cover
Contact Name
Ramadhita
Contact Email
sakina@uin-malang.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sakina@uin-malang.ac.id
Editorial Address
Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jl. Gajayana 50 Kota Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sakina: Journal of Family Studies
ISSN : -     EISSN : 25809865     DOI : -
Journal of Family Studies merupakan sarana komunikasi dan publikasi ilmiah yang berasal dari riset-riset mahasiswa di bidang hukum keluarga dengan berbagai aspek dan pendekatan
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 432 Documents
Reinterpretasi Hak dan Kewajiban Isteri Perspektif Serat Candrarini Terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Teguh Setyobudi
Sakina: Journal of Family Studies Vol 3 No 4 (2019): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.166 KB)

Abstract

Perkawinan sebagai sebuah ikatan suci secara lahir batin sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Namun, perkawinan yang terealisasi masih jauh dari tujuan membentuk keluarga bahagia dan sejahtera, berdasarkan argumentasi fakta peningkatan angka perceraian di Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan maraknya tuduhan terhadap lemahnya seorang istri dalam pemenuhan hak dan kewajiban dalam perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ketentuan hak dan kewajiban isteri menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Serat Candrarini, serta melakukan analisis kritis terkait ketentuan hak dan kewajiban isteri menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 perspektif Serat Candrarini. Penelitian ini merupakan jenis studi yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan statute and conseptual approaches. Bahan hukum primer berasal dari UU No.1 Tahun 1974 dan Serat Candrarini. Sedangkan bahan sekunder berasal dari buku, jurnal dan karya ilmiah lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi hak dan kewajiban istri menurut Serat Candrarini sebagai nilai asli budaya Nusantara, telah eksis dan terbukti berhasil mewujudkan tatanan keluarga bahagia sejahtera dan seimbang, baik pada dimensi lahir maupun batin bersendikan pada beberapa prinsip pribadi istri dalam keluarga, antara lain meliputu; merawat diri, mempertahankan rumah tangga, pemaaf dan setia, ikhlas, berbicara manis, rendah hati, merasa memiliki, berhias tubuh, berbakti pada mertua, pendidik dalam keluarga.
Studi Komparatif Lafad Al-Adlu dan Al-Qisthu Dalam Perspektif Al-Qur’an Abd Rozaq
Sakina: Journal of Family Studies Vol 3 No 4 (2019): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.271 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan lafadz ‘Adl dan Qist dalam al-Qur’an. Menggunakan metode library research, dengan Jenis analisa data deskriptif kualitatif, dan tekhnik analisa datanya menggunakan metode komparatif. Adapun sumber data primer artikel ini lafadz ‘Adl dan Qist dalam al-Qur’an, sedangkan sekundernya adalah kitab-kitab tafsir al-Qur’an. Hasil artikel ini, yang pertama Persamaan lafadz al-Adlu dan al-Qisthu secara global adalah ketika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sama yaitu keadilan, tujuan dari al-‘Adlu dan al-Qisthu adalah sama-sama dalam rangka menegakkan nilai kebenaran, dan sasaran kata bi al-‘adli dan bi al-Qisthi adalah seluruh umat manusia. Adapun perbedaannya adalah al-‘Adlu lebih umum dan luas dari pada kata al-Qisthu, makna al-‘Adlu itu berlaku adil secara menyeluruh, kalau al-Qisth berlaku adil sesuai dengan kewajaran dan kepatutan, dan terakhir makna Al-‘Adlu adalah keadilan yang tidak tampak atau sulit diukur, sedangkan al-Qisthu adalah keadilan yang tampak dan jelas ukurannya. Kedua kesan lafadz al-Adlu dan al-Qisthu adalah dua kata sederhana tetapi mempunyai makna yang bervariatif. Terdapatnya makna yang berbeda tersebut karena disebabkan adanya konteks yang berbeda, sehingga makna dasar tersebut berubah menyesuaikan alur kalimat yang dapat difahami sebagai sebuah kesatuan yang komprehensif. Walaupun terjadi pergeseran makna tetapi tetap tidak sampai keluar dari makna dasarnya.
Telaah Pandangan Ulama Salaf atas Hadis Tentang Kebolehan Menikah Tanpa Wali Mahbub Ainur Rofiq
Sakina: Journal of Family Studies Vol 3 No 1 (2019): Family Issues
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.881 KB)

