cover
Contact Name
Dr. S. Bekti Istiyanto
Contact Email
bekti.istiyanto@unsoed.ac.id
Phone
+6285221626505
Journal Mail Official
bektiis@yahoo.com
Editorial Address
Jurusan Ilmu Komunikasi Jalan Kampus No 1 Grendeng Purwokerto Utara
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Komunika: Jurnal Komunikasi Pendidikan
ISSN : 02167239     EISSN : 26861968     DOI : -
Jurnal Widya Komunika membahas dan mengkaji tema-tema komunikasi dan pendidikan yang bersumber dari hasil penelitian maupun sumbang saran pemikiran atau pengkajian ilmiah dari semua akademisi, praktisi dan pemerhati masalah komunikasi dan dunia pendidikan. Fokus dan Bidang Kajian artikel-artikel yang dapat diterima Jurnal Widya Komunika adalah kajian Komunikasi Kontemporer secara umum dan Komunikasi Pendidikan secara khusus. Dalam bidang Komunikasi Pendidikan tidak dibatasi dalam kajian konseptual teoretis saja namun juga kajian yang bersifat terapan/bersumber kasus di masyarakat secara langsung seperti Komunikasi Pemasaran, Komunikasi Instruksional, Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Pemasaran Sosial, dan Perubahan Sosial.
Articles 165 Documents
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI TUTORIAL TATAP MUKA DAN HUBUNGANNYA DENGAN MUTU LULUSAN MAHASISWA PROGRAM STUDI S1 PGSD UNIT BELAJAR JARAK JAUH UNIVERSITAS TERBUKA PURWOKERTO Tri Rahayu RPH; Prayitno Prayitno; Jatno Sunarjo
Widya Komunika Vol 5 No 1 (2015): Widya Komunika
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2015.5.1.922

Abstract

Mutu lulusan yang berkualitas sangat diperlukan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan mutu lulusan PGSD di Universitas Terbuka UPBJJ Purwokerto, di antaranya adalah input mahasiswa dan komunikasi tutorial yang diselenggarakan oleh UPBJJ Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas komunikasi tutorial terhadap peningkatan mutu lulusan mahasiswa program studi S1 PGSD yang diterapkan di UPBJJ UT Purwokerto. Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa PGSD di wilayah UPBJJ Purwokerto dengan sampel yang diambil sebanyak 212 mahasiswa. Metode analisis yang digunakan adalah regresi dan korelasi, dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95%, dengan bantuan perangkat lunak SPSS 18 dan Lisrel 8.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi tutorial dan input pendidikan masing-masing serta secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap mutu lulusan PGSD UT. Proses tutorial dan input pendidikan jika disempurnakan akan meningkatkan mutu lulusan PGSD. Ada hubungan yang kuat antara proses tutorial dan input pendidikan dengan mutu lulusan PGSD UPBJJ UT Purwokerto.
DRAMATURGI DALAM PROSES LEGISLASI Tulus Tampubolon; Guntur Freddy Prisanto; Niken Febrina Ernungtyas; Irwansyah Irwansyah; Sekartaji Anisa Putri
Widya Komunika Vol 9 No 2 (2019): Jurnal Komunikasi dan Pendidikan - WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.393 KB) | DOI: 10.20884/1.wk.2019.9.2.1912

