cover
Contact Name
Muhammad Aditya Pratama
Contact Email
adityapratama@ikj.ac.id
Phone
+6285693972062
Journal Mail Official
imaji@ikj.ac.id
Editorial Address
Jalan Sekolah Seni No.1 (Raden Saleh, Kompleks Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No.73, RT.8/RW.2, Cikini, Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta 10330
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal IMAJI
ISSN : 19073097     EISSN : 27756033     DOI : https://doi.org/10.52290/JI
Core Subject : Humanities, Art,
Journal IMAJI accommodates a collection of various topics of film / audio-visual studies that contain ideas, research, as well as critical, fresh, and innovative views on the phenomenal development of cinema in particular and audio-visual in general. This journal aims to provide research contributions to film and audio-visual media which are expected to encourage the development of film, including photography, television and new media in Indonesia, so that they are superior and competitive at the national level and in the international world.
Articles 206 Documents
58 Tahun Film Animasi Indonesia: Film Animasi Indonesia Dalam Pertumbuhan Prakosa, Gotot
IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah Film Animasi Indonesia bagi para animator dunia dianggap begitu jelas, disamping Indonesia memiliki sejarah kebudayaan yang sangat kental. Seperti wayang dan candi-candi yang ada di pulau Jawa, semuanya memiliki gambar-gambar relief tradisional yang dianggap telah memiliki ‘hidup’, seperti visi film animasi secara umum. Disamping itu tentu saja pengaruh perkembangan jaman dan teknologi yang meng-global, tentu memberikan perkembangan dan pertumbuhan tersendiri. Maka sejak masa lahirnya Negara Indonesia, dengan berbagai kekuasaan dan kebijakan Presidennya, juga menumbuhkan perkembangan tersendiri. Boleh dibilang pertumbuhan film animasi Indonesia jika dimulai dengan diciptakannya film animasi propaganda Si Doel Memilih, karya animator dan kartunis Dukut Hendronoto, kini boleh dicatat film animasi Indonesia telah berusia 58 tahun. Usia yang cukup umur untuk dijadikan acuan, semestinya perkembangannya sudah ke berbagai ranah. Baik ranah individu maupun ranah industrinya. Namun kenyataannya selalu meleset dari pertumbuhannya itu sendiri.
Pakaian Perempuan Dan Kesenangan Laki-Laki Dalam Iklan Axe 2012 End Of Girls (2012) Kuspujiati
IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media kita saat ini menampilkan image perempuan yang « sempurna », yang tentunya cantik, tinggi dan langsing. Perempuan telah menjadi « icon » dari iklan sekaligus menjadi « objek » menarik di dunia televisi dan film. Hingga pada akhirnya image perempuan seperti inilah yang membentuk pemikiran masyarakat umum. Ketika televisi dan film menstandarisasi ukuran kecantikan, maka perempuan-perempuan yang tidak memiliki atau tidak memenuhi kriteria tersebut, ia jauh dari kategori «cantik ». Pada kenyataannya, standarisasi kecantikan dalam film maupun televisi tidak muncul begitu saja, namun itu semua merupakan konstruksi dari dominasi laki-laki.
Televisi sebagai Ideologi “Pembangun Karakter Bangsa” Gunapriatna, Arturo
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Televisi menjadi kekuatan baru, yang konon lahir karena kepentingan politik. Terutama juga menjadi senjata para penguasa dalam menanamkan ideologinya, semacam propaganda keberhasilan dalam membangun negara. Dalam kemampuan penonton yang semakin matang dalam menyerap setiap teks apapun, termasuk dalam era global yang sedang berlangsung dimana lahir berbagai karakter televisi, teks-teks populer (popular culture) semestinya sudah mulai menggantikan peran ideologi yang berbasis pada kekuasaan penguasa dalam teks-teks media.
Membaca Film Pacar Ketinggalan Kereta (1989) dari Perspektif Genre Musikal Respati, Bawuk
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pacar Ketinggalan Kereta (1989) merupakan film layar lebar terakhir dari sutradara Teguh Karya. Diadaptasi dari novel Kawinnya Juminten dan Martubi karya Arswendo Atmowiloto, film ini bercerita tentang dinamika kehidupan dua keluarga yang dibumbui kisah percintaan, kecemburuan, dan sedikit kelucuan. Tidak hanya bersandar pada tokoh-tokoh dan konflik dalam ceritanya, film ini juga memanfaatkan peran musik secara spesifik dalam bentuk penampilan musical number yang identik dengan genre musikal. Namun, apakah peran musik yang demikian sudah dapat menguatkan posisi film ini sebagai sebuah film ber-genre musikal? Artikel ini akan berusaha memberi definisi terhadap genre musikal pada umumnya, lalu membaca film Pacar Ketinggalan Kereta dengan definisi tersebut supaya dapat menyimpulkan apakah film ini dapat dikategorikan ke dalam genre musikal atau tidak.
Mise-en-scene dalam Sang Penari-nya Ifa Isfansah Abidin, Zainal
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tinjauan kritis terhadap mise-en-scene dalam film Sang Penari arahan sutradara Ifa Isfansah merupakan pemaparan yang berisi kritik terhadap unsur-unsur di luar unsur sinematografis, yang meliputi unsur seni peran atau acting, pengemasan tata artistik dan unsur pencahayaan. Telaah kritis tersebut dinilai berdasarkan resepsi dan interpretasi penulis yang dikaitkan dengan beberapa teori mise-en-scene, yang berisi batasan dan indikasi-indikasi tentang bagaimana aspek mise-en-scene dapat diwujudkan secara maksimal dalam sebuah film. Tulisan ini diawali dengan kajian tentang pentingnya optimalisasi mise-en-scene dalam film sekaligus menelaah relasi antara mise-en-scene dalam sebuah kreativitas pembuatan film. Kajian tersebut ditindaklanjuti dengan pemaparan seputar cerita dan konflik film Sang Penari yang ditegaskan dalam film dari scene awal hingga scene terakhir.
Kedudukan Perempuan Jawa Sebagai Istri Dalam Film Opera Jawa Karya Garin Nugroho: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Tokoh Siti Iskandar, Naswan
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan Jawa pada film Opera Jawa karya Garin Nugroho dianalisis berdasarkan teori Roland Barthes, “The Second Order Signification”. Deskripsi perempuan Jawa dianalisis pada tataran sistem penandaan pertama yang memunculkan makna denotasi, tataran sistem penandaan kedua yang memunculkan makna konotasi serta pada tataran mitos dan ideologi yang terkandung dalam film Opera Jawa. Dalam film Opera Jawa, pada tataran denotasi perempuan Jawa digambarkan sebagai perempuan yang patuh dan setia pada suaminya. Pada tataran konotasi, perempuan Jawa dipercaya sebagai lambang kesuburan, sebagaimana mitos yang berakar di masyarakat Jawa yang percaya dengan keberadaan Dewi Sri yang juga sebagai lambang kesuburan. Sehingga perempuan dalam masyarakat Jawa dimaknai memiliki kedudukan penting. Perempuan dalam masyarakat Jawa merupakan lambang kebahagiaan dan kesejahteraan rumah tangga.
FILM - TV Drama: Mengunggah Program Unggulan atau Sekedar “Coba-coba” ? Soenarto, RM
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampai sekarang siaran televisi adalah salah satu pandangan yang dapat dipercaya untuk membangkitkan perhatian khusus bagi masyarakat pebisnis. Demikian pulalah sebagai penggerak terpuji yang menyentak rasa kesenangan yang datang dari impian hidup seseorang. Pada penyiaran televisi selaku bisnis dari ide dan komunikasi menyatu menjadi dasar hidup manusia yang saling berhubungan dan bertukar pikiran antar mereka. Program siaran ber-format drama menyampaikan jalan yang luas terhadap hidup seseorang atau bagaikan hidup seseorang yang mempunyai momentum kemuliaan dan ekses positif lainnya. Demikianlah penyertaan hidup secara total akan membuat bisnis televisi sebagai sebuah pengalaman yang sangat menarik.
Stereotip Etnis Betawi dalam Sinetron Studi Kasus: Si Doel Anak Sekolahan Tobing, Suzen HR
IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai media komunikasi massa, televisi mempunyai fungsi sebagai pengamat lingkungan, dan juga fungsi penghubung dalam menjawab persoalan-persoalan lingkungan. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan (SDAS) yang pernah sangat digemari menarik untuk dianalisa karena didalamnya ada representasi etnis Betawi dan lingkungannya. Dengan teori kultivasi (penumbuhan) dikemukakan bahwa kecanduan menonton televisi dapat menumbuhkan persepsi bahwa realitas dunia yang sesungguhnya adalah sama dengan apa yang disajikan oleh televisi, sehingga dimungkinkan terjadi persepsi stereotip penonton atas etnis ini Persepsi yang terbentuk dari menonton SDAS bisa berupa persepsi murni, bisa pula persepsi yang dihasilkan dengan membandingkan realita media dengan realita sosial, sesuai fungsi media massa yang dapat membentuk, memperteguh atau merubah citra yang sudah dimiliki khalayak.
Perbandingan Kualitas dan Efisiensi Render Antara Eevee dan Cycles Blender dalam Film Animasi “Ireng” Nuswantoro, Fajar; Kurniawan, Ehwan; Fransisco Totti, Daniel
IMAJI Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i3.245

