cover
Contact Name
Dr. Ide Bagus Siaputra
Contact Email
-
Phone
+62312981246
Journal Mail Official
anima@unit.ubaya.ac.id
Editorial Address
Faculty of Psychology, Universitas Surabaya Jalan Raya Rungkut Mejoyo (Raya Kali Rungkut), Surabaya, East Java, 60293
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
ANIMA Indonesian Psychological Journal
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 02150158     EISSN : 26205963     DOI : https://doi.org/10.24123/aipj
Core Subject : Social,
Anima publishes peer reviewed articles with editors and consultants providing detailed assistance for authors to reach publication. Anima publishes research reports and scientific papers in psychology and/or related sciences with the aim to advance science, knowledge, and theory of psychology.
Articles 651 Documents
Does Social Support Predicts a Person's Quality of Life? Onn, P. P.; Teoh, H. J.; Sinniah, D.; Pillay, S. K.; Kannan, K.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i4.4379

Abstract

The purpose of this study is to examine whether social support predicts a person's quality of life. Seventynine adults between the ages of 18 to 55 year-old participated in this study. Subjects were required to complete 2 sets of questionnaires consisting of "The Social Support Questionnaires" and " Comprehensive Quality of Life Scales for Adults". The finding was congruent with the prediction where by social support does predict a person's quality of life. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dukungan sosial dapat meramalkan kualitas hidup seseorang. Tujuh puluh sembilan orang dewasa berusia di antara 18 hingga 55 tahun telah berpartisipasi dalam kajian ini sebagai sampel. Subjek melengkapi dua perangkat kuesioner yang berisi "The Social Support Questionnaire" dan "Comprehensive Quality of Life Scales of Life Scales for Adults". Temuan kajian menunjukkan keterkaitan dengan dugaan bahwa dukungan sosial mampu meramalkan kualitas hidup seseorang.
Pemodelan Persamaan Struktural: Suatu Pengantar Faturochman
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i4.4380

Abstract

The need for sophisticated psychological dataanalysis has been fulfilled by structural equation modeling which grows recently. Stuctural equation modeling enables to test validity of variables and, at the same time, the relations among variables as identified in a model. Not only analysis result applying structural equation modeling can test goodness of fit of the model but also parameters within the model. As an analysis tool,structural equation modeling requeires strong theoretical model before testing it. However, having the result of applying structural equation modeling researchers can easily identify many indicators that will be used to modify the model if needed. Perkembangan analisis data statistik dalam ilmu psikologi terus berkembang selaras dengan kebutuhan. Pemodelan persamaan struktural merupakan jawaban atas kebutuhan tersebut. Salah satu keunggulan yang mencolok dari pemodelan persamaan struktural adalah kemampuannya mengintegrasikan pengujian konstrak variabel dan hubungan antar-variabel secara bersamaan. Dengan menggunakan pemodelan persamaan struktural dapat diuji model secara keseluruhan, hubungan antar-variabel, maupun konstrak variabel di dalam model. Struktur model teoretis yang disusun dan diuji dalam pemodelan persamaan struktural akan memberikan gambaran hasil yang transparan dan akuntabel sehingga memudahkan para peneliti untuk mengaji kembali model yang telah teruji. Meskipun pemodelan persamaan struktural merupakan teknik analisis, penggunaannya menuntut landasan teori yang kuat, baik dari sisi konstrak variabelnya maupun hubungan antar-variabelnya.
Aromaterapi Jeruk, Bunga Kenanga, dan Bau Tak Menyenangkan dan Peningkatan Kesadaran Pengemudi Kurniawan, Yohan; Ismail, Rozmi; Nor, Mohd. Jailani Mohd.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4381

