cover
Contact Name
Cucuk Evi Lusiani
Contact Email
lusiani1891@polinema.ac.id
Phone
+6282140565353
Journal Mail Official
lusiani1891@polinema.ac.id
Editorial Address
Jl. Soekarno Hatta No. 9, Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang 65141
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi
ISSN : 19788789     EISSN : 27147649     DOI : http://dx.doi.org/10.33795/distilat
Core Subject : Engineering,
Distilat: Jurnal Teknologi Separasi is an Open Access Journal with manuscripts in the form of research articles, literature review, or case reports that have not been accepted for publication or even published in other scientific journals.
Articles 879 Documents
PENGARUH SUHU DAN UKURAN PARTIKEL PADA PROSES PEMBUATAN NATRIUM SILIKAT DARI BATUAN PYROPHYLLITE Wibowo, Dizza Capolizta; Santosa, Sandra
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4412

Abstract

Batuan piropilit merupakan salah satu sumber mineral dengan kandungan silika atau silikon dioksida (SiO2) yang tinggi dan memiliki ketersediaan cukup banyak di Indonesia khususnya di kecamatan Sumbermanjing, Jawa Timur. Batuan piropilit ini ternyata belum banyak dimanfaatkan dan umumnya hanya dijual dalam bentuk serbuk atau tepung batu. Kandungan silika yang tinggi pada batuan piropilit dapat digunakan sebagai alternatif sumber silikon dioksida yang potensial dalam sintesis natrium silikat (Na2SiO3). Untuk mendapatkan natrium silikat dari batuan piropilit dapat dilakukan dengan menggunakan proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan menganalisa pengaruh suhu dan ukuran partikel batuan terhadap kualitas dan kuantitas natrium silikat. Dalam penelitian ini variabel suhu ekstraksi yang digunakan adalah 70oC, 80oC, 90oC dan 100oC. Ukuran partikel divariabelkan pada 40 mesh, 60 mesh, 80 mesh, dan 100 mesh. Hasil analisis XRF yang dilakukan pada natrium silikat tersebut menunjukkan bahwa perbedaan suhu dan ukuran batuan memberi pengaruh nyata terhadap persentase natrium silikat yang dihasilkan. Besar suhu 100oC dengan ukuran partikel batuan 100 mesh menghasilkan persentase natrium silikat tertinggi di antara variabel lainnya, yaitu 61,83%
STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK BRIKET DENGAN PERBEDAAN RASIO CAMPURAN ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN BIOMASSA LAINNYA Iswara, Mochammad Agung Indra; Mustain, Asalil; Mufid, Mufid; Prayitno, Prayitno
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4466

Abstract

Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan mencari sumber energi alternatif yang efisien dan terbarukan. Briket sebagai sumber energi terbarukan merupakan energi alternatif yang berasal dari sisa bahan organik padat dan mempunyai nilai kalor yang tinggi. Banyaknya penelitian briket dengan berbagai bahan baku biomasa dan berbagai rasio tertentu akan menghasilkan spesifikasi briket yang beragam, oleh karena itu perlu kajian mendalam dengan membandingkan nilai kalor, kadar air dan kadar abu pada masing-masing bahan baku briket terhadap spesifikasi yang sesuai dengan SNI 01-6235-2000. Metodologi yang digunakan adalah dengan melakukan studi literatur yang terdiri atas pengumpulan jurnal dan referensi, melakukan analisis dan pengumpulan data, membuat jurnal ilmiah, menganalisis data, serta menarik kesimpulan dan rekomendasi. Hasil kajian yang diperoleh adalah briket dengan kualitas terbaik dengan campuran arang kelapa dan sabut kelapa dengan nilai kalor 6211 kalori/gram, kadar air 5,39% dan kadar abu 2,86%, sedangkan campuran tempurung kelapa dengan kulit durian memiliki nilai kalor sebesar 6847,31 kalori/gram, nilai kadar air dan abu dibawah 8% dan tempurung kelapa dengan kayu madan memiliki nilai kalor 6425 kalori/gram, nilai kadar air dan abu dibawah 8%. Sehingga disimpulkan briket dengan campuran tempurung kelapa dan sabut kelapa memiliki kadar air dan abu lebih baik namun memiliki nilai kalor lebih rendah dibanding campuran tempurung kelapa dengan kulit durian dan kayu madan.
EFEKTIVITAS PERUBAHAN SETTING WAKTU STEP RINSING PADA PROSES REGENERASI MIXED BED DI WATER TREATMENT PLANT UNIT 7,8 PT. POMI Amim, Meylinda Miftahul; Rulianah, Sri; Yulianto, Erwan
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4876