Abstract

Abstract As a political communicator, members of the DPR RI need to realize good political communication for the sake of the continuation of democracy. The Indonesian Parliament as a political actor that has an important role in the sustainability of democracy needs to manage their political communication from the front stage, back stage, and impression management aspects according to Goffman's theory as well as possible. In this study, it was examined how the political communication of the Indonesian Parliament in revising Law No. 32 of 2002 using the Goffman drama theory. The method used in this research is qualitative research using observation data collection techniques to three groups of the Republic of Indonesia DPR. From this dramaturgical analysis the researchers found that DPR groups had three front stages and one backstage each. Also found was a shadowing stage faced by the DPR in carrying out political communication activities. Political communication behavior carried out at the front stage is more formal and prioritizes the interests of the community. As is the case at the back stage, political communication is more relaxed and personal and group interests emerge. Key words: Dramaturgy, Legislative Dramaturgy, Indonesian Parliament Dramaturgy Abstrak Sebagai komunikator politik, anggota DPR RI perlu mewujudkan komunikasi politik yang baik demi kelangsungan demokrasi. DPR RI sebagai aktor politik yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan demokrasi perlu mengelola komunikasi politik mereka dari aspek front stage, back stage, serta impression management sesuai dengan teori Goffman sebaik mungkin. Dalam penelitian ini diteliti bagaimana komunikasi politik DPR RI dalam melakukan revisi UU No. 32 tahun 2002 dengan menggunakan teori dramatugri Goffman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data observasi kepada tiga kelompok DPR RI. Dari analisis dramaturgi ini peneliti menemukan temuan bahwa kelompok-kelompok DPR memiliki masing-masing tiga pangung depan dan satu panggung belakang. Ditemukan juga panggung bayangan yang dihadapi oleh DPR dalam menjalankan kegiatan komunikasi politik. Perilaku komunikasi politik yang dilakukan pada front stage bersifat lebih formal dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Lain halnya dengan yang dilakukan pada back stage, komunikasi politik bersifat lebih santai dan muncul kepentingan-kepentingan pribadi maupun kelompok. Kata kunci: Dramaturgi; Dramaturgi Legislasi; Dramaturgi DPR
PERBANDINGAN KONSEP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN MANUSIA DALAM PSIKOSOSIAL ANTARA TEORI ERIK H. ERIKSON DAN IBN KHALDUN Julianto Oli’i
Widya Komunika Vol 7 No 1 (2017): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2017.7.1.1205

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan terori perkembangan kepribadian Erik H.Erikson. (2) mendeskripsikan teori perkembangan Kepribadian Ibn Khaldun. (3) mendeskripsikanperbedaan dan persamaan teori Erika H. Erikson dan Ibn Khaldun. (4) mendeskripsikan apakontribusi teori perkembangan kepribadian Erik H. Erikson dan Ibnu Khaldun terhadap PsikologiPendidikan Islam. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Data-datayang diambil dari kepustakaan, berupa data primer dan sekunder, data primer berupa bukukarangan Erik H. Erikson dan Ibn Khaldun dan data sekunder beru pabuku-buku pendukung.Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan ada delapan tahap perkembangankepribadian manusia dalam konsep Erikson yaitu: (1) Bayi. (2) Kanak-kanak Awal. (3) UsiaPrasekolah. (4) Usia Sekolah. (5) Remaja. (6) Dewasa Muda. (7) Dewasa. (8) Usia Senja. Berbedadengan Erikson Ibn Khaldun beranggapan bahwa Manusia terdiri dari dua bagian, yaitu jasmanidan spiritual, masing-masing dilengkapi dengan potensi-potensi lewat indera-indera. Indera-inderaini disebut dengan indera dalam (Internal sense) dan indera luar (external sense). Pertama,Inderadalam (internal Sense) terdiridari: (1) Common sense (al-hiss almusytharak). (2) Imajinasi(al-khayali.(c) Mengira-ngira (al-hiss al-wahmi). (d) Menghafal (al-Hifdz). (e) Pemikiran (al-mufakkirah). Kedua, Inderaluar (external sense) terdiri dari: (1) Penglihatan. (2) Pendengaran. (3)Pengecap. (4) Peraba. (5) Pembau. Di samping kelima komponen indera luar terdapat indera-indera lainnya seperti. (1) Kinasesthesis. (2) Indera keseimbangan. Kedua konsep yangdikemukakan oleh Erik H. Erikson dan Ibn khaldun secara keseluruhan bahwa keduaanyamenunjukan titik utama dari pembentukan kepribadian manusial adalah, agama, budaya, dan sosialmasyarakat yang menjadi faktor utama yang mendominasi perkermbangan kepribadian manusiaitu sendiri, organisasi masyarakat menjadi suatu keharusan bagi manusia. Tanpa organisasi itueksistensi manusia tidak akan sempurna.
MODEL KOMUNIKASI KELOMPOK UNTUK MENCEGAH PERILAKU BULLYING PADA REMAJA Nani Nurani Muksin; Oktaviana Purnamasari; Moh Amin Tohari
Widya Komunika Vol 6 No 2 (2016): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2016.6.2.1105

