cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 133 Documents
Prinsip Pelayanan Penggembalaan Homo Digitalis dalam Pembacaan 2 Timotius 1:3-16 di Era Digital Sugiono, Sugiono; Oktaviani, Yesa
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.154

Abstract

This scientific work aims to discover the principles of pastoral ministry in Paul's teachings and apply them to digital-era society. The method used in this scientific work is a descriptive qualitative method with a hermeneutic and literature approach. The results obtained in the research are building wise communication with integrity, developing personal involvement with the congregation online, providing contextual coaching and teaching, encouraging the use of technology to spread the Gospel, and supporting and building loyal and devoted online communities. Abstrak Tujuan dari karya ilmiah ini ialah menemukan prinsip tentang pelayanan penggembalaan dalam ajaran Paulus dan menerapkannya kepada masyarakat era digital. Metode yang digunakan dalam karya ilmiah ini ialah metode kualitatif deskriftif dengan pendekatan hermeneutik dan pustaka. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ialah membangun komunikasi yang bijak dan berintegritas, mengembangkan keterlibatan pribadi kepada jemaat secara Online, memberikan pembinaan dan pengajaran yang kontekstual, mendorong penggunaan teknologi untuk penyebaran Injil, serta mendukung dan membangun komunitas online yang loyal dan setia.
Sinergitas Pemimpin Gereja Menuju Kepemimpinan Transformatif di Era Disruptif Lizardo, Jimmy; Chendralisan, Lenny H. S.; Sumakul, Nicolien Meggy
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 2: Pebruari 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i2.155

Abstract

Synergistic leadership is one of the keys to success in building an organization. Despite the reality on the ground, a leader is generally still often associated with seniority or gender status. Still, in the current era of disruption, the stigma of leadership based on seniority and gender must be eliminated because today's leaders place more emphasis on personal competence. To achieve remarkable goals, church leaders must build leadership that synergizes with subordinates, such as church ministers. The synergy referred to here is the collaboration of leadership teams between generations and genders. This study aims to explore the benefits of leadership synergy in an organization and provide direction for leaders on building optimal leadership synergy. Use literature reviews (books and journals) to analyze leadership synergies, transformative leaders, and technological disruption. The author proposes several steps to build leadership synergy to be optimal, including shepherds, creating a clear framework regarding the duties and responsibilities of each leader; generations of leaders respect each other's roles and authorities, strengthen communication in an attitude of mutual respect, and respect; establish a shared vision, mission, and goals; Develop a culture of collaborative work between leaders. Abstrak Kepemimpinan yang sinergis merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam membangun suatu organisasi. Sekalipun realita di lapangan, pada umumnya seorang pemimpin masih sering dikaitkan dengan status senioritas atau gender, namun di era disrupsi saat ini stigma kepemimpinan berdasarkan senioritas dan gender harus dihilangkan, karena soal pemimpin masa kini lebih ditekankan pada kompetensi pribadi. Untuk mencapai tujuan yang besar, pemimpin gereja perlu membangun kepemimpinan yang bersinergi dengan bawahannya dalam hal ini pelayan-pelayan gereja. Bersinergi yang dimaksud di sini adalah kolaborasi tim kepemimpinan antargenerasi; dan antargender. Penelitian ini bertujuan menggali manfaat sinergitas kepemimpinan dalam sebuah organisasi dan memberi arah bagi pemimpin bagaimana cara membangun sinergitas kepemimpinan yang optimal. Menggunakan kajian literatur (buku dan jurnal) untuk menganalisis sinergitas kepemimpinan, pemimpin transformatif dan disrupsi teknologi. Penulis mengusulkan beberapa langkah membangun sinergitas kepemimpinan agar optimal, di antaranya: gembala membuat kerangka kerja yang jelas mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing pemimpin; generasi pemimpin saling menghargai peran dan kewenangan masing-masing; memperkuat komunikasi dalam sikap saling menghormati dan menghargai; menetapkan visi, misi dan tujuan bersama; mengembangkan budaya kerja kolaboratif antar pemimpin.
Memetakan Tantangan Kepemimpinan Kristen dalam Pembacaan Reflektif 2 Timotius 2:15-16 Ngesthi, Yonathan Salmon Efrayim; Arifianto, Yonatan Alex
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.192

