cover
Contact Name
M Dian Hikmawan
Contact Email
demos.ijd@gmail.com
Phone
+6281284963876
Journal Mail Official
demos.ijd@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Serang-Pandeglang KM. 5 Pandeglang, Banten
Location
Kab. pandeglang,
Banten
INDONESIA
International Journal of Demos
Published by HK-Publishing
ISSN : -     EISSN : 27210642     DOI : 10.31506/ijd
International Journal of Demos (IJD) is an open access, and peer-reviewed journal. IJD try to disseminate current and original articles from researchers and practitioners on various contemporary social and political issues: citizenship, civil society movement, environmental issues, gender politics and identity, digital society and disruption, urban politics, community welfare, social development, public management, public policy innovation, international politics & security, media, information & literacy, politics, governance, human rights & democracy, radicalism, and terrorism. Publish three times in a year i.e. April, August, and December. IJD Invites researcher, academician, practitioners, and public to submit their critical writings and to contribute to the development of social and political sciences
Articles 330 Documents
Strategi Integrasi Transportasi Publik Lintas Wilayah Berbasis Aglomerasi untuk Mewujudkan Mobilitas Berkelanjutan di Kabupaten Tangerang Syamsoe Astra Negara; Effie Tristinawati; Alya Nurayu Sulisman; Christianto Deni Saputro; Yugni Maulana Aziz; Jaka Permana
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v8i2.772

Abstract

Abstrak Integrasi transportasi publik lintas wilayah menjadi kebutuhan strategis bagi Kabupaten Tangerang sebagai bagian dari kawasan aglomerasi Jabodetabek yang mengalami tekanan mobilitas akibat pertumbuhan penduduk, aktivitas komuter, perkembangan kawasan industri, serta ekspansi permukiman skala besar. Data BPS menunjukkan jumlah penduduk Kabupaten Tangerang tahun 2024 mencapai 3.400,49 ribu jiwa, sementara Survei Komuter Jabodetabek 2023 mencatat sekitar 14,9 persen penduduk Jabodetabek berumur lima tahun ke atas merupakan komuter, dengan Kabupaten Tangerang memiliki proporsi komuter 9,0 persen. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi integrasi transportasi publik lintas wilayah, mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung, serta merumuskan model strategi integrasi berbasis aglomerasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui FGD, dokumentasi kebijakan, dan kajian literatur yang dianalisis dengan model Miles, Huberman, dan Saldaña, analisis SWOT, serta kerangka Collaborative Governance. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama: fragmentasi kelembagaan lintas wilayah, lemahnya integrasi antarmoda dan feeder, belum terpadunya tarif serta informasi perjalanan, dan belum optimalnya pengembangan simpul transportasi berbasis TOD. Kontribusi utama penelitian ini adalah perumusan Agglomeration-Based Sustainable Transport Integration Model (ASTIM) yang terdiri atas institutional collaboration, transport connectivity, agglomeration integration, dan sustainable mobility outcomes. Keunggulan ASTIM terletak pada kemampuannya menggabungkan tata kelola kolaboratif, konektivitas multimoda, integrasi ruang aglomerasi, dan orientasi keberlanjutan dalam satu model strategis sehingga dapat digunakan sebagai kerangka kebijakan transportasi publik lintas wilayah di kawasan metropolitan. Kata Kunci: integrasi transportasi publik, kawasan aglomerasi, collaborative governance, ASTIM, mobilitas berkelanjutan, Kabupaten Tangerang.   Abstract Cross-regional public transport integration is a strategic need for Tangerang Regency as part of the Greater Jakarta agglomeration, which is increasingly exposed to mobility pressure caused by population growth, commuting activities, industrial expansion, and large-scale residential development. Statistics Indonesia reported that the population of Tangerang Regency reached 3,400.49 thousand people in 2024, while the 2023 Jabodetabek Commuter Survey recorded that approximately 14.9 percent of the Jabodetabek population aged five years and over were commuters, with Tangerang Regency accounting for 9.0 percent. This study aims to analyze the existing condition of cross-regional public transport integration, identify its inhibiting and supporting factors, and formulate an agglomeration-based integration strategy. This research uses a descriptive qualitative approach through focus group discussions, policy documentation, and literature review, analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, SWOT analysis, and the Collaborative Governance framework. The findings reveal four main issues: cross-regional institutional fragmentation, weak intermodal and feeder integration, unintegrated fare and travel information systems, and suboptimal development of TOD-based transport nodes. The main contribution of this study is the formulation of the Agglomeration-Based Sustainable Transport Integration Model (ASTIM), consisting of institutional collaboration, transport connectivity, agglomeration integration, and sustainable mobility outcomes. The advantage of ASTIM lies in its ability to combine collaborative governance, multimodal connectivity, agglomeration spatial integration, and sustainability orientation into a single strategic model for public transport policy in metropolitan areas. Keywords: public transport integration, agglomeration area, collaborative governance, ASTIM, sustainable mobility, Tangerang Regency.
