cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 147 Documents
PELAYANAN TERHADAP JEMAAT LANJUT USIA SEBAGAI PENGEMBANGGAN PELAYANAN KATEGORIAL Elvin Paende
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.99

Abstract

Lanjut usia adalah mereka yang rata-rata telah memasuki usia 60 tahun ke atas. Dalam usia seperti ini setiap orang mengalami perubahan-perubahan yang mengarah pada kemunduran-kemunduran, baik dari segi fisik maupun rohani. Perubahan fisik akan mempengaruhi segi psikologis, sosiologis, dan pneumatologis para lanjut usia, sehingga mereka akan mengalami perasaan rendah diri karena merasa tidak mampu dan tidak berguna lagi.Hal tersebut akan membuat mereka menutup diri, akibatnya mereka merasa kesepian. Masalah ini akan terasa lebih berat lagi oleh karena memang para lanjut usia akan ditinggalkan oleh anak-anak yang telah terpencar ke berbagai tempat untuk membangun rumah tangga sendiri (sidron “sarang kosong”). Dalam keadaan demikian para lanjut usia cenderung untuk berdiam diri di rumah saja, suatu kondisi yang menjadi penyebab timbulnya masalah baru bagi para lanjut usia. Mereka akan menjadi asing bagi linkungan dan dilupakan orang, akibatnya mereka tertolak dan kehilangan harga diri. Oleh karena itu pelayanan gereja terhadap para lanjut usia haruslah ditempatkan sebagai satu pelayanan kategorial dan serius ditangani oleh pekerja dan hamba Tuhan khusus yang sungguh memahami persoalan atau permasalahan lanjut usia.Pelayanan kategorial tersebut akan membuat gereja terikat secara moril pada penanganan yang serius dan bertanggung jawab terhadap para lanjut usia yang menjadi anggota jemaat. Itu berarti pelayanan kategorial akhirnya memberikan keseimbangan dalam perhatian dan aksi penatalayanan dalam seluruh gerak pelayanan gereja.
PELAYANAN KONSELING KRISTEN KEPADA PASANGAN SUAMI ISTERI DALAM MENYELESAIKAN KONFLIK KELUARGA Agus Suryo Jarot Yudhono
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.100

Abstract

Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga adalah langkah penting yang harus segera dilakukan oleh setiap pelaku gereja (hamba Tuhan) yang berperan sebagai konselor. Sebab ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan bahwa pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik adalah penting dan maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut: (1) Pelayanan konseling Kristen sebagai representatif Tuhan Yesus Kristus, Sang Konselor Agung, seharusnya pelayanan konseling Kristen dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab sebagai bentuk meneladani figure Tuhan Yesus dalam melakukan konseling kepada umat manusia. Sehingga peran pelayanan konseling Kristen kepada jemaat khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga memberikan dampak yang besar secara rohani, dimana setiap jemaat dan keluarga Kristen tetap kokoh di dalam iman dan mampu menyelesaikan konflik keluarga dengan baik sesuai prinsip-prinsip Alkitabiah; (2) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga perlu mendapat perhatian khusus bagi gembala jemaat, gembala bertanggungjawab untuk memperhatikan langsung kegiatan pelayanan konseling Kristen tersebut karena seluruh pembinaan kerohanian jemaat, termasuk pelayanan konseling Kristen menjadi tanggung jawab seorang gembala jemaat. Jika gembala jemaat tidak aktif ada di tempat, maka pendelegasian kepada para pengerja gereja yang telah ditunjuk oleh gembala jemaat untuk melayani konseling Kristen kepada jemaat bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab; (3) Pelayanan konseling Kristen kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga menjadisolusi yang tepat di tengah-tengah perubahan dan perkembangan jaman yang semakin kompleks. Sekaligus persoalan dan permasalahan yang dihadapi oleh setiap keluarga juga semakin kompleks sehingga dengan adanya pelayanan konseling Kristen mampu membantu memberikan jawaban dan jalan keluar bagi keluarga yang menghadapi konflik keluarga; (4) Bentuk keseriusan pelayanan konseling Kristen terhadap keluarga dalam menyelesaikan konflik perlu diwujudkan dengan proaktif. Sehingga gereja sebagai pelaku/konselor dari pelayanan konseling Kristen dapat berkontribusi dan berdampak terhadap keluarga yang sedang dalam menghadapi konflik sehingga keutuhan dan keharmonisan keluarga bisa tetap terjaga dengan baik; dan (5) Diperlukan kerjasama yang baik antara pihak gereja (gembala dan para pengerja) dengan seluruh jemaat, khususnya kepada pasangan suami-isteri dalam menyelesaikan konflik keluarga untuk aktif melakukan konseling Kristen jika memerlukan konseling dalam menyelesaikan permasalahan maupun konflik keluarga yang tidak dapat terselesaikan secara pribadi. Maka pasangan suami-isteri perlu melibatkan pihak gereja untuk melakukan konseling Kristen dalam menyelesaikan permasalahan atau konflik keluarga.
STRATEGI PELAYANAN PASTORAL KONSELING SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN ANTUSIASME JEMAAT DALAM BERIBADAH Florentina Sianipar
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.101

