cover
Contact Name
Rahmah Murtadha
Contact Email
rahmah.murtadha@student.upi.edu
Phone
+6285337011739
Journal Mail Official
nasrullahstis@gmail.com
Editorial Address
Jl. Gajah Mada, Ling. Nusantara Gang Al-Amin 1 Monggonao Mpunda Kota Bima NTB
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam
ISSN : 24426938     EISSN : 27216829     DOI : 10.61817
Al-Ittihad (p-ISSN 2442-6938) adalah Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam, terbit 2 kali setahun oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Al-Ittihad Bima sejak Tahun 2015. Redaksi menerima tulisan yang berkenaan dengan Pemikiran dan Hukum Islam serta redaksi berhak mengedit tulisan sepanjang tidak mereduksi substansi.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 94 Documents
Pacuan Kuda Dalam Perspektif Ekonomi Sebagai Tradisi dan Budaya Lokal Masyarakat Bima Abu Bakar
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i1.103

Abstract

Kalaki-Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima merupakan tempat keramat, mistik dan ajang adu nyali sekaligus adu gensi bagi pemilik dan pencinta kuda pacu, mengetahui dampak budaya dari tradisi pacuan kuda dalam meningkatkan ekonomi dan hubungan sosial masyarakat Bima. Sejarah mencatat munculnya budaya pacuan kuda di Kabupaten Bima (Dana Mbojo) bermula pada saat zaman kolonial Belanda, sampai saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Kabupaten Bima Kabupaten Dompu dan Bima Kota.Perbedaan Pacuan Kuda dan Pacoa Jara pada zaman kolonial Belanda dengan sekarang terletak pada peraturan permainan, pada saat itu peraturan tidak terlalu diperhatikan dan hampir tidak ada, bagi siapa yang mempunyai kuda yang besar dan siap untuk diadu kecepatannya itulah yang tampil, dan arenanya pun di tanah lapang yang tidak dibuatkan arena khusus, sedangkan sekarang peraturan yang cukup ketat sesuai dengan standar operasioanal procedure (SOP) dari Komisi Perlindungan anak Indonesia ( KPAI ) dan Pordsai, mulai dari atribut yang digunakan oleh kuda-kuda pacu dan para joki sudah memperhatikan keselamatan, terutama untuk para juki cilik berdasarkan standar kelas kuda yang telah diatur secara ketat, aturan kelas berdasarkan umur dan ukuran kuda, usia joki dan kuda pacu telah di atur sedemikian rupa. Sehingga dengan aharapan insiden terhadap juki cilik terminimalkan. Dampak Tradisi pacuan kuda dalam mempererat hubungan sosial masyarakat di Kalaki Desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima yaitu sebagai ajang silaturahmi, persaudaraan, mengandung makna filosofi yang tinggi bagi derajat kedudukan sosial seseorang di tengah masyarakat Bima, simbol keberanian, kehormatan dan kewibawaan, serta upaya untuk melestarikan budaya Pacuan Kuda (pacoa jara), sebagai salah satu budaya leluhur Dana Mbojo dan juga mengembangkan pariwisata sebagai event pariwisata unggulan, ekonomi bisnis dan peternakan, hiburan dan pesta rakyat di daeraah Bima teap terlestarikan.
PENYELESAIAN NUSYUZ DALAM KESETARAAN GENDER PERSPEKTIF TEORI MUBADALAH Muhammad Badaruddin
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 1 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i1.111

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana penyelesaian nusyuz dalam kesetaraan gender perspektif teori mubadalah. Isu Kesetaraan Gender saat ini sedang trend, bahkan menjadi topik kekinian yang diangkat oleh para tokoh-tokoh penggiat gender, salah satunya tentang nusyuz. Nusyuz istri sudah biasa kita dengar, karna menurut hukun islam dan kompilasi hukum islam hanya istri yang melakukan nusyuz, lalu kemudian tatkala bebrbicara tentang gender hal yang tidak biasa kita dengar terkait nusyuz yang dilakukan oleh suami. isu-isu seperti ini tatkala dikaitkan dengan wacana islam, sangat menarik untuk dikaji. Dari pengamatan peneliti di masyarakat setempat, konstruksi sosial dan budaya yang didukung dengan teori nurture yang dimana teori nurture ini adalah adanya perbedaan kaum laki-laki dan perempuan yang diistilahkan dengan dikotomi ruang publik dan domestik. Adanya istilah dikotomi publik dan domestik yang dikuatkan dengan teori hukum islam dan kompilasi hukum islam mengakibatkan mindset berfikir masyarakat bahwa suani lebih berperan dan berjasa daripada istri, sehingga kata nusyuz itu dilekatkan hanya untuk istri. Dalam penelitian inii, peneliti menggunakan jenis peneliitian kualitatif secara deskriptif dengan pendekatan yang bersifat studi literatur (kepustakaan). Hasil penelitian ini bahwa nusyuz dan penyelesaiannya dalam perspektif teori mubȃdalah Bahwa, dengan kesetaraan gender memungkinkan terjadinya nusyuz suami atau istri, dengan konsep menerima taat (Jalbu Al-Mashaliih) dan menolak nusyuz (Dar’u Al-Mafasiid).
DISTRIBUSI HARTA WARIS DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN AHLI WARIS DI DESA DONGGO KEC. DONGGO KAB. BIMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI SYARIAH Abu Bakar
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 8 No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v8i1.117

