cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
Peningkatkan Hasil Belajar Keaksaraan Melalui Penerapan Metode Pembelajaran Transliterasi IIP Saripah; Nike Kamarubiani; Novi Widiastuti
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i1.111

Abstract

Pada tahun 2012 menurut data Kementerian Pendidikan Nasional, angka buta huruf di Indonesia mencapai 8,5 juta jiwa, dan 5,1 juta diantaranya adalah perempuan. Jumlah ini menurun dari tahun 2004 lalu yaitu dengan angka 15 juta penduduk buta huruf. Keberhasilan tersebut membuat Indonesia mendapatkan penghargaan UNESCO’s Literacy Prizes for 2012 bersama Bhutan, Rwanda dan Kolumbia. Namun walaupun demikian, angka tersebut masuk dalam kategori angka buta aksara terbesar di dunia. Angka buta aksara di Jawa Barat pada tahun 2012 untuk usia 15 tahun ke atas mencapai 1.072.160 orang atau 3,52% dari jumlah penduduk Jawa Barat usia tersebut sebanyak 30.459.084 jiwa. Bebas buta aksara ini bukan berarti semua warga sudah cerdas dan mampu membaca secara aktif, karena tidak menutup kemungkinan bahwa ada yang buta aksara kembali akibat kurangnya pembinaan pasca pembelajaran keaksaraan yang pernah diikuti baik secara formal di sekolah maupun non formal di masyarakat. Hal ini yang dialami oleh warga Kampung Cirompek yang buta aksara kembali dikarenakan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang pernah dimilikinya tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran transliterasi dalam pembelajaran keaksaraan pada masyarakat di lingkungan pondok pesantren Hamada. Tujuan utamanya adalah melahirkan metode pembelajaran transliterasi yang inovatif, dan untuk mengetahui: (1) Proses Pembelajaran Keaksaraan di Pondok Pesantrean Hamada (2) Penerapan metode pembelajaran transliterasi dalam pembelajaran keaksaraan di Pondok Pesantren Hamada; (3) Hasil belajar pendidikan keaksaraan menggunakan metode Transliterasi di Pondok Pesantren Hamada; Kajian pustaka penelitian ini adalah teori belajar dan Pembelajaran , literasi dan transliterasi, dan pendidikan keaksaraan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan pre test post test untuk mengetahui hasil belajar 10 orang warga belajar yang menjadi responden. Kesimpulannya bahwa metode pembelajaran transliterasi berpengaruh terhadap hasil belajar keaksaraan pada warga belajar di lingkungan pondok pesantren Hamada. Program pembinaan pasca pembelajaran keaksaraan dilakukan melalui kegiatan majelis taklim dengan menyelipkan materi-materi keaksaraan sehingga kemampuan baca tulis hitung warga belajar mulai terlatih dan terpelihara, bahkan mengalami peningkatan.
Pengantar Redaksi: Tema Kita: Pemeliharaan Keberaksaraan melalui Budaya Baca di Masyarakat Erman Syamsuddin
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.112

Abstract

Pendidikan Keaksaraan Berbasis Kecakapan Hidup dalam Meningkatkan Kemandirian Masyarakat Ani Rindiani
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.113

