cover
Contact Name
Jerry Fred Salamena
Contact Email
agrinimal@gmail.com
Phone
+6285243549419
Journal Mail Official
agrinimal@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ir. M. Putuhena, Kampus Poka, Ambon 97233
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Published by Universitas Pattimura
ISSN : 20883609     EISSN : 27232697     DOI : https://doi.org/10.30598/ajitt
Agrinimal journal accommodates articles / scientific works which has not been published yet. Fields of journal cover both aspects of animal sciences and agriculture sciences: animal feed and nutrition, feed science and technology, feed additive technology, ; animal reproduction and physiology, genetics, animal production; animal behaviour, welfare, livestock farming system; socio-economic and policy; and animal products science and technology.
Articles 121 Documents
STRUKTUR POPULASI TERNAK DAN SUITABILITAS KERAGAAN PAKAN TERNAK (STUDI KASUS KAWASAN AGRO-EKOLOGI KEPULAUAN YAPEN) Baso Daeng; Deni Iyai; Makarius Bajari; Yubelince Runtuboi; Evelin Parera; Evi W. Saragih; Silvia Laatung; Hans Mamboai
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.51-58

Abstract

Struktur populasi ternak dan kinerja pakan memiliki peran yang krusial dalam pengembangan industri peternakan yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk menyajikan sejumlah potret trend produktivitas ternak dan produksi pakan ternak asal limbah pertanian pada wilayah (region) Kabupaten Kepulauan Yapen (KKY) yang menjadi kantong-kantong ternak dan produksi pertanian daerah. Penelitian menggunakan metode penelitian deskriptif dengan teknik literature review. Obyek pengamatan dalam penelitian ini adalah produksi ternak, produksi tanaman pertanian serta kebutuhan pembangunan peternakan di wilayah KKY. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa secara deskriptif untuk memperoleh gambaran obyektif potret produksi ternak, produksi limbah tanaman pertanian dan kesesuaian pengembangan komoditi pada setiap distrik. Hasil kajian menunjukkan di Kawasan Kabupaten Kepulauan Yapen untuk potret produksi ternak belum optimal ditandai dengan rendahnya angka produksi ternak dari beberapa komoditas. Piramida pertumbuhan populasi ternak yang terbalik menandakan tidak sehatnya percepatan produksi ternak. Daya tampung ternak adalah 1139,08 ST (UT). Pakan ternak asal limbah pertanian perlu diintensifkan ketersediannya. Perlu peningkatan populasi ternak dan intensifikasi produksi pakan ternak yang dijamin ketersediaannya. ABSTRACT Livestock population structure and feed performance have a crucial role in the development of a sustainable livestock industry. The aim of this research is to present a number of portraits of trends in livestock productivity and production of animal feed from agricultural waste in the Yapen Islands Regency (KKY) region which is a regional livestock and agricultural production area. The research uses descriptive research methods with literature review techniques. The objects of observation in this research are livestock production, agricultural crop production, and the need for livestock development in the KKY area. The data obtained was then analyzed descriptively to obtain an objective picture of livestock production, agricultural crop waste production, and the suitability of commodity development in each district. The results of the study show that in the Yapen Islands Regency area, the portrait of livestock production is not yet optimal, marked by low livestock production figures for several commodities. The inverted pyramid of livestock population growth indicates an unhealthy acceleration of livestock production. The livestock capacity is 1139.08 ST (UT). The availability of animal feed from agricultural waste needs to be intensified. It is necessary to increase the livestock population and intensify the production of animal feed whose availability is guaranteed.
KUALITAS SENSORIS BAKSO DAGING SAPI YANG DISUBSTITUSI DAGING IKAN TUNA (Thunnus sp) Nafly Comilo Tiven; Tienni M. Simanjorang; Pieter M. Ririmase; Christian W. Patty
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.59-65

