cover
Contact Name
Azis
Contact Email
azis@unidayan.ac.id
Phone
+6285241915730
Journal Mail Official
pendidikansejarah@unidayan.ac.id
Editorial Address
Jalan Dayanu Ikhsanuddin No. 124, Kode Pos 93724 Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Location
Kota bau bau,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JPS
ISSN : 24433624     EISSN : 26863774     DOI : -
Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan mengkaji berbagai hal diantaranya kajian tentang kebudayaan, sejarah, dan penelitian tindakan kelas. Lembaga Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November). Redaksi menerima dari staf pengajar (guru dan dosen), peneliti, mahasiswa, maupun praktisi.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 63 Documents
UPAYA GURU IPS DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR PADA SISWA SMP NEGERI 2 LAKUDO AMALUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan yang akan menjadi obyek penelitian adalah Bagaimana kesulitan belajar yang dihadapi siswa dan upaya yang dilakukan guru IPS untuk mengatasinya. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah “kesulitan belajar yang dihadapi siswa dan upaya yang dilakukan guru IPS untuk mengatasinya di SMP Negeri 2 Lakudo “. Maka dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif.. Data jumlah yang menjadi populasi penelitian adalah 102 rang siswa (terdiri dari 4 rombongan belajar) untuk kelas VII. maka sampel penelitiannya sebanyak 25% dari populasi 102 orang. Maka sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 25 orang. instrumen penelitian yang digunakan. Dalam penelitian ini ada beberapa data yang diperlukan yaitu: wawancara observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data Triangulasi Berdasarkan hasil penelitian Siswa mengalami kesulitan dalam memahami dan menghafal materi-materi karena padanya perampingan jam pelajaran IPS sehingga waktunya yang dirasa kurang lama. Kurangnya waktu dalam mengerjakan materi hitung-menghitung yang ada pada pelajaran ekonomi. Menurut siswa materi yang disampaikan guru kurang banyak karena keterbatasan waktu dengan adanya perampingan jam pelajaran IPS sehingga siswa merasa sulit menemukan jawaban-jawaban pada soal-soal ujian. Guna memudahkan siswa untuk memahami dan menerima materi IPS dengan baik maka guru memberikan pembelajaran dengan model team teaching. Penggunaan model integrasi pembelajaran berdasarkan topik. Memberikan jam tambahan pelajaran IPS baik masih dalam jam pelajaran sekolah maupun diluar jam pelajaran sekolah. Meminta siswa agar memperluas materi-materi IPS melalui internet atau buku-buku yang ada diperpustakaan
OMBO : FUNGSI SOSIAL PADA TRADISI MASYARAKAT SIOMPU BARAT Mansyur, Munawir; Muskur, La Ode Muhammad
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah : 1) Apa yang melatarbelakangi munculnya tradisi ombo pada masyarakat Siompu Barat; 2) Bagaimanakah tata cara pelaksanaan tradisi ombo pada masyarakat Siompu Barat; 3) Manfaat apa saja yang diperoleh oleh gadis yang telah melakukan tradisi ombo (pingitan). Tujuan penelitian adalah 1) Untuk mengetahui latar belakang munculnya tradisi ombo pada masyarakat Siompu Barat; 2) Untuk mengetahui tata cara pelaksanaan tradisi ombo pada masyarakat Siompu Barat; 3) Untuk mengetahui manfaat yang diperoleh oleh gadis yang telah melakukan tradisi ombo (pingitan). Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatfi. Hasil penelitian ini adalah 1) Latar belakang munculnya tradisi ombo Tradisi ombo ini, berawal dari cerita yang diyakini masyarakat setempat yaitu pada zaman dahulu, ada sepasang suami istri beserta anak perempuannya yang hanyut di perairan Siompu. Kemudian melakukan batata (membuat nazar). “Jika kita selamat dari musibah ini maka kita akan membuat acara pounde-umde (memanjakan) bagi si anak gadis ”. setelah selamat sebelum pelaksanaan acara si gadis harus do ombo’e kadei selama beberapa hari agar pada saat pelaksaan si gadis akan cantik.kegiatan ini dilaksanakan berulang-ulang dan menjadi sebuah tradisi; 2) Tata cara pelaksanaan: tahap persiapan yaitu metau’a (musyawarah) untuk berapa peserta yang mengikuti, waktu, dan tempat pelaksanaan tradisi ombo. Tahap pelaksanaan: pengukuhan peserta, malono tangia (malam isak tangis), pirambi ganda, mandi wajib, kafoluku (masuk kamar), pemberian nasehat, pibura, baliana yimpo (perubaha posisi tidur),pemakaian baju adat Buton, kalempagi (melewati pintu).Tahap penutup: kafosambu (pemberian uang), penjemputan keluarga.; 3) Manfaat yang diperoleh gadis yaitu pembelajaran etika/moral : terdapat peraturan yang tidak tertulis seperti bagaimana cara merawat diri, pengaturan makanan dan minum dengan porsi ditentukan, serta posisi tidur yang benar. Berikutnya, Perawatan fisik : peserta atau gadis yang mengikuti tradisi ombo (pingitan) diatur jadwal dan porsi makannya. Manfaat selanjutnya Psikis : diberikan beberapa bimbingan pranikah bagi para gadis remaja oleh bhisa dalam mematangkan jiwa mencapai tujuan pernikahan atau kehidupan berumah tangga
