cover
Contact Name
Jerry Fred Salamena
Contact Email
agrinimal@gmail.com
Phone
+6285243549419
Journal Mail Official
agrinimal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka, Ambon 97233
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 20883609     EISSN : 27232697     DOI : https://doi.org/10.30598/ajitt
Agrinimal journal accommodates articles / scientific works which has not been published yet. Fields of journal cover both aspects of animal sciences and agriculture sciences: animal feed and nutrition, feed science and technology, feed additive technology, ; animal reproduction and physiology, genetics, animal production; animal behaviour, welfare, livestock farming system; socio-economic and policy; and animal products science and technology.
Articles 121 Documents
PENGARUH FORMALDEHYDE DAN EKSTRAK DAUN MIANA (Coleus scutellaroides (L)Bth) TERHADAP MORTALITAS DAN DAYA TETAS TELUR AYAM BURAS Bayu F. Halim; Muhammad Juraid Wattiheluw; Wiesje Martha Horhoruw
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 10 No 2 (2022): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2022.10.2.79-85

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pengaruh ekstrak daun miana sebagai bahan sanitasi terhadap, mortalitas dan daya tetas telur ayam buras dan mencari alternatif lain pengganti desinfektan berbahan kimia yang dapat digunakan sebagai antimikroba alami dalam proses pembersihan telur tetas. Penelitian ini menggunakan 80 butir telur yang telah diseleksi dan berasal dari usaha peternakan milik Bapak Abu Hiri di Desa Wayame Dusun Waringin Cap. Penelitian ini dianalisis menggunakan Uji T (Independent Sample t-Test) untuk membandingkan hasil sanitasi ekstrak daun dan fumigasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara sanitasi menggunakan ekstrak daun miana terhadap, mortalitas dan daya tetas telur ayam buras yang artinya ekstrak daun miana dapat digunakan sebagai bahan pengganti sanitasi berbahan kimia. Abstract This study aims to determine the effect of miana leaf extract as a sanitizing agent on the mortality and hatchability of native chicken eggs and to find other alternatives to chemical disinfectants that can be used as natural antimicrobials in the cleaning process of hatching eggs. This study used 80 eggs that had been selected and came from a farm owned by Mr. Abu Hiri in Wayame Village, Dusun Waringin Cap. This study was analyzed using the t-test (Independent Sample t-Test) to compare the results of leaf extract sanitation and fumigation. The results showed that there was no significant difference between sanitation using miana leaf extract against, mortality and hatchability of native chicken eggs, which means that miana leaf extract can be used as a chemical substitute for sanitation.
KARAKTERISASI FENOTIPIK KAMBING LOKAL DI KECAMATAN LEIHITU KABUPATEN MALUKU TENGAH Endang Astriwati Ibrahim; Rajab Rajab; Bercomien J. Papilaya
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 10 No 2 (2022): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2022.10.2.86-95

