cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
Larval rearing of kelabau fish Osteochilus melanopleurus, Bleeker 1852 with different live feed Asiah, Nur; Aryani, Netti; Heltonika, Benny
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.2.262-268

Abstract

This study aimed to determine the effect of different starting feeds on the growth and survival rate of kelabau fish larvae (Ostechilus melanopleurus, Bleeker 1852). The research was conducted in a Complete Randomized Design (CRD), 3 treatments and 3 replicates. The tested animals used were 7-Dpc (Day post hatch) 90 kelabau fish (Ostechilus melanopleurus) larvae with an initial average length of 0.50 ± 0.06 cm and an initial weight of 0.03 ± 0.02 g. Treatment of one (P1) Artemia nauplii, (P2) Tubifex sp., and (P3) Daphnia. Aquarium research containers size 30×30×20 cm3 9 pieces with a volume of 5 L of water without water flow in the first week onwards from the second week to the 4th week are increased to 10 L with a water recirculation system with a water flow of about 0.5 L per minute. Measurement of the length and weight of the larvae is carried out once a week for 4 weeks. The results showed that the highest length and weight growth was obtained in the P2 treatment of 3.92 ± 0.13c cm and 1.25 ± 0.03c g, and the lowest growth was in the P3 treatment of 1.73 ± 0.05a cm and 0.093 ± 0.010a g. The ANOVA results showed that feeding Tubifex sp. had a very noticeable different effect with a value of P<0.01. Keywords: feed type, Osteochilus melanopleurus, growth ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pakan awal berbeda terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan larva ikan kelabau (Ostechilus melanopleurus, Bleeker 1852). Metode Penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 3 perlakuan dan 3 ulangan. Hewan uji yang digunakan adalah larva ikan kelabau (Ostechilus melanopleurus, Bleeker 1852) umur 7 hari sebanyak 90 ekor dengan rata-rata panjang awal 0,50 ± 0.06 cm dan berat awal 0.03 ± 0.02 g. Perlakuan satu (P1) Nauplii Artemia, (P2) Tubifex sp. dan (P3) Kutu Air. Wadah penelitian akuarium ukuran 30×30×20 cm3 9 buah dengan volume 5 L air tanpa aliran air pada minggu pertama dan seterusnya dari minggu kedua sampai minggu ke 4 ditambah menjadi 10 L dengan sistem resirkulasi air dengan aliran air sekitar 0.5 L per menit. Pengukuran panjang dan bobot larva dilakukan seminggu sekali, selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang dan berat tertinggi ditunjukkan pada perlakuan P2 sebesar 3.92 ± 0.13c cm dan 1.25 ± 0.03c g, dan pertumbuhan terendah yaitu pada perlakuan P3 1.73 ± 0.05a cm dan 0.093 ± 0.010a g. Hasil ANOVA menunjukan bahwa pemberian pakan Tubifex sp. memberikan pengaruh berbeda sangat nyata dengan nilai P<0.01. Kata kunci: Osteochilus melanopleurus, pertumbuhan, tipe pakan
Monitoring the water quality of Belawan Sea for rearing asian seabass Lates calcarifer in a floating net cage system Iman Sari Lubis, Vina; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Hastuti, Yuni Puji
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.2.269-280