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas sensoris bakso daging sapi yang disubstitusi daging ikan tuna. Bakso dibuat dengan komposisi 60% daging sapi, 20% tepung tapioka, 16% es batu, 2% garam, 1,2% bawang putih, 0,5% lada bubuk, dan 0,3% albumen. Daging sapi disubstitusi daging ikan tuna dengan level 0%, 10% dan 30%. Variabel yang diteliti adalah warna, aroma, rasa, tekstur, dan rasa bakso. Data diuji menggunakan analisis ragam rancangan acak lengkap, dengan 3 level daging ikan tuna (0%, 10%, 30%), masing-masing 5 ulangan. Perbedaan antar perlakuan diuji lanjut dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging sapi yang disubstitusi daging ikan tuna pada level yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna dan aroma bakso, tetapi tidak berbeda nyata terhadap kekenyalan, tekstur, dan rasa bakso. Skor warna bakso daging sapi dengan 0% daging ikan tuna (3,53) lebih rendah (P<0,05) dibanding 10% (4,20) dan 30% (4,13). Skor aroma bakso daging sapi dengan 0% daging ikan tuna (3.80) lebih tinggi (P<0.05) dibanding 10% (3,00) dan 30% (3,33). Dapat disimpulkan bahwa substitusi daging sapi dengan daging ikan tuna, akan membuat warna bakso daging sapi lebih baik (abu-abu), dengan kekenyalan, tekstur, dan rasa yang sama dengan bakso daging sapi tanpa disubstitusi daging ikan tuna. ABSTRACT This study aimed to test the sensory quality of beef meatballs substituted by tuna meat. Meatballs are made with a composition of 60% beef, 20% tapioca flour, 16% ice cubes, 2% salt, 1.2% garlic, 0.5% ground pepper, and 0.3% albumen. Beef was substituted by tuna meat with levels of 0%, 10%, and 30%. The variables studied were color, aroma, taste, texture, and taste of the meatballs. Data were tested statistically by ANOVA completely randomized design, with 3 levels of tuna meat (0%, 10%, 30%), 5 replications each. Differences between treatments were tested further with Duncan's test. The results showed that beef substituted by tuna meat at different levels had a significant effect (P<0.05) on the color and aroma of the meatballs, but had no significant effect on the elasticity, texture, and taste of the meatballs. The color score of beef meatballs with 0% tuna meat (3.53) was lower (P<0.05) than 10% (4.20) and 30% (4.13). The aroma score of beef meatballs with 0% tuna meat (3.80) was higher (P<0.05) than 10% (3.00) and 30% (3.33). It can be concluded that the substitution of beef with tuna meat will make the beef meatball color better (gray), with the same elasticity, texture, and taste as beef meatballs without tuna meat being substituted.
FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN HIJAUAN YANG DICAMPUR TEPUNG JAHE TERHADAP PRODUKTIVITAS SAPI KAUR Fiqri Zulpadly; Meta Kartika Untari
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.66-72