Abstract

Perbedaan para ulama dalam memahami al-Qur’an dan Sunnah sangat berpengaruhi terhadap hasil ijtihad atau produk hukum. Di satu sisi berpotensi sama, namun tak menutup kemungkinan terjadi perbedaan diantara mereka. Secara spesifik, fakta ini juga terjadi di dalam memahami Sunnah Nabi SAW. Tentang eksistensi wali dalam pernikahan. Bermula dari pandangan ulama Hanafiyyah yang mengatakan bahwa seorang wanita diperkenankan untuk menikah tanpa adanya seorang wali, padahal pemahaman institusi pernikahan di Indonesia yang menganut mazhab Syafii sangat vital memposisikan wali dalam pernikahan. Berangkat dari pandangan itulah, penulis ingin mengkaji dan mendeskripsikan secara seksama bagimana sesungguhnya posisi hadis di atas terhadap perbedaan ulama terhadap masalah wali dalam pernikahan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian noratif dengan pendekatan konseptual (conseptual approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman Hanafiyyah yang merepresentasikan ahli ra’yi berpandangan bahwa wanita baligh apakah gadis atau janda sah menikah tanpa adanya seorang wali. Sementara Jumhur termasuk di dalamnya Syafi’iyah mengatakan sebaliknya.
Model Ijtihad Ulama di Era Modern Abd. Rouf
Sakina: Journal of Family Studies Vol 3 No 1 (2019): Family Issues
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.482 KB)

Abstract

Konsep hidup yang terus berubah dan berlanjut dari generasi kegenerasi, membuat kebutuhan dan permasalahan kehidupan turut berkembang, banyak permasalahan yang baru yang belum dipecahkan jawabannya di era ulama salaf dulu, sehingga ijtihad yang terbaharu menjadi solusi untuk menjawab permasalahhan-permasalahan tersebut, seperti ijtihad al intiqa’I dan ijtihad al insya’I, yang mana keduanya memiliki karakter dan cara kerja sendiri dalam proses penemuan hukum permasalahan era modernisas ini. Penelitian ini merupakan jenis penelitian normatif dengan menggunakan conseptual approach. Adapun hasil yang dapat diperoleh dalam penelitian ini yakni, diketahuinya bahwa terdapat model-model ijtihad yang baru selain model yang telah ada pada masa ulama salaf, dalam memecahkan permasalahan Islam yang terbaharukan.
Peran Negara Dalam Optimalisasi Zakat Perspektif Konstitusi Ekonomi Mustafa Lutfi
Sakina: Journal of Family Studies Vol 4 No 1 (2020): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/jfs.v4i1.430

