cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 379 Documents
Persentase Penyakit yang disebabkan oleh Jamur pada Buah Cabai Merah (Capsicum annuum L.) di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga Bella Ajeng Ayu Kirana; Eddy Tri Sucianto; Aris Mumpuni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3389

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan cabai merah kian hari terus meningkat karena banyaknya yang memanfaatkan sebagai bahan dasar untuk pembuatan berbagai jenis makanan. Cabai merah juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan dan farmasi. Penduduk di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga umumnya berprofesi sebagai petani. Para petani mengalami beberapa kendala dalam meningkatkan produksi tanaman cabai merah (C. annuum L.) karena adanya organisme pengganggu tanaman seperti hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur pada buah cabai merah (C. annuum L.), mengetahui jamur yang menyebabkan penyakit pada buah cabai merah (C. annuum L.) serta mengetahui besarnya nilai persentase penyakit yang disebabkan oleh jamur pada buah cabai merah (C. annuum L.) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai dengan pengambilan sampel secara random sampling pada 2 lokasi berbeda di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Identifikasi penyakit dilakukan dengan melihat tanda dan gejala. Identifikasi jamur dilakukan dengan melihat karakterisitik secara mikroskopis dan makroskopis, kemudian dihitung persentase penyakit pada buah cabai merah (C. annuum L.), selanjutnya dilakukan uji Postulat Koch. Hasil penelitian ini diperoleh satu jenis penyakit yang terdapat pada buah cabai merah (C. annuum L.) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga yaitu penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp. Persentase penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp sebesar 51,1%.
Aspek-aspek Reproduksi Cacing Diopatra neapolitana Di Cilacap Ita Purwati; Farida Nur Rachmawati; Eko Setio Wibowo
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3494

Abstract

Diopatra neapolitana merupakan polychaeta yang memiliki tubuh dengan struktur tabung besar. D. neapolitanan dapat dimanfaatkan sebagai pakan udang karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Penggunaan D. neapolitana sebagai pakan dilakukan dengan mengambil cacing langsung dari alam sehingga dapat mengganggu keberlangsungan populasi cacing D. neapolitana di alam. Kondisi ini memerlukan adanya usaha domestifikasi dan budidaya D. neapolitana, namun informasi tentang kondisi biologis dan reproduksi yang ada masih terbatas, terutama spesies yang ditemukan di Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek reproduksi D. neapolitana yang dapat mendukung domestifikasi dan budidaya cacing D. neapolitana. Hasil penelitian menunjukkan nilai rasio jenis kelamin yang seimbang yaitu 1:1. Ukuran tubuh cacing betina dan jantan tidak berbeda nyata. Hasil pengamatan pada cacing betina menunjukkan rata-rata jumlah segmen 131,96 ± 28,19 buah; rata-rata berat tubuh 2.65 ± 1,15 g dan cacing berada dalam fase mature dan submature dengan diameter telur antara 199-240 µm. Cacing jantan memiliki rata-rata jumlah segmen 136,97 ± 24,51 buah; rata-rata berat tubuh 2.18 ± 1,11 g dan bentuk sperma berupa tetrad spermatid. Hasil analisis hubungan berat tubuh dan tingkat maturasi D. neapolitana menunjukkan hasil korelasi negatif dengan r= 0,009, persamaan regresi linier y= 219.868 – 0,080x; dan nilai t hitung (-0,043) < t tabel (2,07961), dan asil analisis hubungan jumlah segmen dan tingkat maturasi D. neapolitana didapat nilai r = 0,101; r2 = 1%; persamaan regresi linier y = 224.247– 0,035x; dan t hitung (-0,463) < t tabel (2,07961). Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa %. Berat tubuh tidak berkorelasi positif dengan tingkat maturasi cacing D. neapolitana. Peningkatan berat tubuh tidak selalu dikuti dengan peningkatan tingakat maturasi, dan peningkatan jumlah segmen tidak selalu diikuti dengan peningkatan tingkat maturasi cacing D. neapolitana.
Perilaku Memilih Umpan Dengan Fagostimulan Yang Berbeda Pada Kecoak Jerman Blattella germanica L. (Dictyoptera: Blattellidae) Rizky Arjunnajat Aliefia; Trisnowati Budi Ambarningrum; Edi Basuki
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2007

