cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 147 Documents
PENATALAYANAN GEREJA DI BIDANG MISI SEBAGAI KONTRIBUSI BAGI PELAKSANAAN MISI GEREJA Ramona Vera Amiman
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.85

Abstract

Di dalam seluruh isi Alkitab disaksikan bahwa Allah mengutus banyak orang “menjalankan misi dari Allah”. Misi itu muncul dari hati Allah sendiri, lalu dikomunikasikan kepada hati umat-Nya, dan karena Allah ingin menjangkau umat manusia secara global, maka Allah memanggil dan mengutus gereja-Nya untuk melaksanakan misi-Nya. Pelaksanaan misi Allah itu bukan hanya berupa misi penginjilan secara lintas budaya saja, tetapi segala sesuatu yang menjadi jatidiri, baik yang dikatakan maupun yang dilakukan seorang Kristen dan sebuah Jemaat Kristen, semestinya bersifat missioner. Karena misi gereja itu mengalir dari misi Allah, dan misi Allah ada demi seluruh dunia milik-Nya, maka gereja harus mulai dengan melihat bahwa dirinya berada dalam aliran besar misi Allah, gereja mesti memastikan bahwa sasaran-sasaran missionernya, baik yang jangka panjang maupun pendek, bersesuaian dengan sasaran Allah. Itulah sebabnya sangatlah penting bagi gereja untuk melaksanakan misi, karena apabila gereja tidak melakukan misi maka gereja akan sulit bertumbuh dan berkembang, yang pada akhirnya gereja mengalami kemunduran. Tujuan gereja adalah melakukan misi Allah, menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah-tengah dunia. Misi tersebut terkandung dalam tri tugas panggilan gereja, yakni: bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia). Agar gereja dapat melakukan pelayanan misi di tengah-tengah dunia ini, maka gereja harus melakukan penatalayanan bagi pelayanan gereja itu sendiri, karena penatalayanan merupakan tanggung jawab gereja. Karena penatalayanan berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab, maka dalam melakukan penatalayanannya, gereja melaksanakan pekerjaan Allah yang telah dimandatkan kepadanya dan sepenuhnya melayani atas nama Allah serta bertanggung jawab kepada Allah atas pelaksanaan semua pekerjaan yang ditanggung atasnya. Tanggung jawab dalam melakukan penatalayanan ini merupakan bagian penting dalam gereja. Penatalayanan juga adalah pokok yang penting dalam pelayanan gereja, karena penatalayanan berkenaan dengan pengelolaan semua sumber daya yang telah dipercayakan Allah kepada gereja. Segala sesuatu adalah milik-Nya, tetapi Dia telah menunjuk gereja sebagai penjaga milik-Nya, Maka gereja bebas mengatur semua sumber daya itu, tetapi pada akhirnya nanti harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya sesuai dengan garis-garis pedoman yang terdapat dalam Alkitab.
MODEL MISI PERKOTAAN RASUL PAULUS DI KORINTUS Jonar Situmorang
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.88