Abstract

Gereja selama ini belum memiliki strategi dalam menerapkan pelayanan pastoral konseling terhadap jemaat yang antusiasme ibadahnya rendah. Gereja selama ini juga kurang tanggap dalam memberikan perhatian dan tindak lanjut terhadap ketidakhadiran jemaat pada jam-jam ibadah di gereja. Hamba Tuhan dan pengerja gereja belum memiliki rencana untuk memantau alasan-alasan atas ketidakhadiran jemaat dalam setiap kegiatan peribadahan di gereja. Kegiatan bezuk baru dilakukan setelah rentang waktu yang terlalu lama yaitu satu sampai dua bulan tidak hadir. Sementara itu, masalah lemahnya antusiasme sering terjadi dalam diri jemaat yang tengah memiliki persoalan dan krisis yang belum tertangani. Gereja seharusnya jangan hanya fokus pada tata liturgi dan pelayanan altar, tetapi perlu lebih memperhatikan kebutuhan psikologis jemaat yang sering membutuhkan pertolongan untuk menghadapi krisis-krisis dalam hidupnya. Gereja jarang memiliki seorang hamba Tuhan konselor cakap dan terlatih yang dapat menerapkan strategi pelayanan pastoral konseling bagi jemaat. Gembala seringkali tidak mengetahui secara persis kondisi keseharian jemaat yang sewaktu-waktu memerlukan pelayanan pastoral konseling.Disinilah letak perlunya gereja memperlengkapi para pelayan untuk bisa melayani jemaat secara menyeluruh. Gereja perlu memiliki figur hamba Tuhan konselor yang dapat melakukan pelayanan pastoral konseling secara efektif. Hal tersebut dapat dilakukan melalui pembekalan dan peningkatan kapasitas bagi hamba Tuhan yang memiliki talenta dan kerinduan menjadi konselor Kristen. Tidak kalah pentingnya bagi gembala untuk lebih memperhatikan pelayanan pastoral konseling pada jemaat dengan mengatur waktu untuk melakukan kunjungan pastoral ke rumah jemaat dan untuk melakukan pelayanan konseling. Penerapan strategi pelayanan pastoral konseling yang tepat akan membantu gereja untuk mengurai masalah lemahnya antusiasme jemaat untuk beribadah. Gembala belum memiliki rencana program, target dan sasaran kerja yang jelas untuk melaksanakan peran pelayanan pastoral. Fasilitas-fasilitas yang ada di gereja seharusnya juga bisa dipergunakan untuk menunjang pelayanan pastoral konseling secara lebih efektif. Termasuk adanya tim pelayanan seharusnya dapat dikoordinir supaya dapat bekerjasama dengan baik. Penerapan strategi pelayanan pastoral konseling dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: melibatkan tim yang dimiliki gereja, menguatkan kapasitas hamba Tuhan konselor, melakukan peran pelayanan pastoral konseling secara tepat, menetapkan sasaran dan target pelayanan serta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap hasil pelayanan. Gereja perlu memotivasi dan mengajak seluruh jemaat dan pelayan Tuhan untuk memiliki hubungan pribadi yang indah dengan Tuhan. Jemaat didoktrin untuk memprioritaskan ibadah lebih dari apapun dalam hidupnya dan diarahkan hatinya untuk tetap berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Gereja jangan sampai kehilangan api semangat dan antusiasme dalam beribadah dan menyembah Tuhan Sang Gembala Agung. Pengajaran tentang apa itu ibadah, bagaimana motivasi yang benar dalam beribadah dan tentang antusiasme dalam menyembah Tuhan perlu sering disampaikan kepada jemaat baik melalui khotbah secara tematis, melalui tulisan-tulisan dalam media gereja atau dengan cara-cara lain. Melalui pengajaran dari gereja, jemaat diajak untuk menyadari perilaku-perilaku yang salah dalam beribadah dan komitmen kerohaniannya diharapkan dapat mengalami pembaharuan. Pengajaran yang berulang-ulang dan mendalam akan mendukung keberhasilan penerapan strategi dalam pelayanan pastoral konseling, sebab proses konseling itu sendiri selalu berupaya menolong jemaat untuk memiliki pengetahuan rohani yang benar akan Allah.
SIKAP ETIS KRISTEN TERHADAP PERCERAIAN MENURUT MARKUS 10:9 Jefry Lodewyck
Missio Ecclesiae Vol. 8 No. 2 (2019): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v8i2.102