Abstract

Sapi Kaur sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak (SDG-T) lokal Bengkulu harus dilestarikan dan dimanfaatkan dengan meningkatkan produksi ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas sapi Kaur melalui pengamatan hasil konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian, dan konversi pakan. Sebanyak 12 ekor sapi Kaur jantan berumur 1,5-2 tahun, dengan bobot badan berkisar antara 160-180 kg diobservasi produktivitasnya. Pakan hijauan diberikan dengan menambahkan tepung jahe 1% dari bobot badan dan diatur dalam perlakuan frekuensi pemberiannya. Pakan sapi terdiri dari bahan kering sebanyak 3% dari bobot badannya. Pakan utama dalam penelitian ini adalah konsentrat dan rumput gajah (70%:30%). Terdapat tiga level perlakuan, masing-masing dengan empat kali pengulangan. P1 diberikan satu kali setiap hari pada pukul 08.00 pagi; P2 diberikan dua kali setiap hari pada pukul 08.00 pagi dan 12.00 siang; dan P3 diberikan tiga kali setiap hari pada pukul 08.00 pagi, 12.00 siang, dan 16.00 sore. Data dievaluasi dengan uji ANOVA dan pola searah. Hasil penelitian menunjukkan rerata konsumsi pakan harian adalah P1=8,87±8,90; P2=9,33±9,39; P3=9,44±9,50 kg/ekor/hari, rerata pertambahan bobot badan harian adalah P1=1,12±1,17; P2=1,32±1,36; P3=1,45±1,49 kg/ekor/hari, dan rerata konversi pakan adalah P1=8,71±8,79; P2=9,05±9,10; dan P3=9,19±9,23. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan perlakuan tidak perpengaruh terhadap konsumsi pakan, perambahan bobot badan harian maupun konversi pakan. Dapat disimpulkan pakan utama yang ditambahkan tepung jahe (1% dari bobot badan sapi) pada frekuensi pemberian yang berbeda tidak mempengaruhi produktivitas sapi Kaur. ABSTRACT Kaur cows, the local livestock genetic resource (SDG-T) wealth of Bengkulu, should be preserved and used to increase cattle production. The aim of this study is to find out the productivity of Kaur cows through observation of feed consumption, daily body weight gain, and feed conversion. A total of twelve male Kaur cows aged one and a half to two years, weighing between 160 and 180 kilograms. The green feed is given by adding ginger flour to 1% of body weight and adjusting the number of times given. The cow's food consists of dry matter that makes up as much as 3% of its body weight. For this study, the main feed was concentrated on elephant grass (70%:30%). There are three groups of treatments, each with four repetitions. P1 is given once a day at 8:00 a.m.; P2 is given twice every day at 08:00 and 12:00 noon; and P3 is given three times daily at 08:00, 12:00, and 16:00. The data was evaluated with ANOVA tests and parallel patterns. The results of the study showed that the rate of daily feed consumption was P1 = 8.87+8.90; P2 = 9.33+9.39; and P3 = 9.44+9,50 (kg/head/day), and statistical analysis showed no significant difference. The daily weight gain rate is P1 = 1.12+1.17; P2 = 1.32+1.36; and P3 = 1.45+1.49 (kg/head/day), and there is no significant difference based on statistical tests. The feed conversion rate is P1 = 8.71+8.79; P2 = 9.05+9.10; and P3 = 9.19+9.23, and there is no significant difference. Consumption of green feed supplemented with ginger flour (1% of the cow's body weight) at different frequencies does not affect cow productivity.
KANDUNGAN PROTEIN KASAR, ADF DAN NDF RUMPUT GAJAH PASCA PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR (URIN KAMBING DAN LIMBAH BUAH) Rika Hari Lestari; Dewi Ramadani; Sema Sema; Dinah Dwi Amaliah; Tahyul Tahyul
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.73-77

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan protein kasar, ADF dan NDF rumput gajah pasca pemberian pupuk organik cair (POC) dengan dosis berbeda. Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu stek rumput gajah, mengkudu, kulit pisang kepok, kulit nanas, tomat dan gula merah. Metode yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dibedakan berdasarkan dosis pupuk organik cair yang diberikan adalah P1 = stek rumput gajah tanpa pupuk, P2 = stek rumput gajah + POC 150ml/polybag, P3 = stek rumput gajah + POC 300 ml/polybag dan P4 = stek rumput gajah + POC 450 ml/polybag. Variabel yang diamati adalah kandungan protein kasar, ADF dan NDF rumput gajah. Hasil penelitian menunjukkan rataan kandungan protein kasar berada pada kisaran P1=10,21%; P2=12,48%; P3=13,26%; P4=14,26%. Rataan kandungan ADF berada pada kisaran P4=34,57%; P3=35,00%; P2=36,41% dan P1=36,99%. Rataan kandungan NDF berada pada kisaran P1=57,27; P3=61,98; P2=65,61 dan P4=63,53%. Analisis ragam menunjukkan pemberian POC dosis berbeda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kandungan protein kasar dan kandungan NDF dan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) pada kandungan ADF rumput gajah. Kesimpulan semakin besar dosis pupuk yang diberikan maka kandungan protein kasar dan kandungan NDF semakin meningkat dan sebaliknya menurunkan kandungan ADF pada umur potong 60 hari. Dosis POC terbaik adalah 450ml/polybag. ABSTRACT The aim of this study was to determine the crude protein content, ADF, and NDF of elephant grass after giving liquid organic fertilizer (LOF) with different doses. The materials used in the study were elephant grass cuttings, noni, kepok banana skin, pineapple skin, tomatoes, and brown sugar. The method used was a Completely Randomized Design (CRD) which consisted of 4 treatments and 3 replications. Treatments were differentiated based on the doses LOF given P1 = elephant grass cuttings without fertilizer, P2= elephant grass cuttings + LOF 150 ml/polybag, P3= elephant grass cuttings + LOF 300 ml/polybag, P4= elephant grass cuttings + LOF 450 ml/polybag. The variables observed were crude protein content, ADF, and NDF. The results showed that the average crude protein content in the range of P1=10.21%; P2=12.48%; P3=13.26%; and P4=14.26%. The average ADF was in the range P4 = 34.57%; P3=35.00%; P2=36.41% and P1=36.99%. The average NDF was in the range of kisaran P1=57.27; P3=61.98; P2=65.61 and P4=63.53%. Analysis of variance showed that given LOF different doses had a significant effect (P<0.05) on crude protein content and NDF content and had no significant effect (P>0.05) on the ADF content of elephant grass. The conclusion of the research results is the greater the dose of fertilizer given, the crude protein content and NDF content increase, and conversely lowering the ADF content at 60 days of cutting age. The best LOF dosage is 450ml/polybag.
BERAT, DAYA DAN SUSUT TETAS TELUR AYAM JOPER BERDASARKAN KLASIFIKASI BERAT TELUR TETAS YANG BERBEDA Muhammad Azim; Zulfikar Zulfikar; Muhammad Ammar
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.78-82

