cover
Contact Name
zulkarnain
Contact Email
lumbungfarmasiummat@gmail.com
Phone
+6281944867967
Journal Mail Official
lumbungfarmasiummat@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Framasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram Jl. K.H Akhmad Dahlan No.1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lumbung Farmasi : Jurnal Ilmu Kefarmasian
ISSN : 27155943     EISSN : 27155277     DOI : 10.31764
Core Subject : Health,
Penelitian Di Bidang Farmasi (Farmasi Bahan Alam, Farmasi Klinis & Komunitas, Farmasi Tekonologi, Kimia Farmasi, dan Biofarmasetika)
Articles 232 Documents
Perbedaan Kadar Kolesterol pada Akseptor KB Pil dan KB Suntik Menggunakan Metode Stick Edy Agustian Yazid; Nahdia Karina Putri
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9389

Abstract

ABSTRAKMasyarakat Indonesia umumnya menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Kontrasepsi pil dan suntik adalah kontrasepsi hormonal yang populer dan sangat efektif. Selain bermanfaat, kontrasepsi hormonal juga memiliki efek samping bagi akseptornya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kadar kolesterol pada akseptor KB pil dan suntik di Desa Beton Menganti Kabupaten Gresik. Penelitian dengan metode stick, memiliki keunggulan lebih praktis dan hanya dirancang untuk pemeriksaan darah kapiler. Hasil pemeriksaan menunjukkan rata-rata kadar kolesterol akseptor KB pil adalah 207 mg/dl dan akseptor KB suntik 177 mg/dl. Persentase kadar kolesterol normal pada akseptor KB pil adalah 34%, batas tertinggi 46% dan tertinggi 20%. Sedangkan persentase kadar kolesterol normal pada akseptor KB suntik 73%, batas tertinggi 7% dan tertinggi 20%. Hasil analisis data menggunakan Paired T-test diperoleh t hitung 1,030 dengan sig 0,320 (sig>0,05), sehingga disimpulkan tidak ada perbedaan kadar kolesterol antar akseptor KB pil dan KB suntik. Kata kunci :  Kolesterol; KB pil; KB suntik; Metode stick.ANSTRACTIndonesian people generally use contraception to delay pregnancy. Pill and injectable contraceptives are popular and highly effective hormonal contraceptives. Besides being useful, hormonal contraception also has side effects for the acceptor. This study aims to determine whether there are differences in cholesterol levels in pill and injection family planning acceptors in Beton Menganti Village, Gresik Regency. Research using the stick method, has the advantage of being more practical and only designed for capillary blood examination. The results of the examination showed that the average cholesterol level of the contraceptive pill KB acceptor was 207 mg/dl and the injection KB acceptor was 177 mg/dl. The percentage of normal cholesterol levels for the acceptors of pills KB is 33%, the highest limit is 47% and the highest is 20%. Meanwhile, the percentage of normal cholesterol levels for injectable acceptors KB is 73%, the high limit is 7% and the highest is 20%. The results of data analysis using Paired T-test obtained t count 1.030 with sig 0.320 (sig>0.05), so that it was concluded that there was no difference in cholesterol levels between pill and injection KB acceptors. Keywords : Cholesterol; Pill KB; Injectable KB; Stick Method.
Identifikasi Kadar Kurkumin pada Minuman Serbuk Berbahan Temulawak dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Maulana Vikri; Mally Ghinan Sholih; Vesara Ardhe Gatera
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9303

