cover
Contact Name
Azis
Contact Email
azis@unidayan.ac.id
Phone
+6285241915730
Journal Mail Official
pendidikansejarah@unidayan.ac.id
Editorial Address
Jalan Dayanu Ikhsanuddin No. 124, Kode Pos 93724 Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Location
Kota bau bau,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JPS
ISSN : 24433624     EISSN : 26863774     DOI : -
Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan mengkaji berbagai hal diantaranya kajian tentang kebudayaan, sejarah, dan penelitian tindakan kelas. Lembaga Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November). Redaksi menerima dari staf pengajar (guru dan dosen), peneliti, mahasiswa, maupun praktisi.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 63 Documents
STRATIFIKASI SOSIAL TERHADAP PRAKTEK TAURAKA (MAHAR) PERKAWINAN PADA MASYARAKAT BUTON Mansyur, Munawir
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana Latar Belakang Munculnya Stratifikasi Sosial Terhadap Praktek Tauraka (Mahar) Perkawinan Pada Masyarakat Buton, (2) Stratifikasi Penentuan Jumlah Mahar Di Buton. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui Bagaimana Latar Belakang Munculnya Stratifikasi Sosial Terhadap Praktek Tauraka (Mahar) Perkawinan Pada Masyarakat Buton, (2) Dan Untuk Mengetahui Stratifikasi Penentuan Jumlah Mahar Di Buton. Penelitian ini merupakan jenis penelitiaan kualitatif dengan desain etnografi. Penelitian berlangsung selama tiga bulan. Pengumpulan data lapangan dilakukan pada dua Kelurahan Kota Baubau. Subjek penelitian ini adalah tokoh adat,tokoh masyarakat dan budayawan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan (1) Awal pembagian stratifikasi masyarakat Buthuuni mulai diadakan kesepakatan bersama oleh para pembesar kesultanan Buthuuni pada masa Sultan Dayanu Ikhsanuddin yang di selaraskan dengan undang-undang kesultanan yaitu martabat tujuh dan sifat dua puluh. (2) Meskipun demikian, bentuk-bentuk pelaksanaan tauraka pada masyarakat Buton mengalami perkembangan dan berbeda-beda pendapat menurut pegangan para tokoh adat, tetapi tidak merubah makna adat
PERAN DAN FUNGSI PERANGKAT / PEJABAT KESULTANAN BUTON PADA ABAD KE-20 Mansyur, Munawir
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah : 1) latar belakang adanya pejabat kesultanan buton pada abad ke-20; 2) bagaimana peran dan fungsi pejabat kesultanan buton pada abad ke-20; Tujuan penelitian ini adalah: 1)untuk menjelaskan latar belakang adanya pejabat kesultanan buton pada abad k-20; 2) untuk mengetahui peran dan fungsi pejabat kesultanan buton pada abad ke-20; Peneltian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan analisis deskiptif kualitatif. Dari Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 1) Latar belakang adanya pejabat kesultanan buton pada abad ke-20 yaitu Deskripsi tentang wilayah kekuasaan Buton dalam konstruksi kolonial secara jelas baru dapat diketahui dalam abad ke-19 yakni mencakupi pulau Muna, yang dimana Muna adalah Pangsane atau Pancano yang diberikan oleh orang Ternate dan orang Buton menyebutnya sebagai daerah Pancana. Perangkat atau pejabat kesultanan buton yang dimaksudkan yaitu Pembagian kelompok di majelis yang diatur dalam UU yang disebut Tutura ini adalah sebagai berikut: Eksekutif = Sara Pangka; Legislatif = Sara Gau; Yudikatif = Sara Bitara. Ada 114 anggota majelis Sara buton yang terdiri dari 3 fraksi; Fraksi rakyat = Beranggotakan 30 menteri/bonto ditambah 2 menteri besar yang juga mewakili pemukiman-pemukiman di wilayah Buton; Fraksi pemerintahan = Pangka, Bobato, lakina Kadie yang mewakili pemerintahan.;Fraksi Agama = Diwakili oleh pejabat lingkungan sarakidina/sarana hukumu yang berkonsentrasi di masjid agung kesultanan Buton. Wilayah Kesultanan meliputi pulau Buton secara keseluruhan, pulau Muna bagian selatan, kepulauan Tukang Besi, pula Wawonii dan Jazirah Tenggara daratan pulau Sulawesi. Undang-undang "Murtabat Tujuh Kesultanan Buton" ditetapkan sejak tahun 1610 di masa pemerintahan Sultan Dayanu Iksanuddin (1579- 1631). Undang-undang tersebut mengenal tiga tingkatan pemerintahan.2) Dalam sejarah kesultanan Buton dari zaman Sultan dayanu ikhsanuddin (La Elangi) sampai dengan zaman pemerintahan Sultan Falihi bahwa dijelaskan perangkat atau pejabat kesultanan buton sampai dengan pada abad ke-20 yaitu mempunyai peran dan fungsi sebagai berikut :1) Sultan; 2) Pasopitumatana; 3) Siolimbona; 4) Sarana Hukumu dan beberapa pejabat penting yang ada di dalam sistem pemerintahan kesultanan Buton. Dari kesemua perangkat atau pejabat kesultanan buton dari zaman La Elangi sampai dengan Sultan Falihi tentunya masih mempunyai peran dan fungsi yang sama sampai sekarang ini.
