cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 115 Documents
Da'wah Through Cultural Acculturation Susana, Rina Rahadian
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/qhzwed50

Abstract

The clash and resistance with local cultures forced Islam to find a symbol that was in line with the cultural capture capabilities of the local community. Islam's ability to adapt to local culture makes it easier for Islam to penetrate the lowest levels of society. As a result, Islamic culture was greatly influenced by peasant culture and inland culture, so that Islamic culture experienced a transformation not only because of the geographical distance between Arabia and Indonesia, but also because there were cultural distances. This process of cultural compromise certainly carries quite a few risks, because in certain circumstances it often tolerates interpretations that may deviate somewhat from pure Islamic teachings. This research aims to determine the relationship between da'wah and local culture and the negotiation of Islam with local culture. The research results show that the character of Indonesian Islam which dialogues with community traditions is accommodating to community traditions or local community culture rather than eradicating local community practices. Islam and societal traditions are placed in an equal position to have creative dialogue so that one of them is not in a subordinate position, which results in mutually weakening attitudes. This combination of Islam and community traditions is a richness of local interpretation so that Islam does not appear empty of true reality. Islam does not have to be perceived as Islam in Arabia. Keywords: Indonesian culture, Islam, tradition, transformation.   Abstrak Benturan dan resistensi dengan kebudayaan-kebudayaan setempat memaksa Islam untuk mendapatkan simbol yang selaras dengan kemampuan penangkapan kultural dari masyarakat setempat. Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural. Proses kompromi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mungkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui relasi dakwah dan budaya lokal dan negosiasi Islam dengan budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Islam Indonesia yang berdialog dengan tradisi masyarakat bersikap akomodatif terhadap tradisi masyarakat atau kultur masyarakat setempat ketimbang memberantas praktik-praktik lokal masyarakat. Islam dan tradisi masyarakat ditempatkan dalam posisinya yang sejajar untuk berdialog secara kreatif agar salah satunya tidak berada dalam posisi yang subordinat, yang berakibat pada sikap saling melemahkan. Perpaduan antara Islam dengan tradisi masyarakat ini adalah sebuah kekayaan tafsir lokal agar Islam tidak tampil hampa terhadap realitas yang sesungguhnya. Islam tidak harus dipersepsikan sebagai Islam yang ada di Arab. Kata kunci: budaya Indonesia, Islam, tradisi, transformasi.
Transformation of Islamic Political Movements in Indonesia in the Reformation Era Yani, Ahmad
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/0jhbz881

Abstract

During the New Order era, there were only 3 political parties. After the New Order ended, proposals for the formation of political parties emerged. Before the 1999 elections were held, there were 181 political parties founded by various components of the nation. Of this number, 42 of them are Islamic parties. After passing the screening stage, only 48 parties were eligible and registered as participants in the 1999 elections, of which 20 were Islamic parties. Basic facts show that an important shift has occurred in Indonesia, namely a shift from state to political society, from bureaucrats to politicians. An equally dramatic change was the emergence of the da'wah movement and political Islam as the main force that attracted attention after being on the fringes of state power for so long. This research aims to determine the characteristics of Islamic parties, the history of Islamic politics, and the transformation of Islamic politics in the Reformation era. The research results show that the initial concept of a group changes, following the flow of local politics, but in fact it is a tool to achieve its goals and mission. Joining the Islamic group does not mean forgetting or abandoning its initial goals but could be an opportunity to gain wider public sympathy for the organization's expansion. There are strong indications of the emergence of symptoms of "post-Islamism" in the Islamic movement in Indonesia as an implication of globalization. This means that the opportunity for the "post-Islamism" movement to strengthen is also quite strong in Indonesia. The main characteristic of the post-Islamism movement is their pragmatic, realistic tendency, willing to compromise with political realities that are not completely ideal and in accordance with the pure ideological scheme that they believe in and imagine. Keywords: party, political, ideological, Islam, post-Islamism.   Abstrak Pada masa Orde Baru, partai politik hanya ada 3. Setelah Orde Baru berakhir, usulan pembentukan partai politik bermunculan. Sebelum Pemilu 1999 digelar, tercatat sebanyak 181 partai politik didirikan oleh berbagai komponen bangsa. Dari jumlah tersebut, 42 di antaranya merupakan partai-partai Islam. Setelah melewati tahap penyaringan, hanya 48 partai yang berhak dan terdaftar sebagai peserta Pemilu 1999, di mana 20 di antaranya merupakan partai Islam. Fakta dasar menunjukkan bahwa terjadi pegeseran penting di Indonesia, yaitu pergeseran dari state ke political society, dari birokrat ke politisi. Perubahan yang juga dramatis adalah munculnya gerakan dakwah dan Politik Islam sebagai kekuatan pokok yang menyedot perhatian setelah sekian lama berada di pinggiran kekuasaan negara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik partai Islam, sejarah politik Islam, dan transformasi politik Islam era Reformasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep awal suatu kelompok berubah, mengikuti alur perpolitikan lokal, tetapi sebetulnya itu adalah alat untuk mencapai tujuan dan misinya. Bergabungnya kelompok Islam tersebut bukan berarti melupakan atau meninggalkan tujuan awalnya tetapi bisa jadi sebagai ajang untuk meraih simpati masyarakat yang lebih luas demi ekspansi organisasi. Terdapat indikasi kuat munculnya gejala “post- Islamism” dalam gerakan Islam di Indonesia sebagai implikasi globalisasi. Hal ini berarti bahwa peluang menguatnya gerakan “post-Islamisme” juga cukup kuat di Indonesia. Ciri utama gerakan post-Islamisme adalah kecenderungan mereka yang pragmatis, realistis, bersedia untuk kompromi dengan realitas politik yang tak sepenuhnya ideal dan sesuai dengan skema ideologis murni yang mereka yakini dan bayangkan. Kata kunci: partai, politik, ideologis, Islam, post-Islamisme.
Early Marriage in Urban Society: Problems and Solutions Karami, Gergian Abi
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/a76f8g20