Abstract

Belawan is a coastal area located in Medan Belawan District, North Sumatra Province. The aim of the research is to determine the feasibility status of the study location if it is developed as a location for floating net cages (KJA). The research was carried out in the sea waters of Belawan in August–September 2022. The research parameters observed during the research were hydrooceanographic data and water quality data including physical parameters, chemical parameters, biological parameters. Determination of water quality status using the STORET Index, CCME WQI Index and principal component analysis (PCA). Observation parameters during the research were clinical symptoms, histological observations and growth performance of Asian sea bass. The research results show that tides, COD and turbidity are parameters that do not comply with water quality standards. The types of phytoplankton consist of 15 species and 4 classes, namely Cyanophyceae, Chlorophyceae, Bacyllariophyceae and Dynophyceae. Observation total vibrio count (TVC) shows that in all water samples it is Log 105 CFU/mL and in snapper organs (gills, liver, kidneys) there are Log 104-105 CFU/g. The results of the research can be concluded that for each zone in Belawan waters there is no difference in the level of pollution between zones in terms of the STORET index (moderately polluted) and the CCME WQI index (marginal) with limiting factors namely COD and turbidity. Belawan waters are in less than suitable condition in August–September for snapper cultivation activities in floating net cages (KJA) characterized by low SR and ADG values. Keywords: Belawan Waters, CCME WQI index, STORET index, principal component analysis (PCA), water quality monitoring ABSTRAK Belawan termasuk kawasan pesisir yang terletak di Kecamatan Medan Belawan, Provinsi Sumatera Utara. Tujuan dari penelitian adalah untuk menentukan status kelayakan lokasi kajian jika dikembangkan sebagai lokasi keramba jaring apung (KJA). Penelitian dilaksanakan di perairan laut Belawan, Kota Medan yaitu pada bulan Agustus–September 2022. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Adapun parameter penelitian yang diamati selama penelitian yaitu data hidro oseanografi dan data kualitas air meliputi parameter fisika (konduktivitas, TDS, salinitas, suhu, kecerahan, kekeruhan), parameter kimia (DO, BOD, COD, amonia, pH), parameter biologi (plankton, TVC). Penilaian kualitas perairan menggunakan Indeks STORET, Indeks CCME WQI dan principal component analysis (PCA). Parameter pengamatan saat penelitian yaitu gejala klinis, pengamatan histologi dan kinerja pertumbuhan ikan kakap putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasang surut, COD dan kekeruhan merupakan parameter yang tidak sesuai dengan baku mutu kualitas air. Adapun jenis fitoplankton terdiri dari 15 spesies dan 4 kelas yaitu Cyanophyceae, Chlorophyceae, Bacyllariophyceae dan Dynophyceae. Pengamatan total vibrio count (TVC) menunjukkan bahwa pada seluruh sampel air yaitu Log 105 CFU/mL dan pada organ ikan kakap (insang, hati, ginjal) yaitu Log 104-105 CFU/g. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa setiap zona dalam perairan Belawan tergolong tercemar sedang dan tidak terdapat perbedaan tingkat pencemaran ditinjau dari indeks STORET dan indeks CCME WQI dengan faktor pembatas yaitu COD dan kekeruhan. Berdasarkan hal tersebut, Perairan Belawan dalam kondisi kurang layak untuk kegiatan budidaya ikan kakap di keramba jaring apung (KJA) ditandai dengan nilai SR dan ADG yang rendah. Kata Kunci: indeks CCME WQI, indeks STORET, monitoring kualitas air, Perairan Belawan, principal component analysis (PCA)
Mini-review: the utility of macroalgae in abalone diets and their role in heat resilience Murni, Ida Ayu Amarilia Dewi; Supono, Supono
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.43-57

Abstract

Abalone aquaculture production is predicted to continue to increase. Nutrition and health aspect are becoming two major issues that can impede the development and economic sustainability of abalone aquaculture industries. Feeding fresh macroalgae to abalone has supply inconsistency and biosecurity issues in the culture system. The utilization of commercially formulated diets could improve abalone growth rates. However, in general, the health condition of abalone which has been fed commercially formulated feeds was lower than abalone fed fresh macroalgae diets. An abalone diet should not only need to sustain a high growth rate but also promote optimal health. The use of dried macroalgae meal as a dietary ingredient in formulated diets for abalone could potentially increase growth rate, reduce feed costs and gain the health and immunity benefits of macroalgae. This review aims to improve understanding of the potential benefits of using fresh and dried marine macroalgae as feed ingredients to provide nutritional and health improvements for abalone. Keywords: abalone, aquaculture, health, macroalgae, nutritional requirement ABSTRAK Produksi budidaya abalon diperkirakan terus meningkat. Aspek gizi dan kesehatan menjadi dua isu besar yang dapat menghambat perkembangan dan keberlanjutan ekonomi industri budidaya abalon. Pemberian pakan makroalga segar ke abalon memiliki permasalahan pada ketersediaan pasokan yang tidak konsisten dan biosekuriti dalam sistem budidaya. Pemanfaatan pakan komersial dapat meningkatkan laju pertumbuhan abalon. Namun secara umum, kondisi kesehatan abalon yang diberikan pakan formula komersial lebih rendah dibandingkan dengan abalone yang diberikan pakan makroalga segar. Pakan abalon sebaiknya tidak hanya perlu meningkatkan pertumbuhan tetapi juga meningkatkan kesehatan yang optimal. Penggunaan tepung makroalga kering sebagai bahan makanan dalam formulasi pakan abalon berpotensi meningkatkan laju pertumbuhan, mengurangi biaya pakan dan mendapatkan manfaat kesehatan dan kekebalan dari makroalga. Kajian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang potensi manfaat penggunaan makroalga laut segar dan kering sebagai bahan pakan untuk memberikan peningkatan nutrisi dan kesehatan abalon. Kata kunci: abalon, budidaya, kebutuhan nutrisi, kesehatan, makroalga
SNP2-Lys-C markers inheritance, genes expression, and the resistance of second-generation Catfish Clarias gariepinus against Aeromonas hydrophila infection Hanggara, Yudha; Alimuddin, Alimuddin; Tri Soelistyowati, Dinar Tri Soelistyowati; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.1-9

