cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 294 Documents
ubungan Kejadian Diabetes Mellitus dengan Derajat Penyakit Ginjal Kronik Berdasarkan Laju Filtrasi Gromerulus (LFG) Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2016 Achmad Taruna; Hidayat Hidayat; Tessa Sjahriani; Yuni Anggraini Marek
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 4, No 2 (2020): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v4i2.2870

Abstract

Diabetes Melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Bila kadar glukosa tinggi di dalam darah dan tidak diuraikan, glukosa dapat bertindak seperti racun. Glukosa dalam darah yang tidak dipakai akan menyebabkan kerusakan pada oragan lain, salah satunya nefron ginjal yang selanjutnya disebut nefropati diabetik. Pada sebagian penderita komplikasi ini akan berlanjut menjadi Penyakit Ginjal Kronik (PGK). PGK adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kejadian diabetes melitus dengan derajat penyakit ginjal kronik berdasarkan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Tahun 2015-2016. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah penderita PGK. Data DM dan LFG diperoleh dari Rekam Medik. Uji statistic menggunakan uji korelasi Spearman dengan nilai kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan responden PGK terbanyak berjenis kelamin laki-laki 53 orang (59,6%) dengan kelompok umur terbanyak 45-65 tahun (64,0%). Responden penderita PGK terbanyak pada derajat 4 yaitu 54 orang (60,7%) dengan penyebab terbanyak dalah DM sebanyak 63 orang (70,8%). Pada uji bivariate yang menyebutkan korelasi DM dengan derajat PGK berdasarkan LFG didapatkan nilai p = 0,000 r =-0,422. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian DM dengan derajat PGK berdasarkan LFG dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sedang.Kata Kunci: Diabetes melitus, Derajat Penyakit Ginjal Kronik, Laju Filtrasi Glomerulus
Systematic Cause Analysis Technique Winda Trijayanthi Utama
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 4, No 2 (2020): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v4i2.2887

Abstract

Occupational safety and health are one of the basic rights for workers which is a component of human rights. Occupational Safety and Health aims to protect workers for their safety in doing work for the welfare of life and increase national production and productivity, to become the safety of everyone else in the workplace, and to maintain and use production sources safely and efficiently. In practice in the field, it turns out that there are still many workplaces and workers who tend to work environments, work activities or other factors related to work that are unsafe and can cause accidents or occupational diseases. Accidents are unexpected and unexpected events in which there is no planning element.Keywords: Total Recordable Injury, Incident Rate, Medical Treatment Cases, Restricted Workday and Transfer Activity Cases, Lost Workday Cases and Fatalities.
Hipertensi Dan Inflamasi: Sebuah Perspektif Ke Depan Untuk Target Terapi Baru Diano Ramadhan Fauzan; Nur Ayu Virginia Irawati; Muhammad Yogi Fadli
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 4, No 2 (2020): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v4i2.2876

Abstract

pertensi adalah penyakit kronis yang diderita 1,13 miliar orang di seluruh dunia. Secara global, penyakit kardiovaskular menyebabkan 17 juta kematian setiap tahun dan 9,4 juta dari kematian tersebut adalah komplikasi hipertensi. Di Indonesia, jumlah hipertensi meningkat dari 25,8% menjadi 34,1% selama 5 tahun terakhir. 90% hipertensi adalah hipertensi primer. Penyebab pasti dari hipertensi primer masih belum sepenuhya diketahui. Tekanan darah tinggi pada sebagian besar individu berhasil diobati dengan obat-obatan yang ada, tetapi beberaparesisten terhadap pengobatan. Studi menghubungkan hipertensi dengan proses inflamasi. Meskipun target tekanan darah tercapai, pasien dengan hipertensi masih berisiko terkena penyakit kardiovaskular yang disebabkan oleh peradangan yang mendasarinya. Beberapa penelitian meyakini bahwa proses inflamasi mendahului terjadinya hipertensi. Proses inflamasi dikaitkan dengan respon imun bawaan dan adaptif, stres oksidatif dan sitokin proinflamasi. Sistem kekebalan tubuh merespon molekul endogen (di samping patogen eksogen) yang dilepaskanoleh sel-sel yang stres, rusak, atau nekrotik yang disebut DAMPS. Stres oksidatif dan sitokin yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh juga memainkan peran utama dalam hipertensi. Penelitian telah dilakukan untuk menghambat faktor-faktor ini, yang mungkin berpotensi untuk target terapi baru. Peran sistem kekebalan tubuh dan inflamasi dalam terjadinya hipertensi adalah perspektif baru untuk mengatasi hipertensi.Kata kunci: Hipertensi, inflamasi,  sistem imun
Vitiligo Rika Lukas; Hendra Tarigan Sibero
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i2.2523

