cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 115 Documents
Disorientation of Religious Sacred Values in Religious Content on Youtube Kuswana, Dadang; Rohendi, Leon
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 4 No. 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/ajiqs.v4i2.1

Abstract

Religious content on YouTube is increasingly popular and provides an opportunity for individuals and organizations to spread religious teachings and practices to a global audience. However, this platform has the potential risk of disorienting religious sacred values. This article aims to identify the factors that cause disorientation of religious sacred values in religious content on YouTube. A literature study with a qualitative approach was carried out to analyze the content of several religious contents selected purposively from YouTube. The article shows that commercialization, violence and extremism give rise to an attitude of indifference to the social and cultural context, and a lack of knowledge about religion (permissiveness) is the cause of disorientation and desacralization of religious values in religious content on YouTube. The role of producers who produce, consume and publish religious content is central in avoiding the production of religious content that has the potential to trigger conflict and tension between people of different religions. Keywords: value disorientation, religious sacredness, religious content, Youtube   Abstrak Konten keagamaan di Youtube semakin populer dan memberikan kesempatan bagi individu dan organisasi untuk menyebarkan ajaran dan praktik keagamaan pada audiens global. Namun, platform itu memiliki potensi risiko terjadinya disorientasi nilai-nilai sakralitas agama. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya disorientasi nilai-nilai sakralitas agama pada konten keagamaan di Youtube. Studi literatur dengan pendekatan kualitatif dilakukan guna menganalisis konten terhadap beberapa konten keagamaan yang dipilih secara purposive dari Youtube. Dalam artikel ditunjukkan bahwa komersialisasi, kekerasan dan ekstremisme menimbulkan sikap tidak peduli terhadap konteks sosial dan budaya, dan kurangnya pengetahuan tentang agama (permisif) menjadi sebab terjadinya disorientasi dan desakralisasi nilai-nilai agama pada konten keagamaan di Youtube. Peran produsen yang memproduksi, mengonsumsi, dan memublikasikan konten-konten agama menjadi sentral posisinya dalam menghindari produksi konten-konten agama yang berpotensi memicu konflik dan ketegangan antarumat berbeda agama. Kata kunci: disorientasi nilai, sakralitas agama, konten keagamaan, Youtube
Equality Between Muslims and Christians in Tolerant Inter-Religious Dialogue in Bekasi Aripudin, Acep; Firdaus, Luthfi Riza
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 4 No. 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/ajiqs.v4i2.2

