cover
Contact Name
Tristanti Apriyani
Contact Email
tristanti.apriyani@idlitera.uad.ac.id
Phone
+628111773473
Journal Mail Official
tristanti.apriyani@idlitera.uad.ac.id
Editorial Address
Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Jalan A. Yani (Ring Road Selatan), Tamanan, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia Telp. (0274) 563515
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mimesis
ISSN : 2715744X     EISSN : 2721916X     DOI : 10.12928
Mimesis is an academic, open access, and peer-reviewed journal founded and first published in 2020 by Indonesian Literature Department, Faculty of Culture, Literature, and Communication, Universitas Ahmad Dahlan, Indonesia. Focusing on culture, language, and literature as it is viewed from the Indonesian perspective, Mimesis provides a platform for the presentation, analysis, and criticism of provocative work, publishing articles that transcend disciplines and advance the study of humanities. Issues are published two times per year (in January and July) and all articles are published exclusively in Bahasa and English. Submissions are open year-around. However, before submitting, please ensure that the manuscript fits within Mimesis focus and scope, and is written in English and follows our author guidelines. Please note that only research articles or book review are accepted.
Articles 120 Documents
Metafora dalam Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksakandang Karesian: Kajian Semantik Kognitif Salehudin; Rizki Putra Zuwandono; Ahmad K. Ridho Al-Khudri
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16118

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan metafora konseptual dalam naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksakandang Karesian melalui pendekatan semantik kognitif. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan secara komprehensif bentuk-bentuk metafora serta skema citra pra-konseptual yang mendasari konstruksi pemaknaan dalam teks tersebut. Dengan menerapkan metode deskriptif kualitatif, data lingual dikumpulkan melalui teknik pembacaan mendalam dan diidentifikasi menggunakan perangkat Metaphor Identification Procedure (MIP) dari Pragglejaz Group. Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan teori klasifikasi metafora dari Saeed serta teori skema citra yang dikembangkan oleh Croft dan Cruse. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora dalam naskah abad ke-16 ini terbagi ke dalam empat bentuk utama, yaitu metafora konvensional, sistematis, asimetris, dan abstraksi. Selain itu, ditemukan beberapa pola skema citra yang mendasari penataan gagasan tersebut, meliputi skema kekuatan (force), wadah (container), dan eksistensi (existence). Lebih dari sekadar unsur stilistika atau hiasan retoris permukaan, temuan ini secara tegas memperlihatkan bahwa metafora berfungsi sebagai representasi dari cara pandang (worldview) dan sistem konseptual masyarakat Sunda Kuno dalam mengorganisasikan pengalaman hidup serta nilai-nilai moral keagamaan yang abstrak melalui pengalaman fisik yang konkret. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah penting bagi perkembangan studi linguistik kognitif Nusantara dengan memetakan integrasi data filologis lokal dan struktur kognitif global, sekaligus mengisi rumpang akademik dalam studi evolusi semantik naskah daerah secara diakronis.
Narasi Mistis sebagai Representasi Budaya Jawa dalam Novel Sewu Dino Karya SimpleMan Ega Erlambang; Arief Ahsan Hamami; Shelly Aulia Pratiwi
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16157

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kuatnya kehadiran unsur mistis budaya Jawa dalam novel Sewu Dino karya SimpleMan yang selama ini lebih sering dipandang sebagai strategi pembangun horor. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi budaya Jawa melalui unsur santet, weton, mantra, dan air kembang tujuh rupa dengan menggunakan teori representasi Stuart Hall sebagai kerangka analisis utama. Penelitian ini dikategorikan sebagai deskriptif kualitatif dengan sumber data novel Sewu Dino dan data sekunder berupa buku, artikel ilmiah, serta penelitian terdahulu. Data dikumpulkan melalui pembacaan intensif, identifikasi, pencatatan, pengodean, dan klasifikasi kutipan yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa santet merepresentasikan konflik sosial dan relasi kuasa, weton merepresentasikan pandangan kosmologis tentang nasib, mantra menjadi medium komunikasi spiritual, sedangkan air kembang tujuh rupa merepresentasikan penyucian dan perlindungan. Penelitian ini berkontribusi dalam penerapan teori representasi Stuart Hall dalam kajian sastra Indonesia serta berkontribusi secara empiris dalam memberikan pemahaman baru mengenai konstruksi budaya Jawa dalam novel bergenre horor populer Sewu Dino.
Eufemisme sebagai Instrumen Ideologis dalam Wacana Kebijakan Makan Bergizi Gratis Ulfa Kurniasih; Azizatul Khairi
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16186

