cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 294 Documents
Pengaruh Komorbid terhadap Terjadinya Bakterimia MDR Gram Negatif pada Pasien Rawat Inap Ade Yonata
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1613

Abstract

Bakterimia MDR Gram negatif dapat meningkatkan angka kematian, morbiditas pasien, lama perawatan dan biaya perawatan rumah sakit. Komorbid merupakan penyakit tambahan baik fisik maupun psikis selain dari kondisi utama pasien, yang meperburuk kondisi pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh komorbid terhadap terjadinya bakterimiaMDR Gram negatif pada pasien rawat inap. Faktor risiko komorbid diidentifikasi menggunakan studi kasus kontrol. Data dikumpulkan dari catatan rekam medis pasien rawat inap yang memiliki kultur darah positif tumbuh bakteri patogen Gram negatif. Kelompok kasus adalah subjek dengan bakterimia MDR Gram negatif, kelompok kontrol adalah subjekdengan bakterimia non-MDR Gram negatif. Analisis bivariat dilakukan pada variabel bebas yaitu diabetes mellitus, AIDS, gagal jantung, stroke, gagal ginjal, dan keganasan. Berdasarkan hasil analisis bivariat tidak didapatkan variabel komorbid yang berbeda secara statistik antara kelompok MDR dan non MDR, dimana didapatkan variabel diabetes dengan p:0.837, AIDS dengan p:1.00, gagal jantung p:0.499, stroke p:0.172, gagal ginjal p:0.393, dan keganasan dengan p:0.979. Simpulan:faktor komorbid AIDS, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, stroke, dan keganasan tidak terbukti secara statistik sebagai faktor risiko terjadinya bakterimia MDR Gram negatif pada pasien rawat inap. [JK Unila. 2016; 1(2): 211-214] [JK Unila : 211-214]Kata kunci: bakterimia, gram negatif, komorbid, MDR
Distribusi Pasien PRB pada Peserta BPJS di Klinik SWA Yogyakarta Tahun 2015-2016 Gita Diah Prasasti; Ummatul Khoiriyah
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1629

Abstract

Penyakit kronis merupakan penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia, termasuk di Indonesia. BPJS kesehatan sebagai fasilitator jaminan kesehatan nasional mengupayakan program rujuk balik guna memudahkan akses pelayanan kesehatan bagi penderita penyakit kronis sehingga diharapkan mampu menekan angka kematian akibat penyakit tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan distribusi pasien Program Rujuk Balik (PRB)pada peserta BPJS di Klinik Pratama SWA Yogyakarta tahun 2015-2016. Metode penelitian adalah deskriptif. Penelitian dilakukan pada September 2016 dengan mengambil data rekam medis peserta program rujuk balik (PRB) BPJS di Klinik SWA Yogyakarta pada bulan Agustus 2015-Juli 2016. Data yang diperoleh berupa jumlah total peserta BPJS, jumlah pasien yang dirujuk dan pasien yang termasuk dalam program rujuk balik untuk 9 penyakit kronis yang ditentukan oleh BPJS.Data yang diperoleh kemudian ditampilkan dalam grafik dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pasien PRB paling banyak dari kelompok lansia (49.65%) dan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki(55.42%). Jenis penyakit kronis yang paling banyak diderita pasien PRB adalah hipertensi (40.03%). Ada 42.27% dari total pasien yang dirujuk masuk dalam PRB, dengan penyakitPRB terbanyak adalah hipertensi (75.89%) dan terendah epilepsi (23.53%). Diperlukan peningkatan peran aktif dari berbagai pihakterutama pemberi pelayanan kesehatan primer dalam peningkatan upaya promotif dan preventif. Pelayanan kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi menjadi kunci suksesnya pengelolaan penyakit kronis. Simpulan: Angka rujukan untuk penyakit kronis masih cukup tinggi dan hanya hipertensi yang capaian keberhasilan pengelolaan sesuai indikator Prolanis. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci: penyakit kronis, sistem rujukan
Diagnosis Molekuler Virus Dengue Enny Nugraheni; Ike Sulistyowati
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1645

