cover
Contact Name
Fatardho Zudri
Contact Email
fatardho@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.agronomi@yahoo.com
Editorial Address
Jl. Meranti, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy)
ISSN : 20852916     EISSN : 23373652     DOI : -
Aims and Scope Aims Indonesian of Journal Agronomy (Jurnal Agronomi Indonesia), the official journal of the Indonesian Society for Agronomy, publishes primary research paper, review article, policy analysis and research notes and preliminary results in all areas of agronomy. Manuscripts could be written either in English or in Indonesia. Scope Indonesian of Journal Agronomy (Jurnal Agronomi Indonesia) covers agronomy in broad sense including plant production, genetic and plant breeding, plant physiology, plant ecology, plant biotechnology, modeling, seed science and technology and weeds science on food, horticulture, plantation, and forage crops.
Articles 971 Documents
Analisis Stabilitas Parametrik Hasil Cabai Rawit (Capsicum fructescens L.) pada Empat Lokasi Dataran Rendah Juharni; Syukur, Muhamad; Suwarno, Willy Bayuardi; Maharijaya, Awang
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.499 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.32977

Abstract

Varietas cabai yang stabil dan berdaya hasil tinggi diperlukan untuk peningkatan produksi cabai nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi stabilitas hasil 16 genotipe cabai rawit (Capsicum fructescens L.) dengan menggunakan analisis stabilitas parametrik (Francis-Kannenberg, Wricke, Finlay-Wilkinson, AMMI dan GGE). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2018 sampai September 2019 pada empat lokasi, yaitu Kolaka, Palembang, Aceh dan Bogor. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Genotipe cabai rawit yang dievaluasi adalah F5285290-237-6-1, F6285290-6-10-1-1, F5285290-290-2-1, F5285290-290-9-1, F5285290-290-9-3, F5321290-40-2-1, F5285290-123-6-15, F6321290-252-10-8-4, F5285290-38-6-3, F6321290-252-10-8-23, F6321290-252-10-8-75, Bonita IPB, Inul (varietas lokal), Cakra putih (varietas komersial), Taruna (varietas komersial), dan Tobasco. Interaksi genotipe x lingkungan berpengaruh nyata terhadap hasil. genotipe F6321290-252-10-8-4 diidentifikasi sebagai genotipe stabil berdasarkan beberapa metode stabilitas parametrik, namun genotipe tersebut tidak memiliki rata-rata hasil tertinggi. Sedangkan analisis GGE mengidentifikasi Bonita IPB sebagai genotipe yang stabil dengan daya hasil tertinggi. Kata kunci: AMMI, analisis stabilitas, cabai rawit, varietas
Produksi dan Kualitas Umbi Beberapa Genotipe Kentang (Solanum tuberosum L.) Koleksi IPB untuk Olahan Keripik Kentang Maharijaya, Awang; Salma, Linda Nur; Amarilis, Shandra
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.926 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.32979