Abstract

Semua orang percaya harus memahami dan meyakini bahwa Allah sumber kasih (Roma 5:8). Adalah penting untuk setiap manusia memahami, dan mengalami kasih Allah dalam pengalaman nyata sehari-hari (Ibr. 2:9). Allah sebagai desainer pernikahan, telah mendesain pernikahan sebagai satu lembaga ciptaan Allah yang tertua dalam dunia ini. Sebelum ada satu bangsa, kerajaan, bahkan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan satu unit keluarga. Kasih dalam hubungan Adam dan Hawa begitu harmonis meniktmati kasih Tuhan di dalam Taman Eden. Pernikahan adalah suatu hal yang unik, juga indah dan kudus.Alkitab memberikan gambaran hubungan suami istri seperti hubungan Kristus sebagai mempelai laki-laki dengan orang-orang percaya sebagai mempelai perempuan (Efesus 5:22-23). Kegagalan hubungan suami-istri yang diikuti perceraian adalah salah satu dari sekian banyak realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia. Yang penting membedakan antara kedua fenomena itu: Keinginan seorang istri atau seorang suami untuk bercerai adalah akibat dari kegagalan hubungan kasih. Kasih berperan penting dalam kelangsungan hidup pernikahan karena kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Pet.4:8). Karena kasih juga membuat seseorang rela berkorban (Ams.17:17), bahkan memberikan nyawanya. Perceraian bukanlah jalan akhir untuk penyelesaian masalah dalam pernikahan. Masih ada mujizat bagi orang yang percaya kepadaNya. Seungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar (Yes. 59:1). Hubungan suami-istri yang harmonis sangat bergantung kepada pengertian kedudukan suami dan istri menurut Alkitab, dan bagaimana baik suami maupun istri menempatkan diri sesuai dengan pengertian itu.
BOLEHKAH ORANG KRISTEN DI KOTA WISATA BATU BERCERAI? Erni M.C. Efruan
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.105