Abstract

This study was keen to know the effectivity of aromatherapy with mixed lemon and mixed cananga flower oil and unpleasant odor in awakening drives during sleepy driving. Subjects (N=20) are drivers aged 25 - 50 years. The experiment was conducted with a within-subject or a repeated experiment design. A driving simulator was specially constructed for this experiment besides a biofeedback and reaction time apparatus. Result reveal thar lemon aromatherapy causes longer driving time than cananga aromatherapy and unpleasant odor did. Observation during the experimant and answer to the questionnaire after the experimant indicate that lemon aromatherapy could not eliminate sleepiness during driving. Unpleasant odor was effective to eliminate sleepiness quickly. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas aromaterapi jeruk, bunga kenanga dan bau tak menyenangkan (bau busuk) dalam menyadarkan pengemudi sewaktu mengemudi dalam keadaan mengantuk. Subjek (N=20) adalah para pengemudi, berusia antara 25 - 50 tahun. Penelitian ini dilakukan dengan within-subjects design atau desain eksperimen berulang. Sebuah simulator mengemudi dibuat khusus untuk penelitian ini di samping alat-alat biofeedback dan reaction time. Hasil-hasil mengungkapkan bahwa aromaterapi jeruk dapat lebih memperpanjang waktu mengemudi daipada aromaterapi bunga kenanga dan bau tak menyenangkan. Observasi selama eksperimen dan jawaban atas angket setelah penelitian menunjukkan bahwa aromaterapi jeruk tak dapat menghilangkan rasa kantuk selama mengemudi. Bau tak menyenangkan efektif untuk menghilangkan rasa kantuk dengan cepat.
Does Assertiveness and Friendliness Affect a Person's Satisfaction With Social Support? Teh, H. P.; Teoh, H. J.; Pillay, S. K.; Kannan, K.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4382

Abstract

The purpose of this study was to examine whether assertiveness and friendliness affect young adults' satisfaction with their social support. 93 young adults between the ages of 18 to 35 year-old participated in this study. The subjects were required to complete three sets of questionnaires consisting of "The Assertiveness Self-Report Inventory (ASRI)", "The Friendliness-Unfriendliness Scale (SACRAL)", and "The Sosial Support Questionnaire (SSQ)" The findings of this study have shown that assertiveness per say does not directly increase the quality of the young adult social support. However, it is the ability to engage in rewarding behaviors that increases the assertive young adults' satisfaction with her/his social support. Kajian ini bertujuan untuk menguji apakah tingkah laku asertif dan keramahan mempengaruhi kepuasan dukungan sosial di kalangan individu dewasa awal. Sembilan puluh tiga orang dewasa awal berusia di antara 18 hingga 35 tahun telah mengambil bagian dalam kajian ini. Subjek melengkapi 3 perangkat kuesioner yang terdiri atas "The Assertiveness Self-Report Inventory", "The Friendliness-Unfriendliness Scale" dan "The Social Support Scale". Temuan kajian menunjukkan tingkah laku asertif tidak meningkatkan kualitas dukungan sosial secara langsung di kalangan dewasa awal. Walau bagaimanapun, bertingkah laku yang menarik (rewarding behavior) dapat meningkatkan kepuasan dukungan sosial dikalangan individu dewasa awal yang asertif.
Autism and Its Relation to Impaired Central Coherence Roseliza, Murni Ab. Rahman; Ng, Wai Sheng
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4383

Abstract

The experimental study was conducted to investigate whether autistic children have impaired central coherence as proposed by Frith and colleagues. Subjects were 30 children dividen equally among autistic, normal and mentally retarded groups, matched at average intellectual level of 5 years old as measured by Raven's Coloured Progressive Matrics. Three sets of test were administered to compare subjects' performance in two task dimensions which were stimuli connection and stimuli isolation. According to Frith, autistic children performed better in stimuli isolation tasks in comparison to stimuli connection tasks. However, the present findins contradicted Frith's postulation as autistic subjects generally demonstrated the tendency to perform better in stimuli connection as opposed to stimuli isolation tasks. Thus, contradicting previous findings regarding autism and impaired central coherence. The implications of the present study were discussed in several aspects including the heterogeneity issue in autism and the possible relations between impaired central coherence and mental retardation. Studi eksperimental ini dilakukan untuk meneliti apakah anak-anak autistik menyandang koherensi sentral yang terganggu sebagaimana dikemukakan oleh Frith dan kawan-kawan. Subjek adalah 30 anak yang dibagi secara merata menjadi kelompok autistik, normal, dan retardasi mental, disertakan pada aras intelektual 5 tahun berdasarkan pengukuran dengan Raven's Coloured Progressive Matrices. Tiga perangkat tes diujikan untuk membandingkan tampilan para subjek dalam dua dimensi tugas yaitu koneksi rangsangan dan isolasi rangsangan. Menurut Frith, anak-anak autistik tampil lebih baik pada tugas-tugas isolasi rangsangan dibandingkan tugas-tugas koneksi rangsangan. Namun, temuan studi ini berlawanan dengan postulat Frith yang menyatakan bahwa subjek-subjek autistik umumnya menunjukkan kecenderungan tampil lebih baik pada tugas-tugas koneksi rangsangan daripada tugas-tugas isolasi rangsangan. Jadi, bertentangan dengan temuan terdahulu menyangkut autism dan koherensi sentral yang terganggu. Implikasi temuan ini dibahas dalam berbagai aspek termasuk keheterogenan isu dalam autisme dan kemungkinan hubungan antara koherensi sentral yang terganggu dan retardasi mental.
Job Satisfaction of Shop Floor Workers in Automotive Industries in Malaysia Dawal, S. Z.; Taha, Z.; Ghazilla, R. A.
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4384

