cover
Contact Name
Zauhani Kusnul
Contact Email
jurnal.pamenang@gmail.com
Phone
+62354-399840
Journal Mail Official
jurnal.pamenang@gmail.com
Editorial Address
Kampus Stikes Pamenang Pare Kediri Jl.Soekarno Hatta No.15 Bendo Pare Kediri
Location
Kab. kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Pamenang (JIP)
ISSN : 27160483     EISSN : 27156036     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Pamenang merupakan publikasi ilmiah enam bulanan yang diterbitkan oleh STIKES PAMENANG Kediri. Jurnal Ilmiah Pamenang menyajikan informasi dan kajian ilmiah hasil penelitian maupun non penelitian pada lingkup keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan issu-issu terkini terkait masalah kesehatan masyarakat. Redaksi Jurnal Ilmiah Pamenang menerima karya ilmiah hasil penelitian maupun non penelitian dari bidang keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan kesehatan masyarakat dari para intelektual, praktisi, mahasiswa serta siapa saja untuk menulis dan berbagi hasil penelitian maupun pemikiran secara bebas, kritis, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Seluruh artikel yang masuk akan melalui proses review oleh para reviewer dengan bidang kepakaran yang relevan.
Articles 160 Documents
EFEKTIFITAS KANGAROO MOTHER CARE TERHADAP STABILITAS HEMODINAMIK DAN TERMOREGULASI PADA BAYI SEPSIS NEONATORUM DI RS X JAKARTA : EFFECTIVENESS OF KANGAROO MOTHER CARE ON HEMODYNAMIC STABILITY AND THERMOREGULATION IN NEONATES WITH SEPSIS AT HOSPITAL X JAKARTA Scarlet Febriyanti; Tuti Asrianti Utami
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.373

Abstract

Abstrak  Sepsis neonatorum adalah suatu sindroma klinis oleh bakteri, virus, dan jamur yang ditandai dengan gejala dan tanda sistemik yang terjadi saat bulan pertama kehidupan. Sepsis pada bayi baru lahir adalah kondisi medis yang serius karena sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan bayi usia dibawah 28 hari. Sepsis menyebabkan terjadinya peradangan pada seluruh tubuh bayi, dan peradangan ini akan menyebabkan menurunnya aliran darah ke anggota tubuh dan organ vital bayi. Faktor pendukung terjadinya sepsis pada bayi adalah seperti faktor maternal yaitu ketuban pecah dini, infeksi intrapartum, ketuban mekoneal, dan ada juga faktor neonatal seperti prematuritas, BBLR, asfiksia, dan efek prosedur invasif. Sepsis neonatus dapat menyebabkan gangguan multisistem seperti gangguan sirkulasi, pernapasan, dan gangguan termoregulasi. Suhu bayi yang tidak stabil dapat menghambat proses metabolik dan fisiologis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pre-eksperimental one group pre-test post-test. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan pencatatan tanda vital. Pengukuran dilakukan sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) pelaksanaan KMC, dengan durasi penerapan metode selama 1-2 jam per sesi. Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriptif-komparatif dengan membandingkan hasil pengukuran sebelum dan sesudah intervensi untuk melihat adanya perubahan status hemodinamik dan stabilitas suhu bayi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu dan berat badan lahir kurang dari 2500 gram yang dirawat di ruang perinatologi Rumah Sakit X Jakarta. Sebanyak 5 sampel yang yang diambil menggunakan metode purposive sampling yang merupakan bayi lahir prematur dan BBLR. Setelah dilakukan pengelolaan data, didapatkan hasil 3 bayi mengalami penurunan suhu sebesar 0.1 – 0.2 °C, sedangkan 1 bayi tidak mengalami peningkatan ataupun penurunan pada suhu, dan 1 bayi mengalami kenaikan pada suhu sebesar 0.1 °C. Faktor yang mempengaruhi keefektifan pemberian metode KMC adalah kondisi bayi, kondisi ibu termasuk kesiapannya dalam pemberian KMC. Abstract   Neonatal sepsis is a clinical syndrome caused by bacteria, viruses, or fungi, characterized by systemic signs and symptoms that occur within the first month of life. Sepsis in newborns is a serious medical condition because it greatly affects the development and growth of infants under 28 days old. Sepsis causes widespread inflammation throughout the infant’s body, which can lead to decreased blood flow to the extremities and vital organs. The contributing factors of sepsis in neonates include maternal factors, such as premature rupture of membranes, intrapartum infection, meconium-stained amniotic fluid, and neonatal factors, such as prematurity, low birth weight (LBW), asphyxia, and the effects of invasive procedures. Neonatal sepsis can result in multisystem disturbances, including circulatory, respiratory, and thermoregulatory disorders. Unstable body temperature in infants can interfere with metabolic and physiological processes. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental design, specifically a one-group pretest-posttest design. This design was chosen to determine the effectiveness of Kangaroo Mother Care (KMC) on hemodynamic status and thermoregulation in premature infants by comparing the conditions before and after the intervention without using a control group. The population in this study consisted of all infants with a gestational age of less than 37 weeks and a birth weight of less than 2500 grams who were treated in the perinatology ward of Hospital X in Jakarta. The sampling technique used was purposive sampling, in which samples were selected based on specific criteria relevant to the research objectives. After data analysis, the results showed that three infants experienced a decrease in temperature of 0.1–0.2°C, one infant showed no change in temperature, and one infant experienced a slight increase in temperature of 0.1°C. Factors influencing the effectiveness of the KMC method included the infant’s condition and the mother’s condition, particularly her readiness and ability to perform Kangaroo Mother Care.
GAMBARAN SOCIAL SUPPORT PADA CAREGIVER PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) DI RSUD IBU FATMAWATI SOEKARNO SURAKARTA: SOCIAL SUPPORT DESCRIPTION FOR CAREGIVER OF CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) PATIENTS AT IBU FATMAWATI SOEKARNO HOSPITAL, SURAKARTA saelan elan; Dwi Setiawan Budi Saputra
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.374

