cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 294 Documents
Uji Diagnostik Kecacingan antara Pemeriksaan Feses dan Pemeriksaan Kotoran Kuku pada Siswa SDN 1 Krawangsari Kecamatan Natar Lampung Selatan Betta Kurniawan; Muhammad Ricky Ramadhian; Nurul Sahana Rahmadhini
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 1 (2018): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i1.1907

Abstract

Kecacingan terjadi diawali dengan tertelannya telur atau masuknya larva yang infektif ke dalam kulit. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tertelannya telur cacing berkaitan dengan higinitas yaitu kuku yang panjang dan tidak terawat. Pemeriksaan kotoran kuku akan dibandingkan dengan pemeriksaan gold standard untuk mengetahui nilai sensitivitas pemeriksaan kotoran kuku. Penelitian ini bersifat analitik komparatif dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian terdiri dari 58 siswa dengan mengambil sampel feses dan kotoran kuku. Pemeriksaan feses dilakukan dengan metode apung dan pemeriksaan kuku dilakukan dengan metode sedimentasi. Angka kejadian kecacingan menggunakan bahan pemeriksaan feses sebesar 56% dan angka kejadian kecacingan menggunakan bahan pemeriksaan kotoran kuku sebesar 24,1%. Berdasarkan uji Mc-nemar didapatkan nilai p sebesar 0,02 yang artinya ada perbedaan yang bermakna antara pemeriksaan kotoran kuku dan pemeriksaan feses. Nilai sensitivitas dan spesifisitas sebesar 18,2% dan 68%. Nilai duga positif sebesar 42,8% dan nilai duga negatif sebesar 43,1%. Hasil pemeriksaan kuku dengan pemeriksan feses secara statistik terdapat perbedaan. Nilai sensitivitas didapatkan rendah, sehingga pemeriksaan kotoran kuku tidak mampu disetarakan dengan pemeriksaan feses.Kata Kunci : Diagnosis, kecacingan, pemeriksaan feses, pemeriksaan kuku
Hubungan antara Pajanan Kadmium dan Kanker Prostat pada Pekerja: Laporan Kasus Berbasis Bukti Dina Tri Amalia; Nuri Purwito Adi; Indah Suci Widyahening
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 5, No 1 (2021): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v5i1.2930

Abstract

Kadmium memiliki peranan penting karena banyak digunakan di berbagai macam industri. Kadmium dapat masuk dan terakumulasi dalam tubuh termasuk di prostat. Kadmium sangat toksik dan bisa menyebabkan kanker. Tujuan dari laporan kasus berbasis bukti ini adalah untuk mendapatkan jawaban yang tepat terkait hubungan antara pajanan kadmium di tempat kerja dan kanker prostat pada pekerja. Metode dengan pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed, Scopus dan Cochrane Library. Kata kunci yang digunakan adalah cadmium, cancer, prostate, work* dan occupation*. Pemilihan artikel menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Kemudian dilakukan penilaian kritis menggunakan kriteria yang relevan untuk studi etiologi atau systematic review berdasarkan Oxford Center for Evidence-Based Medicine. Terpilih dua artikel yang relevan dan valid dengan desain studi systematic review dan meta-analisis. Penelitian dari Ju-Kun, dkk menunjukkan rasio kematian terstandarisasi (standardized mortality ratio) antara pajanan Cd dan risiko terjadinya kanker prostat adalah 1.66 (95% CI 1.10–2.50) pada populasi pekerja yang terpajan Cd. Berdasarkan penelitian Chen, dkk menunjukkan bahwa pekerja dengan pajanan kadmium memiliki risiko terjadinya kanker prostat yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum, namun secara statistik tidak signifikan yakni dengan nilai OR pada studi case-control 1.17 (95%CI [0.85-1.62]), dan standardized mortality ratio (*100) pada studi kohort adalah 98 (95%CI [75-126]). Hasil studi yang ada tidak menunjukkan bukti yang cukup untuk memastikan bahwa pajanan kadmium bisa menyebabkan kanker prostat pada pekerja. Key words: Kadmium, kanker prostat, pekerja.
Hubungan antara Jalur Seleksi dengan HasilUji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Dwita Oktaria; Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 2 (2018): Jk Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i2.1950

