cover
Contact Name
zulkarnain
Contact Email
lumbungfarmasiummat@gmail.com
Phone
+6281944867967
Journal Mail Official
lumbungfarmasiummat@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Framasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram Jl. K.H Akhmad Dahlan No.1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lumbung Farmasi : Jurnal Ilmu Kefarmasian
ISSN : 27155943     EISSN : 27155277     DOI : 10.31764
Core Subject : Health,
Penelitian Di Bidang Farmasi (Farmasi Bahan Alam, Farmasi Klinis & Komunitas, Farmasi Tekonologi, Kimia Farmasi, dan Biofarmasetika)
Articles 232 Documents
Gambaran Pengobatan dan Drp’s Gastritis Pada Pasien Dewasa Rawat Jalan di Puskesmas Sungai Dua Kabupaten Banyuasin Reza Agung Sriwijaya; Lidia Lidia; Oktarika Widiyani Ra’uf
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.7209

Abstract

ABSTRAKGastritis adalah terjadinya inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung yang berkembang bila mekanisme proteksi mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain. Gastritis dapat disebabkan oleh infeksi Helicobacteria pylori, pola makan, stres, dan efek samping dari obat NSAID dengan jumlah populasi penderita meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran pengobatan gastritis dan melihat profil DRP’s di puskesmas Sungai Dua Kabupaten Banyuasin. Methode penelitian ini deskriptif kuantitatif, secara observasi menggunakan data retrospektif berupa rekam medis. Tehnik pengambilan sampel total sampling, populasi 90 pasien dewasa terdiagnosa gastritis periode oktober sampai desember 2019, diperoleh 73 sampel yang sesuai kriteria inklusi yaitu pasien dengan usia 18 sampai 59 tahun terdiagnosa gastritis dengan atau tanpa penyakit penyerta. Hasil penelitian pasien gastritis di paling tinggi jenis kelamin perempuan 78% pada usia lansia awal  rentang 46 sampai 59 tahun 55%, pekerjaan ibu rumah tangga dengan pendidikan terakhir SD 41%,  dengan gastritis penyerta 59%,  diagnosa penyerta terbanyak rheumatoid arthritis 56% serta mengkonsumsi obat golongan NSAID natrium diclofenak 33%,  adanya kejadian Drug Related Problems (DRPs) pada interaksi obat potensi moderat sebesar 33 % minor 67%, dosis terlalu rendah sebesar 15%, durasi pengobatan terlalu singkat sebesar 5%, duplikasi pengobatan  sebesar 16%, obat diberikan tanpa indikasi sebesar 12%. Kata kunci : Gastritis; DRPS; Rekam medis.ABSTRACTGastritis is an inflammation of the mucosal and submucosal layers of the stomach that develops when the mucosal protection mechanism is filled with bacteria or other irritants. Gastritis can be caused by Helicobacteria pylori infection, diet, stress, and side effects of NSAID drugs with the number of sufferers increasing every year. This study aims to look at the description of gastritis treatment and see the profile of DRP's at the Sungai Dua Public Health Center, Banyuasin Regency. This research method is descriptive quantitative, by observation using retrospective data in the form of medical records. The sampling technique was total sampling, a population of 90 adult patients diagnosed with gastritis from October to December 2019, obtained 73 samples that matched the inclusion criteria, namely patients aged 18 to 59 years diagnosed with gastritis with or without comorbidities. The results of the study of gastritis patients were female, the highest was 78% in the early elderly ranging from 46 to 59 years 55%, housewife occupation with the last education of elementary school 41%, with accompanying gastritis 59%, the most comorbid diagnosis of rheumatoid arthritis 56% and consuming NSAID class of drugs diclofenac sodium 33%, the incidence of Drug Related Problems (DRPs) in moderate potency drug interactions of 33% minor 67%, dose too low by 15%, duration of treatment too short by 5%, duplication of treatment by 16%, drug given without indication by 12%. Keywords : Gastritis; DRPS; Medical records. 
Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien TB Paru Dewasa Di Puskesmas Putri Ayu Nike Nur Ahdiyah; Medi Andriani; Lili Andriani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.6817