Abstract

ABSTRAK Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan suatu kondisi penurunan fungsi pada ginjal yang cukup berat dan terjadi secara perlahan dalam kurun waktu yang lama, Terapi yang tepat bagi penderita GGK salah satunya hemodialisa. Perawatan pasien hemodialisa memerlukan dukungan penuh dari caregiver. Dampak merawat seseorang dengan penyakit GGK, dapat dirasakan oleh caregiver baik secara fisik, mental/emosional, sosial, maupun finansial, sehingga menyababkan caregiver mengalami tingkat stres yang tinggi. Tujuan penelitian Untuk mengetahui Gambaran Social Support Pada Caregiver Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Di RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. Metode penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif. Populasi dalam penelitian ini berumlah 90 pasien HD. Sampel pada penelitian ini sebanyak 90 caregiver pasien HD Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Penelitian dilakukan di Ruang Hemodialisa RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta pada 22 – 30 Maret 2025. Instrument yang digunakan Kuesioner Dukungan Sosial. Hasil Penelitian sebagian besar responden memiliki social support dengan kategori baik sejumlah 52 responden (57,8%). Saran bagi peneliti selanjutnya hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk peneliti selanjutnya untuk mengembangkan terapi tentang social support pada caregiver ABSTRACT Chronic Kidney Disease (CKD) is a condition of decreased kidney function that is quite severe and occurs slowly over a long period of time. One of the appropriate therapies for CKD sufferers is hemodialysis. Hemodialysis patient care requires full support from caregivers. The impact of caring for someone with CKD can be felt by caregivers both physically, mentally/emotionally, socially, and financially, causing caregivers to experience high levels of stress. The purpose of this study was to determine the description of social support in caregivers of Chronic Kidney Disease (CKD) patients at RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta. The research method was observational with a descriptive approach. The population in this study was 90 HD patients. The sample in this study was 90 caregivers of HD patients. The sampling technique used total sampling. The study was conducted in the Hemodialysis Room of RSUD Ibu Fatmawati Soekarno Surakarta on March 22-30, 2025. The instrument used was the Social Support Questionnaire. The results of the study showed that most respondents had social support in the good category, amounting to 52 respondents (57.8%). Suggestions for further researchers: The results of this study are expected to be a basis fr further researchers to develop therapy on social support for caregivers.
CONTINUITY OF CARE (COC) PADA NY “A” G1P0000 MASA KEHAMILAN SAMPAI DENGAN MASA NIFAS DI PMB NY. ANIS PURWANINGSIH, S.Keb., Bdn: CONTINUITY OF CARE (COC) TO MRS. “A” G1P0000 FROM PREGNANCY TO POSTPARTUM PERIOD AT INDEPENDENT PRACTICE OF MIDWIFERY MRS. ANIS PURWANINGSIH, S.Keb., Bdn Nunik Yunia Sari; Lina Ratnawati; selvi rika ananda
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.375