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sifat kualitatif dan kuantitatif, dan hubungan antara bobot badan dan ukuran tubuh ternak kambing lokal di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Metode Purposive sampling dan survei, analisis deskriptif sifat kualitatif, kuantitatif dan analisis regresi sederhana hubungan bobot badan dengan ukuran tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Karakteristik sifat kualitatif mulai dari profil garis muka datar, garis punggung cekung persentase 100%. Pola warna dominan hitam persentase 49% dan campuran 16%. Karakteristik sifat kuantitatif bobot badan kambing lokal rataan 26,94±2,75(10,20) kg. Tinggi pundak (54,39 cm). Panjang badan (52,23 cm). Lebar dada (24,79 cm). Lingkar dada (56,48 cm). Lingkar canon (8,18 cm). Hubungan bobot badan dan ukuran tubuh ternak nilai korelasi yang diperoleh antara bobot badan dengan variabel tersebut adalah masing-masing 0,99 (tinggi pundak), 0,74 (panjang badan), 2,28 (lebar dada), dan 0,86 (lingkar dada). Sifat kualitatif dan Kuantitatif ternak kambing lokal pada kecamatan leihitu kabupaten maluku tengah memiliki kemiripan dengan ternak Kambing Kacang, hubungan positif bobot badan dengan ukuran tubuh ternak. ABSTRACT This study aims to determine the characteristics of qualitative and quantitative traits, and the relationship between body weight and body size of local goats in Leihitu District, Central Maluku Regency. Purposive sampling and survey methods, descriptive analysis of qualitative characteristics, quantitative and simple regression analysis of the relationship between body weight and body size. The results showed that the qualitative characteristics ranged from the profile of a flat front line to a concave back line with a percentage of 100%. The dominant color pattern is 49% black and 16% mixed. The quantitative characteristics of the local goats' body weight averaged 26.94±2.75(10.20) kg. Shoulder height (54.39 cm). Body length (52.23 cm). Chest width (24.79 cm). Bust (56.48 cm). Canon circumference (8.18 cm). In the correlation between body weight and body size of cattle, the correlation values ​​obtained between body weight and these variables were 0.99 (shoulder height), 0.74 (body length), 2.28 (chest width), and 0.86 ( chest size). Qualitative and quantitative characteristics of local goats in the Leihitu sub-district, Central Maluku district, have similarities with Peanut Goats, a positive relationship between body weight and body size.
PERTUMBUHAN DAN PRODUKTIVITAS RUMPUT GAJAH ODOT (Pennisetum purpureum Cv. Mott) YANG DIBERI PUPUK KOTORAN PUYUH Dela Heraini; Yeti Rohayeti; Duta Setiawan; Siti Patmawati
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 10 No 2 (2022): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2022.10.2.59-64

Abstract

ABSTRAK Hijauan merupakan sumber makanan utama bagi ternak ruminansia untuk dapat bertahan hidup, berproduksi serta berkembang biak, oleh karena itu pakan hijauan ternak harus selalu tersedia dan harus selalu diproduksi supaya ternak tidak kekurangan pakan, salah satu hijauan pakan ternak adalah Rumput Gajah Odot (Pennisetum purpureum Cv. Mott). Rumput Gajah Odot merupakan tanaman hijauan pakan ternak yang memegang peranan penting, karena mengandung hampir semua nutrisi yang diperlukan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk kotoran puyuh yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil Rumput Gajah Odot. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas lima perlakuan dan lima ulangan, setiap ulangan terdiri dari tiga sampel tanaman, sehingga terdapat 75 tanaman. Perlakuan dalam penelitian terdiri dari 1) P0: tidak diberi pupuk 2) P1: 5% pupuk kotoran puyuh dari berat tanah setara dengan 500 g/polybag, 3) P2: 10% pupuk kotoran puyuh dari berat tanah setara dengan 1.000 g/polybag, 4) P3: 15% pupuk kotoran puyuh dari berat tanah setara dengan 1.500 g/polybag, 5) P4: 20% pupuk kotoran puyuh dari berat tanah setara dengan 2.000 g/polybag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kotoran puyuh pada dosis 20% berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 6 MST, jumlah anakan 2 MST, 5 MSTdan 6 MST serta berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 1 MST, 2 MST, 3 MST dan 5 MST, jumlah daun 2 MST, 3 MST, 4 MST dan 5 MST, jumlah anakan 3 MST, dan 4 MST. Kesimpulan pemberian pupuk kotoran puyuh dosis 20% setara dengan 2.000 g/polybag dari berat tanah menghasilkan pertumbuhan dan hasil Rumput Gajah Odot yang terbaik. Pemberian kotoran puyuh dosis 5% setara dengan 500 g/polybag dari berat tanah sudah cukup baik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil Rumput Gajah Odot dilihat dari efisiensi biaya dan kebutuhan pupuk kotoran puyuh yang lebih sedikit.
ANALISA RANTAI NILAI (VALUE CHAIN) INDUSTRI BROILER DI KOTA AMBON (STUDI KASUS PADA PETERNAKAN DENGAN SKEMA KEMITRAAN) Marfin Lawalata; Heryanus Jesajas; Noviar F. Wenno; Tienni M Simanjorang
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.8-15