Abstract

ABSTRAKPenyakit Turberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kegagalan pengobatan penderita TB paru adalah tingkat kepatuhan yang masih rendah. Kepatuhan adalah tingkat perilaku penderita dalam mengambil suatu tindakan pengobatan, misalnya dalam menentukan kebiasaan hidup sehat dan ketetapan berobat. Kepatuhan terhadap pengobatan panjang Tuberkulosis merupakan kunci dalam pengendalian Tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan pengunaan obat anti tuberkulosis pada pasien TB paru di Puskesmas Putri Ayu. Penelitian ini termasuk penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Pengambilam data mengunakan kuisoner yang di buat berdasarkan MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kepatuhan pengunaan obat anti tuberkulosis sebanyak 26 responden (76,47%) memiliki kepatuhan tinggi, 7 responden (20,58%) memiliki kepatuhan sedang, dan 1 responden (2,95%) memiliki kepatuhan rendah jadi berada pada tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Putri Ayu kategori kepatuhan tinggi dan untuk uji chi squre hanya pengahasilan yang memiliki hubungan antar tingkat kepatuhan.Kata kunci : Tuberkulosis; Obat Anti Tuberkulosis; Tingkat Kepatuhan; MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale).ABSTRACTTurberculosis is a chronic infectious disease caused by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. One of the factors that causes the high rate of treatment failure for pulmonary TB patients is the low level of adherence. Compliance is the level of patient behavior in taking a treatment action, for example in determining healthy living habits and treatment decisions. Adherence to long-term tuberculosis treatment is the key in controlling tuberculosis. This study aims to determine the level of adherence to the use of anti tuberculosis drugs in pulmonary TB patients at Putri Ayu Health Center. This study is a observational study with a cross-sectional design. Collecting data using a questionnaire that was made based on MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale) and interviews. The results showed that the level of adherence to the use of anti tuberculosis drugs as many as 26 respondents (76.47%) had high adherence, 7 respondents (20.58%) had moderate adherence, and 1 respondent (2.95%) had low adherence so they were at the level of compliance of pulmonary tuberculosis patients at the Putri Ayu Health Center in the high compliance category and for the chi squre test only income has a relationship between compliance levels.Keywords : Tuberculosis; anti-tuberculosis drugs; adherence level; MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale).
Gambaran Kualitas Hidup Pasien COVID-19 Di Provinsi Nusa Tenggara Barat Mahacita Andanalusia; Zulyadaen Zulyadaen; Nurul Qiyaam; Baiq Leny Nopitasari; Anna Pradiningsih
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.7160

Abstract

ABSTRAKCOVID-19 merupakan penyakit yang menjadi pandemi di seluruh dunia sejak Desember 2019. Di Nusa Tenggara Barat, prevalensi COVID-19 terus meningkat hingga tahun 2021. Selain kondisi klinis, COVID-19 juga memberikan dampak pada kualitas hidup pasien COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien COVID-19 di provinsi Nusa Tenggara Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah cross sectional menggunakan kuesioner SF-36 yang didistribusikan secara online. Responden yang digunakan sebagai subyek penelitian adalah pasien yang terdiagnosa COVID-19 dengan kategori ringan dan sedang di provinsi Nusa Tenggara Barat, berusia 12-55 tahun, dan bersedia menjadi responden. Hasil yang didapatkan dari 93 responden menunjukkan bahwa nilai fungsi fisik sebesar 64,35 ±11,54, keterbatasan fisik sebesar 47,58 ± 6,98, nyeri tubuh sebesar 68,79 ± 1,17, kesehatan secara umum sebesar 61,51 ± 6,43, vitalitas sebesar 56,82 ± 14,52, fungsi sosial sebesar 58,87 ± 14,44, keterbatasan emosional sebesar 45,16 ± 6,71, dan kesehatan mental sebesar 58,27 ± 8,15. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pasien COVID-19 memiliki gambaran aspek kualitas hidup yang baik (57,67 ± 7,96). Terdapat 2 aspek yang mengalami perburukan yaitu keterbatasan fisik (47,58 ± 6,98) dan keterbatasan emosional (45,16 ± 6,71). Kata kunci : COVID-19; Kualitas hidup; Pasien.ABSTRACTCOVID-19 is a disease that has become a worldwide pandemic since December 2019. The prevalence of COVID-19 continues to increase until 2021 in West Nusa Tenggara. Aside clinical conditions, COVID-19 also has an impact on the quality of life of COVID-19 patients. This study aims to describe the quality of life of COVID-19 patients in the province of West Nusa Tenggara. The method used in the study was cross sectional using SF-36 questionnaire which was distributed online. Respondents used as subjects were patients diagnosed with COVID-19 with mild and moderate categories in West Nusa Tenggara, aged 12-55 years, and agreed to be respondent. The results obtained from 93 respondents showed that the value of physical function was 64.35 ± 11.54, physical limitation was 47.58 ± 6.98, body pain was 68.79 ± 1.17, general health was 61.51 ± 6.43, vitality was 56.82 ± 14.52, social function was 58.87 ± 14.44, emotional limitation was 45.16 ± 6.71, and mental health was 58.27 ± 8.15. Based on the results obtained, most of the COVID-19 patients have a good quality of life (57.67 ± 7.96). Two aspects that have worsened were physical limitations (47.58 ± 6.98) and emotional limitations (45.16 ± 6.71).Keywords : COVID-19; Patient; Quality of life.
Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di UPTD Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu Dewi Winni Fauziah; Panti Yuniarti; Afni Afriliana Syaputri
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.7033