Abstract

Model Misi Perkotaan yang dilakukan oleh rasul Paulus di Korintus menjadi suatu bentuk pelayanan misi, yang kontekstual. Adapun bentuk model misi perkotaan yang dilakukan Paulus adalah “menjadi seperti”. Dengan menjadi seperti, memudahkan dalam pendekatan untuk menyampaikan kabar baik. Tetapi patut diperhatikan dan digaris-bawahi, bahwa dalam model pendekatan ini jangan sampai kebablasan, yaitu kehilangan kontrol diri. Ada rambu-rambu yang harus diperhatian, di mana firman Allah adalah sebagai tolok ukur. Dan tujuan dari pelaksanaan model misi ini adalah memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi kemuliaan nama Tuhan. Untuk terwujudnya akan hal ini, maka makna dari “menjadi seperti” dapat pula berarti bahwa umat Krisrtus dapat menjadi teladan, sebagai kesaksian yang hidup bagi orang lain. Pelayanan misi perkotaan harus menjadi perhatian gereja. Karena di perkotaan itu terdapat multikompleks permasalahan. Yang paling menyolok adalah adanya kesenjangan sosial, yang membuat orang lain enggan dekat dengan gereja. Belum lagi keegosian, yang mementingkan kepentingan pribadi, membuat ketidak-pedulian dengan sesama. Tetapi dengan konsep yang dilakukan Paulus, yaitu “menjadi seperti”, dapat menciptakan keterbukaan dengan orang lain. Di sinilah kesempatan untuk dapat menjadi saksi. Yang tidak kalah penting dalam pendekatan secara kontekstualisasi ini adalah bahwa firman Allah menjadi barometernya. Jangan sampai firman Allah yang menyesuaikan diri dengan budaya. Dengan menjadi seperti, bisa saling memahami, dan berempati, yang tentunya dilandasi dalam kasih Kristus, sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain.
POLA PEMBINAAN BERDASARKAN EFESUS 5 : 22- 33 BAGI PERNIKAHAN DINI WARGA JEMAAT MASA KINI Rafles Rudi Laua
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.89

Abstract

Berdasarkan acuan pada kajian teoritik dan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sesuai fokus dan subfokus peneliti mengenai exegese Kitab Efesus 5:22-33 sebagai pola pembinaan bagi pernikahan, maka ditemukan sebab-sebab lemahnya penerapan pola pembinaan bagi pernikahan di Gereja Bala Keselamatan Desa Pani’i dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, Pernikahan yang baik adalah komitmen total dari dua orang di hadapan Tuhan dan sesama. Pernikahan yang baik didasarkan pada kesadaran bahwa pernikahan ini adalah kemitraan yang mutual. Pernikahan yang baik juga melibatkan Tuhan secara proaktif di dalam setiap pengambilan keputusan, sebab pernikahan adalah sebuah rencana ilahi yang istimewa. Dengan demikian, pernikahan seharusnya tetap dijaga dan dipertahankan di dalam kekuatan Roh yang mempersatukan kedua insan. Kedua menurut penulis pola pembinaan dalam pernikahan merupakan suatu metode yang paling efektif dalam memberikan pembekalan kehidupan suami istri melalui konseling pranikah dimulai dari pengertian tentang hakekat pernikahan kristen, mengetahui pernikahan itu adalah rencana dan rancangan Allah dalam hidup manusia, dan pentingnya pola diterapkan pada setiap pelayanan diharapkan dapat membuat pelayanan menjadi berkualitas. Setiap gereja memiliki pola yang menjadi ciri dalam pelayanannya, bukan hanya sekedar untuk membuat pelayanan kelihatan aktivitasnya namun untuk dapat memaksimalkan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat. Ketiga, pola pembinaan pernikahan Kristen yang telah menjadi bagian dari pelayanan gereja ini sejak lama tidak diterapkan dengan baik. Kegiatan-kegiatan ibadah yang mengedepankan pembinaan pemuda dalam menghadapi pergaulan dan perencanaan masa depan memlalui rencana penikahan yang ada pada dasarnya memiliki pola pengajaran yang sama. Hanya disebagian ibadah ketegorial yang memiliki sedikit perbedaan. Penyebabnya adalah hamba Tuhan tidak dapat melihat tanda-tanda perubahan zaman dan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi jemaat yang juga berubah. Hasilnya jemaat menjadi kurang peduli pentingnya pembinaan pernikahan Keempat, pola pembinaan pernikahan tidak mendapat perhatian dari hamba Tuhan dan kurangnya pemahaman dari hamba Tuhan mengenai pola pembinaan disebabkan kurangnya pengalaman dalam pembinaan, dalam hal ini hamba Tuhan harus terus meningkatkan dan memperlengkapi diri melalui buku-buku serta perlunya berelasi dengan gereja lain atau hamba Tuhan baik dari denominasi yang sama maupun dari denominasi gereja yang berbeda. Kelima, pembinaan melalui koseling merupakan pembelajaran khusus yang bertujuan untuk membentuk pasangan suami istri sampai akhirnya mereka memahmi benar arti sebuah pernikahan Kristen dan menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. Hamba Tuhan harus menerapkan pola yang dapat membuat pasangan suami istri merasa dewasa dalam menjalani kehidupan berumah tidak kehilangan esensi dari pembelajaran itu sendiri. Dalam penerapan pola ini, pemberitaa melalui firman Tuhan didaarkan pada kitab Efesus 5:22-33. Pola itu, sesungguhnya di zaman ini sangat diperlukan dikarenakan pengaruh-pengaruh sekuler yang begitu cepat mempengaruhi prilaku hidup dalam pernikahan yang dipengaruhi oleh: (1) Kekuatan Teknologi yang cepat sehingga antara kebutuhan dan keinginan tidak sesuai; (2) Komunikasi yang tidak harus dibangun ,justru membuat keretakan hidup suami istri dengan adanya perselingkuhan; dan (3) Tayangan-tayangan yang tidak lagi terbatas dapat disaksikan sehingga membentuk pola kehidupan yang tidak lagi mengutamakan kesucian hidup. Lemahnya pelayanan ini juga disebabkan: (a) Karena gereja kurang peduli akan pentingnya pembinaan sejak awal arti pernikahan Kristen (b) Gereja terlalu sibuk mengurusi hal-hal kegiatan gereja saja dan mulai meninggalkan perhatian kepada kehidupan keluarga. (c) Gereja tidak melaksanakan pola pembinaan sejak muda kepada pemuda-pemudi gereja untuk mempersiapkan hidup dalam berumah tangga (d) Karena kurang memperlengkapi diri, gereja tidak dapat menerapkan pola yang ada dalam Alkitab, sesungguhnya ada pola yang sangat ideal yang dapat diterapkan dalam pelayanan.
PEMULIHAN ALKITABIAH TERHADAP KONSEP DIRI IRASIONAL KAUM MUDA Triani Devita Sinaga
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.90

