cover
Contact Name
Intan Permata Sari
Contact Email
intanpermata@iainbengkulu.ac.id
Phone
+6285292917330
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Raden Fatah, Pagar Dewa Bengkulu 38212, Kota Bengkulu, Bengkulu, Sumatera
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak
ISSN : 26858703     EISSN : 26863308     DOI : http://dx.doi.org/10.29300/hawapsga
Core Subject : Education, Social,
Hawa is a scientific journal within the scope of gender and child studies with various applications of approaches, namely: psychology, education, law, sociology, literature, anthropology, and Islamic studies. It is a half-yearly published, exactly every June and December by Gender and Child Studies Center, Research and Community Service Department of IAIN Bengkulu. It was firstly published in 2019. The editorial board uses OJS in accepting articles, reviewing systems, and publication.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2022): Juni" : 10 Documents clear
Kontribusi Ibu Rumah Tangga yang Berpendidikan Tinggi dalam Memberikan Pendidikan Religiusitas Anak Suhirman Suhirman; Azwar Rahmat; Yesi Purwaningatmaja
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6797

Abstract

Data collection techniques used were observation, The purpose of this study was to determine the contribution of housewives who have higher education in providing children's religious education in Fajar Baru Village, Ketahun District, North Bengkulu. This “research is a quantitative questionnaires, and documentation. For sampling techniques used purposive sampling techniques, and data analysis” techniques using the mean, standard deviation, and product moment formula to find the relationship. The results obtained from this study are there are contributions between highly educated housewives on children's religious education in Fajar Baru Village, Ketahun District, North Bengkulu. This can be proven from the statistical calculation that r is greater than rtable (-0.236 <0.284) ts 5%, there is a significant contribution among housewives with high education towards children's religiosity education. This can be seen from the majority of housewives with minimum education qualifications of junior high, high school, and highest level 1 (undergraduate). Then the children's religious education in Fajar Baru Village is also in the medium category. This shows the child has gradually implemented religious teachings in everyday life. Such as, believing in the oneness of Allah, believing mace and qadar, being polite to teachers, parents, and others, performing compulsory prayer and circumcision, fasting in the month of Ramadan, and having a noble character.
Kesetaraan Gender Perempuan Bali dalam Pandangan Amina Wadud Ida Selviana Masruroh
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6822

Abstract

Gender diartikan sebagai suatu konsep kultural yang berusaha membuat perbedaan dalam hal peran, mental, perilaku, serta karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Pemberlakuan hukum adat Bali yang masih belum memiliki kesetaraan gender walaupun perempuan Bali terdahulu tidak mengalami ketidakadilan gender karena bagi mereka memaknai perannya sebagai suatu kewajiban walaupun sebenarnya yang terjadi ketimpangan peran. Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi semi partisipan dan wawancara secara mendalam atau Depth Interview. Penelitian ini memilih subyek berupa data primer dan data sekunder. Peneliti menggunakan Triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teori Miles and Hubberman yaitu dengan koleksi data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Amina Wadud memandang bahwa perempuan Bali belum termasuk kategori kesetaraan gender karena menganut budaya patriarki. Pemberlakuan adat istiadat Bali yang mengatur kehidupan masyarakat Bali itu sendiri dan belum mencerminkan kesetaraan gender. Perempuan Bali apabila sudah menikah maka menjadi hak milik laki-laki sepenuhnya tanpa adanya perdebatan.
Strategi Peran Ganda Janda Cerai Mati untuk Memenuhi Kebutuhan Pendidikan Anak Endah Iri Aryani; Yustika Irfani Lindawati
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6515

Abstract

Kontruksi sosial yang menuntut janda cerai mati menjalankan peran ibu dan ayah yakni mengasuh anak, menafkahi rumah tangga serta pemenuhan pendidikan anak seorang diri. Kecenderungan orang tua memberikan pendidikan anak melalui sekolah formal menyebabkan orang tua membutuhkan biaya untuk pemenuhan pendidikan anak dimana janda cerai mati memerlukan strategi guna memenuhi kebutuhan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara janda cerai mati menghidupi kebutuhan ekonomi dan pendidikan anak-anaknya di RT 003 RW 011, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif serta teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yaitu observasi dan wawancara mendalam bebas terpimpin terhadap informan. Hasil penelitian ini diperoleh yaitu kebutuhan nafkah rumah tangga dan pemenuhan pendidikan anak dilakukan janda cerai mati dengan cara membuka usaha berupa warung kelontong, pakaian, dan menjual barang rumah tangga dengan sistem kredit serta menerapkan strategi dengan memanfaatkan modal (sumber daya) yang dimiliki seperti modal materi, modal sosial, modal simbolis, dan modal kultural. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gagasan mengenai upaya-upaya yang dapat diterapkan guna mempertahankan kebutuhan ekonomi rumah tangga dan pemenuhan pendidikan anak untuk jangka pendek dan jangka panjang bagi orang tua tunggal. 
Perempuan dan Moderasi Beragama: Potensi dan Tantangan Perempuan dalam Mewujudkan Moderasi Beragama Reni Kumalasari
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6484