Abstract

Perbaikan mutu genetik dan peningkatan kualitas day old chicken (DOC) dapat dilakukan melalui proses seleksi terhadap berat telur tetas. Penelitian bertujuan mengevaluasi berat, daya dan susut tetas telur ayam joper berdasarkan klasifikasi berat telur tetas yang berbeda. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan berdasarkan klasifikasi berat telur yaitu: P0 (Berat Random), P1 (ekstra besar (>60 g)), P2 (besar (56-60 g)), P3 (sedang (51-55 g)), P4 (kecil (46-50 g)), dan P5 (ekstra kecil (<46 g)). Setiap perlakuan terdiri dari 4 ulangan, sehingga diperoleh 20 unit perlakuan dengan variabel yang diamati yaitu daya tetas, berat tetas dan susut tetas. Hasil penelitian menunjukkan persentase daya tetas yang paling tinggi terdapat pada perlakuan P3 (83,69%) berbeda sangat nyata (P<0,01) jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Rataan berat tetas P1 (>60 g) menunjukkan perbedaan yang signifikan sebesar 46,08 g sedangkan rataan berat tetas terkecil pada perlakuan P5 (33,70 g). Penyusutan telur tetas berada pada kisaran 10,84 – 15,10%, semakin besar berat telur maka persentase susut semakin besar. Perlakuan P1 berat telur mengalami penyusutan selama proses inkubasi berbeda sangat sigifikan (P<0,01) dibandingkan dengan perlakuan lainnya, penyusutan terkecil pada perlakuan P5 sebesar 10,84% tidak berbeda nyata (P>0.01) dengan perlakuan P3 dan P4. Telur dengan kategori berat sedang (51-55 g) merupakan kelompok telur tetas dengan hasil pengamatan terbaik untuk seluruh variabel yang diuji. ABSTRACT Improving genetic quality and the quality of day-old chickens (DOC) can be done through a selection process for the weight of hatching eggs. The research aims to evaluate the weight, power, and hatching losses of Joper chicken eggs based on different weight classifications of hatching eggs. The design used was a Completely Randomized Design (CRD). Treatment based on egg weight classification, namely: P0 (Random Weight), P1 (extra large (>60 g)), P2 (large (56-60 g)), P3 (medium (51-55 g)), P4 (small (46-50 g)), and P5 (extra small (<46 g)). Each treatment consisted of 4 replications so 20 treatment units were obtained with the variables observed, namely hatchability, hatching weight, and hatching loss. The results showed that the highest percentage of hatchability was in the P3 treatment (83.69%) which was very significantly different (P<0.01) when compared to other treatments. The average hatching weight of P1 (>60 g) showed a significant difference of 46.08 g, while the average hatching weight was the smallest in the P5 treatment (33.70 g). The shrinkage of hatching eggs is in the range of 10.84–15.10%, the greater the egg weight, the greater the shrinkage percentage. In treatment P1, egg weight decreased during the incubation process, which was very significantly different (P<0.01) compared to other treatments, the smallest shrinkage in treatment P5 was 10.84%, not significantly different (P>0.01) from treatments P3 and P4. Eggs in the medium weight category (51-55 g) are the group of hatching eggs with the best observation results for all variables tested.
BROMELIN UNTUK PRODUKSI GELATIN TULANG KAMBING KACANG Dellen N. Matulessy; Yuny Erwanto; Philipus J. Kastanya; Marcus J. J. Latupapua
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.83-91