Abstract

Demam Dengue merupakan penyakit yang ditransmisikan oleh nyamuk yang meningkat secara dramatis dari tahun ke tahun selama beberapa dekade terakhir. Infeksi yang disebabkan oleh demam dengue dapat berupa infeksi primer dan sekunder. Infeksi sekunder dapat menyebabkan kejadian berbahaya yaitu Demam Berdarah Dengue atau Demam Shock Sindrom. Dengue adalah virus RNA positif genome sebanyak 11 kilobase terdiri dari prekursor 300 asam amino yang memproses kotranslasi dan posttranslasi oleh virus dan protease host. Protein terdiri dari protein struktural dan non struktural. Teoriimunopatogenesis virus tidak diketahui secara lengkap. Manifestasi klinis terjadi akibat reaksi tubuh terhadap virus sehingga akan muncul gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi, otot, lemas dan gejala lain. Terdapat 2 teori yang menyebabkan DBD dan Sindrom Shock Dengue yang belum diketahui secara pasti. Diperkirakan karena adanya antibodi yang heterolog dari serotipe yang berbeda namun tidak dapat dinetralisasi sehingga dapat menimbulkan Infeksi dengue yang berat. Diagnostik molekular virus dengue diperlukan karena diagnostik ini dapat menentukan jenis serotipe virus sehingga dapat mencegah komplikasi yang lebih berat. Tehnik yang sedang dikembangkan adalah RT-PCR dan Realtime RT-PCR kedua tehnik ini dapat mendiagnosis dengan cepat, pada stadium infeksi dini dengan mengetahui jenis serotipe pada virus dengue. Sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan sedini mungkin sesuai dengan serotipe yang menginfeksi. Pemilihan pemeriksaan dengan diagnosis molekular virus dengue pada fase awal untuk mencegah kematian pada pasien, namun pemeriksaan tetap harus merujuk untuk apa pemeriksaan tersebut dilakukan dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangannya. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata kunci: dengue, diagnosis molekular, RT-PCR.
Prevalensi dan Gambaran Epidemiologi Akne Vulgaris di Provinsi Lampung Hendra Tarigan Sibero; Ahmad Sirajudin; Dwi Indria Anggraini
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i2.2519

Abstract

Akne vulgaris (AV) adalah penyakit kulit kronis yang multifaktorialditandai adanya peradangan pada unit pilosebasea seperti komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan predileksi di wajah, leher, bahu, dada, punggung dan lengan atas. Akne vulgaris terjadi pada 85% orang dewasa muda berusia 12–25 tahun. Insidensi akne vulgaris di kawasan Asia Tenggara terdapat 40-80% kasus sedangkan menurut catatan dari dermatologi kosmetika Indonesia terus terjadi peningkatan yaitu 60% penderita akne vulgaris pada tahun 2006, 80% pada tahun 2007 dan mencapai 90% pada tahun 2009.Etiologi akne vugaris belum diketahui secara pasti, diperkirakanproduksi sebum yang meningkat, hiperkeratinisasi folikel rambut, koloni bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes) dan inflamasi. Patogenesis akne vulgaris ini diperkirakan berhubungan dengan beberapa faktor pemicu seperti faktor makanan, kosmetik, dan stress psikologis. Gambaran klinis AV ditandai dengan lesi klinis yang beragam yang letaknya terutama berada di wajah, punggung, dada dan bahu. Lesi dapat bersifat non-inflamasi maupun inflamasi. Lesi non-inflamasi berupa komedo, baik terbuka (blackhead) atau tertutup (whitehead). Lesi inflamasi berupa papul, pustul, nodul dan kista. Data penelitian mengenai akne vulgaris ini untuk daerah Lampung masih terbatas. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran epidemiologi dan data prevalensi akne vulgaris di Provinsi Lampung.Kata Kunci:Akne Vulgaris, Epidemiologi, Prevalensi
Efek Protektif Pemberian Kombinasi Zinc dan Tomat (Solanum Lycopersicum L) terhadap Histologi Hepar Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Galur Sprague Dawley Akibat Stres yang Terpapar Gelombang Elektromagnetik Ponsel Soraya Rahmanisa1, Neza Ukhalima Hafia Sudrajat1 Soraya Rahmanisa; Neza Ukhalima Hafia Sudrajat
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1713