Abstract

High mortality rates in catfish seed caused by motile Aeromonas septicemia disease caused by Aeromonas hydrophila infection. The primary focus is on the genetic selection of the second generation (G2) catfish for resistance to A. hydrophila, utilizing the type-C lysozyme gene at SNP-2 genotype TT. The objective is to assess the inheritance of the SNP2-Lys-C genetic marker from the first generation (G1) Sangkuriang breeders and to evaluate the resistance of the G2 seed to infection. In the experiment, G1 breeders with the TT genotype were spawned, and the resulting G2 seed were challenged with A. hydrophila. The findings indicate that all G2 seed possess the TT genotype and exhibit a higher survival rate compared to the dominant CT genotype seed. The expression of the Lys-C gene in G2 seed is elevated at the onset of infection, decreasing after the seventh day. The expression of the MHC1a and IL-1b genes is also associated with a higher survival rate. The survival of G2 seed correlates with the white blood cell and lysozyme activity, along with an increase in phagocytic activity peaking on the seventh day post-challenge. The conclusion of this study suggests that G2 catfish seed with the TT genotype have stronger resistance to A. hydrophila infection compared to seed with the dominant CT genotype. Keywords: Aeromonas hydrophila, catfish, genotype, lysozyme, resistance ABSTRAK Mortalitas tinggi yang terjadi pada benih lele yang disebabkan oleh penyakit motile aeromonas septicemia akibat Aeromonas hydrophila. Fokus utama adalah pada seleksi genetik generasi kedua (G2) lele untuk resistensi terhadap A. hydrophila, menggunakan gen lisozim tipe-C pada SNP-2 genotipe TT. Studi ini bertujuan menilai pewarisan marka genetik SNP2-Lys-C dari induk sangkuriang generasi pertama (G1) dan mengevaluasi ketahanan benih G2 terhadap infeksi. Dalam eksperimen, induk G1 genotipe TT dipijahkan dan benih G2 yang dihasilkan diuji dengan bakteri A. hydrophila. Hasil menunjukkan bahwa semua benih G2 memiliki genotipe TT dan menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik dibandingkan dengan benih dominan genotipe CT. Ekspresi gen Lys-C pada benih G2 tinggi pada awal infeksi, menurun setelah hari ketujuh. Ekspresi gen MHC1a dan IL-1b juga terkait dengan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi. Kelangsungan hidup benih G2 berkorelasi dengan jumlah sel darah putih dan aktivitas lisozim, serta peningkatan aktivitas fagositik yang mencapai puncak pada hari ketujuh. Kesimpulan studi ini menunjukkan bahwa benih lele G2 dengan genotipe TT memiliki resistensi yang lebih kuat terhadap infeksi A. hydrophila dibandingkan dengan benih dominan genotipe CT. Kata Kunci: Aeromonas hydrophila, genotipe, ikan lele, lisozim, resistan
Selection of potential probiotic candidate bacteria from seawater and shrimp pond sediments for controlling the pathogenic Vibrio parahaemolyticus Zulfani, Anisa; Yuhana, Munti; Sukenda, Sukenda; Afif, Usamah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.10-20

