cover
Contact Name
Yusuf Rahman
Contact Email
ushuluna@uinjkt.ac.id
Phone
+628128340778
Journal Mail Official
ushuluna@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Tangerang Selatan
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 24609692     EISSN : 2721754X     DOI : 10.15408
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta. The journal is published twice annually (June and December) and consists of articles on Qur’anic studies and interpretation, hadith and Prophetic tradition, religious studies, and mysticism.
Articles 225 Documents
Contesting the Discourse of Moderation: An Analysis of the MUI and Ministry of Religious Affairs’ Arguments on Interfaith Greetings Favian, Rifqi; Arsyad, Hanafi
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.46251

Abstract

I will examine the differences of opinion regarding interfaith greetings between MORA and MUI. Hence, I wish to address this issue in order to provide a reading in contested discourse and linking it with wasatiyya discourse. I shall do a critical discourse analysis using Norman Fairclough's theory. I will code data from each website (MUI and Kemanag) and news media to investigate the social and cultural background, as well as the three dimensions of discourse: texts, discursive practices, and social practices. Finally, I will look into the discourse production and consumption processes. As the result, MUI produced this discourse based on their ideological heritage that tends to securitize theological views that have a liberal tendency. However, in this issue of fatwa issued in 2004, MUI tends to foster more towards “respect in differences”. This is different from the Ministry of Religious Affairs which is more likely to embrace religious pluralism. For MUI and MORA, moderation is manifested in their respective concepts because they have similarities in respecting differences.
Distingsi Kaidah Uṣūl al-Tafsīr dan Uṣūl al-Fiqh Beserta Implementasinya Zulfiya, Ida
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.43658

Abstract

Artikel ini menguraikan perbedaan kaidah Uṣūl al-Tafsīr dan Uṣūl al-Fiqh beserta penerapannya. Permasalahan pada tulisan ini adalah adanya kerancuan antara keduanya, sehingga menimbulkan kesalahan pemahaman. Sebagai usaha menjawab permasalahan, peneliti menggunakan metode deskripsi-analitik. Penelitian menemukan bahwa keduanya berbeda dalam objek dan ruang lingkup kajiannya. Keduanya memiliki kaidah yang mayoritas berbeda, namun ada kaidah yang sama. Kesamaan ini terdapat pada enam bab, yakni amar dan nahyi, ‘am dan khas, muthlaq dan muqayyad, mantuq dan mafhum, mujmal dan mubayyan, serta muradif dan musytarak. Pada kaidah yang sama, terkadang juga berbeda dalam penerapannya. Pada saat yang sama, satu ayat Al-Qur’an dapat dianalisa berdasarkan perspektif keduanya dengan kaidah yang berbeda. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara keduanya, karena pada dasarnya, Uṣūl al-Fiqh merupakan salah satu komponen penting dalam kajian Uṣūl al-Tafsīr.
Dampak Gelar Keagamaan terhadap Otoritas Sosial: Studi Kritis terhadap Gus Miftah di Media Sosial Tiktok dalam Perspektif Budaya dan Agama Taufiqurrahman, Taufiqurrahman; Nugroho, Nugroho; Firdaus, Aristophan
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.47658

Abstract

Gelar "Gus" dalam lanskap sosio-kultural Indonesia secara tradisional merupakan kapital simbolik yang merepresentasikan otoritas warisan. Namun, kehadiran media sosial yang disruptif seperti TikTok telah menciptakan arena baru bagi negosiasi otoritas tersebut. Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) merepresentasikan dan menegosiasikan ulang otoritas tradisionalnya melalui strategi konten di TikTok, serta mengkaji dampaknya terhadap pergeseran makna otoritas keagamaan. Hasil analisis menunjukkan Gus Miftah menggunakan empat strategi utama: memanfaatkan silsilah sebagai fondasi otoritas tradisional, mengadaptasi konten dakwah ke dalam format hiburan yang sesuai dengan logika TikTok, membangun otoritas karismatik melalui interaksi yang egaliter dan merakyat, serta menggunakan dakwah kontroversial untuk meneguhkan citra inklusifnya. Fenomena ini menghasilkan model hibrida otoritas yang memadukan legitimasi tradisional, karisma personal, dan popularitas digital, serta menandai pergeseran lokus otoritas dari institusional ke personal-populer (dai-influencer). Meskipun mendorong wacana demokratisasi, fenomena ini juga membawa risiko komersialisasi dan pendangkalan makna, yang menyoroti pentingnya literasi keagamaan digital di era kontemporer.
Membaca Ulang Ayat-Ayat Nafkah: Tinjauan Metode Penafsiran Fazlur Rahman dan Amin Abdullah Ansori, Ikhwan; Zulkarnaen, Zulkarnaen
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.47447

