cover
Contact Name
Bakhoh Jatmiko
Contact Email
djatcair@gmail.com
Phone
+6285284849000
Journal Mail Official
journal@sttni.ac.id
Editorial Address
Jl. SANI, Bokoharjo, Kadisoka, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, 55571
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi
ISSN : 20888236     EISSN : 27220079     DOI : https://doi.org/10.46495/sdjt.v9i1.57
SANCTUM DOMINE : Jurnal Teologi is a theological journal focusing on publishing the original research articles, review articles from contributors, and the current issues related to theological issues. The main objective of SANCTUM DOMINE : Jurnal Teologi is to provide a platform for the international scholars, academicians, and researchers to share the contemporary thoughts in theology discourses especially on Wesleyan-Arminian Theology, Biblical studies on Old Testament and New Testament, Apologetics, Christian Education, Christian Counseling, Contemporary Theology, Church History. of biblical studies in Old and New Testament, Apologetics, Christian Education, Christian Counseling, and Contemporary Theology.
Articles 163 Documents
Keadilan dan Yobel: Refleksi Teologis Atas Redistribusi Ekonomi dalam Hukum Alkitab Edi Purwanto
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 14 No 2 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v14i2.319

Abstract

Artikel ini mengkaji prinsip-prinsip keadilan ekonomi dalam hukum Alkitab, khususnya melalui analisis terhadap hukum Yobel dalam Imamat 25. Dengan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini menyintesis literatur teologis dan etika ekonomi untuk mengevaluasi relevansi hukum-hukum sosial alkitabiah terhadap tantangan distribusi kekayaan dan keadilan sosial dalam ekonomi modern. Hukum Yobel, tahun sabat, dan peraturan gleaning diinterpretasikan sebagai ekspresi keadilan struktural yang didasarkan pada konsep kepemilikan sebagai penatalayanan dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Temuan menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak hanya bersifat historis atau normatif, tetapi memiliki implikasi praktis bagi reformasi agraria, penghapusan utang, etika bisnis, dan kebijakan kesejahteraan. Artikel ini menegaskan bahwa keadilan ekonomi dalam Alkitab adalah bagian integral dari mandat teologis untuk membangun sistem sosial yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Inkarnasi dalam Sejarah Pemikiran Teologi: Telaah Epistemologis dan Historis terhadap Gagasan Allah Menjadi Manusia dalam Tradisi Gereja Jeppri Nainggolan; Edison Patalatu
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 14 No 2 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v14i2.322

