cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
The effectiveness of Solanum ferox and Zingiber zerumbet extracts on the survival of Penaeus monodon in different salinity levels of the cultivation media Hardi, Esti Handayani; Zaidan Fadhilah, Raviv; saptiani, Gina; Fujaya, Yushinta; suwinarti, wiwin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.119-128

Abstract

Decreasing the salinity of the water in the cultivation shrimp disease outbreaks, sluggish development, and mortality. Rainfall, water pollution, and climate change lower salinity. Thus, efforts to enhance tiger shrimp that can survive high salinity changes must be anticipated. This study will examine the effect of adding Solanum ferox and Zingiber zerumbet extracts to diet to improve tiger shrimp adaption at 10, 15, and 20‰ salinities. Penaeus monodon (0.017 ± 0.005 g) were randomly dispersed into nine boxes (1×0.5×0.8 m3) with 200 shrimp per container and three replicates per group. The shrimp were fed 1:1 extract, S. ferox (400 ppm), and Z. zerumbet (200 ppm) for 40 days. The study found that adding 5 mL of extract to the feed significantly increases shrimp body weight, weight gain, and specific growth rate at different salinities (P<0.05). The difference in salinity remained 100% in all treatments on the 40th day of culture (P>0.05). At salinities of 10 and 15‰, the total bacteria and Vibrio bacteria in culture media and shrimp were lower than at 20‰ (P<0.05). Administration of the extract enhances P. monodon adaption at difference salinities. Research suggests that adding 5 mL of a S. ferox and Z. zerumbet extract to shrimp feed improves growth, survival, and reduces bacteria and Vibrio in media and shrimp bodies at salinities of 10-20‰. Keywords: tiger shrimp, adaptation, salinities, S. ferox, Z. zerumbet   Abstrak Penurunan salinitas air media budidaya memicu terjadinya penyakit, perkembangan yang lambat, dan kematian pada udang budidaya. Curah hujan, polusi air, dan perubahan iklim menurunkan salinitas. Oleh karena itu, upaya untuk memperkuat ketahanan udang windu yang dapat hidup dari perubahan salinitas tinggi perlu diantisipasi. Studi ini akan menguji pengaruh penambahan ekstrak Solanum ferox dan Zingiber zerumbet ke dalam pakan untuk meningkatkan adaptasi udang windu pada salinitas 10, 15, dan 20‰. Penaeus monodon (0.017 ± 0.005 g) didistribusikan secara acak ke dalam sembilan kotak container (1×0,5×0.8 m3) dengan 200 udang per wadah dan tiga ulangan per kelompok. Udang diberi makan ekstrak gabungan S. ferox (400 ppm), dan Z. zerumbet (200 ppm) perbandingan 1:1, selama 40 hari. Studi ini menghasilkan data, bahwa penambahan 5 mL ekstrak ke pakan secara signifikan meningkatkan berat badan udang, pertambahan berat badan, dan laju pertumbuhan spesifik udang yang dipelihara pada salinitas yang berbeda (P<0.05). Perbedaan salinitas tetap menghasilkan kelangsungan hidup 100% pada semua perlakuan pada hari ke-40 budidaya (P>0.05). Pada salinitas 10 dan 15‰, jumlah bakteri total dan bakteri Vibrio dalam media kultur dan tubuh udang lebih rendah dibandingkan pada salinitas 20‰ (P<0.05). Pemberian ekstrak meningkatkan adaptasi P. monodon pada berbagai salinitas. Penelitian menunjukkan bahwa penambahan 5 mL ekstrak gabungan S. ferox dan Z. zerumbet ke pakan udang meningkatkan pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan mengurangi total bakteri serta bakteri Vibrio dalam media dan tubuh udang yang dipelihara pada salinitas 10-20‰. Kata kunci: udang windu, adaptasi, salinitas, S. ferox, Z. zerumbet
Utilization of mung bean sprout waste Vigna radiata hydrolyzed cellulase enzyme in feed on the digestibility of Nile tilapia Oreochromis sp. Audia Wuryas Pradita Negara, Grenda; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.138-150