Abstract

The Free Nutritious Meal Program (MBG), which was launched on January 6 2025 with an allocation of IDR 71 trillion, is the largest nutritional intervention in Indonesian history. But on March 31, 2026, the government announced a reduction in distribution from six to five days per week—a policy consistently communicated using the phrase "budget adjustment" and its derivatives. This research aims to reveal the euphemistic function of MBG policy diction, identify the ideology that works behind it, and examine its ecotheological implications for food justice and state responsibility. The approach used is Norman Fairclough's three-dimensional Critical Discourse Analysis (AWK)—text, discursive practices, and social practices—with triangulation of four data sources: formal policies (Inpres No. 1/2025, Presidential Decree No. 83/2024), statements by public officials, independent research reports (CISDI, CELIOS, Bappenas, The Indonesian Institute), and national-international media reports. The results of the analysis found seven systematic euphemistic strategies in MBG policy texts: lexical substitution, nominalization that removes the agent, positive word clusters, naturalization of claims, externalization of responsibility, absent presence of beneficiaries, and concealment of contradictions. Behind this strategy, four ideologies work simultaneously: fiscalism as the highest value, centralism without public deliberation, populism without evidence-based evaluation, and unequal distribution of burdens. From an ecotheological perspective, this policy violates the principles of food justice and produces food waste of 1.1–1.4 million tons per year which damages the ecosystem. The research concludes that policy euphemisms are not just a style of language, but rather ideological instruments that reproduce injustice and weaken public accountability.
Konjungsi Koordinatif Atau dalam Tiga Novel Karya Penulis Berlatar Belakang Budaya Minangkabau Ghina Afifah; Siti Ainim Liusti
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16242

Abstract

Penelitian ini mengkaji penggunaan konjungsi koordinatif atau dalam novel dengan fokus pada distribusi sintaksis dan variasi posisinya. Meskipun konjungsi atau kerap digunakan dalam karya sastra, kajian yang secara khusus menganalisis kemunculannya pada hubungan berbagai satuan lingual serta pola posisinya dalam kalimat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis satuan lingual yang dihubungkan oleh atau, serta menganalisis distribusi posisi kemunculannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Data berupa kalimat yang mengandung konjungsi atau yang diambil dari tiga novel karya penulis berlatar belakang budaya Minangkabau, yaitu Kidung Kambari karya Vera Yuana, Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka, dan Rinai Kabut Singgalang karya Muhammad Subhan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi melalui tahap identifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konjungsi atau paling dominan menghubungkan satuan frasa, diikuti oleh kata dan klausa. Pada tingkat klausa, atau membentuk kalimat majemuk setara dengan posisi medial dan inisial. Posisi medial merupakan yang paling dominan, sedangkan posisi inisial muncul terbatas dalam konteks naratif. Temuan ini menunjukkan bahwa atau memiliki penggunaan yang fleksibel dalam struktur kalimat serta berperan dalam memperluas hubungan pemilihan dalam novel.
Representasi Sagu dalam Puisi “Sagu Ambon” Karya W.S Rendra: Kajian Semiotika Roland Barthes Dzykry Agis Sarodi; Tristanti Apriyani; Yan Yin Yan
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16378

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya membaca simbol sagu dalam puisi “Sagu Ambon” karya W.S. Rendra sebagai representasi budaya lokal yang berkaitan dengan pengalaman konflik, identitas kolektif, dan gagasan perdamaian masyarakat Maluku. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi sagu dalam puisi “Sagu Ambon” berdasarkan perspektif semiotika Roland Barthes. Teori yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes yang menekankan tiga tingkat pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka serta baca-catat terhadap kata, frasa, larik, dan bait yang memuat tanda tentang sagu. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi penanda dan petanda, menafsirkan makna denotatif dan konotatif, serta mengungkap mitos yang terbentuk melalui tanda tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif sagu merepresentasikan pangan lokal dan realitas material masyarakat Maluku. Secara konotatif, sagu menjadi simbol keharmonisan, kebersamaan, dan identitas budaya kolektif. Pada tingkat mitos, sagu membangun ideologi perdamaian dan rekonsiliasi yang menegaskan pentingnya persaudaraan di tengah perbedaan sosial, agama, dan budaya.  Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian sastra tentang penerapan semiotika Barthes dalam analisis puisi Indonesia. Selain memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian semiotika sastra, penelitian ini juga memperkaya perspektif mengenai representasi pangan lokal sebagai bagian dari konstruksi makna budaya dalam karya sastra Indonesia. 
Analisis Linguistik Forensik pada Dokumen Persidangan Kasus Pencemaran Nama Baik Kasus Dana Arisan Perguruan Heri Kurniawan; Irwan Suswandi; Tsurayya Yusra Zahirah Zahra
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16555