Abstract

Islam adalah Agama yang sempurna (syamil) dan menyeluruh, termasuk dalam persoalan mawarais. Pendistribusian harta warisan kepada ahli waris dan juga produktivitas atau pemanfaatan harta warisan yang telah dibagi di Desa Donggo Kecamatan Donggo Kabuapaten Bima. Penelitian ini bertujuan: untuk mengetahui pemanfaatan harta warisan untuk meningkatkan kesejahteraan ahli waris, untuk mengetahui cara pendistribusian harta warisan kepada ahli waris; dan untuk menjelaskan pandangan Hukum Ekonomi Syariah terhadap pendistribusian harta warisan. Jenis penilitian ini Kualitatif yang merupakan penelitian yang secara langsung dilapangan. Pendekatan Penelitian yaitu, pendekatan normatif, sosial, dan yuridis, Lokasi penelitian di Desa Donggo Kecamatan Donggo Kabuapaten Bima. Pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi, selanjutnya data di analisis dengan data mentah yang dianalisis secara saksama kemudian data di pilih dan di analisiske mbali sehingga diperoleh kesimpulan yang objektif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: pendistribusian harta warisan berdasarkan hukum adat yang didasarkan atas tingkat ekonomi ahli waris, dimana ada dua ahli waris, dan pemanfaatan dari hasil pendistribusian harta waris, tanah kosong yang diberikan akan dijual untuk modal usaha, sedangkan yg lain akan digunakan harta tersebut jika ada keadaan yang mendesak, pandagan hukum ekonomi syariahnya, pembagian (distribusi) harus dilakukan secara adil karena salah satu tujuan distribusi adalah kesejahteraan, sedangkan dalam pemanfaatannya harta warisan dapat dimanfaatkan dan hukumnya boleh jika itu dalam kebaikan seperti harta di infaqkan dan disedekahkan dan menurut kaidah fiqh mengenai pendistribusian hukumnya boleh.
PENDAYAGUNAAN DANA ZAKAT INFAQ DAN SEDEKAH SEBAGAI UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN Suharti Suharti
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 8 No 1 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v8i1.118

Abstract

Artikel ini dilatar belakangi oleh keadaan Masyarakat miskin di Indonesia, yang mana selama ini kemiskinan tercatat masih tinggi yang sebagian besar dikarenakan rendahnya ekonomi, oleh karena itu adanya program Pendayagunaan ini berupaya dalam menangani masalah kemiskinan, dengan memberikan modal usaha kepada para mustahik dalam rangka mensukseskan program Ekonomi Produktif (pemberian bantuan modal usaha produkti) untuk masyarakat miskin. Dalam hal ini, menjadi sesuatu yang bersifat urgen untuk di kaji lebih mendalam tentang: “Pendayagunaan Dana Zakat Infaq dan Sedekah Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan”. Bahwa pendayagunaan zakat harus mengutamakan dan prioritas kebutuhan mustahik agar tepat sasaran dan bersifat produktif edukatif yang menghasilkan SDM berkualitas. Serta pendayagunaan zakat merupakan suatu program pengentasan kemiskinan yang berimplikasi kepada menggolongkan sesuai dengan kebutuhan mustahik.
PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP ADAT MANDI KEMANTIN (PENGANTIN) (Study Kasus Didusun Pringga Sela) Muh. Zaki Hasani
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.104