Abstract

ABSTRAKTemulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) memiliki metabolit sekunder yang mengandung bahan aktif salah satunya adalah kurkumin. Kurkumin merupakan senyawa fitofarmaka yang memiliki beberapa efek biologis, seperti antidislipidemia, antioksidan, antiinlamasi, antiviral, antifungal, antibakteri, dan dapat melindungi hati. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keberadaan dan kadar kurkumin pada sampel minuman yang tidak memiliki izin PIRT. Pengujian kualitatif dan kuantitatif pada penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri Uv-Vis. Pada hasil penentuan panjang gelombang maksimum pada larutan baku standar kurkumin didapatkan sebesar 500 nm. Sedangkan hasil penentuan persamaan kurva baku didapatkan persamaan regresinya yaitu  y = 0,0026x - 0,0857 dengan R2 = 0,992. Pada hasil penentuan panjang gelombang maksimum sampel A, B dan C didapatkan berturut-turut sebesar 498 nm, 498 nm dan 500 nm. Sedangkan hasil penentuan kadar kurkumin pada sampel A, B dan C didapatkan berturut-turut sebesar 1,92%, 0,81% dan 12,45%. Berdasarkan hasil tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat senyawa kurkumin pada sampel minuman yang dibeli melalui e-commerce. Metode spektrofotometri dapat digunakan untuk mengidentifikasi metabolit seperti kurkumin pada sampel minuman tertentu.Kata kunci : Kurkumin; Temulawak; Minuman Serbuk; Spektrofotometri Uv-Vis.ABSTRACTTemulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) has secondary metabolites containing active ingredients, one of which is curcumin. Curcumin is a phytopharmaceutical compound that has several biological effects, such as antidyslipidemia, antioxidant, anti-inflammatory, antiviral, antifungal, antibacterial, and can protect the liver. This study aims to determine the presence and levels of curcumin in samples of beverages that do not have a PIRT permit. Qualitative and quantitative testing in this study used the Uv-Vis spectrophotometric method. In the results of determining the maximum wavelength in the standard standard solution of curcumin, it was obtained at 500 nm. While the results of the determination of the standard curve equation obtained the regression equation, namely y = 0.0026x - 0.0857 with R2 = 0.992. The results of the determination of the maximum wavelength of samples A, B and C were obtained at 498 nm, 498 nm and 500 nm, respectively. While the results of the determination of curcumin levels in samples A, B and C were obtained respectively 1.92%, 0.81% and 12.45%. Based on these results, it can be concluded that there is a curcumin compound in the samples of beverages purchased through e-commerce. Spectrophotometric methods can be used to identify metabolites such as curcumin in certain beverage samples.Keywords : Curcumin; temulawak; powder drink; Uv-Vis Spectrophotometry.
Aktivitas Antioksidan Kombinasi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) dan Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) dengan Metode DPPH Fika Setra Rikantara; Marsah Rahmawati Utami; Ahsanal Kasasiah
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8819

Abstract

ABSTRAKPada era modern ini pola hidup masyarakat telah mengalami perubahan yang berdampak buruk pada kesehatan, selain itu kondisi lingkungan yang memburuk seperti banyaknya polusi juga akan menyebabkan terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas dapat dicegah oleh senyawa antioksidan. Salah satu sumber antioksidan alami yaitu sirsak (Annona muricata L.) dan pepaya (Carica papaya L). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan nilai aktivitas antioksidan kombinasi daun sirsak dan daun pepaya. Sampel daun sirsak dan daun pepaya dikombinasi dengan variasi perbandingan  ((1:0) (0:1) (1:1) (1:2) dan (2:1)) dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 μg/mL sedangkan vitamin C sebagai pembanding dibuat dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 μg/mL. Tiap seri konsentrasi ditambahkan DPPH 40 ppm dan diinkubasi selama 30 menit, lalu diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometri Visibel pada panjang gelombang 517 nm. Nilai IC50 yang didapatkan untuk ekstrak daun sirsak (1:0) sebesar 11,484 μg/mL, nilai IC50 ekstrak daun pepaya (0:1) sebesar 53,668 μg/mL, nilai kombinasi ekstrak daun sirsak (1:1) ekstrak daun pepaya sebesar 25,666 μg/mL, nilai IC50 kombinasi ekstrak daun sirsak (1:2) ekstrak daun pepaya sebesar 50,305 μg/mL, dan nilai IC50 kombinasi ekstrak daun sirsak (2:1) ekstrak daun pepaya sebesar 16,552 μg/mL sedangkan nilai IC50 vitamin C sebesar 3,365 μg/mL. Hasil penelitian untuk seri kombinasi meningkatkan aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun pepaya namun akan menurunkan aktivitas antioksidan ekstrak daun sirsak. Kata kunci : Antioksidan; Daun Sirsak ; Daun Pepaya; DPPH; Spektrofotometri UV-Vis.ABSTRACTIn this modern era, people's lifestyles have undergone changes that have a negative impact on health, in addition to deteriorating environmental conditions such as the amount of pollution will also cause the formation of free radicals. Free radicals can be prevented by antioxidant compounds. One of the sources of natural antioxidants are soursop (Annona muricata L.) and papaya (Carica papaya L. This study was conducted to obtain the value of the antioxidant activity of the combination of soursop leaves and papaya leaves. Soursop leaf and papaya leaf samples were combined with various comparisons ((1:0). ) (0:1) (1:1) (1:2) and (2:1)) with concentrations of 20, 40, 60, 80 and 100 μg/mL while vitamin C as a comparison was made with concentrations of 2, 4, 6 , 8, and 10 μg/mL. Each concentration series was added with 40 μg/mL DPPH and incubated for 30 minutes, then the absorbance was measured using Visible Spectrophotometry at a wavelength of 517 nm. The IC50 value obtained for soursop leaf extract (1:0) was 11,484 g /mL, the IC50 value of papaya leaf extract (0:1) was 53,668 g/mL, the combination value of soursop leaf extract (1:1) papaya leaf extract was 25,666 μg/mL, the IC50 value of the combination of soursop leaf extract (1:2) extract papaya leaves of 50,305 μg/mL, and the IC50 value of the combination of soursop leaf extract (2:1) ext. papaya leaf shelf is 16,552 μg/mL while the IC50 value of vitamin C is 3,365 μg/mL. The results for the combination series increased the antioxidant activity of the ethanol extract of papaya leaves but decreased the antioxidant activity of the soursop leaf extract.Keywords : Antioxidant; Soursop leaves; Papaya leaves; DPPH; Spectrophotometry UV-Vis.
Perbandingan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Hijau dan Sangrai Kopi Robusta (Coffea canephora L.) Serta Kombinasinya Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Nabila Rubinadzari; Lely Sulfiani Saula; Marsah Rahmawati Utami
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9393

