cover
Contact Name
Yohanes Hendro Pranyoto
Contact Email
yohaneshenz@stkyakobus.ac.id
Phone
+6281295111706
Journal Mail Official
jumpa@stkyakobus.ac.id.
Editorial Address
Jl. Missi 2, Mandala, Merauke, Papua, Indonesia, 99616
Location
Kab. merauke,
P a p u a
INDONESIA
JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
ISSN : 23553294     EISSN : 26150751     DOI : 10.60011
Jurnal Masalah Pastoral atau disingkat JUMPA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke secara berkala pada bulan April dan Oktober setiap tahunnya. Jurnal ini membahas persoalan pastoral Gereja meliputi masalah: Pendidikan, Katekese, Teologi, Fenomenologi Agama, Liturgi, dan permasalahan umat lainnya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 170 Documents
Simulatio Partialis Contra Bonum Coniugum Sebagai Salah Satu Pokok Sengketa Pembatalan Perkawinan Wea, Donatus; Homenara, Fransiskus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.63

Abstract

Qui facit matrimonium adalah sebuah pertanyaan sentral perihal apa sesungguhnya yang membuat perkawinan itu ada, yang telah digumuli oleh para teolog dalam Gereja katolik selama sekian abad. Dalam penggalian para teolog itu, sampailah pada sebuah kesimpulan yang merupakan sintensa dari berbagai aspek kajian, bahwa yang membuat perkawinan itu ada adalah konsensus yang saling diberikan, oleh para pihak yang akan menikah, secara bebas, sadar, dan penuh tanggung jawab. Apa sesungguhnya konsensus itu sehingga menjadi unsur dasar terbentuknya sebuah institusi perkawinan? Secara yuridis konsensus, sebagaimana ditegaskan dalam norma kanon 1057 § 2, adalah perbuatan kemauan dengan mana pria dan wanita saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tak dapat ditarik kembali. Meskipun konsensus menjadi unsur utama terbentuknya lembaga perkawinan, namun karena sesuatu dan lain hal, konsensus bisa saja menjadi cacat, yang berakibat pada tidak validnya sebuah perkawinan, walaupun perkawinan itu diteguhkan dengan itikad luhur oleh para pasangan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab cacatnya konsensus para pasangan nikah untuk membangun sebuah keluarga; salah satunya adalah simulasi. Secara umum, simulasi dapat dirumuskan sebagai penyimpangan kesadaran antara kehendak batiniah dan pernyataan lahiriah seseorang. Dalam kasus ini boleh jadi bahwa dalam kenyataannya, seseorang secara lahiriah mengungkapkan syarat-syarat yang dituntut untuk suatu pernikahan sebagai ungkapan kehendak, namun dalam hatinya yang terdalam ia tidak mau melangsungkan pernikahan itu sendiri. Jadi simulasi berarti ketidakcocokan antara pernyataan lahiriah dengan kehendak yang sebenarnya yang ada di dalam batin. Gereja selalu mengandaikan bahwa kehendak yang dinyatakan dalam kata dan perbuatan sungguh merupakan ekspresi nyata dari kehendak batiniah. Jika hal yang diandaikan itu tidak ada, maka sesungguhnya terjadi simulasi atau kepura-puraan (bersandiwara).
Rekonsiliasi Dan Penguatan Tatanan Sosial Sebagai Puncak Prosesi Ritual Yamu Dalam Budaya Marind Wonmut, Xaverius
Jurnal Masalah Pastoral Vol 10 No 1 (2022): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v10i2.64