Abstract

This study evaluated the utilization of mung bean sprout waste flour hydrolyzed by cellulase enzyme (LTe) as the feed ingredient of red Nile tilapia weighing 10.00 ± 0.01 g/seed and 7.00 ± 0.15 in length. This study used two stages, each consisting of four treatments and four replications. The first step was performed by evaluating LTe flour added with cellulase enzyme of 0 g/kg (control), 0.4 g/kg, 0.8 g/kg, and 1.2 g/kg. The second step was the digestibility test of LTe and growth performance on red Nile tilapia seeds. The results showed that the addition of cellulase enzyme at a 1.2 g/kg was significantly able to reduce the crude fiber of LTe with 78.19% %, hemicellulose at 19.22%, neutral detergent fiber at 41.69%, acid detergent fiber at 61.85%, lignin 64.06%, cellulose 62.47% besides having the best value of ingredient, protein, and energy digestibility. The test results on the growth performance of red Nile tilapia seeds fed with LTe feed with a dose of 1.2 g/kg cellulase enzyme have the highest value significantly different from the control feed based on the value of daily growth rate (SGR), ratio efficiency protein (REP), protein retention (PR), and improvement of feed conversion ratio (RKP).   Keywords: cellulase enzyme, digestibility, growth performance, mung bean sprout waste, tilapia   Abstrak Penelitian ini mengevaluasi pemanfaatan tepung limbah kecambah kacang hijau yang dihidrolisis enzim selulase (LTe) sebagai bahan baku pakan pada benih ikan nila merah dengan bobot 10,00 ± 0,01 g/ekor dan panjang 7,00 ± 0,15 cm. Penelitian ini menggunakan dua tahap dan masing-masing tahap terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Tahap pertama dilakukan evaluasi tepung LTe sebesar 0 g/kg (kontrol), 0,4 g/kg, 0,8 g/kg, dan 1,2 g/kg. Tahap kedua dilakukan uji kecernaan bahan LTe dan kinerja pertumbuhan benih ikan nila merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim selulase pada dosis 1,2 g/kg signifikan mampu menurunkan serat kasar LTe sebesar 78,19 %, hemiselulosa 19,22%, neutral detergent fiber 41,69%, acid detergent fiber 61,85%, lignin 64,06%, selulosa 62,47% dan memberikan nilai tertinggi terhadap kecernaan bahan, kecernaan protein, dan kecernaan energi. Hasil uji terhadap kinerja pertumbuhan benih ikan nila merah yang diberi pakan LTe dengan enzim selulase dosis 1,2 g/kg memiliki nilai tertinggi berbeda nyata terhadap pakan kontrol berdasarkan nilai laju pertumbuhan harian (SGR), retensi protein (PR), rasio efisiensi protein (REP) dan perbaikan nilai rasio konversi pakan (RKP). Kata kunci: enzim selulase, ikan nila merah, kecernaan, kinerja pertumbuhan, limbah kecambah kacang hijau
Cannibalism control of Asian seabass Lates calcarifer fry by melatonin hormone administration Rifki Perdian, Muhammad; Sudrajat, Agus Oman; Carman, Odang; Arfah, Harton
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.70-80