Abstract

Pertama konsep diri adalah pandangan manusia tentang diri sendiri yang meliputi dimensi pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapan mengenai diri sendiri dan penilaian tentang diri sendiri baik secara fisik, psikis, sosial, intelektual, moral maupun spiritual dalam seluruh kehidupannya. Setiap pribadi manusia bisa mengalami konsep diri irasional termasuk kaum muda baik; laki-laki maupun perempuan namun konsep diri irasional bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Sebab konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun bisa kembali normal setelah menemukan konsep diri yang tepat sesuai persfektif Allah. Konsep diri irasional muncul dalam diri seseorang karena faktor pembentukan yang mempengaruhi; bisa melalui pola asuh orang tua, lingkungan, dan pengalaman yang dinilai dalam dirinya dan menentukan itulah penilaiannya terhadap dirinya. Dampak yang diperlihatkan oleh priibadi yang mengalami konsep diri irasional tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab dan bisa membahayakan dirinya karena itu mempengaruhi spritual – gangguan mental dalam dirinya. Oleh sebab itu setiap pribadi yang mengalami konsep diri irasional perlu ditangani dan dilayani. Kedua, konsep diri pada manusia bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan ini dalam pandangan Alkitab sangat jelas. Tuhan menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, manusia sangat dikasihi, dihargai dan berharga dalam pandangan Tuhan. Seperti apapun kehadiran pribadi dalam dunia, Allah mengetahui dan sudah memiliki rancangan yang indah. Karena itu seharusnya manusia memiliki penilaian terhadap konsep dirinya sesuai persfektif Allah. Tidak dapat dipungkiri akibat dosa manusia salah dan cenderung untuk melakukan kesalahan dalam menilai Tuhan dan dirinya yang berakibat manusia memiliki konsep diri irasional. Namun Allah terus mencari dan menawarkan keselamatan (Yohanes 3:16) supaya manusia tidak binasa dan dipulihkan Tuhan untuk keberadaannya. Tujuan Allah pada setiap pribadi ialah semakin bertumbuh menyerupai Kristus (Efesus 4:13-15) karena manusia dikasihi dan berharga (Yesaya 43:4). Ketiga, dalam penelitian didapati bahwa kaum muda di GPIN Bandar Lampung ada yang mengalami konsep diri irasional. Kondisi yang diperlihatkan dan teraktualisasi sangat memprihatinkan. Karena itulah peneliti mencoba menawarkan pelayanan untuk menangani pribadi-pribadi yang mengalami konsep diri irasional dengan Model Pemulihan Alkitabiah sebagai langkah-langkah untuk memulihkan kehidupan pribadi yang mengalami konsep diri irasional. Keempat, oleh sebab itu setelah mengadakan penelitian melalui wawancara kepada informan yang terkait baik kepada kaum muda yang mengalami konsep diri irasional, orang tua, gereja atau gembala jemaat, dan psikolog. penulis menyimpulkan bahwa, 1) Penanganan kepada kaum muda yang mengalami konsep diri irasional tidaklah mudah sebab pribadi ini tertutup dan tidak bersedia untuk siapa pun masuk dalam kehidupan pribadinya karena mengganggap dirinya benar dan bertindak benar meskipun secara sadar mengakui bahwa tidak nyaman dengan kehidupannya saat ini. 2) Tidak dapat dipungkiri keterbatasan dan kelemahan dalam penangan kepada pribadi yang mengalami konsep diri irasional sudah dilakukan oleh gereja dan orang tua. 3) Model Pemulihan Alkitabiah memang dipakai dalam melayani namun cenderung kepada konseling pribadi atau konseling Kristen (memecahkan masalah) bukan pemulihan (dari dosa – masa lalu – mempersiapkan untuk berani menghadapi kenyataan dan keyakinan bahwa Tuhan bersama dengan dirinya).