Abstract

Demineralisasi merupakan proses penghilangan ion-ion yang terkandung di di dalam air dengan adanya pertukaran ion menggunakan resin anion dan kation. Resin anion dan kation di dalam Mixed Bed akan menyerap ion-ion dalam air, namun seiring berjalannya waktu resin akan mengalami kejenuhan sehingga harus dilakukan proses Regenerasi. Regenerasi resin penukar kation dilakukan dengan menggunakan larutan H2SO4 dan regenerasi untuk resin penukar anion dengan menggunakan larutan NaOH.  Regenerasi dilakukan dengan beberapa tahapan, setiap tahapan memiliki preset-time yang berbeda. Preset-time dapat berubah sesuai kondisi Mixed Bed pada saat dioperasikan. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan waktu pada tahap rinsing proses demineralisasi Mixed Bed terhadap nilai konduktivitas pada produk keluaran Mixed Bed sekaligus mengetahui jumlah penggunaan air demin secara efisien dalam proses regenerasi Mixed Bed pada tahap rinsing. Beberapa pertimbangan terhadap permasalahan pada saat regenerasi akan berpengaruh terhadap adanya perubahan preset-time. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan perubahan waktu pada proses regenerasi di unit demineralisasi Water Treatment Plant Unit 7,8 PT. POMI. Pada penelitian ini dilakukan perubahan preset-time pada tahap rinsing dari 120 menit menjadi 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan waktu pada tahap rinsing selama 60 menit sudah memenuhi parameter konduktivitas <200 µS/cm yakni 90-110 µS/cm. Sehingga dengan adanya pengurangan waktu pada tahap rinsing akan berpengaruh pada penurunan jumlah penggunaan air demineralisasi untuk proses pembilasan resin dengan efisiensi sebesar 50% dan pengehematan pengeluaran biaya air demin sebesar ± Rp75.000.000 dalam satu kali proses regenerasi Mixed Bed.
PERBANDINGAN ANALISIS PARAMETER MOISTURE CONTENT FLAVOUR POWDER MENGGUNAKAN MOISTURE ANALYZER DAN OVEN Rodhiyah, Rodhiyah; Rahmatulloh, Arief; Firdaus, Refrina Charissadi
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4877

Abstract

Moisture content merupakan kadar air yang dimiliki oleh setiap produk makanan. Moisture atau kadar air dapat mempengaruhi pertumbuhan jamur yang dapat memengaruhi ketahanan suatu produk, oleh karena itu perlu dilakukan analisa moisture content pada produk sebelum produk diedarkan dipasaran. Pada penelitian dilakukan pada sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai produk makanan dan perisa rasa. Kemudian parameter moisture content dianalisa menggunakan dua metode drying atau pengeringan yaitu menggunakan alat moisture analyzer dan oven. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh perbandingan antara nilai moisture content yang dianalisa menggunakan alat moisture analyzer dan oven sehingga dilakukan variasi pada sampel yang digunakan sebagai variabel bebas yaitu massa sampel 1 gram, 2 gram, dan 3 gram serta suhu operasi dari alat yaitu 50°C,60°C, 70°C, 80°C, 90°C, 100°C, 110°C, 120°C, 130°C, dan 140°C. Data yang diperoleh kemudian dilakukan perhitungan dan di plotkan pada grafik untuk mengetahui nilai perbandingan moisture content dari flavour powder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan moisture analyzer lebih efektif dan efesien untuk menganalisa parameter moisture content dibandingkan dengan oven karena dalam proses drying tidak membutuhkan waktu yang lama serta nilai moisture content yang dihasilkan lebih akurat.
PENGARUH JENIS PELARUT DAN JUMLAH PELARUT PADA EKSTRAKSI MASERASI LIMBAH KULIT BAWANG MERAH TERHADAP BIOPESTISIDA YANG DIHASILKAN Elinaningtyas, Risky; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4884