Abstract

Kebutuhan akan varietas kentang untuk industri olahan keripik kentang terus meningkat, namun ketersediaan varietas yang menghasilkan umbi yang memenuhi kriteria untuk keripik kentang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan melakukan karakterisasi kualitas umbi kentang dari beberapa genotipe unggul koleksi IPB yang sesuai bagi kebutuhan industri olahan keripik kentang. Karakter kualitas tersebut meliputi diameter umbi, berat jenis, bahan kering, dan organoleptik keripik. Penelitian dilaksanakan pada Januari-Mei 2020 di Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Sebanyak delapan genotipe yang terdiri atas PKHT-2019-010, PKHT-2019-011, PKHT-2019-012, PKHT-2019-013, PKHT-2019-014, PKHT-2019-015, PKHT-2019-016, PKHT-2019-017 dan dua varietas pembanding yaitu Medians dan Intan. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan kelompok lengkap teracak faktor tunggal yaitu genotipe dengan 4 ulangan. Penelitian dimulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan, serta pengolahan keripik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe PKHT-2019-010, PKHT-2019-012, dan PKHT-2019-017 memiliki potensi sebagai genotipe yang dapat dikembangkan sebagai varietas kentang untuk bahan baku industri keripik kentang berdasarkan berat jenis, kandungan gula, bentuk, penampilan dan warna keripik yang baik. Genotipe PKHT-2019-015 memiliki produktivitas, bobot umbi dan diameter umbi yang sangat baik dan memenuhi kriteria industri, namun memiliki kadar gula yang tinggi sehingga lebih cocok dikembangkan sebagai kentang sayur. Namun demikian masih diperlukan penelitian lanjutan untuk meningkatkan bobot dan ukuran ketiga genotipe tersebut untuk mencapai standard industri. Kata kunci: genotipe, kerenyahan, produktivitas, kandungan gula
Fenologi Pembungaan dan Penyerbukan Cereus jamacaru D.C. (Cactaceae) Koleksi Kebun Raya Bogor Elly Kristiati Agustin; Garvita, R. Vitri
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.34 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.32994

Abstract

Cactaceae merupakan tanaman asli Amerika (bagian Utara, Tengah dan Selatan) daerah tropis dan subtropis, berperan penting dalam ekosistem kering dan gersang. Tanaman Cereus jamacaru D.C. (Pleated cereus) dianggap penting karena berpotensi sebagai bunga hias, makanan dan obat. Fenologi pembungaan dan pembuahan tanaman ini belum banyak diketahui. Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) tahapan fenologi pembungaan dan pembuahan C. jamacaru, serta (2) polinator yang berperan dalam proses penyerbukan. Penelitian dilakukan di Kebun Raya Bogor pada bulan Maret - Mei 2015. Jumlah sampel yang diamati adalah tujuh kuncup bunga (inflorescens). Pengamatan meliputi fenologi pemekaran bunga (tahap 1) dan bunga mekar sempurna (tahap 2). Variabel yang diamati pada tahap 1 adalah panjang dan diameter kuncup bunga, panjang dan diameter calon buah, serta diameter tabung kuntum. Variabel yang diamati pada tahap 2 adalah panjang kuntum, diameter periantum, dan diameter kumpulan stamen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap 1, panjang kuncup bunga 98.35 mm, diameter kuncup bunga 42.95 mm, panjang calon buah 47.79 mm, diameter calon buah 20.83 mm dan diameter tabung kuntum 17.96 mm. Pada tahap 2 setelah antesis, diameter kumpulan stamen 40.26 mm, diameter periantum 80.11 mm dan panjang kuntum 176.77 mm. Polinator penyerbukan yaitu Trigona, Apis indica, dan semut. Kata kunci: kaktus, biologi reproduksi, penyerbukan, pemekaran
A Uji Amelioran Organik Asal Limbah Pertanian pada Pertanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) di Tanah Gambut Armiyarsih; Sasli, Iwan; Ramadhan, Tris Haris
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.987 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.32997

Abstract

Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan amelioran organik dapat mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk kimia sintetik pada budidaya tanaman sawi hijau di tanah gambut. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dosis kompos limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan gedebok pisang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau di tanah gambut. Lokasi penelitian bertempat di Desa Baning Kota, Kabupaten Sintang pada bulan April sampai dengan Juni 2020. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama yaitu pemberian dosis kompos TKKS 5 taraf t0 (tanpa kompos), t1(5 ton ha-1), t2 (10 ton ha-1), t3 (15 ton ha-1), dan t4 (20 ton ha-1). Faktor kedua yaitu dosis kompos gedebok pisang dengan 4 taraf p0 (tanpa kompos), p1(10 ton ha-1), p2(20 ton ha-1), dan p3(30 ton ha-1). Interaksi perlakuan secara signifikan dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, laju asimilasi bersih, dan laju pertumbuhan tanaman. Kandungan N, P, dan K di tanah meningkat 53.85%, 409.90% dan 2,709% pada pemberian 15 ton ha-1 kompos TKKS + 30 ton ha-1 kompos gedebok pisang. Kombinasi perlakuan ini adalah yang terbaik dalam penelitian ini untuk meningkatkan produksi sawi hijau di tanah gambut, ditunjukkan dengan rata-rata bobot segar tanaman sebesar 176.71 g. Kata kunci: gedebok pisang, produksi tanaman, tandan kosong kelapa sawit
Studi Degreening, Kesegaran, dan Daya Simpan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus (Weber) Britton & Rose) untuk Menentukan Kriteria Panen Optimum Suketi, Ketty; Widodo, Winarso Drajad; Maulida, Farah
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.099 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.33065

