cover
Contact Name
Pepi Sugianto Umar
Contact Email
pepisugianto@poltekkesgorontalo.ac.id
Phone
+6282394946611
Journal Mail Official
pepisugianto@poltekkesgorontalo.ac.id
Editorial Address
Jalan Taman Pendidikan No. 36 Kel. Moodu Kec. Kota Timur Kota Gorontalo
Location
Kab. gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS
ISSN : 24078484     EISSN : 25497618     DOI : -
Jurnal Health and Nutritions adalah terbitan berkala yang memuat artikel penelitian ilmiah di bidang gizi dan kesehatan. Jurnal Health and Nutritions diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah di bidang gizi dan kesehatan kepada para praktisi di bidang gizi, baik yang bergerak di bidang pendidikan gizi maupun yang bergerak di bidang pelayanan gizi di rumah sakit dan puskesmas, serta para praktisi gizi di dinas kesehatan maupun institusi-institusi lain. Jurnal Health and Nutritions diterbitkan 2 kali dalam setahun (bulan Februari dan Agustus) oleh Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo. Jurnal ini merupakan jurnal peer-reviewed dan open access journal yang berfokus pada ilmu gizi dan kesehatan.
Articles 188 Documents
UJI DAYA SIMPAN DAN NILAI GIZI ROTI MANIS DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG PISANG KEPOK (MUSA PARADISIACA FOTMATYPICA) Sindya Botutihe; Novian Swasono Hadi; Salman Salman
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 6, No 2 (2020): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v6i2.486

Abstract

Bread is made from wheat flour, and is the main raw material that is still imported, considering that Indonesia is not a wheat producing country, so it is necessary to substitute local food ingredients as a substitute for wheat for the raw material for making bread. The purpose of this study was to determine the shelf life and nutritional quality of sweet bread with kepok banana flour substitution. This study was an experimental study with a completely randomized design using 5 treatments, namely by substitution of kepok banana flour in treatments P0(0%), P1(40%), P2(50%), P3(60%), and P4 (70%) . The shelf life of sweet bread at room temperature can only last 1-3 days, while at refrigerator and freezer temperatures it can last for seven days. Of the four types of treatment, namely P0, P1, P2, P3 and P4, it turned out that the results that met the standard were P3 (60%) treatment with Nutrient content, namely 273.589 grams of energy, 14.42 grams of protein, 9.5 grams of fat and 251,4 grams. It was recommended that the public use banana flour in the manufacture of other types of processed foods and serve as snacks for all age groups, including children, adolescents, adults, the elderly and the elderly because it has good nutritional value.  Roti terbuat dari bahan baku tepung terigu, dan merupakan bahan baku utama yang masih diimpor, mengingat Indonesia bukan negara penghasil gandum, sehingga perlu adanya pengganti bahan pangan local sebagai pengganti gandum untuk bahan baku pembuatan Roti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui uji daya simpan dan mutu gizi roti manis dengan substitusi tepung pisang kepok. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan acak lengkap menggunakan 5 perlakuan yaitu dengan subtitusi tepung pisang kepok pada perlakuan P0(0%), P1( 40%), P2(50%), P3(60%), dan  P4 (70%). Hasil masa simpan yang terdapat pada roti manis dengan suhu ruang hanya bisa bertahan 1-3 hari saja, Sedangkan pada suhu refrigator dan freezer dapat bertahan selama tujuh hari. Dari empat macam perlakuan yaitu P0, P1, P2, P3 dan P4, ternyata hasil yang memenuhi standar adalah  perlakuan P3 (60%) dengan kandungan zat Gizi yaitu Energi 273,589 gram,  protein 14,42 gram, lemak 9,5 gram dan karbohidrat 251,4 gram. Disarankan pada masyarakat agar dapat memanfaatkan tepung pisang dalam pembuatan olahan makanan jenis lainya serta dijadikan sebagai jajanan untuk semua golongan umur, termaksud anak-anak, remaja, dewasa, orang tua maupun untuk lanjut usia karena memiliki nilai gizi yang cukup baik. Kata Kunci:
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MP-ASI PADA BAYI USIA 6-24 BULAN Anisa Dyahpratiwi Sadu; Indra Domili; Nangsih S. Slamet; Sofyawati D. Talibo
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 5, No 2 (2019): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v5i2.475