Abstract

Vitiligo merupakan penyakit kulit dan membran mukosa kronis akibat destruksi melanosit, dengan karakteristik makula depigmentasi, mempunyai faktor predisposisi multifaktorial dan faktor pencetus seperti trauma, terbakar matahari, stres, dan penyakit sistemik. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, tetapi terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang hilangnya melanosit epidermal pada vitiligo. Teori patofisiologi vitiligo yang paling berperan antara lain mekanisme autoimun, sitotoksik, biokimia, oksidan-antioksidan, neural, dan virus. Manifestasi klinis berupa makula amelanotik berwarna putih susu atau seperti kapur, biasanya berbatas tegas dan tepi dapat berlekuk. Klasifikasi vitiligo antara lain segmental, akrofasial, generalisata, dan universal, atau berdasarkan pola daerah yang terkena yaitu jenis fokal, campuran, dan mukosa. Penyakit endokrinopati yang sering ditemukan pada pasien vitiligo antara lain disfungsi tiroid, penyakit hipertiroid lain (penyakit Grave) atau hipotiroid (tiroiditis Hashimoto). Pemeriksaan laboratorik yang membantu dalam membangun diagnosis vitiligo, antara lain kadar thyroid stimulating hormone, anti-nuclear antibody, dan darah lengkap. Pada pemeriksaan histologi tidak ditemukan melanosit pada lesi kulit. Pengobatan berupa tabir surya, kortikosteroid topikal, imunumodulator topikal, kalsipotriol topikal, pseudokatalase, kortikosteroid sistemik, PUVA, NBUVB, laser excimer, bioskin, laser helium neon, khellin, L-fenilalanin, antioksidan, depigmentasi, autologous thin thiersch grafting, suction blister grafts, transplantasi kultur melanosit autologous, kamuflase, TNF-α, dan imunosupresan sistemik. Kata kunci: etiologi, pengobatan, vitiligo
Peran Onkogen dan Tumor Suppressor Gene pada Karsinogenesis Selvi Rahmawati
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 5, No 1 (2021): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v5i1.2935

Abstract

Kanker merupakan penyakit keganasan yang sangat berkaitan dengan abnormabilitas genetik. Penyebab terjadinya abnormabilitas genetik adalah mutasi yang terjadi pada gen terkait jalur sinyaling proliferasi, apoptosis, dan diferensiasi sel. Onkogen dan tumor suppressor gen (TSG) merupakan dua kelompok gen yang paling banyak berkontribusi pada karsinogenesis. Onkogen merupakan bentuk mutasi dari proto-onkogen yang pada kondisi normal banyak berperan pada proses pembelahan atau proliferasi sel. Onkogen pada sel kanker berperan dalam menginduksi proliferasi sel sehingga pembelahan sel menjadi tidak terkontrol. Sedangkan TSG merupakan kelompok gen yang pada kondisi normal berperan pada proses induksi apoptosis atau inhibisi proliferasi. Mutasi kedua kelompok gen ini sering ditemukan bervariasi pada satu massa tumor, atau dikenal sebagai mutasi yang bersifat heterogenik. Meskipun demikian, mutasi yang bersifat homogen juga dapat ditemukan pada sel stem atau progenitor yang kemudian akan mengalami reprogamming atau pemrogaman ulang sehingga menghasilkan sel anakan hasil diferensiasi yang bersifat onkogenik. Karena besarnya keterkaitan onkogen dan TSG pada karsinogenesis, hingga kini penelitian mengenai kedua kelompok gen masih terus dikembangkan karena sangat berpotensi digunakan sebagai target terapi kanker. Kata kunci : Karsinogenesis, Onkogen, Tumor Suppressor Gene.
Analisis Self Directed Learning Readiness terhadap Prestasi BelajarMahasiswa Semester 2 Tahun Ajaran 2015/2016 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu Riry Ambarsarie; Noor Diah Erlinawati; Dessy Triana
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1628