Reorientasi Demokrasi Elektoral Pasca Penghapusan Presidential Threshold: Telaah Konstitusionalisme dan Siyasah Dusturiyah terhadap Desain Pencalonan Presiden Moh Sohib; Fitri Ida Laela; Turija
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak The abolition of the presidential threshold through Constitutional Court Decision Number 62/PUU-XXII/2024 marks a significant development in Indonesia’s electoral democracy. Previously, the presidential nomination threshold restricted the ability of electoral political parties to nominate presidential and vice-presidential candidates and potentially narrowed citizens’ political choices. This study aims to examine the direction of electoral democracy following the abolition of the presidential threshold from the perspectives of constitutionalism and siyasah dusturiyah. The research employs a normative legal method with a conceptual approach, focusing on the principles of democracy, limitations on governmental power, and Islamic political justice. The findings indicate that the removal of the presidential threshold strengthens the principle of equal political rights, broadens access to presidential candidacy, and reduces the dominance of party elites in the political recruitment process. From the perspectives of constitutionalism and siyasah dusturiyah, the regulation of presidential nominations should be grounded in the principles of justice, equality, deliberation, public welfare (maslahah), and limitations on power. The study implies the need for a reformulation of presidential nomination regulations that are more inclusive, non-discriminatory, and oriented toward strengthening popular sovereignty within Indonesia’s presidential system. Keywords: Presidential Threshold; Electoral Democracy; Constitutionalism; Siyasah Dusturiyah   Abstrak Penghapusan presidential threshold melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 62/PUU-XXII/2024 menandai perubahan penting dalam demokrasi elektoral Indonesia. Sebelumnya, ketentuan ambang batas pencalonan presiden membatasi kesempatan partai politik peserta pemilu untuk mengusulkan pasangan calon serta berpotensi mempersempit pilihan politik masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis arah demokrasi elektoral pasca penghapusan presidential threshold melalui perspektif konstitusionalisme dan siyasah dusturiyah. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan konseptual terhadap prinsip demokrasi, pembatasan kekuasaan, dan keadilan politik Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penghapusan presidential threshold memperkuat prinsip persamaan hak politik, memperluas akses pencalonan presiden, dan membatasi dominasi elite partai dalam proses rekrutmen politik. Dalam perspektif konstitusionalisme dan siyasah dusturiyah, pengaturan pencalonan presiden harus berlandaskan keadilan, kesetaraan, musyawarah, kemaslahatan, dan pembatasan kekuasaan. Implikasi penelitian ini adalah perlunya reformulasi regulasi pencalonan presiden yang lebih inklusif, nondiskriminatif, dan berorientasi pada penguatan kedaulatan rakyat dalam sistem presidensial Indonesia. Kata kunci: Presidential Threshold; Demokrasi Elektoral; Konstitusionalisme; Siyasah Dusturiyah
Asset-Based Community Development dalam Penguatan Sustainable Agriculture melalui Intensifikasi dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya pada Program Tawangargo Smart Eco-Farming Village (TAMENG) Kadek Ardhika Widya Kresna; Edwyk Sony Udaieby; Adi Candra Purnama; Muhammad Riefqi Putra Juliesa; Amellya Putri Kaharu
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v8i2.777

Abstract

Abstract This study analyzes the effectiveness of sustainable intensification strategies and human resource capacity building through the Tawangargo Smart-Eco Farming Village (TAMENG) Program within the framework of Sustainable Agriculture. Facing the challenges of the Triple Planetary Crisis, the transformation of horticulture in Tawangargo Village is carried out by optimizing the community's internal strengths. Using a descriptive qualitative method, data were collected through interviews, observation, and documentation studies, employing purposive and snowball sampling techniques. The results show that the integration of sustainable agriculture with the Asset-Based Community Development (ABCD) approach successfully shifts the development paradigm from a needs-based to an asset-based approach. This program transforms farmers into primary subjects and innovators within a living lab ecosystem. Ecologically, the program restores ecosystem health through soil restoration and systemic waste management. Economically, land productivity and the welfare of farm laborers have significantly increased. The success of this social investment proves the creation of an autonomous, resilient, and adaptive agricultural system against the global climate crisis. Keywords: asset-based community development (ABCD), sustainable agriculture, TAMENG program, regenerative agriculture.   