Abstract

Pestisida adalah bahan yang dibutuhkan untuk menghentikan hama agar para petani dapat panen. Para petani banyak menggunakan pestisida sintesis tanpa mengetahui efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida sintesis, sehingga dibutuhkannya pestisida tanpa memiliki efek samping terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pestisida yang lebih aman pada lingkungan yaitu dengan biopestisida dari kulit bawang merah dengan menggunakan proses ekstraksi maserasi. Biopestisida yang baik dapat ditinjau dari hasil yield yang dihasilkan pada proses maserasi, hasil yield yang dihasilkan dapat bergantung pada jenis pelarut dan perbandingan bahan dengan pelarut, sehingga pada penelitian ini memiliki variabel pada penelitian ini yaitu jenis pelarut dan jumlah pelarut pada saat proses ekstraksi maserasi. Jenis pelarut yang digunakan adalah metanol dan aquades sedangkan jumlah pelarut yang digunakan yaitu 1:10; 1:20; dan 1:30 (b/v). Berdasarkan hasil penelitian jenis pelarut dan perbandingan massa bahan dan volume pelarut yang menghasilkan yield tertinggi adalah jenis pelarut aquades dengan perbandingan 1:30 (b/v) dengan nilai yield yang didapatkan 10,15
PROSES PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI SERBUK GERGAJI KAYU DARI DAERAH MALANG, MENGGUNAKAN AKTIVATOR NaOH Priambudi, Aliffudin; Susanti, Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4885

Abstract

Serbuk gergaji adalah granulasi yang tercipta saat menggergaji kayu, limbah serbuk gergaji sangat potensial dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif karena mengandung senyawa karbon yang menyebabkan serbuk gergaji kayu dapat mengikat ion logam berat. Proses pembuatan karbon aktif terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap persiapan bahan, tahap pirolisis, dan tahap aktivasi karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum pembuatan karbon aktif dari serbuk gergaji kayu dengan memvariasikan massa serbuk gergaji kayu dan konsentrasi aktivator terhadap kualitas karbon aktif yang diperoleh. Tahap persiapan bahan berupa proses pencucian dan pengeringan serbuk gergaji kayu. Kemudian dilanjutkan proses karbonasi dilakukan dengan metode pirolisis pada suhu 225°C selama 2 jam. Hasil pirolisis serbuk gergaji kayu dihaluskan kemudian diayak dengan ukuran 60 mesh. Setelah itu dilanjutkan proses aktivasi menggunakan aktivator NaOH dengan variasi konsentrasi 0,1 N; 0,5 N; dan 1 N. Analisis karbon aktif yang diperoleh berupa analisis kadar air, kadar abu, kadar volatile matter, kadar fixed carbon dan daya serap iodine. Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi NaOH dan massa serbuk gergaji yang menghasilkan karbon aktif berkualitas tinggi ditentukan berdasarkan SNI 06-3730-1995 massa 1.000 g dengan konsentrasi aktivasi NaOH 1 N. Kadar air karbon aktif yang dihasilkan sebesar 14,1%, kadar abu sebesar 8,6%, kadar volatile matter sebesar 24,1%, kadar fixed carbon sebesar 46,8%, dan daya serap iodine sebesar 932 mg/g.
ANALISIS EKONOMI PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA BIOPESTISIDA DARI LIMBAH KULIT BAWANG MERAH DENGAN KAPASITAS 15.000 TON/TAHUN Noviana, Kharisma Yogi; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4886