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkapkan makna rekonsiliasi yang terdapat dalam prakteksis ritual “Yamu” suku bangsa Marind anim di kampung Kuper. Data penelitian diperoleh melalui observasi pelaksanaan ritual Yamu serta melalui wawancara dengan berbagai informan baik pelaku ritual maupun tiga orang tokoh adat Marind anim di kampung Kuper. Observasi maupun wawancara difokuskan pada aktivitas puncak ritual ‘Yamu’ yakni santap sagu “sep” bersama dan mekanisme penyelesaian konflik atas sebab-sebab kematian arwah sanak keluarga yang bersangkutan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan ritual “Yamu” berpuncak pada pertemuan dan percakapan bersama anggota keluarga yang masih hidup maupun arwah anggota keluarga yang sudah meninggal. Hal ini menunjukan ikatan persekutuan yang tak terpisahkan antara kerabatan yang masih hidup dan sudah meninggal. Selain itu komunikasi antara kaum kerabat tersebut bertujuan mewujudkan kondisi batin individu dimana tercipta rasa damai, tenang, harmonis hidup bagi mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Di dalam gereja, ikatan relasi iman yang sama antara mereka yang masih hidup maupun yang sudah meninggal terus meneruskan dihidupkan.1 Ritual Yamu menjadi penting bagi suku bangsa Marind anim karena memberi penegasan dan kepastian terhadap situasi “chaos” yang ditimbulkan oleh adanya peristiwa kematian. Dengan kata lain dinamika dan mekanisme percakapan dalam pertemuan kaum berabat dalam ritual “Yamu” tersebut bertujuan mewujudkan “rekonsiliasi” antara berbagai unsur yang bertentangan dan adanya suasana “chaos” karena adanya prasangka di antara anggota masyarakat damaikan dan diharmonisasikan.2 Di dalam kondisi hidup yang kondusip dan harmonis kehidupan berjalan normal.
Falsafah Hidup Sebagai Ecoliteracy Untuk Membangun Masyarakat Selaras Alam Subu, Yan Yusuf
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.65

Abstract

Eksploitasi alam demi kepentingan ekonomi telah merusak tatanan alam semesta. Nilai ekonomis alam semesta menjadi target dan prioritas utama daripada kesadaran diri akan kebergantungan hidup manusia pada alam semesta. Ini adalah sikap dunia modern yang bersifat utilitaristis. Selain itu pandangan antroposentrisme melahirkan tuan atas alam semesta. Di sini berarti alam harus tunduk pada manusia dan mengabdi kepadanya. Sikap materialistis ini membenarkan cara hidup yang merusak alam. Perilaku seperti ini membuktikan bahwa manusia menolak nilai intrinsik dari alam ciptaan lain dan menganggap mereka tidak ada artinya. Pada hal manusia bergantung sepenuhnya pada alam. Alam bisa hidup tanpa manusia tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Sebenarnya kebergantungan ini menuntut tanggung jawab manusia untuk menjaga, merawat, dan melindungi alam. Manusia bisa bertanggungjawab sepenuhnya terhadap ciptaan lain jika ia memiliki prinsip dan pandangan hidup. Prinsip dan pandangan hidup itulah yang mengatur cara hidup manusia. Cara hidup manusia adalah menjaga, merawat, melindungi makhluk ciptaan lain demi cita-cita hidup bersama. Di sini berarti keselarasan dalam hidup bersama dengan makhluk ciptaan lain terpenuhi karena didukung juga dengan kebenaran-kebenaran religius yang dihayati.
Faktor Penghambat Pengembangan Kompetensi Profesionalisme Guru Melalui Publikasi Karya Ilmiah Di Sma Negeri 1 Merauke Yunarti, Berlinda Setyo
Jurnal Masalah Pastoral Vol 10 No 2 (2022): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v10i2.66

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis kompetensi profesional guru melalui publikasi karya ilmiah. Sebagai seorang pendidik, guru diwajibkan memiliki sikap profesional. Persyaratan minimal guru professional antara lain: kualifikasi pengajaran profesional yang sesuai, kemampuan akademik yang sesuai dengan bidang pekerjaannya, keterampilan komunikasi yang baik dengan siswa, jiwa kreatif dan produktif, etika kerja dan komitmen tingkat tinggi melalui organisasi profesi, dan kemampuan lainnya. Guru terus menerus belajar dan menulis baik karya ilmiah untuk seminar maupun publikasi di media massa sebagai bentuk pengembangan profesionalismenya. Realitasnya banyak guru mengabaikan kegiatan menulis karya ilmiah karena tidak ada tuntutan atau kewajiban seorang guru untuk melakukan penelitian. Kondisi demikian membuat guru menjadi tidak produktif menghasilkan karya ilmiah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodek kualitatif deskriptif, yang akan menguraikan/mendeskripsikan hasil wawancara dan dokumen serta observasi yang diperoleh dalam penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan pangkat guru-guru di SMAN 1 Merauke dengan memenuhi syarat kecukupan jam mengajar yaitu 24 jam per minggu, sehingga para guru hanya mengejar kecukupan jam mengajar dengan mengambil jam mengajar di sekolah lain. Sehingga guru tidak perlu melakukan penelitian. Kesulitan lain yang dihadapi guru-guru di SMAN 1 Merauke dalam memproduksi karya ilmiah yaitu faktor: a) waktu, b) motivasi, c) keterampilan menulis ilmiah, d) usia guru dan e) pengakuan/apresiasi/insentif.
Revitalisasi Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah Sebagai Upaya Meningkatkan Moralitas Anak Didik Pranyoto, Yohanes Hendro
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.67