Abstract

Indonesian society is known as a plural, plural and heterogeneous society. This heterogeneity is manifested by the many ethnicities, cultures, religions, and customs. This pluralism places Indonesia as a conflict-prone society as well as a portrait of harmony between people of different religions. This article constructs the effectiveness of equality in dialogue between Islam and Christianity in realizing harmonious and equal relations between people of different religions through tolerant dialogue between Islam and Christianity. The practice of equality in this dialogue can be seen in the process of interaction and communication between Muslims and Christians in Kampung Sawah Bekasi in realizing a harmonious life despite different beliefs. Tolerant dialogue is carried out at moments of hospitality and religious events, such as sharing at Eid and Christmas events. Keywords: Equality, Islam, Christianity, Tolerant Dialogue   Abstrak Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang plural, majemuk, dan heterogen. Heterogenitas tersebut berwujud dengan banyaknya etnis, budaya, agama, dan adat istiadat. Kemajemukan tersebut menempatkan Indonesia sebagai masyarakat yang rentan konflik sekaligus potret kehidupan harmoni antarumat berbeda agama. Artikel ini mengontruksi efektivitas kesetaraan dalam dialog di antara Islam dan Kristen dalam mewujudkan relasi antarumat berbeda agama yang harmoni, dan setara melalui dialog yang toleran antara Islam dan Kristen. Praktik equality dalam dialog tersebut nampak pada proses interaksi dan komunikasi antara umat Islam dan Kristen di Kampung Sawah Bekasi dalam mewujudkan kehidupan harmonis meskipun berbeda keyakinan. Dialog toleran dilakukan pada momen-momen silaturahmi dan event keagamaan, seperti saling berbagi pada acara Lebaran dan Natal. Kata Kunci: Equality, Islam, Kristen, Dialog Toleran
Religious Aggressiveness In Scales of Interfaith Communication Rosyad, Rifki; Iskandar, Amin Rais; Mamin, Mamin
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 4 No. 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aggressive behavior (aggressiveness) often appears to trigger conflicts between religious communities. Conflicts occur that are triggered by aggressive attitudes in verbal and nonverbal forms. The response to uncontrolled verbal aggressiveness increases in the form of physical aggressiveness and/or nonverbal communication. This article aims to reveal and analyze how to control aggressive behavior in relationships between different religions between Muslims, Jews and Christians. Referring to the results of the review, it shows that one effective way to control aggressive behavior is through implementing inter-religious dialogue and giving punishment as a consequence of this aggressive attitude. The results of the analysis also show the importance of improving the image of religion from hostility, disputes and disputes that lead to conflict between people of different religions through a cross-cultural communication approach. Keywords: aggressiveness, religious conflict, interfaith communication   Abstrak Perilaku agresif (agresivitas) seringkali muncul menjadi pemicu konflik antar umat beragama. Konflik terjadi muncul dipicu oleh sikap agresif dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Respon atas agresivitas verbal tersebut yang tidak terkontrol meningkat pada bentuk agresivitas fisik, dan atau komunikasi nonverbal. Artikel ini bertujuan mengungkap dan menganalisis bagaimana mengendalikan perilaku agresif dalam relasi kehidupan berbeda agama antara Islam, Yahudi, dan Kristen. Mengacu pada hasil review menunjukkan bahwa salah satu cara efektif dalam mengendalikan perilaku agresif melalui pelaksanaan dialog antarumat beragama serta memberi hukuman (punishment) sebagai konsekuensi sikap agresif tersebut. Hasil analisis juga menunjukkan pentingnya memperbaiki citra agama dari permusuhan, perselisihan dan pertikaian yang menjurus pada konflik antarumat berbeda agama melalui pendekatan komunikasi lintas budaya. Kata Kunci: agresivitas, konflik agama, komunikasi lintas agama
Jihad: Meaning, Essence, and Contextualization of Revolutionary Experience Hadratussyaikh K.H. Hasyim Ash'ari Taufiqurrohman, Muhammad; Islami, Aprilia Nur; Muhaemin, Muhaemin; Hasanah, Sri Nur
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 4 No. 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The term jihad has various meanings, not only connoting the meaning of "physical movement" and homogeneity. However, it can be meaningful according to the context of social and mental change, both evolution and revolution. The socio-political and ideological context therefore greatly influences the meaning of jihad which has implications for behavior and actions, such as its relationship with fighting for human rights and freedom. In this article, it is concluded that jihad (struggle) is one of the three important components according to Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari. First, the momentum of the Netherlands and its status as a non-Muslim who wants to control Indonesia after declaring independence. Second, Hadratussyaikh's extensive mass mobilization structure, both official and unofficial. Third, framing dissatisfaction with the presence and policies of the Netherlands with the belief that maintaining independence is part of jihad fi sabilillah as well as a spirit of da'wah that is equivalent to revolution. Keywords: Da'wah, Social Change, jihad fi sabilillah, revolution   Abstrak Istilah jihad memiliki makna beragam, bukan hanya berkonotasi makna “gerakan fisik” dan homogen. Namun, dapat bermakna sesuai konteks perubahan sosial maupun mental, baik evolusi maupun revolusi. Konteks sosio-politik maupun ideologi karenanya sangat mempengaruhi makna jihad yang berimplikasi pada perilaku dan tindakan, seperti hubungannya dengan memperjuangkan hak-hak asasi dan kemerdekaan manusia. Pada artikel ini, disimpulkan bahwa jihad (perjuangan) menjadi salah satu dari tiga komponen penting menurut Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari. Pertama, momentum Belanda dan statusnya sebagai non-muslim yang ingin menguasai Indonesia pasca memproklamasikan kemerdekaan. Kedua, struktur  mobilisasi massa Hadratussyaikh yang luas, baik yang resmi maupun tidak resmi. Ketiga, framing ketidakpuasan terhadap kehadiran dan kebijakan Belanda dengan berkeyakinan bahwa mempertahankan kemerdekaan merupakan bagian dari jihad fi sabilillah sekaligus spirit dalam dakwah yang disetarakan dengan revolusi. Kata Kunci: Dakwah, Perubahan Sosial, jihad fi sabilillah, revolusi
The Curriculum of Religious Education of Schools  in the Countries Around the World Mukhsin
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 1 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/xrxdxz12