Abstract

Salah satu komoditi penyebab inflasi di kota Ambon adalah daging ayam broiler/pedaging. Hal ini terjadi karena banyaknya permintaan daging ayam broiler (pedaging) di kota Ambon sedangkan penawaran (produksi) hanyalah sedikit, ini menunjukan bahwa ketika permintaan akan suatu barang naik dan jumlah barang yang diminta itu sedikit maka akan memicu naiknya harga di pasar dan menyebabkan inflasi dan salah satu cara untuk menekan laju inflasi, ayam beku didatangkan dari luar daerah seperti Makasar dan Surabaya. Di satu sisi akan menambah stock daging ayam broiler di pasar namun akan timbul masalah baru karena akan mempengaruhi harga jual ayam broiler segar yang di produksi oleh peternak lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi rantai nilai (value chain map) industri peternakan ayam broiler di Kota Ambon dan untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing peternak ayam broiler di Kota Ambon. Penelitian dilakukan dengan dipusatkan pada peternak ayam broiler yang menjalankan usaha dengan skema kemitraan dengan perusahaan dan instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Ambon dan Bank Indonesia (BI). Responden yang diambil adalah peternak di Desa Passo, Kecamatan Baguala dan desa Airlouw Kecamatan Nusinawe. Metode yang dilakukan dalam peneltian ini adalah kuantitatif dan analisis deskriptif. Hasil menunjukan adanya hubungan yang saling menguntungkan yang diperoleh oleh peternak dengan para mitra, namun masih ada permasalahan yang terjadi terutama pada rantai produksi berupa ketidakpuasaan harga antara peternak dan mitra. Serta waktu panen yang tidak sekaligus sehingga resiko biaya tenaga kerja yang dikeluarkan juga tinggi dan resiko kematian ayam menunggu waktu penjualan.
ANALISIS PERAMALAN HARGA DAGING AYAM PEDAGING DI KOTA AMBON DAN RISIKO YANG DITIMBULKAN TERHADAP DAYA BELI MASYARAKAT Adolf Heatubun; Michel J. Matatula
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.1-7

Abstract

Kenaikan harga menyebabkan daya beli masyarakat menurun dan mengakibatkan berbagai risiko harus dihadapi konsumen. Diperlukan peramalan harga ke depan untuk mengetahui seberapa besar risiko penurunan daya beli konsumen. Penelitian ini bertujuan meramalkan trend kenaikan harga daging ayam di Kota Ambon dalam setahun ke depan dan menganalisis risiko kenaikan harga tersebut terhadap penurunan daya beli masyarakat. Peramalan menggunakan metode linear trend, diawali analisis model regresi dan dilanjutkan dengan peramalan harga daging ayam pedaging untuk periode 1 tahun mendatang (Oktober 2022 hingga September 2023). Data untuk analisis bersumber dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS NASIONAL). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata harga daging ayam pedaging di Kota Ambon selama 21 periode sebelum peramalan sebesar Rp. 37.476,19 per kg atau bertumbuh 0,94%. Rata-rata harga per kg pada periode peramalan Oktober 2022 hingga September 2023 sebesar Rp. 41.976,18 atau bertumbuh 0,65%. Kenaikan harga rata-rata sebelum peramalan dengan sesudah peramalan sebesar 12,01% atau harga meningkat Rp. 4.500,- per kg. Kenaikan harga ini mengindikasikan penurunan daya beli konsumen rata-rata 12,01% atau setara dengan penurunan jumlah konsumsi dari 1 kg atau 1000 gr menjadi tersisa 0,88 kg atau 880 gr. Penurunan daya beli dan jumlah konsumsi daging ayam pedaging dikategorikan sebagai angka risiko cukup besar. Mitigasi dilakukan dengan mendorong pengembangan produksi daging ayam pedaging di tingkat produsen lokal meskipun efeknya mengurangi risiko cukup lambat. ABSTRACT The increase in prices causes people's purchasing power to decrease and results in various risks that the consumer community must face. Future price forecasting is needed to find out how big the risk of a decline in consumer purchasing power is. This study aims to predict the rising trend of chicken meat prices in Ambon City in the next year and to analyze the risk of rising prices on the decline in people's purchasing power. Forecasting uses the linear trend method, starting with regression model analysis and following by forecasting the price of broiler meat for the next 1 year period (October 2022 to September 2023). Data for analysis is sourced from the National Strategic Food Price Information Center (PIHPS NASIONAL). The results showed that the average price of broiler meat in Ambon City for 21 periods before forecasting was Rp. 37,476.19 per kg or grew 0.94%. The average price per kg in the forecasting period from October 2022 to September 2023 is Rp. 41,976.18 or a growth of 0.65%. The increase in the average price before the forecast and after the forecast is 12.01% or the price increases by Rp. 4,500,- per kg. This price increase indicates a decrease in consumer purchasing power by an average of 12.01% or equivalent to a decrease in the amount of consumption from 1 kg or 1000 gr to the remaining 0.88 kg or 880 gr. The decrease in purchasing power and the amount of consumption of broiler meat is categorized as a significant risk figure. Mitigation is carried out by encouraging the development of broiler meat production at the local producer level although the effect of reducing risk is quite slow.
PENGARUH PEMBERIAN MOLASE DALAM AIR MINUM TERHADAP PERTUMBUHAN BROILER Rusman Hadi Unto; Muhammad J. Wattiheluw; Abraham H. Tulalessy
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.22-27