Abstract

AbstrakSeiring berjalannya waktu, konflik disebabkan intoleransi semakin meningkat di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai macam upaya untuk mengatur pola kerukunan umat beragama di Indonesia salah satunya menebarkan faham moderasi beragama di masyarakat. Penelitian ini akan mengkaji potensi perempuan dalam mewujudkan moderasi beragama serta kondisi ketidakadilan gender yang dapat menjadi tantangannya. Penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan literature review. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi yang besar dalam mewujudkan moderasi beragama, perempuan dapat menjadi sumber dan aktor utama dalam menanamkan benih moderasi dalam keluarga. Namun, potensi besar tersebut akan menjadi sia-sia jika perempuan masih menjadi kaum yang dimarginalkan baik di wilayah domestik maupun publik. Tanpa keadilan gender, moderasi beragama di Indonesia tidak dapat diwujudkan secara utuh.  AbstractOver time, conflicts due to intolerance are increasing in Indonesia. The government has made various efforts to regulate the pattern of religious harmony in Indonesia, one of which is spreading the notion of religious moderation in society. This study will examine the potential of women in realizing religious moderation and the conditions of gender inequality that can be a challenge. This research is a qualitative research with a literature review approach. The results of this study indicate that women have great potential in realizing religious moderation, women can be the main source and actor in planting the seeds of moderation in the family. However, this great potential will be in vain if women are still marginalized both in the domestic and public spheres. Without gender justice, religious moderation in Indonesia cannot be fully realized.  
The Color Purple and Namaku Hiroko: Comparative Literature on Gender Inequality Issues Rizkia Shafarini; Agry Pramita
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6642

Abstract

This research aims to compare and contrast the gender inequality concerns in Alice Walker's "The Color Purple" and Nh. Dini "Namaku Hiroko." Using a comparative literature method, this research examines the contrasts and similarities in the author's descriptions of gender inequality concerns faced by the major characters in the two novels. The qualitative descriptive analysis approach is used in this investigation. There are parallels in the subject of gender equality for women who are deemed second-class citizens who are sexually and economically objectified and confined by patriarchal society and culture. The distinction between the two novels is that "The Color Purple" exposes the State of American culture that discredits black people, whereas "My Name is Hiroko" depicts women's economic and sexual desires. Finally, we can observe how the authors' cultural backgrounds may impact the literary works they produce since the writers will write about the socio-cultural situations they are experiencing.
Readers’ Responses to Homoerotism on Indonesian Online Fictions Andriadi Andriadi
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6762

Abstract

The dominant masculine stereotype constructed in our society's view is considered to be restrictive and unfavorable in some aspects inherent in masculine gender. This condition sometimes makes men depressed and suffer because they cannot express certain feelings and emotions which also require other men's point of view and internalize certain values. Bromance is considered as a concept against masculine views that develop in society so that they are able to express their feelings, empathize with each other, motivate each other, and together show concern in difficult times so that they can share the problems they face and find solutions from a male point of view. man. This study aims to explore he  reader’ respond to homoeroticism depicted in Indonesian online fiction  and an offer  to  ideal homosocial concept as a solution for male friendship that should be depicted in a fictional world as the basis for building a better civilization and source of literacy. This study uses a qualitative method. The result showed that the male body becomes the source of the emergence of homoeroticism in friendship interraction. Sexual stimulation and words that have homoerotic tendencies in character interactions lead to sexual feelings. Strong and intense emotions lead them to feelings of homoeroticism. The more intimate emotional and physical closeness leads them to change their sexual desire towards other sexual acts. The offer of the concept of the ideal friendship of heterosexual men in a fictional world should include aspects: togetherness, sharing problems openly and comfortably, providing emotional support, and giving surprises by avoiding things that are not accepted by our society, namely affection without deep emotions. and a description of ethical interactions without physical contact so that the strength of male homosocial bonds is built as well as to uphold certain images of masculinity and sexuality in accordance with the masculine stereotypes adopted and developed in the society. In other words, men must maintain ethics and dignity in a friendship
Peran Keluarga dalam Meminimalisir Tingkat Kekerasan Seksual pada Anak Erika Vivian Nurchahyati; Martinus Legowo
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6675