Abstract

Pestisida merupakan campuran senyawa kimia untuk mengurangi organisme yang bertanggungjawab terhadap masalah di bidang pertanian. Penggunaan pestisida dapat berakibat buruk pada kesehatan manusia dan penggunaannya cukup tinggi di Indonesia. Biopestisida merupakan alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia dengan menggunakan jenis biopestisida botani. Alternatif tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan biopestisida adalah limbah kulit bawang merah yang memiliki aktivitas antibakteri yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kelayakan pendirian sebuah pabrik sehingga dapat meminimalisir terjadinya kerugian dalam investasi. Tahap analisis ekonomi dimulai dengan analisis riset pasar, penentuan kapasitas pabrik dan melakukan penaksiran modal industri dan penentuan biaya produksi total untuk melihat total pendapatan serta keuntungan (profit). Pabrik biopestisida dari limbah kulit bawang merah memiliki kapasitas 15.000 ton/tahun yang diharapkan mampu menjadi alternatif pengganti penggunaan pestisida. Evaluasi ekonomi perlu dilakukan sebelum mendirikan pabrik untuk melihat apakah pabrik menghasilkan keuntungan sehingga layak untuk didirikan. Berdasarkan analisis ekonomi pabrik didapatkan Break Event Point sebesar 36%/tahun, Return On Investment sebelum pajak 31,457% dan setelah pajak sebesar 22,42% dari modal investasi, besar nilai Pay Out Time  sebelum pajak 3,08 tahun dan sesudah pajak 4,33 tahun, dan besar nilai Shut Down Point 3%. Dari hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa pabrik biopestisida ini layak untuk didirikan. 
PENGARUH RASIO TEPUNG TAPIOKA TERHADAP KUALITAS PAKAN IKAN LELE Ali, Nanda Yasmin Isdihar; Sa’diyah, Khalimatus
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4888

Abstract

Pakan ikan memiliki peran penting dalam proses pertumbuhan ikan. Pertumbuhan ikan dapat maksimal apabila jumlah pakan, kualitas pakan dan kandungan nutrisi dalam pakan ikan terpenuhi dengan baik khususnya ikan lele. Harga bahan baku pakan yang semakin tinggi menyebabkan harga pakan meningkat, sehingga untuk menekan harga pakan perlu dicari bahan baku lokal yang mudah didapat dan harga terjangkau. Salah satunya dengan memanfaatkan tepung tapioka sebagai bahan perekat untuk pakan ikan. Selain digunakan sebagai perekat dalam pakan ikan, penggunaan tepung tapioka juga memiliki kandungan nutrisi yang sesuai kebutuhan pertumbuhan pada ikan dan memiliki struktur yang kuat, kompak dan solid sehingga pakan tidak mudah mengalami kerusakan. Berdasarkan pernyataan tersebut dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh rasio tepung tapioka terhadap peningkatan kualitas pakan ikan lele. Pembuatan pakan ikan lele diawali dengan pencampuran tepung tapioka, tepung maggot, tepung jagung dan dedak agar menjadi pelet. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pencampuran bahan, pencetakan kemudia pengeringan. Adapun variasi tepung tapioka yang digunakan adalah 10%, 20%, 30%, dan 40%. Hasil analisis yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pakan ikan lele dengan rasio tapioka sebesar 40% merupakan kualitas terbaik sesuai SNI 01-4087-2006 dengan nilai yang didapat pada kadar air 6%, kadar abu 7,08%, kadar protein 54% dan kadar lemak 27,19%.
PENGARUH VARIASI SUHU DAN LAJU ALIR TERHADAP KINERJA PERTUKARAN KALOR SISTEM FLUIDA FORMALIN-GLISEROL MENGGUNAKAN SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER PADA ALIRAN LAMINER Alidifan, Fakhryan; Chalim, Abdul
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4889