Abstract

ABSTRAKStaphylococcus aureus merupakan bakteri dengan prevalensi tertinggi pada luka ulkus diabetikum yang dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Hal ini kemudian diperparah dengan adanya resistensi terhadap berbagai antibiotik. Kopi dapat menjadi alternatif lain mengatasi resistensi antibiotik karena memiliki senyawa antibakteri, namun pemanggangan pada biji kopi akan menurunkan senyawa yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan aktivitas antibakteri ekstrak biji hijau dan sangrai kopi robusta (Coffea canephora L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan desain post-test only control group dengan metode agar difusi cakram (Kirby-bauer). Sampel dibagi menjadi 13 kelompok, yaitu kontrol positif clindamycin, kontrol negatif aquades steril, kelompok perlakuan ekstrak biji hijau dan sangrai kopi robusta (25%, 50%, dan 100%), serta kelompok perlakuan kombinasi ekstrak biji hijau dan sangrai kopi robusta (50%:50%, 75%:25%, 25%:75%, 60%:40%, dan 40%:60%). Hasil analisis One Way Anova terhadap kelompok kontrol dan perlakuan didapatkan p=0,000. Hasil analisis Post Hoc Tukey HSD terhadap seluruh kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif didapatkan p=0,000. Zona hambat terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi ekstrak 50%:50% dengan diameter sebesar 15,12 mm dan memiliki efek antibakteri yang sebanding dengan clindamycin dalam menghambat Staphylococcus aureus (p=0,121). Kata kunci : Aktivitas antibakteri; Biji hijau; Biji sangrai; Kopi Robusta (Coffea canephora L.); Staphylococcus aureusABSTRACTStaphylococcus aureus is the bacteria with the highest prevalence in diabetic ulcers which can be delayed the wound healing process. This is then exacerbated by the existence of resistance to various antibiotics. Coffee can be another alternative to overcome antibiotic resistance because it has antibacterial compounds, but roasting coffee beans will reduce the compounds responsible for antibacterial activity. The aim of this study is to identify antibacterial activity differences between green and roasted bean robusta coffee (Coffea canephora L.) extract and its combination against Staphylococcus aureus. This research used a post-test only control group design with an agar disc diffusion method (Kirby-bauer). Samples were divided into 13 groups, positive control clindamycin, negative control water sterile, green and roasted bean robusta coffee extract treatments group (25%, 50%, and 100%), and its combination (50%:50%, 75%:25%, 25%:75%, 60%:40%, and 40%:60%). One Way Anova test results on the control and treatment groups obtained p=0.000. Post Hoc Tukey HSD test results of all treatments compared to the negative control group obtained p=0.000. The largest inhibition zone was found in a 50%:50% extract combination with 15.12 mm in diameter , and its antibacterial effect was equal to clindamycin in inhibiting Staphylococcus aureus (p=0.121). Keywords : Antibacterial activity; Green bean; Roasted bean; Robusta Coffee (Coffea canephora L.); Staphylococcus aureus
Analisis Sumber Cemaran Bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp pada Minuman Jamu Serbuk Instan Temulawak dan Kunyit Asam di Depot Jamu Kabupaten Karawang Cartas Cartas; Ahsanal Kasasiah; Indah Laily Hilmi
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9191

