cover
Contact Name
Efi Nurwindayani, S. Sos., M. Th
Contact Email
-
Phone
+6285606186185
Journal Mail Official
jurnalgamaliel@gmail.com
Editorial Address
Jalan Petir 18, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Gamaliel Teologi Praktika
ISSN : 26562332     EISSN : 26562367     DOI : 10.38052
Core Subject : Religion, Education,
JURNAL TEOLOGI PRAKTIKA Merupakan jurnal yang berisi artikel, penelitian, dan review mengenai teologi praktika dalam bidang : 1. Hemerneutika 2. Homiletika 3. Misi Penginjilan 4. Kepemimpinan Kristen 5. Konseling Kristen 6. Apologetika Kristen 7. Etika Kristen 8. Pastoral 9. Manajemen Kristen 10. Pendidikan Kristen 11. Pemuridan
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 70 Documents
PEMURIDAN KONTEKSTUAL METODE HYBRID DALAM KONTEKS MAHASISWA Yuliati Yuliati; Timotius Haryono
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 1 Maret 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i1.89

Abstract

Program Kampus Merdeka dan pandemi Covid-19 membuat tantangan jarak semakin menantang pelayanan pemuridan kontekstual di mahasiswa. Pemuridan kontekstual dengan metode online diusulkan untuk menjawab tantangan ini namun justru memunculkan masalah baru. Metode hybrid menyelesaikan tantangan jarak dengan sempurna karena menggabungkan metode online dan luring. Rasul Paulus merupakan teladan dalam memuridkan dalam area yang luas. Ia sanggup untuk menggabungkan pemuridan jarak jauh dan dekat. Penelitian ini hendak merancang sebuah model pemuridan dengan metode hybrid bagi mahasiswa dengan mengaplikasikan model pemuridan Paulus. Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan pendekatan kualitatif dan paradigma fenomenologi. Penelitian ini menggumpulkan data dengan metode studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan model pemuridan kontekstual metode hybrid.The Kampus Merdeka program dan the Covid-19 pandemic make distance challenges even more challenging for contextual discipleship services for college students. Contextual discipleship with online method is proposed to answer this challenge but it raises a new problem. The hybrid method solves distance challenges perfectly as it combines online and offline methods. Paul, the apostle, is an example in making disciples in a wide area. He is able to combine far and close distance discipleship. This study aims to design a discipleship model with a hybrid method for college students by applying Paul's discipleship model. This research is applied research with a qualitative approach and a phenomenological paradigm. This research collects data by using literature study method. This research produce a hybrid method in contextual discipleship model.
MEMAKNAI KARYA ROH KUDUS DALAM PELAYANAN PEMURIDAN KONTEKS MAHASISWA DI SURAKARTA Efi Nurwindayani
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 1 Maret 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i1.87

Abstract

Pelayanan pemuridan konteks mahasiswa Kristen di Surakarta memiliki tujuan mulia yaitu agar mengalami pertumbuhan rohani serupa dengan Kristus. Roh Kudus memiliki peran penting dalam pertumbuhan rohani khususnya dalam pemuridan. Tetapi mahasiswa belum menyadari peran Roh Kudus dalam pemuridan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan makna karya Roh Kudus dalam pemuridan konteks mahasiswa Kristen di Surakarta. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi interpretatif (Interpretaitive Phenomenological Analysis). Data penelitian ini diperoleh dari literatur kepustakaan dan wawancara kepada tiga orang mahasiswa. Penelitian ini menghasilkan temuan yaitu memaknai karya Roh Kudus dalam pemuridan konteks mahasiswa Kristen di Surakarta yaitu 5M: menolong, menghibur, mengingatkan, mencerahkan dan mengubahkan.Discipleship services in the context of Christian students in Surakarta have a noble goal, namely to experience spiritual growth similar to Christ. The Holy Spirit has an important role in spiritual growth especially in discipleship. But students have not realized the role of the Holy Spirit in discipleship.  The purpose of this study was to find the meaning of the work of the Holy Spirit in the context of discipleship of Christian students in Surakarta. This research method uses a qualitative approach with interpretive phenomenological methods (Interpretaitive Phenomenological Analysis). The data of this study were obtained from the literature and interviews with three students. This study resulted in findings, namely interpreting the work of the Holy Spirit in the context of discipleship of Christian students in Surakarta, namely 5M: helping, comforting, reminding, enlightening and changing. 
KAJIAN TEOLOGIS DAMPAK GERAKAN PROFETIK DAN ASPOTOLIK TERHADAP GEREJA James Andersen; Yanto Paulus Hermanto
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 1 Maret 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i1.80

