cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 133 Documents
Menumbuh-kembangkan Spiritualitas Anak melalui Pendidikan Kristiani Berbasis Media Digital Sitinjak, Kamsia
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.68

Abstract

This study aims to demonstrate the application of digital media-based Christian education or digitalization, which impacts the development of the spirituality of children or students. The era of digital disruption is a challenge in Christianity that can affect the behavior of everyone connected to various digital media platforms, especially children. The research method used is descriptive with a literature or library data approach in the form of research journal articles and supporting books related to the topic of discussion. The results show that children, especially the Alpha generation, are part of the digital world and grow and develop in digital culture, so paying attention to digitalization aspects in the learning process is necessary. In conclusion, children's growth and spiritual development will be significantly supported by using digital devices in the Christian education process, whether at home, church, or school. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan penerapan pendidikan kristiani yang berbasis media digital atau digitalisasi yang berdampak pada pengembangan spiritualitas anak atau peserta didik. Era disrupsi digital merupakan tantangan dalam Kekristenan yang dapat mempengaruhi perilaku setiap orang yang terhubung dengan beragam platform media digital, terutama anak-anak. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan data literatur atau pustaka berupa artikel jurnal hasil penelitian dan buku-buku yang mendukung terkait tema bahasan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa anak-anak, khususnya gerenerasi Alpha, merupakan bagian dari dunia digital, yang bertumbuh dan berkembang dalam budaya digital, sehingga dalam proses belajar perlu memperhatikan aspek-aspek digitalisasi. Sebagai kesimpulan, pertumbuhan dan perkem-bangan kerohanian anak akan sangat didukung dengan penggunaan perangkat digital dalam proses pendidikan kristiani, baik di rumah, gereja, hingga sekolah..  
Teologi Transformasional sebagai Upaya Mereduksi Radikalisme dan Politik Identitas di Ruang Perjumpaan Digital Parhusip, Sarianto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.165

Abstract

money. The threat of terrorism is a severe problem of local and global politics. Although Indonesia is known as a multicultural country, challenges arise from religious differences that can trigger conflict. Complicated and controversial identity politics make people's views more complex and massive and can potentially cause division. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the Transformational Theology Study highlights an active role in reducing radicalism and identity politics in the digital space. This effort is to build a more just and peaceful society in a globally connected digital era. We must strengthen social awareness, improve digital literacy, and create inclusive communities because it can pave the way to a more peaceful and harmonious world in a globally connected digital era. So, the role of this theology changes the paradigm of Christianity to understand the nature and dynamics of radicalism and identity politics in the digital space because transformation theology and its role in overcoming radicalism and identity politics must be actualized in layers of society, especially on the Christian side. Abstrak Radikalisme dan politik identitas di dunia maya telah menimbulkan keprihatinan dalam masyarakat dan uang public digital. adanya ancaman terorisme yang menjadi masalah serius dalam politik lokal maupun global. Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara multikultural, tantangan muncul dari perbedaan agama yang bisa memicu konflik. Politik identitas yang rumit dan kontroversial membuat pandangan masyarakat semakin kompleks dan massif serta dapat berpotensi menyebabkan perpecahan. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa Kajian Teologi Transformasional menyoroti peran aktif dalam meredam radikalisme dan politik identitas di ruang digital. Ini adalah upaya untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan damai dalam era digital yang terkoneksi secara global. Haruslah memperkuat kesadaran sosial, meningkatkan literasi digital, dan membangun komunitas yang inklusif, Sebab hal itu dapat membuka jalan menuju dunia yang lebih damai dan harmonis di era digital yang terkoneksi secara global. Maka peran dari teologi ini mengubah paradigma kekristenan untuk mengerti hakikat dan dinamika radikalisme dan politik identitas di ruang digital, sebab adanya hakikat teologi transformasi dan perannya dalam penanggulangan radikalisme dan politik identitas harus diaktualisasikan dalam lapisan masyarakat terutama pada sisi kekristenan.
Persahabatan dalam Perspektif Platonis: Sebuah Refleksi bagi Pemuda Kristiani Tanto, Wignyo; Sabdono, Erastus; Daniel, Albertus; Takain, William; Erastus, Stephanie
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 2: Pebruari 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i2.202

