cover
Contact Name
Y. Th. Latupapua
Contact Email
vithaforester@gmail.com
Phone
+6281354051315
Journal Mail Official
jhppk.unpatti@gmail.com
Editorial Address
PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN PASCASARJANA UNPATTI Jl. Dr. Ir. M. Latumeten, Lantai 3 Kampus PGSD, Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Jurnal Hutan Pulau-Pulau Kecil : Jurnal Ilmu-Ilmu Kehutanan dan Pertanian
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 25411241     EISSN : 26218798     DOI : 10.30598/jhppk
Core Subject : Agriculture,
Tropical forests in the area of ??small islands have their own uniqueness. Its biodiversity and ecology depend on highly complex and interconnected systems. Managing forests in small islands in a sustainable manner require extensive application in various scientific disciplines. The small island forest journal (JHPPK) is a periodical scientific article and conceptual thinking on tropical forest management that covers all aspects of forest planning, forest policy, utilization of forest resources, forest society, forest ecology, forest inventory, silviculture, ecotourism, and regional ecosystem management. JHPPK also welcomes topics that directly or indirectly support the management of tropical forests, eg, economics, anthropology, social, and environment.
Articles 196 Documents
AIR CUCIAN BERAS SEBAGAI SUPLEMEN BAGI PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT Rosafira Putri Zistalia; Mira Ariyanti; Mochamad Arief Soleh
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.533 KB)

Abstract

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah pemberian unsur hara. Unsur hara yang biasa diberikan pada bibit kelapa sawit yaitu unsur N, P, K. Unsur hara tersebut dapat diperoleh dari pemberian pupuk organik, salah satunya yaitu yang berasal dari limbah air cucian beras. Air cucian beras banyak mengandung unsur yang bermanfaat bagi pertumbuhan bibit kelapa sawit diantaranya unsur N, P, K Mg, dan karbohidrat. Percobaan ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air cucian beras dengan konsentrasi dan interval waktu berbeda terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang pada bulan Januari 2018 sampai dengan bulan April 2018. Jenis tanah yang digunakan adalah Inseptisol dengan tipe curah hujan bertipe C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 13 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali dan tiap ulangan berjumlah 2 tanaman. Perlakuan meliputi pemberian pupuk anorganik dan pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Interval waktu pemberian air cucian beras setiap hari, 3 hari sekali, 6 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 100% dan interval penyiraman 3 hari sekali pada bibit kelapa sawit berpengaruh baik terhadap pertumbuhan lilit batang dan jumlah daun.
PENGELOLAAN AGROFORESTRY TRADISIONAL ”DUSUNG” BERBASIS KEARIFAN LOKAL “MASOHI” OLEH MASYARAKAT DESA HULALIU-KABUPATEN MALUKU TENGAH Mersy Sahureka; Moda Talaohu
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.05 KB)

Abstract

Pengelolaan agroforestry tradisional dusung sebagai salah satu model pemanfaatan lahan dan hutan di Maluku khususnya oleh masyarakat desa Hulaliu memberikan manfaat baik ekonomi, ekologi dan social budaya yang masih tetap dipertahankan hingga kini. Dan salah satu tradisi dan budaya yang masih tetap dilakukan oleh masyarakat dalam pengelolaan agroforestry yakni gotong-royong “masohi yang dilakukan mulai dari: persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pemasaran dan pengelohan pasca panen yang dirasakan sangat membantu meringankan dan memudahkan pekerjaan. Jenis-jenis kerja masohi diantaranya : 1) Masohi bilang 2) Masohi balas 3) Masohi kumpul. Sedangkan dari segi manajemen pengelolaan dusung di desa Hulaliu memiliki karakter dan ciri tersendiri didasarkan pada manajemen pengelolaan hutan yakni terdiri dari : perencanaan (planning), pengorganisasian (organization), pelaksanaan (actualization) dan pengawasan (controlling). Pengembangan yang dilakukan dalam pengelolaan agroforestry tradisional dusung sebagai upaya peningkatan kapasitas petani dan potensi dusung antara lain ; sosialisasi dan penyuluhan tentang pengelolaan agroforestry,l pengadaan peralatan produksi dan pemasaran hasil dusung, pengkayaan jenis tanaman di dusung dan pendampingan kelompok tani
PERSEPSI DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN AIR TERJUN MANUSAMA DI DESA URENG KABUPATEN MALUKU TENGAH Yemima Matulessy; Debby Pattimahu; Yosevita Latupapua
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.255 KB)

