cover
Contact Name
Rio Febriannur Rachman
Contact Email
dakwatunaiais@gmail.com
Phone
+6287855996086
Journal Mail Official
dakwatuna.iais@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Wonorejo Lumajang Jawa Timur 67358
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam
ISSN : 24430617     EISSN : 26861100     DOI : -
Dakwatuna is Dawah and Islamic communication Journal. It has been published since 2015 provides a forum for scientific communication of thought and research of Islamic Counseling Guidance, Islamic Broadcasting Communication, Dawah Management. Published twice a year, February and August. The editors welcome articles and research reports in the study of Islamic Counseling Guidance, Islamic Broadcasting Communication, Dawah Management.
Articles 238 Documents
Strategi Dakwah di Kalangan Generasi Z di Era AI: Da’wah Strategies Among Generation Z in the AI Era Aminatus Zahroh; Abdul Wadud Nafis
Dakwah Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i1.3708

Abstract

Generasi Z, yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital yang serba terhubung, menghadirkan tantangan dan peluang unik bagi dunia dakwah. Kelompok demografi ini memiliki karakteristik kognitif, sosial, dan spiritual yang berbeda dari generasi sebelumnya, sehingga pendekatan dakwah konvensional seringkali kurang efektif. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan merumuskan strategi dakwah yang relevan bagi Generasi Z dengan memanfaatkan kerangka era IAI—Inovasi, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), dan Internet. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) untuk mensintesis temuan dari berbagai literatur terkait media digital, psikologi generasi Z, dan komunikasi dakwah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa integrasi IAI ke dalam strategi dakwah dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan utama: (1) Inovasi dalam konten dan platform, seperti penggunaan media sosial interaktif (TikTok, Instagram Reels, Podcast) dan gamifikasi nilai-nilai Islam; (2) Artificial Intelligence untuk personalisasi pengalaman keberagamaan, seperti chatbot penasihat agama, sistem rekomendasi konten Islami, dan analisis data untuk pemetaan kebutuhan spiritual; serta (3) Internet sebagai ruang dakwah yang inklusif dan kolaboratif, memfasilitasi komunitas virtual dan pembelajaran online. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendekatan dakwah di era IAI harus bersifat dialogis, visual, on-demand, dan terpersonalisasi, dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip akidah yang sahih. Sebuah model strategi integratif diajukan untuk membantu para dai dan lembaga dakwah dalam menjangkau dan menginspirasi Generasi Z.
Media and Religion: Da'wah on the Role of Teachers on the Muhammadiyah Website : Media dan Agama: Dakwah Peran Guru di Website Muhammadiyah Nuning Rodiyah; Rio Febriannur Rachman
Dakwah Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i1.3709

Abstract

This study examines how Muhammadiyah, one of Indonesia’s largest Islamic organizations, utilizes its official website as a medium of digital da’wah and educational communication, with a particular focus on the portrayal of teachers as moral and intellectual agents. Using a qualitative content analysis of selected articles published on muhammadiyah.or.id, the research explores how religious narratives are integrated into discourses of pedagogy, professionalism, and moral ethics. Drawing upon Gary R. Bunt’s theory of the Cyber Islamic Environment (CIE) and Everett Rogers’ Diffusion of Innovation, the study situates Muhammadiyah’s online activities within the broader framework of technological mediation and religious reform (tajdid). Findings reveal that the website functions not only as an informational platform but also as a transformative arena of moral communication, where teachers are depicted as digital missionaries embodying Islamic values through educational praxis. The research underscores that Muhammadiyah’s digital da’wah represents a shift from one-way religious dissemination to participatory moral education, fostering the emergence of ethical digital citizenship in contemporary Islamic education.
Implementasi Manajemen Dakwah Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Lumajang dalam Penguatan Budaya Al-Qur’an melalui Khotmil Qur’an Massal Ziaulhaq Fathulloh; Achmad Farid
Dakwah Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i1.3831

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi manajemen dakwah Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) Kabupaten Lumajang dalam upaya penguatan budaya Al-Qur’an melalui kegiatan Khotmil Qur’an Massal. Fokus penelitian diarahkan pada empat fungsi utama manajemen dakwah, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi pada struktur pengurus Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz dan pelaksana kegiatan Khotmil Qur’an Massal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan dakwah dilakukan secara terstruktur melalui penetapan tujuan, segmentasi jamaah, dan penyusunan program tahunan. Pengorganisasian terwujud dalam pembagian tugas yang jelas antara pengurus, qari’, huffadz, dan panitia lapangan. Pelaksanaan kegiatan Khotmil Qur’an Massal berjalan efektif karena memadukan pendekatan ritual, edukatif, dan sosial yang mampu meningkatkan partisipasi masyarakat. Sementara itu, evaluasi dilakukan secara berkala untuk menilai keberhasilan program dan merumuskan perbaikan kegiatan selanjutnya. Secara keseluruhan, implementasi manajemen dakwah Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz Lumajang terbukti berkontribusi signifikan dalam memperkuat budaya Al-Qur’an di tengah masyarakat, khususnya melalui pengembangan tradisi khotmil Qur’an sebagai media pembinaan spiritual dan sosial.
Strategi Konvergensi Media Sosial dalam Memperluas Jangkauan Pendengar Radio Lokal dan Mengoptimalkan Pesan Dakwah Achmad Arifulin Nuha; Lulu Roudlotunisa; Faiqoh Rohmiyati
Dakwah Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i1.3832