Abstract

Gerakan profetik dan apostolik telah menghasilkan hamba-hamba Tuhan yang disebut nabi dan rasul (modern). Permasalahan timbul karena tidak semua aliran teologi menyetujui keberadaan nabi dan rasul di dalam gereja, sebab menurut pandangan mereka jaman keberadaan para nabi dan rasul telah berakhir seiring dengan rampungnya kitab suci ditulis. Sementara aliran teologi yang lain berharap bahwa kehadiran mereka akan memberikan dampak positif yang besar terhadap gereja. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan secara teologis, khususnya berdasarkan Efesus 2:20, bahwa gerakan profetik dan apostolik memiliki landasan Alkitab yang benar. Penelitian dimulai dengan kajian pustaka terhadap buku-buku yang ditulis oleh para pelopor gerakan profetik dan apostolik yang kemudian dilanjutkan dengan studi eksegesis Alkitab untuk memeriksa apa yang mereka sampaikan. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa gerakan profetik dan apostolik adalah suatu pergerakan dari Tuhan yang akan membawa dampak pemulihan bagi gereja-Nya. The prophetic and apostolic movements have produced God's servants who are called prophets and apostles (modern). The problem arises because not all schools of theology agree on the existence of prophets and apostles in the church, because in their view the era of the existence of prophets and apostles has ended with the completion of the scriptures. While other theological schools, hope that their presence will have a big positive impact on the church. The purpose of this study is to prove theologically, that the prophetic and apostolic movements have a true biblical basis, specifically based on Ephesians 2:20. The research begins with a literature review of books written by the pioneers of the prophetic and apostolic movements, which is then followed by a biblical exegesis study to examine what they conveyed. From the results of this study, a conclusion can be drawn that the prophetic and apostolic movement is a movement from God that will bring a restoration impact to His church.
PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MENJAWAB TANTANGAN PERKEMBANGAN TEKNOLOGI DI ERA POSTHUMAN Tjendanawangi Saputra; Serdianus Serdianus
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 1 Maret 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i1.91

Abstract

Teknologi terus berkembang ke arah gagasan baru yaitu posthuman. Era posthuman menciptakan sebuah kemungkinan akan kehadiran teknologi yang bukan hanya sekadar membantu aktivitas manusia namun juga menyatu dengan kehidupan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup. Artikel ini membahas mengenai peran Pendidikan Agama Kristen yang berkontribusi dalam membimbing setiap orang percaya untuk menghadapi tantangan teknologi di era posthuman. Melalui kajian deskriptif dengan metode kepustakaan, digambarkan mengenai era posthuman termasuk ide transhumanisme serta bagaimana Pendidikan Agama Kristen menjawab tantangan akan perkembangan teknologi yang berdampak signifikan bagi kehidupan orang percaya. Penelitian ini menegaskan bahwa Pendidikan Agama Kristen berperan dalam membantu individu memiliki kedewasaan iman untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara kritis dan kreatif. Dengan kedewasaan iman, setiap individu dapat memiliki pertahanan kuat dalam menghadapi perubahan zaman yang dapat mengaburkan dan  melemahkan iman Kristen. Technology continues to evolve towards new ideas, namely posthuman. The posthuman era creates a possibility for the presence of technology that not only helps human activities but also integrates with human life to improve the quality of life. This article discusses the role of Christian Religious Education which contributes in guiding every believer to face technological challenges in the posthuman era. Through a descriptive study using the literature method, it describes the posthuman era including the idea of transhumanism and how Christian Religious Education responds to the challenges of technological developments that have a significant impact on the lives of believers. This study confirms that Christian Religious Education plays a role in helping individuals to have faith maturity to adapt critically and creatively to technological developments. With maturity of faith, each individual can have a strong defense in the face of changing times that can cloud and weaken Christian faith.
REVITALISASI MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN KRISTEN DALAM MEMBANGKITKAN SEMANGAT JEMAAT BERIBADAH DI GEREJA PASCA NEW NORMAL Darianti Darianti; Fransiskus Irwan Widjaja Widjaja; Yesimieli Laiya; Rijaltri Sudarman Sihombing; Frederik Patar Hutahaean; Talizaro Tafonao
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 1 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 1 Maret 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i1.88