PERANAN GURU BK ( BIMBINGAN KONSELING ) DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA DI SMP Negeri 9 Baubau AMALUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The formulation of the problem in this research is what is the role of guidance and counseling teachers in forming student character at SMP Negeri 9 Central Baubau and what is the shape of student character at SMP Negeri 9 baubau. The aim of this research is to find out the forms of student character at SMP Negeri 9 Baubau and to find out the services of guidance and counseling teachers in forming student character at SMP Negeri 9 baubau. his research is this research using qualitative descriptive research. This is a research procedure that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people and observed behavior. The approach is directed at Bk teachers, school students and the school as a whole. Time and place: This research was conducted in 2020/2021 at SMP Negeri 9 baubau, the research subjects, namely: the head of SMP Negeri 9 baubau, the guidance counselor at SMP Negeri 9 baubau and the students of SMP Negeri 9 baubau. The instruments for this research were, Observation, interviews and document study. Based on the research that has been carried out, the results obtained are that the guidance and counseling teacher is a person who is fully responsible for implementing guidance and counseling at school in shaping the character of his students. The services used to shape student character are orientation and information services. The role of the guidance and counseling teacher has been proven to be able to shape the character of his students, but it has not been maximized, causing only some students to have the character of religious, honest, responsible, tolerant, diligent, disciplined, friendly, peace-loving where the guidance and counseling teacher gives a letter to the students' parents. three times, if the student's parents do not respond to the letter, the guidance and counseling teacher makes a direct visit to the student's parent's house as a form of the guidance and counseling teacher's role.
RITUAL POAGO KAMPO PADA MASYARAKAT DESA INULU, KECAMATAN MAWASANGKA TIMUR, KABUPATEN BUTON TENGAH Awat, Rustam
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aims of this research are 1) To find out the background to the poago kampo ritual in the people of Inulu Village, East Mawasangka District, Central Buton Regency; 2) To find out the procedures for carrying out the poago kampo ritual among the people of Inulu Village, East Mawasangka District, Central Buton Regency; 3) To describe the meaning contained in the poago kampo ritual among the people of Inulu Village, East Mawasangka District, Central Buton Regency. This research uses a qualitative descriptive research method. Data sources in this research are observation, interviews, documentation and literature. The research results show that: 1) The background to the emergence of the poago kampo ritual is caused by the change of seasons from west to east, and vice versa. Usually this change of season causes the emergence of seasonal diseases, therefore this change of season is carried out by village healing (poago kampo ritual). This is also carried out taking into account the geographical factors of the village, so this ritual is carried out in the west and east seasons. This ritual is carried out to treat villages that are being hit by seasonal diseases in the hope that after the community performs the poago kampo ritual, the seasonal diseases that attack the village will go away and will not return again. 2) The procedure for carrying out the poago kampo ritual is: The first stage, the preparation stage which includes determining the time and preparing the materials. This determination of good/bad days is manifested in all activities. This process cannot be separated from the process of calculating days which are considered to have good values and are kept away from disaster. Next, the preparation of ingredients for the poago kampo ritual, consisting of: free-range chicken eggs, cigarettes, betel leaves, betel lime, areca nut, young coconut, white cloth, rice, and lapi leaves. The second stage is the implementation stage after determining a good day and preparing the offering materials, then the offerings are placed in places that are considered sacred by the people of Inulu Village, which consists of five sacred places, namely under a big tree, in the center of the village, the cemetery area , beach area, and village border area. After placing the offerings by religious and traditional leaders as well as several community leaders, the final stage was to return to the kamokula house for the reading of prayers led by the kamokula; 3) The meaning contained in the poago kampo ritual is religious meaning (reciting prayers to reject evil), social meaning (showing the spirit of mutual cooperation), cultural meaning (ancestral traditions of the Inulu Village community) which are still preserved to this day.