Abstract

This research aims to examine epistemologically the concept of incarnation, especially Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara epistemologis konsep inkarnasi, khususnya keyakinan bahwa Allah menjadi manusia di dalam Yesus Kristus, sebagaimana tercermin dalam tradisi pemikiran teologis di dalam gereja sepanjang sejarah. Inkarnasi adalah fondasi utama dalam teologi Kristen yang membentuk doktrin Kristologi dan sangat mempengaruhi pemahaman gereja tentang keselamatan, wahyu, dan keberadaan manusia. Studi ini mengkaji bagaimana konsep inkarnasi terbentuk, dikembangkan, dan dipertahankan dalam wacana teologis dari gereja mula-mula hingga era modern, dengan fokus pada konstruksi epistemologis yang mendasari penerimaan doktrin. Pendekatan kualitatif-analitis digunakan untuk mengevaluasi pemikiran tokoh-tokoh penting seperti Irenaeus, Athanasius, Agustinus, Anselmus, Karl Barth, dan teolog kontemporer, untuk memahami kerangka pikiran mereka terhadap realitas inkarnasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara epistemologis gagasan tentang inkarnasi Allah menjadi manusia dalam tradisi gereja, dengan menelusuri sejarah pemikiran teologis yang membentuk dan mempengaruhi doktrin tersebut, serta mengevaluasi bagaimana konsep inkarnasi dipahami, dijelaskan, dan diwariskan dalam berbagai periode perkembangan teologi Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tentang inkarnasi tidak statis, melainkan hasil dari konstruksi pengetahuan yang terus berkembang seiring dengan perubahan konteks historis, filosofis, dan eklesiologis. Epistemologi teologis inkarnasi dibentuk melalui dialog antara iman, akal, dan pengalaman gerejawi. Dengan demikian, inkarnasi bukan hanya peristiwa metafisik, tetapi juga representasi dari kebenaran iman yang memiliki implikasi epistemologis yang mendalam dalam membentuk cara orang Kristen memahami Tuhan dan dunia. Studi ini menyimpulkan bahwa memahami inkarnasi secara epistemologis memungkinkan gereja untuk merenungkan kembali fondasi imannya dalam konteks waktu yang selalu berubah. the belief that God became human in Jesus Christ, as reflected in the tradition of theological thought in the church throughout history. The Incarnation is the primary foundation in Christian theology that forms the doctrine of Christology and profoundly influences the church's understanding of salvation, revelation, and human existence. This study examines how the concept of incarnation was formed, developed, and defended in theological discourse from the early church to the modern era, with a focus on the epistemological constructions underlying doctrinal acceptance. A qualitative-analytical approach is used to evaluate the thinking of important figures such as Irenaeus, Athanasius, Augustine, Anselm, Karl Barth, and contemporary theologians, in order to understand their frame of mind towards the reality of the incarnation. This research aims to examine epistemologically the idea of God's incarnation as human in the church tradition, by tracing the history of theological thought that shaped and influenced the doctrine, as well as evaluating how the concept of the incarnation was understood, explained, and inherited in different periods of Christian theology development. The results of the study show that the understanding of the incarnation is not static, but rather the result of a construction of knowledge that continues to evolve along with changing historical, philosophical, and ecclesiological contexts. The theological epistemology of the incarnation is formed through a dialogue between faith, reason, and ecclesiastical experience. Thus, the incarnation is not only a metaphysical event, but also a representation of the truth of faith that has profound epistemological implications in shaping the way Christians understand God and the world. The study concludes that understanding the incarnation epistemologically allows the church to rethink its faith foundations in the ever-changing context of time.
Social-Emotional Learning: A Proposal for Further Research in the Context of Indonesian Christian Schools Yen Nie Oh; Keren Watulingas
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 14 No 2 (2025): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v14i2.323

Abstract

Teacher dependence on textbooks without understanding the underlying philosophy of the authors becomes the background of this study. The purpose of this research is to describe the perceptions of Science teachers at SMP SLH Curug, Tangerang, in using Science textbooks to achieve the school's vision and mission. Specifically, this study explores teachers’ perceptions, underlying rationale, strategies, challenges, and reflections in using textbooks to support the school's vision and mission. A qualitative phenomenological method was employed, using in-depth interviews with four Science teachers. The results of the study reveal five main themes: compliance with Indonesian government standards, Biblical Christian Worldview Contextual Themes, enduring understanding, explanation through examples, and reflection. The results show that Science teachers perceive textbooks as teaching aids which should be aligned with the school’s vision and mission. Five underlying rationales were identified in how teachers use the textbooks, along with four main challenges in integrating textbooks with a Biblical Christian Worldview. Teacher reflections emphasized awareness, responsibility, and pedagogical creativity in textbook use. It is concluded that the Science teachers at SMP SLH Curug applied Christian educational philosophy in their use of Science textbooks. It is recommended to establish a Professional Learning Community (PLC) to assist teachers in using textbooks based on a Biblical Christian Worldview and for further research to be conducted on developing a model for textbook integration in Christian education.
Menerima dan Memberdayakan dalam Kerapuhan: Membangun Liturgi Partisipatif bagi Umat dengan Disabilitas Eunike Itamar Pareang
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.328

Abstract

Gereja adalah rumah bagi semua orang untuk dapat berpartisipasi di dalamnya. Namun kenyataan yang ada bahwa diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas masih terjadi di dalam gereja. Hal ini dapat ditemukan dari berbagai sisi di gereja salah satunya adalah liturgi. Ibadah merupakan pengalaman bersama umat, tetapi sayangnya orang dengan disabilitas terkadang tidak difasilitasi untuk dapat berpartisipasi dan merasakan pengalaman bersama itu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gereja seharusnya menjadi ruang pengalaman bersama untuk seluruh umat tanpa kecuali sehingga gereja terpanggil untuk melibatkan orang dengan disabilitas dalam pelayanan di gereja, salah satu bentuknya adalah berperan dalam ibadah. Gereja inklusi bukan soal akses yang cukup untuk orang dengan disabilitas, tetapi penerimaan kerapuhan dan relasi dengan mereka membuka ruang untuk orang dengan disabilitas diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam liturgi.  
Peran Gereja dalam Membentuk Karakter Kristiani Generasi Z Berdasarkan Amsal 22:6 Karsiah Karsiah; Firman Panjaitan
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.340