Abstract

ABSTRAKJamu serbuk instan adalah jamu yang dihaluskan menjadi serbuk yang terbuat dari tumbuhan yang berpotensi sebagai obat. Jamu berbentuk serbuk memiliki keunggulan yaitu praktis dan cepat dalam penyajiannya, serta memiliki masa simpan yang relatif lama. Jamu serbuk yang dijajakan penjual dapat diseduh di tempat menggunakan air dari penjual ataupun pembeli dapat menyeduh jamu sendiri di rumah dengan menggunakan air milik pembeli. Jamu yang tidak mengalami proses pengolahan dan pemanasan sempurna bisa menjadi pemicu kontaminasi mikroorganisme yang tinggi. Kebersihan alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan jamu instan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cemaran bakteri coliform, Escherichia coli dan Salmonella sp pada jamu serbuk instan temulawak dan kunyit asam yang dijual di Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan yaitu MPN (Most Probable Number) merupakan metode untuk mengidentifikasi bakteri coliform dan Escherichia coli dengan mendekati angka paling mungkin dari cemaran bakteri tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa sampel jamu kunyit asam dan temulawak serbuk yang diseduh menggunakan air galon positif mengandung bakteri Escherichia coli dengan nilai MPN yaitu 460 MPN, 210 MPN dan 93 MPN, 150 MPN. Semua sampel negatif bakteri Salmonella sp.Kata kunci : Jamu Serbuk Instan; Coliform; Escherichia coli; Salmonella sp; MPN.ABSTRACTInstant powdered herbal medicine is herbal medicine that is mashed into powder made from plants that have the potential as medicine. Powdered herbal medicine has the advantage of being practical and fast in serving and has a relatively long shelf life. The powdered herbal medicine sold by the seller can be brewed on the spot using water from the seller or the buyer can brew his own herbal medicine at home using the buyer's water. Herbal medicine that does not undergo a perfect processing and heating process can be a trigger for high microbial contamination. The cleanliness of the tools and materials used for the manufacture of instant herbal medicine greatly affects the growth of pathogenic bacteria. This study aims to identify the contamination of coliform bacteria, Escherichia coli and Salmonella sp in instant herbal powders of temulawak and kunyit asam that are sold in Karawang Regency. The method used is MPN (Most Probable Number) which is a method to identify coliform and Escherichia coli bacteria by approaching the most probable number of bacterial contamination. The results showed that samples of kunyit asam and temulawak powder that were brewed using gallon water were positive for Escherichia coli bacteria with MPN values of 460 MPN, 210 MPN and 93 MPN, 150 MPN. All samples were negative for Salmonella sp.Keywords : Instant powdered herbal; Coliform; Escherichia coli;Salmonella sp; MPN.
Potensi Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) dengan Metode UAE Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi Siti Norhaliza; Irfan Zamzani; Islan Nor
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8294