Abstract

Paparan radiasi gelombang elektromagnetik ponsel dapat menyebabkan stres oksidatif yang akan menimbulkan kerusakan sel hepar. Zinc dan tomat memiliki khasiat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui efek protektif kombinasi zinc dan tomat terhadap gambaran histologi hepar tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley akibatstres yang terpapar gelombang elektromagnetik ponsel. Penelitian eksperimental dengan menggunakan 25 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok kontrol 1 (K1) hanya diberi makan dan minum, kelompok kontrol 2 (K2) diinduksi paparan ponsel, kelompok perlakuan (P1), (P2), (P3) diberikan kombinasi zinc dan tomat dengan dosis (P1): tomat 1,85g dan zinc 0,54mg; (P2): tomat 3,7g dan zinc 0,27mg; (P3): tomat 7,4g dan zinc 0,135mg; dan diinduksi paparan ponsel 2 jam/hari selama 35 hari. Rerata kerusakan sel hepatosit yang mengalami degenerasi bengkak keruh pada K1=0,4; K2=3,36; P1=1,2; P2=1,52; P3=1,8. Data diuji dengan uji One Way ANOVA dan didapatkan hasil p=0,006 (p<0,05). Selanjutnya, dengan uji Post Hoc didapatkan p antara K1 vs K2= 0,003; K2 vs P1= 0,049; K2 vs P2= 0,140; K2 VS P3= 0,336. Pemberian kombinasi zinc dan tomat dapat memperbaiki gambaran histologi hepar tikus putih pada kelompok P1. Kata kunci: gelombang elektromagnetik, hepar, tomat, zinc
Pneumonia Nosokomial (Hospital-acquired, Ventilator-associated, dan Health Care-associated Penumonia) Efrida Warganegara
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1729

Abstract

Pneumonia merupakan suatu peradangan parenchym paru-paru, mulai dari bagian alveoli sampai bronhus, bronchiolus, yang dapat menular, dan ditandai dengan adanya konsolidasi, sehingga mengganggu pertukaran oksigen dan carbon dioksida di paru-paru. Pengklasifikasian yang lebih praktis untuk Pneumoia adalah menurut sifat aquisisinya, seperti yangsering digunakan yaitu Community-assosiated Pneumonia (CAP), Hospital-associated Pneumonia (HAP) atau Health careassociated Pneumonia (HCAP) dan Ventilator-associated Pneumonia (VAP). Hospital-acquired pneumonia (HAP) adalah suatu Pneumonia yang terjadi 48 jam atau lebih setelah pasien masuk rumah sakit, dan tidak dalam masa inkubasi ataudiluar suatu infeksi yang ada saat masuk rumah sakit. HAP merupakan penyebab paling umum kedua dari infeksi diantara pasien di Rumah Sakit, dan sebagai penyebab utama kematian karena infeksi (mortalitas-rate sekitar 30-70%), dan diperkirakan 27-50% berhubungan langsung dengan pneumonia. Mikroba yang paling bertanggung jawab untuk HAP adalah Streptococcus pneumonia, Staphylococcus aureus (MSSA dan MRSA), Pseudomonas aeruginosa, Gram negatif batang yang tidak memproduksi ESBL dan yang memproduksi ESBL (Enterobacter sp., Escherichi coli, Klebsiella pneumonia). Dalam proses patogenesis terjadinya pneumonia, paru-paru memiliki mekanisme pertahanan yang kompleks dan bertahap. Manifestasi klinik dari pneumonia adalah demam, menggigil, berkeringat, batuk (produktif, atau non produktif, atauproduksi sputum yang berlendir dan purulent), sakit dada karena pleuritis dan sesak. Diagnosis dari pneumonia nosokomial adalah melalui anamnese, gejala-gejala dan tanda-tanda klinik (non spesifik), pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium dan khususnya pemeriksaan mikrobiologis. Sesudah diagnosa HAP ditegakkan, penting untuk segera memulai terapi, sebab bila terlambat ini merupakan cara mengatasi infeksi yang buruk.Kata Kunci : Hospital-acquired pneumonia (HAP), Pneumonia, Tatalaksana
Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Rimpang Lengkuas (Alpinia galangal L.Willd) Terhadap Gambaran Histopatologi Ginjal Mencit Jantan (Mus musculus L.) yang Diinduksi oleh Monosodium Glutamat (MSG) Muhartono Muhartono; Mukhlis Imanto; Nadia Rosmalia Dewi
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 1 (2018): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i1.1909