Abstract

Vibrio parahaemolyticus is one of the pathogenic bacteria that cause vibriosis. V. parahaemolyticus strain that expresses the PirA and PirB toxins is the main causative agent of Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease which causes necrosis (cell death) suddenly in the hepatopancreatic organs of shrimp. The environmentally friendly approach to prevent bacterial infections in shrimp is through the application of probiotics. Probiotic isolates originated from the same environment as the host and pathogen were expected to have a better adaptation and competition capability. Probiotic selection begins with the process of searching for and screening the potential probiotic candidates. This study aims to obtain isolates and characterize the potential probiotic bacteria isolated from seawater and pond sediments as an inhibition effort V. parahaemolyticus. The research was conducted experimentally using a completely randomized design with 3 treatments and 2 replicates in the in vitro antagonistic test as well as the in vivo non-pathogenicity test. The results of the study successfully obtained 37 probiotic candidate isolates with 10 isolates having the greatest enzyme activity. LAZ-2 (Acinetobacter radioresistens) isolated from seawater and SAZ-22 (Fusobacterium varium) isolated from pond sediment have been selected as probiotic candidate bacteria that have beneficial enzymatic activities. Both isolates were capable of inhibiting the growth of the pathogenic V. parahaemolyticus cells population and both were not pathogenic to vannamei shrimp. Keywords: probiotic, screening, vannamei shrimp, Vibrio parahaemolyticus ABSTRAK Vibrio parahaemolyticus merupakan salah satu bakteri patogen penyebab penyakit vibriosis. V. parahaemolyticus strain tertentu yang mengekspresikan toksin PirA dan PirB merupakan agen penyebab utama Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease yang menyebabkan nekrosis (kematian sel) secara tiba-tiba pada organ hepatopankreas udang. Pendekatan yang ramah lingkungan untuk mencegah penyakit infeksi bakterial pada udang adalah melalui aplikasi probiotik. Isolat-isolat probiotik yang berasal dari lingkungan yang sama dengan inang dan patogen akan memiliki suatu kemampuan adaptasi dan kompetisi yang lebih baik dari yang lainnya. Seleksi probiotik diawali dengan proses pencarian dan skrining kandidat probiotik yang potensial. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat dan mengkarakterisasi bakteri probiotik potensial yang diisolasi dari air laut dan sedimen tambak sebagai upaya penghambatan V. parahaemolyticus. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 2 kali ulangan pada uji antagonistik in vitro dan uji non-patogenisitas. Hasil penelitian berhasil mendapatkan 37 isolat kandidat probiotik dengan 10 isolat yang memiliki aktivitas enzim terbesar. LAZ-2 (Acinetobacter radioresistens) yang diisolasi dari air laut dan SAZ-22 (Fusobacterium varium) yang diisolasi dari sedimen tambak terpilih sebagai bakteri kandidat probiotik yang memiliki aktivitas enzim yang menguntungkan. Kedua isolat tersebut mampu menghambat pertumbuhan populasi sel patogen V. parahaemolyticus dan keduanya tidak bersifat patogenik terhadap udang vaname. Kata kunci: probiotik, seleksi, udang vaname, Vibrio parahaemolyticus
Histopathology of liver, kidney, intestine, spleen, and bile of catfish with Jaundice Asrido, Farhan; Nuryati, Sri; Widanarni, Widanarni
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.23.2.250-261