Abstract

Heat Exchanger adalah suatu peralatan yang menyebabkan terjadinya perpindahan panas dari suatu fluida dengan suhu lebih tinggi ke fluida lain yang suhunya lebih rendah. Alat penukar kalor yang selalu digunakan dalam proses produksi atau operasi mengakibatkan efektivitas dari alat ini mengalami penurunan kinerja maupun kerusakan alat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh laju alir dan suhu pemanas terhadap NTU dan efektivitas, untuk mendapatkan nilai overall heat transfer coefficient (U) sehingga didapatkan nilai NTU dan efektivitas alat heat exchanger terbaik. Metodologi yang digunakan pada penelitian ini ialah melakukan eksperimen secara langsung menggunakan alat shell and tube heat exchanger 1-1 dengan variabel tetap yang digunakan ialah formalin dengan suhu 25 ◦C, laju alir 1 L/min dan variable bebas yang digunakan adalah gliserol sebagai fluida panas dengan laju alir 0,8; 1,2; 1,6; 2; 2,4 L/min , suhu 44, 48, 52, 56, 60 ◦C, dan konsentrasi 35%, 30%, 25%, 20%, 15% . Hasil analisa yang didapatkan dari penelitian ini adalah nilai NTU dan efektivitas terbaik pada konsentrasi 35% dengan suhu 44◦C laju alir pemanas 2,4 L/menit sebesar NTU 0,76 efektivitas 0,97. Didapatkan nilai Overall Heat Coefficient (U) untuk sistem fluida formalin-gliserol sebesar 168,35 W/m2.K. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi dan laju alir ialah semakin meningkat konsentrasi dan laju alirnya maka semakin meningkat pula nilai NTU dan efektivitas yang didapat, sebaliknya apabila suhu meningkat maka NTU dan efektivitas cenderung menurun.
PENGARUH KONSENTRASI ASAM ASKORBAT PADA PROSES PEMBUATAN GUM ROSIN Deviyanti, Yayuk; Rulianah, Sri; Santoso, Trinova Budi
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4891

Abstract

Gum rosin adalah produk industri dari getah pinus hasil hutan non kayu. Dengan berkembangnya teknologi, pengolahan getah pinus dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku adhesive. Di salah satu industri, saat ini masih menggunakan asam oksalat untuk mengurangi impuritis dan mengendapkan ion Fe pada getah pinus. Pada treatment OPR (Oil Pine Resin) ditambahakan asam askorbat untuk mencegah oksidasi pada getah. Asam askorbat dapat mencegah oksidasi pada buah apel sehingga pada penelitian ini digunakan sebagai bahan tambahan untuk pembuatan gum rosin. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui spesifikasi gum rosin yang dihasilkan menggunakan bahan tambahan asam askorbat. Bahan yang digunakan dalam pembuatan gum rosin yaitu getah pohon pinus, asam askorbat, air, dan terpentin. Proses pembuatan gum rosin dilakukan dengan 2 tahap yaitu treatment OPR dan distilasi. Treatment OPR dilakukan dengan mengencerkan getah pinus yang ditambahkan terpentin lalu difiltrasi untuk memisahkan getah dengan impuritis, kemudian ditambahkan asam askorbat sesuai variabel. Setelah treatment OPR akan dilanjutkan dengan distilasi untuk memisahkan antara terpentin dan gum rosin. Distilasi dilakukan dengan suhu maksimal 175°C. Setelah proses distilasi selesai dilakukan uji warna, bilangan asam, dan softening point pada produk gum rosin. Variabel yang digunakan yaitu konsentrasi asam askorbat 0,2% ; 0,4% ; 0,6% dari berat getah yang digunakan. Dari hasil penelitian yang diperoleh, semakin tinggi konsentrasi asam askorbat menghasilkan gum rosin yang kualitasnya kurang bagus. Hasil penelitian terbaik pada produksi gum rosin dengan bahan tambahan asam askorbat diperoleh pada penambahan asam askorbat 0,2% dengan uji warna sebesar 8,6 , bilangan asam sebesar 190,95 dan softening point sebesar 80°C.