Abstract

Tujuan dalam penulisan artikel ini adalah melihat sejauh mana manfaat revitalisasi manajemen dan kepemimpinan Kristen dalam membangkitkan semangat jemaat beribadah di gereja pasca new normal. Penulis melihat bahwa para pemimpin memiliki pengaruh besar dalam membangkitkan semangat jemaat untuk beribadah kembali di gereja pasca new normal. Kajian ini berangkat dari pengamatan penulis secara empiris bahwa aktifitas gereja yang dilaksanakan secara online selama ini masih mengalami berbagai kendala sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Penulis mengkaji revitalisasi manajemen dan kepemimpinan Kristen. Hasil penelitian yang didapatkan dalam kajian ini adalah pemimpin harus memahami hakikat manajemen, fungsi manajemen, tantangan dalam melaksanakan manajemen serta trik dan strategi memotivasi jemaat. Dengan demikian bahwa revitalisasi manajemen dan kepemimpinan Kristen dua hal yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana yang dijelaskan dalam artikel ini. The purpose of writing this article is to see to what extent the benefits of revitalizing Christian management and leadership in raising the spirit of the congregation to worship in the church after the new normal. The author sees that the leaders have a big influence in raising the spirit of the congregation to worship again in the church after the new normal. This study departs from the author's empirical observation that church activities carried out online so far are still experiencing various obstacles as described in
IMPLEMENTASI PENGALAMAN REALISTIS-MISTIS GEREJA PERDANA DI JEMAAT UNTUK MEMBERITAKAN KABAR BAIK DALAM KONTEKS MISTIK JAWA KONTEMPORER Soleman Kawangmani; Lavandya Permata Kusuma Wardhani
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 2 September 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i2.163

Abstract

Mistik Jawa kontemporer berkembang akibat agama formal gagal menjadi kekuatan moral, terlalu dogmatis dan ritualistik serta kurang memperhatikan kebutuhan batin. Pada hal gereja perdana memiliki pengalaman dengan Roh Kudus yang sifatnya batiniah, bukan formalistik dan ritualistik. Pengalaman gereja perdana harus menjadi pola hidup jemaat masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola implementasi pengalaman gereja perdana dengan Roh Kudus di gereja masa kini untuk memberitakan Kabar Baik dalam konteks mistik Jawa kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif preskriptif dengan metode eksegesa teks Alkitab dan studi literatur. Penelitian ini menghasilkan ‘Pola Eklesia-Pneumato-Kristosentris’ dengan lima ciri yaitu persekutuan, belajar Firman Allah, doa dan penyembahan, pemberdayaan karunia Roh dan pengutusan untuk memberitakan Kabar Baik. Contemporary Javanese mysticism developed because formal religion failed to become a moral force, was too dogmatic and ritualistic and did not pay attention to inner needs. In the case of the early church, the experience with the Holy Spirit was inward, not formalistic and ritualistic. The experience of the early church should be the pattern of life for the congregation today. This study aims to find a pattern of implementing the experience of the early church with the Holy Spirit in the contemporary church to preach the Good News in the context of contemporary Javanese mysticism. This study uses a prescriptive qualitative approach with exegesis methods of biblical texts and literature studies. This research resulted in an 'Eklesia-Pneumato-Christocentric Pattern' with five characteristics, namely fellowship, learning God's Word, prayer and worship, empowering the gift of the Spirit and sending out to preach the Good News.
RELEVANSI FILSAFAT PENDIDIKAN MODERN TERHADAP FILOSOFI PENDIDIKAN KRISTEN ERA INDUSTRI 4.0 Sujud Swastoko
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 2 September 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i2.161