Abstract

Buah naga merah adalah buah non klimakterik dengan lintasan fotosintesis crassulacean acid metabolism. Kematangan optimum ditandai dengan warna kulit buah merah 100%. Tujuan percobaan adalah mempelajari perubahan warna kulit terkait dengan kesegaran dan daya simpan buah naga merah untuk menentukan kriteria panen optimum. Bahan percobaan disiapkan di kebun Sabisa Farm, Sindang Barang, Bogor (60 35’ 16” LS, 1060 46’ BT; elevasi 219 m di atas permukaan laut). Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan perlakuan 5 taraf umur panen, yaitu 30, 32, 34, 36, dan 38 hari setelah antesis (HSA) dengan 5 ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kulit buah naga merah 30 HSA memiliki skala warna 2 (1-25% merah), buah 32 HSA memiliki skala warna 4 (26-50% merah), dan buah 34, 36, dan 38 HSA telah mencapai skala warna 6 (100% merah) ketika dipanen. Kulit buah 30 HSA memerlukan waktu 6 hari setelah panen (HSP) dan buah 32 HSA memerlukan waktu 3 HSP untuk mencapai warna merah 100%. Pada saat warna merah 100%, buah 30 - 38 HSA memiliki kandungan padatan terlarut total 11.7 hingga 13.5 oBrix yang masih memenuhi standard pemasaran buah naga sebesar 11.0 oBrix. Kandungan asam tertitrasi total menurun, tetapi kandungan vitamin C meningkat dengan meningkatnya umur panen. Kata kunci: CAM, kematangan pascapanen, kesegaran buah, satuan panas, tanaman hari-panjang
Heritabilitas dan Hubungan Antar Karakter Kuantitatif Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) pada Tiga Lingkungan Dian Rakhmad; Muhamad Syukur; Willy Bayuardi Suwarno
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.494 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.33080

Abstract

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) dijuluki sebagai kedelai daerah tropis dengan potensi kandungan gizi tinggi. Kurangnya informasi mengenai komponen keragaman dan heritabilitas dalam pemuliaan kecipir menjadi salah satu penyebab belum berkembangnya program pemuliaan kecipir di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi ragam, heritabilitas dan hubungan antar karakter kecipir. Penelitian dilakukan di tiga lingkungan yaitu dua lingkungan di Bogor, dan satu lingkungan di Palembang, pada bulan Januari 2019 sampai dengan Juni 2020. Pengujian dilakukan terhadap 11 genotipe kecipir dan 11 karakter pengamatan. Hasil menunjukkan karakter umur berbunga dan jumlah biji per polong memiliki keragaman genetik yang luas. Nilai heritabilitas tinggi ditunjukkan oleh karakter jumlah biji per polong (89.48%), umur berbunga (83.32%), panjang polong muda (70.97%) dan bobot 100 biji (68.63%). Hasil analisis lintas menunjukkan karakter produktivitas polong muda (1.07), bobot biji per plot (0.81), umur berbunga (0.29), panjang polong muda (0.17), lebar polong muda (0.12), bobot biji per tanaman (0.09), dan bobot 100 biji (0.01) memiliki pengaruh langsung positif terhadap produktivitas biji kecipir. Umur berbunga, jumlah biji per polong dan bobot biji per tanaman merupakan karakter yang tepat menjadi kriteria seleksi dalam merakit kecipir berproduksi tinggi. Kata kunci: analisis lintas, keragaman genetik, korelasi
Respon Genotipe Talas Colocasia esculenta var esculenta dan var antiquorum pada Interval Pemberian Air Berbeda Hidayatullah, Careca Sepdihan Rahmat; Sopandie, Didy; Santosa, Edi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.531 KB) | DOI: 10.24831/jai.v48i3.33136