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat kimia, fisik dan fungsional gelatin tulang kambing Kacang yang diekstraksi menggunakan bromelin dengan perlakuan konsentrasi yang berbeda, yaitu GB-0 (gelatin dengan bromelin 0 %), GB-1 (Gelatin dengan bromelin 10 U), GB-2 (Gelatin dengan bromelin 15 U dan GB-3 (Gelatin dengan bromelin 20 U). Tulang yang digunakan adalah tulang kambing kacang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola searah dengan 4 perlakuan konsentrasi bromelin dengan 5 ulang. Parameter yang diamati adalah rendemen, analisis proksimat (kadar air, abu, lemak dan protein kasar), pH, distribusi berat molekul protein, profil gugus fungsional FTIR, morfologi, foaming expansion (FE) dan stability (FS) serta kapasitas dan stailitas emulsi gelatin. Hasil penelitian menunjukan bahwa rendemen tertinggi pada gelatin tulang kambing Kacang dengan perlakuan bromelin 20 U (GB-3), adalah 8,31%. Kadar air, protein, sifat foaming dan emulsi tertinggi dengan perlakuan bromelin 15 U (GB-2), dengan pH, kadar abu terendah. Rantai ß telah terdegradasi, rantai α1 dengan berat molekul 31,00 - 91,12 kDa, menghilangnya tripel heliks ditunjukkan FTIR dan struktur gel yang lebih halus, kompak dengan rongga yang lebih kecil pada gelatin GB-1 dan GB-2. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bromelin 15 U/g tulang dapat digunakan untuk ekstraksi tulang kambing Kacang dengan menghasilkan gelatin dengan sifat fisiokimia dan fungsional yang dapat digunakan untuk aplikasi pangan. ABSTRACT This study aims to evaluate the chemical, physical, and functional properties of Kacang goat bone Kacang gelatin extracted using different concentrations of bromelain. The concentrations used were GB-0 (gelatin with 0% bromelain), GB-1 (gelatin with 10 U bromelain), GB-2 (gelatin with 15 U bromelain), and GB-3 (gelatin with 20 U bromelain). Kacang Goat bones were used for the extraction. The research design employed a completely randomized unidirectional design with 4 bromelain concentration treatments and 5 repetitions. The parameters observed included yield, proximate analysis (moisture, ash, fat, and crude protein content), pH, protein molecular weight distribution, FTIR functional group profile, morphology, foaming expansion (FE) and stability (FS), the capacity and stability gelatin emulsions. The results of the research showed that the highest yield of goat Kacang bone gelatin was obtained with the 20 U bromelain treatment (GB-3), which yielded 8.31%. The gelatin extracted with the 15 U bromelain treatment (GB-2) had the highest water content, protein content, foaming properties, and emulsion properties, as well as the lowest ash content and pH. The ß chain of the gelatin was degraded, while the α1 chain had a molecular weight of 31.00 - 91.12 kDa. The FTIR analysis showed the disappearance of the triple helix structure, and the gel structure of GB-1 and GB-2 gelatin was smoother and more compact with smaller cavities. In conclusion, bromelain at a concentration of 15 U/g bone can be used for the extraction of Kacang goat bones, resulting in gelatin with desirable physiochemical and functional properties suitable for food applications.
PRODUKSI DAGING SAPI DI INDONESIA DAN SKENARIO PENINGKATAN: SEBUAH ANALISIS DAMPAK UNTUK PENGAMBILAN KEBIJAKAN Adolf Heatubun; Michel J. Matatula
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 11 No 2 (2023): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2023.11.2.92-100

