cover
Contact Name
Secretariat of Jurnal Gizi dan Pangan
Contact Email
jgizipangan@gmail.com
Phone
+62251-8621363
Journal Mail Official
jgizipangan@gmail.com
Editorial Address
Department of Community Nutrition, Faculty of Human Ecology, IPB University, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Pangan
ISSN : 19781059     EISSN : 24070920     DOI : 10.25182/jgp
Core Subject : Health,
Jurnal Gizi dan Pangan (Journal of Nutrition and Food) merupakan jurnal ilmiah yang memuat berbagai artikel hasil penelitian dan review (atas undangan) tentang gizi dan pangan, yang terkait dengan aspek biokimia, gizi klinik, gizi masyarakat, pangan fungsional, dan sosial ekonomi serta regulasi dan informasi gizi dan pangan. Jurnal ini merupakan publikasi resmi dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia yang telah terbit sejak tahun 2006. Penerbitan jurnal ini dilakukan secara teratur setahun 3 kali (bulan Maret, Juli, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 3 (2015)" : 10 Documents clear
PERUBAHAN STATUS GIZI BALITA PADA PROGRAM EDUKASI DAN REHABILITASI GIZI Ariska, Yusi; Kustiyah, Lilik; Widodo, Yekti
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.763 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to analyze factors that influence the change in nutritional status of children under-five years who participated in Nutrition Education and Rehabilitation Program. This research used secondary data with a pre-post intervention study (one group before and after intervention design) of 141 subjects. Six months intervention program which applied to the children consisted of provision of complementary feeding and supplement of zinc along with nutrition and health education for the mothers. This research conducted at District of East Kutai, Province of East Kalimantan. The average WAZ score of subjects after participating had increased significantly (-1.9±0.6) compared before participating in this program (-2.3±0.5) (p<0.05). Subjects with a good appetite tended to increase WAZ score four times than the worse one, while diarrhea subjects tended to have 0.3 times smaller WAZ score increase than non-diarrhea subjects.Keywords: children under-five years, diarrhea, nutrition education, rehabilitationABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan status gizi balita pada Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Desain yang digunakan adalah pre-post intervention study dengan jumlah subjek sebanyak 141 balita. Intervensi yang diberikan pada balita berupa pemberian makanan tambahan bersama, suplemen zink, dan penyuluhan gizi dan kesehatan bagi ibu balita. Intervensi tersebut diberikan selama 6 bulan dan dilaksanakan di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Rata-rata z-score BB/U balita setelah mengikuti Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi adalah nyata lebih tinggi (-1,9±0,6) dibandingkan sebelum mengikuti program tersebut (-2,3±0,5) (p<0,05). Anak balita yang memiliki nafsu makan yang baik cenderung mengalami kenaikan status gizi (BB/U) empat kali lebih besar daripada balita yang nafsu makannya kurang baik. Balita yang mengalami diare memiliki kecenderungan 0,3 kali lebih kecil mengalami kenaikan status gizi (BB/U) dibandingkan yang tidak mengalami diare.Kata kunci: balita, diare, edukasi gizi, rehabilitasi
ASUPAN PROTEIN NABATI DAN KEJADIAN ANEMIA WANITA USIA SUBUR VEGAN Nugroho, Fajar Ari; Handayani, Dian; Apriani, Yosi