Abstract

Air terjun Manusama merupakan suatu kawasan objek air terjun alami yang saat ini mendapat perhatian pemerintah daerah dalam pengembangan. Sebagai langkah awal dalam pengembangan objek ekowisata, terlebih dulu harus diketahui persepsi dan peran serta masyarakat terkait pengembangan. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis persepsi dan peran serta masyarakat Desa Ureng Dalam Pengembangan Air Terjun Manusama. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dalam bentuk data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data observasi dan wawancara terkait bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan objek, dan pengisian kuisioner terkait persepsi dalam pengembangan. Sedangkan data sekunder terkait bentuk partisipasi dalam laporan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dalam pengembangan objek dan atraksi berada pada kriteria setuju (S) dengan nilai (3475,2), persepsi dalam pengembangan fasilitas memiliki nilai (3301,3) dengan kriteria sesuai (S) dan persepsi dalam pengembangan aksesibilitas dengan nilai (3830,2) berada pada kriteria sangat sesuai (SS). Hasil penilaian partisipasi masyarakat dalam perencanaan memiliki kriteria sesuai (S) dengan nilai (3002,4), sedangkan hasil penilaian partisipasi dalam pengelolaan memiliki kriteria sangat sesuai (SS), dengan nilai (3864,4).
FORMASI VEGETASI HABITAT PENELURAN PENYU BELIMBING (Dermochelys coreacea) DI PANTAI JAMURSBA MEDI KABUPATEN TAMBRAUW Ivon Sahureka; Jusmy D Puttuhena; Yosevita Latupapua
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.543 KB)

Abstract

Salah satu faktor pendukung keberhasilan dalam konservasi penyu adalah habitat peneluran yang cukup baik, menyangkut formasi vegetasi yang ada di dalam habitat peneluran penyu. Formasi vegetasi ini dapat mendukung kestabilan suhu secara lokal yang juga turut andil dalam mempertahankan populasi penyu di alam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi formasi vegetasi pada habitat pantai peneluran penyu belimbing (D. coriaceae) di Suaka Marga Satwa Jamursba Medi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi dan analisis vegetasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di pantai Jamursba Medi terdapat dua tipe hutan, yaitu hutan pantai dan hutan basah dataran rendah. Tingkat pohon di dominasi oleh 9 jenis tumbuhan dengan nilai INP tiap jenis antara 8,67%-23,18% ( 14,38%) dan kerapatan tiap jenis antara 70-240 batang/ha ( = 65 batang/ha), tingkat tiang di dominasi oleh 10 jenis tumbuhan dengan nilai INP tiap jenis antara 10,05%-40,14% ( = 19,71%) dan kerapatan tiap jenis antara 100-800 batang/ha ( = 290 batang/ha). Tajuk bawah pada vegetasi pantai di dominasi oleh 5 jenis tumbuhan, sedangkan pada hutan dataran rendah di dominasi oleh rotan dan liana. Hasil pengamatan pada tingkat semai sangat sedikit karena tajuk atau kanopi sangat rapat. Keragaman pohon ( ) pada kedua tipe hutan sangat tinggi yaitu = 2,788 dan = 3,424.
ANALISIS PENYEBARAN LASA (Castanopsis buruana Miq) SEBAGAI POHON PENGHASIL PANGAN ALTERNATIF DI SERAM BAGIAN BARAT MALUKU Irwanto Irwanto; Andri Tuhumury; Andjela Sahupala
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.941 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran Lasa (Castanopsis buruana Miq) dan pemanfaatannya sebagai bahan makanan alternatif oleh masyarakat Seram Bagian Barat Provinsi Maluku. Analisis penyebaran Lasa (Castanopsis buruana Miq) dipergunakan metode petak tunggal pada berbagai ketinggian tempat dengan ukuran petak 200 x 200 meter. Dalam petak tunggal ini dibuat sub-sub petak dengan ukuran sesuai tingkat pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukan penyebaran pohon Lasa (Castanopsis buruana Miq) berada pada ketinggian di atas 300 mdpl. Potensi penyebaran pada ketinggian 300, 400, 500 mdpl di Desa Hunitetu adalah sebagai berikut 120 pohon/ha, 135 pohon/ha, dan 130 pohon/ha sedangkan Desa Murnaten sebesar 105 pohon/ha, 130 pohon/ha, dan 135 pohon/ha. Indeks Morisita menunjukkan Lasa (Castanopsis buruana Miq) memiliki pola sebaran mengelompok (clumped) dengan struktur populasi bentuk kurva “J” terbalik atau memiliki jumlah individu paling banyak pada tingkat permudaan. Masyarakat Desa Hunitetu memanfaatkan biji Lasa (Castanopsis buruana Miq) sebagai cemilan dan snack serta diolah menjadi pengganti beras, dimasak dengan air sebagai nasi atau dimasak dengan santan sebagai bubur.
KONSERVASI BURUNG GOSONG MALUKU (Eulipoa wallacei) BERBASIS MASYARAKAT DI DESA SIMAU, KECAMATAN GALELA Ronald Kondo Lembang,; Sunarno Sunarno; O F W Tutupary; B R Toisutta; Bayu Sadjab
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (943.125 KB)