Abstract

Pada saat kini tingkat perceraian di Indonesia sangat memprihatinkan. Sebuah surat kabar harian dengan berani mengusung tema “Perceraian Darurat Di Indonesia!” Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperingatkan bahwa angka perceraian di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Pasifik. Di antara jumlah permohonan perceraian yang masuk tahun 2019 tercatat 604.997 kasus, 79 persen permohonan telah dikabulkan pengadilan. Lebih dari 479.618 pasangan menikah telah resmi bercerai. Mengejutkannya, perkara kasus perceraian yang diajukan dari pihak istri (Cerai Gugat) totalnya mencapai 355.842 kasus. Artinya penggugat cerai oleh istri sebanyak 70 persen. Sedangkan kasus perceraian yang diajukan dari pihak suami (Cerai Talak) mencapai 124.776 kasus. Di Jawa Timur, Januari hingga Mei 2016 terdapat 3.063 pengajuan kasus perceraian. Total 2.032 istri yang menuntut perceraian terhadap suaminya. Data pada Kemenag Kota Batu tercatat 300 kasus perceraian dan 300 pernikahan dini terjadi dari 1.678 perkawinan pada tahun 2018. Dengan demikian latar belakang penelitian adalah: Apakah orang Kristen di Kota Wisata Batu, Jawa Timur juga berkontribusi pada peningkatan angka perceraian di Indonesia? Bolehkah orang Kristen bercerai? Bagaimana tanggapan Yesus Kristus menurut Injil Markus 10: 1-12? Tujuan penelitian adalah menemukan jawaban Yesus dalam Injil Markus 10: 1-12 sebagai perspektif yang dapat ditimplementasikan dan antisipatif terhadap meningkatnya jumlah kasus perceraian di Kota Wisata Batu, Jawa Timur. Pendekatan terhadap topik “Bolehkah Orang Kristen Di Kota Wisata Batu, Jawa Timur Bercerai?” menggunakan Metode Deskripsi. Hasil analisis literatur menyimpulkan bahwa Yesus Kristus tidak pernah mengizinkan perceraian pasangan Kristen dengan alasan apa pun. Tidak pernah! Hasil survei lapangan menunjukkan bahwa ada kasus perceraian, tetapi tidak terdaftar di Kantor Pemerintah terkait di Kota Wisata Batu, Jawa Timur. Oleh karena itu, penyelidikan ini masih terbuka untuk penelitian lebih lanjut, mengapa ada dua kasus perceraian pada pasangan Kristen di Kota Wisata Batu, Jawa Timur, namun tidak terdaftar di Instansi Pemerintah?
IMPLEMENTASI KECERDASAN SPIRITUAL BAGI PENDIDIKAN Fredi Purwanto; Rini Wulandari
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.107

Abstract

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengeksplorasi kecerdasan spiritual yang didasarkan pada kebenaran Alkitab. Studi ini dapat dianggap sebagai sebuah signifikansi dari sudut pandang bahwa individu yang cerdas secara spiritual dapat dipengaruhi oleh faktor non-kognitif mereka. Studi ini dapat memunculkan fakta bahwa kelompok individu semacam itu memang ada. Dalam studi ini digunakan metode analisis deskriptif, yaitu suatu metode yang dipakai untuk meneliti sekelompok manusia yang berhubungan dengan kondisi atau situasi tertentu untuk memperoleh data sesuai dengan fakta saat ini. Metode deskrptif juga juga merupakan metode untuk mencari fakta dengan intepretasi yang tepat. Dalam kajian penulis, ditemukan bahwa kecerdasan spiritual sangatlah penting dalam keberadaan manusia.Pemecahan masalah dan aplikasi untuk pengambilan keputusan dan situasi kehidupan adalah indikator kecerdasan spiritual. Hal tersebut juga dibuktikan dengan perilaku yang memancarkan “buah Roh” dan sikap melayani. Pada akhirnya, tujuan dan ekspresi kecerdasan spiritual yang paling memuaskan adalah relasi yang penuh kasih dalam persekutuan dan dengan Tuhan.Penolakan untuk bersekutu dengan Tuhan memiliki efek menggelapkan hati dan pikiran. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual melibatkan lebih dari sekadar persepsi (ketajaman), refleksi, asimilasi, pemahaman, dan bahkan pengetahuan akan firman atau teologi. Hal-hal seperti berlatih disiplin rohani, menyelaraskan perilaku dengan pengetahuan, serta mengintegrasikan umpan balik dan pertobatan sebagai lingkaran pembelajaran yang kritis akan memaksimalkan kecerdasan spiritual. Roh Allah, sebagai Pribadi yang menyatakan kebenaran tentulah memiliki peran yang sangat sentral penting di sini. Selain itu, kepekaan untuk mengemban sebuah tanggung jawab dengan baik dikembangkan melalui refleksi pada panggilan Tuhan.
REAFIRMASI MONOTEISME TRINITARIAN TERHADAP KONSEP HENOTEISME DIKALANGAN ORANG KRISTEN Manintiro Uling
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.109