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.89 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determined the role of vegetable protein intake and anaemia incidence among vegan reproductive aged women. This study was observational research with cross-sectional study design. Sixty-five subjects were selected by simple random sampling method. Data collection for intake was done by 24-hours recall technique, and haemoglobin levels was measured by cyanmethemogloblin method. The results showed that 26.1% from 31-anaemia vegan subjects classified as less vegetable protein intake individuals, and 43% from 34-non anaemia vegan subjects known as enough vegetable protein intake individuals. Chi-square test authenticate that there was a significant relationship between the vegetable protein intakes with anaemia incidence among vegan reproductive aged women (p=0.002). The conclusion showed that vegetable protein intake has a role to the risk of anaemia incidence among vegan reproductive aged women.Keywords: anaemia, reproductive aged women, vegan, vegetable proteinABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui peran asupan protein nabati terhadap kejadian anemia pada wanita usia subur (WUS) vegan. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sebanyak 65 subjek WUS dipilih menggunakan metode simple random sampling. Pengambilan data asupan dilakukan menggunakan metode 24-hours recall, sedangkan kadar hemoglobin dianalisis menggunakan metode cyanmethemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan 31 WUS vegan yang anemia sebesar 26,1% diantaranya menunjukkan memiliki asupan protein kurang, sedangkan 34 WUS vegan yang tidak anemia (43%), memiliki asupan protein nabati cukup. Analisis chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein nabati dengan kejadian anemia (p=0,002). Kesimpulan penelitian ini adalah asupan protein nabati berperan terhadap risiko anemia pada WUS vegan.Kata kunci: anemia, protein nabati, vegan, WUS
KEPATUHAN KONSUMSI SUPLEMEN BESI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI KOTA TANGERANG Fitri, Yuni Pradilla; Briawan, Dodik; Tanziha, Ikeu; Amalia, Leily
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.734 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this cross sectional study was to analyze the iron supplementation compliance and its influences on anemia prevalence among pregnant women in Tangerang. Structured interviews with pregnant women (n=91) were conducted between February and June 2015 in Tangerang, Banten. Duration of pregnancy, frequency of antenatal care (ANC) visits, and health worker’s practices on iron supplementation were correlated with women’s compliance to take the iron supplements (p<0.05). The prevalence of anemia was 42.9%. Poor compliance with iron supplementation was significantly associated with increased risk of anemia (OR=4.250; 95%CI: 1.425-12.671). This study implies the importance of enhancing the quality of ANC counselling to improve utilization of iron supplements and prevent anemia among pregnant women.Keywords: anemia, compliance, iron supplementation, pregnant womenABSTRAKPenelitian cross sectional study ini bertujuan untuk menganalisis kepatuhan konsumsi suplemen besi dan pengaruhnya terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Kota Tangerang. Wawancara terstruktur kepada ibu hamil (n=91) dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2015 di Tangerang, Banten. Usia kehamilan, frekuensi kunjungan antenatal care (ANC), dan praktik petugas kesehatan dalam suplementasi besi berhubungan dengan kepatuhan ibu dalam mengonsumsi suplemen (p<0,05). Prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 42,9%. Ketidakpatuhan ibu dalam mengonsumsi suplemen besi meningkatkan risiko terjadinya anemia secara signifikan (OR=4,250; 95%CI: 1,425-12,671). Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kualitas konseling saat ANC untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi suplemen besi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil.Kata kunci: anemia, ibu hamil, kepatuhan, suplementasi besi
PERCENT FAT MASS AND BODY MASS INDEX AS CARDIORESPIRATORY FITNESS PREDICTORS IN YOUNG ADULTS Dewi, Mira; Kustiyah, Lilik; Kuswari, Mury