Abstract

This research entitled "Early Marriage in Urban Society: Problems and Solutions" is interested in raising this theme because the phenomenon of early marriage often occurs among teenagers in Bandung urban society. This research uses a descriptive qualitative approach. Interviews, observations and documentation were used to collect data. This research aims to provide information and understanding to the public about the impact of early marriage and efforts to prevent early marriage. The negative side of early marriage outweighs the positive side. Because the possibility of early childhood marriage has a negative impact on teenagers and families. Early marriage can have a negative impact on maternal health, low education, divorce and poverty. Some of the causes of early child marriage are economic and educational. Empowering children with information, educating and providing insight to parents about creating a good environment, improving the quality of formal education for children, and providing health and reproductive education to children are ways that can prevent the increase in early child marriage. Keywords: Early Marriage, Efforts, Impact   Abstrak Penelitian ini berjudul "Pernikahan Dini Dalam Masyarakat Urban: Masalah dan Solusi" tertarik untuk mengangkat tema ini karena fenomena pernikahan dini yang sering terjadi di kalangan remaja di masyarakat urban Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Wawancara, observasi, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang dampak pernikahan dini dan upaya untuk mencegah pernikahan dini. Sisi negatif pernikahan dini lebih banyak daripada sisi positifnya. Karena itu, kemungkinan pernikahan anak usia dini berdampak negatif pada remaja dan keluarga. Pernikahan dini dapat berdampak negatif pada kesehatan ibu, pendidikan yang rendah, perceraian, dan kemiskinan. Beberapa penyebab perkawinan anak usia dini adalah ekonomi dan pendidikan. Memberdayakan anak dengan informasi, mendidik dan memberikan wawasan kepada orang tua tentang menciptakan lingkungan yang baik, meningkatkan kualitas pendidikan formal bagi anak, dan memberikan edukasi kesehatan dan reproduksi kepada anak adalah cara-cara yang dapat mencegah meningkatnya pernikahan anak usia dini. Kata Kunci: Pernikahan Dini, Upaya, Dampak
Implementation of Q.S. An-Nahl Verse 125 to Improve Islamic Understanding in Class II A Women's Penitentiary in Bandung Mikdar, Wendi Saepul; Saodah, Odah
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 1 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/anqvxq03