Abstract

Cannibalism is one of the causes low survival rate white snapper fry due to its aggressiveness. Melatonin is a hormone that can modulate aggressive interactions in fish. This study aims to evaluate effect of melatonin hormone on the level cannibalism sea bass. This study used completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and three replications, namely control (without melatonin hormone administration), melatonin doses of 5, 10, and 15 µg/g fish. Hormone administration was done orally through feed supplementation. Sea bass fry used were 2.82 ± 0.41 cm average length and 0.53 ± 0.08 g average weight. Stocking density was 2 fish/L. Sea bass were reared for 30 days with flow through system and fed three times a day in restricted manner (Feeding rate 15%). The results showed the administration of melatonin hormone can reduce level cannibalism, increase melatonin hormone levels, increase estradiol 17β hormone, and have no effect on body glucose levels sea bass. Melatonin dose 10 µg/g fish can reduce level cannibalism by 40.67% (P<0.05). The highest total cannibalism was found in the control treatment with a value of 58.67% (P <0.05). The administration of melatonin hormone did not affect the growth body weight and length of sea bass (P>0.05). Increasing dose melatonin beyond 10 µg/g fish tends to increase cannibalism. These results indicate the administration of melatonin hormone at a dose of 10 µg/g fish is the optimal dose to reduce cannibalism and increase fry survival, which is expected to increase the productivity of sea bass hatcheries. Keywords: aggressiveness, Asian seabass, cannibalism, melatonin   Abstrak Kanibalisme merupakan salah satu penyebab rendahnya tingkat kelangsungan hidup benih kakap putih akibat sifat agresivitasnya. Hormon melatonin merupakan hormon yang dapat memodulasi interaksi agresif pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh hormon melatonin terhadap tingkat kanibalisme ikan kakap putih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu kontrol (tanpa pemberian hormon melatonin), melatonin dosis 5, 10, dan 15 µg/g ikan. Pemberian hormon dilakukan secara oral melalui suplementasi pakan. Benih kakap putih yang digunakan berukuran panjang rata-rata 2,82 ± 0,41 cm dan berat rata-rata 0,53± 0,08 g. Padat tebar yaitu 2 ekor/L. Benih kakap putih dipelihara selama 30 hari dengan sistem flow through dan pemberian pakan sebanyak tiga kali sehari secara restricted (Feeding rate 15%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon melatonin dapat menurunkan tingkat kanibalisme, meningkatkan kadar hormon melatonin, cenderung meningkatkan hormon estradiol 17β, dan tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa tubuh benih kakap putih. Melatonin dosis 10 µg/g ikan dapat mengurangi tingkat kanibalisme sebesar 40,67% (P<0,05). Total kanibalisme tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan nilai sebesar 58,67% (P<0,05). Pemberian hormon melatonin tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot dan panjang tubuh benih kakap putih (P>0,05). Peningkatan dosis melatonin melebihi 10 µg/g ikan cendrung meningkatkan kanibalisme. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian hormon melatonin dosis 10 µg/g ikan merupakan dosis optimal untuk mengurangi kanibalisme dan meningkatkan kelangsungan hidup benih, sehingga diharapkan  dapat meningkatkan produktivitas pembenihan kakap putih. Kata kunci: agresivitas, kakap putih, kanibalisme, melatonin
The effectiveness of maggot and probiotic feed supplementation on the growth performance and intestinal microbiota of Indonesian shortfin eel, Anguilla bicolor bicolor Sutrisno, Sutrisno; Otie Dylan Soebhakti Hasan; Triyanto , Triyanto; Putu Angga Wiradana; Putu Eka Sudaryatma
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.105-118

Abstract

The purpose of this study was to determine the effectiveness of probiotic and maggot flour supplementation on production performance, water quality, and eel gut microbiota. There were five treatment groups of maggot flour doses (0, 25, 50, 75, and 100%) each with three replications. The eel seeds used were three months old (average weight 6.11 ± 4.28 g, average length 14.3 ± 3.22 cm) as many as 15 fish/aquarium which were fed until full twice a day for 60 days. Growth performance measurements were carried out every two weeks and at the end of the study, survival rate, feed digestibility, water quality, and the abundance of water and eel gut bacteria. The growth rate of group P1 (0% maggot flour) of 1.222 ± 0.662 g/day was significantly higher (P≤0.05) than group P5 (100% maggot flour) of 0.223 ± 0.094 g/day. The best FCR value was shown by treatment P1 of 2.576 ± 0.598. The highest protein digestibility was shown by group P5 at 75.90%, while the lowest protein digestibility was shown by group P1 at 62.41%. Low digestible protein and high fecal protein were shown by group P5 of 15.15% and 28.77%, respectively. The abundance of bacteria in the Bacillus sp. and Lactobacillus sp. groups dominated in groups P2 and P5. Based on the research results, it can be concluded that the use of commercial probiotics and 100% dose of maggot flour is not yet effective in improving growth performance, but can increase the abundance of good bacteria in the intestines of eels. Keywords: Anguilla bicolor, growth parameters, gut microbiota, maggot flour, probiotic   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas suplementasi probiotik dan tepung maggot terhadap performa produksi, kualitas air, dan mikrobiota usus sidat. Terdapat lima kelompok perlakuan dosis tepung maggot (0, 25, 50, 75, dan 100%) masing-masing dengan tiga kali ulangan. Benih sidat yang digunakan berumur tiga bulan (berat rata-rata 6.11 ± 4.28 g, panjang rata-rata 14.3 ± 3.22 cm) sebanyak 15 ekor/akuarium yang diberi pakan sampai kenyang sebanyak dua kali sehari selama 60 hari. Pengukuran performa pertumbuhan dilakukan setiap dua minggu sekali dan akhir penelitian, tingkat kelangsungan hidup, daya cerna pakan, kualitas air, serta kelimpahan air dan bakteri usus belut. Laju pertumbuhan kelompok P1 (0% tepung maggot) sebesar 1,222 ± 0,662 g/hari lebih tinggi secara signifikan (P≤0,05) dibandingkan kelompok P5 (100% tepung maggot) sebesar 0,223 ± 0,094 g/hari. Nilai FCR terbaik ditunjukkan oleh perlakuan P1 sebesar 2,576 ± 0,598. Daya cerna protein tertinggi ditunjukkan oleh kelompok P5 sebesar 75,90%, sedangkan daya cerna protein terendah ditunjukkan oleh kelompok P1 sebesar 62,41%. Protein cerna rendah dan protein feses tinggi ditunjukkan oleh kelompok P5 masing-masing sebesar 15,15% dan 28,77%. Kelimpahan bakteri pada kelompok Bacillus sp. dan Lactobacillus sp. mendominasi pada kelompok P2 dan P5. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan probiotik komersial dan tepung maggot dosis 100% belum efektif dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan, tetapi mampu meningkatkan kelimpahan bakteri baik dalam usus dari ikan sidat. Kata kunci: Anguilla bicolor, mikrobiota usus, parameter pertumbuhan, probiotik, tepung maggot
Replacing silkworms Tubifex sp. with fermented paste feed enriched with curcumin on Asian redtail catfish Hemibagrus nemurus larvae growth Heltonika, Benny; Aryani, Netti; Asiah, Nur; Lesmana, Indra; Nuraini, Nuraini; Harefa, Firman Theodali
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.81-91