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan broiler yang diberi molase dalam air minum. Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu DOC broiler strain cobb sebanyak 90 ekor, molase, air minum, dan pakan komersial BR I produksi PT. Japfa Comfeed Indonesia. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan, setiap ulangan berisi 10 ekor broiler. Perlakuan dibedakan berdasarkan level pemberian molase yang diberikan pada air minum adalah P0= air minum tanpa molase sebagai kontrol; P1= air minum dengan tambahan 2,5% molase; P2= Air minum dengan tambahan 4,5% molase. Variabel yang diamati adalah performa broiler meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan rataan konsumsi pakan broiler berada pada kisaran P1=3092,90±93,6 gr/ekor hingga P2=3150,90±8,46 gr/ekor, rataan pertambahan bobot badan pada kisaran P0=1949,57±119,2 gr/ekor hingga P2=2040,80±62,8 gr/ekor, rataan konversi pakan berada pada kisaran P1=1.53±0,03 hingga P0=1.59±0,08. Analisis ragam menunjukkan pemberian molase dalam air minum memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan. Kesimpulan hasil penelitian adalah penggunaan molase dalam air minum hingga level 4,5% tidak mempengaruhi pertumbuhan broiler. ABSTRACT The aim of this study was to determine the growth of broilers fed molasses in drinking water. The materials used in the study were 90 DOC broiler cobb strains, molasses, drinking water, and BR I commercial feed produced by PT. Japfa Comfeed Indonesia. The method used was a Completely Randomized Design (CRD) which consisted of 3 treatments and 3 replications, each replication containing 10 broilers. Treatments were differentiated based on the level of molasses given to drinking water, namely P0 = drinking water without molasses as a control; P1= drinking water with added 2.5% molasses; P2 = Drinking water with added 4.5% molasses. The variables observed were broiler performance including feed consumption, body weight gain, and feed conversion. The results showed that the average broiler feed consumption was in the range P1=3092.90±93.6 gr/bird to P2=3150.90±8.46 gr/bird, the average body weight gain was in the range P0=1949.57±119,2 gr/bird to P2=2040.80±62.8 gr/bird, the average feed conversion was in the range of P1=1.53±0.03 to P0=1.59±0.08. Analysis of variance showed that adding molasses to drinking water had no significant effect (P>0.05) on feed consumption, body weight gain, and feed conversion. The conclusion of the research results is the use of molasses in drinking water up to a level of 4.5% does not affect broiler growth.
POTENSI ALFALFA (Medicago sativa L.) SEBAGAI FEED SUPPLEMENT UNTUK AYAM RAS PETELUR: PERFORMAN DAN KUALITAS TELUR M. Azhar; M. A. Daruslam; B. N. Prasetyo; C. Pratama; T. L. Aulyani; S. Faradila
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.16-21

