cover
Contact Name
Rahmah Murtadha
Contact Email
rahmah.murtadha@student.upi.edu
Phone
+6285337011739
Journal Mail Official
nasrullahstis@gmail.com
Editorial Address
Jl. Gajah Mada, Ling. Nusantara Gang Al-Amin 1 Monggonao Mpunda Kota Bima NTB
Location
Kota bima,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam
ISSN : 24426938     EISSN : 27216829     DOI : 10.61817
Al-Ittihad (p-ISSN 2442-6938) adalah Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam, terbit 2 kali setahun oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Al-Ittihad Bima sejak Tahun 2015. Redaksi menerima tulisan yang berkenaan dengan Pemikiran dan Hukum Islam serta redaksi berhak mengedit tulisan sepanjang tidak mereduksi substansi.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 94 Documents
ARBITRASE DALAM SENGKETA HAK ASUH ANAK DI INDONESIA: SOLUSI BERBASIS KEADILAN DAN KEPENTINGAN ANAK Kasnan
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.226

Abstract

Child custody disputes are complex issues in family law that often involve emotional and procedural conflicts between parents. In the Indonesian context, traditional litigation often lacks attention to the principle of the best interests of the child, as stipulated in Law No. 23/2002 on Child Protection. This study aims to analyze the urgency of implementing arbitration as an alternative to child custody dispute resolution. Using a normative legal approach, this study evaluates regulations related to arbitration, the principles of justice, and the best interests of the child, and compares similar practices in various countries. The data is analyzed qualitatively through legal inventory and synchronization between regulations. The results show that arbitration offers a more flexible, efficient and child welfare-oriented solution compared to litigation. Arbitration allows for faster decision-making, maintains the privacy of the parties involved, and provides space for the participation of the child
PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI DALAM MENINGKATKAN KINERJA PEGAWAI DI KANTOR CAMAT WOHA PADA TAHUN 2024 Suci Mulyati; Putri Rahyu; Nuryadin
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.233

Abstract

Study with the title of the influence of leadership and organizational culture in improving performance at the Woha sub-district office, this study intends to determine the improvement of employee performance at the Woha sub-district office in 2024, the findings in this study reveal that leadership has an effect on improving employee performance at the Woha sub-district office and organizational culture is also able to improve employee performance at the Woha sub-district office. This study utilizes 2 (two) variables, namely leadership and organizational culture concluded by simultaneous and partial methods which conclude that from various tests carried out on the Classical Assumption Test table, namely the findings of the Normality Test, Autocorrelation Test (Model Summaryb), Linearity Test (ANOVA Table), and Hypothesis Test, namely Partial Test (t Test), f Test (Simultaneous Test) ANOVAb, Determination Test (R2) Model Summary. Thus, using the SPSS application for Windows Version 21, multiple linear regression tests were carried out. An equation for multiple linear regression is produced Employee Performance = 3,341 + 3.489 Leadership - 1,954 Culture + e. Keywords: Employee Performance, Leadership and Organizational Culture
STUDI PENILAIAN KINERJA DOSEN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN DI PERGURUAN TINGGI Usman; Naim, Suaidin
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.235

Abstract

This research aims to explain in detail the dimensions and indicators of lecturer performance and analyze how lecturer performance indicators influence the quality of teaching in higher education. This research used qualitative methods, and obtained a conclusion that lecturer performance, which includes lecturers' work in all aspects of educational management, such as designing and conducting the lecture process, assessing learning outcomes, guiding students, and fulfilling teaching duties. A lecturer's performance depends not only on his or her academic background but also on the application of the required skills. Improving the quality of education is a national strategic issue and is the focus of education quality management research. Lecturer performance is a very important factor that can influence the efficiency of higher education in achieving set educational standards. Teacher expertise and personality have a significant influence on achieving quality standards in higher education teaching. Research findings confirm that good lecturer performance and adequate academic background can influence the overall quality of education. Thus, the positive impact of lecturer performance and academic qualifications is an important variable in efforts to improve the quality of education.
KONTRAK TRANSAKSI ELEKTRONIK ANAK DI BAWAH UMUR DALAM GAME ONLINE: PERSPEKTIF HUKUM SYARIAH AHLIYYAH AL-ADA’ Madihah, Maysa; Maksum, Muhammad
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.243