Abstract

To maintain growth and survival, Asian redtail catfish postlarvae require silkworms as live food. However, due to their extreme sensitivity to natural conditions, silkworms will be exceedingly scarce during the rainy season. This study aimed to evaluate fermented commercial feed enriched with curcuminas replacement of silkworms for the growth and survival of redtail catfish postlarvae. This study employed a complete design experiment consisting of six treatments: P1 (non-fermented commercial feed), P2 (no curcumin-enriched fermented commercial feed), P3 (curcumin-enriched fermented commercial feed at 0.35 g/kg), P4 (curcumin-enriched fermented commercial feed at 0.70 g/kg), P5 (curcumin-enriched fermented commercial feed at 1.05 g/kg), and P6 (silkworms). Each treatment was replicated four times. The Asian red tail catfish postlarvae, measuring 0.63 ± 0.05 mm in length, were cultivated at a density of 5 fish/L. Fish were raised for a period of thirty days. Growth in total weight, total length, specific weight rate, specific length rate, and survival rate of postlarvae were the parameters measured. The growth evaluation results indicate that substituting silkworm feed with fermented feed supplemented with curcumin at a concentration of 1.05 g/kg resulted in growth of 6.66% (length) and 14.29% (weight) lower than the silkworm treatment (P<0.01). Despite this decline, it represents the most effective outcome in this study, highlighting the potential of fermented feed where enrichment with curcumin as an alternative to silkworms for Asian redtail catfish larvae nutrition. In conclusion, curcumin-enriched fermented feed can promote the growth of Asian redtail catfish postlarvae. Keywords: curcumin, fermented feed, growth, silkworm   Abstrak Untuk mempertahankan pertumbuhan dan kelangsungan hidup, postlarva ikan baung membutuhkan cacing sutra sebagai makanan hidup. Namun, cacing sutera sangat sensitivitas terhadap kondisi alam, cacing sutra akan sangat langka selama musim penghujan. Untuk mengganti cacing sutra, penelitian ini mengevaluasi pakan alternatif (pakan komersial terfermentasi yang diperkaya dengan kurkumin). Penelitian ini merupakan eksperimen dengan acak lengkap satu faktor yang terdiri dari enam perlakuan: yaitu P1 (Pakan komersial non-fermentasi), P2 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin), P3 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin pada 0,35 g/kg), P4 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin pada 0,70 g/kg), P5 (pakan komersial fermentasi yang diperkaya kurkumin pada 1,05 g/kg), dan F (cacing sutra). Setiap perlakuan diulang empat kali. Postlarva ikan baung, berukuran panjang 0,63 ± 0,05 mm, dibudidayakan pada kepadatan 5 ekor/L. Ikan dipelihara selama tiga puluh hari. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah pertumbuhan berat total, panjang total, rata-rata pertumbuhan bobot, dan panjang spesifik serta kelulushidupan. Berdasarkan hasil evaluasi pertumbuhan menunjukkan pergantian pakan cacing sutera dengan pakan fermentasi yang diperkaya kurkumin 1,05 g/kg pakan menghasilkan pertumbuhan 6,66 % (panjang) dan 14,29% (berat) lebih rendah dari perlakuan cacing sutra (P<0,01), dan ini melrupakan hasil terbaik dari penelitian ini dalam upaya mencari pengganti pakan alternatif cacing sutera untuk postlarva ikan baung. Sebagai kesimpulan, pakan pasta terfermentasi yang diperkaya kurkumin dapat meningkatkan perkembangan postlarva ikan baung. Kata kunci: cacing sutera, kurkumin, pakan terfermentasi, pertumbuhan
Analyze of production performance of vaname shrimp Litopenaeus vannamei culture and water quality on earthen pond and HDPE-lined pond Fikru Sifa, Zulfana; Nirmala, Kukuh; Puji Hastuti, Yuni; Supriyono, Eddy
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.1-15