Abstract

Abstrak   Kehamilan, persalinan, dan nifas adalah proses yang fisiologis namun dapat menjadi kondisi patologis yang dapat mengancam jiwa ibu serta bayi hingga mengakibatkan kematian. Tujuan pemberian asuhan kebidanan secara Continuity Of Care (CoC) adalah memberikan asuhan kebidanan mulai dari masa kehamilan hingga masa nifas dan KB. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan subjek penelitian satu pasien yaitu Ny “A” G1P0000 mulai masa kehamilan sampai dengan masa nifas dan KB di PMB Anis Purwaningsih mulai tanggal 14 September 2024 sampai 11 Januari 2025. Metode pengumpulan data pada asuhan kehamilan sampai dengan masa nifas dan KB dilakukan melalui observasi, wawancara, pengamatan, dan dokumentasi serta dengan memperhatikan etika penelitian. Alat bantu pemeriksaan yang digunakan pada asuhan kehamilan yaitu berupa buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Kartu Skor Poedji Rochdjati (KSPR), dan format pengakjian kehamilan. Alat bantu pada asuhan persalinan yaitu penapisan persalinan, lembar observasi dan partograf serta format pengkajian persalinan. Alat bantu pada asuhan masa nifas dan Bayi Baru Lahir (BBL) yaitu leaflet dan format pengkajian masa nifas dan BBL. Alat bantu pada asuhan KB yaitu penapisan KB, Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK), dan format pengkajian KB. Pelaksanaan monitoring evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan setiap kunjungan berikutnya.   Selama kehamilan Ny “A” G1P0000 ditemukan keluhan sering BAK teratasi dengan pemberian mengurangi konsumsi cairan pada malam hari, keluhan keputihan teratasi dengan personal hygiene, keluhan bengkak pada ekstremitas teratasi dengan posisi dengan tidak menggantung kaki dan senam hamil, dan keluhan gatal teratasi dengan personal hygiene. Proses persalinan Ny “A” G1P0000 dilakukan secara SC karena KPD dan induksi gagal serta prolong laten phase. Pada masa nifas Ny “A” P1001 terdapat keluhan nyeri luka jahitan post SC teratasi dengan teknik relaksasi dan distraksi, keluhan perubahan psikologis teratasi dengan istirahat cukup dan dukungan psikologis, dan keluhan bengkak pada ekstremitas teratasi dengan posisi yaitu tidak bersandar terlalu lama. Pada masa BBL By Ny “A” neonatus cukup bulan, kenaikan berat badan minimal bayi kurang, keluhan demam teratasi dengan menggunakan pakaian bayi yang tipis, dan menyusui bayi sesering mungkin. Pada masa KB Ny “A” P1001 menggunakan KB MAL. Kehamilan fisiologis dengan KSPR 2 beresiko menjadi patologis pada saat persalinan sehingga perlu deteksi dini melalui asuhan secara CoC sehingga ibu dapat melalui masa hamil, bersalin, dan nifas dengan nyaman dan lancar. Diharapkan bagi ibu yang telah didampingi mulai dari masa kehamilan TM III sampai dengan KB dapat lebih kooperatif dan komunikatif dengan tenaga kesehatan dan memeriksakan kondisi kesehatannya secara rutin sehingga dapat memperoleh gambaran mengenai pentingnya pengawasan pada saat hamil sampai KB. Abstract   Pregnancy, childbirth and postpartum is a physiological processes but can be pathological conditions that can threaten the life of the mother and baby and result in death. The purpose of providing midwifery care through Continuity Of Care (CoC) is to provide midwifery care starting from pregnancy, to postpartum and family planning. The research method used was a case study with one research subject, namely Mrs. "A" G1P0000 starting from the gestation period to postpartum and the family planning period in the independent practice of midwife Anis Purwaningsih from September 14th, 2024 to January 11th, 2025. The data collection method was carried out through observation, interviews, observations, and documentation and by paying attention to research ethics. The examination tools used in maternity care include the Maternal and Child Health Book, Poedji Rochdjati Score Card, and pregnancy assessment forms. Tools for childbirth care include delivery screening, observation sheets, partograph, and childbirth assessment forms. Tools for postpartum care and newborn care include leaflets and postpartum and newborn assessment forms. Tools for family planning care include family planning screening, decision support tool, and family planning assessment forms. Monitoring and evaluation of midwifery care is carried out at each subsequent visit. During pregnancies Mrs. “A” G1P0000 found complaints of frequent urination which were resolved by reduce fluid consumption at night, complaints of vaginal discharge were resolved by personal hygiene, complaints of swelling in the extremities were resolved by position not hanging your legs and pregnancy exercises, complaints of itching were solved with personal hygiene. The delivery process Mrs. “A” G1P0000 is carried out by caesarean section because the amniotic membrane ruptures prematurely and induction fails as well as the latent prolong phase. In the postpartum period Mrs. “A” P1001, there were complaints of pain in post-section caesarean section sutures that were resolved by relaxation and distraction techniques, complaints of psychological changes were resolved by sufficient rest and providing psychological support, complaints of swelling in the extremities were resolved by not leaning on for too long. In the newborn period By Mrs. 'A', full term neonate, the minimum weight gain of the baby was less, there are fever complaints resolved by use thin baby clothes, and breastfeed the baby as often as possible. During family planning Mrs. “A” P1001, mothers used the amenorrhea lactation method. Even though physiological pregnancy with a poedji rochdjati score of two were occur pathological conditions at the time of delivery so early detection was needed to overcome it through continuity of care so that mothers were go through pregnancy, childbirth, and postpartum comfortably and smoothly. It is hoped that mothers who have been assisted from the third trimester of pregnancy through family planning can be more cooperative and communicative with healthcare workers and routinely check their health condition so that they can gain an understanding of the importance of monitoring during pregnancy up to family planning.
PENGARUH EDUKASI GIZI TERHADAP PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI UNTUK PERTUMBUHAN FISIK BALITA : THE EFFECT OF NUTRITION EDUCATION ON MOTHERS' KNOWLEDGE ABOUT FULFILLING NUTRITIONAL NEEDS FOR TODDLERS' PHYSICAL GROWTH Susanti Tria Jaya; Nurin Fauziyah; Erni Rahmawati; Vide Bahtera Dinastiti
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.413