PASTORAL KONSELING PSIKOLOGI ALKITABIAH BAGI PEREMPUAN YANG TELAH MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS SEBELUM MENIKAH Junius Halawa
Missio Ecclesiae Vol. 7 No. 2 (2018): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v7i2.91

Abstract

Pertama, Pelayanan pastoral konseling merupakan pelayanan yang efektif untuk memahami dan menolong jemaat dalam setiap persoalan mereka. Secara khusus para hamba Tuhan harus memberikan pelayanan pastoral konseling bagi jemaat yang memiliki pergumulan khusus salah satunya bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah, supaya jemaat dikuatkan, jiwanya diselamatkan dan mengalami pemulihan di dalam Tuhan. Dalam melakasankan pastoral konseling bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah perlu menggunakan pendekatan psikologis Alkitabiah. Psikologi Alkitabiah dapat diterapkan para konselor Kristen untuk memudahkan memahami pikiran, perasaan dan keadaan yang sedang dialami konseli. Maka, psikologi berguna sebagai prinsip pendekatan supaya konseli dapat lebih terbuka, sehingga tujuan pastoral konseling itu sendiri dapat tercapai. Kedua, Perempuan merupakan ciptaan Tuhan yang mulia, berharga dan istimewa di hadapan Allah. Perempuan juga memiliki natur segambar dan serupa dengan Allah sehingga perempuan sehakikat dengan laki-laki. Tuhan menciptakan perempuan memiliki peranan sebagai penolong bagi suami, mengajarkan kebenaran kepada anak dan memberikan hidup untuk melayani Tuhan. Kemudian seks adalah merupakan ciptaan Tuhan yang baik bagi manusia. Tuhan punya tujuan menciptakan seks bagi manusia agar manusia memiliki keintiman, satu keastuan dan kenikmatan. Seks yang berkenan kepada Allah ialah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami-istri yang sudah diberkati dalam pernikahan kudus. Seks menurut Alkitab memiliki dimensi prokreasi, dimensi relasi, dimensi rekreasi dan dimensi refleksi. Namun, fakta membuktikan bahwa seks seringkali dipahami secara salah oleh sebagian manusia. Kosekuensi logis dari pemahaman seks yang salah akan menimbulkan hubungan seksual yang terlarang misalnya hubungan seks sebelum menikah. Secara khusus perempuan melakukan hubungan seks sebelum menikah, memiliki beberapa faktor diantaranya pertumbuhan biologis, pacaran, pelecehan seksual, teknologi dan sebagainya. Perilaku hubungan seks sebelum menikah akan berdapak terhadap spritual, psikologi, fisik dan sosial. Ketiga, Kasus perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menginzikan hubungan seksual di luar penikahan kudus. Dosa seks sebelum menikah mengakibatkan seseorang berstatus manusia berdosa di hadapan Allah. Perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah permasalahannya bisa diselesain dengan metode pastoral konseling yang tepat. Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan mengenai faktor dan dampak hubungan seks sebelum memikan, maka cara untuk menyelesaikan kasus tersebut dengan menerapkan model pastoral konseling psikologi Alkitabiah bagi perempuan yang telah melakukan hubungan seks sebelum menikah
KRISTOLOGI BAHARI Jammes Juneidy Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 1 (2019): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i1.92