Abstract

Daging sapi sebagai produk pangan hewani yang dikonsumsi masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan. Data menunjukkan konsumsi daging sapi pada tahun 2022 jauh melebihi produksi dalam negeri. Produksi sapi potong yang kurang mencukupi pada satu sisi dan konsumsi daging yang berlebih pada sisi lainnya memaksa perlu dilakukan impor daging sapi. Meskipun sudah dibuka impor daging sapi, persoalan kelebihan konsumsi daging sapi tidak juga terpenuhi sehingga impor terus berlangsung dengan tidak terbendung. Penelitian ini bertujuan menjelaskan faktor determinan produksi daging sapi di Indonesia dan upaya yang dapat diambil untuk meningkatkan produksi dimaksud melalui skenario dan simulasi. Analisis menggunakan model regresi linear berganda, dengan data time series 30 tahun (1993–2022). Sumber data berasal dari Badan Pusat Statistik Nasional (BPS) dan Kementerian Pertanian Indonesia. Model dievaluasi sesuai kriteri apriori dan statistik, diikuti penetapan skenario dan simulasi dampak. Hasil analisis menunjukkan produksi daging sapi di Indonesia dipengaruhi oleh ketersediaan jumlah perusahaan pemelihara ternak sapi dan tingkat harga per kg daging sapi. Skenario yang berdampak meningkatkan produksi daging sapi adalah peningkatan harga dan jumlah perusahaan pemelihara ternak sapi. Skenario yang direkomendasikan untuk diterapkan adalah kombinasi peningkatan harga daging sapi sebesar 5% dan peningkatan jumlah perusahaan pemelihara ternak sapi hingga 10%. ABSTRACT One of the main animal food products consumed by Indonesian people is beef, where people's consumption of beef continues to increase. Data shows that beef consumption in 2022 will far exceed domestic production. The situation of insufficient supplies on the one hand and excessive meat consumption on the other hand forces the need to import beef. Even though beef imports have been opened, the problem of excess beef consumption has not been addressed so imports continue unstoppably. This research aims to explain the determinant factors of beef production in Indonesia and the efforts that can be taken to increase production through scenarios and simulations. The analysis uses a multiple linear regression model, with 30-year time series data (1993 – 2022). Data sources come from the National Statistics Agency (BPS) and the Indonesian Ministry of Agriculture. The model is evaluated according to a priori and statistical criteria, followed by scenario determination and impact simulation. The results of the analysis show that beef production in Indonesia is influenced by the availability of the number of cattle-keeping companies and the price level per kg of beef. The scenario that has the impact of increasing beef production is an increase in prices and the number of cattle-raising companies. The recommended scenario to be implemented is a combination of increasing beef prices by 5% and increasing the number of cattle-keeping companies by up to 10%.
MASYARAKAT ABIO AHIOLO DI PULAU SERAM DAN KEBIASAAN MAKAN DAGING Mesinay, Gresia; Joris, Lily; Liur, Isye J.
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 1 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.1.15-20