Abstract

Religion has many meaningful values for human being life. All of them need it although they are from communists. The communists, in fact however, need beliefs with other name outside of religion name. The study aims to find differences and similarities regarding the implementation of the religious education curriculum in schools in countries around the world. The approach of study is a qualitative-descriptive method by studying related library sources and the results of research of previous researchers from various countries, and then concluding the research data. The study concludes that religious values are eternal and universal ones for all people. The people in one country and ones in other countries are different in believing what they believe and behave. But they are same in getting meaning of religious values urgency for their life. So they desire to bring these down to their generation through education or teaching process. Many countries all over the world pay attention to this urgency. They enter religious education into schools’ curriculum that must be studied by all students of schools.  Key words: curriculum, religious education, schools’ education   Abstrak Agama mempunyai banyak nilai yang bermakna bagi kehidupan manusia. Semuanya membutuhkannya meski dari komunis. Namun kaum komunis justru membutuhkan kepercayaan dengan nama lain di luar nama agama. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perbedaan dan persamaan mengenai penerapan kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah di negara-negara di dunia. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan mempelajari sumber-sumber kepustakaan terkait dan hasil penelitian para peneliti terdahulu dari berbagai negara, kemudian menyimpulkan data penelitiannya. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa nilai-nilai agama bersifat abadi dan universal bagi semua orang. Masyarakat di suatu negara dan masyarakat di negara lain berbeda dalam mempercayai apa yang mereka yakini dan berperilaku. Namun mereka sama dalam memahami urgensi nilai-nilai agama bagi kehidupan mereka. Sehingga mereka ingin mewariskannya kepada generasinya melalui proses pendidikan atau pengajaran. Banyak negara di dunia menaruh perhatian terhadap urgensi ini. Mereka memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum sekolah yang wajib dipelajari oleh seluruh siswa sekolah. Kata kunci: kurikulum, pendidikan agama, pendidikan sekolah
Digital Transformation in Increasing the Effectiveness and Efficiency of Zakat Management Muhammadiyah Experience Pamungkas, Puput Puspita Ganjar
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/d40tje39

Abstract

One of the efforts that can be made to reduce the number of poverty and other social inequalities in the community can be through philanthropic institutions that have credible, trusted and professional values in their management so that they can give birth to a prosperous society. However, it is undeniable that in Indonesia there are still people who avoid the obligation to pay zakat or doubt existing philanthropic institutions. This research provides an overview of philanthropic strategies and innovations under the auspices of the Muhammadiyah organization, namely LAZISMU, which is one of the largest philanthropies in Indonesia. The transparent management of Zakat, Infaq and Shodaqoh is continuous and fair, making all muzakki have high loyalty and trust in entrusting their property. The methods used are qualitative and relevant literacy studies. Keywords: Transformation, Effectiveness, Efficiency, Muhammadiyah   Abstrak Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah kemiskinan dan kesenjangan sosial lainnya di masyarakat dapat melalui lembaga filantropi yang memiliki nilai kredibilitas, terpercaya dan profesional dalam pengelolaannya sehingga dapat melahirkan masyarakat yang sejatera. Namun, tak dapat dipungkiri bahwasanya di Indonesia masih terdapat masyarakat yang mengindar dari kewajiban membayar zakat ataupun meragukan lembaga filantropi yang ada. Penelitian ini memberikan gambaran terkait strategi dan inovasi filantropi di bawah naungan organsasi Muhammadiyah yakni LAZISMU yang merupakan salah satu filantropi terbesar di Indonesia. Pengelolaan Zakat, Infaq dan Shodaqoh yang transaparan, bersifat kontinyu dan berkeadilan menjadikan seluruh muzakki memiliki loyalitas tinggi serta kepercayaan menitipkan hartanya. Metode yang digunakan ialah kualitatif dan studi literasi yang relevan. Kata kunci: Transformasi, Efektifitas, Efisiensi, Muhammadiyah
Jihad and Social Transformation at the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic Boarding School Virginisa, Nabila
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/8khndh95