Abstract

Artikel ini memaparkan mengenai konsep monoteisme Trinitarian sebagai sebutan lain, dari doktrin Trinitas yang merupakan Theisme Kristen, sebagaimana yang diwahyukan Alkitab. Akan tetapi, pada kenyataannya pemahaman sebagian orang Kristen terhadap monoteisme Trinitarian seringkali tanpa disadari terjebak pada konsep henoteisme. Mengakui atau menyembah satu Allah, tetapi tidak menyangkali keberadaan allah-allah lain, sehingga muncullah klaim bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang unggul, daripada “allah-allah” lain. Itulah sebabnya pentingnya menegaskan kembali pemahaman monoteisme Trinitarian bagi setiap orang Kristen. Kajiannya akan menggunakan studi literatur Injili, berdiskusi dengan literatur dari non Injili untuk mengumpulkan berbagai data dari buku, dan jurnal yang relevan dengan topik yang dibahas. Ternyata monoteisme Trinitarian, bukanlah henoteisme. Henoteisme merupakan produk mitologi Yunani kuno, fenomena agama, tidak bersumber dari Alkitab dan bukanlah Allah sejati.
IMPLEMENTASI MISI HOLISTIK BAGI TIM PALIATIF RUMAH SAKIT BAPTIS BATU JAWA TIMUR Gracia Deborah Alfons; Maria Hanie Endojowatiningsih; Yohanis Udju Rohi
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.110

Abstract

Misi holistik adalah misi yang dijabarkan secara utuh atau menyeluruh. Sedangkan Perawatan Paliatif adalah perawatan yang tidak hanya menekankan pada aspek fisik saja, tetapi juga berfokus terhadap aspek-aspek psikososial, emosional serta spiritual untuk meningkatkan kualitas hidup seorang pasien. Dalam implementasinya, ditemukan bahwa pelayanan Perawatan Paliatif perkembangannya sangat lamban di tiap daerah di Indonesia. Di Kota Wisata Batu sendiri, baru Rumah Sakit Baptis Batu lah yang sudah terbentuk dan berjalan Tim Paliatifnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi Misi Holistik bagi Tim Paliatif di Rumah Sakit Baptis Batu Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian naturalistik yang didasarkan pada filsafat fenomenologis dengan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Beberapa hasil temuan dari penelitian ini, diantaranya: Masih ada ketidakselarasan antara mandat budaya dan mandat penginjilan yang seharusnya berjalan secara simultan dalam misi yang holistik yang dikerjakan di Rumah Sakit Baptis Batu. Kedua, Perawatan Paliatif lahir dari pengalaman rohani iman Kristen yang begitu kuat dari Cicely Saunders, pendiri dari pergerakan Hospice dan Paliatif modern. Ketiga, waktu dalam perkunjungan rutin kepada pasien-pasien dari rumah ke rumah (home care), dirasa sangat singkat. Berdasarkan temuan-temuan dalam penelitian ini, maka di bagian akhir penulis memberikan beberapa rekomendasi kepada Rumah Sakit Baptis Batu yaitu dengan mengadakan program seminar atau pelatihan misi holistik untuk seluruh stakeholder Rumah Sakit, persekutuan bersama anggota Tim Paliatif, dan juga kunjungan terjadwal diluar waktu perkunjungan rutin, sehingga Tim Paliatif lebih menghayati tiap tugas dan peran mereka dalam Perawatan Paliatif.
ANCAMAN AJARAN SESAT DI LINGKUNGAN KEKRISTENAN: SUATU PELAJARAN BAGI GEREJA-GEREJA DI INDONESIA Morris Phillips Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.115

