cover
Contact Name
Azis
Contact Email
azis@unidayan.ac.id
Phone
+6285241915730
Journal Mail Official
pendidikansejarah@unidayan.ac.id
Editorial Address
Jalan Dayanu Ikhsanuddin No. 124, Kode Pos 93724 Baubau, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Location
Kota bau bau,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JPS
ISSN : 24433624     EISSN : 26863774     DOI : -
Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan mengkaji berbagai hal diantaranya kajian tentang kebudayaan, sejarah, dan penelitian tindakan kelas. Lembaga Jurnal Pendidikan Sejarah FKIP Unidayan terbit dua nomor dalam satu tahun (Mei dan November). Redaksi menerima dari staf pengajar (guru dan dosen), peneliti, mahasiswa, maupun praktisi.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 63 Documents
BENTENG TAWULAGI SEBAGAI PUSAT PERTAHANAN KERAJAAN MORONENE KABAENA Rustam Awat
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VII, No 2, November 2021
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apa yang melatarbelakangi berdirinya benteng Tawulagi, (2) Bagaimana fungsi benteng Tawulagi pada masa Kerajaan Moronene Kabaena, (3) Mengapa benteng Tawulagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Moronene Kabaena, (4) Peninggalan apa saja yang terdapat di benteng Tawulagi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yang prinsipnya memiliki empat tahapan yaitu: (1) heuristik (teknik pengumpulan data), (2) kritik (teknik analisis data), (3) interpretasi (penafsiran), dan (4) historiografi (penulisan kisah sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang berdirinya benteng Tawulagi disebabkan kondisi keamanan pulau Kabaena yang tidak menjamin keselamatan penduduknya dengan makin gencarnya serangan bajak laut Tobelo. Oleh karena itu dengan segera Da motu’a di Rahadopi menghadap Mokole Sugilara di E’e Mpu’u (Ibu Kota Kerajaan Kabaena) untuk mengusulkan dibuat benteng pertahanan. (2) Fungsi benteng Tawulagi pada masa Kerajaan Moronene Kabaena adalah sebagai pusat pertahanan masyarakat Kabaena dan tempat tinggal Mokole (raja), hal ini dapat dilihat dari letak geografis Benteng Tawulagi yang berada di atas bukit dengan ketingian 1000 mdpl. (3) Benteng Tawulagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Moronene Kabaena dikarenakan benteng Tawulagi adalah benteng pertama yang dibuat oleh Kerajaan Moronene Kabaena. Benteng Tawulagi didirikan oleh Mokole III yaitu Mokole Sugilara pada abad XVI M. Selain itu tempatnya yang sangat starategis untuk berlindung jika masyarakat Kabaena merasa terancam dari pihak luar, dalam hal ini bajak laut Tobelo. Di benteng Tawulagi dikeluarkan perintah oleh Mokole (raja) untuk membuat sistem pertahanan dan keamanan, maka dibuatlah benteng penunjang di antaranya yaitu benteng Tuntuntari di bagian timur, benteng Ventumo dan benteng Tondowatu di bagian barat, benteng Doule dan benteng Nangkaea bagian utara, dan benteng Mata Evolangka di bagian selatan. Dengan demikian maka benteng Tawulagi berada di tengah-tengah benteng penunjang tersebut yang dijadikan sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan. (4) Peninggalan yang terdapat di benteng Tawulagi adalah struktur benteng, pintu gerbang (wamba), bastion, meriam, tempat pelantikan Mokole (raja), makam, dan sampah dapur.
PROBLEMATIKA GURU DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN DI SMA NEGERI 1 KULISUSU BARAT (STUDI KASUS DI SMA NEGERI 1 KULISUSU BARAT KABUPATEN BUTON UTARA) Munawir
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat, (2) apa problematika dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat, (3) bagaimana upaya guru dalam mengatasi problematika guru dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat dan (4) apakah solusi dari dampak problematika dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SMA Neeri 1Kulisusu Barat, (2) problematika guru dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat, (3) upaya guru dalam mengatasi problematika guru dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat dan (4) solusi dari dampak problematika dalam pengeloaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang memiliki tahap kerja yaitu: (a) wawancara,(b) observasi, dan (c) dokumentsi. Data yang diperoleh dianalisis dengan reduksi data, paparan dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa problematika guru dalam pengelolaan pembelajaran di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat adalah guru yang seharusnya mengajar sesuai dengan keahlian dan jurusannya diperguruan tinggi harus mengajar mata pelajaran lain yang tidak sesuai dengan jurusannya di perguruan tinggi karena kekurangan guru. Hal ini dilakukan karena untuk menutupi kekurangan guru di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat. Selain itu problematika lain yaitu kebanyakan guru yang ada di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat adalah GTT atau Guru Tidak Tetap, dari beberapa guru tersebut hanya 5 orang guru PNS. Selain jumlah guru PNS yang minim yang menjadi kendala lain adalah letak sekolah SMA Negeri 1 Kulisusu Barat yang jauh dari ibu kota kabupaten dan kurangnya SDM khususnya alumni sarjana pendidikan di wilayah Kecamatan Kulisusu Barat sehingga menyebabkan kurangnya tim pengajar di SMA Negeri 1 Kulisusu Barat.