Abstract

Jihad for Muslims is an effort to realize the will of Allah SWT. expressed through his religion. Apart from jihad by fighting on the battlefield, there is jihad which is more important than fighting on the battlefield without having to draw a sword or raise a weapon, as is the case at the Al-Faqih 2 Islamic boarding school in fighting jihad by combining Islamic religious education with social activism, encouraging its students. to get involved in efforts to improve the lives of the people around them. This research aims to explain the concept of jihad in Islam as applied by the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school, identify the positive impact of jihad on social transformation in the community around the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school and identify challenges and efforts in social transformation in the surrounding community. al-faqih Islamic boarding school 2 Cibiru. This research focuses on how the concept of jihad in Islam is applied by the al-faqih 2 Cibiru Islamic boarding school, what the positive impact of jihad is on social transformation in the community around the al-faqih 2 Cibiru Islamic boarding school and what the challenges and efforts are in social transformation in the surrounding community. al-faqih Islamic boarding school 2 Cibiru. Research findings show that the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school in Bandung City has students who are mostly UIN Bandung students who come from various regions. Ustadz Syihabudiin, who is the head of the Al-Faqih 2 Cibiru Islamic boarding school, Bandung City, together with the students collaborate with each other to convey da'wah or teach knowledge about Islam directly to the surrounding community which indirectly has had a positive impact on social transformation in both the social field. as well as religion for the surrounding community, although there are challenges that the Al-Faqih 2 Islamic boarding school must face, this does not dampen the enthusiasm for fighting for the surrounding community in the form of preaching. Keywords: Jihad, Social Impact, Social Transformation.   Abstrak Jihad bagi umat Islam adalah salah satu usaha untuk merealisasikan kehendak Allah swt. yang diekspresikan melalui agamanya. Selain jihad dengan bertempur di medan perang ada jihad yang lebih utama dari berperang di medan tempur tanpa harus menghunus pedang dan mengangkat senjata seperti halnya yang terjadi di pondok pesantren Al-Faqih 2 dalam berjihad dengan cara menggabungkan pendidikan agama Islam dengan aktivisme sosial, mendorong para santrinya untuk terlibat dalam upaya meningkatkan kehidupan masyarakat di sekitar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep jihad dalam Islam yang di aplikasikan oleh pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru, mengidentifikasi dampak positif dari jihad terhadap transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru serta mengidentifikasi tantangan dan upaya dalam transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru. Penelitian ini berfokus pada bagaimana konsep jihad dalam Islam yang di aplikasikan oleh pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru, bagaimana dampak positif dari jihad terhadap transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al- faqih 2 Cibiru serta bagaimana tantangan dan upaya dalam transformasi sosial di masyarakat sekitar pondok pesantren al-faqih 2 Cibiru. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pondok pesantren Al-Faqih 2 Cibiru Kota Bandung yang memiliki santri mayoritas mahasiswa UIN Bandung yang berasal dari berbagai daerah. Ustadz Syihabudiin yang merupakan pimpinan pondok pesantren Al- Faqih 2 Cibiru Kota Bandung bersama para santri saling berkolaborasi untuk yang menyampaikan dakwah atau mengajarkan ilmu – ilmu tentang Islam secara langsung kepada masyarakat di sekitarnya yang secara tidak langsung telah memberikan dampak positif bagi trasnformasi sosial baik bidang sosial maupun agama bagi masyarakat di sekitarnya, meskipun ada tantangan yang harus dihadapi oleh pondok pesantren Al-Faqih 2, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk berjihad kepada masyarakat sekitar dalam bentuk dakwahnya. Kata kunci: Jihad, Dampak Sosial, Transformasi sosial.
The Development of Da'wah Through Tabligh and the Development of Da'wah Ideas in Indonesia Gantira, Erlan
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/tj36n208