Abstract

ABSTRAKPenyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) ialah kegiatan pengaturan terhadap Obat yang diterima supaya aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia agar mutunya tetap terjamin dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Puskesmas yang merupakan singkatan dari Pusat Kesehatan Masyarakat ialah  fasilitas pelayanan kesehatan guna menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan kesehatan perseorangan di tingkat pertama, serta lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif di wilayah kerjanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati cara penyimpanan Obat dan BMHP di Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Observasi dilakukan terhadap variabel penyimpanan obat dan BMHP serta variabel gudang penyimpanan obat dan BMHP di Puskesmas Nusa Indah Bengkulu. Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang diperoleh peneliti melalui observasi di lapangan secara langsung kemudian dibandingkan dengan standar yang ditetapkan dalam Permenkes dan Kemenkes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan Obat dan BMHP di gudang dan Apotek UPTD Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu telah sesuai dengan Ketentuan yang telah ditetapkan dalam Permenkes Nomer 74 Tahun 2016 dan Kemenkes RI 2010. Kata kunci : Puskesmas; Penyimpanan Obat; BMHP; UPTD.ABSTRACTMedicine storage dan Medical disposable is an activity to regulate the drugs received so that they are safe (not lost), avoid physical and chemical damage so that their quality is guaranteed and in accordance with the stipulated requirements. Puskesmas, which stands for Community Health Center, is a health service facility to carry out public health and individual health efforts at the first level and prioritize promotive and preventive efforts in its working area. The aims of this study are to observe how to store the drugs and BMHP in Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Nusa Indah Public Health Center, Bengkulu. This study uses purposive sampling technique to collect the sample. Observations were made on the drug storage variables and BMHP as well as the drug storage warehouse and BMHP variables at the Nusa Indah Bengkulu Health Center. The data collected is primary data obtained by researchers through direct field observations and then compared with the standards set in the Permenkes and the Kemenkes. The results showed that the storage of drugs and BMHP in warehouses and pharmacies of UPTD Puskesmas Nusa Indah Bengkulu was in accordance with the regulation in the Permenkes Nomer 74 of 2016 and the Kemenkes RI 2010.Keywords : Puskesmas; Medicine storage; BMHP; UPTD.
Aktivitas Antioksidan Fraksi N-Heksan Dan Fraksi Kloroform Ekstrak Etanol Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C) Dengan Metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) Nuning Nurhayati; Fadilah Qonitah; Ahwan Ahwan
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.7457