Abstract

Talas dikenal sebagai tanaman yang adaptif terhadap tanah dengan kelembaban tinggi. Dalam rangka mitigasi dampak perubahan iklim, respon genotipe tanaman talas terhadap variasi ketersediaan air perlu diketahui. Penelitian bertujuan mengevaluasi pengaruh frekuensi pemberian air pada pertumbuhan dan hasil tanaman talas tipe eddoe dan dasheen. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Kebun Percobaan Cikabayan IPB pada bulan Januari sampai April 2020. Sepuluh genotipe talas dievaluasi yang terdiri atas dua tipe dasheen (Talas Sutra dan Talas Bentul) dan delapan tipe eddoe (S6, S20, S24, S26, S28, S34, S35, dan S36). Tanaman umur delapan minggu dalam polibag diberi air dengan frekuensi berbeda yakni 1, 3, 7, dan 15 hari sekali hingga jenuh air. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan semua tipe talas lebih vigor pada interval pemberian air 1 dan 3 hari sekali seperti ditunjukkan oleh peubah tinggi, jumlah daun, jumlah anakan, dan diameter petiol. Bobot basah umbi semua tipe talas mencapai 2-3 kali lipat pada perlakuan interval pemberian air 1 dan 3 hari dibandingkan dengan interval 7 dan 15 hari sekali; maka talas termasuk sensitif terhadap rendahnya kelembaban tanah. Kata kunci: cekaman kekeringan, perubahan iklim, satoimo, talas dasheen, talas eddoe
The Efisiensi Penggunaan Nitrogen pada Padi Gogo Varietas IPB 9G Suwarto; Defiyanto Djami Adi; Iskandar Lubis; Sugiyanta
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.552 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.33626

Abstract

Beras merupakan makanan pokok di Indonesia. Beberapa varietas padi gogo unggul baru telah dilepas dan perlu dilengkapi pemupukan yang akurat di lokasi tertentu. Salah satu jenis pupuk tersebut adalah nitrogen (N). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan N pada padi gogo IPB 9G sebagai respon terhadap dosis pupuk N. Dosis pupuk yang diaplikasikan adalah 0, 46, 92, 138, dan 184 kg N ha-1 dalam bentuk urea (46% N). Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan di Darmaga, Bogor pada Maret-Juli 2018. Petak percobaan berukuran 3.5 m x 3.0 m. Padi gogo ditanam dengan jarak 50 cm x 10 cm. Efisiensi penggunaan N dinilai dari pertumbuhan padi, serapan N, efisiensi agronomi dan fisiologis. Peningkatan tinggi tanaman dan jumlah anakan mengikuti peningkatan dosis N. Serapan N dan hasil gabah memiliki respon kuadratik terhadap dosis N dan dapat menjadi indikator efisiensi pemupukan N. Serapan N dan hasil gabah yang maksimum diperoleh dari dosis pupuk N yang hampir sama, rata-rata 143.8 kg N ha-1 (312.5 kg urea ha-1). Untuk efisiensi pemupukan N padi gogo IPB 9G pada tanah dengan N total sedang (0.27%) di musim kering dapat diaplikasikan 143.8 kg N ha-1 (urea 312.5 kg N ha-1). Kata kunci: efisiensi agronomis, efisiensi fisiologis, hasil biji, serapan N
Interaksi Genotipe x Lingkungan pada Karakter dan Komponen Hasil Galur-galur Sorgum IPB Wibawa, Rentang Fajar Cakra; Trikoesoemaningtyas; Wirnas, Desta
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.057 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.33668