Abstract

Litopenaeus vannamei is a leading aquaculture commodity with high economic value. Efforts to enhance the production of L. vannamei shrimp can be achieved by selecting the type of pond. Culture ponds are crucial in controlling water quality and managing culture waste. Based on these conditions, selecting the appropriate type of pond is essential to improve the production performance of L. vannamei shrimp. This study aimed to analyze the effects of earthen ponds and high density polyethylene (HDPE)-lined ponds on production performance and water quality factors, identify key water quality parameters influencing shrimp yield, and conduct an economic analysis. This study was conducted with two types of ponds, earthen ponds and HDPE-lined ponds. Water quality factors were analyzed weekly using a composite sampling method. Meanwhile, shrimp weight sampling was conducted weekly after 35 days of culture using 30 shrimp for each pond. The results showed that shrimp production performance in HDPE-lined ponds was significantly higher than in earthen ponds. This enhanced production performance was attributed to the more optimal water quality parameters in HDPE-lined ponds, particularly the lower abundance of Cyanophyta. Furthermore, the soil quality in earthen ponds also reduces shrimp survival rates, leading to decreased pond productivity. Although the production costs for HDPE-lined ponds were 17.54% higher than earthen ponds, this investment increases farmers' total revenue by 57.20%. HDPE ponds produce high production performance and healthier water quality, thereby increasing farmers' income and proving economically viable. Keywords: economic, growth, pond type, soil   Abstrak Litopenaeus vannamei merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Upaya untuk meningkatkan produksi udang L. vannamei dapat dilakukan dengan memilih jenis tambak. Tambak budidaya sangat penting dalam mengontrol kualitas air dan mengelola limbah budidaya. Berdasarkan kondisi tersebut, pemilihan jenis tambak yang tepat sangat penting untuk meningkatkan performa produksi udang L. vannamei. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tambak tanah dan tambak berlapis high density polyethylene (HDPE) terhadap kinerja produksi dan faktor kualitas air, mengidentifikasi parameter kualitas air utama yang mempengaruhi hasil panen udang, dan melakukan analisis ekonomi. Penelitian ini dilakukan dengan dua jenis tambak, yaitu tambak tanah dan tambak berlapis HDPE. Faktor kualitas air dianalisis setiap minggu dengan menggunakan metode pengambilan sampel komposit. Sementara itu, pengambilan sampel berat udang dilakukan setiap minggu setelah 35 hari budidaya dengan menggunakan 30 ekor udang untuk setiap tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja produksi udang ditambak HDPE lebih tinggi dibandingkan tambak tanah. Tingginya kinerja produksi udang ini dikarenakan tambak HDPE memiliki parameter kualitas air yang lebih optimal dibandingkan dengan tambak tanah, terutama pada kelimpahan Cyanophyta yang lebih rendah. Selain itu, kualitas tanah di tambak tanah juga menurunkan tingkat kelangsungan hidup udang sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas tambak tanah. Meskipun biaya produksi untuk tambak yang dilapisi HDPE 17.54% lebih tinggi dibandingkan tambak tanah, namun biaya investasi ini dapat meningkatkan total pendapatan petambak sebesar 57.20%. Tambak HDPE menghasilkan kinerja produksi yang tinggi dan kualitas air yang lebih optimal, sehingga meningkatkan pendapatan petani dan terbukti layak secara ekonomi. Kata kunci: ekonomi, pertumbuhan, tanah, tipe tambak
Vannamei shrimp Litopenaeus vannamei mortality correlation with water quality dynamics and blue-green algae in earthen pond Arifin, Rahmatulloh Arifin; Kukuh Nirmala; Yuni Puji Hastuti; Eddy supriyono
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.55-69