Abstract

Da'wah is a demand for every Muslim, because one of the main tasks of the Messenger of Allah who was sent was to preach among people with various characters, so that when the Messenger of Allah invited them to the right path, they had to use appropriate methods so that the invitation was accepted. freely without coercion. The Class II A Bandung Women's Penitentiary is a part that is affected by Islamic preaching, because it contains inmates who are involved in various cases. The application of the interpretation of An-Nahl verse 125 in women's correctional institutions aims to increase the Islamic understanding of prisoners so that even though they are serving time, religious activities can still be carried out. Keywords: Tafsir, Education, Islamic.   Abstrak Dakwah adalah tuntutan bagi setiap muslim, karena salah satu tugas utama Rasulullah saw diutus adalah untuk berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang bermacam- macam karakter, sehingga ketika Rasulullah saw mengajak mereka kepada jalan yang benar harus dengan metode-metode yang sesuai agar ajakan itu diterima dengan lapang dada tanpa paksaan. Lembaga Pemasyarakatan Perempuan kelas II A Bandung merupakan bagian yang terkena dakwah Islam, karena didalamnya terdapat para narapidana yang terjerat bermacam- macam kasus. Penerapan tafsir An-Nahl ayat 125 di lingkungan lembaga pemasyarakatan perempuan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman keislaman para narapidana sehingga meskipun dalam keadaan sedang menjalani hukuman, kegiatan keagamaan tetap terlaksanakan. Kata kunci: Tafsir, Pendidikan, Keislaman
The Ethics of Artificial Intelligence (AI) Utilization in Qur'anic Studies: An Islamic Philosophical Perspective Zuhri, M. Tajudin; Sahlani, Lalan; Munawaroh, Nenden
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/b6hexr21

Abstract

Artificial Intelligence (AI) has presented a major breakthrough in Qur'anic studies, enabling text analysis, thematic classification, and the development of digital commentaries. These innovations provide opportunities to expand accessibility and improve the accuracy of Qur'anic analysis. However, AI also poses ethical challenges, including the potential for algorithmic bias, distortion of meaning, and threats to Islamic scholarly authority. From an Islamic perspective, these challenges require a clear ethical framework so that the utilization of AI does not conflict with Qur'anic values.             This research aims to identify Islamic ethical principles relevant to the use of AI in Qur'anic studies and develop a philosophical framework based on maqashid sharia. The methodology used is library research with a content analysis approach to classical and modern Islamic literature on ethics, Islamic philosophy, and maqashid sharia. The results show that principles such as justice (al-'adl wa al-ihsan), expediency (maslahah), and prudence (wara') should be the main guides in any application of AI in the Qur'anic context. In addition, maqashid sharia provides an evaluation framework to ensure that AI applications support the main objectives of sharia, such as safeguarding religion (hifdh ad-din) and reason (hifdh al-'aql).             The conclusion of this study confirms that the ethical use of AI in Qur'anic studies requires an integration of technological innovation and Qur'anic values. With the application of strong Islamic ethical principles, AI can be effectively used to support Qur'anic understanding, without compromising the integrity of the text and scholarly authority. This study offers a contribution to the development of comprehensive ethical guidelines to bridge technological advancement with the spiritual and scholarly needs of Muslims. Keyword: Artificial Intelligence (AI), Qur'anic Studies, Philosophical Islam   Etika Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Studi Al-Qur'an: Perspektif Filosofis Islam Abstrak Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan terobosan besar dalam studi Al-Qur'an, memungkinkan analisis teks, klasifikasi tematik, hingga pengembangan tafsir digital. Inovasi ini memberikan peluang untuk memperluas aksesibilitas dan meningkatkan akurasi analisis Qur'ani. Namun, kehadiran AI juga memunculkan tantangan etis, termasuk potensi bias algoritma, distorsi makna, hingga ancaman terhadap otoritas keilmuan Islam. Dari perspektif Islam, tantangan ini memerlukan kerangka etika yang jelas agar pemanfaatan AI tidak bertentangan dengan nilai-nilai Qur'ani. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip etika Islam yang relevan dengan penggunaan AI dalam studi Al-Qur'an serta mengembangkan kerangka filosofis berbasis maqashid syariah. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan analisis konten terhadap literatur Islam klasik dan modern tentang etika, filsafat Islam, dan maqashid syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip seperti keadilan (al-‘adl wa al-ihsan), kemanfaatan (maslahah), dan kehati-hatian (wara') harus menjadi panduan utama dalam setiap penerapan AI dalam konteks Qur'ani. Selain itu, maqashid syariah memberikan kerangka evaluasi untuk memastikan bahwa aplikasi AI mendukung tujuan utama syariah, seperti menjaga agama (hifdh ad-din) dan akal (hifdh al-‘aql). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa etika pemanfaatan AI dalam studi Al-Qur'an memerlukan keterpaduan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai Qur'ani. Dengan penerapan prinsip etika Islam yang kuat, AI dapat digunakan secara efektif untuk mendukung pemahaman Al-Qur'an, tanpa mengorbankan integritas teks dan otoritas keilmuan. Studi ini menawarkan kontribusi bagi pengembangan panduan etika yang komprehensif untuk menjembatani kemajuan teknologi dengan kebutuhan spiritual dan keilmuan umat Islam. Keyword : Artificial Intelligence (AI), Studi Al-Qur'an, Filosofis Islam
Gender Relations in the Ideology of the Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (FLDS) in the Documentary Film Keep Sweet: Pray and Obey Najihah, Bannan Naelin
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 1 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/9bbvb356