Abstract

Churches and service organizations today experience many obstacles and problems related to leaders or leadership patterns. The problem is not only about immature leadership but also that a leader's personality is degraded, as happened in the upheaval and immorality among church leaders. Individuals with cases of infidelity or immoral acts are damaging the phenomenon of Christian leadership. Therefore, this writing aims to understand Christian leadership patterns based on 2 Timothy 2:15-16. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the actualization of Christian leaders can be put forward several qualifications and patterns of leadership in the theological studies of 2 Timothy 2:15-16, including leaders who are worthy of God, who have the traits of leaders who work hard and do not embarrassed because of his work. So, the leader has integrity by telling the truth and has the dedication of a leader who avoids empty talk. Abstrak Gereja dan organisasi pelayanan dewasa ini mengalami banyak kendala dan persoalan terkait pemimpin atau pola kepemimpinan. Persoalan tersebut bukan saja tentang kepemimpinan yang tidak matang namun pribadi seorang pemimpin mengalami degradasi seperti yang terjadi fenomena tentang kegaduhan dan asusila para pemimpin gereja. Fenomena tentang kepemimpinan Kristen dirusak oleh oknum dengan kasus perselingkuhan maupun tindakan asusila. Oleh karena itu tujuan penulisan ini memberikan pemahaman berdasarkan pola kepemimpinan Kristen berdasarkan 2 Timotius 2:15-16. Mengunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literatur maka dapat disimpulkan bahwa Aktualisasi Pemimpin Kristen dapat dikemukakan beberapa kualifikasi dan pola kepemimpinan dalam kajian teologis 2 Timotius 2:15-16 antara lain: Pemimpin yang dilayakkan oleh Allah, yang memiliki tabiat pemimpin yang pekerja keras dan tidak malu karena pekerjaannya. Sehingga pemimpin tersebut berintegritas dengan berkata benar dan memiliki dedikasi pemimpin yang menghindari omongan kosong.
Kritik Rasial dalam Proposisi Ester 4:4-17 sebagai Diasporic Novella Tansul, Tandri
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.73

Abstract

The Book of Esther is a book whose theological significance is difficult to find. This is part of the controversial Old Testament megillot book from the early days of the canonization process to the present day with various interpretations, especially in interpreting God's presence amid turbulent conflicts of the people as a diaspora community. Esther 4:4-17 describes Mordhekai's plea to Esther to help Jews threatened by Haman's racial treatment as a representative of the Amalekites. This article aims to discover the theology of the Book of Esther through the analysis of Esther 4:4- 17 as a controlling story under the theme of racial criticism struggles among diaspora groups. The method used is the analysis of the structure of the story's meaning, paying attention to the plot controlling the story. The result is that the meaning of the story includes the treatment of the Jewish people that ends in the threat of genocide; king Xerxes' strategy to expand his power; Mordhekai and Esther's strategy in racial treatment; there will be God's help during silence; and there will be freedom for the Jews. The placement of God is active in the drama of people's lives, even in hidden impressions. On the side of social-political efforts, the reading of this paper reveals racial equality even though living under the ruler. Abstrak Kitab Ester merupakan kitab yang sulit untuk ditemukan makna teologisnya. Sebagai bagian dari kitab Megillot dalam Perjanjian Lama yang kontroversial dari masa awal proses kanonisasi sampai kini, dengan beragam penafsiran, khususnya dalam menafsirkan kehadiran TUHAN di tengah gejolak konflik umat sebagai komunitas diaspora. Ester 4:4-17 menuliskan mengenai permohonan Mordhekai kepada Ester untuk menolong orang-orang Yahudi yang terancam karena perlakuan rasial Haman sebagai wakil dari orang-orang Amalek. Pendekatan yang berbeda tentu menghasilkan pesan teologi yang beragam pula. Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk menemukan teologi Kitab Ester melalui analisis Ester 4:4-17 sebagai cerita pengendali di bawah tema perjuangan kritik rasial di tengah kelompok diaspora. Metode yang digunakan ialah analisis struktur makna cerita dengan memerhatikan alur pengendali cerita. Hasilnya ialah bahwa pemaknaan cerita yang meliputi perlakuan rasial bagi bangsa Yahudi yang berakhir dengan ancaman genosida; strategi raja Ahasyweros untuk meluaskan kekuasaannya; strategi Mordhekai dan Ester di tengah perlakuan rasial; pertolongan Tuhan di tengah kebisuan; dan ada kebebasan bagi orang Yahudi. Penempatan Tuhan yang aktif dalam drama kehidupan umat, sekalipun dalam kesan tersembunyi. Di sisi perjuangan politik sosial, pembacaan tulisan ini mengungkapkan kesetaraan rasial sekalipun hidup di bawah sang penguasa.
Aktualisasi Teologis Makna Pembenaran oleh Iman dalam Bingkai Roma 3:28 Kristiani, Nining; Timisela, Jacob; Tunliu, Misray
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.190