Abstract

Jaundice is a disease that can affect catfish, resulting in low or unsalable selling prices. The yellow colour in catfish is associated with tissue/organ disorders, particularly bile or liver function. This study aims to compare the histopathological structure of the liver, kidney, intestine, spleen, and bile of naturally jaundiced catfish and those injected with bacteria associated with jaundice. The study employed the observation method, using three variables: healthy catfish as a control (K), yellow catfish treated with Aeromonas spp. bacteria associated with jaundice (KP), and yellow catfish from the farm (KL). The results of the observation showed that the field scale variable (KL) had a higher level of necrosis damage in each organ compared to the laboratory scale variable (KP). The yellow colour in catfish is caused by disrupted organ tissue, particularly in the bile or liver. This can be observed in the liver, intestines, kidneys, spleen, and bile, where the field variable consistently indicates high levels of necrosis damage, with scores ranging from 1.11 to 2.48. Some of these scores indicate moderate damage, with a necrosis percentage of 40% ≤ P < 60% in the liver, kidneys, and bile organs. Keyword: Clarias sp., histopathology, jaundice, necrosis ABSTRAK Salah satu penyakit yang menyerang ikan lele adalah penyakit kuning atau dikenal juga dengan jaundice, yang dapat mengakibatkan harga jual menjadi rendah atau bahkan tidak dapat dijual. Warna kuning pada ikan lele dikaitkan dengan gangguan jaringan / organ, terutama empedu atau fungsi hati. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan struktur histopatologi organ hati, ginjal, usus, limpa, dan empedu ikan lele yang sakit kuning baik yang alami maupun yang diinjeksi dengan bakteri yang berasosiasi dengan penyakit kuning. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan tiga variabel yaitu ikan lele sehat sebagai kontrol (K), ikan lele kuning yang diberi perlakuan injeksi dengan bakteri yang berasosiasi dengan penyakit kuning yaiatu bakteri Aeromonas spp. (KP), dan ikan lele kuning yang berasal dari farm (KL). Hasil pengamatan yang diperoleh menunjukkan bahwa variabel skala lapangan (KL) memiliki tingkat kerusakan nekrosis paling tinggi pada setiap organnya dibandingkan dengan variabel skala laboratorium (KP). Warna kuning pada ikan lele berhubungan dengan terganggunya jaringan organ terutama empedu atau fungsi hati. Terlihat pada organ hati, usus, ginjal, limpa, dan empedu bahwa variabel lapangan selalu mendapatkan skor tingkat kerusakan nekrosis yang tinggi dengan kisaran nilai skoring 1,11-2,48 yang sebagian tergolong kerusakan sedang dengan persentase nekrosis 40% ≤ P<60% pada organ hati, ginjal, dan empedu. Kata kunci: Clarias sp., histopatologi, nekrosis, penyakit kuning
Effectiveness of NSP enzyme and organic chromium supplementation in low-protein feed on carbohydrate utilization in Pomfret Colossoma macropomum Faiqotul Himmah, Maihardiyanti; Achmad Fauzi, Ichsan; Ekasari, Julie; Raditya Gumelar, Muhammad; Muhammad Agus Suprayudi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.21-31

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of NSP enzyme and organic chromium supplementation in low-protein Colosoma macropomum diet to increase carbohydrate utilization. The diets contains isoprotein (20%) and isoenergy. Factorial design with two factors, namely NSP enzyme (0 and 1 g/kg) and organic chromium (0, 1, and 2 mg/kg). Fish are reared in an aquarium measuring 80 x 50 x 35 cm3 and containing 75 L of water and stock at the density of 15 fish and reared for 60 days. The test parameters used are postprandial blood glucose levels, antioxidant activity, glycogen in muscle and liver, and growth performance. The results showed that the highest postprandial blood glucose levels were when the NSP enzyme was administered. Furthermore, the lowest malondialdehyde (MDA) values and the highest superoxide dismutase (SOD) and glutathione peroxide (GPx) values were obtained in fish fed feed containing 1 g/kg of NSP enzyme and 1 mg/kg organic chromium. Fish fed feed containing 1 g/kg NSP enzyme and 1 mg/kg organic chromium showed significant values in liver and muscle glycogen as well as growth performance compared to other treatments. From this research, it can be concluded that supplementation of NSP enzyme and organic chromium at doses of 1 g and 1 mg per kg of feed produces the best growth performance and anti-oxidant capacity in pomfret fish. Keywords: antioxidant, glycogen, growth performance, postprandial blood glucose ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas suplementasi enzim NSP dan kromium organik pada pakan ikan bawal Colosoma macropomum rendah protein untuk meningkatkan pemanfaatan karbohidrat. Pakan yang digunakan mengandung iso protein (20%) dan isoenergi. Rancangan faktorial dengan dua faktor yakni enzim NSP (0 dan 1 g/kg) dan kromium organik (0, 1, dan 2 mg/kg). Ikan bawal dipelihara dalam akuarium dengan ukuran 80 x 50 x 35 cm3 dan berisi air 75 L diisi 15 ekor ikan dan dipelihara selama 60 hari. Adapun parameter uji yang digunakan adalah pengukuran kadar glukosa darah postprandial, aktivitas antioksidan, glikogen, dan kinerja pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan kadar glukosa darah postprandial tertinggi pada pemberian enzim NSP. Selanjutnya nilai malondialdehyde (MDA) terendah dan superoxide dismutase (SOD) dan glutathione peroxide (GPx) tertinggi didapat pada ikan yang diberi pakan mengandung pada 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik. Ikan yang diberi pakan yang mengandung 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik menunjukkan nilai signifikan pada glikogen hati dan otot serta kinerja pertumbuhan dibanding perlakuan lainnya. Dari penelitian ini dapat disimpulakan bahwa suplementasi enzyme NSP dan Kromium organik pada dosis 1 g dan 1 mg per kg pakan menghasilkan kinerja pertumbuhan dan kapasitas antioksidan terbaik pada ikan bawal. Kata kunci: antioksidan, glikogen, glukosa darah postprandial dan kinerja pertumbuhan
Performance of mud crab farming in natural seed-based apartment systems with various pre-transportation holding durations Atul Hayati, Mira; Effendi, Irzal; Hadiroseyani, Yani; Budiardi, Tatag
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.32-42