Abstract

ABSTRAKAntioksidan merupakan senyawa yang dapat menyeimbangkan ROS (reactive oxygen species) yang dapat menyebabkan penuaan kulit. Tubuh manusia secara alamiah dapat menghasilkan antioksidan akan tetapi jumlahnya terbatas sehingga perlu antioksidan eksogen. Daun jeruk purut merupakan tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi n-heksan dan fraksi kloroform ekstrak etanol daun jeruk purut dengan metode FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Metode ekstraksi menggunakan maserasi dengan pelarut etanol 96%. Fraksinasi menggunakan metode partisi dilanjutkan uji aktivitas antioksidan dengan metode FRAP secara spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi n-heksan dan fraksi kloroform memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai EC50 masing-masing sebesar (9870,36 ± 1,55) µg/mL dan (9713,30 ± 0,70) µg/mL. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa fraksi n-heksan dan fraksi kloroform ekstrak etanol daun jeruk purut mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat lemah.Kata kunci : FRAP; antioksidan; fraksi n-heksan; fraksi kloroform; daun jeruk purut.ABSTRACT Antioxidants are compounds that can balance ROS (reactive oxygen species) which can cause skin aging. The human body can naturally produce antioxidants but the amount is limited so it needs exogenous antioxidants. Kaffir lime leaves are plants that contain phenolic and flavonoid compounds that have the potential as antioxidants. This study aims to determine the antioxidant activity of the n-hexane fraction and the chloroform fraction of ethanol extract of kaffir lime leaves using the FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power) method. The extraction method uses maceration with 96% ethanol as solvent. Fractionation using partition method followed by antioxidant activity test using FRAP method by UV-Vis spectrophotometry. The results showed that the n-hexane and the chloroform fractions had antioxidant activity with EC50 values of (9870.36 ± 1.55) g/mL and (9713.30 ± 0.70) g/mL. Based on the results of the study, it can be concluded that the n-hexane fraction and the chloroform fraction of the ethanol extract of kaffir lime leaves had very weak antioxidant activity. Keywords : FRAP; antioxidants; n-hexane fraction; chloroform fraction; lime leaves. 
Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Dalam Pemanfaatan Tanaman Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Di Desa Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Baiq Dwigita Wahyu Izzati; Baiq Nurbaety; Baiq Leny Nopitasari; Agus Suprianto
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 1 (2022): Januari
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i1.6357

Abstract

ABSTRAKMasyarakat Desa Pringgabaya merupakan salah satu masyarakat di Indonesia yang masih menggunakan tanaman sebagai obat tradisional. Pengetahuan masyarakat Desa Pringgabaya tentang tanaman obat ini masih terpelihara karena merupakan tradisi secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman obat hanya diwariskan secara lisan, sehingga kemungkinan lama kelamaan pengetahuan tersebut akan hilang atau resepnya menjadi tidak komplit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional di Desa Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur. Metode penelitian ini menggunakan observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional dengan teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berusia 20 sampai 60 tahun yang bertempat tinggal di Desa Pringgabaya Kecamatan Lombok Timur yang berjumlah 7.339 orang dan didapat sampel sebanyak 379 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan tingkat pengetahuan responden berjenis kelamin perempuan lebih banyak yaitu 193 responden (50,9%) dibandingkan dengan laki-laki dengan jumlah 186 responden (49,1%) dan mayoritas responden berusia 20-40 tahun yaitu sebanyak 279 responden (73,6%), variabel sikap kategori baik berjumlah 237 responden (62,5%), dan variabel tindakan kategori baik berjumlah 154 responden (40,0%). Simpulan penelitian ini adalah tingkat pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman obat termasuk kategori pengetahuan baik (76,0%), sikap masyarakat tentang pemanfaatan tanaman obat termasuk kategori sikap baik (79,5%), dan tindakan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman obat termasuk kategori tindakan cukup baik (65,7%). Kata kunci : Tingkat Pengetahuan; Sikap; Tindakan; Tanaman Obat; Desa Pringgabaya.ABSTRACTPringgabaya Village community is one of the people in Indonesia who still use medicinal plants as traditional medicine. Public knowledge about medicinal plants is still preserved because it is a tradition that has been passed down from generation to generation from the ancestors. The knowledge about the use of medicinal plants is only passed down orally, so it is possible that over time this knowledge will disappear or the recipe will not be complete. This study aims to determine the level of knowledge, attitudes, and actions of the community in the use of plants as traditional medicine in Pringgabaya Village, East Lombok Regency. This research method uses descriptive observation with a cross sectional approach with purposive sampling technique. The population in this study were people aged 20 to 60 years who lived in Pringgabaya Village, East Lombok District, amounting to 7,339 people and a sample of 379 people was obtained. The results of this study indicate that the level of knowledge of female respondents is more, namely 193 respondents (50.9%) compared to men with a total of 186 respondents (49.1%) and the majority of respondents aged 20-40 years, as many as 279 respondents (73.6%), the attitude variable in the good category is 237 respondents (62.5%), and the action variable in the good category is 154 respondents (40.0%). The conclusion of this study is that the level of public knowledge about the use of medicinal plants is included in the category of good knowledge (76.0%), public attitudes about the use of medicinal plants are included in the category of good attitude (79.5%), and community actions regarding the use of medicinal plants are included in the category of adequate action good (65.7%).Keywords : Level Of Knowledge; Attitude; Action Medicinal Plants; Pringgabaya Village.
Formulasi Sediaan Gel Antijerawat Ekstrak Herba Meniran (Phylanthus niruri L) Dan Ekstrak Daun Sirsak (Annoni muricata L). Dimas Adrianto; Shirly Kumala; Teti Indrawati
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8041