Abstract

Peningkatan dan penjaminan mutu proses pendidikan merupakan proses komprehensif dan tidak terpisahkan,dimulai dari input, proses pendidikan yang sesuaidengan standar agar menghasilkan output yang berkualitas. Pemerintah telah berusaha melakukan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi bidang kesehatan dengan menyelenggarakan uji kompetensi secara nasional.Hasil uji kompetensi akan menjadi dasar pembinaan program studi bidang kesehatan, dan menentukan kuota penerimaan mahasiswa baru program studi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis komparatif dengan pendekatan cross sectional. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara teknik total sampling dengan mengambil seluruh angkatan 2008 - 2011 yang telah mengikuti Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Didapatkan hubungan antara jalur seleksi dengan tingkat kelulusan first taker UKMPPD. Persentase kelulusan tertinggi didapatkan melalui jalur SBMPTN yaitu sebesar 88,6%. SBMPTN, menunjukkan berbagai keuntungan dan keunggulan, baik bagi peserta, PTN, maupun bagi kepentingan nasional.Ujian SBMPTN mengukur kemampuan dasar yang dapat memprediksi keberhasilan calon mahasiswa di semua program studi.Jalur SNMPTN dan PBUD yang seleksinya menggunakan nilai rapor kandidat saat pendidikan menengah ataupun prestasi mahasiswa tidaklah memiliki standar penilaian yang jelas karena sistem penilaian yang berbeda-beda.Sedangkan seleksi jalur mandiri, merupakan tes yang dilakukan secara lokal oleh masing-masing Universitas setelah pengumuman SBMPTN. Untuk dapat menghasilkan output yang baik, diperlukan seleksi input yang baik dan juga proses pembelajaran yang berkualitas. Kuota untuk jalur SBMPTN sebaiknya diperbanyak bukan dialihkan ke jalur undangan ataupun mandiri karena hal ini akan mempengaruhi kualitas mahasiswa perguruan tinggi negeri. Kata kunci: seleksi mahasiswa, SBMPTN, SNMPTN, Ujian Mandiri, UKMPPD.
Perubahan Kekuatan Otot Dasar Panggul pada Wanita Primipara Pascapersalinan Pervaginam dan Seksio Sesaria Ratna Dewi Puspita Sari
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1623

Abstract

Kehamilan dan persalinan merupakan proses yang sangat esensial pada wanita dalam kehidupan. Wanita akan mengalami berbagai perubahan fisiologis, hormonal, maupun morfologi selama proses kehamilannya seiring dengan perkembangan janin hingga proses persalinan yang juga dapat berkembang menjadi berbagai gejala hingga kondisi patologis. Otot dasar panggul pada wanita merupakan organ penting penyokong fungsi organ-organ vital. Fungi utama otot dasar panggul adalah penyokong, sfingterik, dan fungsi seksual. Sebagian besar disfungsi dihubungkan dengan kerusakan akibat proses persalinan, terutama yang pertama. Penelitian ini menggunakan desain penelitian potong lintang dan pengukuran berulang prospektif. Penelitian ini dilakukan di kamar bersalin dan poliklinik terpadu Departemen Obstetri dan Ginekologi RumahSakit dr. Mohammad. Hoesin Palembang. Waktu penelitian dilaksanakan selama 1 tahun, yaitu 1 April 2011 sampai 31 Maret 2012. Kekuatan otot dasar panggul secara bermakna dipengaruhi oleh masing-masing faktor, namun kombinasi usia, indeks massa tubuh, usia gestasi, dan berat bayi lahir bersama-sama dapat mempengaruhi kekuatan ODP. Pada kelompokpervaginam, rerata perineometri sebelum persalinan adalah 9,152±0,8149 cm H2O, setelah persalinan 8,130±0,9301 cm H2O, dan 3 bulan pascasalin 10,181±0,9154 cmH2O. Rerata kekuatan otot dasar panggul pada kelompok seksio sesarea sebelum operasi 9,768±0,7355 cm H2O, setelah operasi 9,775±0,7150 cm H2O, dan 3 bulan pascaoperasi 10,580±0,7307 cm H2O. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa terdapat perubahan kekuatan otot dasar panggul yang bermakna pada persalinan pervaginam, baik secara spontan, ekstraksi vakum, maupun forseps, namun penurunan perineometri mengalami perbaikan setelah 3 bulan. Tidak terdapat perubahan kekuatan otot dasar panggul yang bermakna pada kelompok seksio sesarea. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata Kunci : otot dasar panggul, perineometri
Kejadian dan Distribusi Kelainan Kongenital Pada Bayi Baru Lahir di RS dr. Moehammad Hoesin Palembang Periode Januari-November 2015 Ziske Maritska; Siti Rahma Anissya Kinanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1639