Abstract

Munculnya aliran-aliran filsafat pendidikan modern yang lebih menekankan rasionalitas, intelektual, ketrampilan, serta membangun kepercayaan diri menjadi tantangan dalam dunia pendidikan Kristen. Filsafat-filsafat tersebut akhirnya mengarah pada eksistensi, pengetahuan, dan nilai yang tidak lagi bertumpu pada Alkitab, tetapi pada kebenaran dan nilai-nilai duniawi. Oleh karena itulah penulis meneliti relevansi filsafat pendidikan modern terhadap filosofi pendidikan Kristen era industri 4.0 yang mengarah pada semakin terbukanya akses pengetahuan melalui teknologi informasi agar para pendidik tidak meninggalkan filosofi berdasarkan kebenaran Alkitab. Metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah deskriptif dengan menggunakan sumber-sumber dari literatur yang resmi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa filsafat pendidikan modern yaitu perennialisme, esensialisme, behaviorisme, progresivisme, rekonstruksionisme, naturalisme romantis, dan eksistensialisme lebih menekankan pada proses pendidikan yang berorientasi pada individualisme, dan kurang relevan dengan filosofi pendidikan Kristen yang menekankan peran Allah dalam kehidupan seseorang.The emergence of modern educational philosophie that emphasize rationality, intellectuality, skills, and builk self-cofidence is a challenge in teha worl of Christian education. These philosophies eventually lead to existence, knowledge, and values that are no longer based on the Bible, but on worldly truths and values. Therefore, the author examines the relevance of modem educational philosopy to the philosopy of Christian education in the industri era 4.0 which leads to increasingly open access to knowledge through information technology so that educators do not abandon philosophy based on Bible truth. The method used in this qualitative research is descriptive by using sources from the official literature. From the results of the study, it is known that modern educational philosophies, namely perennialism, essentialisme, behavior, progressivism, reconstruction, romantic naturalis, and existentialisme, place more emphasis on individualism-oriented educational process, and thera are less relevant to Christian educational philosopy with emphasize the role of God in ones’.
KEUTAMAAN HIDUP GEMBALA YANG ALKITABIAH DI ERA DIGITAL: BELAJAR DARI TELADAN RASUL PAULUS Petrus Antonius Usmanij
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 2 September 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i2.103

Abstract

Tugas seorang gembala melayani di gereja Tuhan adalah sebuah tugas mulia. Makalah ini memaparkan gambaran keutamaan hidup gembala dari Paulus yang adalah rasul Yesus yang telah berhasil dalam menjalankan tugas penggembalaannya di berbagai gereja. Peneliti mempelajari teladan rasul Paulus dari sisi pelayanan, pelatihan dan kehidupan doanya yang kelak dapat digunakan oleh gereja-gereja dan para gembala senior dalam melakukan seleksi terhadap calon-calon gembala masa depan. Metode yang digunakan adalah studi literatur atau penelitian kepustakaan yang dipaparkan secara kualitatif mengenai keutamaan hidup seorang gembala dalam menjalankan pelayanan yang Alkitabiah.  Makalah ini membahas tentang gembala sebagai seorang yang menjadi teladan seperti Yesus dalam memimpin dan melayani atau menggembalakan jemaat Tuhan di sebuah gereja. Kehidupan doa yang sempurna dari seorang pendoa akan menghasilkan kemuliaan bagi Tuhan, memperbanyak buah, dan keaslian dari pendoa itu sendiri. Peneliti menyimpulkan bahwa teladan rasul Paulus jelas dapat diterapkan oleh para gembala di dalam melayani jemaat Tuhan pada era digital.  The duty of a shepherd to serve in the Lord's church is a noble one. This paper describes the primacy of the life of the shepherd from Paul who was the apostle of Jesus who had succeeded in carrying out his pastoral duties in various churches. The author studies an example of the apostle Paul in terms of his ministry, training and prayer life that churches and senior pastors can later use in selecting future shepherd candidates. The method used is a literature study that qualitatively explains the virtues of a shepherd's life in carrying out a biblical ministry.  This paper discusses the shepherd as a Jesus-like role model in leading and serving or shepherding God's congregation in a church. The perfect praying life of a Christian will produce glory for God, multiplying the fruit, and authenticity of the prayer self. The author concludes that the example of the apostle Paul can clearly be applied by shepherds in serving God's congregation in the digital age.
SUPREMASI KRISTUS SEBAGAI INSTRUMEN DASAR MEMBANGUN DEVOSI PRIBADI ORANG PERCAYA BERDASARKAN KOLOSE 1:15-20 Sostenis Nggebu
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 2 September 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i2.143