Abstract

Young people who exist and interpret their relationships horizontally really need to understand the meaning of their relationships, of course, in their friendships. The fundamental problem is that young people prioritize reciprocity in their friendly relations rather than the value of "kindness." In Plato's view, friendship can be likened to a triangle, where the level of interchange between actors is relative, not primary. To find out vague problems, researchers used the Gap Method and a literature study approach. This discussion results in young Christians interpreting their existence in relationships as free of horizontal relationships alone. Still, instead, they pursue the vertical relationship of "God" together. Christian youth who involve God in their friendship relationships will go beyond epithumia and thumos relationships; their relationships will be at the logistic level. Abstrak Pemuda yang bereksistensi dan memaknai relasinya secara horizontal, sangat perlu memahami makna dari relasinya, tentu dalam persahabatannya. Permasalahan mendasarnya adalah pemuda lebih memprioritaskan resiprositas di dalam relasi persahabatannya, ketimbang nilai “Kebaikan”. Persahabatan dalam pandangan Platon dapat diibaratkan sebagai suatu segitiga “triangular”, di mana tingkat resiprositas antar pelaku memiliki sifat yang relatif, bukan yang utama. Untuk mengetahui permasalah yang samar-samar, peneliti menggunakan Metode Gap dan pendekatan studi kepustakaan. Hasil dari pembahasan ini, pemuda Kristen yang memaknai eksistensinya dalam berelasi, ia tidak terbelenggu dalam relasi horizontal semata, melainkan mereka bersama-sama mengejar relasi vertikal “Tuhan”. Pemuda Kristen yang melibatkan Tuhan di dalam relasi persahabatannya akan melampaui relasi epithumia dan thumos, relasi mereka akan berada pada level logistikon.
Pastoral Counseling Care for People with Depression Impacts Self-harm and Suicidal Ideation Taroreh, Christina Cynthia; Brek, Yohan; Wagiu, Meily Meiny; Luma, Subaedah
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 2: Pebruari 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i2.195

Abstract

People with depression have potential and symptoms that lead to acts of self-harm and a desire to end life. Conventional approaches in this regard, medical and psychological approaches, can overcome depression but have limitations, so there is a crucial need to expand interventions, including in spiritual contexts. People with depression must be helped holistically so that Pastoral Counseling Assistance can be the answer. This paper aims to describe pastoral counseling assistance as an indispensable effort for sufferers (victims) of depression impacting self-harm and suicide to get complete and sustainable recovery by restoring themselves, reasoning, and having hope and enthusiasm to live the reality of life. This research uses qualitative methods with a literature-review approach to obtaining relevant data. The results of this study show that holistic pastoral counseling assistance and using an integrated approach based on conditions and needs is effective in helping people with depression overcome depression and negative impulses.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pembentukan Kepribadian Anak Sekolah Minggu Usia 11-15 Tahun Walangitan, Nofry J.
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.109

