cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
Pengantar Redaksi: Tema Kita: Membangun Budaya Literasi Tim Redaksi; Erman Syamsuddin
Jurnal AKRAB Vol. 7 No. 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v7i1.125

Abstract

Pembelajaran Keaksaraan Dasar Akseleratif - Inovatif “Batung Bingar” di Kabupaten Probolinggo - Jawa Timur Yusuf Mualo
Jurnal AKRAB Vol. 7 No. 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v7i1.126

Abstract

Pengembangan model pembelajaran keaksaraan dasar akseleratif inovatif Batung Bingar bertujuan: (1) untuk menemukan bentuk model pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar, yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal; (2) mengembangkan kurikulum pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal;(3) mengembangkan bahan ajar pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal; dan (4) mengembangkan alat penilaian pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar. Subyek penelitian, adalah peserta didik keaksaraan dasar di PKBM Putra Bangsa Desa Sumber Kecamatan Sumber Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur, sebanyak 10 orang peserta didik. Hasil pengembangan model adalah tersusunnya (1) pedoman penyelenggaraan naskah akademik model pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar, yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal; (2) naskah kurikulum pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar, yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal; (3) naskah bahan ajar pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar, yang sesuai dengan kebutuhan daerah dan sumber daya lokal; dan (4) naskah alat penilaian pembelajaran keaksaraan akseleratif inovatif Batung Bingar. Berdasarkan hasil ujicoba penyelenggaraan model tersebut, dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran keaksaraan Batung Bingar menarik bagi pengelola, tutor, dan peserta didik. Hal ini ditunjukkan dengan tercapainya: (1) rata-rata pengelola/tutor memiliki panduan, kurikulum, alat penilaian, bahan ajar Batung Bingar; (2) memahami panduan, kurikulum, alat penilaian, bahan ajar; (3) dapat melengkapi bahan ajar agar lebih sesuai dengan kondisi desa Sumber; (4) kehadiran pengelola dan tutor 100%; (5) kehadiran warga belajar rata-rata >90%; (6) peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran; (7) 87,5% peserta didik telah lulus pengujian akhir. Dengan demikian dapat diartikan model pembelajaran Batung Bingar sangat efektif untuk digunakan dalam pembelajaran keaksaraan dasar.
Teknik Konseling bagi Peserta Didik Pendidikan Keaksaraan Dasar Agus Ramdani
Jurnal AKRAB Vol. 7 No. 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v7i1.127

Abstract

Peran pendidik dalam pendidikan keaksaraan sangatlah vital, karena pendidik merupakan ujung tombak keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan keaksaraan dasar, yaitu menciptakan warga masyarakat yang mampu beraksara dan mampu memanfaatnya kemampuannya tersebut untuk perbaikan kualitas dan mutu kehidupannya. Namun, hal tersebut menjadi sangat rumit untuk diwujudkan karena mayoritas pendidik pendidikan keaksaraan Indonesia, kualifi kasi pendidikan dan kompetensi mendidiknya masih lemah. Padahal sasaran layanan pendidikan keaksaraan adalah orang-orang dewasa yang telah mempunyai pengalaman, konsep diri dan kebutuhan belajar yang sangat variatif. Karenanya dibutuhkan suatu pendekatan belajar yang sesuai dengan karakter dan potensi sasaran layanan pendidikan keaksaraan. Satu pendekatan, diantara pendekatan belajar lainnya yang bisa diterapkan pada pengelolaan pembelajaran pendidikan keaksaraan adalah pendekatan konseling. Namun tidak seperti halnya pada proses konseling yang biasa dilakukan oleh para konselor yang berlatangbelakang pendidikan ilmu psikologi, bimbingan konselingnya lebih diarahkan untuk membantu mengatasi kesulitan belajar dan meningkatkan motivasi, serta partisipasi peserta didik pendidikan keaksaraan.
Model Pembelajaran KUM Berbasis Lembaga Keuangan Mikro Syariah Andang Heryahya
Jurnal AKRAB Vol. 7 No. 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v7i1.128

Abstract

Gizi buruk, menjadi pekerja kasar, mudah sakit-sakitan, sulit mendapatkan akses modal usaha, tidak mampu mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan dampak langsung dari pendapatan ekonomi dan tingkat pendidikan keaksaraan masyarakat yang rendah. Program pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) hadir sebagai salah satu ikhtiar untuk mengangkat martabat masyarakat dengan mensinergikan pendidikan keaksaraan dan usaha mandiri. Tujuan utama KUM untuk mengembangkan kompetensi keberaksaraan sekaligus keberdayaan masyarakat melalui sikap dan keterampilan berusaha, agar terhindar dari jeratan kemiskinan dan kebodohan. Penelitian ini dilakukan dalam rangka menemukan alternatif model pembelajaran program KUM. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan model dan strategi pembelajaran KUM berbasis Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa model pembelajaran KUM berbasis LKMS mampu mengembangkan kompetensi sikap spiritual, sosial dan kompetensi keberaksaraan masyarakat sekaligus secara bersamaan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga. Program pendidikan KUM melalui LKMS menjadi satu model pembelajaran yang efektif.
Menumbuhkan Kemampuan Dasar Kewirausahaan Melalui Penerapan Model Appreciative Inquiry bagi Warga Belajar Keaksaraan Usaha Mandiri di PKBM Al-Alim, Kota Palangka Raya Muhamad Affandi
Jurnal AKRAB Vol. 7 No. 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v7i1.129