Abstract

Abstrak   Pertumbuhan fisik anak merupakan salah satu indikator langsung dari keberhasilan intervensi pencegahan stunting. Pemberian gizi seimbang terbukti meningkatkan pertumbuhan tulang, dan sistem imun anak. Edukasi gizi merupakan faktor kunci dalam mencegah stunting. Edukasi gizi bertujuan meningkatkan pengetahuan orang tua, terutama ibu, tentang pemberian ASI eksklusif, MPASI (Makanan Pendamping ASI) berkualitas, pemberian gizi seimbang serta praktik kebersihan dasar. Edukasi gizi yang tepat dapat mendukung pembangunan SDM berkualitas, memperkuat intervensi berbasis keluarga dalam pencegahan stunting, menyediakan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dan pola asuh responsif, dan mendukung pencapaian target SDGs dan prioritas nasional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi terhadap pengetahuan ibu tentang pemenuhan kebutuhan gizi untuk pertumbuhan fisik balita. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan menggunakan desain Quasi-Experimental Non-equivalent Control Group. Subyek penelitian adalah seluruh ibu balita di Posyandu Dahlia Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri sebanyak 48 responden, 24 responden kelompok intervensi dan 24 responden kelompok kontrol. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Paired Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh edukasi gizi terhadap pengetahuan ibu tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan fisik balita pada kelompok intervensi di mana skor rerata pengetahuan meningkat dari 7,12 menjadi 13,77 setelah intervensi (P-Value = 0,04). Sementara itu, kelompok kontrol (yang tidak berpartisipasi dalam sesi edukasi gizi selama masa intervensi) tidak menunjukkan perubahan pengetahuan yang signifikan, dengan skor rerata pre-test 7,00 dan post-test 7,13 (P-Value = 1,00). Simpulan penelitian ini membuktikan secara empiris bahwa pemberian edukasi gizi berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi demi mengoptimalkan pertumbuhan fisik balita, menjawab langsung tujuan penelitian. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan, Petugas Kesehatan, dan Kader Posyandu untuk dapat lebih sering memberikan edukasi gizi yang terstruktur kepada ibu balita guna mendukung peningkatan pertumbuhan fisik anak secara optimal. Abstract   Children's physical growth is a direct indicator of the success of stunting prevention interventions. Providing balanced nutrition has been shown to improve bone growth and the child's immune system. Nutrition education is a key factor in preventing stunting. Nutrition education aims to increase parental knowledge, especially mothers, about exclusive breastfeeding, quality complementary foods (MPASI), providing balanced nutrition, and basic hygiene practices. Appropriate nutrition education can support the development of quality human resources, strengthen family-based interventions in stunting prevention, provide evidence-based policy recommendations, increase public awareness of the importance of nutrition and responsive parenting, and support the achievement of SDGs targets and national priorities. The purpose of this study was to determine the effect of nutrition education on mothers' knowledge of meeting toddlers' nutritional needs for physical growth. This study used a quantitative, Quasi-Experimental Non-equivalent Control-Group design. The subjects were all mothers of toddlers at the Dahlia Posyandu in Pelem Village, Pare District, Kediri Regency, totaling 48 respondents: 24 in the intervention group and 24 in the control group. Data analysis was carried out using a paired-samples t-test. The results showed a significant difference in mothers' knowledge after receiving nutrition education in the intervention group, where the mean knowledge score increased from 7.12 to 13.77 (P-value = 0.04). Meanwhile, the control group (which did not receive nutrition education intervention during the active study period) showed no significant difference in knowledge scores between pre-test and post-test measurements, with mean scores shifting only from 7.00 to 7.13 (P-value = 1.00). In conclusion, this study empirically proves that structured nutrition education has a significant positive effect on improving mothers' knowledge regarding fulfilling nutrient needs, directly addressing the primary research objective. Therefore, it is recommended that the Health Office, local health workers, and posyandu cadres proactively deliver structured nutrition education to mothers to enhance toddler physical growth and prevent stunting.
PENGARUH EDUKASI TENTANG PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK TERHADAP PENGETAHUAN IBU DALAM PENCEGAHAN STUNTING: THE INFLUENCE OF EDUCATION ABOUT CHILDREN'S COGNITIVE DEVELOPMENT ON MOTHERS' KNOWLEDGE IN STUNTING PREVENTION NURIN FAUZIYAH; Susanti Tria Jaya; PRATIWI YULIANSARI
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.414