Abstract

Mortality represents a significant challenge in enhancing productivity in intensive vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) farming systems. In ponds with soil bottoms, shrimp mortality is often caused by poor water quality, influenced by fluctuations in physicochemical parameters and changes in phytoplankton communities. This study aims to analyze the correlation between water quality, phytoplankton succession, and shrimp mortality. Pond water samples (E9, E10, F9, F10, and F11) were collected periodically to measure key physicochemical parameters, such as temperature, pH, dissolved oxygen (DO), ammonia (NH3), total ammonia nitrogen (TAN), and nitrite (NO2), as well as the abundance and dominance of phytoplankton. The results showed that shrimp mortality positively correlated with plankton abundance (0.57) and the presence of Blue-green Algae (0.43) in the water. Further, descriptively, shrimp mortality followed a similar pattern across several observation ponds, with deaths occurring after the decline or disappearance of Blue-green algae from previous observations. The water quality parameters that correlated with plankton abundance and blue-green algae dominance included TAN, BOD, and turbidity. The transformation in phytoplankton dominance to Blue-green algae can increase BOD levels and produce toxic compounds upon lysis, which may disrupt physiology and lead to shrimp mortality. These results underscore the importance of water quality management and phytoplankton monitoring to reduce vannamei shrimp mortality. Keywords: Blue-green algae, correlation, earthen pond, Vaname shrimp, water quality   Abstrak Kematian merupakan tantangan dalam meningkatkan produktivitas pada kegiatan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan sistem intensif. Pada kolam budidaya dengan dasar kolam tanah sering kali kematian udang disebabkan oleh kualitas air yang buruk, yang dipengaruhi oleh fluktuasi parameter fisikokimia dan perubahan komunitas fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kualitas air, suksesi fitoplankton, dan mortalitas Litopenaeus vannamei. Sampel air kolam budidaya (E9, E10, F9, F10 dan F11) diambil secara berkala untuk mengukur parameter fisikokimia utama, seperti suhu, pH, DO, amonia (NH3), TAN dan nitrit (NO2), serta kelimpahan dan dominansi fitoplankton. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas udang memiliki nilai korelasi positif dengan kelimpahan pankton (0,57) dan Blue-green Algae (0,43) yang ada pada perairan. Selain itu secara deskriptif kematian udang memiliki pola yang sama pada beberapa kolam pengamatan dimana kematian terjadi setelah terjadinya kematian atau berkurangnya kelimpahan Blue-green Algae dari pengamatan sebelumnya. parameter kualitas air yang memiliki nilai korelasi terhadap kelimpahan plankton dan dominasi Blue-green Algae yaitu TAN, BOD dan Kecerahan. Pergeseran dominansi fitoplankton ke Blue-green algae dapat meningkatkan BOD dan menghasilkan senyawa toksik ketika lisis yang dapat mengganggu fisiologi hingga menyebabkan kematian udang. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan kualitas air dan pemantauan fitoplankton untuk mengurangi mortalitas udang vaname. Kata kunci: blue-green algae, korelasi, kolam tanah, kualitas air, udang vaname
Production and business performance of tilapia Oreochromis niloticus rearing in recirculation system with different stocking densities Priatna, Wichika; Budiardi, Tatag; Diatin, Iis
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.43-54