Abstract

Desa Simau, Kecamatan Galela merupakan salah satu tempat yang menjadi habitat bertelur Gosong Maluku (Eulipoa wallacei) atau dalam bahasa lokal disebut Mamoa yang terbesar di Maluku Utara. Burung ini merupakan salah satu jenis endemik wilayah Maluku dan Maluku Utara dan telah dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Ancaman terbesar terhadap burung ini adalah pengambilan telur oleh masyarakat untuk diperdagangkan. Upaya konservasi terhadap burung Gosong Maluku ini telah dilakukan oleh masyarakat Desa Simau dengan cara-cara yang tradisional sebagai bentuk kesadaran terhadap pentingnya habitat dan satwa endemik ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendokumentasikan teknik konservasi terhadap burung Gosong Maluku (Eulipoa wallacei) yang dilakukan oleh masyarakat Desa Simau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara, observasi lapangan dan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bentuk – bentuk konservasi berbasis masyarakat terhadap satwa burung Gosong Maluku (Eulipoa wallacei) meliputi pengetahuan lokal teknik pengambilan telur yang memperhatikan prinsip kelestarian, teknik konservasi in situ yaitu cara pengeraman telur berdasarkan pengetahuan lokal masyarakat dengan tahapan penggalian lubang telur, penanaman telur, dan penimbunan telur. Konsep konservasi terhadap burung Gosong Maluku ini masih dipraktekkan sampai sekarang oleh masyarakat dan dapat dijadikan sebagai model atau contoh konservasi berbasis masyarakat lokal.
PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA (Cocos nucifera L.) DENGAN PEMBERIAN AIR KELAPA Mira Ariyanti; Cucu Suherman; Yudithia Maxiselly; Santi Rosniawaty
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.281 KB)

Abstract

Di Indonesia sebagian besar perkebunan kelapa merupakan perkebunan rakyat dimana teknik budidaya yang diterapkan belum diperhatikan dengan baik yang menyebabkan produktivitasnya rendah. Penggunaan input misalnya air kelapa sebagai ZPT alami diharapkan dapat menjadi teknologi yang bermanfaat dalam mengembangkan salah satu aspek teknik budidaya dalam pengelolaan tanaman kelapa. Air kelapa mengandung banyak bahan mineral dan hormon sitokinin dan auksin yang dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa muda terhadap pertumbuhan tanaman kelapa belum menghasilkan (TBM). Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Ciparanje Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor Kabupaten Sumedang pada bulan Maret 2017 – Mei 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan air kelapa yang terdiri dari tiga taraf konsentrasi yaitu A = 100% air kelapa, B = 50% air kelapa + 50% air, C = 100% air yang masing-masing diulang enam kali. Uji lanjut menggunakan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air kelapa dengan konsentrasi 100% menghasilkan respons terbaik pada pertumbuhan luas daun kelapa pada fase TBM. Air kelapa dengan konsentrasi 50% cenderung menghasilkan peningkatan pertumbuhan tinggi kelapa TBM.
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TERNAK KAMBING KACANG PADA KONDISI PEDESAAN DI MALUKU G Joseph
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.529 KB)