Abstract

Kelainan kongenital merupakan suatu kelainan struktur maupun kelainan fungsi yang timbul akibat gangguan pada periode intrauterine. Penegakkan diagnosa kelainan kongenital dapat dilakukan baik sebelum lahir, saat lahir, ataupun setelahnya. Angka kejadian kelainan kongenital bervariasi di setiap negara, di Indonesia angka kejadian kelainan kongenital mencapai 5 dari 1000 kelahiran (5%). Kelainan kongenital dapat terjadi pada semua sistem tubuh. Berbagai studi mengindikasikanbahwa sistem kardio-toraks, sistem saraf pusat dan kelainan kromosom merupakan jenis kelainan kongenital yang banyak dijumpai di seluruh dunia. Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi angka kejadian kelainan kongenital pada bayi baru lahir di RSMH Palembang periode Januari-November 2015 serta untuk mengidentifikasi jenis kelainan kongenital yang paling banyak dijumpai di RSMH Palembang. Seluruh bayi yang lahir dan dirawat serta dinyatakan menderita kelainan kongenital oleh dokter spesialis anak yang berkompeten di RSMH Palembang pada periode penelitian dijadikan sampel. Dari hasil penelitian didapatkan sebanyak 108 bayi yang terdiagnosa dengan berbagai jenis kelainan kongenital pada periode Januari-November 2015 di RSMH Palembang. Adapun jenis kelainankongenital yang dijumpai pada 108 sampel penelitian meliputi kelainan pada sistem susunan saraf pusat, sistem kardiotoraks, sistem gastro-intestinal, sistem kranio-fasial, sistem muskuloskeletal dan juga kelainan kromosom. Kasus-kasus kelainan kongenital pada sistem gastro-intestinal merupakan jenis kelainan kongenital yang paling banyak dijumpai diRSMH Palembang (50%), diikuti oleh kasus-kasus kelainan kongenital pada sistem kardio-toraks (29,63%). Simpulan : kejadian kelainan kongenital di RSMH Palembang paling banyak mengenai sistem gastro-intestinal. [JK Unila. 2016;1(2)]Kata kunci: bayi baru lahir, distribusi, kejadian, kelainan kongenital
Terapi Paliatif bagi Penderita Kanker Ginekologi Syifa Alkaf
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1655