Abstract

Abstrak   Stunting merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia yang tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga mengganggu perkembangan kognitif anak secara jangka panjang. Perkembangan kognitif mencakup kemampuan berpikir, belajar, mengingat, dan memecahkan masalah yang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pola stimulasi yang diberikan ibu sejak usia dini. Pengetahuan ibu yang memadai tentang perkembangan kognitif anak merupakan fondasi penting dalam upaya pencegahan stunting berbasis keluarga. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi tentang perkembangan kognitif anak terhadap pengetahuan ibu dalam pencegahan stunting di Posyandu Dahlia Desa Pelem Kecamatan Pare Kabupaten Kediri. Metode: Metode penelitian menggunakan quasi experiment dengan rancangan one group pretest–posttest design. Subjek penelitian adalah seluruh ibu balita di Posyandu Dahlia, sebanyak 48 responden, yang dipilih menggunakan metode total sampling. Edukasi diberikan menggunakan metode ceramah dan audiovisual selama ± 2 jam. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dengan skala ordinal, mencakup aspek-aspek perkembangan kognitif anak dan pencegahan stunting. Analisis data dilakukan dengan uji Paired T-Test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum edukasi, sebagian besar ibu memiliki pengetahuan kurang (83,3%), sedangkan setelah edukasi, mayoritas ibu berada pada kategori baik (72,9%). Rerata skor pengetahuan meningkat signifikan dari 52,1 menjadi 76,4. Uji T-Test menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah mendapat edukasi tentang perkembangan kognitif anak. Diskusi: Edukasi tentang perkembangan kognitif anak secara efektif meningkatkan pengetahuan ibu balita yang berkontribusi pada upaya pencegahan stunting. Abstract Stunting is a major health problem in Indonesia that not only impacts physical growth but also disrupts long-term cognitive development in children. Cognitive development encompasses the abilities of thinking, learning, remembering, and problem-solving, which are strongly influenced by maternal knowledge and stimulation practices provided from early childhood. Adequate maternal knowledge about children’s cognitive development is an important foundation for family-based stunting prevention. This study aimed to determine the effect of education about children’s cognitive development on mothers’ knowledge in stunting prevention at the Dahlia Integrated Health Post, Pelem Village, Pare District, Kediri Regency. This study employed a quasi-experimental design with a one-group pretest–posttest approach. Subjects were all mothers of toddlers at the Dahlia Posyandu, totaling 48 respondents, selected by total sampling. Education was delivered using lecture and audiovisual methods for approximately 2 hours. The instrument used was a knowledge questionnaire with ordinal scale covering aspects of children’s cognitive development and stunting prevention. Data were analyzed using Paired T-Test. Results showed that before education, most mothers had poor knowledge (83.3%), while after education, the majority were in the good category (72.9%). The mean knowledge score increased significantly from 52.1 to 76.4. The T-Test showed p = 0.000 (p < 0.05), indicating a significant difference in mothers’ knowledge before and after education on children’s cognitive development. Conclusion: Education about children’s cognitive development effectively increases mothers’ knowledge, contributing to stunting prevention efforts.
ANALISA FAKTOR PERILAKU PENJAMAH PANGAN PADA JASA BOGA KOTA MADIUN: FACTOR ANALYSIS OF FOOD HANDLER BEHAVIOR IN MADIUN CITY FOOD SERVICES Setyo Budi Susanto; Sri Nendrawati
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.430

Abstract

Abstrak         Penyebab kontaminasi makanan salah satunya dipengaruhi oleh perilaku penjamah pangan dalam melakukan pengelolaan makanan dan ini terbukti dengan masih ditemukan beberapa hasil laboratorium yang positif E.coli/Coliform pada pemeriksaan bakteriologis sampel makanan/minuman/usap alat makan/usap alat masak pada jasa boga di Kota Madiun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor perilaku yang mempengaruhi penjamah pangan pada jasa boga Kota Madiun Tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional di 7 jasa boga Kota Madiun pada bulan Januari 2025. Jumlah sampel 60 orang penjamah pangan dengan teknik proporsional random sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar kuesioner dan lembaran observasi. Data diolah dengan uji regresi logistik dengan derajat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan penjamah pangan sebagian besar memiliki pendidikan menengah (SMA/sederajat) sebanyak 68,3%,  memiliki pengetahuan higiene sanitasi makanan yang baik sebesar 51,7%, memiliki sikap yang baik sebesar 51,7% dan memiliki perilaku yang baik dalam pengelolaan makanan sebesar 53,3%. Faktor pendidikan (sig=0,893) dan pengetahuan (sig=0,125) tidak mempengaruhi perilaku penjamah pangan, sedangkan faktor sikap (sig=0,000) mempengaruhi penjamah pangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi hygiene sanitasi makanan Adalah factor sikap dari penjema pangan. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan terkait dapat melakukan pembinaan minimal satu tahun sekali untuk mencegah terjadinya permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh higiene sanitasi. Sedangkan untuk pemilik jasa boga diharapkan dapat memastikan para pekerja melakukan tugas sesuai SOP. Abstract         One of the causes of food contamination is influenced by the behavior of food handlers in managing food and this is evidenced by the continued discovery of several positive laboratory results of E. coli/Coliform in bacteriological examination of food/drink samples/cutlery swabs/cooking utensil swabs in catering services in Madiun City. This study aims to determine the behavioral factors that influence food handlers in catering services in Madiun City in 2025. This study is a quantitative study with a cross-sectional design in 7 catering services in Madiun City in January 2025. The number of samples was 60 food handlers with a proportional random sampling technique. This research instrument used a questionnaire and an observation sheet. The data were processed using a logistic regression test with a 95% confidence level (α = 0.05). The results of the study showed that most food handlers had secondary education (high school/equivalent) as much as 68.3%, had good knowledge of food hygiene and sanitation as much as 51.7%, had good attitudes as much as 51.7% and had good behavior in food management as much as 53.3%. Education factors (sig = 0.893) and knowledge (sig = 0.125) did not affect the behavior of food handlers, while attitudes (sig = 0.000) did. This study shows that the factor that influences food hygiene and sanitation is the attitude of food handlers. It is hoped that the relevant Health Service can provide training at least once a year to prevent health problems due to hygiene and sanitation. Meanwhile, catering business owners are expected to ensure that their workers carry out their duties according to SOPs
GAMBARAN RISIKO GANGGUAN SPEKTRUM AUTISME PADA ANAK USIA 16–30 BULAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN DIGITAL M-CHAT-R: ANALYSIS OF DIFFERENCES IN AUTISM SPECTRUM DISORDER RISK SCORES AMONG CHILDREN AGED 16–30 MONTHS USING A DIGITAL INSTRUMENT Harwin Holilah Desyanti; Maryama Habibillah; Anis Latifatul Jamilah; Ayu Zuhriyatin
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.435