URGENSI PENATAAN SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA MELALUI PERUBAHAN UUD NEGARA RI TAHUN 1945 Abdul Munafi, La Ode
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945, dan berlaku kembali sejak 22 Juli 1959 hingga era reformasi 1999, UUD Negara RI Tahun 1945 telah mengalami empat kali perubahan, yaitu pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002. Perubahan didasarkan pada pandangan bahwa UUD 1945 ini selain belum cukup memuat landasan bagi kehidupan bernegara yang demokratis, pemberdayaan rakyat, penghormatan HAM, juga karena mengandung sejumlah pasal yang menimbulkan multi-tafsir sehingga membuka peluang penyelenggara negara bertindak otoriter, sentralistik, tertutup, dan KKN. Perubahan UUD Negara RI Tahun 1945 merupakan rangkaian kegiatan reformasi konstitusi guna perbaikan sistem ketatanegaraan Indonesia.
TULA-TULANA RAJA INDARA PITARA: Sebuah Kajian Analisis Episode nur alam, siti; hasaruddin
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buton sejak menjadi tempat persinggahan telah mengembangkan tradisi tulis. Tadisi tersebut dapat dilakukan atau ditulis oleh masyarakat lokal atau karya-karya sastra tersebut didatangkan dari luar khusunya pada daerah Melayu. Jaringan intelektual menciptakan pengembangan karya-karya sastra khusunya di Buton. Salaah satu karya sastra tersebut adalah Tula-Tulana Raja Indara Pitara. Naskah tersebut disalin ole masyarakat Buton dari aksara Arab Melayu menjadi Aksara Arab Wolio. Naskah ini berbahasa Wolio yang terdari dari 170 halaman. Teks naskah menceritakan seorang tokoh yang bernama Indara Pitara yang berjuang mempertahankan hidup karena dibahwa oleh seekor burung merak. Pada kajian ini akan dilakukan pembagian episode berdasarkan alur ceritanya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mengunakan pendekatan ilmu sastra khusunya sosiologi. Sumber data yang digunakan adalah Tula-Tulana Raja Indara Pitara. Teknik yang digunakan adalah Purposive Sampling. Teknik pengumpulan data, melalui pelacakan lewat buku-buku, perpustakaan, dan koleksi pribadi. Membaca dan menganalisis hasil teks naskah. Dalam melakukan validasi data menggunakan trianggulasi teori . teknik analisis data untuk menganalisis data dalam Tula-Tulana Raja Indara Pitara ini ada tiga komponen pokok, yaitu: 1) reduksi data; 2) display data; dan 3) penggambaran kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukan bahwa tahap awal kerajaan Amantapure memangil beberapa orang ahli nujum untuk dimintai keterangan tentang anak yang dilahirkan oleh permaisuri. Episode kedua mengisahkan tinggal bersama Nenengkubaeya, seorang pedagang bunga yang berdiam di komuitas jin. Episode ketiga Raja Indara Pitara diutus untuk mencari obat yang dapat menghidupkan binatang yang telah mati. Episode ini Raja Indara Pitara dalam perjalanannya banyak mendapat rintangan. Pada bagian lain dikisahkan pula bahwa pertemuan antara Indra Pitara dengan peri yang berasal dari kayangan bernama putri Kumala Ratna Sari anak raja Batarasahu. Lepas dari persoalan tersebut pada episode selanjutnya setelah Raja Indara Pitara melanjutkan perjalanannya mengembang amanat dari Raja Sahasiani menemui bukit yang yang dapat dilewatinya. Tetapi karena Raja Indara Pitara telah menaklukan bangsa jin. Raja Indara Pitara kembali ke kampung halamannya
RITUAL POSUMANGA PADA MASYARAKAT TALAGA RAYA saafi, nasrun; TIFAYANTI, AGUS
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji dan mengungkapkan Ritual Posumanga Masyarakat Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah, dengan tujuan: untuk mengetahui latar belakang adanya ritual posumanga, proses pelaksanaan ritual posumanga, dan nilai yang terkandung pada ritual posumanga. Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan di Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah dengan bertumpu pada pendekatan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang adanya ritual posumanga merupakan suatu tradisi atau budaya yang sering dilakukan oleh masyarakat Talaga Raya untuk mengenang dan mendoakan arwah orang yang telah meninggal dunia. Tentang kapan adanya tidak dapat diketahui dengan pasti, mengingat ritual ini telah tersimpan dalam memory kolektif masyarakat yang diturunkan secara turun-temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Proses pelaksanaan ritual posumanga
PENENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA KURIKULUM MERDEKA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR SEJARAH KELAS XI DI SMA NEGERI 2 BAUBAU AMALUDDIN; devanti, wa
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problem in this research is how to apply the Discovery Learning learning model to the independent curriculum in studying history for class XI at SMA Negeri 2 Baubau. The aim of this research is to determine the application of the Discovery Learning learning model in the independent curriculum in studying history for class XI at SMA Negeri 2 Baubau. The type of research used in this research is Classroom Action Research or PTK. Time and place This research was carried out in the even semester of the 2023/2024 academic year in class XI of SMA Negeri 2 Baubau. The population in this study was 475 people (consisting of 13 study groups), the researchers chose class XI 3, totaling 36 students from SMA Negeri 2 Baubau. Research instruments are Observation Method, Demonstration Method and Documentation Method. The data analysis techniques used are data reduction, data exposure, and drawing conclusions The results of research in cycle I of student success in cycle I during learning activities were 16 students who completed with an average score of 70.00-75.00 and those who had not completed were 20 students with an average score of 55.00-65.00 in improving students' learning abilities to study the material and questions given and in cycle II during learning activities there was an increase where there were 31 students who completed with an average score 76.00-80.00 and there were 5 students who had not completed it with an average score of 60.00-65.00, increasing students' learning abilities to study the material and questions given.
PERKAWINAN MASYARAKAT BAJO (STUDI PADA MASYARAKAT BAJO SAMPELA, WAKATOBI) Awat, Rustam
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problems in this study: 1) What is the type of marriage in the Bajo Sampela community, 2) What is the procedure for implementing marriage in the Bajo Sampela community. The objectives of this study are: 1) to find out the type of marriage in the Bajo Sampela community, 2) to find out the procedure for implementing the marriage customs of the Bajo Sampela community. This research uses socio-cultural research methods and includes qualitative research that produces analytical procedures that do not use statistical analysis procedures and other quantifications. Data collection in this study consists of three methods, namely: 1) observation, 2) interviews, and 3) literature. The subjects in this research are traditional leaders, community leaders, and marriage actors. The results of this research show that marriage in Bajo Sampela consists of 3 types of marriage, namely: a) massuro (proposal), b) siboa (elopement), c) ngandaka (forced marriage). The procedure for implementing the traditional marriage of Bajo Sampela marriage is: a) massuro, the procedures are: lelepatilao (asking), then massuro (proposal), discussing pananga (dowry) and continued with pangarintanga allau allo (determining a good day), then the opening and the wedding ceremony. b) siboa (eloping), the procedure is: the two run away to the customary leader's house, report to the customary leader, notification to both families concerned, discussing the dowry as well as the good day, a simple marriage. c) ngandaka (forced marriage), the procedure is: If caught, the young people are arrested, taken to the village priest's house, and married off, or if they want to be arranged by the adat leader, they are reported first to his family
TRADISI TEI’ANO WINE PADA MASYARAKAT SIOMPU, SEBUAH RITUAL PRA TANAM (STUDI DI DESA NGGULA-NGGULA) HAERUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims; describes the background of the tei'ano wine ceremony in the Siompu community in South Buton Regency, describes the procession of carrying out the tei'ano wine ceremony in the Siompu community in South Buton Regency, reveals the symbolic meaning and values ​​contained in the tei'ano wine ceremony. The sources used consist of primary sources in the form of interviews, archives/documents, and secondary sources in the form of articles, books, magazines, journals, obtained from libraries and personal collections. This research uses a qualitative