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk memberikan kemampuan dasar kewirausahaan bagi warga belajar Keaksaraan Usaha Mandiri melalui penerapan model appreciative inquiry di PKBM Al-Alim, baik selama maupun pascapembelajaran. Subyek pada kajian ini merupakan 10 orang warga belajar keaksaraan usaha mandiri yang terdapat dalam satu rombongan belajar. Pada kajian ini, digunakan multiinstrumen antara lain angket, evaluasi serta uji portofolio. Adapun data yang nantinya ditampilkan akan disajikan dalam bentuk deskriptif serta tabel. Hasil kajian ini, yakni kemampuan dasar kewirausahaan diperoleh melalui pre test dan post test yang terdiri dari 20 item soal. Pada saat pre test, diperoleh rata-rata sebesar 55. Adapun pasca penerapan model appreciative inquiry, diperoleh hasil post test sebesar 78. Data tersebut kemudian diolah melalui pendekatan one-group, pretest-post test design, yakni hasil post test-pre test sehingga diperoleh hasil 23, atau mengalami peningkatan sebesar 41,81%. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model appreciative inquiry mampu memberikan kemampuan dasar kewirausahaan bagi warga belajar keaksaraan usaha mandiri di PKBM Al-Alim, Kota Palangkaraya.
GENTENAN (Gerakan Pendidikan Peningkatan Ekonomi Kemaritiman): Keaksaraan Dalam Pemberdayaan Perempuan NFN Kuswara; Euis Laelasari; Arie Ekadharma
Jurnal AKRAB Vol. 7 No. 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v7i1.130

Abstract

Upaya pemerintah untuk mengatasi kemiskinan di sektor kelautan dan perikanan tidak lepas dari kebutuhan untuk mengikutsertakan perempuan dalam kebijakan pembangunan di sektor tersebut. Tujuan pengembangan Model Gentenan (Gerakan Pendidikan Peningkatan Ekonomi Kemaritiman) dalam Pemberdayaan Perempuan adalah: memberikan acuan bagi lembaga dan atau warga masyarakat yang akan menyelenggarakan program pemberdayaan perempuan berbasis masyarakat maritim. Pengembangan model yang dikembangkan merupakan rangkaian kegiatan pengembangan pendidikan keaksaraan (membaca, menulis dan berhitung) dan pendidikan keterampilan usaha di suatu wilayah maritim yang berbasis keluarga nelayan. Pendekatan ini lebih memusatkan kepada isu gender dan tidak terlihat pada masalah perempuan semata. Pendekatan GAD yang kami gunakan merupakan satu-satunya pendekatan terhadap perempuan dalam pembangunan dengan melihat semua aspek kehidupan perempuan dan semua kerja yang dilakukan perempuan baik kerja produktif, reproduktif, privat maupun publik dan menolak upaya apapun untuk menilai rendah pekerjaan mempertahankan keluarga dan rumah tangga. Penerapan pemberdayaan perempuan dalam Model Gentenan dibangun melalui tiga tahap, (1) Tahap Pra Intruksional, (2) Tahap Instruksional, dan (3) Tahap Evaluasi yang diselenggarakan selama 6 (enam) minggu pada siklus pertama, dan 5 (lima) minggu pada siklus berikutnya.
Pendidikan Toleransi Bagian dari Karakter Bangsa Paulus Wiratama
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.131

Abstract

Pancasila diformulasikan untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang memang secara historis dan geografis terdiri dari beberapa agama, keyakinan bahkan ribuan etnis. Karena itu, ketika bangsa ini mulai tak takdir terhadap perbedaan, kunci paling penting untuk menanamkan toleransi adalah menghargai oranglain, konsep yang sudah ada dalam Pancasila. Dalam konsep ini, semua orang Memiliki hak dan kewajiban yang sama. Setiap warga negara harus dihargai dan dihormati termasuk ketika terhadap perbedaan yang memang sudah ada dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak dulu. Pancasila yang merupakan elaborasi alias penggarapan secara cermat nilai-nilai kebijakan lokal etika dan agama yang berlaku universal dan sangat khas Indonesia, hanya bisa diterapkan mulai pendidikan sejak dini, dalam keluarga sampai ke ruang-ruang kelas.Pancasila dan Pendidikan Karakter Bangsa merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan karakter bangsa menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni serta keterampilan).
Pendidikan Karakter, untuk Indonesia Yang Lebih Baik Yanuar Jatnika
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.132