Abstract

Abstrak Gangguan spektrum autisme (GSA) merupakan kelainan perkembangan yang dapat terdeteksi sejak usia dini melalui skrining terstandar. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi risiko Gangguan spektrum autisme (GSA) pada anak usia 16–30 bulan di Desa Grinting, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, dengan menggunakan instrumen digital Modified Checklist for Autism in Toddlers-Revised (M-CHAT-R). Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 40 anak yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pengisian mandiri aplikasi M-CHAT-R berbasis web oleh ibu atau pengasuh. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada dalam kategori risiko rendah (92,5%), sementara 7,5% termasuk kategori risiko meragukan, dan tidak ditemukan anak dalam kategori risiko tinggi. Seluruh anak dengan kategori meragukan merupakan laki-laki, terutama pada kelompok usia 21–25 bulan. Temuan ini konsisten dengan literatur yang melaporkan prevalensi ASD lebih tinggi pada laki-laki dan kecenderungan tanda awal muncul setelah usia 20 bulan. Penggunaan instrumen digital M-CHAT-R dinilai efektif untuk memfasilitasi skrining dini di tingkat komunitas. Penelitian ini menegaskan pentingnya skrining rutin pada usia 18–24 bulan dan tindak lanjut profesional bagi anak dengan hasil meragukan. Pendekatan digital berpotensi meningkatkan akses, efisiensi, dan keberlanjutan deteksi dini ASD di masyarakat. Abstract Autism spectrum disorder (ASD) is a developmental condition that can be identified in early childhood through standardized and validated screening tools. Early detection is essential to ensure timely referral and intervention, which may improve developmental and behaviour outcomes. This study aimed to describe the distribution of ASD risk among children aged 16–30 months in Grinting Village, Paiton District, Probolinggo Regency, using the digital Modified Checklist for Autism in Toddlers-Revised (M-CHAT-R). A descriptive quantitative design was employed, involving 40 children selected through purposive sampling. Data were collected through self-administered completion of a web-based M-CHAT-R application by mothers or caregivers, and analysed descriptively using frequency and percentage distributions. The findings showed that most children were classified as low risk (92.5%), while 7.5% fell into the medium or questionable risk category, and none were identified as high risk. All children within the questionable category were male, predominantly in the 21–25-month age group. These patterns are consistent with previous evidence indicating higher ASD prevalence among males and greater detectability of early symptoms after 20 months of age. The use of a digital M-CHAT-R platform demonstrated practicality and feasibility, particularly for community-based early screening. This study underscores the importance of  routine ASD screening at 18–24 months and the need for professional follow-up among children with questionable results. Digital screening tools offer promising opportunities to enhance access, efficiency, and continuity of early ASD detection within community health systems.
PENDAPATAN LULUSAN DIPLOMA KEPERAWATAN ANTARA SEKTOR PEMERINTAH DAN LEMBAGA PROFIT DI INDONESIA : EARNINGS COMPARISON OF NURSING DIPLOMA GRADUATES IN GOVERNMENT AND FOR-PROFIT INSTITUTIONS IN INDONESIA Endang Purwaningsih; Azzahra Mubyaring Putri Sayekti; Agus Wiwit Suwanto; Heru Wiratmoko
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.439