Abstract

Monosodium Glutamat (MSG) adalah garam natrium glutamat yang digunakan sebagai penambah rasa. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 sekitar 77,3%. MSG dikonsumsi masyarakat Indonesia. MSG dapat membentuk radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh salah satunya organ ginjal manusia. Rimpang lengkuas adalah salah satu bahan alami yang mengandung antioksidan yang dapat mecegah kerusakan organ akibat radikal bebas. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak etanol rimpang lengkuas terhadap gambaran histopatolgi ginjal mencit yang diinduksi MSG. Desain penelitian ini adalah eksperimental dengan 5 kelompok perlakuan, tiap kelompok terdiri dari 5 ekor mencit (Mus Musculus L.) strain DDY. Kelompok K(-) (kontrol -) tidak diberi perlakuan; kelompok K+(kontrol +) diberikan MSG 4mg/grBB; kelompok P1 (perlakuan 1) diberikan MSG 4mg/kgBB + ekstrrak etanol rimpang lengkuas 14mg/20grBB; kelompok P2 (perlakuan 2) diberikan MSG 4mg/kgBB + ekstrrak etanol rimpang lengkuas 28mg/20grBB; kelompok P3 (perlakuan 3) diberikan MSG 4mg/kgBB + ekstrrak etanol rimpang lengkuas 56mg/20grBB. Berdasarkan hasil uji statistik One Way ANOVA didapatakan hasil yang bermakna dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc. Pada uji Post Hoc terlihat adanya pengaruh perlakuan terhadap penurunann degenerasi sel ginjal yang bermakna secara statistikterhadap peningkatan dosis ekstrak etanol rimpang lengkuas. Terdapat pengaruh pemberian ekstrak etanol rimpang lengkuas terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit yang diinduksi MSG.Kata kunci: Ekstrak lengkuas, histopatologi ginjal, monosodium glutamat
Efek Antidislipidemia Ekstrak Kulit Pisang Kepok Lampung (Musa paradisiaca L) Terhadap Kadar Kolesterol Total dan Trigleserida Tikus Putih Dengan Diet Tinggi Lemak Syazili Mustofa; Rr Astri Nur Azizah Utama; Fayza Syachrani; Nickyta Yolandita Rosti; Puan Raissa Lenka
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 5, No 1 (2021): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v5i1.2931

Abstract

Peningkatan kadar kolesterol total dan trigleserida plasma yang terjadi secara kronis dapat berlanjut menjadi arterosklerosis. Senyawa saponin, tanin, terpenoid, alkaloid, dan flavonoiddiketahui bermanfaat mengatasi dislipdemia dansenyawa tersebut terkandung dalam ekstrak kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L). Penelitian eksperimental ini bertujuan menguji efek antidislipdemia ekstrak kulit pisang kepok(Musa paradisiaca L). Desain penelitian ini post test only control groupmenggunakan 30 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley. Sampel dibagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol dan lima kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan setiap hari diberi 2 ml kuning telur bebek selama 30 hari. Kelompok perlakuan terdiri dari tikus yang hanya menerima diet tinggi lemak (K+), kelompok yang juga menerima simvastatin 0,9 ml/kgBB/hari (K-), kelompok yang juga menerima ekstrak etanol kulit pisang kepok 50 ml/kgBB/hari (P1), kelompok yang juga menerima ekstrak metanol kulit pisang kepok 50 ml/kgBB/hari (P2), dan kelompok yang juga menerima ekstrak n-heksana kulit pisang kepok 50 ml/kgBB/hari (P3). Pada hari ke-31 dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol total dan trigleserida plasma dengan menggunakan reagen kit dan spektrofotometer. Selanjutnya dilakukan uji statistik Kruskal-Wallis dengan uji Post Hoc Mann Whitney. Hasilpenelitian menunjukan terjadi peningkatan kadar kolesterol total dan trigleserida plasma pada K+ (P=0,009). Efek antidislipdemia hanya ditemukan pada P2(P= 0,012 dan P=0,009). Ekstrak metanol kulit pisang memiliki efek yang lebih baik daripada simvastatin (P=0,028 dan P= 0,016) dalam mencegah peningkatan kadar kolesterol total dan trigleserida plasma. Ekstrak metanol kulit pisang kepok lampung (Musa paradisiaca L) memliki efek antidislipdemia dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Kata kunci: Diet tinggi lemak, dislipidemia, kulit buah pisang kepok, ekstrak metanol
Perbandingan Terjadinya Fraktur Terbuka antara Fraktur Handbar dan Footstep Ismunandar H; Herman H; Ismiyarto YD
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 2 (2018): Jk Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i2.1951