Abstract

German cockroach (Blattella germanica L.) is one of the important residential pest insects, because of its role as a vector of disease. To reduce its population, it can be used with bait techniques. However, there was a rejection of glucose against German cockroaches against phagostimulant-based commercial bait. Therefore it is necessary to review the phagostimulant as a component of the bait to minimize failure to control German cockroaches based on bait using German cockroaches strain VCRU (Vector Control Research Unit). The first step to formulating the bait is to find the phagostimulant most sought by German cockroaches. The ingredients used as fagostimlan are sugar, durian, erythritol, and banana. The purpose of this study was to determine the behavior of choosing German cockroaches against bait with different phagostimulants and the peak of feeding activity in German cockroaches. This study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments giving phagostimulant and repeated 4 times divided into four test arenas. The treatment consisted of bait which each contained sugar, durian, erythritol, and banana as phagostimulants. Observation of behavior using the method of behavior sampling is recorded in continuous recording for 24 hours using a Closed Circuit Television (CCTV) camera. The parameters measured were latency, frequency, duration, and peak feeding activity of German cockroaches. The data were analyzed with ANOVA at p <0.05. The results showed that the behavior of selecting cockroaches from the VCRU strain on the bait was not significantly different (p<0.05) and was attracted to all feeds provided, but gel bait with sugar phagostimulant was the preferred bait by looking at the three parameters of latency, frequency, and duration. The results of the average latency in the VCRU strain to the durian gel for 17 minutes, the average frequency of most visits to the sugar gel in the VCRU strain by 10 times, the longest average duration of the VCRU strain gel for 1 minute 46 seconds and peak eating activity VCRU strains occur between 17:00 - 20:00.
Prevalensi dan Variasi Morfometrik Trichodina sp. pada Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) di Desa Rajapolah Tasikmalaya Wildan Mukholladun; Rokhmani Rokhmani; Edy Riwidiharso
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3220

Abstract

Gurami (Osphronemusgouramy Lac.) Is a type of freshwater fish that is widely cultivated by the people of Indonesia. The high price of gouramy is a measure of consumption and the meat is tender and tasty. In Tasikmalaya, carp farmers in the cultivation of gouramy seeds are still experiencing problems. Gouramy seeds raised to adult size experience high mortality due to ectoparasites. One of the ectoparasites was Trichodina sp. Research has been conducted aimed at 1. Knowing the prevalence of gouramy seeds that were attacked by Trichodina sp. obtained from fish farmers in the village of Rajapolah, Tasikmalaya Regency and 2. Knowing the morphometric variations of Trichodina sp. found in gouramy seeds obtained from fish farmers in Rajapolah Village, Tasikmalaya Regency. The method used in this study is a survey method. Seed gourami aged 2 weeks is use as a sample. Isolation and identification were carried out by making a range preparation and painting using a 2% AgNO3 solution. The results found that the prevalence of 88% or high, while the results of the examination of morphometric variations found 4 species of trichodina sp. namely T. Pediculus, T. Nigra, T.heterodentata, and T. Acuta.Keywords:Trichodina sp., Gourami, morphometric variations, abundance, Rajapolah
Keanekaragaman Kupu-Kupu Di Kawasan Air Terjun Dlundung Trawas, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur Indonesia Siti Zulaikha; Lu'luil Fajriyatil Aliyah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.4065