SYEKH ABDUL WAHID PEMBAWA ISLAM DI PULAU BUTON HAERUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah masuknya Islam di Buton, ulama yang membawa dan menyiarkan Islam di Buton, serta strategi yag penyiaran Islam sampai kepada perubahan tata Kelola pemerintahan dari kerajaan menjadi kesultanan di Buton. Sumber yang digunakan terdiri dari sumber primer berupa arsip/dokumen, dan sumber sekunder berupa artikel, buku, majalah, jurnal, yang diperoleh dari perpusatakaan maupun koleksi pribadi penulis.. Beberapa temuan pokok penelitian ini, adalah; Pertama, masuknya Islam ke Buton. Pertama, Islam masuk kira-kira pada tahun 1540. Tradisi lokal menyebutkan bahwa pembawa Islam ke Butun ialah Syekh Abdul Wahid, putra Syekh Sulaiman keturunan Arab yang beristeri puteri Sultan Johor. Sekembali dari Ternate melalui Adonara menuju Johor, Syekh Adul Wahid berpapasan dengan gurunya Imam Pasai bernama Ahmad bin Qois Al Aidrus di perairan Flores (dekat Pulau Batuatas). Sang guru menugaskan muridnya untuk tidak segera kembali ke Johor melainkan terlebih dahulu menuju ke utara ke negeri Butun. Berbeloklah perahu yang ditumpangi Syekh Abdul Wahid ke utara dan berlabuh di Burangasi, di Rampea bagian selatan pulau Butun. Kedua, pembawa Islam di Buton adalah Syekh Abdul Wahid, Ayahnya bernama Syekh Sulaiman dan ibunya adalah puteri Sultan Johor. Diberitakan di Buton bahwa Syekh Abdul Wahid adalah turunan Arab yang menetap tinggal di Johor. Adapun silsilah Syekh Abdul Wahid dapat disebutkan sebagai berikut; Abdul Wahid bin Sulaiman bin Muhammad Aidrus bin Umardilar bin Arifbillah Ma’rufil Quzkhi bin Abubakar ibn Salim bin Syaid Salim bin Ali Ridla bin Musa Al Qaadim bin Muhammad Bakir bin Zainal Abidin bin Saidina Husein bin Saidina Ali. Dan ketiga, metode penyiaran Islam yang dilakukan oleh Syekh Abdul Wahid yaitu, metode Kawalimbobha, penyiaran Islam lewat istana, Metode dialog dan metode kesaktian.
Pengaruh Ulangan Harian Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMA Negeri 2 Baubau AMALUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah Pengaruh Ulangan Harian Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMA Negeri 2 Baubau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa Ada Pengaruh Ulangan Harian Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMA Negeri 4 Baubau. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif jenis penelitian korelasional.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah siswa kelas XI SMA Negeri 2 Baubau yang 432 orang siswa.Sampel penelitian ini dengan menggunakan teknik trandom sampling atau sampel acak kelas XI dengan jumlah 109 orang siswa. Instrument penelitian observasi, wawancara, angket/Quesioner dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini observasi, wawancara dan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu rumus product moment, uji t, mean, median, modus, uji validitas, dan uji reliabilitas Hasil penelitian adalah 1) hasil rumus product moment.( r) sebesar 0,80. 2) nilai determinasinya ( r² ) sebesar 0,64 yang di bulatkan 64 % dan selebihnya yang 36 % dipengaruhi oleh faktor lain. 3) Uji t ( t-hitung ) sebesar 1,376. 4)Nilai rata-rata / mean yaitu 55,75, nilai median adalah data nilai urutan ke – 55 yaitu 45 dan nilai modus adalah 45. 5) Uji Validitas 0,865, dan 6) uji uji reiabilitas instrument variabel X di dapatkan hasil r11 = 0,863. Hal ini menujukkan bahwa tingkat reliabilitas instrument termasuk sangat tinggi dapat di simpulkan bahwa Ada Pengaruh i Ulangan Harian Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMA Negeri 2 Baubau. maka dapat di simpulkan bahwa ada Pengaruh Ulangan Harian Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Pada Mata Pelajaran Sejarah Di SMA Negeri 2 Baubau. r table dengan memperhatikan besarnya = 0,80 yang berkisar antara 0.800 - 1,000 berarti ada korelasi antara variabel X dan variabel Y dan itu termasuk kerelasi positif yang sangat tinggi