Abstract

ABSTRAKHerba meniran dan daun sirsak mengandung senyawa flavonoid, triterpenoid, saponin, polifenol dan metabolit sekunder lainnya. Secara tradisional herba meniran dan daun sirsak tanaman yang berkhasiat sebagai Obat jerawat. Tujuan penelitian ini dilakukan dengan cara uji aktifitas antibakteri dari kombinasi ekstrak herba meniran dan daun sirsak sebagai antibakteri penyebab jerawat agar didapatkan efek sinergi sehingga bisa memperkuat kerja antibakteri dan memformulasi sediaan gel obat jerawat dengan bahan aktif kombinasi ekstrak herba meniran dan daun sirsak yang efektif sebagai antijerawat terhadap bakteri P.acne dan S.aureus. Metode Penelitian dilakukan dengan menentukan aktifitas antijerawat dari ekstrak meniran dan daun sirsak menggunakan bakteri P.acne dan S.aureus, dilanjutkan dengan pembuatan gel kombinasi ekstrak meniran dan daun sirsak. Evaluasi terhadap sediaan gel meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, iritasi dan aktifitas antibakteri sediaan gel. Sediaan gel kombinasi ektrak daun sirsak dan meniran  (3% : 4,5%) memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri P.acne dan S.aureus terbaik dengan nilai DDH P.acne sebesar 32 mm dengan kategori aktivitas sangat kuat dan S.aureus  21 mm dengan kategori aktivitas sangat kuat.  Sediaan gel ekstrak daun sirsak dan meniran dapat memenuhi parameter fisika dan kimia sediaan gel serta stabil selama 12 minggu pada suhu penyimpanan 4oC, suhu 27oC dan suhu 40oC. Sediaan gel kombinasi ekstrak meniran dan daun sirsak memiliki indeks iritasi primer sebesar 0,40 dan termasuk kategori respon iritasi sangat ringan.  Kata kunci : Daun sirsak; Gel antijerawat; Jerawat; Meniran. ABSTRACTMeniran herbs and soursop leaves contain flavonoids, triterpenoids, saponins, polyphenols and other secondary metabolites. Meniran herbs and soursop leaves were traditionally used as an acne medication. This study aimed to formulate carried out by testing the antibacterial activity of a combination of extracts from meniran herbs and soursop leaves as an antibacterial that causes acne with the aim of getting a synergistic effect so that it can strengthen antibacterial work and antiacne  gel formulation containing the active ingredients of a combination of meniran herb and soursop leaf extract which is effective as an anti-acne against P.acne and S.aureus bacteria. The research method was conducted by determining the antibacterial activity of extract to P.acne and S.aureus, followed by formulate a gel combination of meniran and soursop leaf extract. The evaluation of gel formulation included organoleptic tests, homogeneity, pH, viscosity, spreadability, irritation and antibacterial activity. The gel preparation of the combination of soursop leaf extract and meniran (3%: 4.5%) had the best activity inhibiting the growth of P.acne and S.aureus bacteria with a DDH value of P.acne of 32 mm with very strong activity category and S.aureus 21 mm with a very strong activity category. The gel formulations we meet to the physical and chemical parameters of the gel formulation and were stable for 12 weeks at storage temperature of 4oC, temperature of 27oC and temperature of 40oC. The gel formulation had a primary irritation index of 0.40 and was included in the very mild irritation response category. Keywords : Acne; Antiacne gel; Meniran; Soursop leaf. 
Aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Dari Propolis Lebah Kelulut Geniotrigona thoracica Terhadap Bakteri Staphyloccocus aureus Azzah Fatimah Zulfa; Muhammad Alib Batistuta; Paula Mariana Kustiawan
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8299