Abstract

Kristologi merupakan doktrin yang paling mendasar dalam iman Kristen karena Kristologi semacam engsel yang menggerakkan pintu. Jika pemahaman Kristologinya salah maka hal ini akan memberi dampak kepada pengajaran yang lain dalam iman Kristen. Karena Kristologi yang sehat akan menghasilkan pengajaran yang sehat. Dan Kristologi yang “sehat” adalah Kristologi yang dibangun atas dasar Alkitab. Dalam perkembangan sejarah gereja Kristologi telah menjadi pembicaraan hangat selama berabad-abad bahkan perdebatan itu pun masih terjadi di era Post Modern ini dengan mengikuti alur berpikir post modern. Kristologi mendapat tantangan khusus.Semua hal ini terjadi bukan hanya dalam lingkup gereja tetapi juga diluar gereja. Kristologi dipandang sebagai kekayaan gereja tetapi dalam implementasinya Kristologi mengalami banyak kesulitan karena Kristologi hanya dianggap doktrin bahkan dipersempit “milik” sekelompok orang dalam denominasi gereja tertentu. Kristologi “dipersulit” dengan rumusan-rumusan doktrinal yang membuatnya menjadi sangat sulit untuk diterima dan dipahami. Dalam konteks kehidupan beragama yang Majemuk di Indonesia, Kristologi harus di implementasikan dengan berbagai macam pendekatan tetapi bukan dalam pengertian kompromi. Sebagaimana kristologi dengan pendekatan empati yaitu suatu upaya penjelasan kristologi lebih personal.Jadi Kristologi tidak hanya menjadi sebuah “pajangan” indah dalam Gereja tetapi menjadi nyata dalam kehidupan sosial masyarakat.Kristologi Bahari yang dikaji dalam tulisan singkat ini menjadi pertimbangan khusus bagi masyarakat SATAS demi membangun pemahaman yang mendasar tentang siapakah Yesus Kristus yang pada akhirnya pemahaman ini menjadi dasar dan kemudian memberi pengaruh bagi kehidupan religius dan juga dalam kehidupan sosial masyarkat.Karena sangat tidak mungkin memisahkan kedua bentuk kehidupan ini. Pemahaman yang benar tentang siapa Yesus Kristus dan apa karyaNya bagi kehidupan manusia akan memberi warna tersendiri dalam kehidupan sosial mayarakat. Jadi seorang yang religius pasti akan memberukan pengaruh yang positif dalam kehidupan sosial masyarakat. Kristologi mampu memberikan jawaban bagi kehidupan sosial masyarakat. Kristologi bukan hanya sekedar sebuah rumusan tetapi Kristologi adalah kehidupan itu sendiri.
PELAYANAN PASTORAL BAGI ISTRI YANG BERDUKA DAN SIGNIFIKANSINYA TERHADAP PROSES PENEMUAN MAKNA HIDUP JEMAAT GEREJA KRISTEN JAWA KISMOREJO KARANGANYAR Rini Wulandari
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 1 (2019): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i1.93