Abstract

Artikel ini bertujuan bagaimana menjelaskan adat mandi pengantin, yang mana adat ini sudah jarang sekali diungkit, sehingga menyebabkan generasi ayang akan datang akan kehilangan pengetahuan adat yang sudah menhadi taradisi leluhurrnya. Dalam penelitian ini bahwa mandi pengantin dalah alah satu adat masyarak Lombok khususnya suku sasak yang pelaksaannya sangat sacral, yang mana pelaksaan mandi pengantin ini tidak sembarang tempat dilakukan dan tidak sembarang orang yang mendampinginya serta alat alat yang digunakanpun sudah disiapakan oleh para pemangku adat atapun pemangku agama, diaantara alat alat yang digunakan dalam mandi pengantin adalah (reragian, kelapa, kunyit, alas sesekan, poposan dan bokor). Adapun perosesnya tidak seperti mandi biasa harus melalui peroses yang sudah ditentukan, yang pandu oleh pemangku agama atau pemangku adat. Sedangkan relasi antara hukum islam dengan adat, sekalipun adat tidak termasuk dalam sumber pengambian hukum islam, namun banyak para pakar(tokoh) hukum islam mengmabilnya sebagai salah satu yang menjadi pembangun dari hukum islam itu sendiri, karena manusia tidak akan bisa hidup tanpa ada budaya yang melekat pada masing masing masyarakat tersebut. Metode yang digunakan dakam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Dipergunakannya metode ini adalah bertujuan untuk dapatkan pemahaman fenomena secara langsung tentang keberadaan adat Mandi Pengantin, dengan tahapan tahapan daiantaranya: penentuan lokasi, observasi, pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data.
EKSTENSI EKONOMI ISLAM DALAM PERSPEKTIF EKONOMI MILLENIAL SEBAGAI JALAN TENGAH Nasrullah; Abu Bakar
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.112

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia memiliki potensi dalam bonus demografi. “Dari 270 juta jiwa penduduk Indonesia, generasi Z mencapai 27,9% dan milennial 25,87%, artinya lebih dari 50% penduduk Indonesia berada di usia yang sangat produktif,” ujar Ventje Rahardjo, Direktur Eksekutif KNEKS, dalam sambutan kunci yang disampaikan di awal acara. Namun, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak terhadap bonus demografi tersebut. Ekstensi ekonomi syariah sedang diuji dalam konteks ekonmi Milennial Muslim sedang mengalami perubahan yang besar dalam perilaku terutama akibat terjadinya pandemi Covid-19,” jelas Yuswohady, Managing Partner Inventure. Yuswohady lanjut menjelaskan bahwa aspek perubahan perilaku muslim terangkum dalam lima aspek, diantaranya aspek Spiritual, Safety Security, Screen, Self Expression, dan Social. Asuransi syariah juga melakukan kampanye dalam peningkatan lima aspek perubahan muslim milennial. “Dengan meningkatkanya keinginan sosial pada muslim milenial, maka asuransi syariah suatu given, karena asuransi syariah sudah halal dengan nilai yang tolong menolong,” ucap Tatang Nurhidayat, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI). Nilai given yang dimiliki asuransi syariah perlu dikampanyekan dengan lebih aktif agar dapat mengoptimalkan muslim milennial megashift. Diperlukan kolaborasi dan sinergi bersama untuk mendorong milenial muslim berperan lebih aktif dalam mempercepat terbentuknya ekosistem ekonomi syariah di Indonesia. KNEKS memfasilitasi melalui pengembangan ekosistem yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan ekonomi dan keuangan syariah.
FAKTOR PENGHAMBAT PELAKSANAAN HAK EKONOMI PEREMPUAN PASCA PERCERAIAN DI PERUMAHAN GRIYASEHATI TERONGT RAWAH Sumiati Sumiati
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.113

Abstract

Post-divorce women's economic rights are a significant issue in today's modern society. Divorce is an event that significantly changes the dynamics of women's lives, especially in terms of economic independence. However, there are still inhibiting factors that affect the implementation of women's economic rights after divorce. This study aims to analyze the inhibiting factors that influence the implementation of women's economic rights after divorce. This study uses a qualitative approach by conducting in-depth interviews with divorced women and collecting data from various related sources. The results of the study show that there are several inhibiting factors that affect the implementation of women's economic rights after divorce. First, changes in women's social and economic status after divorce often lead to financial instability. Many women experience decreased income and have difficulty meeting their basic needs. Another factor is gender discrimination in the workplace. Many women face difficulties in finding a decent job after a divorce. They may experience discrimination in terms of salary and promotion, or have difficulty accessing equal career opportunities with men. There is family conflict which is one of the inhibiting factors for the implementation of women's economic rights after divorce. This research provides a deeper understanding of the inhibiting factors that affect the implementation of women's economic rights after divorce. These findings can become a basis for the government and related institutions in designing policies and programs that support women in building economic independence after divorce.
RELEVANSI AJARAN FANA’ DALAM TASAWUF ISLAM DAN NIBBANA DALAM AJARAN BUDDHISME Bimba Valid Fathony; Nurhanipah Harahap
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 9 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v9i2.122