Abstract

ABSTRAKKalimantan memiliki setidaknya terdapat 50 spesies lebah kelulut, diantaranya lebah kelulut dengan spesies Geniotrigona thoracica. Lebah kelulut selain menghasilkan madu dengan rasa asam, jenis ini juga menghasilkan produk utama yaitu propolis. Propolis secara empiris memiliki aktivitas antioksidan, antikanker, antijamur, antiinflamasi, antivirus dan juga anti bakteri. Namun penelitian tentang propolis jenis G. thoracica masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri Staphyloccocus aureus dari fraksi etil asetat dari propolis lebah kelulut G. thoracica asal Samarinda. Ekstrak metanol propolis G. thoracica dilakukan fraksinasi cair-cair dengan pelarut etil asetat dan pelarut polar. Pengujian antibakteri dilakukan dengan metode difusi sumuran menggunakan bakteri S. aureus. Hasil uji antibakteri yang dilakukan menunjukan fraksi etil asetat propolis G. thoracica mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus. Aktivitas antibakteri terbaik diperoleh pada konsentrasi 600ppm yaitu dengan zona hambat 13 mm. Fraksi etil asetat propolis G. thoracica asal Samarinda memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus dengan kategori kuat Kata kunci : Fraksi etil asetat; Antibakteri; Propolis; Geniotrigona thoracica; Staphyloccocus aureus.ABSTRACTKalimantan were have at least 50 species of kelulut bees, including the kelulut bee with the species Geniotrigona thoracica. The kelulut bee produces honey with a sour taste, and also produces propolis. Propolis commonly use as antioxidant, anticancer, antifungal, anti-inflammatory, antiviral and also anti-bacterial. The research about G. thoracica propolis still limited. This study aims to determine the antibacterial activity of the ethyl acetate fraction of G. thoracica propolis originated from Samarinda which can inhibit Staphyloccocus aureus bacteria. The methanol exctract of G. thoracica propolis was partition with liquid-liquid fractionation using ethyl acetate and polar liquid. Then, antibacterial  was determined with agar well diffusion method. The results of the antibacterial test showed that the ethyl acetate fraction of the propolis G. thoracica were able to inhibit the growth of S. aureus bacteria, indicating that they have broad spectrum antibacterial activity. The highest antibacterial activity was obtained at 600ppm concentartion with an inhibition zone of 13 mm. The ethyl acetate fraction of G. thoracica propolis from Samarinda has antibacterial activity against S. aureus bacteria. Keywords : Ethyl acetate fraction; Antibacterial; Propolis; Geniotrigona thoracica; Staphyloccocus aureus. 
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Namnam (Cynometra cauliflora L) Sebagai Antibakteri Pada Formulasi Sediaan Gel Hand Sanitizer Syarah Anliza; Hamtini Hamtini; Nurmeily Rachmawati
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9157