Abstract

Saat ini terjadi perubahan paradigma pendidikan kedokteran di Indonesia, yaitu dari teacher centered learning (TCL) menjadi ke arah student centered learning (SCL). Perubahan ini tidak hanya membawa dampak terhadap metode dan aktivitas belajar tetapi juga pada hasil belajar. self-directed learning readiness (SDLR) merupakan kesiapan atau kesediaanseseorang untuk belajar mandiri, yang terdiri dari komponen sikap, kemampuan dan karakteristik personal. Mahasiswa tahun pertama mengalami banyak masalah dalam proses adaptasi belajar pada lingkungan belajar yang bersifat SCL seperti Problem Based Learning (PBL), terutama mahasiswa yang berasal dari sekolah menengah atas yang tidak menerapkan belajar. Hal ini yang melatarbelakangi peneliti untuk melakukan analisis mengenai kesiapan self-directed learningmahasiswa semester 2 tahun ajaran 2015/2016 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Bengkulu (FKIK UNIB) terhadap prestasi belajarnya. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif-kualitatif dengan metode cross sectional. Penelitian ini dilakukan di kampus FKIK UNIB pada minggu ke-4 bulan Februari sampai minggu ke-2 bulan Maret 2016 dengan sampel seluruh mahasiswa tingkat I tahun ajaran 2015/2016 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian pada 54 sampel menunjukkan bahwa prestasi belajar pada mahasiswa FKIK UNIB tidak dipengaruhi oleh kesiapan atau kesediaan seseorang untuk belajar mandiri (self-directed learning readiness). Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan bahwa prestasi belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kesiapan belajar mandiri saja, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa hal lain seperti faktorfisik ataupun faktor psikologis (intelegensi, bakat, minat, motivasi dan kesehatan mental itu sendiri). [JK Unila. 2016;1(2)]Kata kunci : belajar, prestasi, self-directed learning
Mikrobiota Saluran Cerna: Tinjauan dari Aspek Pemilihan Asupan Makanan Ardesy Melizah Kurniati
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1644