Abstract

Kasus bullying remaja masih saja terus terjadi di Indonesia. Kondisi ini tentu saja menimbulkankeprihatinan bagi semua pihak, baik sekolah, orang tua maupun masyarakat. Bullying memilikidampak yang buruk bagi korban, mulai dari menurunnya prestasi belajar di sekolah, menyimpandendam terhadap si pelaku bahkan hingga keinginan untuk bunuh diri. Melalui model komunikasikelompok yang tepat, diharapkan dapat mencegah bullying pada remaja yang dilakukan dilingkungan sekolah. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Penelitiandilaksanakan di Jakarta Selatan. Sumber data diperoleh dari key informan Guru BimbinganKonseling dan informan siswa-siswi SMP di Jakarta Selatan. Metode pengumpulan datadilaksanakan melalui wawancara mendalam dan FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwaperilaku komunikasi kelompok pada remaja di lingkungan sekolah di empat Sekolah MenengahPertama di Jakarta Selatan, mengacu pada: a) Tujuan pembentukan komunikasi kelompok, b)Perilaku komunikasi kelompok antara lain berkomunikasi secara verbal “bercerita/ngobrol”maupun non verbal seperti melalui gambar, foto dan gerak-gerik “gesture”, dalam membahas tugas-tugas sekolah dan ekstra kulikuler, c) Interaksi yang dilakukan pada komunikasi kelompok, d).Peran dan norma yang mereka sepakati, e) Media komunikasi kelompok sebagai sarana untukmenyampaikan aspirasi, f) Jumlah anggota kelompok, rata-rata enam sampai sepuluh, dan g).Waktu berkomunikasi kelompok. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilakukomunikasi kelompok pada remaja di sekolah antara lain: a) Kegiatan. Kegiatan yang dilakukankelompok akan mempengaruhi intensitas perilaku komunikasi kelompok, b) Interaksi. Semakinintensif interaksi yang dilakukan, maka akan semakin solid sebuah kelompok dan c) Perasaan. Disamping itu, pengaruh kelompok terhadap perilaku individu anggota kelompok antara lainberbentuk: Konformitas, Fasilitas Sosial dan Polarisasi. Dari poin-poin tersebut di atas maka dapatdisimpulkan sebuah model komunikasi kelompok untuk mencegah perilaku bullying pada remajadi sekolah dengan mengadopsi teori keseimbangan Heider, perbandingan sosial Festinger dan teoriABX dari Newcomb.
POLA INTERVENSI PENDIDIKAN DALAM PEMBINAAN KEPADA PELAJAR MELALUI KOMUNIKASI INTERAKSIONAL BERSUMBER PADA SIMBOL Afrina Sari
Widya Komunika Vol 8 No 2 (2018): WIDYA KOMUNIKA - JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.389 KB) | DOI: 10.20884/1.wk.2018.8.2.1410

Abstract

Remaja dalam usia yang sangat rentan dan mudah terpengaruh oleh lingkungan.Terutama lingkungan peer group pertemanan. Banyak peristiwa yang terkait remaja disajikandalam berita menjelaskan adanya kenakalan dalam perkelahian antar pelajar. Pola IntervensiPendidikan diduga dapat membantu untuk membina pelajar untuk lebih berkreativitas kepada hal-hal yang positif. Penelitian ini menggunakan Teori Interaksional Simbol dari Goerge HerbertMead sebagai dasar analisisnya. Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan metodekualitatif deskriptif dengan menggunakan data primer wawancara dengan guru dan siswa pada 2sekolah Menegah Atas di kota Bekasi. Analisis data menggunakan trianggulasi data dan metode.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pola Intervensi pendidikan yang dilakukan guru pengajardan guru Pembina pada SMA di Kota Bekasi berorientasi pada tanggungjawab, berorientasi padaprestasi, dan berorientasi pada kreativitas. Komunikasi interaksional diterapkan dalampengembangan kurikulum dan pada pelaksanaan mata pelajaran. Komunikasi interaksionaldilaksanakan dalam proses pembelajaran, proses kegiatan, dan proses pelaksanaan tugas.Dikembangkan dengan menggunakan simbol verbal dengan kata-kata yang bersifat memotivasi.Pola pembinaan yang dilakukan oleh guru pengajar dan guru pembina kegiatan dilakukan untukmengembangkan sikap keterbukaan, pengelolan emosi, dan sikap optimis. Itu semua dilakukandengan menekankan sikap disiplin dan sikap bertanggungjawab pada siswa.
INTERAKSI DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA DI SMKN 1 PURWOKERTO Rosmiasih Rosmiasih
Widya Komunika Vol 8 No 1 (2018): WIDYA KOMUNIKA - JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.389 KB) | DOI: 10.20884/1.wk.2018.8.1.1398