Abstract

The Bible emphasizes the importance of salvation. The salvation God has prepared from the beginning reveals God's plans for man. While the doctrine of salvation is very important, it is often debated. Facing contemporary events, the debate among believers becomes a significant topic. The Apostle Paul is the greatest thinker in the New Testament who has understood the person of Jesus Christ and His work, which reveals the secret of justification by faith in the book of Romans through the power of the Holy Spirit. This research discusses the fundamental issue of justification through faith based on the verse of Romans 3:28, which states, "We believe that humans are justified by faith, not by doing the law." Using a qualitative and literature study approach, it can be concluded that God's grace justifies Christians through redemption through faith. God's grace will nullify any human attempt to explain themselves before God. Abstrak Alkitab menekankan pentingnya keselamatan. Keselamatan yang telah Tuhan persiapkan sejak semula mengungkapkan semua rencana Tuhan bagi manusia. Sementara ajaran keselamatan sangat penting, itu sering diperdebatkan. Menghadapi peristiwa-peristiwa kontemporer, perdebatan yang sering terjadi di kalangan umat beriman menjadi topik yang signifikan. Rasul Paulus adalah pemikir terbesar dalam Perjanjian Baru yang telah memahami pribadi Yesus Kristus dan karya-Nya, yang mengungkapkan rahasia pembenaran oleh iman dalam kitab Roma melalui kuasa Roh Kudus. Penelitian ini membahas isu fundamental tentang pembenaran melalui iman berdasarkan ayat Roma 3:28 yang menyatakan bahwa "Kami meyakini bahwa manusia dibenarkan oleh iman, bukan oleh melakukan hukum Taurat." Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa orang Kristen dibenarkan oleh kasih karunia Allah melalui penebusan melalui iman. Rahmat Tuhan akan membatalkan segala upaya yang dilakukan oleh manusia untuk menjelaskan diri mereka sendiri di hadapan Tuhan.
Konstruksi Pemahaman Kontekstual pada Suku Batak Toba dalam Perjumpaan Kristus dan Debata Mulajadi na Bolon Siburian, Carel Hot Asi
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.188

Abstract

Christ and Debata Mulajadi na Bolon are two distinct entities understood by Christianity and Batak-Toba culture. Christ is known as the incarnate λόγος (John 1:1-5) as well as the firstborn and invisible image of God (Colossians 1:15). Debata Mulajadi na Bolon, on the other hand, is only approached as the “supreme god of Batak-Toba”; although the titles attributed to him are similar to those attributed to God. This paper will construct the idea that Christ is Debata Mulajadi na Bolon himself. However, it must be recognized that there are specific differences in their theological understanding of the Trinity. Debata Mulajadi na Bolon is not a pagan figure but God who presents Himself as Debata Mulajadi na Bolon. The three biblical texts discussed in this paper (from Johaninum and Paulinum theologies, respectively), along with Niebuhr's typology, Christ the Transformer of Culture, and Bevans' synthesized contextual theology model, are the bridge to this contextualization effort. Abstrak Kristus dan Debata Mulajadi na Bolon merupakan dua entitas yang berbeda, yang masing-masing dipahami oleh kekristenan dan oleh kebudayaan Batak-Toba. Kristus dikenal sebagai inkarnasi λόγος (Yoh. 1:1-5) juga gambar Allah yang sulung dan tidak kelihatan (Kol. 1:15). Sedangkan Debata Mulajadi na Bolon hanya didekati dengan sebutan “dewa tertinggi Batak-Toba”; meskipun gelar-gelar yang disematkan padanya sekilas mirip dengan gelar yang dikenakan kepada Allah. Melalui tulisan ini akan dibangun konstruksi berpikir bahwa Kristus adalah Debata Mulajadi na Bolon itu sendiri, meskipun harus diakui adanya perbedaan-perbedaan khusus dalam pemahaman teologi Trinitas keduanya. Debata Mulajadi na Bolon bukanlah sosok kekafiran melainkan Allah yang menampilkan diri-Nya sebagai Debata Mulajadi na Bolon. Ketiga teks Alkitab yang akan dibahas dalam tulisan ini (masing-masing dari teologi Johaninum dan Paulinum), disertai dengan tipologi Niebuhr, Christ the Transformer of Culture, dan model teologi kontekstual sintesis dari Bevans adalah jembatan usaha kontekstualisasi ini.
Gereja Mula-Mula sebagai Permodelan Komunitas bagi Pemuridan Gereja Masa Kini Sugito, Yehudha Andrew
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.133