Abstract

Terapi paliatif merupakan bentuk perawatan yang bertujuan mengurangi gejala penyakit dan memperbaiki kualitas hidup pasien, tanpa dipengaruhi stadium dan keparahan penyakit. Terapi paliatif terdiri dari tiga fase yaitu fase pertama yang terfokus pada peningkatan kualitas hidup, fase kedua yang berorientasi menghilangkan gejala, dan fase terminal yang bertujuan mengurangi penderitaan pasien menjelang kematian. Pendekatan terapi paliatif pada pasien keganasan ginekologiterutama bertujuan mengurangi gejala yang umum antara lain kelelahan, nyeri, mual dan muntah, diare, sesak nafas, dan konstipasi. Keganasan ginekologi juga dapat mencetuskan gangguan fungsi seksual dan gangguan tidur yang dapat diatasi dengan terapi sulih hormon dan anti depresan. Pembedahan paliatif dapat dilakukan pada kasus obstruksi usus maligna, sedangkan radioterapi dan kemoterapi paliatif biasa digunakan baik sebagai terapi definitif maupun ajuvan. Radioterapimengurangi edema limfe dan mengatasi pendarahan ginekologik, sedangkan kemoterapi dikatakan dapat memperpanjang overall survival dan progression free survival. Perawatan paliatif juga dapat dilakukan dengan perawatan rumah.Perawatan rumah terutama dilakukan pada pasien stadium dengan usia harapan hidup kurang dari enam bulan. Komunikasi adalah penting bagi dokter untuk menyampaikan berita buruk (breaking bad news) dengan cara yang tepat dan waktu yang tepat.Pada pasien menjelang ajal, penting untuk membuat pasien merasa nyaman. Bila perlu, segala bentuk pengobatan yang berlebihan dan sia-sia sebaiknya dihentikan. Simpulan, terapi paliatif pada penderita keganasan ginekologi dapat diberi bersamaan ataupun setelah terapi definitif. Terapi paliatif ditujukan untuk mengurangi gejala penyakit dan memperbaiki kualitas hidup pasien. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci: keganasan ginekologi, perawatan rumah, terapi paliatif
Dampak Bioaerosol terhadap Pernapasan Agus Dwi Susanto; Dita Kurnia Sanie; Feni Fitriani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i2.2498

Abstract

Mikroorganisme terdapat di lingkungan kita, seperti di tanah, air, tanaman, hewan dan manusia. Kehadiran mikroorganisme di udara lingkungan kerja disebut bioaerosol. Bioaerosol didefinisikan sebagai partikel udara yang terdiri dari organisme hidup seperti mikroorganisme atau partikel yang berasal dari organisme hidup, seperti metabolit, toksin atau fragmen mikroorganisme. Partikel tersebut dapat terhirup oleh manusia dan dapat berpenetrasi ke dalam paru. Bioaerosol dapat mempengaruhi kualitas udara di tempat kerja dan kesehatan para pekerja. Keluhan respirasi dan gangguan fungsi paru telah banyak diteliti dan merupakan masalah kesehatan akibat bioaerosol yang paling utama. Penyakit utama akibat pajanan bioaerosol dapat dibedakan menjadi penyakit infeksi, penyakit respirasi dan kanker. Penyakit infeksi dan respirasi merupakan yang paling sering terjadi tetapi data akurat mengenai insidens dan prevalensi penyakit yang disebabkan oleh agen biologis masih kurang.Kata kunci: bioaerosol,masalah kesehatan, mikroorganisme
Perbedaan Nilai Sebelum dan Sesudah Bimbingan Metode Small Group Learning dalam Persiapan UKMPPD Nasional Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Rika Lisiswanti; Dwita Oktaria; Merry Indah Sari; Arif Yudho Prabowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1671

Abstract

Ujian kompetensi merupakan ujian untuk menguji kompetensi seseorang yaitu pengetahuan, keterampilan dan afektif. Ujian kompetensi untuk kedokteran adalah Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD). Ujian terdiri dari CBT (Computerized-Based Test) dan ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Ujian UKMPPDmempunyai dampak terhadap metode pendidikan kedokteran. Salah satunya adalah instansi pendidikan kedokteran menyiapkan mahasiswanya dalam dengan bimbingan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan pre experimental. Yaitu mahasiswa diberikan pre-tes dan postes serta nilai CBT UKMPPD. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2017. Populasi adalah mahasiswa yang akan mengikuti Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) Februari 2017. Populasi sebanyak 68 orang. Sampel yang didapat 66 orang yang akan mengikuti ujian Computer-Based Test (CBT) UKMPPD, 2 orang tidak memenuhi syarat. Bimbingan dengan metodelSmall Group Learning dalam bentuk diskusi dan membahas soal. Pada uji normalitas data didapatkan distribusi data pre-tes, pos-tes dan UKMPPD Nasional tidak normal yaitu nilai Kolmogorov-Smirnov p<0.05. Maka dilakukan uji Wilkoxon. Nilai rata-rata pre-tes mahasiswa didapatkan 57,90. Nilai rata-rata pos-tes adalah 59,66 dan nilai rata-rata UKMPPD Nasional adalah 64.81. Uji beda antara pre-tes dan pos-tes adalah p=0.010, nilai ini <0.05yang berarti terdapat perbedaan signifikan nilai antara nilai pre-tes dan pos tes. Uji beda antara pre-tes dan UKMPPD Nasional didapatkan p=0.001, nilai ini <0.05 hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan. Uji beda antara nilai pos-tes dan nilai UKMPPD adalah p=0.00, <0.05, hal ini juga terdapat perbedaan yang sifnifikan. Terdapat perbedaan signifkan nilai sebelum dan sesudah bimbingan dengan small group learning.Keyword: mahasiswa kedokteran, small group learning, UKMPPD, ujian kompetensi
Retinopati Diabetik: Tinjauan Kasus Diagnosis dan Tatalaksana Muhammad Yusran
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1723