Abstract

Karakter remaja dapat dibentuk melalui interaksi di antara siswa-siswa dalam lingkungan sekolah.Salah satu media yang digunakan adalah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Interaksi dalamkelompok ekstrakurikuler akan berjalan secara terus menerus. Kegiatan ekstrakurikuler juga akanberfungsi untuk mengubah siswa ekstrakurikuler dapat berjalan sesuai dengan komunikasiinstruksional yang tepat. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Teknikyang dilakukan dalam mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara. Selain wawancaramaka peneliti melakukan pengamatan tentang bentuk interaksi secara verbal dan nonverbal siswadidik ketika latihan rutin kegiatan ekstrakurikuler bola basket. Hasil penelitian menunjukkanbahwa fungsi komunikasi instruksional terpenuhi melalui interaksi antara pelatih dan siswa didikdalam kegiatan ekstrakurikuler. Fungsi interaksi seringkali menekankan pada aspek motivasisehingga siswa didik memiliki kemauan tinggi untuk terus berlatih, dengan begitu secara tidaklangsung berpengaruh pada masa pembentukan karakter siswa didik. Kegiatan ekstrakurikuler inimembantu siswa didik untuk memiliki karakter yang positif.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN DAN MELAKSANAKAN RENCANA KERJA JANGKA MENENGAH (RKJM) MELALUI MENTORING DAN MONITORING BAGI KEPALA SEKOLAH SMP DI WILAYAH BINAAN KABUPATEN BANYUMAS PADA SEMESTER GASAL TAHUN 2014 Prihantoro Prihantoro
Widya Komunika Vol 5 No 2 (2015): Jurnal Komunikasi dan Pendidikan WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.385 KB) | DOI: 10.20884/1.wk.2015.5.2.933

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di lima sekolah SMP wilayah binaan Kabupaten Banyumas, bertujuanuntuk meningkatkan kemampuan kepala sekolah dalam menyusun dan melaksanakan RencanaKerja Jangka Menengah (RKJM) melalui mentoring dan monitoring. Penelitian ini merupakanpenelitian tindakan sekolah dengan subyek penelitian adalah lima kepala sekolah SMP di wilayahbinaan kabupaten Banyumas. Penelitian ini terfokus pada peningkatan kemampuan kepala sekolahdalam menyusun dan melaksanakan Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan melibatkan timpengembang sekolah. Data diperoleh melalui wawancara dan pengamatan terhadap dokumentasiRKJM beserta kelengkapannya. Hasil wawancara dan pengamatan dianalisis untukmembandingkan: (1) hasil wawancara dan pengamatan sebelum tindakan dengan hasil pengamatansetelah tindakan, dan (2) hasil pengamatan pada setiap siklus. Hasil Penelitian adalah sebagaiberikut, (1) Tindakan berupa mentoring dan monitoring yang dilakukan dengan kegiatanmentoring kelompok kepala sekolah SMP dilanjutkan dengan mentoring dan monitoring kepalasekolah dan tim pengembang sekolah dapat meningkatkan kemampuan kepala sekolah SMP dalammenyusun dan melaksanakan RKJM. (2) Kemampuan menyusun RKJM pada kondisi awalprestasi rata-rata skornya 31%, menjadi 71% pada siklus I tenjadi kenaikan sebesar 40%,selanjutnya dari kondisi siklus I ke siklus II menjadi 82% ada peningkatan sebesar 11%. (3)Kemampuan melaksanakan RKJM pada kondisi awal dengan prosentase rata-rata skor 28%menjadi 63,2% pada siklus I ada peningkatan sebesar 35,62%, selanjutnya dari prosentasi rata-rataskor pada siklus I sebesar 63,2% menjadi 80,62% pada siklus II, maka terjadi peningkatan sebesar17,42%.
Fenomena Coffe Shop Di Kalangan Konsumen Remaja dini safitri; Farhan Nurikhsan; webby salsabila indrianie
Widya Komunika Vol 9 No 2 (2019): Jurnal Komunikasi dan Pendidikan - WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.393 KB) | DOI: 10.20884/1.wk.2019.9.2.1962