Abstract

Masyarakat Abio-Ahiolo merupakan keturunan suku Wemale, mendiami Desa Abio-Ahiollo di Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Barat. Guna memenuhi kebutuhan pangan sumber protein hewani, masyarakat Abio-Ahiolo lebih banyak mengkonsumsi daging hasil perburuan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis daging dikonsumsi sebagai sumber protein hewani, banyaknya dan frekwensi makan daging, serta cara pengolahan dan pengawetan daging masyarakat di Desa Abio-Ahiolo. Metode yang digunakan adalah metode survey, dimana wawancara dilakukan terhadap 30 responden yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan jenis daging yang dikonsumsi adalah daging sapi sebanyak 30 rumah tangga (100%), ayam kampung sebanyak 18 rumah tangga (60%), babi hutan sebanyak 29 rumah tangga (96,66%), rusa sebanyak 26 rumah tangga (86,66%), ular delapan rumah tangga (28,66%), burung maleo 30 rumah tangga (100%), burung kasawari 30 rumah tangga (100%), kuskus 29 rumah tangga (96,66%) dan anjing tiga rumah tangga (10%). Frekuensi makan daging babi hutan (2-4 kg), rusa (1-3 kg), ular (1-2 kg), burung maleo (1-2 kg), singkong (1-2 kg) dan kuskus ( 2 -4 kg). Terbentuknya kebiasaan konsumsi daging cenderung dilatarbelakangi oleh keyakinan atau keyakinan masyarakat dan hasil adaptasi masyarakat terhadap lingkungan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. ABSTRACT The Abio-Ahiolo people are descendants of the Wemale tribe, inhabiting Abio-Ahiollo Village in Elpaputih District, West Seram Regency. In order to meet their food needs for animal protein sources, the Abio-Ahiolo people consume more meat from hunting. The research aims to determine the types of meat consumed as a source of animal protein, the amount and frequency of eating meat, as well as how people process and preserve meat in Abio-Ahiolo Village. The method used is a survey method, where interviews were conducted with 30 randomly selected respondents. The results showed that the types of meat consumed were beef in 30 households (100%), free-range chicken in 18 households (60%), wild boar in 29 households (96.66%), deer in 26 households (86 .66%), snakes eight households (28.66%), maleo birds 30 households (100%), kasawari birds 30 households (100%), cuscus 29 households (96.66%) and dogs three households stairs (10%). Frequency of eating wild boar (2-4 kg), deer (1-3 kg), snake (1-2 kg), maleo (1-2 kg), cassava (1-2 kg) and couscous (2-4 kg) kg). The formation of meat consumption habits tends to be motivated by people's beliefs or convictions and the result of people's adaptation to the environment to meet their needs for animal protein.
EVALUASI PENGGUNAAN KAPORIT PADA AIR MINUM AYAM RAS PEDAGING DI PETERNAK YANG MENGGUNAKAN SISTEM KEMITRAAN Azhar, Muhammad; Saade, Aminuddin; Yunus, Muhammad; Sara, Urfiana
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 1 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.1.1-8

Abstract

Proses klorinasi air minum menjadi standar pemeliharaan ayam ras pedaging modern, namun pada aplikasi level peternak (mitra perusahaan) proses klorinasi tidak terkontrol baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi penggunaan klorin pada air minum ayam ras pedaging, hubungannya dengan produktivitas, dan faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi klorin pada air minum tersebut. Pengambilan data dilakukan pada 90 unit kandang ayam ras pedaging di Kecamatan Ponre Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Pengambilan data dilakukan secara langsung dengan mengukur konsentrasi klorin dan pH air minum ayam ras pedaging menggunakan alat CL2 Chlorine Tester. Suhu dan kelembaban diukur menggunakan Thermo Hygrometer DT-3 Elitech. Produktifitas ayam ras pedaging dihitung dari percatatan pemeliharaan peternak setiap unit kandang. Data yang diperoleh dianalisis korelasi dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan 74,44% kandang ayam ras pedaging di Kecamatan Ponre memiliki konsentrasi klorin air minum yang tidak sesuai dengan rekomendasi. Konsentrasi klorin memiliki korelasi yang kuat dengan pH air minum, persentase afkir, persentase deplesi, konsumsi pakan, dan konversi pakan. Semakin tinggi suhu dan kelembaban, maka semakin tinggi konsentrasi klorin. Level teknologi instalasi air yang diterapkan peternak yang semakin rendah, maka konsentrasi klorin semakin tinggi secara parsial dan simultan dengan persamaan regresi Cl = 4,136 + 0,153 Suhu + 0,030 Kelembaban – 2,036 Instalasi Air. ABSTRACT The drinking water chlorination process has become the standard for raising modern broilers, but at the farmer (company partner) level application, the chlorination process is not well controlled. This study aims to determine the concentration of chlorine used in drinking water for broilers, its relationship with productivity, and the factors that influence the concentration of chlorine in drinking water. Data collection was carried out in 90 units of broiler cages in Ponre District Bone Regency South Sulawesi Province. Data collection was carried out directly by measuring the chlorine concentration and pH of drinking water for broilers using the CL2 Chlorine Tester. Temperature and humidity were measured using an Elitech DT-3 Thermo Hygrometer. The productivity of the broiler is calculated from the farmer's maintenance records for each cage unit. The data obtained were analyzed for correlation and multiple linear regression. The research results showed that 74.44% of broiler cages in Ponre District had drinking water chlorine concentrations that did not comply with recommendations. Chlorine concentration has a strong correlation with drinking water pH, removal percentage, depletion percentage, feed consumption, and feed conversion. The higher the temperature and humidity, the higher the chlorine concentration. The lower the level of water installation technology applied by farmers, the higher the chlorine concentration will be, partially and simultaneously with the regression equation Cl = 4.136 + 0.153 Temperature + 0.030 Humidity – 2.036 Water Installation.
KUALITAS MADU DAN BEE BREAD LEBAH TAK BERSENGAT ASAL PULAU SAPARUA DITINJAU DARI ANALISIS PROKSIMAT Sopamena, Karin; Radiati, Lilik Eka
Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman Vol 12 No 1 (2024): Agrinimal Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman
Publisher : Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/ajitt.2024.12.1.9-14