Abstract

ABSTRAKTanaman salam (Syzygium polyanthum) dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengobati diare terutama akibat bakteri dan masyarakat sering menggunakan daunnya sebagai pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak metanol daun salam (Syzygium polyanthum) sebagai antibakteri terhadap bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi serta mengetahui perbedaan daya hambat dengan berbagai konsentrasi ekstrak. Metode yang digunakan adalah difusi cakram dengan konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75% dan 100%. Hasil penelitian pada konsentrasi 100% menunjukkan diameter zona hambat tertinggi dengan nilai rata-rata sebesar 16,63 mm dan 20,36 mm terhadap bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi secara berurutan, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) menggunakan metode UAE ini dapat menghambat bakteri Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi dengan berbagai seri konsentrasi dan menunjukkan zona hambat yang kuat hingga sangat kuat.Kata kunci : Daun Salam; Shigella dysenteriae; UAE.ABSTRACTThe salam plant (Syzygium polyanthum) can be used by the community to treat diarrhea mainly caused by bacteria and people often use the leaves as a treatment. The purpose of this study was to determine the activity of methanolic extract of salam leaf (Syzygium polyanthum) as an antibacterial against Shigella dysenteriae and Salmonella typhi bacteria and to determine the difference in inhibition with various extract concentrations. The method used was disc diffusion with extract concentrations of 25%, 50%, 75% and 100%. The results of the study at a concentration of 100% showed the diameter of the highest inhibition zone with an average value of 16.63 mm and 20.36 mm against the bacteria Shigella dysenteriae and Salmonella typhi respectively, so it can be concluded that by using extract of salam leaf (Syzygium polyanthum) using the UAE method, it can inhibit Shigella dysenteriae and Salmonella typhi bacteria with various concentration series and show a strong to very strong zone of inhibition.Keywords : Salam leaf; Shigella dysenteriae; UAE.
Formulasi Transfersom Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius. R) dengan Variasi Konsentrasi Fosfolipid dan Tween 80 Sebagai Pembentuk Vesikel Rini Ambarwati; Yulianita Yulianita
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.7630

Abstract

ABSTRAKPandan    wangi    merupakan    tanaman yang  sering  dimanfaatkan  daunnya  sebagai  bahan  tambahan makanan,  umumnya  sebagai bahan pewarna hijau dan pemberi aroma. Ekstrak daun pandan wangi mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas sebagai agen Depigmentasi. Untuk meningkatkan efektivitas dari ekstrak daun pandan wangi maka akan dibuat nanopartikel. Salah satu teknologi nanopartikel adalah transfersom. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula yang paling baik dan stabil dari transfersom yang mengandung ekstrak daun pandan wangi dengan melakukan karakterisasi transfersom berdasarkan variasi konsentrasi dari fosfolipid dan tween 80. Transfersom dibuat dalam 3 formula yaitu Formula 1 (F1) dengan perbandingan fofolipid:surfaktan (90:10), F2 (85:15),dan F3 (80:20). Karakterisasi transfersom yang dilakukan meliputi distribusi ukuran partikel, zeta potensial, efisiensi penjerapan, indeks deformabilitas, dan morfologi vesikel. Hasil penelitian menunjukan bahwa formula transfersom terbaik adalah F3 (80:20), dengan rata-rata ukuran partikel 437,77 ±2,25nm, nilai rata-rata PDI (0,393±0,034), Efisiensi Penjerapan (74,172%), zeta potensial (1,35 mV±0,27), deformabilitas (12,646) dan morfologi vesikelnya berbentuk sfheris sesuai kriteria vesikel yang diharapkan. Kata kunci : Daun Pandan Wangi; Transfersom; Nanopartikel; Fospolipid.ABSTRACTPandan is a plant whose leaves are often used as food additives, generally as a green coloring agent and flavoring agent. Pandan leaf extract contains flavonoid compounds which have activity as depigmentation agents. To increase the effectiveness of the fragrant pandan leaf extract, nanoparticles will be made where the particle size will be smaller so that it can improve the delivery quality of drug compounds for the better. One of the nanoparticle technologies is transfersome. This study aimed to determine the best and most stable formula of transfersomes containing pandan leaf extract by characterizing transfersomes based on variations in the concentration of phospholipids and tween 80. Transfersomes were made in 3 formulas, namely Formula 1 (F1) with a ratio of phospholipids: :10), F2 (85:15), and F3 (80:20). The transfersome characterizations included particle size distribution, zeta potential, adsorption efficiency, deformability index, and vesicle morphology. The results showed that the best transfersome formula was F3 (80:20), with an average particle size of 437.77 ±2.25nm, an average PDI value (0.393±0.034), Adsorption Efficiency (74.172%), zeta potential ( 1.35 mV±0.27), deformability (12.646) and the morphology of the vesicles was spherical in shape according to the expected vesicle criteria.Keywords : Pandan Wangi Leaves; Transfersome; Nanoparticle; Phospoliphid.
The Effect of Various Concentrations of the Addition of Emulsifier Tween 80 and Span 80 on the Stability of Cream Formulation Ethanolic Extract of Basil Leaves (Ocimum Americanum L) Fitria Wulandari; Fauzia Ningrum Syaputri; Nanda Raudhatil Jannah
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.8257