Abstract

Pendidikan merupakan proses sistematis dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tuntutan yang harus dilakukan oleh setiap warga Negara. Pada pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, tujuan pendidikan secara eksplisit dicantumkan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, dalam skala nasional pendidikan berada dalam posisi yang sangat startegis. Pada beberapa daerah seringkali ditemukan kasus rendahnya melek aksara masyarakat yang berdampak terhadap rendahnya kualitas hidup mereka, sebagai akibat tidak terlayaninya pendidikan keakasaran bagi seluruh lapisan masyarakat. Umumnya masyarakat yang tidak melek aksara menghadapi banyak kendala dalam memenuhi kebutuhan hidup termasuk kegiatan ekonomi keluarga akibat keterbatasan dalam keaksaraan. Walupun dampak negatif dari ketidakmelekan masyarakat tentang keaksaraan telah mereka rasakan namun kebutuhan akan pentingnya keaksaraan yang dipelajarinya secara khusus belum menjadi prioritas, sehingga ada asumsi bahwa kegiatan keaksaraan perlu dipadukan dengan aktifi tas peningkatan ekonomi masyarakat. Namun demikian, berdasarkan hasil observasi pada bebrapa daerah terpencil, mengintegrasikan kegiatan pemberantasan buta huruf dengan kegiatan produktifi tas ekonomi masyarakat mengalami kelemahannya yakni masih sangat tidak proposional, artinya bahwa kemampuan calistungdasi (membaca, menulis, berhitung, berdiskusi, dan aksi) masih sangat dominan daripada porsi penumbuhan kecakapan personal, kecakapan sosial, maupun kecakapan vokasional, dan sifatnya pun masih sangat sektoral. Berdasarkan alur pemikiran di atas, program pendidikan keaksaraan perlu mendapat perhatian dan pengkajian secara komprehenship baik pada aspek pengelolaan penyelenggaraan program keaksaraan, maupun orientasi pendidikan keaksaraan yang mengantarkan pada suatu kemampuan keterampilan tertentu sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Kesenjangan Gender di Indonesia: Akses terhadap Pelayanan Pendidikan, Hasil Belajar, dan Ketenagakerjaan ELLA YULAELAWATI; NFN SUHARTI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.115

Abstract

1. Pendahuluan Kesenjangan gender di bidang pendidikan di Indonesia merupakan isu yang masih perlu didalami, dalam ketersediaan (akses) layanan pendidikan, hasil belajar, dan pengaruhnya terhadap lapangan kerja. Isu pertama dapat dilihat bahwa meskipun di tingkat nasional anak laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti pendidikan seperti yang ditunjukkan oleh seimbangnya angka partisipasi sekolah, kesenjangan gender tetap terjadi di beberapa wilayah dan kelompok masyarakat. Kedua, orang tua memiliki pertimbangan yang berbeda dalam menyekolahkan anak laki-laki dan perempuan. Sebuah analisis perlu dilakukan untuk menguji apakah masih berlaku pandangan umum bahwa anak perempuan Indonesia selalu memiliki peluang yang lebih rendah untuk bersekolah dibanding anak laki-laki, mengingat secara internasional tren ini sudah mengalami perubahan. Ketiga, ketidaksetaraan gender dalam hasil belajar siswa juga perlu dipelajari sejalan dengan perubahan pola di tingkat internasional yaitu bahwa nilai ujian anak perempuan terus mengalami peningkatan dan bahkan mengalahkan anak laki-laki. Tulisan ini merupakan suatu upaya untuk menjelaskan berbagai fakta berkaitan dengan ketidaksetaraan gender di Indonesia dalam hal akses dan mutu pendidikan kemudian membandingkannya dengan keadaan yang terjadi di negara-negara lain, dengan titik berat jenjang pendidikan menengah pertama dan menengah atas, serta kesenjangan gender di bidang ketenagakerjaan.
Dampak Hasil Belajar Program Keaksaraan Usaha Mandiri terhadap Minat Berwirausaha Masyarakat Jajat S. Ardiwinata; Uyu Wahyudin; Mochamad Dera
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.118

Abstract

Program keaksaraan usaha mandiri bertujuan untuk memelihara dan mengembangkan keberaksaraan, meningkatkan kemampuan usaha mandiri dan untuk meningkatkan pendidikan warga belajar melalui peningkatan sikap. Sehingga di harapkan warga belajar program keaksaraan usaha mandiri tidak hanya mampu keberaksaraan dan keterampilan saja tetapi harus mampu mengaplikasikan hasil belajar yang telah tutor berikan. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar dan minat berwirausaha warga belajar keaksaraan usaha mandiri. program keaksaraan usaha mandiri berjalan selama 3 bulan dengan warga belajar 420 orang yang terbagi menjadi 42 kelompok. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengacu pada konsep keaksaraan, konsep keaksaraan usaha mandiri, konsep hasil belajar, konsep minat dan konsep minat berwirausaha. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kuantitatif. Alat pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan dokumentasi, angket dan wawancara, lokasi penelitian ini bertempat di PKBM Winaya Bhakti Desa Hanjuang Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut. Responden dalam penelitian ini adalah warga belajar keaksaraan usaha mandiri sebanyak 80 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) Hasil belajar program keaksaraan usaha mandiri sangat bervariasi, diantaranya memiliki kategori hasil belajar yang tinggi, sedang dan rendah. 2) Minat berwirausaha masyarakat pada binaan program keaksaraan usaha mandiri mayoritas dari warga belajar memiliki minat berwirausaha kategori sedang atau cukup rendah. 3) Dampak hasil belajar tidak dominan mempengaruhi minat warga belajar untuk berwirausaha.
Implementasi Program Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) Berbasis Microfi nance Melalui Pelatihan Olahan Ikan Kere untuk Menumbuhkan Minat Usaha di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar Kabupaten Garut Viena Rusmiati Hasanah; Egie Gestyan
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.119

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) berbasis microfi n ance melalui pelatihan olahan ikan kere untuk menumbuhkan minat usaha peserta pelatihan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui perencanaan program KUM berbasis microfi nance, 2) Untuk mengetahui pelaksanaan pelatihan olahan ikan kere dalam program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) berbasis microfi nance, 3) Untuk mengetahui hasil pelatihan olahan ikan kere dalam menumbuhkan minat usaha. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik Pengumpulan data adalah dengan wawancara dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah penyelenggara program yaitu kepala (K), penyelenggara/pamong belajar (P) dan tutor (T), sedangkan informan peserta pelatihan adalah 4 peserta pelatihan dari dua kelompok yaitu P1. P2, P3 dan P4. Hasil Penelitian ini ditemukan bahwa: 1) Perencanaan program KUM berbasis microfi nance berjalan dengan baik dimana unsur pelaksana baik latar belakang, tujuan, sasaran dan pelaksana pelatihan sesuai dengan Standar Kompetensi Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), 2) Pelaksanaan pelatihan olahan ikan kere berjalan dengan baik, dimana unsur pelaksanaan baik itu peserta, materi, metode, pendekatan dan strategi, media, sarana dan prasarana, pembiayaan, evaluasi dan hasil dapat menumbuhkan minat usaha peserta pelatihan, 3) Hasil pelatihan ini adalah meningkatkan kemampuan peserta dalam keberaksaraan calistung dan kemampuan keterampilan peserta dalam usaha ikan kere sampai membuka usaha meskipun dalam lingkup kecil,
Mimpi menjadi Bangsa Literat Mahmud Fasya; Fatwa Amalia
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.120

Abstract

The United Nations Development Program (UNDP) merilis laporan Human Development Index (HDI) tahun 2014 yang menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam peringkat 108 dari 187 negara di dunia. Peringkat ini lebih rendah dibandingkan dengan 4 negara ASEAN lainnya, yaitu Singapura (9), Brunei (30), Malaysia (62), dan Thailand (89). Walaupun demikian, Indonesia masih lebih tinggi daripada Filipina (117), Vietnam (121), Kamboja (136), Laos (139), dan Myanmar (150). Peringkat Indonesia memang mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2011 yang hanya menempati urutan ke-124 dari 187 negara. Namun, peningkatan tersebut belum termasuk signifi kan karena secara keseluruhan Indonesia masih belum beranjak dari kategori medium human development. Data tersebut menggambarkan sebuah fenomena klasik tentang budaya membaca masyarakat kita. Membaca belum menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia. Membaca di kalangan masyarakat memang belum menjadi suatu kebutuhan sehingga bangsa ini belum bisa dikatakan sebagai bangsa literat. Padahal, generasi literat sangat dibutuhkan agar Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan dan bersaing dengan bangsa lain.
Karakterologi dan Identitas Nasional: Membangun Perdamaian Melalui Pendidikan Karakter Bangsa' Dr. Yasraf Amir Piliang MA
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.121