Abstract

Pelayanan pastoral merupakan pelayanan penggembalaan dan pendampingan kepada jemaat yang didalamnya ada kegiatan kemitraan, bahu-membahu, menemani, dan berbagi dengan tujuan saling menumbuhkan, menguatkan dan mendukung. Demikian halnya pelayanan pastoral kepada orang yang berduka seharusnya berisikan kegiatan-kegiatan di atas. Melalui kegiatan bahu-membahu, menemani atau berbagi tersebut, diharapkan jemaat yang berduka dapat bertumbuh secara rohani. Dengan pertumbuhan rohani yang baik, jemaat yang berduka diharapkan bisa menemukan arti hidup melalui penderitaan atau krisis yang sedang dihadapinya. Hal itu bisa dicapai bukan hanya melalui kunjungan pada saat ibadah penghiburan saja, tetapi bisa melalui percakapan pastoral dan kunjungan yang rutin. Percakapan pastoral meski singkat atau biasa namun bila dikerjakan dalam kesungguhan dan ketulusan, akan membantu jemaat yang berduka untuk mengungkapkan persoalan-persoalan yang muncul akibat kehilangan yang dideritanya. Para pelayan Tuhan dapat melihat fakta-fakta yang dialami dan dihadapi jemaatnya yang berduka sehingga bisa memberikan pertolongan yang tepat sasaran. Kunjungan rutin dapat menguatkan dan menghibur jemaat sehingga tidak merasa sendiri. Selain itu dalam kunjungan rutin juga bisa dilakukan percakapan pastoral yang mendalam. Pola pelayanan pastoral dengan cara memberikan bantuan praktis berkaitan dengan persiapan penguburan, pelayanan doa dan pemberitaan Firman di kebaktian penghiburan dan pemakaman tidaklah salah hanya saja kurang efektif. Pola pelayanan seperti ini kurang bisa menyentuh dan menyelesaikan perasaan-perasaan problematis akibat kedukaan. Berdasarkan penelitian Penulis, adanya ketidakefektifan pelayanan pastoral dapat terjadi karena kurangnya pemahaman tentang hakekat pelayanan pastoral di antara pelayan Tuhan. Berhubung kurangnya pemahaman tersebut maka mereka tidak memprioritaskan waktu untuk melakukan bentuk pelayanan pastoral yang lain (seperti kunjungan, telepon dan percakapan pastoral), ditambah lagi dengan banyaknya kegiatan gerejawi yang menyita banyak waktu. Bila kendala ini tidak dicarikan jalan keluarnya atau diselesaikan, maka pelayanan pastoral akan sulit untuk menyentuh kehidupan pribadi jemaat.
PELAYANAN PASTORAL BAGI ANAK-ANAK BURUH Legia Suripatty
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 1 (2019): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i1.94