Abstract

Perkembangan zaman saat ini telah menggiring orientasi pendidikan pada perkembangan ekonomi dan teknologi. Hal tersebut membuat pendidikan moral kurang mendapatkan tempat dalam kurikulum pendidikan di sekolah. Pendidikan moral dianggap kurang relevan dan kurang bermanfaat langsung dalam dunia kerja. Meskipun pemerintah telah menggalakan gerakan nasional Revolusi mental sebagai bentuk keprihatinan bahwa bangsa Indonesia ini sedang mengalami krisis moral dengan indikasi banyaknya kasus korupsi, kriminal, tindakan asusila, hilangnya etika generasi muda, namun masalah pendidikan moral ini sepertinya belum memiliki orientasi yang jelas dalam konteks pendidikan nasional. Pada kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar dan menengah saat ini, pendidikan moral diientegrasikan ke dalam pendidikan budi pekerti yang dimerger dengan pendidikan agama dan bukan berdiri sendiri sebagai sebuah bidang studi tersendiri. Pendidikan agama di sini mengambil peran sentral dalam pendidikan moral karena hanya dalam konteks agamalah suatu pengalaman hidup siswa dapat dilihat melalui kacamata iman, menjadi pengalaman iman sehingga apa yang diajarkan kepada siswa tentang moralitas sungguh-sungguh akan mengakar dalam hati siswa. Hal inilah yang perlu dipahami oleh seluruh pelaku pendidikan khususnya sekolah dan guru-guru supaya pendidikan yang dilakukan di sekolah sungguh memperkembangkan siswa secara holistik.
The Design of Unit-Lesson Reflection Model For Senior High School English Teachers Makasau, Rosmayasinta
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.68

Abstract

Each of us in our professional lives as a teacher is likely to face different kind of events or incidents during teaching and learning process in the classroom. The situation in the classroom is sometimes unpredictable. The teachers are expected to be proactive and decide wisely to respons any unpredictable situations. They need to reflect on what happened, describe the events and identify the possible causes of the unexpected events. Then, teachers may analyse the findings and think of what to do to improve the unexpected events to be applied in the future actions. This study purposed to help teachers to evaluate such unexpected events occured in order to plan a new action if it is occured in the future time. So, the writer designed and provided a simple and efficient model of pedagogical practice reflection for senior high school teachers. Questionnaires and interview were contributed to gain feedback from the English teachers (as the participants in this study) related to the proposed design of unit-lesson reflection model. The library study was also conducted to generate theories in this issue.
Pengaruh Simulasi Micro Teaching Terhadap Keterampilan Pengelolaan Kelas Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke Di Sekolah Berangka, Dedimus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.69

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk melihat apakah micro teaching bermanfaat bagi mahasiswa dalam membentuk dan mengembangkan keterampilan mengajar mahasiswa khususnya keterampilan pengelolaan kelas, untuk melihat kriteria keterampilan pengelolaan kelas dan seberapa besar pengaruh micro teaching terhadap keterampilan pengelolaan kelas. Micro teaching merupakan kegiatan mengajar yang dilakukan dengan cara menyederhanakan yakni dengan memperkecil jumlah murid, waktu, bahan mengajar dan merupakan upaya dalam mengembangkan keterampilan mengajar. Keterampilan pengelolaan kelas merupakan keterampilan dan usaha seorang calon guru atau guru untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Tahun Akademik 2017/2018 yang sudah lulus mata kuliah micro teaching dan PPL SD atau PPL SMP/SMA. Sampel penelitian ini adalah 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa micro teaching bermanfaat bagi mahasiswa-mahasiswi PPL dalam pengelolaan kelas yakni sebesar 60% (18 orang). Dalam keterampilan pengelolaan kelas termasuk kategori baik dengan hasil 53,3% (16 orang). Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pengaruh variabel micro teaching terhadap variabel keterampilan pengelolaan kelas sebesar 80,2 % dan nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05) yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak. Ini berarti terdapat pengaruh yang sangat signifikan dari micro teaching terhadap keterampilan pengelolaan kelas.
Pendampingan Pia Masa Prapaskah-Paskah Tahun Liturgi C Dengan Metode Ekspresi Berbasis Cerita Anak Maharani, Fransiska Novia Putri; Hartutik; Yuniarto, Yustinus J. W.
Jurnal Masalah Pastoral Vol 10 No 2 (2022): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v10i2.70