Abstract

Perkembangan komunikasi digital meningkatkan potensi terjadinya kejahatan berbahasa, termasuk pencemaran nama baik yang pembuktiannya bergantung pada analisis kebahasaan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk kejahatan berbahasa serta menganalisis pemenuhan unsur delik pencemaran nama baik melalui pendekatan linguistik forensik pada dokumen persidangan kasus pencemaran nama baik terkait dana arisan perguruan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa dokumen putusan pengadilan yang memuat bukti percakapan WhatsApp. Data dianalisis menggunakan pendekatan semantik leksikal dan semantik kontekstual melalui analisis komponen makna terhadap satuan kebahasaan yang mengandung muatan evaluatif. Hasil penelitian menunjukkan lima satuan kebahasaan yang berpotensi menjadi bukti kebahasaan dalam perkara pencemaran nama baik, yaitu frasa bukan fitnah serta kata perampokan, pengecut, bersekongkol, nilep. Secara leksikal, satuan-satuan tersebut mengandung komponen makna yang berkaitan dengan tuduhan, kriminalitas, penghinaan, konspirasi, dan penguasaan harta secara tidak sah. Secara kontekstual, penggunaannya membangun praanggapan, pelabelan negatif, dan citra buruk terhadap pihak yang dituju sehingga mempersempit ruang interpretasi pembaca. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pilihan diksi tersebut memiliki karakteristik kebahasaan yang relevan dengan unsur pencemaran nama baik yang diatur dalam Pasal 27A Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Pasal 310 ayat (1) KUHP. Penelitian ini menegaskan bahwa analisis semantik dalam perspektif linguistik forensik dapat menjadi pendekatan yang sistematis untuk mengidentifikasi bukti kebahasaan pada perkara pencemaran nama baik di ruang komunikasi digital. 
Stigmatisasi Perempuan dalam Budaya Patriarkal: Analisis Semiotika Poster Film Pangku Athaya Ghina Sekar Pratiwi; Arif Ardy Wibowo
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16688

Abstract

Poster film merupakan media komunikasi visual yang bukan hanya memiliki fungsi sebagai sarana promosi, tapi juga mengandung tanda-tanda yang merepresentasikan budaya dan realitas sosial. Namun, kajian pada poster film Indonesia yang mengaitkan patriarki, kemiskinan dan stigma sosial sebagai satu kesatuan masih sangat terbatas. Dengan menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode analisis semiotika Roland Barthes, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, serta mitos yang terdapat dalam poster film Pangku, juga melihat bagaimana poster tersebut merepresentasikan budaya dan persoalan sosial. Objek dari penelitian ini adalah Official Poster film Pangku yang diunggah melalui akun Instagram resmi @filmpangku. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan studi pustaka dengan sumber data primer berupa poster film serta data sekunder dari berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda-tanda visual dalam poster bekerja secara bersama-sama merepresentasikan fenomena kopi pangku sebagai bagian dari realitas sosial, di mana patriarki, kemiskinan, dan stigma sosial hadir sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menganalisis poster tanpa mengaitkan isu sosial, representasi patriarki melalui film, maupun poster yang berfokus pada perlawanan dan emansipasi perempuan, penelitian ini mengungkap bagaimana patriarki, kemiskinan, dan stigma sosial membentuk representasi fenomena kopi pangku pada poster film. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperluas kajian semiotika poster film Indonesia, termasuk penerapan konsep peran gender dan konsep komodifikasi media pada ranah baru, dengan menunjukkan bahwa poster film sebagai media visual tidak bersifat netral melainkan ikut membentuk gambaran budaya dan realitas sosial dalam masyarakat.
Appraisal System–Attitude as A Normative Compliance Device in Pandemic Communication: Realizing Authority Legitimacy through Positive Valuation Dini Sri Istiningdias; Lia Maulia Indrayani; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Wagiati
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16764