Abstract

Mikrobiota adalah kumpulan mikroorganisme yang hidup pada tubuh inang. Sebagian besar mikrobiota adalah bakteri dan saluran cerna merupakan lokasi koloni terbanyak. Sepanjang usia manusia, populasi mikrobiota saluran cerna dapat terus mengalami perubahan. Komposisi mikrobiota juga bervariasi antar individu. Faktor-faktor yang memengaruhi perubahan tersebut di antaranya kolonisasi maternal, asupan, pajanan lingkungan, dan terapi antimikroba. Komposisi mikrobiota yang tidak seimbang dapat memengaruhi kondisi kesehatan.  Ketidakseimbangan rasio mikrobiota, berupa penurunan keragaman bakteri protektif dan peningkatan jumlah bakteri patogen dapat menimbulkan berbagai penyakit saluran cerna, di antaranya inflammatory bowel disease (IBD), irritable bowel syndrome, hingga kanker kolorektal. Sebagian besar mikrobiota saluran cerna terutama mendapatkan makanannya dari asupan oligosakarida. Asupan prebiotik, yaitu oligosakarida tidak tercernayang bersumber dari buah-buahan dan sayuran tinggi serat membuat kolonisasi mikrobiota makin beragam. Mikrobiota saluran cerna bertugas mengolah karbohidrat tak tercerna dari asupan, hingga berperan pada proses sintesis dan metabolisme zat-zat gizi. Sepanjang manusia hidup, interaksi antara nutrisi dan mikrobiota terus terjadi. Jenis asupanmakanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sejak awal kehidupan, transisi menuju makanan padat, hingga jenis asupan pada anak dan dewasa merupakan sesuatu yang dapat dipilih. Pemilihan asupan nutrisi dengan komposisi yang tepat dan seimbang diharapkan dapat memelihara komposisi mikrobiota saluran cerna yang bersifat protektif agar seterusnya menghasilkan interaksi yang menguntungkan. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata Kunci: asupan, mikrobiota saluran cerna, nutrisi
Diagnosis dan Tatalaksana Skrofuloderma pada Anak dengan Infeksi Human Immunodeficiency Virus dan Gizi Buruk Dwi Indria Anggraini; Roro Rukmini Windi Perdani; Piesta Prima Beta Pairul
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i2.2518

Abstract

Latar belakang: Skrofuloderma merupakan tuberkulosis (TB) kulit sekunder yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis dan terjadi perkontinuitatum. Skrofuloderma merupakan kasus yang jarang dan sering mengalami keterlambatan dalam diagnosis. Gambaran klinis skrofuloderma dapat menyerupai penyakit infeksi kulit lainnya. Skrofuloderma diawali dengan timbul benjolan di area kelenjar limfe yang makin membesar dan pecah membentuk ulkus dengan pinggir merah kebiru-biruan dan dinding bergaung. Pengobatan yang tidak tepat dan ketidakpatuhan dapat menyebabkan resistensi kuman tuberkulosis sehingga tidak memberikan respon terapi yang baik. Tujuan: melaporkan satu kasus pada seorang pasien anak dengan skrofuloderma dan Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta gizi buruk. Kasus: seorang anak perempuan berusia 6 tahun dengan keluhan timbul benjolan-benjolan dan menjadi luka pada area pinggang, perut bawah, dan lipat paha sejak 4 bulan yang lalu. Keluhan tidak nyeri atau gatal. Pada regio flank, suprapubik dan inguinal sinistra tampak ulkus multipel, dangkal, bentuk iregular, tepi livide, dinding bergaung dan dasar bersih. Pada inguinal dextra tampak nodul soliter, ukuran 3x4 cm, bewarna livide. Pada pemeriksaan rontgen thoraks terdapat gambaran TB paru dengan skoring TB diperoleh skor 7. Pemeriksaan HIV diperoleh hasil reaktif. pasien menderita gizi buruk dengan berat badan/umur pasien kurang dari 80%. Pasien didiagnosis dengan skrofuloderma, TB paru, HIV, dan gizi buruk. Penatalaksanaan: pemberian obat oral antituberkulosis (OAT) pada anak berupa rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol selama 2 bulan dan dilanjutkan dengan rifampisin dan Isoniazid selama 4 bulan. Hasil terapi memberikan hasil baik. Kesimpulan: Skrofuloderma terjadi secara perkontinuitatum pada pasien anak dengan TB paru dan dapat sembuh dengan pengobatan oral OAT. Kata kunci: gizi buruk, HIV, skrofuloderma, tuberkulosis, obat antituberkulosis
Hubungan antara Faktor Resiko Pajanan Lingkungan dengan Kasus Eksaserbasi Asma Bronkial di Pringsewu, Lampung Adityo Wibowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1712