Abstract

Ayam ras petelur pada fase produksi memiliki dua masalah utama yaitu penurunan performa dan kualitas telur. Kondisi tersebut dapat diatasi dengan pemberian alfalfa sebagai feed supplement melalui air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi alfalfa sebagai feed supplement terhadap performa dan kualitas telur ayam ras petelur. Sebanyak 16 ekor ayam ayam ras petelur strain Hy-Line Brown umur 40 minggu ditempatkan secara individu pada kadang cages ukuran 30 x 30 x 40 cm. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pukul 06:00 dan pukul 14:00 dengan jumlah 115 g/ekor/hari, sedangkan air minum diberikan secara ad libitum. Aplikasi pemberian feed supplement alfalfa dikelompokkan menjadi 4 perlakuan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pertama tanpa pemberian alfalfa (kontrol), perlakuan ke-2 yaitu alfalfa 3% (3 g bubuk alfalfa dilarutkan dalam 100 ml akuades), perlakuan ke-3 yaitu alfalfa 6% (6 g bubuk alfalfa dilarutkan dalam 100 ml akuades), dan perlakuan ke-4 yaitu alfalfa 9% (9 g bubuk alfalfa dilarutkan dalam 100 ml akuades). Alfalfa yang telah dilarutkan kemudian disaring dan dimasukkan ke dalam botol ukur 200 ml yang dimodifikasi dengan tutup menggunakan nipple dringker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian feed supplement alfalfa meningkatkan produksi telur, namun konsumsi air minum, konsumsi pakan, dan konvensi pakan tidak menunjukkan perbedaan antara perlakuan. Berat telur dan warna kuning telur mengalami peningkatan dengan pemberian feed supplement alfalfa. Kesimpulannya aplikasi feed supplement alfalfa 9% melalui air minum mampu meningkatkan produksi telur, berat telur dan warna kuning telur. ABSTRACT Laying hens in the final phase of production has two main problems, namely a decrease in performance and egg quality. This condition can be overcome by giving alfalfa as a feed supplement through drinking water. This study aims to determine the potential of alfalfa as a feed supplement on the performance and egg quality of laying hens. A total of 16 laying hens of the Hy-Line Brown strain aged 40 weeks were placed individually in cages measuring 30 x 30 x 40 cm. Feeding was done 2 times a day at 06:00 and 14:00 with the amount of 115 g/bird/day, while drinking water was given ad libitum. Alfalfa feed supplement application was grouped into 4 treatments based on a completely randomized design (CRD). The first treatment was without alfalfa (control), the second treatment was 3% alfalfa (3 g of alfalfa powder dissolved in 100 ml of distilled water), the third treatment was 6% alfalfa (6 g of alfalfa powder dissolved in 100 ml of distilled water), and the 4th treatment was 9% alfalfa (9 g of alfalfa powder dissolved in 100 ml of distilled water). Alfalfa that has been dissolved is then filtered and put into a modified 200 ml measuring bottle with a lid using a nipple drinker. The results showed that alfalfa feed supplementation increased egg production, but drinking water consumption, feed consumption, and feed convention did not show any difference between treatments. Egg weight and yolk color increased with the alfalfa feed supplement. In conclusion, the application of a 9% alfalfa feed supplement through drinking water was able to increase egg production, egg weight, and egg yolk color.
JENIS BURUNG PARUH BENGKOK SEBAGAI OBJEK AVITOURISM DI DESA MASIHULAN KECAMATAN SERAM UTARA Yosevita Th. Latupapua; Jusmy D. Putuhena
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.28-35