Abstract

Paradigma tradisional menempatkan suami sebagai satu-satunya pencari nafkah (breadwinner), tetapi modernitas telah menggeser konsep ini melalui perubahan sosial-ekonomi dan budaya. Faktor seperti peningkatan pendidikan perempuan, kesetaraan gender, dan tekanan ekonomi mendorong model pembagian nafkah secara bersama antara suami dan istri (dual-earner household). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analitis-kritis, mengkaji ulang ayat-ayat nafkah dalam Al-Qur’an melalui teori Double Movement Fazlur Rahman dan paradigma kontekstual-progresif Amin Abdullah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai paradigma lama, seperti keadilan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap perempuan tetap relevan. Namun, perubahan struktur sosial-ekonomi serta budaya memicu pergeseran paradigma, dengan tetap mempertahankan nilai moral tertinggi (Teori sistem) seperti kasih sayang, Ridha, dan Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam keluarga. Dengan demikian, konsep nafkah kini lebih dinamis, menyesuaikan konteks zaman tanpa meninggalkan prinsip dasar Islam. 
Analisis Sisipan Sayyidinā dalam Selawat dengan Pendekatan Ziyādat al-Śiqah dan Idrāj dalam Ilmu Hadis Rizkiy, M. Inul
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.46352

Abstract

Allah SWT memerintahkan hamba-Nya di dalam al-Qur’an untuk berselawat kepada Nabi. Perintah ini diberikan contoh dan bimbingan dari Nabi, bagaimana lafal selawat itu. Persoalan yang muncul belakangan ini ialah penambahan sayyidinā dalam selawat. Sebagian tokoh membolehkan, sementara sebagian lagi melarangnya. Artikel ini mencoba menelusuri awal munculnya sayyidinā dalam selawat. Kedua, artikel ini membahas tambahan sayyidinā dengan kaca mata ziyādat al-ṡiqah dan idrāj dalam ilmu hadis, termasuk yang diperbolehkan ataukah tidak, dan bagaimana ilmplikasinya? Untuk mencapai tujuan ini, pendekatan yang digunakan ialah kaidah ziyādat al-ṡiqah dan idrāj. Penelitian ini juga merupakan penelitian kualitatif yang bersifat kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama sisipan itu muncul sekitar abad ke-9. Kedua penambahan sayyidinā tidak diperbolehkan menurut kaidah tersebut. Penambahan yang dierbolehkan hanya dalam rangka menjelaskan matan. Adapun tambahan ini tidak demikian. Implikasi dari tambahan ini hadis menjadi ḍa’īf, antara menjadi hadis mudraj atau syāż
Di Balik Tradisi Kitab Kuning Pesantren: Memverifikasi Otentisitas Hadis dalam Syarah Tijāni Al-Darārī Sinaga, Hasanuddin; Zakiyah, Aulia; Mahdi, Fahrizal
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.48313

Abstract

Penelitian ini menelaah kembali otentisitas sebelas hadis yang dikutip Syekh Muḥammad Nawawī al-Jāwī dalam Syarah Tijāni ad-Darārī. Melalui metode studi pustaka dan teknik takhrīj al-ḥadīth, setiap riwayat ditelusuri sumbernya. Hasilnya, sembilan kutipan sesuai dengan redaksi induk, sedangkan dua (hadis ke-3 dan ke-9) mengalami pergeseran lafaz. Dari sisi kualitas sanad, empat hadis terjamin oleh Ṣaḥīḥ al-Bukhārī dan Ṣaḥīḥ Muslim; tiga sanad lainnya (hadis ke-7, 8, 9) dinilai ṣaḥīḥ di luar Ṣaḥīḥayn; satu sanad (hadis ke-3) tergolong ḍaʿīf; dan tiga hadis hanya ditemukan pada kitab non-kanonik. Temuan ini menegaskan bahwa literatur kuning memuat kombinasi dalil kuat dan riwayat lemah, sehingga verifikasi selektif perlu dilakukan sebelum dijadikan hujjah akidah.
Rekonstruksi Hukum Perkawinan Lintas Agama: Analisis Tafsir Tematik dan Ushul Fikih Fakih, Zainun Kamaluddin
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v11i1.49553