Abstract

ABSTRAKThis study aims to determine the effect of  the various concentration of the addition of emulsifier tween 80 and span 80 on the stability of cream preparations containing ethanolic extract of basil leaves (Ocimum americanum L) before and after the freeze-thaw cycling test. The formulation of the cream preparation uses 3 of emulsifier concentrations tween 80 and span 80 (1%, 3%, 5%). The evaluation tests carried out were organoleptic, pH, viscosity, spreadability, adhesion, centrifugal test, emulsion type, homogeneity and freeze-thaw cycling. The results of several tests for the three formulations before and after the freeze-thaw cycling test at temperatures (2-8˚C) and (15-30˚C) for 24 hours, for 3 cycles, such as pH, dispersion, adhesive, and viscosity met the requirements for cream formulation. It has pH 5-5.10, dispersion test 5.1-5.8 cm, adhesiveness test 06.05-06.65 seconds and viscosity test increased significantly with a value range of 2000-30000 cPs. Except, for the centrifugal test of formula 1 because of the separation cream phase. This study concludes that the results of statistical tests analyzed using ANOVA showed no significant difference in the addition of emulsifier tween 80 and span 80 in three variations of cream dosage concentrations before and after freeze-thaw cycling for 3 cycles. Kata kunci : Kemangi; Krim; Emulgator; Span; Tween ABSTRACTPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi penambahan emulgator tween 80 dan span 80 terhadap stabilitas sediaan krim ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum americanum L) sebelum dan sesudah uji freeze-thaw cycling. Formulasi sediaan krim menggunakan 3 konsentrasi emulgator tween 80 dan span 80 yaitu (1%, 3%, 5%). Uji evaluasi yang dilakukan adalah uji organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, uji sentrifugal, tipe emulsi, homogenitas dan freeze-thaw cycling. Hasil pengujian ketiga formulasi sebelum dan sesudah uji freeze-thaw cycling pada suhu (2-8˚C) dan (15-30˚C) selama 24 jam 3 siklus seperti pH, daya sebar, daya lekat, dan viskositas memenuhi persyaratan. Hasil untuk Uji pH 5-5,10, uji daya sebar 5,1-5,8 cm, uji daya lekat 06,05-06,65 detik dan uji viskositas yang meningkat signifikan untuk formula 1, 2 dan 3 dengan kisaran nilai 2000-30000 cPs. Kecuali, uji sentrifugal formula 1 terjadi pemisahan fase krim. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hasil uji statistik di analisis menggunkan ANOVA menunjukan tidak adanya perbedaan yang bermakna pada penambahan emulgator tween 80 dan span 80 pada tiga konsentrasi sediaan krim sebelum dan sesudah freeze-thaw cycling selama 3 siklus.  Keywords : Basil; Cream; Emulsifier; Span; Tween. 
Profil Penggunaan Obat Antihipertensi di Puskesmas Surabaya. Iin Ernawati; Selly Septi Fandinata; Silfiana Nisa Permatasari
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.7679