Abstract

Now, tabligh preaching through oral and written lectures can be combined into one medium, namely digital media, so the preachers' abilities must be even more capable because media can now become a convergent media, namely a combination of written and video/film media. The condition of tabligh preaching in the midst of increasing political behavior brings challenges and notes for preachers to choose neutral ideas or lecture material, because basically Islam is a religion of Rahmatan lil allamin, always providing peace and tranquility for all creatures and their lives. Da'wah ideas and materials do not have to be titles and preaching materials but also other ideas that are easily accepted in society, enter into their social behavior and social strata, so that they become an "injection" of goodness for the people. The results of the research show that the idea of ​​da'wah using the tabligh method in Indonesia is still a popular way of da'wah. However, often when some ulama in Indonesia deliver preaching material in a tabligh forum that deals with government performance or criticism of the authorities, they are considered "left" ulama. So tabligh da'wah often intersects with the democratization of da'wah itself. In the current era of democratization of da'wah, it is often collided with group differences and issues of anti-nationalism and diversity. The dissolution of recitation forums because the preacher is the resource person often occurs. If in the past the prohibition on preaching was carried out by elements in power, now it is carried out by elements of mass organizations which are basically of the same religion, fellow Muslims. If a preacher has preaching content that lacks data and references, he will receive direct criticism and even ridicule from netizens. Keywords: da'wah, democratic, internet, critical, netizen.   Abstrak Sekarang, dakwah tabligh melalui ceramah lisan dan tulisan bisa disatukan menjadi satu media, yaitu media digital, sehingga kemampuan mubaligh harus lebih mumpuni lagi karena media sekarang dapat menjadi media convergen yaitu perpaduan antara media tulisan dan video/film. Kondisi berdakwah tabligh di tengah perilaku politik yang meningkat membawa tantangan dan catatan bagi da’i untuk memilih Ide ataupun materi ceramah yang netral, karena pada dasarnya Islam adalah agama Rahmatan lil allamin, selalu memberikan kedamaian dan ketengan untuk seluruh makhluk dan kehidupannya. Ide dan materi dakwah tidak harus berupa judul dan materi dakwah namun juga ide-ide lainnya yang mudah diterima di Masyarakat, masuk ke dalam perilaku sosial dan strata sosial mereka, sehingga menjadi “suntikan” kebaikan bagi umat. Hasil peneleitian menunjukkan bahwa ide dakwah dengan cara tabligh di Indonesia masih menjadi cara dakwah yang populer. Namun seringkali beberapa ulama di Indonesia ketika menyampaikan materi dakwah dalam sebuah forum tabligh yang bersinggungan dengan kinerja pemerintah atau kritikan-kritikan kepada penguasa akan dianggap sebagai ulama yang beraliran “kiri”. Sehingga dakwah tabligh seringkali bersinggungan dengan demokratisasi dakwah itu sendiri. Di saat ini era demokratisasi dakwah sering dibenturkan dengan perbedaan golongan dan issue anti nasionalisme dan kebhinekaan. Pembubaran forum-forum pengajian karena da’i yang menjadi narasumber sering terjadi. Apabila dahulu larangan dakwah dilakukan oleh unsur penguasa maka sekarang ini dilakukan oleh unsur organisasi masa yang dasarnya se-agama, sesama muslim. Seorang mubaligh bila mempunyai konten dakwah yang minim data dan referensi akan mendapatkan kritikan langsung bahkan cemoohan dengan umat netizen. Kata kunci: dakwah, demokratis, internet, kritis, netizen
Da'wah and Social Change: Da'wah and Political Reform of the Prophet Muhammad SAW in the Implementation of the Study of the Prophet's Political Communication in Medina Yushardiansyah, Rezsa
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/raaj7894