Abstract

The relationship between humans as God's creation and the Creator himself will be well established if believers are aware of their sins and come to God, mainly because of God's mercy, which has atoned for human sins. In living their lives, believers try to please God and are considered a total offering. The efforts made by humans often exceed normal limits, especially for teenagers. Often, children carry out their existence, which is considered suitable to satisfy their desires. One of our tasks that has not been thoroughly carried out in special ministry education for teenagers is conveying the truth about the Lord Jesus. Therefore, how can we convey the truth to children worldwide about the Kingdom of God, one of which is through Christian Religious Education, taught to every human being from toddlers to the elderly, so that they can better feel our essence. as humans? Christian Religious Education's relationship with children, of course, depends on the individual concerned, whether he understands enough about Christian religious education. In every learning process of Christian Religious Education. In every Christian Religious Education learning process, learning media helps teachers in conveying messages or abstract concepts to children, for children aged 11-15 years. Abstrak Hubungan antara manusia sebagai ciptaan Tuhan dengan sang Pencipta itu sendiri akan terjalin dengan baik apabila orang percaya sadar akan dosa-dosanya dan datang pada Tuhan dan terutama karena kemurahan Tuhan yang telah menebus dosa manusia. Dalam menjalani kehidupannya, orang-orang percaya selalu berusaha menyenangkan hati tuhan dan dianggap sebagai persembahan total. Upaya yang dilakukan manusia sering melewati batas norma secara khusus anak remaja. Anak sering melakukan existensinya yang dianggap sudah benar untuk memuaskan keinginannya sendiri. Salah satu hal yang menjadi tugas kita yang belum dilaksanakan secara penuh dalam pendidikan pelayanan secara khusus pada anak-anak remaja adalah menyampaikan kebenaran tentang Tuhan Yesus. Oleh karena itu, bagaimana kita dapat menyampaikan kebenaran bagi anak diseluruh dunia tentang kerajaan Allah salah satunya adalah melalui Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang diajarkan kepada setiap insan mulai dari usia balita hingga lansia agar lebih mengalami hakekat kita sebagai manusia. Hubungan PAK dengan anak-anak tentu berpaut kepada pribadi yang bersangkutan, apakah dia hanya cukup mengerti saja tentang pendidikan Agama Kristen. Dalam setiap proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Dalam setiap proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, media pembelajaran sangat menolong Guru dalam menyampaikan pesan atau suatu konsep abstrak pada anak. Bagi anak usia 11-15 tahun.
Strategi Membangun Integritas Guru Pendidikan Agama Kristen: Sebuah Studi Persepsi Dosen STT Bethel Indonesia, Jakarta Sirait, Jannes Eduard
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 2: Pebruari 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i2.199

Abstract

This research is intended to find and describe appropriate and relevant strategies and follow appropriate principles in building the integrity of Christian religious teachers as teachers and heralds of the Kingdom of God. This research began with the erosion of teacher integrity in their professional duties. So, the main research problem is the decline in the integrity of Christian religious teachers in carrying out their work. The research uses literature data and field data. This research is qualitative-phenomenological. Data collection techniques were carried out through semi-structured interviews with predetermined research informants. They are the people who are considered the most knowledgeable and have the most information about teacher integrity. The research conclusion is that Christian religious teachers must consistently develop self-integrity and be sustainable. Increasing self-integrity can be achieved with five strategies, namely: understanding the urgency and importance of building the self-integrity of Christian religious teachers, following and establishing rules for building self-integrity, having the essential capital or ability to build personal integrity, and continuously increasing knowledge of hard skills and soft skills so that they are experts in their scientific competencies, building networks with people in the same profession is necessary. Abstrak Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan dan menguraikan strategi-strategi yang tepat dan relavan serta mengikuti kaidah-kaidah yang tepat dalam membangun integritas dari guru agama Kristen sebagai pengajar dan pewarta Kerajaan Allah. Penelitian ini berawal dari fenomena terjadinya erosi integritas guru dalam tugas profesi. Jadi, masalah utama penelitian adalah tentang kemerosotan integritas guru agama Kristen dalam melakukan pekerjaan. Penelitian menggunakan data-data literatur dan data lapangan. Penelitian ini adalah kualitatif-fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan model semiterstruktur kepada informan-informan penelitian yang sudah ditentukan. Mereka adalah orang-orang yang dianggap paling paham dan memiliki banyak informasi seputar integritas guru. Kesimpulan penelitian bahwa guru agama Kristen harus konsisten mengembangkan integritas diri dan berkelanjutan. Peningkatan self-integrity dapat dilakukan dengan lima strategi, yaitu: memahami urgensi dan kepentingan membangun integritas diri guru agama Kristen, mengikuti dan menetapkan kaidah-kaidah dalam membangun integritas diri, memiliki modal pokok atau kemampuan dalam membangun integritas diri, meningkatkan pengetahuan hard skill dan soft skill secara kontinyu sehingga ahli dalam kompetensi keilmuannya, dan membangun jejaring dengan orang-orang yang seprofesi.
Dari Yerusalem ke Ujung Bumi: Studi Biblikal tentang Perintah Yesus untuk Penginjilan Sunarko, Andreas Sese; Hermin, Hermin; Rahayu, Yohana Fajar
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 7, No 1: Agustus 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v7i1.207