Abstract

Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman multiguna yang prospektif untuk dikembangkan di Indonesia sebagai sumber pangan, pakan dan bioenergi. Nilai Brix pada nira batang dan karakter malai pada sorgum merupakan karakter hasil yang perlu diperhatikan dalam perakitan varietas sorgum multiguna. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi keragaman nilai Brix pada nira batang dan karakter malai serta komponen hasil dari galur-galur sorgum multiguna IPB dan responnya terhadap perbedaan kondisi lingkungan. Materi genetik yang digunakan adalah 16 galur sorgum generasi F7 hasil seleksi pedigree dan bulk secara terpisah dari tiga populasi hasil persilangan dan 4 varietas sorgum nasional, ditanam menggunakan rancangan acak kelompok di dua kondisi lingkungan yaitu musim kemarau tahun 2019 dan musim hujan tahun 2020. Hasil penelitian menunjukkan karakter hasil yaitu bobot biji per malai dan nilai Brix pada nira batang selain dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan, juga dipengaruhi oleh interaksi genotipe x lingkungan. Analisis korelasi menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara nilai Brix pada nira batang dengan bobot biji per malai. Masing-masing berkorelasi nyata positif dengan tinggi tanaman, sehingga sorgum yang tinggi cenderung menghasilkan bobot biji per malai dan nilai Brix yang tinggi. Genotipe PI 150/N-043-16-5-5-P dan PI 150/K-19-6-2-B merupakan genotipe dengan tinggi tanaman, bobot biji per malai dan nilai Brix yang tinggi dibanding genotipe lainnya, dan setara dengan varietas Bioguma 1, Bioguma 3, dan Numbu. Kata kunci: bioenergi, bobot biji per malai, nilai Brix, pakan, pangan
Pertumbuhan dan Hasil Ratun Tiga Ekotipe Padi berdasarkan Tinggi Pemotongan Berbeda Nareswari, Aptika Hana Prastiwi; Sulistyono, Eko; Santosa, Edi
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.3 KB) | DOI: 10.24831/jai.v49i1.33686

Abstract

Padi ratun adalah tanaman padi yang tumbuh dari tunas yang terdapat di buku tunggul atau batang padi tersisa setelah panen. Proses budidaya padi ratun hemat biaya dan waktu dengan memberikan tambahan hasil terhadap tanaman utama. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan dan hasil ratun dari tiga ekotipe padi (sawah, gogo, dan rawa) dari tinggi pemotongan batang berbeda. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan Sawah Baru, Institut Pertanian Bogor pada September-Desember 2019 menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor dengan tiga ulangan. Tiga ekotipe padi yaitu padi sawah (IPB 3S, Inpari 30), padi gogo (Inpago 9, Inpago 10) dan padi rawa (Inpara 8, Inpara 9) ditanam dengan budidaya padi sawah kemudian diratun pada empat ketinggian (10, 20, 30, dan 40 cm) dari permukaan tanah untuk menstimulir ratun. Hasil menunjukkan bahwa anakan ratun terbanyak dari IPB 3S dan Inpago 9 dihasilkan dengan tinggi potongan 20 cm. Anakan produktif berkorelasi secara signifikan terhadap hasil ratun dalam GKG. Hasil tertinggi ratun dapat diperoleh dari padi sawah (IPB 3S) dengan ketinggian 30 cm dan padi rawa (Inpara 8) dengan ketinggian 20 cm. Sidik lintas menunjukkan jumlah gabah per malai adalah karakter yang berpengaruh langsung terhadap hasil ratun. Kata kunci: buku tunas, sidik lintas, tinggi tunggul padi