Abstrak Penelitian ini menganalisis efektivitas strategi intensifikasi berkelanjutan dan penguatan kapasitas SDM melalui Program Tawangargo Smart-Eco Farming Village (TAMENG) dalam kerangka Sustainable Agriculture. Menghadapi tantangan Triple Planetary Crisis, transformasi hortikultura di Desa Tawangargo dilakukan dengan mengoptimalkan kekuatan internal masyarakat. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi dengan teknik purposive serta snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pertanian berkelanjutan dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) berhasil mengubah paradigma pembangunan dari berbasis kebutuhan menjadi berbasis aset. Program ini mentransformasi petani menjadi subjek utama dan inovator dalam ekosistem living lab. Secara ekologis, program ini memulihkan kesehatan ekosistem lewat restorasi tanah dan pengelolaan limbah sistemik. Secara ekonomi, produktivitas lahan dan kesejahteraan buruh tani meningkat signifikan. Keberhasilan investasi sosial ini membuktikan terciptanya sistem pertanian otonom, tangguh, dan adaptif terhadap krisis iklim global. Kata kunci: asset-based community development (ABCD), sustainable agriculture, program TAMENG, pertanian regeneratif.
Tata Kelola Ekonomi Biru Daerah: Analisis Gap antara Desain Kebijakan, Kinerja Ekonomi, dan Realisasi Kesejahteraan di Bima dan Dompu Firmansyah; Haeril; Junaidin
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini berangkat dari paradoks pembangunan pesisir di Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, ketika potensi sumber daya kelautan yang melimpah belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesejahteraan masyarakat pesisir. Penelitian bertujuan menganalisis kesenjangan antara desain kebijakan ekonomi biru, kinerja ekonomi sektoral, dan realisasi kesejahteraan masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, analisis dokumen kebijakan, serta data ekonomi daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor kelautan dan perikanan berkontribusi dominan terhadap PDRB, mencapai 39,7% di Kabupaten Bima dan 40,4% di Kabupaten Dompu pada tahun 2025, dengan pertumbuhan ekonomi masing-masing sebesar 2,82% dan 3,44%. Namun, peningkatan kinerja ekonomi tersebut belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat pesisir, yang masih ditandai tingkat kemiskinan pesisir sebesar 14,2%, rendahnya hilirisasi ekonomi, serta terbatasnya integrasi rantai nilai lokal. Meskipun rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan meningkat dari Rp2,15 juta menjadi Rp2,98 juta per bulan selama periode 2021–2025, manfaat ekonomi masih terkonsentrasi pada rantai distribusi tertentu. Temuan ini menegaskan perlunya restrukturisasi tata kelola ekonomi biru melalui integrasi kelembagaan, penguatan nilai tambah lokal, dan pembangunan pesisir yang lebih inklusif guna memastikan pertumbuhan ekonomi maritim dapat terkonversi menjadi kesejahteraan yang berkelanjutan. Kata Kunci: Ekonomi Biru, Tata Kelola Daerah, Kesejahteraan Pesisir, Kinerja Ekonomi, Pembangunan Berkelanjutan.   Abstract This study is grounded in the paradox of coastal development in Bima and Dompu Regencies, where abundant marine and fisheries resources have not been fully translated into improved coastal community welfare. The research aims to examine the gap between blue economy policy design, sectoral economic performance, and welfare outcomes. A qualitative descriptive approach with a case study design was employed through in-depth interviews, field observations, policy document analysis, and regional economic data assessment. The findings reveal that the marine and fisheries sector remains the dominant contributor to regional economic output, accounting for 39.7% of Gross Regional Domestic Product (GRDP) in Bima Regency and 40.4% in Dompu Regency in 2025, while regional economic growth reached 2.82% and 3.44%, respectively. Despite this economic significance, the gains have not been proportionally reflected in coastal welfare, as evidenced by a coastal poverty rate of 14.2%, limited downstream industrialization, and weak integration of local value chains. Although the average monthly income of fishing households increased from IDR 2.15 million to IDR 2.98 million between 2021 and 2025, economic benefits remain concentrated within specific segments of the distribution chain. These findings underscore the need for restructuring blue economy governance through institutional integration, strengthening local value-added production, and promoting more inclusive coastal development to ensure that maritime economic growth can be effectively transformed into sustainable and equitable welfare outcomes. Keywords: Blue Economy, Regional Governance, Coastal Welfare, Economic Performance, Sustainable Development.