Abstract

ABSTRACT  Complementary feeding (MP-ASI) is food and drink given to a child in addition to breast milk uring the weanin period. This research aims to investigate mother’s knowledge about complementary feeding to 6-24 months of age, in the working area of Puskesmas Telaga Jaya, Gorontalo District. This is a descriptive research in describing the variables, and a questionnaire is given to obtain the data. The results are: mothers who have good knowledge on giving complementary feeding to 6-24 months of age child were 33 (41.25%), those who have just enough knowledge were 24 (30%), and those who have lack of knowledfe were 23 (28.75%). Therefore, it can be concluded that most of the mothers with a child in the working area of Puskesmas Telaga Jaya have good knowledge about complmentary feeding to 6-24 months of age child. ABSTRAK  MP-ASI adalah makanan atau minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang diberikan kepada bayi selama periode penyapihan (complementary feeding) yaitu pada saat makanan/minuman lain diberikan bersama pemberian ASI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Pemberian MP-ASI pada Bayi Usia 6-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Talaga Jaya Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo.  Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian Deskriptif dengan menggambarkan variabel pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Talaga Jaya Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo. Pengumpulan data pemberian ASI Eksklusif diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian: Tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Talaga Jaya Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo pengetahuan baik mengenai pemberian MP-ASI berjumlah 33 orang (41,25%), pengetahuan cukup 24 (30%) dan pengetahuan kurang baik berjumlah 23 orang (28,75%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagian besar ibu bayi memiliki pengetahuan tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Talaga Jaya Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo termasuk dalam kategori baik.  
GAMBARAN PREVALENSI STUNTING PADA ANAK BALITA UMUR 24-59 BULAN M. Anas Anasiru; Denny Indra Setiawan; Wilka Audina Ibrahim
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 7, No 1 (2021): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v7i1.461

Abstract

ABSTRACT Stunting or chronic malnutrition refers to  a form of growth failu re.The term is also defined as nutritional status based on body index according to length or height-for-age (L/A or H/A); these terms are the equivalent of the terms stunted and severely stunted.respectively. The purpose of this research was to get an overview of the prevalence of stunting among children aged 24 to 59 months,which conducted in Buhu village, Telaga Jaya sub-district of Gorontalo regency. This descriptive research involved children aged 24 to 59 months. Furthermo re, the sample consisted of 57 children, with one variable, namely stunting prevalence.Indicated that of the 57 respondents had stunting nutritional status; eight children had nulritional status based on body index accord ing to length or height-for-age (L/A or H/A).There were two (3.5%) stunted children, and six (10.52%) severely stunted children. This research concluded that there was 14.02% of stunting prevelence in Buhu village. ABSTRAK Stunting atau malnutrisi kronik merupakan bentuk lain dari kegagalan pertumbuhan. Definisi lain menyebutkan bahwa pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran prevalensi stunting pada anak balita umur 24-59 Bulan di Desa Buhu Kecamatan Telaga Jaya Kabupaten Gorontalo. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian desktiptif. Populasi yaitu anak balita yang berusia 24-59 bulan. Sampel penelitian ini berjumlah 57 balita. Variable dalam penelitian ini menggunakan 1 variabel yaitu prevalensi stunting. Hasil Penelitian menunjukan bahwa dari 57 responden yang memiliki status gizi stunting yaitu berjumlah 8 balita dengan status gizi berdasarkan indeks panjang badan menurut umur (PB/U) atau tinggi badan menurut umur (TB/U). Status gizi pendek berjumlah 2 balita (3,5%). Dan status gizi sangat pendek berjumlah 6 balita (10,52%). prevalensi stunting di Desa Buhu yaitu (14,02%) dengan status gizi pendek berjumlah 2 balita (3,5%), dan status gizi sangat pendek berjumlah 6 balita (10,52%). 
GAMBARAN KEJADIAN OBESITAS PADA ANAK SEKOLAH DASAR Moh Jefriyanto Abas; Misrawatie Goi; Yade Kurnia Yasin
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 6, No 1 (2020): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v6i1.455