Abstract

The influence of the Prophet Muhammad as the bearer of the Islamic message is known plural. It is also about his prophetic and apostolic. The thing that is rarely discussed is Muhammad's position as a political communicator. In this case Muhammad is certainly an actor in the process of political communication in Medina. History calls the long journey of forming the Medina State under the reign of Muhammad starting from zero to become an area that was calculated at that time. It is not excessive for Muhammad to be called as a political actor in the establishment of Medina as well as political communicator in the government of Medina. In political communication, it is mentioned that political actors can form a public opinion, which then becomes consensus and mutually agreed. Thus, Muhammad has fulfilled that element in his leadership over Medina. In the process of political communication, there are important elements such as political communicators, messages delivered, and targets to the political communication effect that made Muhammad in Medina. The interesting thing for studied is Muhammad's political communication strategy. Where is as a political communicator, Muhammad was able to unite the heterogeneity and pluralism of the community who then agreed and want to be under his leadership in Medina. Keywords: political communication, Medina, Muhammad, country.   Abstrak Pengaruh Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam dikenal jamak. Ini juga tentang kenabian dan apostoliknya. Hal yang jarang dibicarakan adalah posisi Muhammad sebagai komunikator politik. Dalam hal ini Muhammad tentunya merupakan aktor dalam proses komunikasi politik di Madinah. Sejarah menyebut perjalanan panjang terbentuknya Negara Madinah di bawah pemerintahan Muhammad dimulai dari nol hingga menjadi wilayah yang diperhitungkan saat itu. Tidak berlebihan jika Muhammad disebut sebagai aktor politik pendirian Madinah sekaligus komunikator politik dalam pemerintahan Madinah. Dalam komunikasi politik disebutkan bahwa aktor politik dapat membentuk opini publik yang kemudian menjadi konsensus dan disepakati bersama. Dengan demikian, Muhammad telah memenuhi elemen tersebut dalam kepemimpinannya atas Madinah. Dalam proses komunikasi politik terdapat unsur-unsur penting seperti komunikator politik, pesan-pesan yang disampaikan, dan sasaran terhadap efek komunikasi politik yang dilakukan Muhammad di Madinah. Hal yang menarik untuk dikaji adalah strategi komunikasi politik Muhammad. Dimana sebagai komunikator politik, Muhammad mampu menyatukan heterogenitas dan pluralisme masyarakat yang kemudian setuju dan ingin berada di bawah kepemimpinannya di Madinah. Kata kunci: komunikasi politik, Madinah, Muhammad, negara.
Jihad and Social Change Awaludin, Taufik
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 5 No. 2 (2023): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/9d47xv15

Abstract

Knowledge or understanding as well as insight into Islam is very necessary as a foundation for being a Muslim, because quite a few among Muslims and the existence of Western propaganda to attack Islam, both of these things make Muslims and non-Muslims currently misunderstand the concept of Jihad. The jihad shown today is identified with people who are bloodthirsty to spread Islam with the sword. This research aims to answer questions about 1) Was Islam spread not through violence? 2) Is Jihad a war of defense? 3) Is Jihad an approach to Da'wah? The linguistic meaning of jihad is general, namely hard work. The Al-Quran has directed the meaning of jihad to a more specific meaning, namely devoting all one's energy, wealth and thoughts to fighting in the way of Allah, either directly or by spending possessions, opinions, increasing logistics, etc. Thus, the more appropriate meaning of jihad taken by Muslims is to fight in the way of Allah against oneself and unbelievers in order to elevate the word of Allah. Keywords: Islam, jihad, war, Western propaganda.   Abstrak Pengetahuan atau pemahaman juga wawasan tentang Islam sangat diperlukan sebagai pondasi sebagai muslim, karena tidak sedikit diantara kaum muslimin dan adanya propaganda-propaganda Barat untuk menyerang Islam, kedua hal tersebut menjadikan kaum muslimin dan orang-orang non muslim saat ini salah memahami konsep Jihad. Jihad yang ditampilkan saat ini diidentikkan dengan orang yang haus darah untuk menyebarkan Islam dengan pedang. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang 1) Apakah Islam Disebarkan Bukan Dengan kekerasan? 2) Apakah Jihad merupakan perang defensi? 3) Apakah Jihad merupakan pendekatan Dakwah? Makna jihad secara bahasa bersifat umum, yaitu kerja keras. Al-Quran telah mengarahkan makna jihad pada arti yang lebih spesifik, yaitu mencurahkan segenap tenaga, harta juga pikiran untuk berperang di jalan Allah, baik langsung maupun dengan cara mengeluarkan harta benda, pendapat, memperbanyak logistik, dan lain-lain. Dengan demikian, makna jihad yang lebih tepat diambil oleh kaum Muslim adalah berperang di jalan Allah melawan diri sendiri serta orang-orang kafir dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Kata kunci: Islam, jihad, perang, propaganda Barat

Page 10 of 12 | Total Record : 115