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan panduan komprehensif bagi para seniman dan profesional di industri animasi dan grafik komputer dalam memilih render engine yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengidentifikasi perbedaan kualitas visual antara render engine Eevee dan Cycles, mengukur efisiensi waktu render kedua engine dalam berbagai skenario, menilai performa hardware yang dibutuhkan oleh masing-masing engine, dan memberikan rekomendasi berdasarkan analisis komparatif untuk berbagai aplikasi praktis. Untuk mencapai tujuan ini, peneliti telah melakukan serangkaian uji coba dan analisis terhadap kedua engine menggunakan skenario yang mewakili berbagai kasus pengguna. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dan analisis komparatif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode yang diterapkan mencakup pengumpulan data dengan membangun adegan uji yang mencakup berbagai elemen grafis seperti tekstur, pencahayaan, dan kompleksitas objek, serta melakukan render adegan tersebut menggunakan Eevee dan Cycles pada perangkat keras yang sama demi menjaga konsistensi. Pengukuran dan analisis akan dilakukan dengan mengukur waktu render yang dibutuhkan oleh masing-masing engine untuk setiap adegan, mengevaluasi kualitas visual hasil render melalui perbandingan side-by-side dan metrik kualitas gambar objektif, serta mencatat penggunaan sumber daya perangkat keras selama proses render. Data yang diperoleh diolah menggunakan perangkat lunak analisis statistik untuk menyusun laporan yang menguraikan temuan utama, perbandingan kualitas dan efisiensi, serta rekomendasi praktis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan yang bermanfaat bagi pengguna Blender dalam memilih antara menggunakan Eevee atau Cycles sesuai kebutuhan mereka.
ANALISIS HERMENEUTIKA FILM DOKUMENTER SAMPARKOUR Hermansyah, Kusen Dony
IMAJI Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/i.v15i3.246