Abstract

The increase in Nile tilapia (Oreochromis niloticus) production reflects a rise in fish consumption among the community. The provision of sufficient fry for ongrowing must accompany such a production boost. One way to achieve this is through intensification by increasing the stocking density of tilapia larvae during the nursery phase. This study aimed to analyze production performance and the economics of tilapia larva nursery in a recirculation system under different stocking densities. The experiment was carried out over 42 days using a completely randomized design with stocking density treatments of 5, 10, and 15 larvae per liter, each with five replicates. Differences in stocking density had a significant effect on absolute length growth rate (AGRL), specific length growth rate (SGRL), feed conversion ratio (FCR), and productivity. The 15 fish/L treatment yielded higher LPMP, SGR, and productivity than the other treatments, while showing the lowest FCR. It was concluded that the best production performance and economic return in a recirculating tilapia larva nursery system were achieved at 15 fish/L, delivering an annual productivity of 106,112 fish/m³, a revenue-to-cost ratio of 1.54, and a payback period of 0.65 years. Keywords: business analysis, fish tilapia, nursery, recirculation system, stocking density   Abstrak Peningkatan produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan gambaran peningkatan konsumsi ikan di masyarakat. Peningkatan produksi perlu diikuti dengan penyediaan benih yang mencukupi untuk pembesaran. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan intensifikasi melalui peningkatan padat tebar larva nila pada tahap pendederan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kinerja produksi dan usaha pendederan larva ikan nila pada sistem resirkulasi dengan padat tebar berbeda. Penelitian dilakukan selama 42 hari menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan padat tebar larva ikan nila, yaitu 5, 10, dan 15 ekor/L dengan lima ulangan. Perlakuan perbedaan padat tebar berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan mutlak panjang (LPMP), laju pertumbuhan spesifik panjang (LPSP), rasio konversi pakan (RKP), dan produktivitas. Perlakuan padat tebar 15 ekor/L menghasilkan LPMP, LPSP, dan produktivitas yang lebih tinggi daripada perlakuan lain, sedangkan nilai RKP menunjukkan nilai terendah. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa kinerja produksi dan usaha terbaik pada pendederan ikan nila bersistem resirkulasi dihasilkan pada padat tebar 15 ekor/L dengan memberikan produktivitas sebesar 106.112 ekor/m3 per tahun, revenue/cost ratio senilai 1.54, dan payback period yaitu 0.65 tahun. Kata kunci: analisis usaha, ikan nila, padat tebar, pendederan, sistem resirkulasi
Evaluation of dietary vitamin C supplementation on growth performance and oxidative responses of pacific whiteleg shrimp Juvenile Littopenaeus vannamei Boone Rifai, Ratnawati Rifai; Sani, Asrianti; Fauziah Nurdin; Bustamin, Bustamin; Rahmadina, Rahmadina
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.92-104