SENGKETA TANAH MASYARAKAT SUKU MANGE DENGAN MASYARAKAT WAKATOBI DI DESA JORJOGA KECAMATAN TALIABU UTARA KABUPATEN PULAU TALIABU HAERUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang konflik anatara penduduk Wakatobi yang bermukim di Pulau Taliabu dengan Suku Mange sebagai Penduduk asli Pulau Taliabu, dan bagaimana proses penyelesaian konfliknya serta dampak apa yang muncul pasca penyelesaian konflik anatar kedua etnis tersebut. Sumber yang digunakan terdiri dari sumber primer berupa wawancara, arsip/dokumen, dan sumber sekunder berupa artikel, buku, majalah, jurnal, yang diperoleh dari perpusatakaan maupun koleksi pribadi. Beberapa temuan pokok penelitian ini, adalah; Pertama, Suku Mange menganggap bahwa warga Wakatobi yang bermukim di Taliabu adalah warga pendatang yang tidak memiliki hak atas tanah yang digarapnya. Sementara dilain pihak warga Wakatobi yang telah sekian lama bermukim dan bertani telah menganggap bahewa tanah yag ditinggali dan digarapnya merupakan hak milik mereka, apalagi telah banyak tanaman jangka panjang yang tumbuh di areal tanah mereka. Kondisi tersebut kemudian membuat kedua belah pihak hidup tidak tenang, selalu was-was atau tidak nyaman dalam hidup bertetangga. Upaya mediasi telah dilakukan oleh pemerintah desa, tapi pada kenyataannya masing-masing pihak tetap bersikukuh dengan pendapatnya, sehingga jalan tengah sebagai solusi yang dapat ditempuh menjadi mandek.
TRADISI POAGO DAN KAOMBO PADA MASYARAKAT MBANUA KECAMATAN SIOMPU BARAT KABUPATEN BUTON SELATAN saafi, nasrun
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines and reveals the Poago and Kaombo Traditions in the Mbanua Community, West Siompu District, South Buton Regency, to find out the background of the Poago traditional medicine tradition and the Kaombo prohibition protection tradition and to know the practices and procedures for implementing the Poago tradition and the Kaombo tradition. This type of study was qualitative research. Data collection was carried out in Mbanua Village, West Siompu District, South Buton Regency by relying on interviews, observation, and literature study approaches. The results showed that the background of the poago traditional medicine tradition was the concern and fear of the community for something that would happen to their lives at the turn of the season commonly known as the term kalelei. The background of the tradition of protection and prohibition of kaombo was to maintain, protect, and preserve the protected forest as well as to maintain and protect garden products and fruit plants. The process of implementing the poago traditional medicine tradition was carried out in the mosque and led by an Islamic religious leader (Imam) by reading and reciting tobah astaghfirullah (100 times), shalawat on the prophet (100 times), Allahumma ya mahmudu (200 times), Al-Ikhlas (100 times), and rahatibu laailaahaillallah (100 times). The implementation of the tradition of protection and prohibition of kaombo was led by parabela traditional leaders starting with preparing the completeness of the procession, wrapping the completeness of the materials that had been prepared with white cloth then tied and hung on bamboo sticks, then stored in a place or tree that would be kaombo accompanied by reading batata (prayers).