Abstract

Terdapat 2 jenis fraktur yang dapat terjadi pada pengendara sepeda motor, yaitu fraktur handbar dan footstep.Fraktur handbar merupakan fraktur pada area tangan dan pergelangan tangan.Fraktur footstep merupakan fraktur pada area kaki dan pergelangan kaki. Fraktur terbuka dapat terjadi baik pada fraktur handbar maupun footstep. Fraktur terbuka meningkatkan resiko infeksi dan defek tulang.Desain penelitiannya merupakan deskriptif analitik. Data diambil dari rekam medis pasien pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan dan dirawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dari Januari 2016 sampai dengan Desember 2016. Diperoleh 210 kasus (handbar 47%, footstep 47%, keduanya 6%). Dalam seminggu, kecelakaan terbanyak terjadi pada hari Senin (39 kasus; 18,6%). Dalam setahun, jumlah kecelakaan terbanyak terjadi pada bulan Juli (26 kasus;12,4%). Kecelakaan terjadi pada 158 (75%) laki-laki dan 52 (25%) perempuan.Diperoleh 103 (49%) kasus terjadi tabrakan antara motor dengan motor, 77 (37%) kasus antara motor dengan mobil, 20 (9%) kasus terjatuh,dan 10(5%) kasus motor bertabrakan dengan objek di jalan. Fraktur footstep lebih sering terjadi fraktur terbuka dibandingkan fraktur handbar dan hal ini berbeda secara signifikan (p: 0,00015; odd ratio:2,58).Menurut penelitian yang dilakukan oleh Howard, menunjukkan bahwa 40% fraktur terbuka terjadi pada ekstremitas bawah. Tulang yang paling sering mengalami fraktur terbuka adalah diafisis dari femur dan tibia. Pada penelitian ini didapatkan bahwa fraktur terbuka lebih sering terjadi pada fraktur footstep dibandingkan fraktur handbar.Dapat disimpulkan bahwa fraktur footstep lebih sering terjadi fraktur terbuka dibandingkan dengan frakturhandbar. Fraktur footstep memiliki resiko 2,58 kali untuk terjadi fraktur terbuka dibandingkan fraktur handbar.Kata kunci: fraktur foostep, fraktur handbar, fraktur terbuka
Korelasi Nilai Multiple Choice Questions (MCQ) dengan Nilai Ujian Lisan, Esai dan Diskusi Problem-Based Learning (PBL) Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Rika Lisiswanti; Merry Indah Sari; Dwita Oktaria; Asep Sukohar
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1624

Abstract

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Lampung menerapkan berbagai komponen penilaian untuk menentukan kelulusan mahasiswa dalam sutau blok. Komponen penilaian yang menjadi nilai akhir blok adalah nilai ujian Multiple Choice Questions (MCQ), ujian lisan, ujian esai, praktikum dan nilai diskusi Problem-based Learning (PBL). Semua komponen tersebut merupakan penilaian terhadap kognitif mahasiswa. Hasil dari penilaian kognitif baik yang dinilai dengan MCQ, uian lisan, praktikum dan diskusi PBL hampir sama. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi hasil ujian MCQ, ujian lisan, ujian esai, praktikum dan diskusi PBL. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa angkatan 2014 yaitu semester empat sebanyak 232 orangmahasiswa. Sampel yang didapat adalah 230 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi. Data penelitian ini merupakan data sekunder yaitu nilai Blok Hematoimunologi, Blok Obstetri Ginekologi dan Perinatologi serta Blok Genitourinaria. Nilai setiap blok terdiri dari ujian MCQ, ujian lisan, ujian esai, praktikum dan diskusi PBL. Semua data merupakan data numerik dan analisis dengan uji Spearman karena sebaran data tidak normal. Hasilnya didapatkan korelasi antara nilai MCQ denganujian lisan adalah 0.678 dengan sig. 0.000 (kuat). Korelasi nilai MCQ dengan nilai esai 0.765 dengan sig. 0.000 (kuat). Korelasi nilai MCQ dengan nilai praktikum 0.850 dengan sig.0.000 (kuat). Korelasi nilai diskusi PBL 0.441 dengan sig.0.000 (kuat). Simpulan :terdapat korelasi yang kuat antara nilai MCQ dengan nilia ujian lisan, ujian esai dan ujian praktikum. Sedangkan nilai diskusi PBL korelasi sedang. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata Kunci: diskusi problem-based learning (PBL), multiple choice questions (MCQ), ujian lisan, ujian esai, ujian praktikum