Abstract

Studi ini meneliti fenomena transaksi elektronik yang dilakukan anak di bawah umur dalam permainan daring, dengan fokus pada jenis transaksi umum seperti isi ulang pulsa, pembelian barang, dan layanan berlangganan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keterlibatan anak dalam transaksi digital tanpa pengawasan orang tua dan keterbatasan pemahaman mereka tentang implikasi hukum dan kontrak. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan pustaka dan analisis data sekunder, studi ini menyelidiki kapasitas hukum anak di bawah umur untuk terlibat dalam perjanjian yang mengikat menurut yurisprudensi Islam dan hukum kontrak umum. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa anak di bawah umur sering terlibat dalam transaksi digital tanpa sepenuhnya memahami konsekuensinya, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang keabsahan transaksi ini dalam kerangka hukum yang berlaku. Selain itu, kurangnya pengawasan orang tua yang komprehensif dan langkah-langkah regulasi yang tidak memadai memperburuk masalah ini. Studi ini berpendapat bahwa perlindungan yang efektif terhadap anak di bawah umur dalam ekonomi digital memerlukan kontrol orang tua yang lebih kuat, kerangka hukum yang lebih baik, dan peningkatan literasi digital di antara anak-anak dan orang tua mereka. Dengan menyoroti kesenjangan ini, penelitian ini memberikan rekomendasi bagi para pembuat kebijakan, pengembang platform digital, dan pendidik untuk membangun lingkungan daring yang lebih aman yang sangat melindungi hak dan kepentingan anak. Kata kunci: Transaksi elektronik; anak di bawah umur; permainan daring; ahliyyah al ada’; kapasitas hukum; pengawasan orang tua; literasi digital.
PROBLEMATIKA ISBAT NIKAH DAN PENYELESAIANNYA DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN JEPARA Mufidah, Alimatul; Choeri, Imron; Rosyada, Amrina
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.244

Abstract

Marriage in Islam is a sacred bond recognized by law and religion, but many marriages are not officially recorded, necessitating marriage validation (isbat nikah) for legal recognition. This study aims to identify the challenges in implementing isbat nikah and the mechanisms for resolving them at the Jepara Regency Religious Court, as well as to analyze the applied Islamic law and positive law approaches. Using a descriptive-analytical qualitative approach, data were collected through in-depth interviews with judges, clerks, and petitioners, non-participatory observation of court proceedings, and document analysis of 15 isbat nikah case files from 2022–2023. Data analysis followed the Miles and Huberman interactive model, involving data reduction, presentation, and conclusion drawing with verification through triangulation. The findings reveal key issues, including low legal literacy among the public, particularly regarding witness and document requirements, and limited access to legal services and e-Court technology, with isbat nikah requests being reactive for administrative purposes. The Jepara Religious Court addresses these issues through educational approaches, tolerance for incomplete evidence, and collaboration with village governments, guided by Law No. 1 of 1974 (amended by Law No. 16 of 2019) and the Compilation of Islamic Law. The discussion highlights that this approach reflects the principle of maslahah, but challenges in legal literacy and technology access require cross-institutional collaborative strategies to enhance the effectiveness of isbat nikah and public legal awareness
TRADISI BIN SABIN (BAWAAN) DALAM PERKAWINAN ADAT DI DESA CLARAK KABUPATEN PROBOLINGGO: PERSPEKTIF HUKUM ADAT DAN HUKUM ISLAM Hidayatullah, Muhammad Lutfi; Rusli, Fathullah; Nugroho, Irzak Yuliardy
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.256

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tradisi bin sabin (bawaan) dalam perkawinan adat masyarakat Desa Clarak, Kabupaten Probolinggo, ditinjau dari perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat. Tradisi bin sabin merupakan bentuk pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebelum atau saat pernikahan berlangsung, yang meliputi perlengkapan pribadi, makanan, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Dalam hukum Islam, tradisi ini termasuk dalam kategori ‘urf (kebiasaan) yang diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan tidak memberatkan salah satu pihak. Sementara itu, dalam hukum adat, bin sabin memiliki kedudukan sebagai bagian dari hukum kebiasaan yang hidup dan dihormati dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik analisis interaktif yang meliputi tiga tahapan utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bin sabin masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Clarak sebagai simbol tanggung jawab, penghargaan, dan komitmen dalam membina rumah tangga.
KRISIS AQIDAH DI ERA DIGITAL: TANTANGAN KEIMANAN GENERASI Z Idhar; Nasrullah
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.266

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana Generasi Z mengalami krisis aqidah dalam konteks era digital, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi stabilitas keimanan mereka di tengah arus konten media sosial yang serba cepat dan serba bebas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi, yang berfokus pada pengalaman subjektif partisipan terhadap fenomena krisis aqidah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi digital. Informan dipilih menggunakan purposive sampling, yaitu Generasi Z berusia 15–25 tahun yang aktif menggunakan media sosial dan memiliki pengalaman keagamaan yang signifikan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola-pola makna dan dinamika internal partisipan dalam merespons krisis keimanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis aqidah pada Generasi Z dipengaruhi oleh beberapa faktor dominan, antara lain: (1) paparan konten digital yang kontradiktif terhadap nilai-nilai Islam, (2) minimnya pendampingan spiritual dari keluarga dan lingkungan sosial, (3) kekosongan makna religius dalam pendidikan formal, dan (4) pencarian identitas diri yang tidak terarah dalam ruang digital. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya strategi adaptif dari sebagian Generasi Z dalam menjaga keimanan, seperti keterlibatan aktif dalam komunitas dakwah digital, selektivitas dalam konsumsi media, serta peningkatan literasi keislaman melalui konten edukatif online.
REKONSTRUKSI KONSEP KAFA'AH DALAM PERNIKAHAN: IMPLIKASI PENDIDIKAN, STATUS SOSIAL EKONOMI, DAN LATAR BELAKANG BUDAYA TERHADAP KESETARAAN DALAM KEMITRAAN Akbar, Ahmad Rozai
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.267