Abstract

ABSTRACTNutritional status is a condition caused by a balance between the intake of nutrients from food and the nutritional needs of the body. This study aims to describe the nutritional status of children at the State Elementary School 13 Telaga Biru, Gorontalo Regency. This research method is a descriptive survey research, by measuring weight and height to see the nutritional status of students in grades III, IV, V totaling 109 people by taking data at one time. Research Results, Nutritional Status According to BW/U, namely undernutrition (9.7%), good nutrition (74.1%) and overnutrition (16.2%). Nutritional Status According to TB/U, which shows that the prevalence of SDN 13 Telaga Biru Gorontalo Regency students who experience stunting is quite high, namely (26.6%), with a short prevalence (22.9%) and very short (3.7%). Nutritional Status According to BMI/U, the nutritional status is very thin (2.7%), normal (74.4%), fat (9.2%), and Obesity (13.7%). The conclusion is that most students at SDN 13 Telaga Biru, Gorontalo Regency have good nutritional status according to BB/U, some students have stunting nutritional status according to TB/U and some students have normal nutritional status according to BMI/U. ABSTRAKStatus gizi (nutritional status) adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gizi anak Sekolah Dasar Negeri 13 Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. Metode penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif, dengan mengukur berat badan dan tinggi badan untuk melihat status gizi siswa kelas III,IV,V yang berjumlah 109 orang dengan mengambil data dalam satu waktu.Hasil Penelitian, Status Gizi Menurut BB/U yaitu gizi kurang (9,7%), gizi baik (74,1%) dan gizi lebih (16,2%). Status Gizi Menurut TB/U yaitu menunjukan bahwa cukup tinggi prevalensi siswa SDN 13 Telaga Biru Kabupaten Gorontalo yang mengalami Stunting yaitu (26,6%), dengan prevalensi pendek (22,9%) dan sangat pendek (3,7%). Status Gizi Menurut IMT/U yaitu status gizi sangat kurus (2,7%), normal (74,4%), gemuk (9,2%), dan Obesitas (13,7%). simpulan sebagian besar siswa SDN 13 Telaga Biru Kabupaten Gorontalo memiliki status gizi baik menurut BB/U,  sebagian siswa status gizinya Stunting menurut TB/U dan sebagian siswa status gizinya normal menurut IMT/U. 
ANALISIS KANDUNGAN SUKROSA DAN UJI DAYA TERIMA PRODUK SUSU JAGUNG Dian Saraswati; Mohamad Taufik Iriawan Sutaji; Netty I. Ischak; Fihrina Mohamad; Agustian A Maridji
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 5, No 2 (2019): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v5i2.484

Abstract

Plant-based milks such as corn milk are especially important for health, especially for someone who is allergic to cow's milk. The purpose of making corn milk is to determine the amount of sucrose content and the effect of adding water in making corn milk to the level of consumer acceptance through organoleptic tests which include color, aroma, and taste with the addition of 200 ml of water (treatment 1), 250 ml (treatment 1). 2), and 300 ml (treatment 3). The method used in this study is the Carbohydrate test (Luff Schoorl) and experiments. The analysis used is the Anova test. The purpose of this study was to determine the amount of sucrose content in corn milk and how the effect of adding water was 200 ml, 250 ml, and 300 ml. The results showed that the amount of sucrose contained in corn milk with the addition of 250 ml of water was 2.90% and the highest level of acceptance was, for the organoleptic taste test, namely in treatment 2 with the addition of 250 ml of water and 3 with the addition of 300 ml of water with the results percentage of 40%, for the aroma organoleptic test, namely in treatment 2 with a presentation result of 40%, and the last color organoleptic test was treatment 2 with a presentation result of 68%. Corn milk with with 250ml water added has 2,90% sucrose and it is acceptable based on standard.  ABSTRAK  Susu nabati seperti susu jagung sangat penting untuk kesehatan, terutama bagi seseorang yang alergi terhadap susu sapi. Tujuan pembuatan susu jagung adalah untuk mengetahui besarnya kandungan sukrosa dan pengaruh penambahan air dalam pembuatan susu jagung terhadap tingkat penerimaan konsumen melalui uji organoleptik yang meliputi warna, aroma, dan rasa dengan penambahan 200 ml air (P0), 250 ml (P1), dan 300 ml (P 3). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji karbohidrat (luff schoorl) dan eksperimen. Analisis yang digunakan adalah uji Anova. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah kandungan sukrosa pada susu jagung dan bagaimana pengaruh penambahan air 200 ml, 250 ml, dan 300 ml terhadap daya terima produk susu jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sukrosa yang terkandung dalam susu jagung dengan penambahan 250 ml air adalah 2,90% dan tingkat penerimaan tertinggi adalah P1, untuk uji rasa organoleptik yaitu pada perlakuan 2 dengan penambahan 250 ml air. Penambahan 300 ml air dengan hasil prosentase 40%, untuk uji organoleptik aroma yaitu pada perlakuan 2 dengan hasil penyajian 40%, dan uji organoleptik warna terakhir adalah perlakuan 2 dengan hasil penyajian dari 68%. Kesimpulan penelitian menunjukkan susu jagung dengan penambahan 250ml air memiliki kandungan sukrosa 2,90% dan dapat diterima sesuai standar.  
UJI DAYA SIMPAN DAN MUTU GIZI CAKE BOLU KUKUS DENGAN PENAMBAHAN BUAH PEPAYA Mohamad Ucil Katili; Novian Swasono Hadi; Lien A. Ntau
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 6, No 2 (2020): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v6i2.493