Abstract

Farming mud crabs (Scylla serrata) in Indonesia generally use seeds from natural habitats, which are caught, held, and transported dry to the farming location. The crabs are held for several days while waiting for consumers. This study analyzed the impact of pre-transport holding times (one, three, and five days) with four replications and an average initial weight of 73.60 ± 12.53 g on the physiological condition and production performance of farming mud crabs in an apartment system. The crabs were transported dry from Muara Gembong, Bekasi Regency, West Java, to the IPB Fisheries and Marine Observation Station (IFMOS) Ancol, North Jakarta, DKI Jakarta, for three hours. The crabs were farming in apartment boxes with a recirculation system for 14 days. The results showed that the crabs experienced severe gill damage indicated by the lysis of gill cuticles and low survival rates, especially after five days of pre-transport holding. The crabs experienced stress in all treatments, as indicated by high glucose levels above 30 mg/dL. The best survival rate was found in the one-day pre-transport holding time, with a value of 87.50% at the holding location and 95% at the farming location. In conclusion, a one-day pre-transport holding time provides better physiological conditions and production performance for mud crab farming in an apartment system. Keywords: crab, gills, natural catch, stress ABSTRAK Budidaya kepiting bakau (Scylla serrata) di Indonesia umumnya menggunakan benih dari alam, yang ditangkap, ditampung, dan kemudian di transportasi kering ke lokasi budidaya. Penampungan kepiting berlangsung beberapa hari sambil menunggu konsumen. Penelitian ini menganalisis dampak lama waktu penampungan pratransportasi (satu, tiga, dan lima hari) dengan empat ulangan dan bobot rata-rata awal 73,60 ± 12,53 g, terhadap kondisi fisiologi dan kinerja produksi kepiting bakau yang dibudidayakan dalam sistem apartemen. Kepiting di transportasi kering dari Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ke IPB fisheries and marine observation station (IFMOS) Ancol, Jakarta Utara, DKI Jakarta, selama tiga jam. Kepiting dibudidayakan pada boks apartemen dengan sistem resirkulasi selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepiting mengalami kerusakan insang yang parah ditunjukkan dengan lisisnya kutikula insang dan tingkat kelangsungan hidup rendah, terutama setelah lima hari lama penampungan. Kepiting mengalami stres dalam semua perlakuan, yang ditunjukkan oleh tingginya kadar glukosa di atas 30 mg/dL. Tingkat kelangsungan hidup terbaik yakni pada lama waktu penampungan satu hari, dengan nilai 87,50% di lokasi penampungan dan 95% di lokasi budidaya. Kesimpulannya, lama waktu penampungan satu hari pratransportasi memberikan kondisi fisiologi dan kinerja produksi budidaya kepiting bakau sistem apartemen yang lebih baik. Kata kunci: insang, kepiting, stres, tangkapan alam
Characterization of probiotic Bacillus sp. NP5 metabolites and their effect on female catfish broodstock re-maturation Enzeline, Valensia; Widanarni, Widanarni; Sudrajat, Agus Oman; Alimudin, Alimudin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.58-70