Abstract

Perkembangan pesat teknologi digital telah secara signifikan mengubah lanskap komunikasi massa, sehingga mendorong media tradisional seperti radio untuk beradaptasi dengan logika platform digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media sosial dalam memperluas jangkauan pendengar serta memperkuat interaksi antara penyiar dan audiens di Radio Gloria Paramitha FM Lumajang. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini mengkaji bagaimana platform media sosial, khususnya Instagram dan Facebook, berfungsi sebagai instrumen konvergensi media dalam penyiaran radio lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan strategis tidak hanya sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai ruang komunikasi interaktif yang memungkinkan terjadinya keterlibatan dua arah antara penyiar dan pendengar. Fitur-fitur seperti siaran langsung, kolom komentar, dan pesan langsung memfasilitasi komunikasi partisipatif, yang menandai pergeseran dari komunikasi massa yang bersifat linear menuju model komunikasi yang interaktif dan berjejaring. Dalam konteks dakwah Islam, konvergensi media sosial memungkinkan pesan-pesan dakwah yang disiarkan melalui radio menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam tanpa dibatasi oleh ruang geografis. Selain itu, platform digital interaktif mendorong penyampaian pesan dakwah yang lebih dialogis, kontekstual, dan berorientasi pada audiens, sehingga meningkatkan daya persuasi dan fungsi edukatif dakwah. Namun demikian, efektivitas pemanfaatan media sosial masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia, pengelolaan konten yang belum konsisten, serta belum adanya strategi desain komunikasi visual yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konvergensi media sosial telah menjadi strategi penting dalam menjaga relevansi radio lokal di era digital. Sebuah model strategi komunikasi integratif diajukan untuk mengoptimalkan keterlibatan audiens, memperkuat identitas kelembagaan radio lokal, sekaligus memaksimalkan penyebaran dan efektivitas pesan dakwah di tengah arus konvergensi media yang terus berlangsung.
Dakwah Kultural dalam Animasi Anak: Representasi Islam pada Upin & Ipin dan Nussa Ahmad Fauzi; Bambang Subahri
Dakwah Vol 12 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i1.3834

Abstract

Children’s animation serves as a strategic medium for conveying Islamic values in a subtle and contextual manner. This article aims to analyze the representation of Islam through clothing and cultural practices in two popular animated series, Upin & Ipin and Nussa. This study employs a qualitative method with a content analysis approach, focusing on selected scenes that depict Muslim attire, Islamic cultural practices, and social interactions among characters. The findings reveal that both animations consistently portray Islam as a friendly, inclusive religion that emphasizes social values such as togetherness, mutual cooperation, modesty, and social care. Muslim clothing is not merely presented as a religious symbol but also as a cultural identity embedded in everyday life. Through simple narratives and visuals that resonate with children, Upin & Ipin and Nussa contribute to shaping a moderate and contextual understanding of Islam from an early age.
Dakwah Kerukunan melalui Rekonstruksi Pemahaman Hukum Ucapan Selamat pada Hari Besar Agama Non-Muslim: Pendekatan Teologis, Fikih, dan Maqāṣid al-Syarī‘ah Sofia Fahrany; Muhibuddin Muhibuddin; Zamakhsyari Abdul Majid; Suaebah Suaebah
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4005