Abstract

In pursuing spiritual practice each person has a goal that must be achieved. In Islamic Sufism there is the term mortal 'which is the elimination of all forms of lust and despicable traits in humans. This is the same as the concept of Nibbana contained in the teachings of Buddhism, Nibbana is pursued by the practice of curbing greed (lobha), hatred (dosa) and delusion (moha). Nibbana is basically a state of self-freedom from spiritual defilements that cause suffering and misery. The purpose of this study is to find out how the Relevance of the Teachings of Fana' in Islamic Taswuf and Nibbana in the Teachings of Buddhism. The method in this research is qualitative, library research. This discussion includes the notion of mortal teachings, the meaning of Nibbana/Nirvana and finally, the Relevance of Mortal Teachings in Islamic Sufism and Nibbana in Buddhism. The results of this study explain that the two teachings both emphasize the aspect of purifying the human soul from all despicable traits. The conclusion of this study, each of the teaching concepts brought either mortal or Nibbana in Islamic Sufism and the teachings of Buddhism are both teachings that lead to the highest peak of morality of the human soul.
QUARTER-LIFE CRISIS PHENOMENON (VIEWS AND SOLUTION ACCORDING TO ISLAMIC PSYCHOLOGY) Hidayat, Ajat; Safni, Pela; Padila, Cisia; Afnibar, Afnibar; Ulfatmi, Ulfatmi
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 10 No 1 (2024): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v10i1.127

Abstract

Quarter-life crisis is a feeling of doubt, fear, and decision about facing the future related to personal matters or social relations with other people, including careers, friendships, family, and even love life that is experienced by the age of 20 years. A Quarter-life crisis is synonymous with fear, anxiety, anxiety, doubt, and decision about facing the future. This study aims to find out how the quarter-life crisis is in the view of Islamic psychology and its solutions. This research was conducted using a qualitative method with a literature study approach. In this study, the series of activities are concerned with collecting library data, reading and taking notes, then processing the appropriate and necessary information to answer the formulation of the problem to be solved. As for the results of this study in Islam, fear is called khauf. Khauf and fear because this quarter life crisis is different because khauf is meant only for Allah. The solutions to overcome the quarter-life crisis are: Increasing spiritual intelligence, increasing religiosity (intelligence and obedience to Allah), Prayer Worship, reading the Alquran regularly understanding its meaning, and being kind to Allah.
MERAWAT KEUTUHAN NKRI MELALUI PENANAMAN NILAI TA`DIB PADA ANAK DI TAMAN PENDIDIKAN ALQURAN Hidayat, Ajat; Zulmuqim; Masyhudi, Fauza
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 10 No 1 (2024): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v10i1.129

Abstract

Wealth in the form of cultural, racial, national, and religious diversity owned by the Unitary State of the Republic of Indonesia is sunnatullah. The diversity of the Indonesian people is like a double-edged sword, one side can be an asset to advance the nation for the better and on the other hand, it can lead to conflict in the Indonesian nation. This study aims to identify the inculcation of ta`dib values ​​in children in the teaching and learning process at the Baitul Amal Mosque TPA Padang City. This research uses exploratory mixed methods designs. The first stage of qualitative data was taken by interviewing six informants who were determined using a purposive sampling technique. Then the interview data were analyzed thematically by collecting data using qualitative techniques according to Miles and Huberman, namely by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The second stage of quantitative data was taken using a questionnaire to the parents of 15 TPA students. The entire data were analyzed descriptively using the quantitative analysis application of IBM SPSS Statistics 24. The two stages indicated that there were at least seven ta`dib values ​​in learning at the Baitul Amal Mosque TPA, Padang City. The seven values ​​are adil, toleransi, dinamis, alawiyah, tahadhdhur, musawah, and shura. The results of this study also prove that the ta`dib value instilled in the TPA students is an effective effort in maintaining the unity and integrity of the Unitary State of the Republic of Indonesia.

Page 6 of 10 | Total Record : 94