Abstract

Penelitian lapang untuk mengetahui produktivitas ternak kambing lokal (kacang) pada kondisi pedesaan telah dilakukan dengan melibatkan 30 orang peternak sebagai kooperator. Penelitian ini menggunakan 138 ekor ternak kambing kacang berumur 1-1,5 tahun dengan berat rata-rata 12,65 kg (10,5-14,8 kg) yang dibagi dalam dua kelompok. Kelompok I: menggunakan 110 ekor ternak kambing terdiri dari 10 ekor jantan dan 100 ekor betina dan ditempatkan dalam kandang individu berbentuk panggung. Pakan yang diberikan berupa hijauan (rumput lapangan + daun waru) dan pakan tambahan yaitu tepung jagung dan tepung ikan teri dengan perbandingan 9:1. Lokasi penelitian adalah di desa Ohoitel dan Ohoitahit. Kelompok II: menggunakan 28 ekor ternak kambing yang terdiri dari 5 ekor jantan dan 23 ekor betina dengan sistem pemeliharaan secara tradisional sebagai kontrol yang berlokasi di desa Wain Baru. Parameter yang diamati yaitu: tingkat kebuntingan (fertilitas), jumlah anak sekelahiran (litter size), berat lahir, pertambahan bobot badan dan tingkat kematian (mortalitas). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah ternak yang bunting (49 dan 5); jumlah anak sekelahiran (1,4 dan 1,0); berat lahir (1,390 dan 857,75 gram), rataan pertambahan berat badan (23,39 dan 19,57 gram/ekor/hari) serta tingkat kematian (16,36 dan 17,86) masing-masing untuk kelompok I dan kelompok II.
POTENSI WILAYAH DAN DAYA DUKUNG LAHAN DALAM MENUNJANG KETERSEDIAAN PAKAN TERNAK BAGI PENGEMBANGAN SAPI POTONG (STUDI KASUS DI KAMPUNG SAKABU KABUPATEN RAJA AMPAT) Insun Sangadji; Rajab Rajab
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.264 KB)

Abstract

Perkembangan ternak sapi potong berkorelasi positif dengan ketersediaan hijauan sebagai sumber pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi wilayah dan daya dukung lahan dalam menunjang ketersediaan pakan ternak bagi pengembangan sapi potong yang dipelihara oleh penduduk lokal setempat di kampung Sakabu Distrik Salawati Kabupaten Raja Ampat. Penelitian menggunakan metode survei dengan cara pengamatan langsung di lapangan. Peubah yang diamati meliputi: iklim, jenis tanah dan topografi, luas lahan, sistem penggunaan lahan, dan daya dukung lahan (kapasitas tampung), serta populasi sapi potong yang dipelihara. Hasil penelitian menunjukkan potensi maksimum sumber daya lahan sebesar 6237,703 ST dan jumlah populasi yang ada sebanyak 35,2 ST. Berdasarkan hasil analisis potensi wilayah dan daya dukung lahan bagi penyediaan sumber pakan ternak maka jumlah sapi potong yang masih dapat dikembangkan di kampung Sakabu sebesar 6202,50 ST.
ANALISIS LAHAN KRITIS PADA KPHL UNIT XIV KOTA AMBON Zusana Sahupala; Gun Mardiatmoko; Agustinus Kastanya
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.146 KB)

Abstract

Perambahan hutan terjadi di mana-mana ketika masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat sumber daya hutan sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi sumber daya hutan secara berlebih sehingga terjadi degradasi dan deforestasi yang berdampak luas pada sistem tata air, berbagai daerah aliran sungai seperti meningkatnya pengikisan tanah yang mengakibatkan lahan-lahan yang tidak produktif/kritis, meningkatnya erosi dan sedimentasi, menurunnya keanekaragaman hayati, rusaknya berbagai habitat baik flora maupun fauna, serta terancamnya ekosistem hutan secara keseluruhan. Lahan kritis merupakan tanah yang mengalami atau dalam proses kerusakan kimia, fisik, dan biologi yang dapat mengganggu atau kehilangan fungsinya di dalam lingkungan. Kondisi ini dapat merusak tata air dan lingkungan sekitarnya. Dampak dari lahan kritis adalah penurunan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta banjir pada musim hujan. Analisa terhadap karakteristik lahan kritis pada KPHL Unit XIV Kota Ambon sangat diperlukan sebagai acuan untuk melindungi vegetasi hutan yang ada di dalam areal hutan tersebut. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi lahan kritis pada KPHL Unit XIV Kota Ambon. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pada Blok Inti memiliki lahan kritis seluas 1.221,15 ha atau 70,74 % dari luas Blok Inti dan lahan sangat kritis seluas 111,47 ha atau 1,48 % dari luas Blok Inti. Sementara pada Blok Pemanfaatan memiliki lahan kritis seluas 51,37 ha atau 3,91 % dari luas Blok Pemanfaatan

Page 6 of 20 | Total Record : 196