Abstract

ABSTRACT Sweet cake (bolu in the Indonesia language) is a bread-like baked (sometimes steamed) dessert, which is made from various combinations of flour, egg, and other ingredients. Papaya, which is mostly consumed straight, cam be an additional ingredient of steamed sweet cake. The objective of this research was to explore the storability and nutrition of sweet cake with papaya. Repling on the experimental method, this research employed a completely randomized design with four treatments.  The results revealed that the steamed sweet cake lasted for one to three days at room temperature, the cake could last up to four days if it stored in a refrigatore. Nutrition contents of the cake in treatment P0 (0%) comprised energy (1,313 grams), protein (12.1 grams), fat (51.1 grams), and carbohydrate (206.0 grams). In treatment P1 (25%), the contents were energy(1,333,3 grams), protein (12.4 grams), fat (51.2 grams), and carbohydrate (210.9 grams). In the P2 (50%), the contents were energy (91,352.8 grams), protein (12.7 grams), fat (51.2 grams), and carbohydrate (215.8 grams). In treatment P3 (85%), the contents were energy (1,391.8 grams), protein (13.3 grams), fat ( 51.3 grams) and carbohydrate (225.6 grams). People are encouraged to consider papaya as an additional ingredient to processed food or snacks for people, ranging from children, adolescents, adults, and old adults. ABSTRAK  Bolukukusadalah jenisboluyang terbuat dari bahan seperti telur, ditambahkan tepung dan bahan lainnya yang dimasak dengan cara dikukus. Selain tepung dan bahan utama pembuatan bolu kukus, buah pepaya yang hanya dijadikan buah sajian biasa, bisa dijadikan sebagai bahan penambah olahan cake bolu kukus. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui uji daya simpan dan mutu gizi cake bolu kukus dengan penambahan buah pepaya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan acak lengkap menggunakan 4 perlakuan. Hasil masa simpan yang di dapat cake bolu kukus pada suhu ruang hanya bisa bertahan 1-3 hari, sedangkan pada suhu refrigator Bolu kukus bisa bertahan sampai 4 hari. Dan hasil kandungan nilai gizi cake bolu kukus pada P0(0%) yaituenergi1,313.8gram, protein 12,1gram, lemak 51,1gram,karbohidrat 206,0 gram. P1(25%) energi 1,333,3gram, protein 12,4gram,lemak 51,2gram,dan karbohidrat 210,9gram.P2(50%)energi 1,352.8 gram, protein 12,7 gram, lemak 51,2 gram,dan karbohidrat  215,8 ram.P3(85%)yaitu energi 1,391.8gram, protein 13,3gram, lemak 51,3gram, karbohidrat 225,6gram. Disarankan pada masyarakat agar dapat memanfaatkan buah papaya dalam pembuatan olahan makanan jenis lainya serta dijadikan sebagai jajanan untuk semua golongan umur, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, orang tua maupun untuk lanjut usia.  
UJI DAYA TERIMA MIE BASAH SUBTITUSI DAUN KELOR Widyawati Koniyo; Misrawati Goi; Fihrina Mohammad
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 6, No 1 (2020): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v6i1.489