Abstract

Hanya dalam kondisi damai, Bangsa Indonesia dapat membangun masyarakat, ekonomi, politik dan budaya yang kuat. Namun, kondisi damai dapat tercipta bila terbentuk karakter bangsa. Karenanya, pendidikan karakter bangsa menjadi penting artinya dalam rangka membangun ruang-ruang pergaulan konstruktif di antara anak bangsa yang dilandasi oleh prinsip kebersamaan saling penghargaan dan kesatuan. Dalam keanekaragaman, perdamaian hanya bisa dibangun bila berhasil dirumuskan identitas dan karakter bangsa. Akan tetapi, karakter bangsa merupakan sesuatu yang harus dirumus ulang secara terus menerus di dalam konstruksi perubahan zaman. Karakter bangsa harus bergerak ke dua arah, yaitu ke arah masa lalu, dengan menggali dan mempertahankan nilai fundamental (baca: tradisi) dan ke masa depan, dengan membuka diri terhadap nilai-nilai fundamental. Karakter bangsa juga harus dibangun dengan semangat multikulturaisme, yaitu spirit penghargaan, empati, dialogisme, negoisasi dan pertukaran aktif di antara elemen-elemen budaya yang plural. Karakter bangsa ditentukan pula oleh pemerintahnya dan karakter para pemimpinnya-meninggalkan jejak-jejak pada karakter bangsa beberapa generasi berikutnya.
Model-model Pendidikan Keaksaraan dan Peningkatan Minat Baca Masyarakat melalui Pendidikan Keaksaraan Keluarga Asep Saepudin
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.122

Abstract

Buta aksara atau ketidakmelekhurufan merupakan permasalahan mendasar yang dihadapi oleh banyak negara termasuk Indonesia. Secara substantif buta aksara bukan hanya masalah individu masyarakat yang buta huruf saja, namun merupakan masalah bangsa dan negara, mengingat secara psikologis dan ekonomis memiliki pengaruh yang nyata terhadap keseluruhan pengendalian semua tingkatan kemampuan dan kecakapan hidup masyarakat. Ada beberapa alasan mengapa terdapat masyarakat yang buta aksara, antara lain disebabkan: pertama, tidak sekolah sejak awal (karena alasan geografi s dan ekonomi). Kedua, putus sekolah (drop out) sekolah dasar kelas 1-3. Ketiga, keterbatasan kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam memberikan pelayanan kepada kelompok marginal. Keempat, buta huruf kembali, karena tidak diaplikasikannya hasil pendidikan keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari. Pada beberapa lembaga strategi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah keaksaraan yakni melalui pelibatan institusi keluarga sebagai pusat pendidikan keaksaraan. Pendidikan Keaksaraan Keluarga (PKK) diilhami oleh konsep family literacy yang dipadukan dengan pendekatan berbasis lingkungan kerja dan sosial, dengan sistem pembelajaran volunter dan partisipatif serta pembelajaran orang dewasa. Beberapa pengalaman dapat diekplorasi sebagai best practice model penyelenggaraan pendidikan keluarga, yaitu pendidikan keluarga pada: (1) PKBM Widya Cipta Tanjungsari Kab. Sumedang melalui model Keaksaraan Usaha Mandiri, (2) PKBM La Tahzan Kab. Semarang melalui model pendidikan agama, (3) SKB Gresik di Kab Gersik melalui model pendidikan life skills, (4) PKBM Taman Siswa Ka. Mataram melalui model integrasi pendidikan dasar dengan KUM.
Multimedia dalam Pengembangan Literasi di Sekolah Dasar Terpencil Jawa Barat Tatat Hartati
Jurnal AKRAB Vol. 6 No. 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v6i2.123

Abstract

Penelitian ini bertujuan merancang model pembelajaran literasi berbasis multimedia dan pendekatan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) di daerah terpencil Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan, “Research Development” dengan seting dua sekolah terpencil di Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru-guru di daerah terpencil Jawa Barat memerlukan pelatihan materi dan metode literasi berdasarkan PAIKEM dan penggunaan komputer untuk media pembelajaran. Media computer yang dilatihkan adalah powerpoint dan camtasiastudio.

Page 7 of 23 | Total Record : 224