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.674 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe present study aimed to analyze the association between body fatness measures, i.e. body mass index (BMI) and percent fat mass (% FM) with cardiorespiratory fitness (CRF) in young adults. Seventy five undergraduate students aged 19-21 years were included in this cross sectional study. Body composition was assessed by tetra polar Bioelectrical Impedance Analysis method, and CRF was determined as VO2 max level by conducting Balke test and flexibility by sit-and-reach test. Regression tests were performed to assess the associations between the body fatness measures and CRF. The mean (SD) % FM and BMI were 25.6 (8.3) % and 22.4 (4.2) kg/m2, respectively. Both BMI and % FM were inversely associated with VO2 max and flexibility. The associations of % FM with each CRF measure were stronger (% FM-VO2 max: R2=0.45, p<0.0001; % FM-flexibility: R2=0.16, p<0.0001) than those of BMI (BMI-VO2 max: R2= 0.12, p=0.002; BMI-flexibility: R2=0.07, p<0.0001). Including gender as a variable predictor greatly improved almost all associations. We suggest that %FM is a better predictor for VO2max than BMI. Further studies are needed to elucidate the relationships of body fatness measures adjusted for potential confounding factors with CRF measures other than VO2 max.Keywords: body mass index, cardiorespiratory fitness, percent fat massABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara persentase lemak tubuh (PLT) dan indeks massa tubuh (IMT) dengan kebugaran kardiorespiratorik (KKR) pada dewasa muda. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan melibatkan 75 orang mahasiswa usia 19-21 tahun. PLT ditentukan dengan metode tetra polar Bioelectrical Impedance dan KKR ditentukan dengan VO2max berdasarkan uji Balke dan fleksibilitas dengan uji sit-and-reach. Hubungan antara PLT dan IMT dengan KKR dianalisis dengan uji regresi. Rata-rata (standar deviasi) dari PLT dan IMT berturut-turut adalah 25,6 (8,3)% dan 22,4 (4,2) kg/m2. Baik PLT maupun IMT berbanding terbalik dengan nilai VO2 max dan fleksibilitas. Korelasi antara PLT dengan kedua komponen KKR lebih kuat (PLT-VO2 max: R2=0,45 p<0,0001; PLT-fleksibilitas: R2=0,16 p<0,0001) dibanding IMT (IMT-VO2 max: R2=0,12 p=0,002; IMT-fleksibilitas: R2=0,07 p<0,0001). Memasukkan gender sebagai prediktor variabel memperkuat semua korelasi kecuali antara PLT dan fleksibilitas. Diperlukan studi lebih lanjut untuk mempelajari hubungan antara komposisi tubuh termasuk faktor perancu potensial dengan fleksibilitas dan komponen KKR lainnya.Kata kunci: indeks massa tubuh, kebugaran kardiorespiratorik, persen lemak tubuh
FORMULASI RUMPUT LAUT Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN BAKSO DAGING SAPI TINGGI SERAT DAN IODIUM Princestasari, Lovi Dwi; Amalia, Leily
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.157 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to formulate seaweed Gracilaria sp. in producing meatballs with high fiber and iodine content. The formulation was made by seaweed porridge addition as much as 30%, 40%, and 50% of total weight of raw material. Meatball product with the addition of 40% of seaweed porridge was the most accepted in organoleptic tests. The proximate analysis of the selected meatballs showed that the content of water, ash, fat, protein, and carbohydrate was 76.93%, 2.31%, 0.5%, and 8.11% respectively. The total dietary fiber and iodine content was 5.98% and 1.14 ppm. The acceptance test done by 31 elementary school students showed that 90% of them stated “like” and could accept the product properly. The contribution of selected product to nutrient adequacy level of 6-12 years old’s children was 2.12-2.67% for energy, 7.03-12.05% for protein, 0.36-0.42% for fat, 2.19-2.87% for carbohydrate, 10.37-14.13% for fiber, and 49.4% for iodine. Hence, the meatball product with addition of Gracilaria sp. 40% is a high fiber and iodine product.Keywords: fiber, Gracilaria sp. seaweed, iodine, meatballsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memformulasikan rumput laut Gracilaria sp. dalam pembuatan bakso daging sapi agar diperoleh produk dengan kadar serat dan iodium yang