Abstract

Masihulan merupakan desa yang kaya akan potensi flora fauna khususnya burung. Jenis burung di desa Masihulan sangat beranekaragam dan berpotensi dalam pengembangan objek Avitourism. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengidentifikasi potensi jenis-jenis burung paruh bengkok di desa Masihulan khususnya pada jalur avitourism. Metode Pengumpulan Data menggunakan Metode Transek Garis (line transect) Metode garis transek ini dilakukan dengan berjalan sepanjang garis transek dan pengamatan dilakukan di kedua sisi transek, kemudian jarak antara lokasi burung yang terlihat dengan pengamat diukur panjangnya. Metode line transect ini diletakkan pada tiga jalur pengamatan dengan panjang jalur sepanjang 300m, 300m dan 500m. Data yang dicatat meliputi jenis burung paruh bengkok, aktivitas, dan jumlah individu. Analisis deskriptif-korelatif digunakan untuk menjelaskan potensi avitourism berdasarkan endimisitas, status konservasi dan tipe pakan burung/feeding guild. Hasil penelitian menunjukkan jenis paruh bengkok yang tergolong menarik karena merupakan jenis endemic dan dilindungi ada 3 jenis yaitu kakatua maluku, nuri tengkuk ungu, dan nuri maluku. Indeks keanekaragaman dikategori sedang (H’=1,8), indeks kemerataan (E=2,02) dan kekayaan (R=0,67) dikategorikan rendah. ABSTRACT Masihulan is a village that is rich in flora and fauna potential, especially birds. The types of birds in the village of Masihulan are very diverse and have the potential to develop avitourism objects. The purpose of this study was to identify the potential for parrot species in the village of Masihulan, especially on the avitourism route. The data collection method uses the line transect method. This line transect method is carried out by walking along the transect line and observations are made on both sides of the transect, then the distance between the visible bird location and the observer is measured for its length. This line transect method is placed on three observation lines with path lengths of 300m, 300m and 500m. The data recorded included the type of parrot, activity, and number of individuals. Descriptive-correlative analysis was used to explain the potential for avitourism based on endicity, conservation status and type of bird feed/feeding guild. The results showed that the type of beak which is classified as interesting because it is an endemic species and is protected there are 3 types, namely the molucensis cockatoo, the purple-napped loryt, and the Moluccan red lory parrot. The diversity index is classified as moderate (H’=1,8), and the index of evenness (F=2,02) and richness (R=0,67) is low.
ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAK BROILER DENGAN POLA KEMITRAAN PT CIOMAS ADISATWA DI DESA PADEK KECAMATAN ULUJAMI KABUPATEN PEMALANG (Studi Kasus Pada Usaha Peternakan Broiler Milik Erwin Sanjoyo) Karni Dewi Sriyanti Zega; Pieter M. Ririmase; Jomima M. Tatipikalawan
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.36-44

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serta mengetahui pola kemitraan, sistem manajemen dan tingkat kelayakan finansial usaha peternak broiler pola kemitraan dengan PT Ciomas Adisatwa yang berlokasi di Desa Padek, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan teknik studi kasus di salah satu usaha peternakan broiler di desa Padek dengan populasi sebanyak 6.500 ekor. Data yang diambil merupakan data satu tahun atau 5 periode pemeliharaan. Analisis data secara deskriptif dengan menghitung biaya produksi, pendapatan, Revenue Cost Ratio (R/C), Benefit Cost Ratio (B/C) dan Break Event Point (BEP). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh inti sebesar Rp. 929.930.959,00/ tahun (91,33%) atau Rp. 18.598.6191,80 per periode (91,33%) dan plasma Rp. 88.299.740,00/ tahun (8,67%) atau Rp. 17.659.948,00 per periode (8,67%). Pendapatan yang diterima inti sebesar Rp. 109.455.728,00/ tahun (75,87%) atau Rp. 21.891.145,60 per periode (75,87%) dan diterima plasma sebesar Rp. 34.810.737,00/ tahun (24,13%) atau Rp. 6.962.147,40 per periode (24,13%). Usaha peternakan broiler milik plasma secara finansial mengalami keuntungan dan layak untuk dikembangkan. Nilai rata-rata R/C = 1,39 dan B/C = 0,39 serta rata-rata BEP produksi = 9.973,20 kg dan BEP harga = Rp. 20.011,63/ kg. ABSTRACT The aims of this research are to examine and determine partnership patterns, management systems, and levels of the financial feasibility of a broiler breeder business in partnership with PT Ciomas Adisatwa located at Padek Village, Ulujami District, Pemalang Regency. The method used in this research is a survey method with case study techniques in one of the broiler breeders in Padek village with a population of 6,500 individuals. The data was taken from one-year data or 5 maintenance periods. Descriptive data was analyzed by calculating production costs, revenue, Revenue Cost Ratio (R/C), Benefit Cost Ratio (B/C), and Break Event Point (BEP). The results of the study found that the average cost issued by the nucleus of Rp. 929,930,959.00/ year (91.33%) or Rp. 18,598,6191.80 per period (91.33%) and plasma Rp. 88,299,740.00/ year (8.67%) or Rp. 17,659,948.00 per period (8.67%). The core income received is Rp. 109,455,728.00/ year (75.87%) or Rp. 21,891,145.60 each period (75.87%) and received plasma of Rp. 34,810,737.00/ year (24.13%) or Rp. 6,962,147.40 each period (24.13%). Plasma-owned broiler farms are financially profitable and feasible to be developed. The average value of R/C = 1.39, B/C = 0.39, the average BEP production = 9973.20 kg, and the price BEP = Rp. 20,011.63/ kg.
DAYA HIDUP SPERMATOZOA KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DIPRESERVASI DENGAN PENGENCER AIR TEBU Jodi Aulia Ramadhan; Muhammad Riyadhi; Nursyam Andi Syarifuddin; Anis Wahdi; Muhammad Rizal
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 1 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.1.45-50