Abstract

PIA mentoring during Lent-Easter Liturgical year C with the method of expression based on children's stories. The purpose of this research is to 1) find out the implementation of Faith Assistance for Children in the Kedu Kevikepan District, 2) find out if the teaching materials for Child Faith Assistance during Lent-Easter Liturgical year C are valid. There is a problem that the PIA mentoring material module is limited. Many assistants do not have a Catholic religious education background and their abilities to facilitate are different. In PIA activities, it is very necessary for mentoring activities such as listening to stories, reading scriptures, games, dancing, singing. Seeing this situation, the researchers used the method of expression with children's stories. This research is a way to find out the teaching materials for PIA mentoring during Lent-Easter Liturgical year C have been valid and suitable to be used in Faith Assistance for Children in the Kedu Kevikepan District. This study uses research and development (R and D) according to Brog and Gall. The technique used is purposive sampling. Taking a sample of 10 people consisting of PIA assistants in the Kedu vikepan, parents, elementary and kindergarten teachers and Catholic religion teachers. Validation is carried out to validate PIA mentoring materials. The validation results obtained an average of 4.6 based on the validation tests carried out. Mentoring materials showed a significant increase in results. The feasibility test for mentoring materials is carried out by conducting FGD (Forum Group Discussion) with valid results and can be used properly and well in the PIA mentoring process in Kedu Kevikepan.
Kecerdasan Adversitas dan Kecerdasan Emosional Sebagai Pilar Karakter Katekis Manik, Resmin
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.71

Abstract

Penelitian ini bertujan untuk mengetahui kemampuan calon-calon Katekis dalam mengolah kecerdasan emosional dan kecerdasan adversitas yang ada dalam dirinya. Dengan demikian pengalaman kecewa, marah dan ditolak menjadi peluang menumbuhkan sikap positif dan optimisme untuk membangun kinerja yang lebih berkualitas dan berdaya guna. Pola pengajaran Yesus dan sikap Yesus dalam menghadapi serta mengatasi kesulitan dan penderitaan menjadi cermin bagi para Katekis untuk mengoptimalkan pelayanan dan pewartaannya dalam tugas perutusan. Kemampuan para Katekis mengolah kecerdasan emosional dan kecerdasan adversitas menjadi pilar karakter Katekis yang berkualitas dan bidangnya. Katekis yang kurang terampil dalam mengolah kecerdasan emosional dan kecerdasan adversitasnya dapat menghambat perkembangan pribadi dan memandang tantangan serta kesulitan menjadi beban dan penderitaan sehingga menghambat perkembangan diri dan mutu pelayanan kurang optimal.
Tinjauan Gaudium Et Spes Tentang Martabat Manusia Dalam Kasus Terorisme Masut, Vinsensius Rixnaldi; Barut, Martin Candy Putra Nugraha; Muwa, Flavianus; Budi, Anton Sad
Jurnal Masalah Pastoral Vol 10 No 2 (2022): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v10i2.72

Abstract

This study aims to explain human dignity in the Gaudium et Spes review dealing with acts of terrorism that occurred in Indonesia. According to Gaudium et Spes, humans are the image of God who has a reason, conscience, and free will. This nature makes humans special creatures created by God. So humans are also called to love and respect each other's dignity as imago Dei. Based on this, acts of terrorism that result in the loss of another person's life are seen as crimes. In comparison, human life and death are only in the hands of Allah. The methodology used in this study is a qualitative method by conducting a critical reading of the Gaudium et Spes document on human dignity. This theme is then analyzed with the issue of terrorism that occurred in Indonesia. The findings of this study are that acts of terrorism are contrary to the teachings of the Church which upholds human dignity. This can be seen in human nature as the image of God and as a free and independent person.

Page 7 of 17 | Total Record : 170