Filter by Year

1994 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 53 No. 3 (2025): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 53 No. 2 (2025): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 53 No. 1 (2025): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 52 No. 3 (2024): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 52 No. 2 (2024): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 52 No. 1 (2024): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 51 No. 3 (2023): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 51 No. 2 (2023): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 51 No. 1 (2023): Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 50 No. 3 (2022): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 50 No. 2 (2022): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 50 No. 1 (2022): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 49 No. 3 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 49 No. 2 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 49 No. 1 (2021): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 48 No. 3 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 48 No. 2 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 48 No. 1 (2020): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 47 No. 3 (2019): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 47 No. 2 (2019): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 47 No. 1 (2019): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 46 No. 3 (2018): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 46 No. 2 (2018): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 46 No. 1 (2018): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 45 No. 3 (2017): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 45 No. 2 (2017): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 45 No. 1 (2017): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 44 No. 3 (2016): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 44 No. 2 (2016): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 44 No. 1 (2016): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 43 No. 3 (2015): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 43 No. 2 (2015): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 43 No. 1 (2015): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 42 No. 3 (2014): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 42 No. 2 (2014): Jurnal agronomi indonesia Vol. 42 No. 1 (2014): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 41 No. 3 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 41 No. 2 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 41 No. 1 (2013): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 40 No. 3 (2012): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 40 No. 2 (2012): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 40 No. 1 (2012): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 39 No. 3 (2011): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 39 No. 2 (2011): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 39 No. 1 (2011): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 38 No. 3 (2010): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 38 No. 2 (2010): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 38 No. 1 (2010): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 37 No. 3 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 37 No. 2 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 37 No. 1 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 36 No. 3 (2008): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 36 No. 2 (2008): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 36 No. 1 (2008): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 35 No. 3 (2007): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 35 No. 2 (2007): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 35 No. 1 (2007): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 34 No. 3 (2006): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 34 No. 2 (2006): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 34 No. 1 (2006): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 33 No. 3 (2005): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 33 No. 2 (2005): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 33 No. 1 (2005): Jurnal Agronomi Indonesia Vol. 32 No. 3 (2004): Buletin Agronomi Vol. 32 No. 2 (2004): Buletin Agronomi Vol. 32 No. 1 (2004): Buletin Agronomi Vol. 31 No. 3 (2003): Buletin Agronomi Vol. 31 No. 2 (2003): Buletin Agronomi Vol. 31 No. 1 (2003): Buletin Agronomi Vol. 30 No. 3 (2002): Buletin Agronomi Vol. 30 No. 2 (2002): Buletin Agronomi Vol. 30 No. 1 (2002): Buletin Agronomi Vol. 29 No. 3 (2001): Buletin Agronomi Vol. 29 No. 2 (2001): Buletin Agronomi Vol. 29 No. 1 (2001): Buletin Agronomi Vol. 28 No. 3 (2000): Buletin Agronomi Vol. 28 No. 2 (2000): Buletin Agronomi Vol. 28 No. 1 (2000): Buletin Agronomi Vol. 27 No. 3 (1999): Buletin Agronomi Vol. 27 No. 2 (1999): Buletin Agronomi Vol. 27 No. 1 (1999): Buletin Agronomi Vol. 26 No. 3 (1998): Buletin Agronomi Vol. 26 No. 2 (1998): Buletin Agronomi Vol. 26 No. 1 (1998): Buletin Agronomi Vol. 25 No. 3 (1997): Buletin Agronomi Vol. 25 No. 2 (1997): Buletin Agronomi Vol. 25 No. 1 (1997): Buletin Agronomi Vol. 24 No. 1 (1996): Buletin Agronomi Vol. 23 No. 3 (1995): Buletin Agronomi Vol. 23 No. 2 (1995): Buletin Agronomi Vol. 23 No. 1 (1995): Buletin Agronomi Vol. 22 No. 2 (1994): Buletin Agronomi Vol. 22 No. 1 (1994): Buletin Agronomi More Issue