Abstract

This article re-examines the Islamic prohibition of interfaith marriage through a combined thematic-tafsīr and uṣūl al-fiqh lens. It scrutinises three key Qurʾanic loci: (1) al-Baqarah 2:221, which restricts marriage with pre-Islamic Arab mushrikūn; (2) al-Mumtahanah 60:10, revealed after the 628 CE Ḥudaybiyyah treaty and conditioned by warfare; and (3) al-Māʾidah 5:5, which permits unions with the People of the Book. Philological analysis demonstrates that the term mushrik is not synonymous with Ahl al-Kitāb, so the Qurʾanic ban is context-bound rather than an absolute proscription on all non-Muslims. By critiquing classical ijtihād principles, the study argues that the prevailing proscription on Muslim women marrying non-Muslim men stems from sociopolitical considerations rather than unequivocal textual evidence and is therefore amenable to re-ijtihād in contemporary plural societies. The paper concludes that reconstructing a more inclusive fiqh of interfaith marriage is necessary to safeguard communal welfare and mitigate potential societal discord.
NILAI AGAMA DAN BUDAYA DALAM TRADISI BESAMAN Marzuki, Angga
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 6 No. 1 June 2020
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v6i2.15758

Abstract

This paper discusses the Besaman Ritual practice on Lingga Island, specifically in the Kelumu Village. Culture and tradition are the heritage and identity of a nation, both are passed down from generation to generation. It is not a static thing but dynamic. Although the change is not so big, but tradition allows to have changes to adapt to the context of the times and geographical conditions. Similar to similar practice in other places in the country, the Besaman tradition in Lingga Island, in Kelumu Village is the reading of Ratib Sammān. By conducting in-depth interviews and analyzing the data collected, this study finds that the implementation of this tradition contains the values of Religion and Education and several aspects of this tradition adapt to context.
EPISTEMOLOGI SYARAḤ HADIS DI PERGURUAN TINGGI: DISKURSUS GENEALOGIS TERHADAP TRANSMISI DAN TRANSFORMASI METODE SYARAḤ HADIS DI INDONESIA Taufik, Egi Tanadi
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 6 No. 1 June 2020
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v6i2.15798

Abstract

The term syaraḥ and its education in Islamic universities have been misunderstood by contemporary scholars. The practice of syaraḥ has been interpreted by them in a narrower meaning, namely as an effort to elaborate Islamic classical sources in doctrinal and involution discourses. Thus these perceptions brought about stereotypes upon the development of the education of sharh in universities. This paper observes the development of Hadith studies in a diachronic reading through analyzing the position of sharh in the history of Hadith studies in Indonesia from the 16th century until present time, and from the formative to reformative era. The development and dynamic of sharh in history show that each Hadith scholar improving its construction idiosyncratically as an effort to answer current challenges by each context.
GAGASAN ISLAM CINTA: SEBUAH TELAAH FILOSOFIS Ridwan, Deden
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 6 No. 1 June 2020
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v6i2.15816

Abstract

This article in fact gives an overview of Islam as love. Although never referred to as a sect or movement, Islam as love  belongs to the Sufis. Even it had been centuries, especially in the tasawuf or irfān tradition (sufismtheoretical-philosophical). Islam is built on three pillars: īmān (faith), islām (shari'a), and iḥsān (love). Frequently, we see the first two pillars so prequently used, while  people often forget that  akidah (faith) can be gained as a blessing when it is implemented jointly with the implementation of iḥsān (love). This element of “love” should be restored in religious life, as the third pillar of Islam. This is what we call “Islam mazhab cinta”. Islam that brings God’s mercy, which presents cordiality, not anger

Filter by Year

2015 2026


Filter By Issues
All Issue Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 12 No. 1 June 2026 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 2 December 2025 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025 Vol 10, No 2 (2024): USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 10 NO. 2 DECEMBER 2024 Vol 10, No 1 (2024): USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 10 NO. 1 JUNE 2024 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 10 No. 2 December 2024 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 10 No. 1 June 2024 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 9 NO. 2 DECEMBER 2023 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 9 NO. 1 JUNE 2023 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 2 DECEMBER 2022 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 1 JUNE 2022 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 7 NO. 2 DECEMBER 2021 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 7 NO. 1 JUNE 2021 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 6 NO. 2 DECEMBER 2020 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 6 NO. 1 JUNE 2020 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 2 December 2019 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 1 June 2019 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 2 December 2018 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 1 June 2018 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 2 December 2017 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 1 June 2017 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 2 December 2016 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 1 June 2016 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 2 December 2015 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 1 June 2015 More Issue