Abstract

Samparkour merupakan film observational documentary yang biasa. Daya tariknya terletak pada kesulitan menyampaikan pesan dari aksi Zico Corrêa sebagai atlet parkour. Corrêa tidak pernah gagal sekalipun saat melakukan aksinya di jalanan São Paulo, karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan atau rutinitasnya. Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan sumber datanya adalah film Samparkouritu sendiri. Pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan kepustakaan. Teori hermeneutika Paul Ricœur menjadi instrumen untuk analisis datanya. Merujuk dari teori Ricœur, film Samparkourbukan hanya film tentang atlet parkour yang menjelajah kota, tetapi ada aspek lain yang “dijual”. Hasil penelitian ini menggambarkan film dokumenter menggunakan gaya observational documentary dengan genre city profile dan kemasan soft-sell appeal. Penonton dimanjakan dengan gaya film (film style) yang sangat baik dengan staging permainan parkour yang bagus.

Filter by Year

2005 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 1 (2026): Film Artistik dan Film Komersial: Estetika, Industri dan Ideologi Hiburan Vol. 16 No. 3 (2025): Imaji Visual dalam Ruang, Waktu, dan Memori Vol. 16 No. 2 (2025): Film, Masyarakat, Teknologi, dan Identitas Budaya Vol. 16 No. 1 (2025): Identitas dalam Sinema Indonesia Vol. 15 No. 3 (2024): Ruang, Penonton, dan Wacana Sinematik Vol. 15 No. 2 (2024): Fotografi, Bahasa Visual dan Eksotisme Vol. 15 No. 1 (2024): Arsip, Wacana Visual & Film Eksperimental Vol. 14 No. 3 (2023): Suara & Imaji yang Berkelindan Vol. 14 No. 2 (2023): Fotografi, Riwayatmu Hingga Kini Vol. 14 No. 1 (2023): Antara Struktur dan Bahasa Visual Vol. 13 No. 3 (2022): Menuju Layar Personal sebagai Budaya Baru Menonton Vol. 13 No. 2 (2022): Wawancara dan Kedalaman Penelitian Media Audio Visual Vol. 13 No. 1 (2022): Merayakan dan Dirayakan Melalui Sinema Vol. 12 No. 3 (2021): Membingkai Realitas melalui Imaji Visual Vol. 12 No. 2 (2021): Panorama Mengamplifikasi Gagasan melalui Media Audio-Visual Vol. 12 No. 1 (2021): Sinema dan Wacana Vol. 11 No. 2 (2020): Sinema, Ideologi, dan Kritik Sosial Vol. 11 No. 1 (2020): Bentuk, Gaya, dan Persepsi Penonton Vol. 10 No. 2 (2018): Karakter dan Konsep-Konsep Psikoanalisis dalam Film Vol. 10 No. 1 (2018): Teknologi dan Storytelling dalam Medium Audio-Visual Vol. 9 No. 1 (2017): Mitos dalam Film dan Televisi Vol. 8 No. 1 (2016): IMAJI Vol. 5 No. 2 (2013): IMAJI Vol. 5 No. 1 (2013): IMAJI Vol. 4 No. 2 (2012): IMAJI Vol. 4 No. 1 (2012): IMAJI No. 6 (2011): IMAJI No. 5 (2009): IMAJI No. 4 (2008): IMAJI No. 3 (2007): IMAJI No. 2 (2006): Dimana Posisi Kritik Sinema Indonesia? No. 1 (2005): Antara Melihat dan Membaca More Issue