Abstract

Moringga leaves has Latin Name that is Moringa Oleifera. This plant also type of nutritious vegetables and has many benefits. The aim of the research was to find out the community acceptance towards the increment of wet noodles production. The research method was a laboratory experiment. The data were obtained by organoleptic of 30 panelist respondents trained with 4 treatments those were wet noodles without the increment moringa leaves, the wet noodles with the 100gr increment of moringa leaves, the increment 200gr and 300 gr increment of moringa leaves. The result of this study were taken by Friedman test. The acceptance of wet noodles moringa leaves showed that P31 treatment or (noodles with 300gr moringa leaves) was the most liked with the score 3.05, the most preferred aroma was P31 treatment or (noodles with 300gr moringa leaves) with the score 3.75, the most color liked was P31 treatment or (noodles with 300gr moringa leaves) with   the score 3.97 and the most preferred texture was P21 treatment with the score 2.55.The conclusion  in acceptance with high score for indicator taste, aroma, and color was P31 and texture indicator in P21.  Tanaman kelor yang mempunyai nama dalam bahasa latin disebut Moringa oleifera atau dalam bahasa Inggris disebut drumstick plant ini merupakan tanaman yang menjadi sayuran yang sarat nutrisi dan mempunyai berbagai jenis kegunaan. Tujuan penelitian untuk mengetahui daya terima masyarakat terhadap penambahan daun kelor untuk pembuatan mie basah.Penelitian ini termasuk eksperimen laboratorium. Data diperoleh dari uji organoleptik oleh 30 orang panelis agak terlatih dengan 4 perlakuan yaitu mie tanpa tambahan daun kelor, mie dengan penambahan 100 gr daun kelor, mie dengan penambahan 200 gr daun kelor dan mie dengan penambahan 300 gr daun kelor. Hasil penelitian menunjukkan data diambil dari uji friedman test, diketahui uji daya terima rasa mie daun kelor yang paling banyak disukai yaitu pada perlakuan P31 (mie 300 gr daun kelor) dengan nilai 3.05, aroma yang paling banyak disukai yaitu  perlakuan P31 (mie 300 gr daun kelor) dengan nilai 3.75,  warna yang paling banyak disukai yaitu perlakuan P31 (mie 300 gr daun kelor) dengan nilai 3.97 dan untuk tekstur yang paling banyak disukai yaitu P21 dengan nilai 2.55. Kesimpulan menunjukkan pada uji daya terima aspek rasa, aroma, warna nilai tertinggi pada P31, sementara pada aspek tekstur tertinggi pada P21. 
GAMBARAN ASUPAN PROTEIN DAN ZAT BESI PADA REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 10 KOTA GORONTALO Firka Kartasasmita Djafar; Indra Domili; Fitri Yani Arbie
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 7, No 1 (2021): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v7i1.458

Abstract

Female adolescent is a group of people that is prone to suffering anemia. Its common causes are consuming l ots of plant-based food rather than animal-based food, restricting food intake due to wishing to be slim, the monthly cycle of menstruation, and iron excretion through feces. The objective of the research was to identify the protein and iron intake at female adol escents at SMP Negeri 10 Gorontalo City. The research was descriptive survey type. The data were collected using 24-hour recall form at female adolescents at SMP Negeri 10 Gorontalo City. The research was conducted in October 2019. The research samples were 60 female adolescents. The finding of research showed that the protein intake at female adolescents with the most number was a minimum or very poor category for 52 people (86,7%), poor category for 8 people (13,3%), as well as normal or exceeded category (0%). Meanwhile, the iron intake at female adolescents with the most number was a minimum or very poor category for 57 people (95%) and fair category for 3 people (5%). The conclusion of this study is that protein and iron intake in female adolescents falls into the category of severely deficient and lackingRemaja putri merupakan kelompok yang rawan menderita anemia, hal ini karena umumnya lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati dibandingkan makananan hewani, membatasi asupan makan karena ingin tampil langsing, siklus menstruasi setiap bulan dan eksresi zat besi melalui feses. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi asupan protein dan zat besi pada remaja putri   di SMP Negeri 10 Kota Gorontalo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey deskriptif. Pengumpulan data menggunakan formulir recall 24 H pada remaja putri   di SMP Negeri 10 Kota Gorontalo. Penelitian di lakukan pada bulan Oktober tahun 2019. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian remaja putri yang berjumlah 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan protein pada remaja putri dengan jumlah terbanyak yaitu kategori minimal atau sangat kurang yakni sebanyak 52 orang (86,7%), kategori kurang sebanyak 8 orang (13,3%), kategori sesuai atau normal dan lebih tidak ada (0%). Sedangkan asupan zat besi pada remaja putri dengan jumlah terbanyak yaitu kategori minimal atau sangat kurang sebanyak 57 orang (95%) dan kategori cukup yaitu sebanyak 3 orang (5%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa asupan protein dan zat besi pada remaja wanita termasuk dalam kategori sangat kurang dan kurang.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA ANAK BADUTA Rahmawati Hamzah; Imran Tumenggung; Denny Indra Setiawan
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 5, No 2 (2019): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v5i2.526