Abstract

The purpose of this study is to find out the diversity of butterflies in the area of Dlundung Trawas Waterfall, Mojokerto, East Java. The embedding method uses Visual Day Flaying by following the path in the area, the data obtained from observations are analyzed using the analysis of diversity index and Relative Abundance. Obtained as many as 22 species with a value of H'= 2.61 and the highest species FR are Libythea myrrha, Letopsia nina, Taencia palguna, and Papilio memnon. Based on these results it is known that the diversity of butterflies in the region in the moderate category due to the support of biotic and abiotic factors.
Dampak Pemanasan Global terhadap Fenologi Tanaman Kecipir (Psopocarpus tetragonolobus) dan Hubungannya dengan Serangga Pollinator Yuni Rokhdita Rahayuningtyas; Eming Eming Sudiana; Elly Proklamasiningsih
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3171

Abstract

Global warming or often referred to as global warming is a form of imbalance of ecosystems on earth due to the process of increasing the average temperature of the atmosphere, sea, and land on earth. The impact of global warming can make agricultural plants flower faster while pollinating insects are not ready so that the reproductive cycle is disrupted. Studying temperature changes as a result of global warming on an organism can be represented by an altitude gradient. The study aims to determine the effect of temperature changes on the phenology of winged bean plants (Psophocarpus tetragonolobus) which is described by the gradient of altitude and to determine the diversity of pollinator insects. The independent variable in this study is the difference in the gradient in elevation of the place, while the dependent variable is the phenology of the development of winged bean flowers and pollinator insects. The results of the study of abiotic factors showed that air temperature and sunlight intensity decreased in line with the increase in altitude from the surface of the seawater, while the humidity increased. The phenological analysis of winged bean plants showed the influence of altitude on plant height, number of leaves and branches, time of the first appearance, number of flowers and flower size as well as the diversity of pollinator insects.
Penentuan Kualitas Air Waduk Cacaban, Tegal, Jawa Tengah Berdasarkan Parameter Mikrobiologi Fitri Amaliah; Diana Retna Utarini Suci Rahayu; Dyah Fitri Kusharyati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3496

Abstract

Waduk Cacaban terletak di Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Waduk Cacaban merupakan tempat yang banyak kegiatan manusia seperti kegiatan domestik, industri, dan kegiatan lainnya yang berdampak negatif terhadap sumberdaya air dan dapat menurunkan kualitas air. Salah satu cara untuk mengetahui kualitas perairan adalah berdasarkan analisis bakteri coliform. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kualitas air Waduk Cacaban berdasarkan parameter mikrobiologi, dan menentukan status perairan Waduk Cacaban berdasarkan Indeks Pencemaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei, sedangkan metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling pada 3 stasiun (dermaga, inlet, dan keramba) dengan 2 kali pengambilan setiap stasiunnya. Parameter yang diamati yaitu bakteri coliform dan fecal coli dengan parameter pendukung yaitu pH, temperatur, dan Total Dissolved Solid (TDS). Analisis dilakukan berdasarkan parameter mikrobiologi sesuai standar dari SNI 06-4158-1996 dan status Waduk Cacaban berdasarkan Indeks Pencemaran sesuai KepMen LH Nomor 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Perairan Waduk Cacaban memiliki temperatur berkisar antara 29,2 – 32,6˚C, TDS 137 - 156 mg/L. pH 6, total Coliform 565 – 2850 CFU/100 mL, dan fecal coli 0 – 425 CFU/100 mL. Status pencemaran pada dermaga Waduk Cacaban (inlet, dermaga, dan keramba) dalam kondisi baik dan memenuhi baku mutu.
Cultivar Diversity of Balsam (Impatiens balsamina L.) in Banyumas Regency Rizki Aulia; Pudji Widodo; Wiwik Herawati
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2143