Abstract

This study re-examines the concept of Kafa'ah in Islamic marriage which has been oriented towards equality of religion, lineage, and economy, but ignores the factors of education, socio-economic status, and culture that influence the implementation of society. The purpose of the study is to explore the relationship between these three factors and Kafa'ah, identify the impact of conceptual reconstruction on partnership equality, and the role of women's empowerment in determining the criteria for Kafa'ah. The library method with content analysis was carried out through a review of literature, journals, and normative sources of Islamic family law. The data shows that education is a new criterion for Kafa'ah in urban communities, while socio-economic hierarchy is still dominant in traditional communities. The conclusion states that inclusive reconstruction of Kafa'ah can improve gender equality and the welfare of couples, while strengthening women's position in determining their choice of partners independently. These results have implications for the development of regulations and public education to encourage more egalitarian marriage practices
KAIDAH FIQHIYYAH DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT: 183, 184, 185 DAN 187 Aulia, Clarisa; Fatimah, Suciati; Maulana, Ahmad; Taqiyuddin, Hafidz
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 1 (2025): June
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i1.271

Abstract

This article discusses the importance of thoroughly understanding the history, development, and interpretation of the fasting ordinance in Islam, especially analyzing Surah Al-Baqarah verses: 183, 184, 185 and 187 relating to Ramadan fasting. The focus of this study is to identify the fiqhiyyah rules contained in the verse and explain how the fasting law has changed from the beginning of Islam to become an obligation. In its discussion, the article reviews the differences in scholarly views regarding the equality of Muslim fasting with the previous people. Furthermore, this research uses the content analysis method to analyze, identify, and interpret the fiqhiyyah rules contained in Surah Al-Baqarah and relate them to the context in which the verse was revealed (asbabun nuzul). With the content analysis method approach, this article aims to provide an in-depth understanding of the history of the fasting ordinance, the interpretation of the verse, the reason for the verse's revelation, and its relation to the ushul fiqh rules. The results show the existence of provisions and prohibitions in carrying out fasting, differences in scholarly views regarding the application of verses, and the relevance of the verse in the rules of ushul fiqh.
DISFUNGSI PIDANA MATI BAGI KORUPTOR PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN FIKIH KONTEMPORER Suryani, Dewi Ervina; Muhammad Faisal Hamdani; Muhammad Iqbal Irham
Al-Ittihad: Jurnal Pemikiran dan Hukum Islam Vol 11 No 2 (2025): December
Publisher : Sekolah Tinggi Islam Syariah (STIS) Al-Ittihad Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61817/ittihad.v11i2.273

Abstract

Korupsi dikategorikan ke dalam kejahatan luar biasa (extraordinary crime), karena akibat yang ditimbulkannya dapat merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi menghambat kemajuan dan pembangunan bangsa, meningkatkan jumlah kemiskinan dan bahkan bisa membunuh ekonomi negara. Begitu berbahayanya sampai pemerintah memberikan perlakuan khusus untuk menangani kejahatan ini dengan membentuk aturan dan perangkat hukum tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kenapa pidana mati bagi pelaku korupsi tidak pernah terlaksana hingga kini. Dengan menggunakan metode analisis kualitatif terhadap data primer dan sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, maka ditemukan bahwa frasa “keadaan tertentu” dalam pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU TPK) tidak memiliki pengertian yang pasti (blur) seperti negara dalam keadaan bahaya, terjadi bencana nasional, sebagai bentuk pengulangan kejahatan, dan pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter. Penjelasan seperti ini menghilangkan hukuman pidana mati bagia pelaku korupsi di luar empat ketentuan tersebut. Dari temuan ini maka dapat disimpulkan bahwa disfungsi pidana mati bagi pelaku korupsi disebabkan adanya pembatasan keadaan cakupan perbuatan korupsi yang bisa dihukum mati yang ada pada aturan pasal 2 ayat (2) UU TPK. Untuk itu, penulis menyarankan kepada pemerintah dan badan legislatif untuk segera melakukan revisi terhadap UU TPK dengan menghapus frasa “keadaan tertentu” dan menambahkan satu pasal baru yang mengatur tentang pidana mati secara tegas mencakup semua bentuk korupsi yang merugikan bangsa dan negara, serta jelas dan terukur mengatur tentang batas minimum korupsi yang wajib dijatuhi pidana mati, misalnya minimal Rp 1.593.750.000,- berdasarkan mazhab Syafi’i, atau minimal Rp 6.375.000.000 berdasarkan mazhab Hanafi.

Page 8 of 10 | Total Record : 94