Abstract

A survey was conducted to investigate the relationship between job satisfaction, job characteristics, environment, job organization and social factors that affect work design in two automotive manufacturing companies in Malaysia. The aim of the study is to determine the factors that influence employees' perception towards their word. One hundred and seventy male subjects between the ages of 18 to 40 years with the mean age of 26.8 and standard deviation (SD) of 5.3 years and mean work experience of 6.5 and SD of 4.9 years were involved. A set of multiple choices questionnaire was developed and data were collected by interviewing the employees at the production plant. The results support the study and showed that job characteristics, environment, job organization and social factors are significantly related to job satisfaction. The potential applications of these results include methods developed in diagnosing the industrial work namely questionnaire design, environment observation and measurements, data collection and statistical analysis to diagnose current industrial work design that affect workers satisfaction. Telah dilakukan sebuah survei untuk meneliti hubungan antara kepuasan kerja, ciri-ciri kerja, lingkungan, organisasi kerja dan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi desain kerja pada perusahaan manufaktur otomotif di Malaysia. Tujuan studi ini adalah menentukan faktor-faktor yag mempengaruhi persepsi karyawan terhadap pekerjaannya. Yang terlibat dalam penelitian ini sejumlah 170 subjek laki-laki berusia antara 18 hingga 40 dengan rerata 26.8 tahun dan deviasi baku (SD) 5.3 tahun dan rerata pengalaman kerja 6.5 tahun dan SD 4.9 tahun. Telah dikembangkan seperangkat kuesioner pilihan multipel dan data dikumpulkan melalui wawancara para karyawan di tempat produksi. Hasil-hasilnya mendukung studi dan menunjukkan bahwa ciri-ciri kerja, lingkungan, organisasi kerja dan faktor-faktor sosial terkait secara bermakna dengan kepuasan kerja. Potensi aplikasi hasil-hail ini termasuk metode-metode yang dikembangkan dalam mendiagnosis kerja industrial yaitu desain kuesioner, observasi dan pengukuran lingkungan, koleksi data dan analisi untuk mendiagnosis desain kerja industrial yang mempengaruhi kepuasan para karyawan.
Memahami Kekeluargaan Sebagai Budaya Organisasi di Indonesia Mulya, Teguh Wijaya; Rahayu, Yusti Probowati; Mawardi, Artiawati
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4385

Abstract

Kekeluargaan (close to the term of "kinship") has often been stated as a culture immensely representing Indonesia. However kekeluargaan has not had a clear definition, especially in relation with organizational culture. The method of data collection implemented on twelve informants in this qualitative research was interview and observation. results from this study found that there are three essential funtions of kekeluargaan, which were the function of affection, the function of maintenance, and the funtion of empowerment. The assumptions underlining the culture of kekeluargaan were the importance of socialization, the equality of humankind, and the workers as the company's assets. The impact of kekeluargaan is that the workers felt belongingness to the company, and at the end increasing productivity. The implementation of kekeluargaan culture must deliberately take into account the context of the local culture in order to achieve the organizational effectiveness. Kekeluargaan sering dinyatakan sebagai budaya yang kental terasa di Indonesia, namun belum ada definisi yang jelas mengenai apa sebenarnya kekeluargaan itu, terutama dalam kaitannya dengan budaya organisasi. Metode pengumpulan data pada dua belas informan dalam penelitian kualitatif ini adalah wawancara dan observasi. Ditemukan adanya tiga fungsi yang menjadi esensi budaya kekeluargaan, yaitu : fungsi afeksi, pemeliharaan, dan pemberdayaan. Asumsi bahwa sosialisasi adalah hal yang penting, semua manusia adalah setara, dan pekerja sebagai aset perusahaan menjadi asumsi yang mendasari budaya kekeluargaan. Dampaknya, pekerja merasa memiliki perusahaan sehingga produktivitas meningkat. Penerapan kekeluargaan dalam organisasi perlu memperhatikan konteks budaya setempat agar dapat mencapai efektivitas organisasi.
Apakah Psikologi Dapat Terintegrasi? Hastjarjo, Dicky
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4386