PENGARUH KEPEMIMPINAN SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SD NEGERI 1 TAIPABU AMALUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem in this research is whether there is an influence of student leadership on student learning achievement at SD Negeri 1 Taipabu. The aim of this research is to determine the extent of the influence of student leadership on student learning achievement at SD Negeri 1 Taipabu. This research is a quantitative method, a type of correlational study. The population in this research is the entire number of students in grades IV and V at SD Negeri 1 Taipabu, which is 51 students. The sample for this research used a total sampling technique (total number) for class IV totaling 32 students, and class V totaling 19 students. The instruments and data collection techniques used in this research were observation and questionnaires The research results were analyzed quantitatively using the product moment formula. Based on the results obtained, the correlation coefficient (r) is 0.95, while the determination value (r2) is 90.25. Validity test of 0.371 can be concluded that there is student leadership towards student learning achievement at SD Negeri 1 Taipabu. The t-test is 1.419, so it can be concluded that there is an influence of student leadership on student learning achievement at SD Negeri 1 Taipabu. To test the reliability of the variable X instrument, the result was r = 5.4528. This is the average or mean, namely 68.35 and the r table, taking into account the magnitude of rxy = 0.95, which ranges from 0.800 – 1.000, means that there is a correlation between variables X and Y and that is a very high positive correlation.
KAMOMOSE LAKUDO: PERUBAHAN TRADISI DARI SAKRAL KE PROFAN Awat, Rustam
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi kamomoose di masa lalu dan sekarang; 2) Untuk mengetahui faktor yang menjadi penyebab perubahan tradisi kamomoose. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Proses pelaksanaan tradisi kamomoose di masa lalu dilakukan dengan tujuan sebagai ajang pencarian jodoh. Sebelum komomoose digelar, para gadis akan dihadirkan pada acara matano kahia'a (malam puncak pingitan). Mereka akan dikukuhkan secara adat sebagai gadis dewasa yang dirangkaikan dengan acara kamomoose. Di malam puncak acara pingitan, kamomoose digelar oleh dewan adat (saha) di depan galampa atau balai pertemuan adat. Waktu pelaksanaan kamomoose itu didasarkan atas perhitungan malam bulan di langit yaitu empat belas malam bulan atau lima belas malam bulan. Para tokoh adat akan membuka acara dengan menabur kacang (fopanga) mengelilingi gadis-gadis yang duduk di acara kamomoose tersebut. Setelah itu lalu diikuti oleh para pemuda yang bersiap untuk memasuki acara kamomoose sambil menjatuhkan kacang dan terkadang pula benda berharga ke dalam baskom yang ditujukan pada perempuan yang dicintainya. Di masa kini, kamomoose dilaksanakan dengan tujuan sebagai hiburan semata, sebagai momen silaturahmi dengan keluarga, sahabat, dan para tetangga untuk mempererat persatuan dan kesatuan. Penetapan pelaksanaan tradisi kamomoose sekarang dilaksanakan setiap tahun secara perorangan, setelah lebaran idul fitri, dengan harapan suasana kampung menjadi ramai karena banyak dari para perantau yang pulang ke kampung halaman. 2) Faktor yang menjadi penyebab perubahan tradisi kamomoose adalah hilangnya tradisi pingitan (ombo) pada masyarakat Lakudo. Tradisi kamomoose dari yang sebelumnya bersifat sakral menjadi profan, dari tradisi menjadi hiburan semata disebabkan karena sudah tak ada lagi tradisi pingitan. Hilangnya tradisi pingitan merupakan faktor utama yang mengubah pelaksanaan tradisi kamomoose mulai dari tujuan pelaksanaan, tempat pelaksanaan, waktu pelaksanaan, hingga gadis-gadis yang duduk di acara kamomoose tersebut.