Abstract

ABSTRAKHipertensi adalah penyakit kronis dengan tekanan darah sistolik dan diastolic meningkat ≥140/90 mmHg. Prevalensi pasien hipertensi meningkat di Puskesmas, sehingga perlu adanya observasi penggunaan obat antihipertensi sebagai data awal untuk melakukan monitoring penggunaan dan pengadaan obat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil penggunaan obat antihipertensi yang meliputi nama obat, golongan dan aturan pakai obat antihipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional cross-sectional, yang dilakukan di 5 Puskesmas di Surabaya antara lain Puskesmas Benowo, Jeruk, Tambak Rejo, Gayungan, dan Ketabang. Pengumpulan data retrospektif dilakukan selama 2 bulan pada bulan Mei-Juni 2020. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas pasien mendapatkan obat antihipertensi golongan CCB (Calcium Channel Blocker ) sebesar 82,37% dengan obat amlodipine 5 mg (49,19%) dan amlodipine 10 mg (32,95%), sedangkan untuk penggunaan obat antihipertensi kombinasi, mayoritas golongan CCB dan Diuretik Thiazid dengan nama obat Amlodipine 5 mg dan Hidroklorotiazid 25 mg (6,63%). Obat Amlodipine sebagai obat antihipertensi golongan CCB yang paling banyak digunakan dengan aturan pakai sekali sehari. Amlodipine salah satu obat antihipertensi yang toleran terhadap pasien geriatri dengan efek samping vasodilatasi yang lebih rendah dibanding obat lain dari golongan CCB dan memiliki waktu paruh yang panjang sehingga dapat diaplikasikan pada pasien kronis rawat jalan hipertensi dengan pemberian sekali sehari. Kata kunci : Obat antihipertensi; Puskesmas; Hipertensi; Profil. ABSTRACTHypertension is a chronic disease that is an increase in systolic and diastolic blood pressure 140/90 mmHg. The prevalence of hypertension patients is increasing at the Puskesmas, so it is necessary to observe the usage profile of antihypertensive drugs. This research is needed as initial data to monitor the use and procurement of drugs. This study aims to determine the profile of the use of antihypertensive drugs which includes the name of the drug and the rules of antihypertensive drugs. This observation is a cross-sectional study, which was conducted in 5 Public Health Center (Puskesmas) in Surabaya, including Benowo, Jeruk, Tambak Rejo, Gayungan, and Ketabang Public Health Center. Retrospective data collection was carried out for two months in May-June 2020. Based on the results of the study, it was found that the majority of patients received antihypertensive drugs from the Calcium Channel Blocker (CCB) class of 82.37% with amlodipine 5 mg (49.19%) and amlodipine 10 mg (32.95%), while for the use of combination antihypertensive drugs, the majority CCB and Thiazide Diuretics with the drug names Amlodipine 5 mg and Hydrochlorothiazide 25 mg (6.63%). Amlodipine as an antihypertensive drug of the CCB class is the most widely used in this research. Amlodipine is an antihypertensive drug that is tolerant to geriatric patients with lower vasodilation side effects than other drugs from the CCB group and has a long half-life so it can be applied to chronic hypertension outpatients and is given once a day. Keywords : Antihypertensive drug; Community Health Center; Hypertension; Profile.
Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus Andi Indrawati; Dewi Isnaeni; Suherman Baharuddin; Nurul Luthfiah
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 3, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v3i2.9382

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas ekstrak etanol daun Turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Desain penelitian ini secara eksperimental laboratorium dengan pengujian efektivitas menggunakan metode difusi cakram (Tes Kirby-Bauer). Hasil penelitian dari ekstrak etanol daun Turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) berupa bobot ekstrak berkisar 30,6 g, rendemen sebanyak 6,12%, berbentuk ekstrak pekat,berwarna coklat kehitaman, berbau khas (tidak menyengat) dan rasa pahit. Skrining fitokimia menunjukkan adanya  kandungan senyawa saponin dan tanin Efektivitas terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus pada masa inkubasi 1 x 24 jam menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diujikan maka semakin besar pula zona hambat yang dihasilkan. Kesimpulan bahwa ekstrak etanol daun Turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) memiliki efektivitas dalam menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Efektivitas yang paling baik berada pada konsentrasi 1,5% b/v (oneway ANOVA, α = 0,05), tetapi potensinya masih kurang kuat (belum memdai) dibanding kontrol positif.Kata kunci : Efektivitas; Ekstraksi ; Sesbania grandiflora Pers; Pseudomonas aeruginosa; Staphylococcus aureus.ABSTRACTThis study aims to determine the effectiveness of the ethanol extract of Turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) leaves on the growth of Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus. The design of this research was a laboratory experiment with effectiveness testing using the disc diffusion method (Kirby-Bauer test). The results of the ethanol extract of Turi (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) leaves are extracts weighing about 30.6 g, yield 6.12%, in the form of concentrated extracts, blackish brown in color, characteristic odor (not stinging) and bitter taste. Phytochemical screening showed the presence of saponins and tannins. The effectiveness on the growth of Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus during the incubation period of 1 x 24 hours showed that the higher the concentration of the tested extract, the larger the inhibition zone produced. In conclusion, the ethanol extract of Turi leaves (Sesbania grandiflora (L.) Pers.) was effective in inhibiting the growth of Pseudomonas aeruginosa and Staphylococcus aureus. The best effectiveness was at a concentration of 1.5% w/v (oneway ANOVA, α = 0.05), but the potency was still less strong (inadequate) than the positive control.Keywords : Effectiveness; Extraction; Sesbania grandiflora Pers; Pseudomonas aeruginosa; Staphylococcus aureus.

Page 8 of 24 | Total Record : 232