Abstract

Asma bronkial merupakan salah satu penyakit alergi yang masih menjadi masalah kesehatan baik di negara maju maupun di negara berkembang. Menurut survey Dinas Kesehatan Pringsewu pada tahun 2015 Angka kesakitan asma termasuk urutan tertinggi dari penyakit saluran pernafasan yang diderita warga. Eksaserbasi asma (serangan asma atau asma akut) adalah episode peningkatan progresif dari sesak napas, batuk, wheezing, dada terasa berat, atau beberapa kombinasi dari gejalagejala tersebut. Hal ini ditandai dengan penurunan volume udara ekspirasi yang dapat dinilai dengan pengukuran volumeekspirasi paksa detik pertama (forced expiration volume-1) atau arus puncak ekspirasi (peak expiration flow) pada pemeriksaan fungsi paru. Resiko berkembangnya eksaserbasi asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara faktor resiko pajanan lingkungandengan kasus eksaserbasi asma bronkial di Pringsewu, Lampung. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan metode cross sectional, menggunakan data primer dan sekunder. Penelitian ini dilakukan di Klinik Spesialis Paru Harum Melati, Pringsewu, Lampung. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien asma, sampel diambil dengan metode total sampling. Jika terdiagnosa klinis asma, maka pasien akan dilakukan informed consent untuk pengisian kuesioner dan pemeriksaanpenunjang konfirmasi menggunakan spirometri sebanyak dua kali yaitu pre dan post bronkodilator. Jumlah total sampel yang memenuhi kriteria inklusi selama bulan September sampai dengan November 2016 sejumlah 60 orang. Faktor resiko penyebab asma tersering di Pringsewu, Lampung adalah debu, olahan tanaman, dan asap. Derajat keparahan pasienbervariasi akan tetapi masih didominasi oleh keparahan derajat ringan yaitu kurang dari dua kali kekambuhan dalam sebulan.Kata Kunci : derajat keparahan, ekserbasi asma bronkial, pajanan lingkungan
Hipertensi Portal pada Anak Roro Rukmi Windi Perdani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1728

Abstract

Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan vena portal di atas 5 mmHg. Referensi lain menyebutkan tekanan normal vena portal antara 5-10 mmHg dan apabila lebih dari 12 mmHg terjadi komplikasi seperti varises dan asites. Etiologi hipertensi portal terdiri prehepatik, hepatik dan pos hepatik. Manifestasi klinis dapat berupa perdarahan gastrointestinal,splenomegali, sites, gagal hati (liver failure), dan sistemik  portoensefalopati. Tata laksana hipertensi portal terdiri dari pengobatan dengan medikamentosa terutama untuk mencegah perdarahan varises akibat peningkatan tekanan portal, dapat berupa operatif. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan antara lain Pemeriksaan hematologi menentukan adanya tanda-tanda hipersplenisme anemia, leukopenia dan trombositopenia, waktu protrombin dan faal pembekuan lainnya.Pemeriksaan fungsi hati secara biokimia, gangguan fungsi hati lebih sering didapatkan pada penyebabkan intrahepatik dibanding prehepatik. Pemeriksaan USG dapat terlihat adanya kolateral dan splenomegali, perubahan echotexture. Sedangkan colour Doppler dapat memberikan informasi kecepatan dan arah vena porta, vena hepatika, dan vena cava.Endoskopi gastrointestinal dapat digunakan untuk melihat gambaran mukosa seperti gastropati dan varises. CT dan MRI dapat digunakan untuk evaluasi lesi fokal, derajat obstruksi vena dan keadaan parenkim liver. Biopsi liver per kutan dilakukan bila tidak ada kontra indikasi terutama untuk mengetahui penyebab intrahepatik. Pengobatan medikamentosa terdiri dari short acting splanchnic vasoactive agents, growth hormone inhibitor factor, vasokonstriktor, long acting splanchnic vasoactive agents, beta-adrenergik vasoactive agents, alpha –adrenergik receptors blockers, 5HT receptor antagonis, nitrovasodilator, diuretics.Kata kunci : hepatik, hipertensi portal, poshepatik, prehepatik