TARIAN LUMENSE: MAKNA SIMBOLIK DALAM MASYARAKAT KABAENA HASARUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya suatu bencana dalam bentuk penyakit yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Penyakit tersebut tidak dapat disembuihkan dengan berbagai bemtuk pengobatan dalam bentuk herbal atttau pengobatan kampung. Hingga suatu ketika dipikirkan dengan cara pengoobatan berdasarkan riitual dalam bentuk tarian yang harus dilakonkkan oleh masyarakat. Hasil peneltian menunjukan bahwa Tari Lumense dilakukan dalam ritual pe-olia, yaitu ritual penyembahan kepada roh halus yang disebut kowonuano (penguasa/pemilik negeri) dengan menyajikan berbagai aneka jenis makanan. Ritual ini dimaksudakan agar kowonuano berkenan mengusir segala macam bencana. Penutup dari ritual tersebut adalah penebasan pohon pisang. Tarian ini juga sering ditampilkan pada masa kekuasaan Kesultanan Buton. Seiring dengan perkembangan, fungsi tari Lumense pun mulai bergeser. Tarian ini diawali dengan gerakan maju mundur, bertukar tempat kemudian membentuk konfigurasi huruf Z lalu berubah menjadi S, gerakan yang ditampilkan merupakan gerakan yang dinamis yang disebut moomani atau ibing. Klimaks dari tarian ini adalah ketika para penanari terus melakukan moomani kemudian menebaskan parang kepada pohon pisang, sampai pohon pisang itu jatuh bersamaan ke tanah. Penutup dari tarian ini adalah para penari membentuk konfigurasi setengah lingkaran sambil saling mengaitkan tangan lalu menggerakannya naik turun sambil mengimbangi kaki yang maju mundur.Khusus para penari lumense, taincombo dipadu dengan selendang merah. Kelompok putra ditandai adanya korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri. Parang atau ta-owu yang disarungkan di korobi dibuat khusus oleh pandai besi lokal dan selalu diasah agar matanya tetap tajam
RITUAL SIKLUS TANAM PADA MASYARAKAT KATOBENGKE Rustam Awat
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses pelaksanaan ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. (2) Apa makna yang terkandung dalam proses ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. (3) Fungsi sosial apa yang terdapat dalam proses ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. Jenis penelitian ini adalah penelitian budaya yang berkaitan dengan ritus (upacara adat) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedowan wawanacara (interview guide). Sumber tertulis terdiri dari buku-buku, artikel, dan jurnal. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, studi kepustakaan, dan observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Proses pelaksanaan ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke dimulai dari tedai (meminta izin kepada makhluk halus), mecika’a kastela (menanam jagung), waa’o (memberi sesaji kepada makhluk halus), fonisi’a liwu yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu fonisi’a liwu pertama (songkawi’a), dimana parabela mancuana naik ke liwu, dan fonisi’a liwu kedua (bongkaana tao) yaitu acara pada saat masa panen tiba, dan mehambisi’a (acara panen yang dikhususkan untuk sesama petani, bisa dilakukan dan tidak dilakukan). (2) Makna yang terkandung pada ritual siklus tanam terdiri atas tedai yang bermakna meminta izin kepada makhluk halus yang mendiami lahan, mecika’a kastela bermakna menanam bibit jagung untuk hasil yang memuaskan, waa’o bermakna memberi makan mahluk halus yang mendiami lahan, fonisi’a liwu pertama songkawi’a bermakna ungkapan rasa syukur karena selama menanam diberi kelancaran, fonisi’a liwu kedua bongkaana tao bermakna ungkapan rasa syukur masyarakat pada hasil panen, dan mehambisi’a bermakna ungkapan rasa syukur para petani pada hasil panen mereka. (3) Fungsi sosial yang terkandung dalam ritual siklus tanam yaitu nilai kebersamaan (berkumpulnya beberapa sanak keluarga, tetangga untuk membantu proses penanam jagung hingga proses panen jagung), nilai gotong-royong (keterlibatan berbagai pihak dalam penyelanggaraan upacara), dan nilai religi (doa atau mantra yang dilantunkan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kesehatan dan terhindar dari gangguan makhluk halus selama proses ritual siklus tanam dilaksanakan.