PESTA ADAT BEKHASIANO LIWU DI DESA WOLOWA BARU KECAMATAN WOLOWA saafi, nasrun
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji dan mengungkapkan Pesta Adat Bekhasiano Liwu di Desa Wolowa Baru Kecamatan Wolowa Kabupaten Buton, dengan tujuan: untuk mengetahui latar belakang adanya pesta adat bekhasiano liwu, proses pelaksanaan pesta adat bekhasiano liwu, dan makna yang terkandung pada pesta adat bekasiano liwu. Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan di Desa Wolowa Baru Kecamatan Wolowa Kabupaten Buton dengan bertumpu pada pendekatan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang adanya pesta adat bekhasiano liwu yaitu bermula dari kemenangan perang antara masyarakat Wolowa dalam menghadapi sanggila (bajak laut). Dari kemenangan ini masyarakat Wolowa lalu mengadakan pesta adat sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Proses pelaksanaan pesta adat bekhasiano liwu di awali dengan tahap persiapan dan pembuatan isi kacingkaha, selanjutnya inti pelaksanaan pesta adat bekhasiano liwu bermula dari ziarah ke benteng Kantolobea, liliano kampo (keliling kampung), angkeano tala (angkat talang), dan diakhiri makan bersama, penampilan tarian-tarian adat, hiburan malam, bongkar sabua sebagai rangkaian acara penutup. Makna yang terkandung dalam pelaksanaan pesta adat bekhasiano liwu di Desa Wolowa Baru Kecamatan Wolowa adalah: makna religi yaitu sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan perlindungan keselamatan, kesehatan, dan rezeki; Makna sosial yaitu sebagai sarana membangun hubungan silahturami dalam kehidupan masyarakat Wolowa; Makna budaya yaitu pesta adat bekhasiano liwu merupakan suatu tradisi warisan dari nenek moyang yang harus tetap dilestarikan sebagai jati diri masyarakat Wolowo
TRADISI SUNGKAWI SANGIA PADA MASYARAKAT SIOMPU KABUPATEN BUTON SELATAN HAERUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Latar belakang penelitian ini bertolak dari belum adanya kajian atau studi yang secara khusus membahas tentang kebudayaan masyarakat Siompu secara khusus. Penelitian ini mengungkapkan aspek-aspek historis tradisi Sungkawi sangia dalam kehidupan masyarakat Siompu, dengan tujuan; (1) mendeskripsikan latar belakang munculnya Tradisi Sungkawi sangia di Siompu, (2) menguraikan prosesi pelaksanaan Tradisi Sungkawi sangia di Siompu. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan analisis deskriptif kualitatif. Penggunaan metode ini bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta menyimpulkan data-data yang mempunyai hubungan antara fenomena yang diteliti. Untuk mendapatkan data yang akurat sehubungan dengan penelitian ini, digunakan teknik wawancara mendalam dengan informan pokok dan teknik observasi atau pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Upacara Sungkawi sangia dalam ingatan kolektif masyarakat Siompu mulai dilaksanakan sejak adanya parabela pertama di Siompu. Tentang kapan waktunya tidak dapat diketahui lagi, mengingat tradisi ini hanya tersimpan dalam ingatan masyarakat yang diturunkan secara turun-temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pada hakekatnya tradisi Sungkawi sangia merupakan perwujudan rasa terimakasih masyarakat Siompu yang telah diberikan keselamatan dan ketentraman hidup (2) Prosesi Sungkawi sangia dimulai dengan membaca doa di depan kaperansa dan tuturangi, kemudian memutarkan kelapa muda di depan kaperansa dan tuturangi secara bergantian (dua orang tadi saling membelakangi). Setelah prosesi selesai, kedua orang tersebut datang ke darat dan datang dua orang yaninnya untuk mengambil kembali isi kaperangsa dan tuturangi kemudian menyiram batu tadi (tempat upacara sungkawi sangia) dengan air laut. Setelah itu mereka naik di darat untuk membaca doa. Setelah pembacaan doa, semua rombongan dipersilahkan untuk makan. Acara selesai ditutup dengan pangara melapor kepada parabela bahwa prosesi upacara telah selesai. Lalu semuanya pulang dan diawali parabela yang terlebih dahulu meninggalkan tempat