Hukum Yang Hidup dalam Masyarakat dan Tantangan Penegakan Hukum Pidana Persetubuhan Anak di Wilayah Manggarai Timur Manase Panala
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk dan karakteristik tindak pidana persetubuhan anak di Manggarai Timur, mekanisme penegakan hukum yang diterapkan, serta berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses penegakan hukum pidana. Penelitian menggunakan metode hukum normatif empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan sosiologis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan yang didukung analisis praktik penegakan hukum di masyarakat. Analisis dilakukan menggunakan teori penegakan hukum, teori perlindungan anak, dan teori hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak pidana persetubuhan anak umumnya terjadi dalam hubungan sosial yang dekat antara pelaku dan korban serta dipengaruhi oleh relasi kuasa, faktor sosial ekonomi, dan rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Penegakan hukum telah dilaksanakan melalui sistem peradilan pidana yang melibatkan kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan, namun belum berjalan optimal. Hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan aparat dan fasilitas pendukung, kuatnya pengaruh hukum adat, stigma terhadap korban, serta kesenjangan antara norma hukum dan praktik sosial. Analisis menunjukkan bahwa faktor struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum belum berjalan secara sinergis, sementara perlindungan terhadap korban anak masih terbatas. Penelitian menyimpulkan bahwa penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana persetubuhan anak di Manggarai Timur belum efektif, sehingga diperlukan penguatan kapasitas aparat, sarana pendukung, sinergi antara hukum negara dan hukum adat, serta sistem perlindungan korban yang lebih komprehensif. Kata Kunci: penegakan hukum pidana, persetubuhan anak, perlindungan anak, living law, Manggarai Timur.   Abstract This study aims to analyze the forms and characteristics of the crime of child sexual intercourse in East Manggarai, the law enforcement mechanisms implemented, and the various challenges encountered in the criminal law enforcement process. The study employed an empirical normative legal research method with statutory, conceptual, and sociological approaches. Data were collected through a literature review supported by an analysis of law enforcement practices within the community. The analysis was conducted using law enforcement theory, child protection theory, and the theory of living law. The findings indicate that child sexual intercourse offenses generally occur within close social relationships between perpetrators and victims and are influenced by power relations, socio-economic factors, and the low level of legal awareness among community members. Law enforcement has been carried out through the criminal justice system involving the police, prosecutors, and courts; however, its implementation has not yet been optimal. The challenges encountered include the limited capacity of law enforcement officers and supporting facilities, the strong influence of customary law, stigma against victims, and the gap between legal norms and social practices. The analysis reveals that the legal structure, legal substance, and legal culture have not functioned synergistically, while protection for child victims remains inadequate. This study concludes that criminal law enforcement against child sexual intercourse offenses in East Manggarai has not been effective. Therefore, strengthening the capacity of law enforcement agencies, improving supporting facilities, enhancing synergy between state law and customary law, and developing a more comprehensive victim protection system are necessary. Keywords: criminal law enforcement, child sexual intercourse, child protection, living law, East Manggarai.