Abstract

Isu kesetaraan gender dalam komunitas religius fundamentalis sering kali terkait dengan upaya mempertahankan nilai tradisional di tengah perubahan sosial. Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (FLDS) adalah contoh di mana gerakan sosial ini mengokohkan patriarki dan membentuk ulang peran gender, dengan membatasi otonomi perempuan melalui narasi keagamaan. Dokumenter Keep Sweet: Pray and Obey menggambarkan bagaimana komunitas FLDS mengendalikan identitas perempuan dengan ajaran ketaatan dan subordinasi, menciptakan struktur sosial yang memperkuat agenda konservatif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi gender dalam ideologi Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (FLDS) menggunakan teori R.W. Connell sebagaimana disajikan dalam film dokumenter Keep Sweet: Pray and Obey. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis wacana, sementara jenis studi yang diterapkan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maskulinitas hegemonik dalam FLDS menciptakan struktur kekuasaan yang memperkuat dominasi laki-laki, memosisikan perempuan dalam subordinasi mutlak. Maskulinitas subordinat dan marginal dalam komunitas ini memperkuat kekuasaan maskulinitas hegemonik dengan mengamankan posisi pria senior, sementara konsep maskulinitas kompilasi memungkinkan laki-laki yang tidak mendominasi sepenuhnya tetap mendapatkan keuntungan sosial. Di sisi lain, norma gender yang ketat menetapkan peran perempuan sebagai istri patuh dan ibu, memperkuat hierarki patriarki dan mengukuhkan posisi subordinat perempuan dalam komunitas FLDS. Pendekatan interseksional dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan di komunitas ini mengalami bentuk penindasan yang berlapis melalui kombinasi identitas gender, agama, dan status sosial. Kata kunci: FLDS; poligami; patriarki;   Abstract Gender equality issues in fundamentalist religious communities are often linked to maintaining traditional values amidst social change. The Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (FLDS) is an example of a social movement that reinforces patriarchy and reshapes gender roles by limiting women's autonomy through religious narratives. The documentary Keep Sweet: Pray and Obey illustrates how FLDS communities control women's identities with teachings ofobedience and subordination, creating social structures that reinforce their conservative agenda. This research aims to analyze gender relations in the Fundamentalist Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints (FLDS) ideology using R.W. Connell's theory as presented in the documentary Keep Sweet: Pray and Obey. The method used is descriptive qualitative with a discourse analysis approach, while the type of study applied is a literature study.  The results show that hegemonic masculinity in the FLDS creates a power structure that reinforces male dominance, positioning women in absolute subordination. Subordinate and marginal masculinities in this community reinforce the power of hegemonic masculinity by securing the position of senior men, while the concept of compositional masculinity allows men who do not fully dominate to still gain social advantages. On the other hand, strict gender norms stipulate women's roles as obedient wives and mothers, reinforcing patriarchal hierarchies and entrenching women's subordinate positions in FLDS communities. The intersectional approach in this study also shows that women in this community experience multiple forms of oppression through a combination of gender identity, religion and social status. Keywords: FLDS; polygamy; patriarchy;
Interfaith Communication on Social Media: Content Analysis Log In, Eps 30 “Tolerance, We Make History” Hidayah, Childa Tanzilul
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/ehtw1z47