Abstract

ABSTRACT MP-ASI or Breast Milk Supplementary Feeding is food or drink instead of Breast Milk which contains nutrient given to the baby after having Exclusive Breast for 6 months, the baby should be given Breast Milk Supplementary Feeding due to after 6 months, Breast Milk cannot meet the nutrients need for protein energy and several essential micronutrients. According to data of Riskesdas 2013, babies in Indonesia that consumed Breast Milk Supplementary Feeding aged 6-24 months were 30,2%, and those that consumed early Breast Milk Supplementary Feeding were 69,8%. The research aimed to find out the mothers’ knowledge on giving Breast Milk Supplementary Feeding (MP-ASI) at Baduta children in Lonuo Village, Tilongkabila Sub-districk, Bone Bolango District. The research was descriptive survey research. The samples were 30 mothers and babies. The research variable had an independent variable, namely mothers’ knowledge on giving Breast Milk Supplementary Feeding. The research finding revealed that 12 people (40%) out of 30 respondents were in a good category of mothers’ knowledge, 10 people (34%) were in a sufficient category, and 8 people (26%) were in less category. In conclusion, the research showed that most mothers and babies had good knowledge. ABSTRAK MP-ASI adalah makanan atau minuman selain ASI yang mengandung zat gizi yang diberikan kepada bayi setelah pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan, bayi harus diberi makanan pendamping ASI karena setelah 6 bulan ASI tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi akan energi protein dan beberapa mikronutrien penting. Di Indonesia menurut data Riskesdas 2013, bayi yang mendapatkan MP-ASI usia 6-24 bulan sebanyak 30,2% dan yang mendapat MP-ASI dini 69,8%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada anak baduta di Desa Lonuo Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Jenis penelitian ini adalah survey deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 30 orang ibu bayi dan balita. Variabel penelitian yaitu variabel mandiri yaitu pengetahuan ibu tentang pemberian makanan pendamping ASI. Hasil penelitian dari 30 responden menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang dikategorikan Baik sebanyak 12 orang (40%), Cukup sebanyak 10 orang (34%), dan Kurang sebanyak 8 orang (26%). Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita berpengetahuan baik.  
GAMBARAN KEBIASAAN SARAPAN PAGI DAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR Stella Marcela Utami Mbata; Imran Tumenggung; Sofyawati D. Talibo
JOURNAL HEALTH AND NUTRITIONS Vol 5, No 2 (2019): Health and Nutritions
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jhn.v5i2.467

Abstract

Children nutrition problems, in general, are an impact of imbalance between intake and expenditure or vice versa, besides mistakes in choosing food ingredients for consumption. The impact of this dependence was chronic disease, overweight and underweight. This research was aimed at finding out an overview of breakfast habits and nutritional status on children of Sekolah Dasar 02 Lemito, Lemito Sub-district. The research method used was descriptive research to determine an overview of breakfast habits and nutritional status on children of Sekolah Dasar 02 Lemito of Lemito Sub-district. Moreover, data collection of breakfast habits was obtained by using questionnaires, while the data colletion of nutritional status were obtained through the result of height and weight measurement. The research findings were: (1) the highest breakfast habits on children of Sekolah Dasar 02 Lemito, Lemito Sub-district was who did not have breakfast amounted to 31 people (64,6%) and who had breakfast habits was 17 people (35,4%); (2) the highest nutritional status level according to body mass index (BMI)/Weight was thin as much as 22 people (45,8) and the lowest one was obesity nutritional status as much as 1 person (2,1%). In conclusion, most of the children of Sekolah Dasar 02 Lemito, Lemito sub-district was in thin nutritional status because most of them did not have breakfast.Masalah gizi secara garis besar merupakan dampak ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran atau sebaliknya disamping kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk dikonsumsi. Akibat yang ditimbulkan dari ketergantungan ini utamanya berupa penyakit kronis, berat badan lebih dan berat badan kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan sarapan pagi dan status gizi pada anak sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif untuk melihat gambaran kebiasaan sarapan pagi dan status gizi anak sekolah dasar. Pengumpulan data kebiasaan sarapan pagi di peroleh dengan menggunakan angket, sedangkan data status gizi diperoleh melalui hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebiasaan sarapan pagi anak sekolah dasar yang tertinggi adalah yang tidak sarapan pagi sebanyak 31 orang (64,6%) dan yang  biasa sarapan pagi sebanyak 17 orang (35,4%), tingkat status gizi menurut IMT/U yang tertinggi adalah  kurus sebanyak 22 orang (45,8%) dan yang terendah adalah status gizi obesitas sebanyak 1 orang (2,1%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu anak sekolah dasar lebih banyak berstatus gizi kurus, karena banyak siswa yang tidak biasa sarapan pagi.