Abstract

The Central Bureau of Statistics provides a projection of the explosion of the productive age population (15-64 years old) exceeding the non-productive age population from 2020 to 2030. This projection should encourage the Church to strategize for the growth of the Church, especially for the productive-aged youth. On the other hand, the level of congregational involvement in discipleship is closely related to the growth of the Church in quantity. Regarding quality, the church's most important aspect of the ministry to young people is to deepen their spirituality by forming solid communities. These projections illustrate that discipleship through community becomes a model for strategizing church growth. This model also became the model of discipleship in the early church. Through a literature study, this research examines the challenges facing discipleship in the Church today. In addition, this research also investigates the community model in the early Church, which covers three areas, namely the foundation and purpose of the community, the depth of participation (engagement) in the community, and the formation of identity in the community. The results of this research on the community model in the early Church turned out to have significant implications for the preparation of the discipleship model in the Church today, as well as being an answer to the challenges of discipleship in the Church today. Abstrak Badan Pusat Statistik memberikan proyeksi meledaknya jumlah penduduk yang berusia produktif (15-64 tahun) melebihi penduduk yang berusia tidak produktif, pada kisaran tahun 2020 hingga 2030. Proyeksi ini seharusnya mendorong gereja untuk menyusun strategi bagi pertumbuhan gereja terutama bagi generasi muda yang berusia produktif. Di sisi lain, tingkat keterlibatan jemaat dalam pemuridan, ternyata erat kaitannya dengan pertumbuhan gereja secara kuantitas. Secara kualitas, aspek terpenting dari pelayanan yang ditawarkan gereja kepada kaum muda untuk memperdalam spiritualitas mereka adalah melalui terbentuknya komunitas yang kuat. Proyeksi-proyeksi ini memberikan gambaran bahwa pemuridan melalui komunitas menjadi model dalam menyusun strategi pertumbuhan gereja. Model ini ternyata juga menjadi model pemuridan di gereja mula-mula. Melalui studi kepustakaan, penelitian ini meneliti tentang tantangan yang dihadapi pemuridan di gereja masa kini. Selain itu penelitian ini juga meneliti tentang model komunitas di gereja awal yang meliput tiga area, yakni landasan dan tujuan komunitas, kedalaman partisipasi (engagement) dalam komunitas dan pembentukan identitas dalam komunitas. Hasil penelitian tentang model komunitas di gereja awal ini ternyata memiliki implikasi yang besar bagi penyusunan model pemuridan di gereja masa kini serta menjadi jawaban bagi tantangan-tantangan pemuridan di gereja masa kini.
Inkripsi Nazaret: Tanggapan Pemerintah Romawi Mengenai Kebangkitan Kristus? Wijaya, Yulius; Widodo, Priyantoro
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.191

Abstract

The fact of the resurrection of Jesus Christ is the foundation of the Christian faith, which is still a topic of discussion, both those who support and deny the news of His resurrection. Controversy about this fact occurs in various fields, and one of them is in the field of archaeology. Artifact discoveries for maximalists are historical facts that strengthen and confirm that the truth of the Bible happened historically. The Nazareth Inscription is one of the artifact findings associated with the historical facts of Jesus' resurrection. This research was conducted using a descriptive qualitative approach with historical research methods and literature review to explain the discovery of the Nazareth inscription and historical facts related to the resurrection of Jesus so that it can add to the belief of the Christian faith that Jesus is God and Savior who saves humans. Abstrak Fakta mengenai kebangkitan Yesus Kristus merupakan fondasi iman Kristen yang sampai sekarang masih menjadi perbincangan, baik pro dan kontra. Kontroversi mengenai fakta kebenaran ini terjadi di berbagai bidang, dan salah satunya dalam bidang ilmu arkeologi. Penemuan-penemuan artefak bagi kaum maksimalis merupakan fakta sejarah yang memperkuat dan menegaskan bahwa kebenaran Alkitab merupakan hal yang benar-benar terjadi secara sejarah. Inkripsi Nazaret merupakan salah satu temuan artefak yang dikaitkan dengan fakta sejarah kebangkitan Yesus. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskripsi dengan metode penelitian sejarah dan kajian pustaka dengan tujuan menjelaskan penemuan inkripsi Nazaret dan fakta sejarah yang terkait dengan kebangkitan Yesus sehingga dapat menambah keyakinan iman Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat yang menyelamatkan manusia.
Penguatan Spiritualitas dan Karakter Keluarga Kristen: Upaya Mereduksi Kekerasan dalam Rumah Tangga melalui Pembacaan Reflektif 1 Petrus 3:7 Napitupulu, Musa
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.105