Abstract

This study examines the representation of interfaith communication in social media content through an analysis of the Log In program episode 30 entitled "Tolerance, We Print History". As one of the contents that discusses the issue of religious tolerance on digital platforms, this episode is an important object of study to understand how dialogue and interaction between religious communities are constructed and conveyed through social media. Using a qualitative content analysis method, this study aims to identify communication patterns, narratives, and tolerance values built in the episode. The analysis was carried out by paying attention to three main aspects: (1) the way to convey the message of interfaith tolerance, (2) the representation of interfaith dialogue, and (3) the framing strategy of sensitive issues related to religion. The results of the study show that Log In episode 30 succeeded in building a narrative of tolerance through a storytelling approach that presents real stories about harmony between religious communities. This program is also effective in presenting constructive dialogue involving perspectives from various religions, while maintaining the sensitivity of religious issues. Other important findings are the use of inclusive language and visuals, as well as messaging strategies that prioritize universal human values. This research contributes to the understanding of how social media content can play a role in building positive interfaith communication and supporting the creation of religious tolerance in the digital era. Keywords: interfaith communication, content analysis, Log In, religious tolerance, social media, interfaith dialogue   Abstrak Penelitian ini mengkaji representasi komunikasi antar agama dalam konten media sosial melalui analisis terhadap program Log In episode 30 yang bertajuk “Toleransi, Kita Cetak Sejarah”. Sebagai salah satu konten yang membahas isu toleransi beragama di platform digital, episode ini menjadi objek kajian penting untuk memahami bagaimana dialog dan interaksi antarumat beragama dikonstruksi dan disampaikan melalui media sosial. Menggunakan metode analisis konten kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola-pola komunikasi, narasi, dan nilai-nilai toleransi yang dibangun dalam episode tersebut. Analisis dilakukan dengan memperhatikan tiga aspek utama: (1) cara penyampaian pesan toleransi antar agama, (2) representasi dialog antariman, dan (3) strategi pembingkaian isu sensitif terkait keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Log In episode 30 berhasil membangun narasi toleransi melalui pendekatan storytelling yang menghadirkan kisah-kisah nyata tentang harmoni antarumat beragama. Program ini juga efektif dalam menyajikan dialog konstruktif yang melibatkan perspektif dari berbagai agama, sambil tetap menjaga sensitivitas isu keagamaan. Temuan penting lainnya adalah penggunaan bahasa dan visual yang inklusif, serta strategi penyampaian pesan yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan universal. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana konten media sosial dapat berperan dalam membangun komunikasi antar agama yang positif dan mendukung terciptanya toleransi beragama di era digital. Kata Kunci: komunikasi antar agama, analisis konten, Log In, toleransi beragama, media sosial, dialog antariman
Religious Movement Figure K.H. Abdul Chalim Leuwimunding and His Role in Establishing Hizbullah Majalengka Ratminingtyas
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 1 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/5mrh8937

Abstract

            The researcher is interested in researching and analyzing the role of K.H. Abdul Chalim Leuwimunding as one of the founders of the largest Islamic organization in Indonesia, namely Nahdlatul Ulama (NU) in its development in Majalengka Regency as his birthplace. The researcher's interest is because he was born in the same place as the researcher, namely in Leuwimunding Village, Leuwimunding District. Initially, his name was not well known, both locally and nationally. However, after being named a Hero of the Indonesian Independence Struggle as one of the founders of Nahdlatul Ulama (NU) who came from Leuwimunding District, Majalengka Regency, he became better known to the Indonesian people. He was awarded the title of National Hero of Indonesia based on Presidential Decree No. 115-TK-TH-2023 dated November 6, 2023. The main problem studied in this study is how the role of K.H. Abdul Chalim Leuwimunding in developing NU in Majalengka Regency in 1931-1972.  This study uses historical methods consisting of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Based on the findings of this study, K.H. Abdul Chalim Leuwimunding is a religious figure from Majalengka who was born on June 2, 1898, became one of the founders of NU in Surabaya and had a close relationship with K.H. Hasyim Asy'ari and K.H. Abdul Wahab Hasbullah by being active as the katib tsani of the early NU management in 1926-1928 until becoming a member of Latjah Nashihin which led him to become a NU mover in Majalengka Regency. The role of K.H.  Abdul Chalim Leuwimunding in developing NU in Majalengka Regency can be seen from his activities which often mobilize from Surabaya to Cirebon-Majalengka in order to inform the latest developments of NU by visiting clerics and the surrounding community in Majalengka, he also became the chairman of the Cirebon branch of the NU Consul, and was active in the Majalengka and Cirebon Hizbullah troops.
Examining the Concept of Gratification in the Qur'an: Gone Theory Analysis of Bribery, Gifts, and Official Integrity Fajar, Muhamad
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/0jsgsm49