Abstract

Banyak orang Kristen masa kini yang belum sepenuhnya mengutamakan Yesus Kristus untuk berdaulat di dalam hidup mereka. Maka pemberitaan tentang supremasi Kristus dalam Kolose 1:15-20 menjadi penting. Tujuan artikel ini mengupas pentingnya orang Kristen mengutamakan Kristus di dalam kehidupannya. Keyakinan dasar ini menjadi pendorong baginya untuk menolak ajaran yang menyanggah keutuhan Kristus. Diskusi ini menggunakan studi tekstual. Hasilnya menunjukkan bahwa finalitas Kristus sudah cukup bagi iman Kristen. Tidak diperlukan lagi ajaran tambahan guna menyempurnakan iman Kristen. Orang Kristen sejati senantiasa bersandar penuh kepada Kristus dan menolak ajaran yang menyimpang dari kebenaran Injil seperti ajaran gnostik. Orang Kristen yang mengakui otoritas Kristus atas hidupnya akan memotivasinya dalam meresponi firman-Nya, membangun devosi pribadi agar bertumbuh menjadi dewasa dalam imannya dan hanya mengutamakan Kristus di dalam hidupnya.Many Christians today have not fully prioritized Jesus Christ to be sovereign in their lives. So the preaching of the supremacy of Christ in Colossians 1:15-20 becomes important. The purpose of this article explores the importance of Christians putting Christ first in their lives. This basic belief became the impetus for him to reject the teachings that refute the wholeness of Christ. This discussion uses textual studies. The results show that the finality of Christ is sufficient for the Christian faith. There is no need for additional teachings to perfect the Christian faith. True Christians always rely fully on Christ and reject teachings that deviate from the truth of the Bible such as the gnostics. Christians who recognize Christ's authority over their lives will motivate them to respond to His words, build personal devotion to grow to maturity in their faith and only put Christ first in their lives. 
METODE ORANGTUA MEMAHAMI PERILAKU REMAJA PADA MASA KINI Megawathy Cathrine Sibarani; Yanto Paulus Hermanto; Yohanes Rahdianto Suprandono
Jurnal STT Gamaliel Vol 4, No 2 (2022): Jurnal Gamaliel Vol. 4 No. 2 September 2022
Publisher : STT Gamaliel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38052/gamaliel.v4i2.154

Abstract

Penyimpangan perilaku anak remaja dimasa kini khususnya generasi Z (1995-2010) memang sudah merisaukan banyak orangtua, sebab banyak remaja yang tidak lagi mau kegereja sejak usia mereka 13 tahun, bahkan sampai meragukan iman dan keselamatannya sendiri. Tujuan penulisan ini adalah agar setiap orangtua lebih memperhatikan apa sesungguhnya penyebab perilaku remaja tersebut. Metode ini dilakukan dengan cara  pendekatan penelitian kualitatif studi pustaka dan juga hal-hal yang ditemukan penulis dalam pelayanannya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah agar orangtua lebih memahami apakah yang diharapkan remaja dari para orangtua mereka saat mereka mengalami pergumulan. Sehingga orangtua dengan mudah menemukan metode untuk memahami perilaku remaja masa kini. Kehadiran dan kebersamaan dengan anak-anak mereka sejak kecil, mendengarkan setiap hal yang mereka sampaikan, dan mencari solusi dengan bijaksana untuk memenuhi setiap harapan mereka juga bisa menjadi metode dalam memahami perkembangan perilaku remaja.Deviations in the behavior of today's teenagers, especially Generation Z (1995-2010) have indeed worried many parents, because many teenagers have stopped going to church since they were 13 years old, even to the point of doubting their own faith and safety. The purpose of this paper is that every parent pays more attention to what is the real cause of the teenager's behavior. This method is carried out by means of a qualitative research approach to literature studies and also the things the author finds in his ministry. The conclusion of this study is that parents better understand what teenagers expect from their parents when they experience struggles. So that parents easily find methods to understand the behavior of today's teenagers. Presence and togetherness with their children since childhood, listening to everything they have to say, and finding solutions wisely to meet their every expectation can also be a method in understanding the development of adolescent behavior.