Abstract

Domestic violence is a serious problem that destroys happiness in the family. It even reduces harmony and well-being in the God-ordained marriage relationship. This article proposes an approach that focuses on strengthening family spirituality and character to reduce domestic violence, using a reflective reading of 1 Peter 3:7 as a theological foundation. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that, a strong foundation for building healthy relationships in the family. And the importance of spirituality and character in Christian marriage. In the study to emphasize the verse approach, the author analyzes the Reflective Text of 1 Peter 3:7 as part of deepening understanding of the values of Christian spirituality and practicing it in everyday life. It is expected that there will be positive changes in family dynamics that can ultimately reduce the level of domestic violence. So, narrating the description of domestic violence and its impact can provide a paradigm and value of spirituality and character in Christian marriage; that can be part of the actualization of Christian couples in reducing domestic violence. Abstrak Kekerasan dalam rumah tangga adalah masalah serius yang merusak dari dalam kebahagian di keluarga. Bahkan kekerasan tersebut mereduksi keharmonisan dan kesejahteraan dalam hubungan pernikahan yang telah ditetapkan Tuhan. Artikel ini mengusulkan pendekatan yang berfokus pada penguatan spiritualitas dan karakter keluarga untuk mereduksi kekerasan rumah tangga, dengan menggunakan pembacaan reflektif atas 1 Petrus 3:7 sebagai landasan teologis. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa, landasan yang kuat untuk membangun hubungan yang sehat dalam keluarga. Dan pentingnya spritualitas dan karakter dalam pernikahan Kristen. Dalam kajian untuk menekankan pendekatan ayat penulis menganalisi Teks reflektif 1 Petrus 3:7 sebagai bagian untuk memperdalam pemahaman akan nilai-nilai spiritualitas Kristen dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang tentunya diharapkan akan terjadi perubahan positif dalam dinamika keluarga yang pada akhirnya dapat mereduksi tingkat kekerasan rumah tangga. Maka menarasikan uraian kekerasan rumah tangga dan dampaknya dapat memberikan paradigma dan nilai spritualitas dan karakter dalam pernikahan Kristen; hal itu dapat menjadi bagian dari aktualisasi pasangan Kristen dalam mereduksi kekerasan rumah tangga.
Kepemimpinan Mentoring dalam Meningkatkan Pertumbuhan Gereja Welikinsi, Welikinsi; Budiman, Sabda
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 2: Pebruari 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i2.197

Abstract

: This article attempts to explain the role of mentoring leadership as an approach to addressing church growth challenges. Through qualitative research methods, the study explores how mentoring leadership affects church growth, the critical elements of effective mentoring leadership, and its impact on individuals and congregations. The results highlight the importance of church growth in quantity and quality, focusing on the vital role of mentoring leadership. The research discusses that the pastor, as a mentor, must act as an example, teacher, and guide. An example is modeling Christ's life, a teacher providing understanding and training, and a mentor directing the congregation to biblical truth. The conclusion of this article highlights the crucial role of mentoring leadership in enhancing church growth. Practical recommendations are given for church leaders to integrate mentoring leadership in church development strategies, in line with the efforts of churches worldwide to overcome challenges and advance the congregation's spiritual growth. Abstrak Artikel ini mencoba menjelaskan peran kepemimpinan mentoring sebagai pendekatan untuk mengatasi tantangan pertumbuhan gereja. Melalui metode penelitian kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana kepemimpinan mentoring mempengaruhi pertumbuhan gereja, elemen-elemen kunci dalam kepemimpinan mentoring yang efektif, dan dampaknya terhadap individu dan jemaat. Hasil penelitian menyoroti pentingnya pertumbuhan gereja baik secara kuantitas maupun kualitas, dengan fokus pada peran vital kepemimpinan mentoring. Penelitian ini membahas bahwa gembala sebagai mentor harus berperan sebagai teladan, pengajar, dan pembimbing. Teladan dalam memberikan contoh kehidupan Kristus, pengajar dalam memberikan pemahaman dan pelatihan, serta pembimbing dalam mengarahkan jemaat ke kebenaran Alkitab. Kesimpulan dari artikel ini menyoroti kepemimpinan mentoring dalam meningkatkan pertumbuhan gereja. Rekomendasi praktis diberikan kepada pemimpin gereja untuk mengintegrasikan kepemimpinan mentoring dalam strategi pengembangan gereja, sejalan dengan upaya gereja-gereja di seluruh dunia untuk mengatasi tantangan dan memajukan pertumbuhan spiritual jemaat.

Page 11 of 14 | Total Record : 133