tinggi. Formulasi dibuat dengan penambahan bubur rumput laut Gracilaria sp. sebesar 30%, 40%, dan 50% terhadap berat adonan total. Produk bakso dengan penambahan rumput laut sebanyak 40% menunjukkan nilai penerimaan tertinggi secara organoleptik dan dipilih sebagai produk terpilih. Hasil uji proksimat kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat secara berturut-turut adalah 76,93%; 2,31%; 0,5%; 8,11%, dan 12,16%. Kadar serat pangan total dan iodium produk terpilih masing-masing adalah 5,98% dan 1,14 ppm. Hasil uji daya terima terhadap 31 anak SD menunjukkan 90,3% subjek menyatakan suka dan dapat menerima produk bakso terpilih dengan baik. Produk bakso terpilih memberikan kontribusi energi 2,12-2,78%, protein 7,03-12,05%, lemak 0,36-0,42%, karbohidrat 2,19-2,87%, serat 10,37-14,13%, dan iodium 49,4% terhadap AKG anak usia 6-12 tahun. Dengan demikian, produk bakso dengan penambahan 40% rumput laut Gracilaria sp. merupakan produk tinggi serat dan iodium.Kata kunci: bakso daging sapi, iodium, rumput laut Gracilaria sp, serat
FORMULASI, KANDUNGAN GIZI, DAN DAYA TERIMA KUE-KUE TRADISIONAL MAKASSAR BERBASIS TEPUNG PUPAE–MULBERRY (PURY) SEBAGAI MAKANAN BERGIZI MASA DEPAN Kusharto, Clara Meliyanti; Astuti, Trina; Aisyah, Aisyah; Marliyati, Sri Anna; Rosmiati, Risti
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.172 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe aims of this research was to formulate and improve the nutrient content and define of makassar traditional snack which was enriched with Pupae-mulberry (Pury) powder. Experimental study was conducted and proximate analysis was used to determine nutrient content of the product and acceptance test was used by hedonic test of 25-32 semi-trained panelists. This research produced three kinds of traditional snacks, namely Rampari sponge cake, Deppatori Pury, and Pury sticks. Based on organoleptic test product Deppatori was selected to develop further by mixing basic substances consist of rice flour, glutinous rice flour, brown sugar, sesame and water with pupae-mulberry (pury) powder. The formulas were F1 (pury powder 5%), F2 (pury powder 10%), and F3 (pury powder 15%). The study showed that by hedonic scale, the panel preferred F2 because the addition more than 10% of Pury powder will make texture harder. Hedonic quality scale indicated that F2 had characteristics yellowish brown color, taste and flavor close to neutral. Nutrient content of Deppatori Pury 10% (per 100 g) was water 7.92 g, ash 1.19 g, protein 5.80 g, fat 25.99 g, carbohydrates 67.02 g, energy 484 kcal, calcium 74.14 mg, iron 1.96 mg, phosporus 97.23 mg, respectively and result of microbiology test was 390 cfu/g. Protein contribution of Deppatori-Pury 10% per 100 g serving size to RDA of elderly was 9.4-10.4%. Therefore, two serving size is recommended for Deppatori-Pury as future food to reach 20% RDA protein.Keywords: acceptability, deppatori, makassar’s snack, pury powderABSTRAKTujuan penelitian adalah melakukan formulasi dan meningkatkan kandungan zat gizi serta daya terima kue-kue tradisional Makassar yang diperkaya tepung pupae-mulberry (Pury). Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang melakukan analisis kandungan zat gizi secara proksimat dan uji penerimaan panelis (organoleptik) menggunakan uji hedonik oleh 25-32 orang panelis semi terlatih. Pembuatan kue tradisional menghasilkan tiga jenis produk yaitu bolu-sponge Rampary, Deppatori-Pury, dan Pury-Stick. Berdasarkan hasil uji organoleptik, satu produk perlu dikembangkan lebih lanjut yaitu Deppatori yang memiliki tingkat kesukaan terendah. Formulasi Deppatori-Pury dilakukan dengan mencampurkan bahan dasar yang terdiri atas tepung beras, tepung ketan, tepung pury, gula merah, wijen, dan air. Formula Deppatori-Pury terdiri atas F1 (tepung pury 5%), F2 (tepung pury 10%), dan F3 (tepung pury 15%). Pada uji hedonik, panelis lebih menyukai F2 yakni formula dengan penambahan tepung pury sebesar 