Abstract

Psychology has recently developed into a fragmented discipline, characterized by various different and conflicting concepts, theories and models. Efforts to integrate psychology have been proposed, one of them was Hhenriques' Tree of Knowledge System (ToKS). (ToKS) argued that human psychology was a hybrid discipline between psychological formalism and social sciences. Justification hypothesis played an important role in relating personal level analysis with sociocultural perspectives. Psikologi dewasa ini berkembang menjadi satu disiplin yang terkotak-kotak yang ditandai oleh berbagai konsep, teori dan model yang berbeda dan bahkan saling bertentangan satu sama lain. Telah banyak dilakukan upaya untuk mempersatukan psikologi diantaranya adalah Sistem Pohon Pengetahuan yang dilontarkan oleh Henriques (2004). Menurut Sistem Pohon Pengetahuan (SPP) maka psikologi manusia adalah sebuah disiplin hibrid antara psikologi formal dengan ilmu sosial. Satu konsep yang penting dalam SPP ialah Hipotesis Justifikasi sebagai jembatan antara analisis level individu dengan perspektif sosiobudaya.
Perilaku Terorisme Milla, Mirra Noor
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v21i3.4387

Abstract

Psychological studies on terrorism were mostly conducted through motivational explanations of terrorism. Initiated with a cognitive dissonance condition on the individual level, an individual would be brought to join the same dissonance group toward a relative deprivation on a macro level. Through a personal track model, each individual came into a terrorist group through a series of stages to reach the individual's readiness to execute a terrorism act. Ultimately, the individual experiences a loosened moral when he/she conducts the terrorism act, consisting of moral justification, blaming, and dehumanuzing the victims. Kajian psikologi ini tentang terorisme banyak dilakukan melalui penjelasan motivasi terorisme. Diawali dengan kondisi disonansi kognitif pada level (aras) individu, seseorang akan dibawa untuk bergabung pada kelompok disonansi yang sama menuju deprivai relatif pada aras makro. Melalui model jalur personal masing-masing, individu masuk dalam kelompok teroris dengan proses serangkaian tahapan untuk kemudian sampai pada kesiapan seseorang melakukan aksi terorisme. Pada akhirnya, seseorang akan mengalami perenggangan moral ketika ia melakukan aksi terorisme, yang meliputi justifikasi moral, menyalahkan dan dehumanisasi korban.
Tipe Kepribadian Kode Warna dan Kreativitas Djalali, M. As'ad
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v20i1.4398