Dampak Kebijakan Pemerintah Mengenai Pelarangan Thrifting Terhadap Penjualan Pakaian Bekas di Kota Medan Ivana Theo Philia; Reh Bungana Beru Pa; Yakobus Ndona; Arief Wahyudi; Taufiq Ramadhan
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya aktivitas thrifting dan perdagangan pakaian bekas di Pasar Sambu dan Pasar Melati Kota Medan di tengah penerapan kebijakan pemerintah mengenai larangan impor pakaian bekas yang diperketat melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 47 Tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis latar belakang pemerintah menetapkan kebijakan pelarangan thrifting, mengkaji dampaknya terhadap pelaku usaha dan konsumen pakaian bekas di Kota Medan, serta mengetahui strategi pemerintah dalam menyediakan kebijakan transisi bagi pelaku usaha yang terdampak. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian normatif-empiris. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pelarangan thrifting dilatarbelakangi oleh tiga pertimbangan utama, yaitu perlindungan industri tekstil dalam negeri, perlindungan kesehatan masyarakat dari risiko pakaian bekas impor, serta penertiban arus perdagangan ilegal. Dampak kebijakan mencakup penurunan pasokan stok barang, berkurangnya jumlah pembeli sebesar 30 hingga 50 persen, dan penurunan omzet pedagang antara 10 hingga 75 persen, serta terbatasnya akses konsumen berpenghasilan rendah terhadap pakaian terjangkau. Sementara itu, strategi transisi pemerintah masih bersifat umum berupa imbauan beralih ke pakaian preloved lokal dan pemanfaatan platform digital, tanpa disertai program pembinaan khusus bagi pedagang terdampak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun kebijakan pelarangan thrifting memiliki dasar hukum yang kuat, pelaksanaannya perlu disertai program transisi terstruktur, pendampingan usaha yang tepat sasaran, dan sosialisasi langsung kepada pedagang agar kebijakan dapat berjalan secara adil dan mencerminkan prinsip negara kesejahteraan. Kata kunci: kebijakan pemerintah, larangan thrifting, penjualan pakaian bekas.   Abstract This study was motivated by the widespread practice of thrifting and the trade of second-hand clothing in Sambu Market and Melati Market, Medan City, amidst the implementation of government policies prohibiting the importation of used clothing, as reinforced through Minister of Trade Regulation Number 47 of 2025. The study aims to analyze the rationale behind the government's policy on banning thrifting, examine its impacts on second-hand clothing traders and consumers in Medan City, and identify the government's transition strategies for businesses affected by the policy. This research employed a descriptive qualitative approach with a normative-empirical research design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman interactive analysis technique, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the policy prohibiting thrifting is based on three primary considerations: protecting the domestic textile industry, safeguarding public health from the risks associated with imported used clothing, and regulating illegal trade activities. The impacts of the policy include a decline in merchandise supply, a reduction in the number of customers by approximately 30 to 50 percent, and a decrease in traders’ revenues ranging from 10 to 75 percent. Additionally, the policy has limited access to affordable clothing for low-income consumers. Meanwhile, the government’s transition strategy remains relatively general, consisting primarily of recommendations to shift toward locally sourced preloved clothing and the utilization of digital platforms, without the provision of specific assistance or capacity-building programs for affected traders. The study concludes that although the thrifting prohibition policy has a strong legal foundation, its implementation should be accompanied by structured transition programs, targeted business assistance, and direct outreach to traders to ensure that the policy is implemented fairly and reflects the principles of a welfare state. Keywords: government policy, thrifting prohibition, second-hand clothing trade.