Abstract

Problematika buruh di Indonesia memang sangat kompleks. Tetapi ini tidak berarti bahwa hal ini didiamkan saja atau “let it go with the wind”.Sebagai anak bangsa kita harus meberikan perhatian khusus terhadap hal ini secara khusus kepada nasib anak-anak para buruh. Jika kita hanya berharap kepada satu instansi saja dalam penanganan anak-anak para buruh, maka di waktu yang akan datang Indonesia akan menjadi negara “peng-eksport” tenaga buruh terbesar dan itu adalah buruh anak. Karena itu gereja sebagai lembaga spiritual yang memiliki pengaruh besar harus mengambil peran dalam upaya mencegah perlakuan yang tidak layak terhadap anak-anak para buruh. Tulisan ini masih sangat sederhana dan perlu dikaji secara ilmiah lagi secara khusus model pendekatan karena model pendekatan biasanya tergantung konteks dimana para buruh berada. Tulisan ini hanyalah langkah awal untuk menstimulir semua mereka yang merasa diri terpanggil sebagai pelayan Tuhan utnuk memikirkan pelayanan secara holistik atau memikirkan dan memberikan sumbangsih bagi pelayanan pastoral holistik.Konsep bentuk pelayanan pastoral ini masih perlu masukan lagi demi keefektifan pelayanan pastoral kepada anak-anak para buruh. Serta bagaimana cara pemberdayaan anak-anak para buruh yang maksimal untuk mencegah kegiatan buruh anak. Anak adalah generasi penerus bangsa termasuk anak para buruh.Mereka berhak untuk mendapat perlakuan dan pelayanan pastoral bahkan mereka juga berhak untuk menjadi agen perubahan di bangsa ini.
SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PENDERITAAN MENURUT 1PETRUS 4:12-16 DAN RELEVANSINYA BAGI ORANG PERCAYA Elri Masniari Saragih
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 1 (2019): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i1.95

Abstract

Semua orang percaya harus memahami dan meyakini bahwa Allah adalah sumber kasih. Adalah penting memiliki pemahaman yang benar tentang Allah dan kasih-Nya supaya orang percaya tidak salah mengerti bahwa kasih Allah tidak selalu diartikan dengan sesuatu yang menyenangkan atau membahagiakan sebagaimana konsep manusia pada umumnya. Pemahaman yang benar akan Allah harus diwujudkan dengan sikap hidup yang benar. Sehingga dalam segala keadaan, baik bahagia maupun menderita, tetap memuji Tuhan. Kemampuan dan kekuatan orang percaya dalam menghadapi penderitaan dan api siksaan akan membuat kasih Allah semakin tampak nyata. Hal yang tidak kalah penting adalah sikap rendah hati dan ketetapan hati. Sikap rendah hati akanmemampukan orang percaya mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, tidak bersungut-sungut, mengeluh, dan menyalahkan Tuhan saat penderitaan melanda tetapi disanggupkan untuk bersukacita. Dan ketika orang percaya menghadapi kebencian dunia yang membenci kebenaran, perlu memiliki ketetapan hati untuk memuliakan Allah dengan menyatakan kebenaran maka kita tidak akan merasa malu, justru akan mendorong kita untuk terus taat kepada panggilan-Nya yang unik itu.
PERSONAL EVANGELISATION METHOD (PEM) SEBAGAI POLA PENDEKATAN PEKABARAN INJIL DALAM KONTEKS PLURALISME Rio Janto Pardede
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 1 (2019): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i1.97

Abstract

Pemahaman akan agama yang pluralis seringkali menjadi penghalang dalam penyajian Injil, karena pemahaman pluralisme berpikir bahwa semua agama sama saja, cuma caranya yang berbeda-beda. Para hamba Tuhan atau orang yang sedang menyajikan Injil dalam konteks pluralisme tersebut sering sekali kehabisan kata atau akal untuk memberikan penjelasan. Padahal peberitaan Injil tersebut harus tuntas dan clear. Pekabaran Injil merupakan tugas dan kewajiban orang-orang yang sudah mengaku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun faktanya, sekarang tidak sedikit orang Kristen atau yang “mengaku” Kristen dan Gereja menghindar dari pelayanan Pemberitaan Injil dengan berbagai alasan, seperti: Pemberitaan Injil itu tugas hamba-hamba Tuhan, cara memberitakan Injil jarang diajarkan, bahkan takut jika terjadi penolakan dari orang yang sedang dilayani. Karena itulah, Personal Evangelisation Methode diharapkan dapat menolong orang percaya, baik hamba Tuhan, jemaat awam untuk memberitakan Injil sehingga tidak mengalami benturan ataupun penolakan dari orang yang sedang dilayani. Personal Evangelisation Methode dapat menolong dalam perkenalan, bahkan dalam penyajian Injil.

Page 7 of 15 | Total Record : 147