Abstract

Research on the relation of creativity with particular personality types has already been conducted, but the relation between types of personalities based on color codes-Red, Blue, White, and Yellow (Harmant, 2004) with creativity has not been tried. The present research is keen to find out the differencies in creativity among the Red, Blue, White, and Yellow personalities. Subjects (N=117) were high school students, consisting of 72 girls, and 45 boys. Personality types were identified with the color code profile scale, while the creative potentials were compiled through the C.O.R.E.scale (Suhaman, 2002a). A non parametric statistics was used to analyse the data. Results reveal that the students with a Red code personality are the most creative, while the White ones are the least creative. The Blue and Yellow personalities showed moderate levels of creativity. The impact of the results are discussed. Penelitian yang mengaitkan kreativitas denga tipe-tipe kepribadian tertentu sudah pernah dilakukan, namun yang mengaitkan kreativitas dengan tipe-tipe kepribadian menurut kode warna-Merah, Biru, Putih, dan Kuning (Hartman, 2004) belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan menemukan perbedaan kreativitas di antara tipe kepribadian Merah, Biru, Putih, dan Kuning. Subjek penelitian ini adalah siswa sekolah menengah atas (N=117), yang terdiri atas 72 perempuan dan 45 laki-laki. Alat ukur yang digunakan untuk mengungkap tipe-tipe kepribadian subjek adalah skala profil kepribadian kode warna, dan untuk mengungkap kreativitas subjek dgunakan skala C.O.R.E. (Suharman, 2002a). Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik statistik nonparametrik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe kepribadian Merah cenderung paling kreatof, sedangkan tipe kepribadian Putih cenderung memiliki kreativitas paling rendah. Tipe kepribadian Biru dan Kuning cenderung memiliki kreativitas pada tingkat sedang. Dibahas dampak keterkaitan perbedaan tipe kepribadian kode warna terhadap kreativitas.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025) Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025) Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024) Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024) Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023) Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023) Vol 37 No 2 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 2, 2022) Vol 37 No 1 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 1, 2022) Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021) Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021) Vol. 35 No. 2 (2020): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 2, 2020) Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019) Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019) Vol. 34 No. 3 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 3, 2019) Vol. 34 No. 2 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 2, 2019) Vol. 33 No. 4 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 4, 2018) Vol. 34 No. 1 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 1, 2018) Vol. 33 No. 3 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 3, 2018) Vol. 33 No. 2 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 2, 2017) Vol. 33 No. 1 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 1, 2017) Vol. 32 No. 4 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 4, 2017) Vol. 32 No. 3 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 3, 2017) Vol. 32 No. 2 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 2, 2017) Vol. 32 No. 1 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 1, 2016) Vol. 31 No. 4 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 4, 2016) Vol. 31 No. 3 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 3, 2016) Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016) Vol. 31 No. 1 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 1, 2015) Vol. 30 No. 4 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 4, 2015) Vol. 30 No. 3 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 3, 2015) Vol. 30 No. 2 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 2, 2015) Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014) Vol. 29 No. 4 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 4, 2014) Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014) Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014) Vol. 29 No. 1 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 1, 2013) Vol 28 No 4 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 4, 2013) Vol 28 No 3 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 3, 2013) Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013) Vol 28 No 1 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 1, 2012) Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012) Vol 27 No 3 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 3, 2012) Vol 27 No 2 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2012) Vol 27 No 1 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2011) Vol 26 No 4 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 4, 2011) Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011) Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011) Vol 26 No 1 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 1, 2010) Vol 25 No 4 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 4, 2010) Vol 25 No 3 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 3, 2010) Vol 25 No 2 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 2, 2010) Vol 25 No 1 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 1, 2009) Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009) Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009) Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009) Vol 24 No 1 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No.1, 2008) Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008) Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008) Vol 23 No 2 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 2, 2008) Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007) Vol 22 No 4 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 4, 2007) Vol 22 No 3 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 3, 2007) Vol 22 No 2 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 2, 2007) Vol 22 No 1 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 1, 2006) Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006) Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006) Vol 21 No 2 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 2, 2006) Vol 21 No 1 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 1, 2005) Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005) Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005) Vol 20 No 2 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 2, 2005) Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004) Vol 19 No 4 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 4, 2004) Vol 19 No 3 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 3, 2004) Vol 19 No 2 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 2, 2004) Vol 19 No 1 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 1, 2003) Vol 18 No 4 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 4, 2003) Vol 18 No 3 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 3, 2003) Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003) Vol 18 No 1 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 1, 2002) Vol 17 No 4 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 4, 2002) Vol 17 No 3 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 3, 2002) Vol 17 No 2 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 2, 2002) Vol 17 No 1 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 1, 2001) Vol 16 No 3 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 3, 2001) Vol 16 No 2 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 2, 2001) Vol 16 No 4 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 4, 201) Vol 16 No 1 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 1, 2000) Vol 15 No 4 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 4, 2000) Vol 15 No 3 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 3, 2000) Vol 15 No 2 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 2, 2000) Vol 15 No 1 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 1, 1999) Vol 14 No 4 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 4, 1999) Vol 14 No 3 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 3, 1999) More Issue