 2016) Vol. 31 No. 4 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 4, 2016) Vol. 31 No. 3 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 3, 2016) Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016) Vol. 31 No. 1 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 1, 2015) Vol. 30 No. 4 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 4, 2015) Vol. 30 No. 3 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 3, 2015) Vol. 30 No. 2 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 2, 2015) Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014) Vol. 29 No. 4 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 4, 2014) Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014) Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014) Vol. 29 No. 1 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 1, 2013) Vol 28 No 4 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 4, 2013) Vol 28 No 3 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 3, 2013) Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013) Vol 28 No 1 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 1, 2012) Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012) Vol 27 No 3 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 3, 2012) Vol 27 No 2 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2012) Vol 27 No 1 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2011) Vol 26 No 4 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 4, 2011) Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011) Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011) Vol 26 No 1 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 1, 2010) Vol 25 No 4 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 4, 2010) Vol 25 No 3 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 3, 2010) Vol 25 No 2 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 2, 2010) Vol 25 No 1 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 1, 2009) Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009) Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009) Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009) Vol 24 No 1 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No.1, 2008) Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008) Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008) Vol 23 No 2 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 2, 2008) Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007) Vol 22 No 4 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 4, 2007) Vol 22 No 3 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 3, 2007) Vol 22 No 2 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 2, 2007) Vol 22 No 1 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 1, 2006) Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006) Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006) Vol 21 No 2 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 2, 2006) Vol 21 No 1 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 1, 2005) Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005) Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005) Vol 20 No 2 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 2, 2005) Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004) Vol 19 No 4 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 4, 2004) Vol 19 No 3 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 3, 2004) Vol 19 No 2 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 2, 2004) Vol 19 No 1 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 1, 2003) Vol 18 No 4 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 4, 2003) Vol 18 No 3 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 3, 2003) Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003) Vol 18 No 1 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 1, 2002) Vol 17 No 4 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 4, 2002) Vol 17 No 3 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 3, 2002) Vol 17 No 2 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 2, 2002) Vol 17 No 1 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 1, 2001) Vol 16 No 3 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 3, 2001) Vol 16 No 2 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 2, 2001) Vol 16 No 4 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 4, 201) Vol 16 No 1 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 1, 2000) Vol 15 No 4 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 4, 2000) Vol 15 No 3 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 3, 2000) Vol 15 No 2 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 2, 2000) Vol 15 No 1 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 1, 1999) Vol 14 No 4 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 4, 1999) Vol 14 No 3 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 3, 1999) More Issue