RAGAM PRAKTIK UPACARA DALAM TRADISI MASYARAKAT BUTON La Ode Abdul Munafi
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan ragam praktik upacara dalam tradisi masyarakat Buton. Sebagaimana masyarakat lainnya, masyarakat Buton memiliki ragam praktik upacara yang berhubungan dengan aspek-aspek tertentu kehidupan mereka. Ragam praktik upacara dimaksud meliputi upacara-upacara yang berhubungan lingkaran hidup manusia, upacara-upacara keagamaan, upacara pertanian, upacara laut, upacara pembangunan rumah, dan upacara ziarah. Selain berfungsi sebagai media permohonan kepada Tuhan untuk berbagai keperluan, ragam praktik upacara tersebut juga menjadi instrumen yang fungsional dalam mempererat hubungan antar warga masyarakat.
RITUAL PIMINAKI LA KALASE PADA MASYARAKAT BATUATAS HASARUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan November 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini : 1) bagaimana latar belakang munculnya ritual La Kalase pada masyarakat Batuatas; 2) bagaimana tata cara pelaksanaa ritual La Kalase pada masyarakat Batuatas; 3) bagaimana kedudukan dan fungsi ritual La Kalase pada masyarakat Batuatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) latar belakang munculnya ritual La Kalase pada masyarakat Batuatas ; 2) tata cara pelaksanaan ritual La Kalase pada masyarakat Batuatas ; 3) kedudukan dan fungsi ritual La Kalase pada masyarakat Batuatas Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah 3 orang parabola. Instrument penlitian menggunakan observasi, wawancara, cacatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan : (1) latar belakang munculnya ritual La Kalase berawal pada kejadian pada zaman dulu yakni La Dase dan Wa Sula yang melakukan perbuatas asusila, sehingga mereka dihukum dan dimasukan ke dalam bubu, sebelum mereka dimasukan mereka berwasiat, kemudian mereka dijatuhkan di air laut, tempat tersebut di namakan ujung kantaho. (2) prose pelaksanaan ritual La Kalase dilakukan beberapa tahap : a. tahap persiapan, melakukan diskusih tentang perlengkapan ritual. b tahap pelaksana (3) kedudukan dan fungsi ritual La Kalase. 1. Kedudukan ritual Piminaki La Kalase terdiri dari. a. Mantra merupakan perkataan atau ucapan batata/do’a. 2. Fungsi ritual Piminaki La Kalase terdiri dari. a. meredahkan air laut, dan b. sugesti merupakan pengaruh yang dapat menggerakan hati orang
JEJAK-JEJAK KOLONIAL DI BINONGKO HASARUDDIN
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Binongko merupakan saah satu wilayah di gugusan kepulauan tukang besi yang saat ini dikenal dengan nama kabupaten Wakatobi. Pulau Binongko pada masa silam merupakan salah satu daerah di wilayah kesultanan Buton, yang memproduksi rempah-rempah khususnya cengkeh dan pala. Posisi binongko yang sangat strategis yang merupakan salah satu jalur pelayaran yang menghubungkan dari arah timur kea rah barat Nusantara ataupun sebaliknya memungkinkan wilayah ini menjadi tempat persinggahan. Disamping itu keberadaan cengkeh dan pala yang merupakan komoditas perdagangan internasional pada zamannnya menjadikan pulau Binongko menjadi sasaran para pedangan khususnya bangsa Eropa. Kesepakatan antara Buton dan Belanda menjadikan komoditas cengkeh dan pala di Pulau Binongko menjadi daya Tarik Belanda untuk berada di Pulau Binongko sehingga meninggalkan jejak-jejak keberadaann bangsa Belanda
PERPINDAHAN PEMUKIMAN MASYARAKAT MAWASANGKA TIMUR DARI PERKAMPUNGAN LAMA KE WILAYAH PESISIR Awat, Rustam
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan Sejarah Terbitan Bulan Mei 2023
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang penelitian ini bertolak dari belum adanya kajian atau studi secara ilmiah mengenai perpindahan pemukiman masyarakat Mawasangka Timur dari perkampungan lama ke wilayah pesisir, sehingga mendorong penulis melakukan penelitian dengan tujuan; 1) Untuk mengetahui latar belakang perpindahan pemukiman masyarakat di Mawasangka Timur dari perkampungan lama ke wilayah pesisir, 2) Untuk mengetahui proses perpindahan pemukiman masyarakat di Mawasangka Timur dari perkampungan lama ke wilayah pesisir, 3) Untuk mengetahui proses pemekaran perkampungan pesisir menjadi desa-desa di Mawasangka Timur