Abstract

Pendapatan merupakan indikator penting kesejahteraan tenaga kerja, termasuk lulusan diploma keperawatan yang memegang peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan. Meskipun secara nominal memenuhi standar minimum upah, di beberapa daerah kondisi ini masih lebih rendah dari Upah Minimum Kabupaten/Kota yang menimbulkan sejumlah fenomena dan tantangan. Pendapatan yang relatif rendah dibanding tanggung jawab profesional dan beban kerja dapat mempengaruhi motivasi, retensi, serta kesejahteraan perawat.  Meskipun terdapat sejumlah studi yang membahas disparitas pendapatan antara sektor publik dan lembaga profit di kalangan tenaga kesehatan, masih terbatas penelitian yang secara khusus membahas lulusan diploma keperawatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan pendapatan antara lulusan diploma keperawatan yang bekerja di sektor pemerintah dan lembaga profit serta menilai pengaruh sektor kerja terhadap outcome ekonomi mereka. Data diambil dari Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Agustus 2023, dengan kriteria responden lulusan diploma keperawatan yang sedang bekerja. Variabel utama adalah pendapatan bulanan yang ditransformasi ke logaritma natural. Analisis dilakukan menggunakan uji beda rata-rata (t-test) dan regresi OLS dengan kontrol usia, jenis kelamin, status kawin, dan klasifikasi wilayah. Hasil menunjukkan lulusan di sektor lembaga profit memiliki pendapatan rata-rata signifikan lebih tinggi dibanding sektor pemerintah, dengan selisih sekitar 34%. Regresi OLS menegaskan bahwa bekerja di sektor pemerintah terkait penurunan log-pendapatan dibanding sektor profit. Temuan ini menekankan bahwa sektor profit menawarkan kompensasi finansial lebih tinggi, sementara sektor publik memberikan stabilitas dan tunjangan jangka panjang, memberikan dasar bagi lulusan untuk mempertimbangkan strategi pekerjaan dan pengembangan karier. Abstract  Income is an important indicator of worker welfare, including for diploma nursing graduates who play a strategic role in health service delivery. Although nominal wages often meet minimum wage standards, in some areas they remain below the municipal minimum wage, creating various challenges. Relatively low income compared with professional responsibilities and workload can affect motivation, retention, and the well-being of nurses. Several studies have examined income disparities between the public sector and profit-based institutions among health workers, but research that focuses specifically on diploma nursing graduates remains limited.  This study examines income differences between diploma nursing graduates who work in the government sector and those who work in profit-based institutions, and evaluates how the employment sector influences their economic outcomes. The data come from the August 2023 National Labor Force Survey (SAKERNAS), with respondents limited to employed diploma nursing graduates. The main variable is monthly income, which is transformed using the natural logarithm. The analysis uses mean difference tests (t-tests) and OLS regressions with controls for age, sex, marital status, and regional classification. The results show that graduates who work in profit-based institutions earn a significantly higher average income, with an estimated difference of about 34 percent compared with graduates in the government sector. The OLS results confirm that employment in the government sector is associated with lower log-income compared with employment in profit-based institutions. These findings indicate that the profit-based sector provides higher financial compensation, while the public sector offers greater job stability and long-term benefits. This evidence can help graduates consider their employment choices and career development strategies.
FAKTOR DETERMINAN KESIAPAN PRANIKAH PADA ASPEK EMOSIONAL, PSIKOLOGIS, SOSIAL, SPIRITUAL, DAN FINANSIAL: DETERMINANTS OF PREMARITAL READINESS IN EMOTIONAL, PSYCHOLOGICAL, SOCIAL, SPIRITUAL, AND FINANCIAL ASPECTS christianto nugroho; Zauhani Kusnul
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.444

Abstract

Kesiapan individu dalam memasuki jenjang pernikahan merupakan topik yang relevan dalam konteks kehidupan masyarakat karena kesiapan menjadi salah satu determinan penting dalam membangun kehidupan berkeluarga. Kesiapan tersebut mencakup berbagai aspek, yaitu emosional, psikologis, sosial, spiritual, dan finansial. Penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan pranikah penting dilakukan untuk memahami bagaimana individu dapat beradaptasi dan berkembang secara optimal dalam kehidupan pernikahan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan sasaran calon pengantin di wilayah kerja Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pare. Populasi penelitian adalah calon pengantin pria dan wanita di wilayah kerja KUA Kecamatan Pare, dengan sampel yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025. Variabel dependen dalam penelitian ini meliputi kesiapan emosional, psikologis, sosial, spiritual, dan finansial calon pengantin, sedangkan variabel independennya adalah usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan. Data dikumpulkan menggunakan instrumen berupa kuesioner tertutup, di mana responden memilih jawaban yang paling sesuai dari opsi yang telah disediakan. Sebelum digunakan, instrumen telah diuji coba untuk menilai kejelasan dan kemudahan pemahaman kalimat oleh responden dari masyarakat umum. Data yang telah terkumpul kemudian diolah melalui proses tabulasi dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank dengan bantuan software SPSS versi 16. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya hubungan antara variabel jenis kelamin dengan kesiapan emosional serta variabel jenis pekerjaan dengan kesiapan finansial yang memiliki hubungan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin berhubungan signifikan dengan kesiapan emosional calon pengantin, sedangkan jenis pekerjaan berhubungan signifikan dengan kesiapan finansial calon pengantin Abstract Individual readiness for marriage is a relevant topic in society because readiness is an important determinant of family life. This readiness encompasses various dimensions, including emotional, psychological, social, spiritual, and financial aspects. Research on the factors influencing premarital readiness is important to understand how individuals can adapt and develop optimally in married life. This study employed an observational analytic design involving prospective brides and grooms in the working area of the Office of Religious Affairs (KUA) of Pare District. The population consisted of prospective brides and grooms (male and female) in the KUA Pare working area, and the sample was selected using an accidental sampling technique. The study was conducted in June 2025. The dependent variables were the emotional, psychological, social, spiritual, and financial readiness of prospective brides and grooms, while the independent variables included age, gender, and type of occupation. Data were collected using a closed-ended questionnaire in which respondents selected the answers that best matched their conditions from the options provided. Prior to data collection, the instrument was pilot-tested to assess sentence clarity and ease of understanding among respondents from the general public. The collected data were processed through tabulation and analyzed statistically using the Spearman Rank correlation test with SPSS version 16 software. The results of the correlation analysis showed that only the relationship between gender and emotional readiness, as well as the relationship between type of occupation and financial readiness, were statistically significant. Based on these findings, it can be concluded that gender is significantly associated with the emotional readiness of prospective brides and grooms, while type of occupation is significantly associated with financial readiness
EVALUASI IMPLEMENTASI APLIKASI DATA WEREHOUSE DALAM PENYAJIAN DATA STUNTING MENGGUNAKAN METODE PIECES DI KABUPATEN KEDIRI : EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION OF THE WEREHOUSE DATA MODELING APPLICATION FOR PRESENTING STUNTING DATA IN VILLAGES IN KEDIRI REGENCY luluk susiloningtyas luluk; Arik Sofan Tohir; Aris Dwi Cahyono; Fannidya Hamdani Zeho; Suryono Suryono
Jurnal Ilmiah Pamenang Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pamenang ( JIP )
Publisher : Stikes Pamenang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jip.v8i1.446