Abstract

Balsam or garden balsam (Impatiens balsamina L.) is a widely grown flowering plant belonging to the family Balsaminaceae. The most conspicuous part to distinguish the balsam is the difference in the flower shape and colors of each cultivar. The purpose of this research is to find out the cultivars diversity of the balsam. The method used in this study was survey with purposive sampling. The variables observed in this study was morphological characteristics including the stem, leaves, flowers, fruits, and seeds. The data obtained were analysed descriptively. The result of this study showed that there were 15 cultivars of I. Balsamina i.e. 'Pinkish White 5 Petal', 'Mix Pink Camellia, 'Pinkish White Camellia, 'Vivid Pink', 'White', 'Light Pink', 'Pinkish White', 'Light Magenta', 'Vivid Red', 'Red Camellia, 'Reddish Camellia, 'Rose Red Camellia, 'Vivid Magenta Camellia, 'Rose Green Camellia, and 'Vivid Pink Camellia’.
Pendugaan Daerah Potensial Penangkapan Ikan Lemuru (Sardinella sp.) Berdasarkan Klorofil-a Di Perairan Selat Bali Rais Fikri Azhari; Dinarika Jatisworo; Rose Dewi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3495

Abstract

Perairan Selat Bali merupakan daerah yang kaya sumberdaya ikan. Ikan Lemuru (Sardinella sp.) merupakan hasil perikanan paling dominan di perairan Selat Bali. Hampir 80% hasil penangkapan ikan di perairan Selat Bali berupa Lemuru. Pada kegiatan penangkapan, penentuan lokasi penangkapan merupakan aspek yang penting. Lokasi ikan lemuru, sangat ditentukan oleh kondisi perairan seperti konsentrasi klorofil-a. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui konsentrasi klorofil-a, hasil tangkapan ikan lemuru di perairan Selat Bali tahun 2014-2019, serta hubungan konsentrasi klorofil-a dengan hasil tangkapan ikan lemuru, dan mengetahui pola distribusi klorofil-a dari 2014-2019 sebagai pendugaan daerah penangkapan di perairan Selat Bali. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data klorofil-a dari satelit Aqua MODIS Level 3, dan data hasil tangkapan ikan lemuru tahun 2014-2019. Metode yang digunakan adalah metode observasi yaitu mengamati gejala-gejala secara sistemastis untuk menemukan sebuah fakta. Rata-rata konsentrasi klorofil-a setiap bulan selama 2014-2019 didapatkan nilai berkisar 0.196 mg/m3 - 2.268 mg/m3 Rata-rata hasil tangkapan setiap bulan selama 2014-2019 berkisar 190 ton – 1.202 ton. Hasil uji korelasi pearson antara klorofil-a dan hasil tangkapan menunjukkan nilai -0.026 yang berarti berbanding terbalik.
Komposisi Jenis dan Kepadatan Rumput Laut Hydrokoloid berdasarkan Karakteristik Dasar Perairan di Daerah Intertidal Nusakambangan Timur Cilacap Dwi Sunu Widyartini; Achmad Ilalqisny Insan; Kamsinah kamsinah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 4 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3568

Abstract

ABSTRACT Hydrocolloid seaweed is seaweed which contains agar, carrageenan and alginate, which are widely used as industrial raw materials. This study aims to determine the type composition of hydrocolloid seaweed and its density based on the characteristics of the bottom waters in the intertidal area of ​​East Nusakambangan Cilacap. The waters of East Nusakambangan have a central coral beach and a hollow coral beach which has a substrate in the form of sand, coral, volcanic rock, and coral fragments. This study used a survey method and sampling using a transect, a perpendicular line of the coast towards the sea, each transect line was placed with a quadrant plot (1 x 1m2) randomly selected on hard and soft substrates. The results of this study, the coral substrate on the two beaches obtained 2-8 types of hydrocoloid seaweed, with the highest composition of seaweed species of 57.6% on hard substrate with the highest density in the Gracilaria gigas species; 440.6-1239.7 g / m2, Gracilaria gigas has a Dichotomus branching type with a cylindrical talus shape. In the mixed substrate on the coast of Karang Tengah, there were 4 types of Hydrocoloid seaweed with a composition of 46.3% hydrocoloid species with the highest density in the species Padina australis; 387.7g / m2. Padina australis sheet and unbranched talus form Keywords: hydrocolloid, composition, East Nusakambangan, Intertidal

Page 9 of 38 | Total Record : 379