Abstract

Indonesia merupakan negara yang basis masyarakatnya beragama Islam terbesar di dunia dan negara kepulauan dengan jumlah populasi yang sangat luas dan potensi kekayaan alam yang melimpah. Salah satu tujuan negara yang termaktub dalam konstitusi adalah melindungi kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam konteks itu negara wajib mengatur, mengelola demi mewujudkan cita negara hukum kesejahteraan (welfarstate) salah satunya adalah melalui optimalisasi zakat. Zakat memiliki potensi strategis untuk dikembangkan menjadi salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Di Indonesia, potensi zakat tampaknya belum dikelola secara profesional dan akuntabel. Melihat realitas penduduk di negeri ini yang mayoritas muslim terbesar rasanya berbanding terbalik ketika hutang negara belum juga dapat tertasi, kesenjangan ekonomi yang sangat tajam, walaupun setiap tahun terkadang banyak pengusaha yang sering mengeluarkan zakatnya nampahkanya juga belum mebuahkan hasil yang maksimal. Lantas adakah yang salah dalam mengelola negeri ini atau moral oknum aparat yang kian jauh dari hati nurani menjadi problem tersendiri. Tulisan sederhana ini mencoba memotret sisi lain melihat peran negara dalam optimalisasi zakat ditinjau dari konstitusi ekonomi.
Strategi Tutur dalam Mediasi Perkara Perceraian di Pengadilan Agama Hersila Astari Pitaloka
Sakina: Journal of Family Studies Vol 4 No 1 (2020): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah memaparkan prinsip-prinsip komunikasi dan strategi tutur yang bisa digunakan seorang mediator perkara perceraian. Kemampuan berkomunikasi sangat diperlukan oleh mediator. Aspek tersebut merupakan penentu keberhasilan jalannya proses mediasi. Artikel ini merupakan kajian konseptual dengan menganalisis hasil-hasil penelitian tentang proses mediasi dalam perkara perceraian. Hasil kajian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip komunikasi yang dapat digunakan oleh mediator dalam proses mediasi yakni (1) empati (emphaty), (2) menghormati (respect), (3) dapat dimengerti (audible), (4) kejelasan pesan (clarity), dan (5) sikap rendah hati (humble). Selain itu, mediator juga harus memiliki strategi agar proses mediasi berlangsung dengan efektif. Strategi berkomunikasi—dalam hal ini kemampuan berbahasa—yang bisa digunakan dalam proses tersebut, yakni (1) pemahaman konteks komunikasi, (2) pemberian umpan balik, dan (3) penempatan peran sosial yang tepat.
Upaya Pasangan Buruh Brambang dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah Responsif Gender di Kabupaten Nganjuk Bayu Krisna Efendi
Sakina: Journal of Family Studies Vol 4 No 1 (2020): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pasangan buruh brambang di Desa Pehserut dalam mewujudkan keluarga sakinah perspektif gender serta faktor penghambat dan pendukungnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian empiris dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya pasangan buruh brambang dalam mewujudkan keluarga sakinah antara lain saling memahami pasangan, selalu bersyukur, dan menjaga komunikasi. Mengenai pembagian peran dalam perspektif gender dilakukan secara adil berdasarkan teori keadilan dan kesetaraan gender. Sedangkan untuk faktor penghambat antara lain ekonomi yang semakin susah karna kebutuhan semakin mahal, dan perbedaan pendapat antar pasangan. Kemudian dari faktor pendukung antara lain dari keluarga, anak-anak yang mengerti keadaan keluarga, dan keadaan rumah yang menjadi motivasi untuk memberikan tempat yang layak bagi keluarga.
Tradisi Jeulamee Di Kecamatan Peunaron Dalam Pernikahan Suku Aceh Perspektif Mashlahah Muhammad Zainuddin
Sakina: Journal of Family Studies Vol 4 No 1 (2020): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tradisi pemberian jeulamee menjadi suatu momok yang menakutkan bagi mayoritas pemuda yang ingin menikah karena sebagian besar calon istri dari perempuan suku Aceh pasti akan memasang harga mahar yang terbilang cukup tinggi dan fantastis jika diukur dari ukuran masyarakat yang mayoritas di dominasi oleh tingkat ekonomi kelas bawah. Penelitian ini meneliti konsep dan praktik pemberian jeulamee dalam pernikahan suku Aceh di Kecamatan Peunaron dan bagaiman konsep tersebut dipandang menurut kacamata mashlahah Najmuddin al-Thufi. Penelitian ini tergolong kedalam jenis penelitian empiris, dengan menggunakan pendekatan empiris aktualistik deskriptif yang bersifat konkrit dan aktual. Dalam penelitian ini, sumber data primer yang digunakan adalah informasi dari para informan, dilengkapi dengan data skunder. Pengumpulan data ditempuh dengan observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jeulamee sama dengan mahar, hanya saja yang berbeda adalah bentuknya yang mengharuskan emas dalam takaran mayam. Jeulamee merupakan simbol kehormatan baik bagi pihak perempuan maupun pihak laki-laki. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar jeulamee diantaranya pendidikan, keturunan, pekerjaan, dan kecantikan. Adapun tradisi jeulamee dalam pernikahan suku Aceh ini masuk dalam kategori mashlahah Najmuddin al-Thufi. Menikah dengan menetapkan jeulamee yang nilainya tinggi akan menarik suatu manfaat, yaitu menjadi suatu motivasi bagi para pemuda untuk bekerja keras dan mereka bisa mempersiapkan diri dan berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarganya ketika sudah menikah nanti.
Peningkatan Pelayanan Pernikahan Berbasis Mall Pelayanan Publik Di Kantor Urusan Agama (KUA) Perspektif Mashlahah Mursalah M. Faizurrizqi Al-Farisi AD
Sakina: Journal of Family Studies Vol 4 No 1 (2020): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan pernikahan berbasis Mall Pelayanan Publik (MPP) di KUA merupakan program baru yang didirikan untuk memudahkan pelaksanaan pelayanan pernikahan yang seringkali dianggap pelik, serta memakan banyak waktu dalam prosedur dan persyaratannya. Fakta lapangan menunjukkan berdirinya program baru tidak menghentikan semua permasalahan pelayanan nikah namun justru terjadi kekhawatiran apakah dengan adanya program baru tersebut bisa membawa manfaat atau justru merugikan bagi para pihak, khususnya bagi Pegawai Pencatat Nikah (PPN) dan masyarakat yang hendak melaksanakan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana kemanfaatan adanya peningkatan pelayanan pernikahan berbasis Mall Pelayanan Publik (MPP) di KUA Nganjuk ditinjau dari aspek Mashlahah Mursalah. Jenis penelitian ini adalah penelitian empiris dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan Pelaksanaan pelayanan pernikahan berbasis MPP di KUA Kec. Nganjuk, tetaplah sesuai dengan apa yang tertera dalam PMA no 19 tahun 2018 pada pelaksanaan prosedurnya. Ditinjau dari aspek mashlahah mursalah yakni pelayanan berbasis Mall Pelayanan Publik di KUA Kecamatan Nganjuk ini dibenarkan penerapannya karena selaras dengan kaidah-kaidah dalam mashlahah mursalah.
Menek Buah: Tradisi Peminangan Masyarakat Muslim Bali Dalam Tinjauan ‘Urf Annisa Farhanah
Sakina: Journal of Family Studies Vol 4 No 1 (2020): Family Issue
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam merupakan agama terbesar kedua setelah agama Hindu di Bali. Kedua agama ini hidup berdampingandan saling berinteraksi. Interaksi antara masyarakat Hindu dengan Islam di Bali sejak zaman dahulu menimbulkan kemungkinan keduanya saling mempengaruhi dariisegi sosial maupun budaya. Tidak terkecuali masyarakat muslim di desa Patas dalam melaksanakan tradisi peminangan. Tradisi peminangan ini masih dilakukan hingga sekarang dan dikenal dengan istilah menek buah. Menek buah adalah proses meminang seorang perempuan yang dilakukan masyarakat muslim di Desa Patas. Penelitian ini termasuk penelitian empiris dengan pendekatan kualitatif. Mengunakan sumber data primer yang diperoleh melalui wawancara serta dokumentasi terhadap pihak-pihak terkait dalam tradisi menek buah. Dan data sekunder didapat dari berbagai literatur yang secara tidak langsung berkaitan dengan pokok pembahasan dalam penelitian ini. Sedangkan tahapan-tahapan metode pengolahan data yang digunakan adalah edit, klasifikasi, verifikasi, analisis dan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan proses tradisi menek buah ada tiga tahap yaitu tahap pertama (menek ngidih), tahap kedua (musyawarah), tahap ketiga (menek buah). Dan tradisi menek buah ditinjau dari ‘urf yaitu dilihat dari segi objeknya merupakan al-‘urf al-‘amali. Jika dilihat dari segi cangkupannya (jangkauannya) termasuk dalam kategori al-‘urf al-khashsh. Dan dilihat dari segi keabsahannya dari pandangan syara’ di kategorikan ‘urf yang shahih atau al-‘adah ashahihah.

Page 11 of 44 | Total Record : 432