10%, karena penambahan tepung pury yang semakin banyak akan membuat tekstur semakin keras. Hasil uji mutu hedonik juga menunjukkan bahwa F2 memiliki karakteristik warna cokelat kekuningan, rasa dan aroma yang netral, serta tekstur yang padat agak keras. Kudapan Deppatori-Pury 10% per 100 g mengandung kadar air 7,92 g, abu 1,19 g, protein 5,80 g, lemak 25,99 g, karbohidrat 67,02 g, energi 484 kkal, kalsium 74,14 mg, besi 1,96 mg, fosfor 97,23 mg. Hasil uji mikrobiologis 390 cfu/g. Kontribusi protein Deppatori-Pury 10% dengan takaran saji 100 g terhadap AKG untuk kelompok lansia sebesar 9,4-10,4%, sehingga untuk mencapai kadar protein 20% dari AKG dianjurkan untuk dikonsumsi sebanyak dua kali takaran saji sebagai makanan masa depan.Kata kunci: daya terima, deppatori-pury, kue makassar, tepung pury
EVALUASI KESEPADANAN MUTU GIZI TEMPE KEDELAI PANGAN REKAYASA GENETIK (PRG) DAN NON-PRG SERTA DAMPAK KONSUMSINYA PADA TIKUS PERCOBAAN Maskar, Dadi Hidayat; Hardinsyah, Hardinsyah; Damayanthi, Evy; Astawan, Made; Wresdiyati, Tutik
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.768 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate the effect of tempe that were made from Genetically Modified (GM) and non-GM soybean on protein quality, malondialdehide (MDA) levels, intracellular antioxidant superoxide dismutase (SOD) activity in the liver and kidneys, as well as spermatozoa profile of experimental rats. Fourty five Sprague Dawley rats divided into eight treatment grups and one control, fed with tempe and soybean from GM and non-GM at 10% and 20% concentrations for 90 days. The results showed that there was no significant difference in term of protein quality, tempe made from GM soybean is substantially equivalent with tempe made from non-GM soybean. Results showed that group which was given ration of 10% protein from conventional soybean had lower liver and kidney MDA levels as compared to GM tempe 10% and 20% groups, but was not significant compared to conventional soybean 20% and casein 10% groups. While the value of liver and kidney SOD activity were not significantly different (p>0.05) between the groups of rats. There was no significant differences among the spermatozoa profiles treatment groups and control and they were within normal condition. Results of protein quality, MDA, SOD, and spermatozoa profile showed that tempe made from GM soybean was substantially equivalent with the non-GM soybean.Keywords: GM soybean, MDA, non-GM tempe, SOD, spermatozoa profileABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh tempe Pangan Rekayasa Genetik (PRG) dan non-PRG meliputi kualitas protein, kadar malondialdehida (MDA) hati dan ginjal, aktivitas superoksida dismutase (SOD) hati dan ginjal, dan profil spermatozoa pada tikus percobaan. Sebanyak 45 tikus terbagi ke dalam delapan perlakuan dan satu kontrol yang diberikan perlakuan dengan ransum tempe dan kedelai, baik PRG maupun non-PRG, dengan konsentrasi 10% dan 20% selama 90 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kualitas protein, tempe PRG memiliki nilai yang sama dengan tempe non-PRG. Tikus yang diberi ransum 10% protein kedelai non-PRG mempunyai nilai MDA hati dan ginjal yang lebih rendah dibandingkan dengan tempe PRG 10% dan 20%, tetapi tidak signifikan dengan kelompok kedelai non-PRG 20% dan kasein 10%. Sementara itu, nilai SOD hati dan ginjal tidak signifikan antar grup perlakuan (p>0,05). Tidak ada perbedaan yang signifikan pada profil spermatozoa antar perlakuan. Hasil dari kualitas protein, MDA, SOD, dan profil spermatozoa menunjukkan bahwa kedelai dan tempe PRG memiliki kesamaan substansial dengan kedelai dan tempe non-PRG.Kata kunci: MDA, profil spermatozoa, SOD, tempe kedelai PRG, tempe kedelai non-PRG
IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM TANAMAN TORBANGUN (Coleus amboinicus Lour) Suryowati, Trini; Rimbawan, Rimbawan; Damanik, Rizal M; Bintang, Maria; Handharyani, Ekowati