Abstract

Air tebu dapat dimanfaatkan sebagai pengencer semen karena mengandung berbagai nutrien yang dapat menunjang kehidupan spermatozoa selama preservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan air tebu dalam mempertahankan daya hidup spermatozoa kambing PE selama preservasi pada suhu 3-5oC. Semen ditampung menggunakan vagina buatan dan segera dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Semen segar dibagi ke dalam lima buah tabung reaksi kemudain masing-masing diencerkan dengan 80% pengencer dasar laktosa + 20% kuning telur sebagai kontrol (P0), 20% air tebu + 60% akuabidetislata + 20% kuning telur (P1), 30% air tebu + 50% akuabidestilata + 20% kuning telur (P2), 40% air tebu + 40% akuabidestilata + 20% kuning telur (P3), dan 50% air tebu + 30% akuabidestilata + 20% kuning telur (P4). Semen yang telah diencerkan disimpan di dalam refrigerator lemari es pada suhu 3-5oC. Motilitas dan daya hidup spermatozoa masing-masing perlakuan dievaluasi setiap hari hingga motilitas mencapai 40%. Hasil penelitian diperoleh karakteristik semen segar kambing PE yaitu volume 1,15 ml, konsentrasi 3.870 juta/ml, motilitas 80%, spermatozoa hidup 87,75%, dan spermatozoa abnormal 7,5%. Persentase motilitas dan spermatozoa hidup pada hari keempat preservasi perlakuan P2 (41,25% dan 50%) nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan P0 (37,5% dan 47%), P1 (32,5% dan 44%), P3 (30% dan 36,25%), dan P4 (18% dan 29,25%). Dapat disimpulkan bahwa Kombinasi pengencer terbaik untuk semen kambing PE adalah terdiri atas 30% air tebu + 50% akuabidestilata + 20% kuning telur. ABSTRACT Sugarcane juice can be used as an alternative semen extender because it contains various nutrients that can support the life of spermatozoa during preservation. This study aimed to examine the ability of sugarcane juice to maintain the ability of Etawah crossbreed goat spermatozoa during preservation at 3-5oC. Semen was collected using an artificial vagina and immediately evaluated macroscopically and microscopically. Fresh semen was divided into five tubes and diluted with 80% lactose-based extender + 20% egg yolk as a control (T0), 20% sugarcane juice + 60% aquabidestilata + 20% egg yolk (T1), 30% sugarcane juice + 50% aquabidestilata + 20% egg yolk (T2), 40% sugarcane juice + 40% aquabidestilata + 20% egg yolk (T3), and 50% sugarcane juice + 30% aquabidestilata + 20% egg yolk (T4), respectively. The diluted-semen was stored in the refrigerator at 3-5oC. The motility and viability of spermatozoa were evaluated every day until the motility reached 40%. The results showed that the characteristics of fresh semen of Etawah crossbreed goat were volume 1.15 ml volume, spermatozoa concentration 3870 million cells/ml, spermatozoa motility 80%, live spermatozoa 87.75%, and abnormal spermatozoa 7.5%. The percentage of motility and live spermatozoa on the fourth day of preservation for T2 (41.25% and 50%) was significantly (P<0.05) higher than T0 (37.5% and 47%), T1 (32.5% and 44%), T3 (30% and 36.25%), and T4 (18% and 29.25%). It can be concluded that the best extender combination for Etawah crossbreed goat semen is composed of 30% sugarcane juice + 50% aquabidestilata + 20% egg yolk.

Page 7 of 13 | Total Record : 121