Abstract

Hadirnya ajaran sesat dilingkungan Kekristenan, sudah ada sejak eksisnya gereja di zaman para rasul. Pergerakan ajaran sesat tersebut, terus berlanjut sampai hari ini di seluruh dunia Kristen. Para rasul telah berjuang mengatasi dan menolak ajaran sesat tersebut. Tetapi gerakan ajaran tersebut, tetap berlangsung sampai hari ini. Bahaya, ancaman dan rongrongan ajaran sesat tadi sudah merusak, terus merusak dan menyelewengkan ajaran yang ortodoks, menyesatkan pikiran, merusak iman dan menimbulkan dekadensi moral Kristiani. Karena itulah gereja wajib, mensikapi dan menangkalnya. Tujuan dari penelitian dan penulisan artikel ini adalah: (1) Untuk memahami, menganalisis, mengkritisi dan menentukan sikap dan posisi yang jelas terhadap berbagai pengajaran sesat itu dan (2) untuk mengingatkan gereja supaya menyadari secara dini, ancaman dan bahaya dari ajaran sesat itu. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah penggabungan antara ‘metode penelitian historis’ dan ‘metode penelitian theologis’, dengan prosedur sebagai berikut : (1) Menetapkan masalah untuk diteliti lebih lanjut, (2) Mencari dan menggali informasi tentang masalah tersebut secara komprehensif ; menganalisis, mengkritisinya serta menentukan solusinya dan (3) Menyajikan hasil temuan secara deskriptif, informatif dan selektif. Hasil yang diperoleh dari penelitian yang sudah dilakukan adalah (1) Dalang pergerakan dan sumber ajaran sesat adalah roh setan sendiri yang adalah roh penyesat, (2) Inisiator, konseptor dan penganjur ajaran sesat, berasal dari internal gereja sendiri, melalui tokoh-tokohnya yang berpengaruh, (3) Ancaman dan serangan ajaran sesat sudah menghasilkan ‘gereja yang tersesat’, yang telah menyeleweng dari kebenaran Kristus dan (4) Karena itu, seluruh gereja yang ada di bumi ini dan juga di Indonesia, diwajibkan untuk menangkal dan melawannya dengan ajaran yang ortodoksi
KONSEP INTEGRITAS MENURUT MATIUS 5: 17-20 Yanjumseby Yeverson Manafe; Yenny Anita Pattinama
Missio Ecclesiae Vol. 9 No. 1 (2020): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v9i1.117

Abstract

Integritas merupakan suatu karakter yang mencakup harga diri seseorang, karena dasar dari integritas adalah karakter. Pada dasarnya hakikat pribadi yang berintegritas dapat dilihat dalam diri Yesus Kristus yang dapat dibaca dalam Alkitab. Dari hasil eksegese ditemukan bahwa Yesus adalah pribadi yang berintegritas. Yesus ingin para murid dan orang percaya lainnya memiliki integritas. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep integritas dalam Matius 5:17-20. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan paradigma naturalistik yang didasarkan pada metode fenomenologis dengan pendekatan grammatical analysis. Teknik pengumpulan data digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan studi literatur. Beberapa temuan dari hasil penelitian ini adalah orang yang berintegritas adalah orang memiliki cara berpikir yang positif, konsisten dalam perkataan, teguh dalam komitmen, memiliki ketaatan, melakukan tanggungjawab, hidup dalam kejujuran, setia melakukan hukum Taurat dan juga memiliki keteladanan. Berdasarkan temuan temuan dalam penelitian ini maka dibagian akhir peneliti akan memberikan beberapa rekomendasi kepada hamba Tuhan dan orang percaya

Page 8 of 15 | Total Record : 147