Abstract

Misi Kristen dan penginjilan merupakan bagian penting dari kekristenan dan elemen penting dalam iman Kristen yang berakar pada mandat Tuhan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan kabar sukacita yaitu Injil ke seluruh dunia. Latar belakang permasalahan yang mendasari penelitian ini adalah pentingnya pemahaman teologis yang mendalam tentang alasan dan urgensi penginjilan bagi orang Kristen, yang sering kali kurang dipahami atau diterapkan secara konsisten dalam kehidupan gereja modern dewasa ini. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis dasar biblikal dari perintah Yesus untuk penginjilan, dengan fokus pada narasi Alkitab dari Yerusalem hingga ke ujung bumi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif deskritif dengan pendekatan studi Pustaka dan dengan analisis teks Alkitab, melibatkan studi eksegesis dan hermeneutika terhadap ayat-ayat kunci terkait penginjilan dalam nats Dari Yerusalem ke Ujung Bumi dan juga ayat pendukung dalam Perjanjian Baru. Melalui kajian ini, dapat disimpulkan bahwa perintah penginjilan merupakan mandat ilahi yang didasarkan pada kasih Allah terhadap seluruh umat manusia dan keinginan-Nya untuk menyelamatkan semua orang. Tentunya penginjilan bukan hanya tugas individu Kristen tetapi juga panggilan kolektif gereja yang harus dilaksanakan dengan kesungguhan hati, keberanian, dan pentingnya ketaatan kepada amanat agung Kristus, dengan mengikuti jejak para rasul yang memulai penyebaran Injil dari Yerusalem hingga ke ujung bumi.
Kepemimpinan Kristiani dalam Mengupayakan Kerukunan Sosial: Sebuah Pendekatan Teologis dan Implementasi Praktis Rining, Robertson; Siahaya, Karel Martinus
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.157

Abstract

Christian leadership is also required to positively or positively impact the social environment. Christian leadership exists to respect each other between religions in society and social communities and to maintain mutual feelings between religious communities to avoid friction between religious communities. Using a descriptive qualitative method, it can be concluded that integrating Christian values into the leadership of Christian leaders can be an effective instrument in building a just, harmonious, and peaceful community, as well as creating an environment that promotes harmony, mutual respect, and mutual prosperity. Moreover, harmony is the foundation of Christian leadership, which must emulate what Jesus did in actualizing his leadership. And, of course, Christian Values in Leadership must be practically implemented in God's people and social communities. Abstrak Kepemimpinan kristiani juga dituntut untuk membawa pengaruh positif atau berdampak baik dalam lingkungan sosial. Sebab kepemimpinan kristiani ada untuk saling hormat menghormati antar agama di dalam masyarakat, dan komunitas sosial, dan untuk saling menjaga perasaan antar umat beragama untuk menghindari adanya gesekan antar umat beragama. Menggunakan metode kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa mengintegrasikan nilai-nilai Kristen ke dalam kepemimpinan pemimpin Kristen dapat menjadi instrumen yang efektif dalam membangun komunitas yang adil, harmonis, dan berdamaian, serta menciptakan lingkungan yang mempromosikan kerukunan, saling menghargai, dan kesejahteraan bersama. Terlebih dengan jelas bahwa kerukunan sebagai Fondasi Kepemimpinan kristiani yang harus meneladani apa yang Yesus lakukan dalam mengaktualisasikan kepemimpinannya. Dan tentunya harus diimplementasi secara praktis Nilai-nilai Kristen dalam Kepemimpinan kepada umat Tuhan dan komunitas sosial.
Mengintegrasikan Nilai-nilai Kristiani dalam Proses Pembelajaran: Upaya Gereja dalam Pendekatan Holistik Mereduksi Radikalisme Pasaribu, Elintaria
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 2: Pebruari 2024
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i2.129