Abstract

ABSTRAKPandemi Covid 19 yang menimpa dunia saat ini menjadikan peningkatan kebutuhan akan perilaku hidup bersih dan sehat. Salah satu dalam peningkatannya yaitu kesadaran akan mencuci tangan dan mulai terlihat semenjak covid-19 masuk ke Indonesia. Penggunaan gel antiseptik yang dinilai lebih praktis bisa menjadi pilihan. Bahan dasar yang biasa digunakan adalah alkohol, namun dengan bahan tersebut dapat menyebabkan dehidrasi pada kulit. Oleh karena itu maka diperlukan alternatif bahan aktif yaitu bahan alam. Salah satu bahan alam yang digunakan daun namnam. Ekstrak daun namnam yang memiliki kandungan tanin dan flavonoid dapat sebagai antibakteri. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tanaman yang mengandung tannin dan flavonoid dapat sebagai sediaan gel hand sanitizer. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun namnam pada formulasi sediaan gel hand sanitizer terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923. Metode yang digunakan maserasi untuk ekstrak dan difusi agar untuk aktivitas bakteri. Formulasi sediaan gel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan gelling agent CMC Na dengan 5 formulasi. Hasil menunjukkan bahwa sampel F1, F2, F3, dan F4 dapat menghambat bakteri dengan kategori kuat, sedangkan sampel F5 termasuk kategori medium atau cukup kuat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sampel F1 dengan konsentrasi ekstrak etanol daun namnam sebesar 20% dan memiliki evaluasi sediaan gel yang baik dan memenuhi syarat.     Kata kunci : Ekstrak etanol; Daun namnam; Gel hand sanitizer; Staphylococcus aureus.ABSTRACTThe COVID-19 pandemic that has hit the world today has increased the need for clean and healthy living behaviors. One of the improvements that have been seen since Covid-19 occurred in Indonesia is awareness of hand washing. The use of an antiseptic gel is considered a more practical option. The basic ingredient commonly used is alcohol, but these ingredients can cause dehydration of the skin. Therefore, alternative active ingredients are needed, namely natural ingredients. One of the natural ingredients used by namnam leaves. Namnam leaf extract which contains tannins and flavonoids can act as an antibacterial. Several studies have shown that plants containing tannins and flavonoids can be used as a hand sanitizer gel preparation. The purpose of this study was to determine the potential of ethanol extract of Namnam leaves in the formulation of hand sanitizer gel preparations against Staphylococcus aureus ATCC 25923 bacteria. The methods used were maceration for extracts and agar diffusion for bacterial activity. The gel formulation used in this study was the gelling agent CMC Na with 5 formulations. The results showed that  samples F1, F2, F3, and F4 could inhibit bacteria in the strong category, while sample F5 was in the medium category or quite strong. The conclusion of this study is that sample F1 with extract ethanol of nam-nam leaves in 20% has a good evaluation of gel preparations and met the requirements.Keywords : Ethanol extract; Namnam lef; Hand sanitizer gel; Staphylococcus aureus.
Kajian Etnofarmasi Tumbuhan Obat Berkhasiat Sebagai Antihipertensi Di Desa Muara Gusik, Kutai Barat Siska Siska; Paula Mariana Kustiawan
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8621

Abstract

ABSTRAKEtnofarmasi merupakan kajian masyarakat tertentu dalam menggunakan obat-obatan. Informasi penggunaan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan metode etnofarmasi. Pencegahan dan pengelolaan hipertensi adalah tantangan kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis tanaman, bagian tanaman, dan cara pengolahan tanaman obat yang digunakan untuk mengobati hipertensi di Desa Muara Gusik. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Wawancara dilakukan secara semi terstruktur dengan menggunakan tipe petanyaan open-ended. Berdasarkan hasil wawancara dengan 15 informan didapatkan 10 jenis tumbuhan dengan indikasi sebagai antihipertensi yang dikelompokkan dalam 8 famili. Tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Muara Gusik sebagai obat antihipertensi yaitu daun salam, daun sirsak, daun pandan, daun seledri, daun coklat, akar ilalang, akar kelapa, akar pinang, akar bamboo, dan daun melati. Cara pengolahan untuk daun yaitu direbus dan diminum sebanyak 1-2x sehari. Cara pengolahan untuk akar diseduh dengan air panas selama 3-6 jam dan diminum sebanyak 1x sehari. Famili yang paling dominan yaitu Poaceae dan Arecaceae. Bagian tumbuhan obat yang paling banyak digunakan yaitu daun. Cara pengolahan yang memiliki presentase paling tinggi yaitu direbus. Kata kunci :Etnofarmasi; Tumbuhan Obat; Tradisional; Desa Muara Gusik. ABSTRACTEthnopharmacy is the study of certain people  using drugs. Information on the use of medicinal plants can be done using the ethnopharmaceutical method. The prevention and management of hypertension is a major public health challenge worldwide. The purpose of this study was to determine the types of plants, plant parts, and methods of processing medicinal plants used to treat hypertension in Muara Gusik Village. The method used is qualitative. Interviews were conducted in a semi-structured manner using an open-ended question type. Based on the results of interviews with 15 informants, it was found that 10 types of plants used to treat hypertension were grouped into 8 families. Plants with indications as antihypertensives are bay leaves, soursop leaves, pandan leaves, celery leaves, cocoa leaves, weed roots, coconut roots, betel nut roots, bamboo roots, and jasmine leaves. The processing method for the leaves is boiled and drunk 1-2 times a day. The processing method for the roots is brewed with hot water for 3-6 hours and drunk 1x a day. The most dominant families are Poaceae and Arecaceae. The most widely used part of medicinal plants is the leaf. The processing method that has the highest percentage is boiled. Keywords : Ethnopharmacy; Medicinal plant; Traditional; Muara Gusik Village.

Page 7 of 24 | Total Record : 232