descriptive method. The aim of using this method is to create a systematic description, picture or painting of facts, characteristics and conclude data that has a relationship between the phenomena being studied. To obtain accurate data in connection with this research, in-depth interview techniques were used with the main informants and observation techniques or direct observations of the objects studied. Some of the main findings of this research are (1) The cultural tradition of tei'ano wine is a traditional ceremonial ritual of the farming community in Siompu. This ceremony is carried out after opening agricultural land, as an expression of prayer so that in the future the results will be abundant and free from pest pests. (2) The tei'ano wine ceremony or deliberation is carried out in baruga, which is attended by traditional institutions consisting of elements of sara and elements of law. (3) a. Social Values; deep wine tei'ano ritual Social life is essentially an activity of imitating and continuing the activities of humans in the past. b. Religious Values; The religious element in the tei'ano wine ceremony is reflected in the ritual of requesting the Almighty, so that the plants planted are kept away from pests and the results are bestowed. c. Cultural Values; The cultural value of the Tei'ano wine ceremony has become an ideology and justification for the importance of the ceremony. And if this culture is not implemented it will have a bad impact on people's lives
ADMINITRASI PEMERINTAHAN ISLAM : Studi Pemerintahan Kesultanan Buton Masa Muhammad Idrus Kaimuddin HASARUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Islamization of the archipelago influenced the development of the government system in most regions of the archipelago. The process of spreading and broadcasting peaceful Islam in various regions in the archipelago was accepted quickly and easily by society, especially in areas located on shipping and trade routes. Buton, which was on this route, easily accepted Islam, which then changed the government system from a kingdom with Islamic nuances to the status of a sultanate area. Apart from that, making Martabat Tujuh the philosophical foundation in running the government system. The Seventh Dignity which was made into a State Law became the basis for the formation of other regulations in structuring the State government system.
TARI CUNGKA : PERSPEKTIF MASYARAKAT BURANGASI KECAMATAN LAPANDEWA (STUDI KAJIAN SOSIOLOGYS HYSTORICAL) Mansyur, Munawir
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2024
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problems in this research are: 1) What is the background to the emergence of the Cungka dance in Burangasi, Lapandewa District, South Buton Regency; 2) What values ​​are contained in the story regarding the background of the Cungka dance; 3) How does the Cungka dance move among the Burangasi community, Lapandewa District, South Buton Regency; 4) What values ​​are contained in the Cungka dance in Burangasi, Lapandewa District, South Buton Regency. The aims of this research are: 1) to find out the background to the emergence of the Cungka dance in Burangasi, Lapandewa District, South Buton Regency; 2) to find out the values ​​contained in the story regarding the background of the Cungka dance; 3) to find out the Cungka dance movements of the Burangasi community, Lapandewa District, South Buton Regency. 4) to find out the values ​​attached to the cungka dance. The research used in this research is descriptive qualitative with a historical approach. The data sources in this research are primary data sources and secondary data sources. Data collection techniques are interviews, observation and document study. The results of the research obtained are 1) The background to the emergence of the Cungka Dance from a husband and wife who bought 1 of their 7 children whose body parts were planted in the garden and grew into food in the form of heads becoming coconuts, teeth becoming corn, fingers and toes becoming cassava, blood becoming santa (tubers), and other body parts becoming hopa, peanuts, pumpkins and so on. 2) The value contained in the Cungka dance story is the value of obedience which the child (Wa Sariati) was willing to slaughter for the sake of the survival of her family. 3) the cungka dance moves turning right and left and swinging the arms and changing patterns like the letter (V) accompanied by the waironi song. 4) The value contained in the Cungka dance is the value of the beauty of every movement danced