Abstract

Abstrak   Teknologi informasi menjadi solusi masalah layanan publik, termasuk pengolahan data besar lewat data warehouse dengan metode Nine Step Kimball model Skema Bintang. Data warehouse mendukung pengelolaan dan analisis data. Masalah muncul saat manajemen butuh informasi detail dan tepat waktu tentang data transaksional stunting, tapi di lapangan pihak manajemen kesulitan mendapat profil data stunting karena pengisian aplikasi belum lengkap. Karena itu perlu evaluasi penerapan aplikasi pemodelan data warehouse untuk penyajian data stunting. Tujuan penelitian mendeskripsikan evaluasi penerapan aplikasi Pemodelan Data Warehouse untuk penyajian data stunting di Desa Wilayah Kabupaten Kediri. Metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan Mei-Juni 2025 di Desa wilayah Kabupaten Kediri. Populasi seluruh kader kesehatan pengguna aplikasi dengan sampel 40 orang pakai total sampling. Data dikumpulkan lewat kuesioner PIECES. Uji validitas 35 item valid karena r-hitung > r-tabel 0,334 dan reliabilitas Alpha 0,928 > 0,70, jadi instrumen valid dan reliabel. Pengukuran pakai skala Likert dengan analisis statistik deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan semua aspek PIECES kategori Baik: performance 90%, information 85%, economics 82,5%, efficiency 72,5%, service 65%, control 62,5%. Skor terendah ada pada control 62,5% dan service 65% sehingga perlu perbaikan. Rekomendasi: optimalkan pelatihan dan monitoring evaluasi petugas agar lebih terampil serta lakukan backup data berkala. Melalui rancang bangun warehouse stunting diharapkan jadi alat bantu penyajian data stunting yang valid, sehingga stakeholder SKPD dan pemerintah desa bisa menetapkan sasaran intervensi tepat dan cepat. Hasil penelitian bisa jadi bahan evaluasi Desa Wilayah Kabupaten Kediri dalam pemantauan dan penanganan stunting. Abstract   Information technology is an effective solution for public service challenges, including the processing of large datasets through a data warehouse using the Nine Step Kimball model with a Star Schema design. A data warehouse supports data management and analysis. A problem arises when management requires detailed and timely information from stunting transactional data; however, in practice, managers struggle to obtain stunting profiles because data entry in the existing application remains incomplete. Therefore, an evaluation of the implementation of a data warehouse modeling application for stunting data presentation is necessary.This study aimed to describe the evaluation of the Data Warehouse Modeling application for stunting data presentation in villages in Kediri Regency. The research method was quantitative descriptive with a cross-sectional approach. The study was conducted from May to June 2025 in villages within Kediri Regency. The population consisted of all community health cadres using the application, with a total sample of 40 respondents selected through total sampling. Data were collected using a questionnaire based on the PIECES framework. Validity testing showed that 35 items were valid with r-count > r-table of 0.334, and reliability testing yielded Cronbach’s Alpha of 0.928 > 0.70, indicating that the instrument was valid and reliable. Measurements used a Likert scale, and data were analyzed using descriptive statistics.The results showed that all PIECES variables were in the “Good” category: performance 90%, information 85%, economics 82.5%, efficiency 72.5%, service 65%, and control 62.5%. The lowest scores were control 62.5% and service 65%, indicating areas for improvement. Recommendations include optimizing training and monitoring-evaluation for officers to improve competency and performing regular data backups. Through the development of a stunting data warehouse, the application is expected to serve as a valid tool for presenting stunting data, enabling Regional Work Units (SKPD) stakeholders and village governments to set intervention targets accurately and promptly. These findings can serve as evaluation material for villages in Kediri Regency for stunting monitoring and management.