Abstract

Research on the understanding of congratulating non-Muslim religious holidays is one of the contemporary fiqh issues that continues to be debated among scholars. Differences of views arise because of differences in understanding the concept of tolerance (tasāmuḥ), religious loyalty (al-walā' wa al-barā'), and social relations between religious people (mu'āmalah). Some scholars prohibit the giving of congratulations because they are considered to have the potential to contain recognition of the teachings and beliefs of other religions, while other scholars allow as long as they do not contain justifications for non-Muslim beliefs and are only intended as a form of social respect and an effort to maintain harmony in community life. This study aims to analyze the law of congratulating on non-Muslim religious holidays based on the postulates of the Qur'an, the hadith of the Prophet, as well as the views of classical and contemporary scholars. The research uses a qualitative approach with the type of library research and normative analysis methods. Data was obtained from primary sources in the form of the Qur'an, hadith, fiqh books, and works of contemporary scholars who discuss the relationship between religious communities. The results of the study show that the difference in law is rooted in the difference in interpretation of the nash and the rules of fiqh used. The view that prohibits is based on the principle of maintaining the purity of the faith and the prohibition resembles non-Muslim religious practices, while the view that allows emphasizes aspects of social welfare, the principle of justice, and the importance of building harmonious relations without sacrificing the Islamic faith. Thus, congratulations can be understood as a form of social interaction that is permissible as long as it is not accompanied by recognition of the theological truths of other religions or participation in their religious rituals. From a da'wah perspective, the findings position respectful interreligious communication as contextual da'wah that preserves Islamic creed while promoting social harmony. The study therefore recommends a wisdom-based da'wah approach that communicates juristic differences proportionally and prevents religious messages from intensifying social polarization.
Digitalisasi Pendidikan Islam dan Dakwah: Model Transformasi Literasi Keagamaan Generasi Z dalam Mendukung Tata Kelola Keagamaan Berdampak Mokhammad Khosim; Achmad Farid; Bambang Subahri
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4040

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola memperoleh, memahami, memproduksi, dan menyebarkan pengetahuan keagamaan, terutama di kalangan Generasi Z. Media sosial dan berbagai platform digital tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang pembelajaran Islam dan dakwah yang membentuk pola keberagamaan generasi muda. Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan berupa meluasnya akses terhadap pengetahuan keagamaan, tetapi juga meningkatnya risiko hoaks keagamaan, informasi yang tidak terverifikasi, fragmentasi pesan, pergeseran otoritas keagamaan, serta berkembangnya intoleransi di ruang digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi literasi keagamaan Generasi Z dalam ekosistem digital serta merumuskan model integrasi digitalisasi pendidikan Islam dan dakwah dalam mendukung tata kelola keagamaan yang berdampak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Muqomah Kencong Jember. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, penyajian data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi literasi keagamaan Generasi Z berlangsung melalui perubahan pola akses pengetahuan dari sumber konvensional menuju media digital, yang menuntut kemampuan tidak hanya dalam memahami informasi, tetapi juga memverifikasi, mengevaluasi, membandingkan, memproduksi, dan menyebarkan informasi keagamaan secara bertanggung jawab. Penelitian merumuskan model transformasi literasi keagamaan melalui lima tahapan, yaitu akses, verifikasi, pemahaman, produksi, dan partisipasi. Integrasi pendidikan Islam dan dakwah digital melalui model tersebut dapat menempatkan Generasi Z sebagai subjek pembelajaran sekaligus aktor dalam ekosistem keagamaan digital. Model ini memiliki relevansi dengan agenda digitalisasi tata kelola dalam Asta Protas Kementerian Agama karena dapat mendukung pengembangan layanan keagamaan yang adaptif, partisipatif, kredibel, dan berorientasi pada dampak sosial. Kata kunci: digitalisasi pendidikan Islam; dakwah digital; literasi keagamaan; Generasi Z; tata kelola keagamaan.
Dakwah di Era Algoritmik: Peluang, Risiko, dan Model Tata Kelola Artificial Intelligence Berbasis Otoritas Keilmuan Islam Achmad Arifulin Nuha; Harry Purwanto
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4048

Abstract

Abstract Artificial intelligence (AI) has shifted digital da'wah from technology-mediated religious communication toward an ecosystem in which content production, curation, personalization, distribution, and interaction are increasingly shaped by algorithms. This study systematically reviews a researcher-provided corpus of 100 publication records on da'wah and AI published between 2019 and 2026. Metadata auditing and title normalization identified five duplicate records, leaving 95 unique publications for substantive synthesis. The review applied descriptive mapping and thematic coding across research focus, methodological approach, AI application, claimed benefits, ethical risks, and governance recommendations. Six thematic clusters emerged: strategy and management; content production and interaction; education and AI literacy; religious authority and fatwa; ethics and information integrity; and regulation and multi-stakeholder governance. The literature indicates that AI can expand reach, accelerate content production, support audience analysis, personalization, accessibility, and knowledge retrieval. However, the same affordances generate risks of hallucinated religious information, fabricated hadith, algorithmic bias, privacy violations, echo chambers, deepfakes, dehumanization, and displacement of scholarly authority. The evidence base remains dominated by conceptual, normative, and qualitative studies, with limited empirical measurement of effects on religious understanding, trust, attitudes, and practice. Based on the synthesis, this study proposes the TAHQIQ-AI governance model, which places AI as a support system rather than an autonomous religious authority and requires source verification, competent human oversight, bias and quality auditing, data integrity, responsible interaction, and institutional accountability. Keywords: artificial intelligence; algorithmic da'wah; religious authority; responsible AI; systematic literature review