Abstract

Vitamin C cannot be synthesized by shrimp and must be obtained from dietary sources; however, its supply through feed is often insufficient. This study aimed to evaluate the growth performance and oxidative response of juvenile whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) supplemented with dietary vitamin C. Juvenile shrimp at the PL-25 stage, acclimated to a salinity of 20 ppt, were stocked into 16 rearing containers, each filled with 40 L of seawater from a total 250 L fiberglass tank. Each container contained 20 juveniles with an initial average body weight of 0.001 g per individual. The rearing period lasted 60 days, during which shrimp were fed three times daily. The feeding rate (FR) was initially set at 11% of body weight for the first 30 days and then reduced to 7% thereafter. The experimental design followed a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replicates: A (0 mg/kg), B (150 mg/kg), C (300 mg/kg), and D (450 mg/kg) of dietary vitamin C supplementation. The results showed that supplementation of vitamin C at 300 mg/kg diet produced the best growth performance (RGR, PER, FCR) and survival rate, which were positively correlated with SOD enzyme activity. The oxidative response parameters (HSI and MDA) showed the lowest values in this optimal treatment. The highest growth performance was obtained from the treatment with 300 mg vitamin C/kg diet, achieving a relative growth rate of 4,358.6%, the lowest MDA concentration of 3.58 ± 0.37 nmol/L, and the highest SOD activity of 88.35 ± 2.22 U/mL enzyme. Keywords:  growth, oxidative responses, shrimp, vitamin C   Abstrak Vitamin C tidak dapat disintesis oleh udang, zat ini dapat diperoleh dari pakan namun pasokannya masih belum mencukupi. Tujuan dari penelitian ini untuk menguji kinerja pertumbuhan dan respon oksidatif juvenil udang vaname dengan suplementasi vitamin C dalam pakan. Juvenil udang vaname PL 25, yang telah diadaptasikan di salinitas 20 ppt ditebar pada 16 wadah pemeliharaan yang diisi dengan air laut volume 40 L dari volume total bak fiber 250 L dengan jumlah total juvenil 20 ekor dan rata-rata berat awal juvenile 0,001 g/ekor; waktu pemeliharaan udang;selama 60 hari dengan pemberian pakan tiga kali perhari dan jumlah pakan ditentukan dengan FR 11% dan setelah pemeliharaan 30 hari FR diturunkan menjadi 7%. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan dan empat ulangan dengan komposisi perlakuan; A (dosis 0 mg/kg), B (dosis 150 mg/kg). C (dosis 300 mg/kg) D (dosis 450 mg/kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C dosis 300 mg/kg pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan (LPR, REP, RKP) dan TKH terbaik dan berkorelasi dengan aktivitas enzim SOD.  Hasil uji respons oksidatif (IHS dan MDA) menunjukan hasil terendah pada perlakuan terbaik di penelitian ini. Kinerja pertumbuhan optimal diperoleh dari trreatment 300 mg vitamin C/kg sebesar 4.358.6% dengan nilai MDA terendah 3,58 ± 0,37 nmol/L dan aktivitas SOD tertinggi 88,35 ± 2,22 Unit/mL enzim. Kata kunci:  pertumbuhan, respons oksidatif, udang vaname, vitamin C
Common carp aquaculture Cyprinus carpio in Iraq: history, challenges, and opportunities Ali AL-Hilali, Hasan; R. Lozovskiy, Alexander
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.26-42

Abstract

Common carp (Cyprinus carpio) is a cornerstone of freshwater aquaculture in Iraq, playing a vital role in food security, rural livelihood, and economic development. This article provides a comprehensive overview of the historical introduction and evolution of carp farming in Iraq, highlighting its adaptability to diverse environmental conditions and its integration into various aquaculture systems, such as pond and cage culture. The study examines the economic significance of carp production, particularly in rural areas, where it serves as a primary source of income and animal protein. It also explores the challenges faced by the sector, such as water scarcity, disease outbreaks, and environmental impacts, while emphasizing the importance of sustainable practices and technological advancements. The article underscores the potential for future growth through genetic improvement, integrated farming systems, and government support in line with global sustainability goals. By addressing these challenges and leveraging opportunities, Iraq’s carp aquaculture sector can enhance productivity, ensure food security, and contribute to the nation’s economic resilience. Keywords: carp production, food security, polyculture systems   Abstrak Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan komponen utama dalam akuakultur air tawar di Irak, memainkan peran penting dalam ketahanan pangan, mata pencaharian pedesaan, dan pembangunan ekonomi. Artikel ini memberikan gambaran komprehensif mengenai pengenalan sejarah dan perkembangan budidaya ikan mas di Irak, menyoroti adaptabilitasnya terhadap berbagai kondisi lingkungan, serta integrasinya ke dalam berbagai sistem akuakultur seperti budidaya di kolam dan keramba. Penelitian ini juga mengkaji signifikansi ekonomi produksi ikan mas, khususnya di daerah pedesaan, di mana ikan mas berfungsi sebagai sumber utama pendapatan dan protein hewani. Selain itu, artikel ini mengeksplorasi tantangan yang dihadapi sektor ini, seperti kekurangan air, wabah penyakit, dan dampak lingkungan, sembari menekankan pentingnya praktik berkelanjutan dan kemajuan teknologi. Artikel ini juga menyoroti potensi pertumbuhan di masa depan melalui perbaikan genetik, sistem pertanian terintegrasi, dan dukungan pemerintah sesuai dengan tujuan keberlanjutan global. Dengan mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan peluang yang ada, sektor akuakultur ikan mas di Irak dapat meningkatkan produktivitas, memastikan ketahanan pangan, dan berkontribusi pada ketahanan ekonomi negara. Kata Kunci: ketahanan pangan, produksi ikan mas, sistem polikultur

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue