Al-Fath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Articles
197 Documents
Ayat Raḍā’ah dalam Perspektif Alquran dan Kesehatan
Ridha Rifani
Al-Fath Vol 12 No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v12i1.3179
wanita setelah mengalami proses melahirkan. Selain itu ASI merupakan asupan gizi paling baik bagi para bayi hingga Allah Swt mewajibkan kepada para ibu untuk menyusui bayi yang dilahirkannya. Allah Swt memerintahkan untuk menyusui setiap anak yang baru dilahirkan agar tumbuh dan berkembang dengan baik selama duatahun berdasarkanQS.Al-Baqarah/2:233, QS.An-Nisa/4:23, QS.Aț-Țalaq/ 28:6, QS.Qașaș/28:7. Bagaimana pun hubungan suami istri tetap saja anak menjadi prioritas dalam menjaganya denganbaik. Anak menjadi tanggungjawab seorang bapak apabila istri dari bapak tersebut sudah ditalak. Apabila bayi masih dalam penyusuan maka kewajiban ayah untuk memberikan upah kepada istrinya atau wanita yang menyusui bayi tersebut. Wanita yang menyusui bayi padahal ia bukan ibu kandungannya akan menyebabkan keharaman dalam menikah sebagaimana keharaman nasab. Ahli kesehatan menemukan bahwa ASI akan mempengaruhi perkembangan bayi baik dari fisik maupun psikis. Keutamaan ASI dalam menyusui sangat penting karena kandungan ASI yang sangat luar biasa dapat menyesuaikan keadaan bayi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi.
Teori-Teori Dasar Pemikiran Modern dalam Islam di Indonesia
Ahmad Sugiri
Al-Fath Vol 2 No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v2i1.3205
Dalam Pandangan Harun Nasution Bangsa Indonesia tidak lagi memandang bahwa kajian agama atau pemikiran-pemikiran keagamaan kajian utama, dan tidak dipandang penting lagi, hal ini baginya membuat bangsa Indonesia terutama umat Islam menjadi bangsa materialistis dan hanya membangun karakter bangsa dengan pola pemikiran intelektual. Keberhasilan Harun yang paling spektakuler adalah tegaknya "tradisi intelektual" di kalangan mahasiswa, hal ini dapat disaksikan hasilnya kini, dimana hampir seluruh cendekiawan muslim lulusan IAIN yang sekarang tampil merupakan hasil didikan Harun baik langsung maupun tidak langsung. Tulisan ini menelaah bagaimana Harun Nasution memaknai Islam sebagai objek kajian keilmuan, teori-teori apa sajakah yang dibangun dalam merombak struktur pemikiran yang dipetakan sebagai agrasi keagamaan" di atas, serta bagaimana relevansi teori-teori tersebut dalam konteks masyarakat Indonesia kontemporer.
Wanita Karir dalam Perspektif al-Qur'an
Enok Ghosiyah
Al-Fath Vol 10 No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v10i2.3079
Seiring berjalannya waktu, berkembangnya sains dan teknologi. Kita tidak bisa lagi membeda-bedakan porsi laki-laki dan wanita di luar lingkup keluarga. karena sudah tidak asing lagi saat ini banyak sekali wanita yang ikut serta dalam pembangunan sosial. Dan di era emansipasi ini karir sebagai identitas yang penting dan menjadi salah satu sarana bagi wanita untuk mengembangkan diri dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Ada beberapa hal yang menjadi kesimpulan peneliti yaitu: peran perempuan memilih menjadi wanita karir tidak akan menjadi masalah selama kebebasan itu masih memenuhi syarat dan dihalalkan oleh Islam. Wanita karir dalam Tafsir Al Qur’an Kementerian Agama RI menggambarkan kedudukan wanita sebelum datangnya Islam, bahwa wanita tidak memiliki tempat terhormat di hadapan laki-laki. Sebaliknya keadaan itu berubah setelah Islam datang perempuan lebih dihormati dalam segala peranannya. Selain itu, wanita mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya, seorang anak perempuan yang mewarisi nilai-nilai Islam sebagai seorang isteri wanita menjadi pasangan suami (secara biologis maupun psikologis). Dan wanita juga mempunyai peranan di bidang sosial.
Reorientasi Makna Jihad Menurut Mufasir Kontemporer
Syafi'in Mansur;
Henki Oktaveri
Al-Fath Vol 13 No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v13i2.2899
Sayyid Qutb tidak semena-mena melepaskan kata ‛Jihad fisik‛ dari lisannya. Konsep jihad selalu membawa kemaslahatan untuk masyarakat banyak, bukan sebagai konsep yang menakutkan pribadi manusia. keutamaan jihad Jaminan Allah terhadap orang-orang yang keluar di jalan-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Sayyid Qutb mempertegas lebih spesifik lagi bahwa hukum jihad adalah fardh ‘ain jika telah berhadapan dengan musuh.
Fungsi dan Peran Shadaqah
M. Syamsuddin
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3354
Islam sebagai agama rahmatan lil ’alamien' menuntun pemeluknya untuk memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungannya. Kehadiran Islam untuk memecahkan persoalan-persoalan hidup yang ril dalam berbagai aspeknya. Oleh karenanya seorang muslim yang ideal adalah seorangyang shalih (ritual) sekaligus shalih sosial. Shadaqah adalah merupakan term umum yang mencakup semua kebaikan dan pemberian, baik berupa materi maupun non materi. Dalam konteks pemberian yang bersifat materi, maka shadaqah terbagi dua, yaitu: shadaqah wajib disebut zakat dan shadagah sunnah dinamakan pula infaq termasuk wakaf.
Peranan Bahasa Arab dalam Kajian Ilmu Agama Islam
Muhammad Sari
Al-Fath Vol 9 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v9i1.3331
Bahasa Arab sudah dikenal sejak zaman pra-Islam. Pada zaman ini Bahasa Arab sering dijadikan perlombaan, khususnya yang bersifat apresiatif kesenian. Lahirnya agama baru yang dibawa Nabi Muhammad Saw, yang sumber utamanya al-Qur’an ditulis dalam Bahasa Arab dan susunan kalimatnya serta bahasanya tidak dapat ditandingi, karena ia bukan ciptaan manusia (Muhammad) melainkan wahyu Allah Swt. Bahasa dan kehidupan beragama erat sekali hubungannya. Semua agama mempunyai kitab suci yang diturunkan dalam bahasa ummatnya. Adapun naskah kitab suci dirasa lebih agung dan syahdu bila ditulis dalam bahasa aslinya. Kitab suci agama Islam, yakni al-Qur’an ditulis dalam Bahasa Arab, bukan dalam bentuk terjemahan. Penerjemahan kitab suci kurang berfaedah, sebab tidak mampu mencakup makna hakiki dari yang diterjemahkan. al-Qur’an dan al-Sunnah serta al-ijtihad pada awalnya ditulis dalam Bahasa Arab. Ketiga sumber hukum tersebut secara original merupakan lahan kajian ajaran Islam secara utuh. Realitas itu memperlihatkan bahwa Bahasa Arab tak dapat dipisahkan dari hakikat wujud Islam itu sendiri. Keharusan bagi siapapun yang ingin mendalami dan mengkaji Islam secara luas menguasai Bahasa Arab sebagai alat bantunya.
Konsep Ilmu Ladunni dalam Kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidhr AS
Aminah, Aminah
Al-Fath Vol 14 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v14i2.3674
Inti dari kandungan Q.S. Al-Kahfi ayat 60-82 adalah nabi Musa as. yang diperintahkan oleh Allah untuk berguru kepada nabi Khidhr as. merasa kesulitan untuk memahami pola kinerja ilmu ladunnî. Keilmuan syari’at yang dimiliki oleh nabi Musa as. tidak mampu memahami apa yang telah dilakukan oleh nabi Khidir as.. Nabi Musa as. yang berjanji untuk bersabar ternyata tidak mampu untuk melakukannya. Sehingga pada akhirnya, nabi Musa as. yang selama perjalanan tidak dapat bersabar menyebabkan perpisahan diantara keduanya. Nilai yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah mengenai penjelasan ilmu ladunnî yang hanya dapat diperoleh dengan penyucian jiwa yaitu dengan membersihkan hati dari kotoran-kotoran nafsu.