Abstract

Peluang mendidik Generasi Z yang hidup di era digital akan tertutup jika hanya ada dalam ranah teoretis. Dibutuhkan sebuah bentuk pendidikan yang mengintegrasikan antara teori dan praktik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menawarkan platform pendidikan secara Kristiani untuk membentuk karakter Generasi Z berdasarkan Amsal 22:6. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pendekatan eksposisi dan analisis teks terhadap Amsal 22:6. Temuan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah platform Pendidikan karakter terhadap Generasi Z menurut Amsal 22:6 adalah pendidikan moral yang membentuk karakter harus dimulai sejak kanak-kanak dan senantiasa berfokus pada kaum muda. Pendidikan dijalankan menurut jalan Tuhan yang patut dan kontekstual bagi Generasi Z. Dengan demikian penelitian ini hendak meletakkan integrasi Amsal 22:6 sebagai platform pendidikan karakter kontekstual bagi Gen-Z secara khusus dan aplikatif sebagai bentuk dari kebaharuan penelitian.
Makna Kasih dalam Imamat 19:18 menurut Tinjauan Etika Deontologis Immanuel Kant Tabitha Laras Wasti Septaningrum; Merry Kristina Rungkat
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.346

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menafsirkan makna kasih dalam Imamat 19:18 melalui perspektif etika deontologis Immanuel Kant, sebuah prinsip moral yang menekankan tanggung jawab terhadap sesama tanpa pamrih. Pendekatan etika deontologis Kant digunakan untuk menyoroti dimensi kewajiban moral dalam perintah kasih tersebut, di mana tindakan moral dinilai bukan dari akibatnya, melainkan dari motivasi yang bersumber pada rasa hormat terhadap hukum moral. Melalui analisis tekstual dan refleksi filosofis, penelitian ini menunjukkan bahwa kasih dalam Imamat 19:18 tidak sekadar merupakan emosi interpersonal, melainkan suatu bentuk ketaatan etis yang berakar pada kesadaran akan kehendak Allah sebagai sumber moralitas. Dengan demikian, konsep kasih Alkitabiah sejalan dengan prinsip Kantian tentang tindakan moral yang dilakukan demi kewajiban, bukan demi keuntungan pribadi. Artikel ini diharapkan memperkaya dialog antara teologi biblika dan filsafat moral modern, serta menawarkan pemahaman etis yang lebih mendalam tentang kasih sebagai dasar kehidupan religius dan sosial.
Non-Resepsi atas Doktrin Kristologi dalam Mormonisme, Gereja Kristus Ilmuwan, dan Saksi Yehuwa: Analisis Kritis dan Tanggapan Newmanian Frederick Ray Popo
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.351

Abstract

Penelitian teologi dengan metode studi pustaka sistematis-historis ini membahas non-resepsi atas Kristologi Konsilier dalam tiga aliran keagamaan modern yang mengklaim berakar pada Kekristenan: Mormonisme, Gereja Kristus Ilmuwan (Church of Christ, Scientist), dan Saksi-Saksi Yehuwa. Ketiganya menolak pengakuan iman kristiani tradisional tentang Yesus Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Mormonisme memandang Yesus sebagai anak jasmani dari Allah Bapa yang memiliki tubuh dan berkembang menjadi ilahi. Saksi-Saksi Yehuwa menyangkal keilahian Kristus, menyamakan-Nya dengan malaikat Mikael, dan menolak doktrin Tritunggal. Sementara itu, Gereja Kristus Ilmuwan mengajarkan bahwa Yesus hanyalah manusia yang menunjukkan prinsip “Kristus”, dan menolak kenyataan penderitaan, dosa, serta kebangkitan tubuh. Non-resepsi itu berakar dari konteks hidup para pendiri ketiga aliran tersebut. Penelitian ini juga menggunakan teori illative sense dan grammar of assent dari John Henry Newman. Kajian ini menyimpulkan bahwa kerangka Newman menawarkan sebuah jalur hermeneutis yang produktif untuk memahami akar epistemik dari perpecahan doktrinal, sekaligus menawarkan sebuah model untuk re-edukasi iman yang berpusat pada geliat komunitas dan tradisi, sehingga berkontribusi pada wacana kontemporer tentang perkembangan doktrin dan dialog ekumenis.
Reassessing the Emerging Church Movement in Indonesia: An Evangelical Theological Review Pieter G.O. Sunkudon; Ester Lengkong
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.354