Abstract

Diabetes mellitus (DM) dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskular berupa retinopati diabetik (RD). Kejadian RD cukup banyak dan dapat menimbulkan kebutaan jika tata laksana tidak adekuat. Tinjauan kasus ini bertujuan untuk menunjukkan pentingnya penegakan diagnosis yang cepat dan tepat melalui skrining, serta beberapa modalitas terapi pada RD. Pasien perempuan dengan penurunan tajam penglihatan secara perlahan sejak 6 bulan disertai timbul bayangan hitam pada matakiri yang makin memberat. Pasien menderitaDM, hipertensi, dan hiperkolesterol. Pasien didiagnosis dengan Proliferative Retinophaty Diabetic (PDR) pada kedua mata dan perdarahan vitreus pada mata kiri. Rencana terapi berupa laser fotokoagulasi panretinal dan fokal laser/intravitreal anti VEGF untuk mata kanan dan vitrektomi dengan endolaser pada mata kiri. Skrining rutin RD pada pasien DM perlu dilakukan. Pemeriksaan biomikroskopi, angiografi floresen, ultrasonografidan Optical Coherence Tomography (OCT)dapat dilakukan untuk penegakan diagnosis.Beberapa tata laksana RD meliputi fotokoagulasi laser, steroid intravitreal, vitrektomi dan anti-Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) intravitreal. Kata kunci: diabetes mellitus, non-Proliferative Retinophaty Diabetic, Proliferative Retinophaty Diabetic, retinopati diabetik.
Korelasi Antara Panjang Tulang Radius Dengan Tinggi Badan Pada Pria Dewasa Suku Lampung dan Suku Jawa di Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Anggraeni Janar Wulan; Indhraswari Dyah W.
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 1 (2018): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i1.1902

Abstract

Proses identifikasi forensik merupakan proses penentuan tinggi badan yang merupakan langkah utama ketika hanya sebagian tubuh yang ditemukan. Salah satu cara menentukan tinggi badan adalah dengan menggunakan panjang dari tulang panjang seperti tulang radius. Penelitian ini ditunjukkan untuk mengetahui hubungan panjang tulang radius dengan tinggi badan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2015 di Kecamatan Gisting, dengan metode deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode non probability sampling yaitu consecutiv sampling dan memperoleh 88 responden untuk masing-masing suku Lampung dan suku Jawa. Rerata panjang tulang radius pada pria dewasa suku Lampung adalah 25,9 ± 1,469 (22-28) cm dan tinggi badan rerata pria dewasa suku Lampung adalah 164 ± 0,045 (156-179) cm dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0.452. Panjang radius rerata pria dewasa suku Jawa adalah 25,6 ± 1,470 (22-28) cm dan tinggi badan rerata pria dewasa suku Jawa adalah 163 ± 0,045 (151-175) cm dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,471. Dapat disimpulkan bahwa panjang tulang radius memiliki korelasi sedang dengan tinggi badan baik pada suku Lampung maupun suku Jawa.Kata kunci:Identifikasi forensik, panjang radius, tinggi badan.