Abstract

Korupsi merupakan tantangan signifikan bagi negara Indonesia dengan Indeks Persepsi Korupsi menunjukkan penurunan dari skor 40 pada 2019 menjadi 34 pada 2023. Praktik korupsi, termasuk gratifikasi, suap, dan pemberian hadiah yang tidak etis merusak integritas pejabat dan kepercayaan publik. Agama mengambil peran sebagai society control termasuk dalam menekan angka korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep gratifikasi dalam literatur Islam, khususnya terkait dengan suap, hadiah, dan integritas pejabat, serta menganalisisnya melalui kerangka Gone Theory. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif dan studi pustaka. Data dikumpulkan melalui telaah literatur dari kitab-kitab klasik dan kontemporer yang membahas gratifikasi dan integritas dalam Islam, serta analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an dan berbagai literatur Islam tindakan gratifikasi dikenal dengan konsep ghulul dan risywah karena dianggap sebagai bentuk pengambilan harta yang tidak sah dan bertentangan dengan prinsip keadilan. Terdapat enam unsur pada konsep ini yang membedakan perilaku gratifikasi dengan pemberian hadiah pada umumnya yaitu penerima gratifikasi (pekerja atau pejabat publik), pemberi gratifikasi (pihak lain), objek gratifikasi (hadiah atau pemberian), tujuan atau niat, pengelolaan dan transparansi serta konflik kepentingan. Melalui teori Gone konsep ghulul dan risywah empat faktor utama gratifikasi yakni Greed (Keserakahan), Opportunity (Kesempatan), Needs (Kebutuhan), dan Exposures (Pengungkapan). Integritas pejabat dalam Islam didasarkan pada nilai-nilai moral-spiritual yang kuat dan diinternalisasi dengan baik dapat menjadi alat efektif dalam mencegah dan memberantas praktik gratifikasi dan korupsi secara umum. Kata Kunci: Gratifikasi, Islam, GONE
“Shari’ah Politics”: Halal Certification and Labeling in the Indonesian Context Sopiyudin, U.
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 1 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/y2k2kz94

Abstract

Halal certification and labeling are important to ensure that products circulating on the market comply with Sharia principles. Sharia politics involving government policies, religious institutions and community organizations have a crucial role in this process. Purpose This discussion aims to analyze the political dynamics of Sharia in the context of halal certification and labeling in Indonesia. The analysis methodology used in this discussion includes a qualitative approach with document analysis. Through this approach, it is hoped that a comprehensive picture can be obtained regarding how Sharia politics influences the halal certification and labeling process in Indonesia. The implementation of halal certification and labeling in Indonesia faces many challenges from process, implementation, to impact on society. Even though there are challenges that must be faced, including costs and bureaucracy, this policy also opens up great opportunities for the development of Indonesia's halal industry, both in the domestic and international markets. Halal certification and labeling in Indonesia can still be expected to be one of the steps in the struggle for sharia politics in Indonesia.Keywords: sharia politics, certification, labeling, halal, challenges   AbstrakSertifikasi dan Labelisasi halal menjadi penting untuk memastikan bahwa produkproduk yang beredar di pasar sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah. Politik Syariah yang melibatkan kebijakan pemerintah, lembaga keagamaan, dan organisasi masyarakat memiliki peran krusial dalam proses ini. Tujuan Pembahasan ini bertujuan untuk menganalisis dinamika politik Syariah dalam konteks sertifikasi dan labelisasi halal di Indonesia. Metodologi Analisis yang digunakan dalam pembahasan ini meliputi pendekatan kualitatif dengan analisis dokumen. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai bagaimana politik Syariah mempengaruhi proses sertifikasi dan labelisasi halal di Indonesia. Pelaksanaan Sertifikasi dan labelisasi halal di Indonesia, banyak berhadapan dengan tantangan dari proses, penerapan, hingga dampak untuk masyarakat. Meskipun ada tantangan yang harus dihadapi, termasuk biaya dan birokrasi, namun kebijakan ini juga membuka peluang besar bagi pengembangan industri halal Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional. Sertifikasi dan labelisasi halal di Indonesia tetap dapat diharapkan bisa menjadi salah satu langkah perjuangan dari politik syariah di Indonesia.Kata Kunci : politik syariah, sertifikasi, labelisasi, halal, tantangan

Page 11 of 12 | Total Record : 115