Abstract

This study reassesses the Emerging Church Movement (ECM) and its theological implications for Evangelical churches in Indonesia through a Systematic Literature Review (SLR). The review synthesises 41 peer-reviewed sources published between 2013 and 2025, analysed thematically using both deductive and inductive coding. Originating in Western postmodern contexts as a reaction to the perceived rigidity of traditional churches, ECM’s influence has expanded into Indonesia, where it interacts with a theologically diverse and culturally plural society. The literature reveals a striking paradox: while ECM promotes participatory worship, digital engagement, and contextual expressions of faith that help churches reach younger generations, it also exhibits tendencies toward relativism, pluralism, and syncretism that threaten the Evangelical commitment to the authority of Scripture and the exclusivity of salvation in Christ. The analysis argues that ECM should neither be dismissed outright nor accepted uncritically. Instead, Evangelical churches must discern between constructive and compromising elements, embracing innovation only insofar as it aligns with biblical truth. Such discernment enables the Indonesian church to remain faithful to its theological foundations while maintaining cultural relevance amid rapid social transformation.
Bolehkah Pemuda Kristen Mencari Pasangan Hidup Melalui Media Sosial? Suatu Tinjauan Etika Kristen Kontekstual Masa Kini Anto Oey; Yanto Paulus Hermanto
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.371

Abstract

Perubahan pola relasi akibat kehadiran media sosial menimbulkan pertanyaan penting di kalangan pemuda Kristen, khususnya tentang bolehkah mencari pasangan hidup melalui platform digital. Fenomena ini tidak hanya menyangkut aspek sosial, tetapi juga menyentuh dimensi iman, kekudusan, dan kesaksian gereja di tengah masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka, mencakup eksegesis teks Alkitab, refleksi teologi praktis, dan tinjauan etika Kristen kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan ada resiko bagi pemuda Kristen  yang mencari pasangan hidup melalui media sosial. Hal ini harus dipahami secara tepat oleh semua pemuda pemudi Kristen yang sedang mencari pasangan hidup. Alkitab mengajarkan bahwa hubungan menuju pernikahan harus didasari kasih, kesetiaan, dan kekudusan. Media sosial bisa digunakan dengan baik jika dilakukan secara terbuka, jujur, dan komitmen serius menuju pernikahan yang kudus.
Orientasi Identitas Gereja di Tengah Transhumanisme: Analisis Technological Liturgies Frans Best Soma Marpaung; Evans Sagala
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.372

Abstract

Tulisan ini menelaah bagaimana transhumanisme dan teknologi digital membentuk ulang pemahaman manusia, serta implikasinya terhadap identitas gereja. Pergeseran antropologis yang digerakkan oleh logika kendali digital menunjukkan bahwa manusia semakin dipahami bukan sebagai ciptaan yang berakar pada relasionalitas, tetapi sebagai proyek teknologis yang dapat dioptimalisasi. Berangkat dari metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan konstruktif, penelitian ini memanfaatkan gagasan technological liturgies sebagai kerangka analitis untuk membaca dinamika pembentukan afeksi dan imajinasi manusia dalam budaya digital. Temuan penelitian mengemukakan tiga orientasi yang menolong gereja merumuskan identitasnya di tengah dunia yang dimediasi algoritma, yakni relasionalitas sebagai dasar kehidupan bersama, ritme kehadiran yang memulihkan makna, dan orientasi kritis terhadap konfigurasi teknologi. Ketiga orientasi ini membentuk suatu liturgi tandingan yang menata ulang disposisi umat dan memelihara martabat manusia sebagai ciptaan. Penelitian ini menegaskan bahwa identitas gereja tetap dapat diartikulasikan secara kreatif dan kontekstual tanpa kehilangan akar teologisnya di tengah perubahan teknokultural.