Abstract

Permasalahan mendasar bagi pendidikan ialah bagaimana menyiapkan generasi yang cerdas dan memiliki karakter yang kuat untuk membangun bangsanya ke arah yang lebih baik. Untuk itu, maka pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk menghadapi masa depan yang penuh kompetisi.Pendidikan karakter harus dilakukan oleh segenap masyarakat, mulai dari orang tua di rumah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan politik, dan juga pemerintah. Bagi orang tua, pendidikan karakter bagi anaknya dimulai saat sepanjang suami istri berhubungan untuk berniat memiliki anak. Saat itulah, semua ajaran agama menganjurkan agar suami istri tersebut memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Mahaesa agar diberikan anak yang Sholeh, beriman, bertaqwa, cerdas, bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Itulah pendidikan karakter yang pertama diterima seorang anak manusia.Pendidikan karakter berikutnya adalah saat seorang anak bergaul dengan anggota keluarga, masyarakat dan sekolah. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadaapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Sekolah pada umumnya tidak memberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja, sehingga ada survey yang mengatakan, rata-rata setelah sekolah, seorang anak perlu 5-7 tahun untuk beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter tidak hanya membentuk manusia yang bermoral baik, bertaqwa pada Tuhan, dan beretika baik, tapi juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh, sistematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia.
Pendidikan Karakter Bagi Anak Yang Berhadapan Dengan Hukum (Studi Kasus di Kabupaten Kebumen, Kabupaten Grobogan, Kota Salatiga dan Kabupaten Klaten) Siany I Listyasari,
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.133

Abstract

Persoalan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) tidak pernah selesai, bahkan jumlah ABH terus meningkat. Persoalan lainnya yang lebih penting, seorang anak berada di bawah tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan negara. Masuknya seorang anak ke dalam lembaga permasyarakatan kerap membuat si anak belajar tindak kriminal sehingga saat dewasa, bukannya kembali ke masyarakat, ABH menjadi residivis.Mereka menghadapi proses persidangan dan dimasukan dalam penjara. Hal ini mempengaruhi kondisi kejiwaan anak karena mereka dipaksa berhadapan dengan realitas hukum berupa penjara yang sarat dengan unsur kekerasan dan jauh dari keluarga. Padahal anak haruslah mendapatkan perlindungan dan pembinaan yang mempu menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik mental maupun sosialnya. Undang-Undang Nommor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengadilan Anak yang bertujuan melindungi anak-anak dan membina ABH agar kembali menjalani hidup normal, dalam penerapannya belum maksimal.Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan melakukan model restorative justice, penyediaan Lapas anak dan pengadilan ramah anak. Namun dalam praktek di lapangan, Lapas yang menampung ABH kurang memperhatikan kebutuhan khusus yang harus diberikan kepada ABH sehingga mereka tidak bisa hidup seperti anak pada umumnya. Agar ABH memiliki masa depan dan kembali melayani hidup normal, maka perlu ada upaya-upaya untuk melakukan pendidikan karakter yang dilakukan melalui pendekatan informal di keluarga dan lingkungan sekitarnya, serta secara non formal melaui lembaga/organisasi kemasyarakatan. Untuk itu anak yang berhadapan dengan hukum perlu ditumbuhkan semangat untuk meyakini bahwa manusia dapat berubah menuju keadaan yang lebih baik dan untuk itu perlu dilakukan modifikasi lingkungan, pemberian informasi dan modifikasi emosional.
Pertisipasi Perempuan Dalam Rehabilitasi Lahan Ismi Dwi Astuti Nurhaeni
Jurnal AKRAB Vol. 2 No. 3 (2011): Desember 2011
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v2i3.134

Abstract

Partisipasi perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup masih sangat terbatas, termasuk dalam rehabilitasi hutan, karma adanya anggapan balnaa permasalahan lingkungan hidup merupakan tangggungjawab laki-laki. Keterlibatan perempuan masih sebatas pada kegiatan teknis operasional dan belum sampai pada tataran strategis. sampai saat ini belum terdapat kelompok khusus perempuan yang menangani masalah rehabilitas hutan dan lahan. Rendahnya partisipasi perempuan dalam rehabilitasi lahan mengakibatkan perempuan tidak mempunyai posisi tawar dalam berhadapan dengan pihak pemerintahan dan swasta serta tidak bisa melakukan kontrol terbadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan merugikan mereka. Untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas kaum perempuan dalam rehabilitasi hutan dan lahan perlu adanya peningkatan kapasitas dan kapabilitas perempuan melalui proses belajar yang terus menerus. Selain itu juga perlu dibangun solidaritas antar perempuan agar dapat tumbuh bersama-sama menjadi kelompok yang kuat dan solid. Di samping itu juga perlu dibangun opini publik tentang persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum perempuan pinggir hutan agar suara mereka terdengar oleh pejabat pemerintah. Pentingnya membangun opini pubik merupakan salah satu komponen dari pemberdyaan perempuan. Untuk menghadapi berbagai persoalan kebijakan, ada baiknya perempuan yang tinggal di desa hutan atau di pinggir hutan diberikan pendidikan politik. Yang tak kalah penting, perempuan perlu diberdayakan secara ekonomi agar terlepas dari persoalan kemiskinan dan dapat hidup mandiri.

Page 8 of 23 | Total Record : 224