Hadis Syafa’at ; Rasulallah SAW
Masrukhin Muhsin
Al-Fath Vol 4 No 1 (2010): Juni 2010
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v4i1.3355
Semua sepakat bahwa syafa'at itu ada, syafa'at Allah SWT. Permasalahannya sekarang adalah selain dari Allah SWT, termasuk di dalamnya syafa'at Nabi Muhammad SAW, apakah Nabi Muhammad SW bisa memberi syafa'at kepada umatnya nanti di hari kiamat? menurut golongan Ahl al-Sunnah bisa berdasar Al-Qur'an dan Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad, Nabi Muhammad SAW bisa memberi syafa'at kepada umatnya dengan seizin dari Allah berdasarkan firman Allah: "man dzal Ladzi Yashfa'u 'indah Illa bi Idznih." sedang menurut golongan Mu'tazilah dan Khawarij, pada masa lalu, atau Musthafa Mahmud, pada masa sekarang, berpendapat bahwa hanya Allahlah yang berhak memberi syafa'at, sedang selain-Nya termasuk Nabi Muhammad SAW, tidak bisa, berdasar firman Allah "qul lillah al-Syafa'ah Jami'an"
Konstruksi Al-Qirā’at Al-‘Āsyr Terhadap Penafsiran Ayat-Ayat Hukum Menurut Al-Jashash dan Ilkiya Al-Harashi
Pranata, Sofyan Puji
Al-Fath Vol 14 No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v14i2.3664
al-qira’at ialah cara membaca ayat al Qur’an yang berupa wahyu Allah, dipilih oleh salah satu imam ahli al-qira’at berbeda dengan ulama lain, berdasarkan riwayat mutawatir sanadnya dan selaras dengan kaidah-kaidah bahasa arab serta cocok dengan bacaan terhadap tulisan al-Qur’an yang terdapat dalam salah satu mushaf ‘ustmani. Dalam membentengi keabsahan al-Qur’an dan bacaannya (qira’at), para ulama memiliki standar dan syarat-syarat yang berbeda satu sama lainnya dalam menetapkan bacaan yang dapat diterima (shahih) ataupun bacaan yang ditolak. Hal ini dilakukan karena dalam perjalanannya, al-qira’at telah mengalami perusakan dan pemalsuan. Ibn Al-Jazari (w. 833 H) memberikan syarat yaituالسند صحة al-qira’at tersebut harus memiliki ketersambungan sanad yang ṣahih; العربية مطلقا موافقة al-qira’at tersebut harus sesuai dengan kaidah bahasa Arab secara mutlak; dan تقدير ولو مطابقة الرسم al-qira’at tersebut sesuai dengan rasm al - mushaf meskipun tidak harus sama.
Ahammiyah al-Hijrah Fi Al-Qur’ān
Ahmad Hidayat
Al-Fath Vol 3 No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32678/alfath.v3i1.3332
Haditsah (peristiwa) penting terjadi dalam dunia Islam bahkan dalam universum ini, sebuah momentum bersejarah itu adalah Hijrah (migrasi) Rasulullah s.a.w. bersama para loyalisnya dari bumi Makkah yang tidak kondusif untuk dakwah Islamiyah menuju bumi Yatsrib (Madinah) yang dalam perspektif Rasulullah relati kondusif untuk membumikan Islam. Logika Islam dalam konteks hijrah ini adalah apresiasi terhadap qanun sababiyah (hukum kausalitas). Ketika sebuah cita-cita di canangkan maka media-media menuju cita-cita itu dilalui. Dengan Hijrah itulah kemudian Rasulullah s.a.w. berhasil menjalankan dakwah Islamiyah. Ada sebab ada akibat. Dengan sebab Hijrah akibatnya dakwah sukses. Komitmen untuk Hijrah sesunguhnya telah ada sejak beberapa bulun sebelumnya yaitu pada bulan Muharram. Baru pada bulan Rabi'ul Awal Rasulullah s.a.w. merealisasikan Hijrahnya. Sebab itulah kemudian para Ilmuan Islam memulai penanggalan Hijriyah dari bulan Muharram. Al-Qur’an yang mulia merilis akan keagungan reward orang-orang yang melaksanakan Hijrah ini.