Abstract

The research in this article study explores the efforts of churches and Christianity to integrate Christian values in the learning process as a holistic approach to reduce radicalism. Utilizing a holistic approach, the church not only focuses on aspects of religious doctrine but also considers character development and good values and morals. A deep understanding of Christian values and morality by knowing the nature of Christian values so that there is a role for learning as an integration of teachings to be applied by the church in facing its challenges, namely radicalism. Using a qualitative research method with a literature study approach, it can be concluded that the church has implemented the value of Christianity in the context of reducing violent attitudes. Must be aligned with a holistic approach in Christian education. Christian education effectively forms a deeper understanding of Christian values to strengthen self-identity as a person who loves God and others and reduce the potential for radicalism in the community. Abstrak Penelitian dalam kajian artiel ini mengeksplorasi upaya gereja dan kekristenan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Kristen dalam proses pembelajaran sebagai pendekatan holistik untuk mereduksi radikalisme. Dengan memanfaatkan pendekatan holistik, gereja tidak hanya fokus pada aspek doktrin agama, tetapi juga mempertimbangkan pengembangan karakter dan nilai serta moral yang baik. Pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai dan moralitas Kristen dengan mengetahui Hakikat Nilai-nilai kristiani, sehingga adanya peran Pembelajaran sebagai Integrasi Ajaran untuk diterapkan gereja dalam menghadapi tantangannya yaitu radikalisme. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkana bahwa nilai kekristenan yang telah diimplementasikan oleh gereja dalam konteks mereduksi sikap kekerasan. Harus selaras dengan pendekatan holistik dalam pendidikan Kristen. Dimana pendidikan Kristen efektif dalam membentuk pemahaman yang lebih dalam terhadap nilai-nilai Kristen, sehingga dapat memperkuat identitas diri sebagai seorang yang mengasihi Tuhan dan sesama, serta mengurangi potensi radikalisme di kalangan masyarakat.
Relevansi Pelayanan Eksorsisme Lanjutan Tjokrohandoko, Soewarto; Gidion, Gidion; Susilo, David Priyo
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 2: Pebruari 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i2.152

Abstract

Some Christian figures state that the exorcism service is only relevant in the era of the Ancient Church, which was still thick with the context of idol worship and is no longer relevant today. The deliverance service is generally also understood as one carried out only once in a prayer meeting per person, without any other deliverance prayers or further spiritual guidance. The purpose of this study is to find an explanation of the post-departure prayer service that is relevant. The research method used is descriptive qualitative. The study results showed three forms of post-delivery prayer services: observation of the causes of possession by the power of darkness, continued deliverance prayers, and spiritual guidance. A church that does only one deliverance prayer service for each person (without any follow-up service) is the same as allowing eight evil spirits to return and destroy that person.AbstrakAda tokoh Kristen yang menyatakan bahwa pelayanan pelepasan (eksorsisme) hanya relevan di masa Gereja Purba yang masih kental dengan konteks penyembahan berhala, dan tidak lagi relevan pada masa kini. Pelayanan pelepasan umumnya juga dipahami sebagai pelayanan yang dilakukan hanya satu kali pertemuan doa saja pada tiap pribadi, tanpa ada doa pelepasan lanjutan ataupun bimbingan rohani lanjutan. Tujuan penelitian ini adalah menemukan penjelasan tentang pelayanan pasca doa pelepasan yang relevan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga bentuk pelayanan pasca doa pelepasan, yaitu observasi penyebab kerasukan kuasa kegelapan, doa pelepasan lanjutan dan bimbingan rohani. Gereja yang melakukan hanya satu kali pelayanan doa pelepasan pada tiap pribadi (tanpa ada pelayanan lanjutan), sama halnya dengan memberikan kesempatan delapan roh jahat untuk kembali dan menghancurkan orang itu