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.092 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to determine the chemical compound in leaves, stem, and root by GC-MS technique and antioxidant activity of torbangun leaves (Coleus amboinicus Lour). The torbangun leaves ethanol extract were tested to antioxidant activity assay using DPPH, and á-glucosidase inhibitory effects was measured with a spectrophotometric method. The analysis of leaves revealed the presence of Carbamic acid, monoammonium salt (CAS) Ammonium carbamate (11.73%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (8.35%), I-Limonene (5.92%), Heptadecene-(8)- carbonic acid-(1) (4.76%), Oxacycloheptadec-8-en-2-one (CAS) Ambrettolide (4.70%). The analysis of stem revealed the presence of Formamide (CAS) Methanamide (22.48%), 12,13- Dimethyl-2,7- dioxa 5,10 diazatricyclo [4.4.4.0(1,6)] trans -tetradecan-12 (13.22%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (11.51%), 2-Propanone, 1-hydroxy- (CAS) Acetol (10.14%), 9-Octadecen-1-ol, (Z)- (CAS) cis-9-Octadecen-1-ol (7.09%). The analysis of roots revealed the presence of Methanamine, N-methyl- (CAS) Dimethylamine (28.45%), Acetic acid (CAS) Ethylic acid (9.78%), 3.2-Propanone, 1-hydroxy- (CAS) Acetol (6.41%), 1-Propen-2-ol, acetate (CAS) Isopropenyl acetate (5.16%), 4.73 Phenol, 2-methoxy- (CAS) Guaiacol(4.73%). The DPPH result of torbangun leaves ethanol extract obtained by IC50 247,942 ppm and ascorbic acid standard was 1 ppm. IC50 values inhibition of á-glucosidase extract was >100 ppm and glucobay standard was 0.264 ppm. This research provided a chemical compound and the torbangun leaves ethanol extract capable of acting as antioxidant based on IC50 values.Keywords: antioxidant activity, chemical compound, Coleus amboinicus LourABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen senyawa kimia dalam daun, dahan, dan akar menggunakan analisis Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (GC-MS) serta aktivitas antioksidan daun torbangun (Coleus amboinicus Lour). Daun torbangun yang diekstrak etanol dianalisis aktivitas antioksidan menggunakan test DPPH, dan daya hambat enzim á-glukosidase diukur dengan metode spektrofotometer. Hasil analisis dalam daun menunjukkan komponen kimia Carbamic acid, monoammonium salt (CAS) Ammonium carbamate (11,73%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (8,35%), I-Limonene (5,92%), Heptadecene-(8)-carbonic acid-(1) (4,76%), Oxacycloheptadec-8-en-2-one (CAS) Ambrettolide (4,70%). Hasil analisis dalam dahan menunjukkan komponen kimia Formamide (CAS) Methanamide (22,8%), 12,13-Dimethyl-2,7-dioxa5,10diaza tricyclo [4.4.4.0(1,6)] trans-tetradecan-12 (13,22%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (11,51%), 2-Propanone,1-hydroxy-(CAS) Acetol (10,14%), 9-Octadecen-1-ol, (Z)- (CAS) cis-9-Octadecen-1-ol (7,09%). Hasil analisis dalam akar menunjukkan komponen kimia Methanamine, N-methyl-(CAS) Dimethylamine (28,45%), Acetic acid (CAS) Ethylic acid (9,78%), 3.2-Propanone, 1- hydroxy- (CAS) Acetol (6,41%), 1-Propen-2-ol, acetate (CAS) Isopropenyl acetate (5,16%), 4.73 Phenol, 2-methoxy- (CAS) Guaiacol (4,73%). Hasil uji antioksidan terhadap daun torbangun dengan metode DPPH didapatkan IC50 247,942 ppm dibandingkan standar vitamin C 1 ppm. Nilai IC50 dari penghambatan enzim á-glukosidase dalam ekstrak daun torbangun >100 ppm dibandingkan dengan standar glukobay 0,264 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daun torbangun yang diekstrak dengan etanol mampu berperan sebagai antioksidan berdasarkan nilai IC50.Kata kunci: aktivitas antioksidan, Coleus amboinicus Lour, komponen kimia
BERAS ANALOG SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL DENGAN INDEKS GLIKEMIK RENDAH Noviasari, Santi; Kusnandar, Feri; Setiyono, Agus; Budijanto, Slamet