Abstract

Berdasarkan data dari International Coffee Organization, di Indonesia jumlah konsumsi kopi meningkat, khususnya di kalangan remaja. Banyak remaja, khususnya di Jakarta hampir setiap hari melakukan kegiatan ngopi di coffee house favorit mereka. Sayangnya kebiasaan tersebut menimbulkan pola hidup konsumtif. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan trend coffee shop di kalangan remaja di Jakarta. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi dari Alfred Schutz. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kualitatif dengan perspektif fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keberadaan coffee shop banyak digemari konsumen remaja, karena faktor kenyamanan tempat, konsep yang diberikan oleh pemilik coffee shop, dan harga yang dapat dijangkau.
TANTANGAN PENGAJARAN MATERI GEOGRAFI BAGI SISWA SEKOLAH LANJUTAN Dodi Nurbadri; Ade Nur Arifin; Etty Athiroh
Widya Komunika Vol 7 No 2 (2017): JURNAL KOMUNIKASI DAN PENDIDIKAN WIDYA KOMUNIKA
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2017.7.2.1211

Abstract

Sebagai seorang pengajar, guru memiliki tantangan tersendiri dalam mengajar, terlebih jikapenunjang pengajaran belum tersedia secara lengkap di sekolah. Pelajaran Geografi merupakanpelajaran yang diberikan pada siswa tingkaat SMP maupun SMA. Pada mata pelajaran ini, guruacap kali mengalami beberapa tantanganyang membutuhkan kreativitas khusus untukmengatasinya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenaitantangan pengajaran materi geografi bagi siswa sekolah lanjutan. Penelitian ini menggunakanstudi deskriptif melalui cara pengumpulan data melalui teknik wawancara dan observasi. Adapunhasil yang diperoleh adalah, terdapat beberapa materi dalam pelajaran Geografi yang dianggapmemiliki tantangan khusus di mata guru budang, tantangan yang ditemukan meliputi materi ajartertentu yang relatif banyak, beririsan dengan materi lain, membutuhkan teknik penghitungn,ketidaktersedian alat peraga dan penunjang pembelajaran, masih kurangnya literasi dan sumberajar. Sedangkan cara yang telah dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut antara lain:mengajak siswa untuk kreatif membuat alat peraga mandiri, menggunakan teknik pembelajaranyang disesuaikan dengan kebutuhan, serta mengoptimalkan teknologi informasi walaupun masihdalam kondisi terbatas.
PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, MOTIVASI BERPRESTASI, DAN KOMPENSASI TERHADAP KEDISIPLINAN GURU SMP NEGERI DI KABUPATEN BREBES. Haryanto Haryanto
Widya Komunika Vol 5 No 1 (2015): Widya Komunika
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.wk.2015.5.1.919

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi berprestasi, dan kompensasi terhadap kedisiplinan guru. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: (1) ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru, (2) ada pengaruh motivasi berprestasi terhadap kedisiplinan guru, (3) ada pengaruh kompensasi terhadap kedisiplinan guru, (4) ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi berprestasi guru dan kompensasi secara simultan terhadap kedisiplinan guru. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMP Negeri di kabupaten Brebes pada tahun 2007. Sampel penelitian sebanyak 275 orang guru, diambil dengan teknik proportional random sampling. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan metode kuesioner, dengan instrumen sebanyak 72 item pernyataan. Sedangkan analisis datanya adalah secara kuantitatif dengan teknik statistik diskriptif, analisis korelasi dan regresi sederhana, serta analisis korelasi dan regresi berganda. Hasil penelitian adalah: (1) terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru, (2) terdapat pengaruh yang signifikan motivasi berprestasi guru terhadap kedisiplinan guru, (3) terdapat pengaruh yang signifikan kompensasi terhadap kedisiplinan guru, (4) terdapat pengaruh yang signifikan kepemimpinan kepala sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kompensasi secara simultan terhadap kedisiplinan guru, hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi ganda sebesar 0,836 atau koefisien determinasinya sebesar 69,80 %.

Page 5 of 17 | Total Record : 165


Filter by Year

2015 2025