Mekanisme Pembayaran Jasa Ekosistem untuk Kabupaten Mahakam Ulu: Analisis Kebijakan Daerah Aliran Sungai Mahakam Muhammad Dzaudan Sani; Dhespy Tandi Pasauran; Muh Jamal; Jauchar B
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Mahakam Ulu District, as the upstream region of the Mahakam River Watershed, plays a strategic role in maintaining the ecological functions of the 920-kilometer river traversing East Kalimantan Province. This study aims to analyze the design of a payment for ecosystem services (PES) mechanism funded by provincial and district/city governments along the Mahakam River. Using a qualitative approach through instrumental case study, data were collected via in-depth interviews with 25 key informants from government agencies, academics, NGOs, and indigenous community leaders; policy document analysis; and comparative study of PES schemes across Indonesian and international watersheds. Findings indicate that: first, there is a significant asymmetry between the conservation burden borne by Mahakam Ulu and the economic benefits enjoyed by downstream regions; second, PES implementation faces institutional challenges including the absence of specific provincial regulations, fragmentation of authority among agencies, monitoring system limitations, and weak tenure security for indigenous communities; and third, an effective PES mechanism requires a Provincial Regulation, the establishment of a Mahakam Watershed Management Agency as a BLUD, and a performance-based incentive system. Contributions of 0.3–0.5% of APBD from beneficiary regions are estimated to mobilize IDR 60–80 billion annually to support sustainable Mahakam watershed conservation. Keywords: Payment for Ecosystem Services; Mahakam River Basin; Incentive-Based Conservation   Abstrak Kabupaten Mahakam Ulu sebagai wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam memiliki peran strategis dalam menjaga fungsi ekologis sungai sepanjang 920 kilometer yang melintasi Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis desain mekanisme dana kompensasi jasa lingkungan (Payment for Ecosystem Services/PES) yang bersumber dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di DAS Mahakam. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus instrumental, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 25 informan kunci dari instansi pemerintah, akademisi, LSM, dan tokoh masyarakat adat; studi dokumen kebijakan; serta analisis komparatif terhadap skema PES di beberapa DAS di Indonesia dan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, terdapat asimetri signifikan antara beban konservasi Mahakam Ulu dan manfaat ekonomi yang dinikmati daerah hilir; kedua, implementasi PES menghadapi tantangan kelembagaan berupa ketiadaan regulasi spesifik di tingkat provinsi, fragmentasi kewenangan antar instansi, keterbatasan sistem monitoring, dan lemahnya tenure security masyarakat adat; dan ketiga, mekanisme PES yang efektif memerlukan Perda Provinsi, pembentukan Badan Pengelola DAS Mahakam sebagai BLUD, serta sistem insentif berbasis kinerja konservasi. Kontribusi daerah penerima manfaat sebesar 0,3–0,5% APBD diperkirakan memobilisasi Rp 60–80 miliar per tahun untuk mendukung konservasi DAS Mahakam secara berkelanjutan. Kata Kunci: Pembayaran Jasa Lingkungan; DAS Mahakam; Konservasi Berbasis Insentif
Upaya Perempuan Karo dalam Memperoleh Kesetaraan Hak Waris di Desa Bukit Makmur Kabupaten karo Devi Permata Br Bangun; Reh Bungana Beru PA; Ramsul Nababan; Parlauangan G. Siahaan; Taufiq Ramadhan
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v8i2.787

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan serta upaya yang dilakukan oleh perempuan Karo dalam memperoleh kesetaraan hak waris di Desa Bukit Makmur, Kabupaten Karo. Dalam sistem kekerabatan patrilineal Karo, hak waris secara tradisional diberikan kepada anak laki-laki sebagai penerus marga, sementara anak perempuan hanya menerima pemere yang sifatnya tidak pasti dan tidak dianggap sebagai warisan. Kondisi ini sering menimbulkan ketidakadilan serta kesenjangan hak antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif-empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini juga mengkaji pertentangan antara ketentuan adat Karo dan hukum nasional, khususnya Putusan Mahkamah Agung Nomor 179 K/SIP/1961 yang telah di Yurisprudensi Mahkamah Agung No. 03/Yur/Pdt/2018 yang menegaskan kesetaraan hak waris bagi perempuan. Penelitian ini memperoleh data melalui wawancara dengan tokoh adat, perempuan Karo dan pemerintahan desa di Desa Bukit Makmur. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara hukum adat Karo dan hukum nasional dalam pembagian warisan, di mana hukum adat masih dominan sehingga hak perempuan belum sepenuhnya setara. Upaya perempuan Karo dalam memperoleh hak waris umumnya dilakukan melalui musyawarah keluarga karena keterbatasan akses dalam forum adat. Kesimpulan penelitian ini adalah kesetaraan hak waris perempuan Karo belum sepenuhnya terwujud dan masih bergantung pada keputusan keluarga, meskipun mulai terlihat adanya perubahan menuju kesetaraan. Kata Kunci: Perempuan Karo, Hak Waris
Transformasi Sistem Pemidanaan dalam Pembaharuan Hukum Pidana di Indonesia sebagai Fungsi Stategis Penuntutan Jaksa untuk Mewujudkan Sistem Peradilan Pidana yang Berintegritas Ramadan Muhammad Risli
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v8i2.789

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi sistem pemidanaan dalam pembaharuan hukum pidana di Indonesia serta implikasinya terhadap kewenangan penuntutan oleh jaksa dalam sistem peradilan pidana terpadu (integrated criminal justice system). Selain itu, penelitian ini juga mengkaji perubahan paradigma penuntutan dari pendekatan retributif menuju pendekatan yang lebih berorientasi pada keseimbangan antara perlindungan masyarakat, rehabilitasi pelaku, dan pemulihan korban melalui pendekatan keadilan restoratif. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Data yang digunakan bersumber dari bahan hukum sekunder seperti peraturan perundang-undangan, buku, jurnal ilmiah, serta literatur hukum lainnya. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk mengkaji relevansi norma hukum dengan perkembangan konsep pemidanaan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi sistem pemidanaan dalam pembaharuan hukum pidana berdampak signifikan terhadap peran jaksa sebagai pengendali perkara (dominus litis). Jaksa tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai penuntut, tetapi juga sebagai aktor strategis dalam menentukan arah penegakan hukum yang berorientasi pada keadilan substantif. Pembaharuan hukum pidana juga memperkuat penerapan keadilan restoratif serta mendorong terciptanya sistem peradilan pidana terpadu yang lebih efektif, akuntabel, dan berintegritas. Namun demikian, implementasi perubahan tersebut masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan harmonisasi regulasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta konsistensi dalam penerapan diskresi penuntutan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembaharuan hukum pidana memberikan implikasi besar terhadap optimalisasi fungsi penuntutan jaksa dalam mewujudkan sistem peradilan pidana yang modern, berkeadilan, dan berintegritas. Kata kunci: Pembaharuan hukum pidana, Penuntutan, Jaksa, Sistem peradilan pidana terpadu, Keadilan restoratif.
Strategi komunikasi PT Permodalan Nasional Madani Dalam Mempertahankan Reputasi Perusahaan Melalui Media Massa dan Media Sosial Sularto Aras Hamka; Sri Wahyuni
ijd-demos Volume 8, Issue 2 (2026)
Publisher : HK-Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/ijd.v8i2.790

Abstract

This study investigates the communication strategies used by PT PNM to maintain its corporate reputation through mass media and social media while exploring the challenges encountered across these communication channels. The research adopts the Harris–Fombrun Corporate Reputation Quotient (CRQ), which consists of six dimensions: emotional appeal, products and services, vision and leadership, workplace environment, financial performance, and social responsibility. A qualitative approach was employed, with data collected through interviews with the Head of the Corporate Secretariat Division and the Head of Corporate Communication. The results indicate that PT PNM consistently applies an integrated communication strategy that strengthens corporate values, financial credibility, leadership, and social responsibility. Although communication challenges remain, the company effectively sustains stakeholder trust and reinforces its long-term corporate reputation in a dynamic and evolving media environment. Keywords: Communication Strategy, Corporate Reputation, Mass Media, Social Media.