Abstract

This study examines how positive valuation within the appraisal system–attitude operates as a normative compliance device in Indonesian public communication during the COVID-19 pandemic. Furthermore, this study used Systemic Functional Linguistics (SFL) especially appraisal and normative compliance theory. This study focuses on the statements delivered by government officials and broadcast through KompasTV streaming on YouTube. Meanwhile, this study employs a qualitative analytical approach using an abductive method, combining deductive procedures in data collection and analysis with inductive reasoning in presenting findings. The results of analysis showed 32 data as the most dominant appreciation-valuation as a part of appraisal systems-attitude device consisting of 30 realizations were positive and 2 were negative. Positive valuation was realized through four key variables, there are Sociality (3 data), Salience (7 data), Validity (9 data), and Maintenance (11 data). Across these variables, normative compliance and authority legitimacy were reinforced by emphasizing transparency, accuracy, consistency, credibility, and moral as well as social responsibility. Sociality highlighted the moral and social dimensions of authority, while salience underscored accuracy and credibility. Validity contributed to the perception of transparency and trustworthiness, and maintenance sustained compliance through consistent and credible communication. The predominance of positive valuation demonstrates that appraisal system-attitude, particularly appreciation, played a central role in legitimizing pandemic authority, fostering public trust, and ensuring adherence to communication protocols. By integrating Appraisal Theory with normative compliance frameworks, this study highlights the linguistic strategies through which governments construct legitimacy and reinforce authority during public health emergencies, offering insights into the role of language in shaping compliance and trust in times of crisis.
Tradisi Pembuatan Jukung Sewangi: Kajian Warisan Budaya Takbenda melalui Perspektif Social Models Andhika Yudha Pratama; Dini Putri Ratna Meritasari; Wiji Astuti; Daya Negri Wijaya
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16785

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pewarisan pengetahuan tradisional dalam tradisi pembuatan Jukung Sewangi di Pulau Sewangi, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan melalui perspektif Social Models sebagai kerangka pembelajaran sosial dalam pewarisan budaya antargenerasi. Kesenjangan penelitian ini terletak pada tradisi pembuatan jukung sebagai warisan budaya takbenda menghadapi tantangan berupa menurunnya jumlah pengrajin serta rendahnya minat generasi muda untuk melanjutkan keterampilan tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap pengrajin senior, generasi muda, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pewarisan pengetahuan tradisional berlangsung melalui mekanisme observasi terhadap pengrajin senior sebagai model sosial, imitasi keterampilan dalam proses pembuatan jukung, partisipasi langsung melalui praktik learning by doing, serta penguatan sosial yang diperoleh dari lingkungan komunitas pengrajin. Proses tersebut tidak hanya mentransmisikan pengetahuan dan keterampilan teknis pembuatan jukung, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai budaya, identitas maritim, dan solidaritas sosial masyarakat Banjar. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa perspektif Social Models mampu menjelaskan keterkaitan antara proses pembelajaran sosial dan keberlanjutan warisan budaya takbenda. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian pewarisan budaya dengan menunjukkan bahwa keberlanjutan tradisi tidak semata ditentukan oleh transfer keterampilan teknis, tetapi juga oleh pembentukan identitas dan relasi sosial yang berlangsung melalui interaksi antargenerasi dalam komunitas budaya. 
Label Kebahasaan sebagai Praktik Victim Blaming dalam Komentar Media Sosial di TikTok Felix Brian Hari Ekaristianto; Fitri Alfarisy
MIMESIS Vol. 7 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i2.16943

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk penggunaan bahasa yang merepresentasikan victim blaming dalam komentar media sosial terhadap korban pelecehan seksual. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Data penelitian berupa komentar warganet pada unggahan media sosial TikTok mengenai dua kasus pelecehan seksual, yaitu kasus pelecehan terhadap jamaah perempuan di Tanah Suci dan kasus pelecehan verbal oleh petugas KRL terhadap penumpang perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik victim blaming direpresentasikan melalui beberapa strategi kebahasaan, yaitu (1) pelabelan negatif terhadap korban, seperti “wanita lemah”, “sok cantik”, “halu”, dan “baper”; (2) penggunaan modalitas deontik yang menempatkan korban sebagai pihak yang seharusnya bertindak sesuai norma tertentu; (3) penggunaan modalitas epistemik yang memperlihatkan keyakinan penutur dalam mendefinisikan penyebab maupun batasan pelecehan seksual; (4) penggunaan presuposisi yang menganggap korban turut berkontribusi terhadap terjadinya pelecehan; serta (5) representasi yang mengalihkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban melalui wacana risiko, ujian, balasan, maupun kewajiban moral. Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai praktik sosial yang membentuk cara masyarakat memandang korban dan pelaku dalam kasus pelecehan seksual.

Page 12 of 12 | Total Record : 120