Abstract

Tingkat kekerasan seksual semakin hari semakin meningkat. Dampak-dampak yang terjadi karena hal ini sangat merugikan dan membahayakan anak. Hal ini membuat keluarga yang memiliki anak kecil atau remaja merasa khawatir sehingga melakukan upaya-upaya untuk meminimalisir tingkat kekerasan anak. Artikel ini menggunakan teori struktural fungsional dengan metode penelitian kualitatif.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi peran keluarga dalam meminimalisir tingkat kekerasan seksual pada anak. Hasil penelitian menunjukan Untuk meminimalisir hal ini, keluarga mengupayakan segala cara agar hal ini tidak terjadi kepada orang terdekat mereka. cara-cara tersebut adalah memberikan pengetahuan mengenai kekerasan seksual terutama bagi mereka yang mulai menginjak dewasa, mensosialisasikan mengenai dampak dan ancaman dari kekerasan seksual, memberikan sex education sesuai dengan perkembangan usia anak, memberikan pengetahuan mengenai batasan-batasan tubuh yang tidak boleh dipegan tanpa seizin anak. Selain itu mereka juga sering mengajari dan memberi pengetahuan terkait norma, nilai dan budaya yang ada dimasyarakat, mengajak mereka lebih mengenal lingkungan rumah dan orang sekitar. Dengan adanya upaya-upaya ini, diharapkan dapat meminimalisir kasus kekerasan seksual terhadap anak
Generation Z's Perception of Marriage Age Restrictions and Arranged Marriage Phenomenon Mohamad Syafri; Riska Aulia Putri; Liannita Liannita; Siti Aisyah Humairah
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6671

Abstract

Indonesia has set rules for limiting the age of marriage for the community. However, it is still common for early marriage and matchmaking for children without involving children. This study wants to examine how young people, generation Z, see these two phenomena: the age limit for marriage and the phenomenon of child matchmaking. This research is survey research using a random sampling technique. The data was collected through an interview. The research’s sample is a group of people in the age range of 18-22 years who are in the city of Palu and its surroundings. The study results found that more than 75% of Generation Z supported the establishment of a marriage age limit. This is also consistent where more than 80% of Generation Z also tend to reject matchmaking without involving children. The conclusion of this study (1) Generation Z believes that marriage restriction rules can prevent early marriage, cope with mental health and psychological issues, and reduce the divorce rate and domestic abuse. (2) Generation Z tends to reject the matchmaking system without involving children because marriage is the children's right to have household harmony, and arranged marriage is outdated. 
Sunat Perempuan Di Indonesia: Potret terhadap Praktik Female Genital Mutilation (FGM) Feni Sulistyawati; Abdul Hakim
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6753

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan hak setiap individu. Terdapat ketidaksetaraan terkait masalah kesehatan reproduksi salah satunya praktik sunat perempuan/ Female Genital Mutilation (FGM). Beberapa organisasi kesehatan mengecam adanya praktik FGM karena dinilai berbahaya. Praktik FGM masih terdapat di Indonesia hingga saat ini. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kasus FGM di Indonesia. Metode menggunakan study literatur dari dua belas artikel yang sesuai dengan kriteria screening. Hasil yang diperoleh yakni praktik FGM di Indonesia berkembang hampir diseluruh wilayah di Indonesia yakni Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi yang dipengaruhi oleh adat, budaya serta faktor religiositas dengan menggunakan berbagai macam prosedur. Praktik FGM tidak hanya dilakukan oleh dukun akan tetapi juga tenaga kesehatan. Praktik FGM berkembang pesat di Indonesia meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya guna menghapus praktik tersebut. Perlu adanya pengawasan ketat dari pemerintah karena masih terdapat daerah yang melakukan praktik FGM secara sembunyi sembunyi. Hasil penelitian ini berkontribusi sebagai dasar untuk pengembangan peneliti selanjutnya dalam melaksanakan penelitian lapangan terkait dengan praktik FGM di Indonesia
Orang Tua, Anak dan Pola Asuh: Studi Kasus tentang Pola layanan dan Bimbingan Keluarga terhadap Pembentukan Karakter Anak Reza Pahlevi; Prio Utomo; M. Rezza Septian
Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Vol 4, No 1 (2022): Juni
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/hawapsga.v4i1.6888

Abstract

Salah satu aspek penyebab terjadinya masalah krisis karakter anak dikarenakan orang tua tidak mampu mendidik anaknya dengan baik, akibatnya memunculkan penyimpangan perilaku pada anak. Tujuan penelitian ini untuk merepresentasikan peran orang tua terhadap pembentukan karakter anak. Metode penelitian ini menggunakan studi kasus, metode studi kasus digunakan peneliti untuk mengungkap kondisi faktual perihal tentang peran orang tua dalam mendidik anaknya. Lokasi penelitian bertempat di Desa kandang Mas, Kota Bengkulu. Subjek penelitian berjumlah tiga keluarga. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan penelitian. Pertama, dalam upaya menumbuhkan karakter anak, pola asuh demokratis dapat digunakan orang tua sebagai alat dalam mendidik anak. Kedua, upaya menumbuhkan karakter anak, langkah yang harus dilakukan orang tua adalah menciptakan keluaga yang berkarakter. Ketiga, nilai-nilai karakter yang ditanamkan orang tua pada anaknya meliputi jujur, peduli/empati, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil, sabar, religius, toleransi, kepemimpinan. Keempat, strategi yang dilakukan orang dalam upaya mengatasi masalah karakter anak dapat menggunakan metode pengawasan, aturan dan hukuman. Kontribusi hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengayaan baik itu dalam tinjauan teoretik maupun praktik perihal kajian tentang peran orang tua dalam membentuk karakter pada anaknya

Page 1 of 1 | Total Record : 10