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.488 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research was to produce rice analogue as functional food with low glycemic index. The rice was made from white corn and sorghum with additional soybean flour. The physicochemical properties of rice analogue being analysed were resistant starch content, total phenolic content, dietary fiber, color (L*, +a, +b values) and whiteness (oHue). Rice analogue was potentially used as functional food indicated by high level of resistant starch 2.59%-3.31%, total phenolic content 0.18-0.25 mg GAE/g sample and dietary fiber 5.35%-6.14%. Rice analogue from white corn with and without soybean flour was further tested for glycemic index. Rice analogue from white corn has 69 GI value, while rice analogue from white corn with 10% soybean flour addition has 50 GI value.Keywords: functional food, glycemic index, rice analogueABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan beras analog yang berpotensi sebagai pangan fungsional dan bernilai indeks glikemik rendah. Beras analog dibuat dari bahan baku jagung putih dan sorgum dengan penambahan tepung kedelai. Sifat fisiko kimia beras analog yang dianalisis adalah pati resisten, total fenol, serat pangan, warna (nilai L*, +a, +b) dan derajat putih (oHue). Beras analog berpotensi sebagai pangan fungsional, yang ditunjukkan dengan tingginya kadar pati resisten yaitu sebanyak 2,59%-3,31%, total fenol sekitar 0,18-0,25 mg GAE/g sampel dan serat pangan antara 5,35%-6,14%. Beras analog berbahan baku jagung putih dengan dan tanpa penambahan kedelai dipilih untuk uji indeks glikemik. Beras analog dari jagung putih memiliki nilai IG 69 sedangkan beras analog dari jagung putih dengan penambahan tepung kedelai 10% memiliki nilai IG 50.Kata kunci: beras analog, indeks glikemik, pangan fungsional
KUALITAS KONSUMSI PANGAN DI DAERAH DEFISIT PANGAN PROVINSI RIAU Gevisioner, Gevisioner; Febriamansyah, Rudi; Ifdal, Ifdal; Tarumun, Suardi
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.357 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to asses the quality of food consumption and analyze the associated factors to improve the quality of food consumption of Riau Province, the food deficit region. A descriptive analytical study method was applied; and the data used in this research was secondary data. Descriptive and multiple regression analysis were applied for this study. The results showed that the food consumption quality was low which was dominated by food derived from grains, oils and fats and sugar. Food availability quality, income percapita, and food prices were not significantly associated with the food consumption quality. The strategies to improve the quality of food consumption are through developing a better institutions for food processing and marketing in rural in order to improve the efficiency and effectiveness of food distribution, and the value-added; increasing people knowledge on food and nutrition.Keywords: deficit region, food quality, food security, nutrition educationABSTRAKPenelitian ini bertujuan menilai kualitas konsumsi pangan penduduk daerah defisit pangan Provinsi Riau dan menganalisis faktor yang memengaruhinya. Pendekatan penelitian adalah deskriptif analitis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan uji yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil kajian menunjukkan kualitas konsumsi pangan penduduk belum baik, karena masih didominasi oleh konsumsi pangan yang berasal dari kelompok padi-padian, minyak dan lemak serta gula. Ketersediaan pangan, pendapatan per kapita penduduk, harga pangan secara bersama-sama tidak memengaruhi secara signifikan terhadap kualitas konsumsi pangan penduduk. Peningkatan kualitas konsumsi pangan penduduk di daerah defisit pangan dapat dilakukan antara lain dengan mengembangkan kelembagaan pengolahan dan pemasaran di perdesaan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas distribusi pangan dan peningkatan pengetahuan pangan dan gizi masyarakat yang berkelanjutan.Kata kunci: daerah defisit, ketahanan pangan, kualitas pangan, pendidikan gizi

Page 1 of 1 | Total Record : 10