Abstract

Apis cerana dan Apis dorsata merupakan jenis lebah tak bersengat yang menghasilkan madu, polen, propolis, royal jelly, bee venom, bee bread dan lilin lebah. Jenis lebah ini tersebar di pulau Maluku seperti Pulau Ambon dan Saparua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas madu dan bee bread berdasarkan kadar lemak, kadar karbohidrat dan kadar protein. Madu dan bee bread diambil dari sarang lebah yang terdapat di alam (pesisir pantai dan hutan) dan budidaya menggunakan tusuk sate untuk pengambilan bee bread dan spuit untuk pengambilan madu. Pengukuran kadar lemak menggunakan metode Soxhlet, kadar karbohidart menggunakaan refraktometer, dan kadar protein menggunakan metode Bradford. Data dianalisis menggunakan analysis of variance dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil. Hasil penelitian menunjukkan kadar lemak madu berkisar antara 3,23-8,95% dan bee bread 2,18-9,92% kemudian kadar karbohidrat madu berkisar antara 66,0-69,5% dan bee bread 60% kemudian kadar protein madu berkisar antara 0,88-1,67% dan bee bread 3,89-6,41%. Hasil perbandingan antara kadar lemak, karbohidrat dan protein dari madu dan bee bread menunjukkan kadar protein madu lebih tinggi daripada kadar protein dan karbohidrat, sedangkan kadar karbohidrat bee bread lebih tinggi daripada kadar protein dan lemak. ABSTRACT Apis cerana and Apis dorsata are types of stingless bees that produce honey, pollen, propolis, royal jelly, bee venom, bee bread, and beeswax. This type of bee is spread across Maluku islands such as Ambon and Saparua islands. This research aims to determine the quality of honey and bee bread based on fat content, carbohydrate content, and protein content. Honey and bee bread are taken from beehives found in nature (coasts and forests) and cultivated using skewers to collect bee bread and syringes to collect honey. Fat content was measured using the Soxhlet method, carbohydrate content used a refractometer, and protein content used the Bradford method. Data were analyzed using analysis of variance and LSD test. The results showed that the fat content of honey ranged between 3.23-8.95% and bee bread 2.18-9.92%, then the carbohydrate content of honey ranged between 66-69.5% and bee bread 60%, then the protein content of honey ranged between 0, 88-1.67% and bee bread 3.89-6.41%. The comparison results between the fat, carbohydrate, and protein content of honey and bee bread show that the protein content of honey is higher than the protein and carbohydrate content, while the carbohydrate content of bee bread is higher than the protein and fat content.

Page 8 of 13 | Total Record : 121