Abstract

Probiotics are believed to contain active components that influence fish reproduction. This study aimed to evaluate the metabolite compounds present in the probiotic Bacillus sp. NP5 and their effect on female catfish broodstock re-maturation. The first step involved analyzing the metabolite content of the probiotic using liquid chromatography with tandem mass spectrometry (LCMS/MS). Subsequently, feed supplementation with the probiotic was implemented at concentrations of 106 CFU/g (P6), 108 CFU/g (P8), and control (C). Parameters observed included the metabolite content of Bacillus sp. NP5, gonadosomatic index (GSI), hepatosomatic index (HSI), gonad histology, gonad maturity rate, fecundity, number of matured eggs, distribution of egg diameter, fertilization rate (FR), hatching rate (HR), larval survival rate (SR), re-maturation period, and percentage of matured broodstock. The results showed that metabolites such as resveratrol (22.45%) and indoline (7.11%) are likely to influence the fish reproduction directly. Other metabolites, such as oxyresveratrol (22.95%) and vestitol (4.14%), are also thought to play an indirect role in reproduction. The supplementation demonstrated the best reproductive performance at 108 CFU/g treatment, with an increased GSI (14.74%), HSI (1.65%), gonad maturity rate, percentage of mature eggs (86.00%), re-maturation period (4 weeks), percentage of matured broodstock (100%), fecundity (243,605 eggs/broodstock), FR (98.74%), HR (80.62%), and SR (87.31%). The application of probiotic Bacillus sp. NP5 can accelerate re-maturation and enhance reproductive performance of female catfish broodstock. Probiotics contain metabolites that positively affect reproduction and can serve as an alternative to improve reproductive performance in female catfish broodstock. Keywords: Bacillus sp. NP5, female catfish, metabolites, probiotics, re-maturation ABSTRAK Probiotik diyakini mengandung komponen aktif yang berpengaruh terhadap kinerja reproduksi ikan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi senyawa metabolit yang terkandung dalam bakteri probiotik Bacillus sp. NP5 dan pengaruhnya terhadap rematurasi induk ikan lele betina. Tahapan pertama adalah analisis kandungan metabolit probiotik Bacillus sp. NP5. dengan metode liquid chromatography with tandem mass spectrometry LCMS/MS. Selanjutnya dilakukan suplementasi pakan dengan perlakuan probiotik pada konsentrasi 106 CFU/g (P6), 108 CFU/g (P8), dan kontrol (K). Parameter yang diamati meliputi kandungan metabolit Bacillus sp. NP5, indeks gonadosomatik (IGS), indeks hepatosomatik (IHS), histologi gonad, tingkat kematangan gonad (TKG), fekunditas, jumlah telur matang, sebaran frekuensi diameter telur, derajat pembuahan (FR), derajat penetasan (HR), sintasan larva (SR), periode rematurasi, dan persentase induk matang gonad. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan metabolit seperti resveratrol (22,45%) dan indoline (7,11%) diduga secara langsung berpengaruh terhadap reproduksi. Metabolit lain yang ditemukan seperti oxyresveratrol (22,95%) dan vestitol (4,14%) juga diduga berperan secara tidak langsung. Hasil suplementasi menunjukkan bahwa performa reproduksi terbaik didapat pada perlakuan 108 CFU/g pakan dengan peningkatan nilai IGS (14,74%), IHS (1,65%), TKG, persentase telur matang (86,00%), periode rematurasi (4 minggu), proporsi induk matang gonad (100%), fekunditas (243,605 butir telur/kg bobot induk), FR (98,74%), HR (80,62%), dan SR larva (87,31%). Pemberian probiotik Bacillus sp. NP5 dapat mempercepat rematurasi dan meningkatkan kinerja reproduksi induk ikan lele betina. Probiotik mengandung bahan-bahan metabolit yang berpengaruh positif terhadap reproduksi dan dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan performa reproduksi pada induk ikan lele betina. Kata kunci: Bacillus sp. NP5, ikan lele betina, metabolit, probiotik, rematurasi
Utilization of chicken manure enriched with Lemna liquid organic fertilizer Lemna minor on cell density of Chlorella sp. Rosyadi, Rosyadi; Agusnimar, Agusnimar; Khairul Hadi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.92-101

Abstract

One of the organic fertilizers that has the potential to be used to culture Chlorella sp. is chicken manure. However, to increase the content of nutrients in chicken manure, it must be enriched with liquid organic fertilizer (POC) in different doses. The purpose of this study was to determine the optimal dose of chicken manure enrichment using Lemna POC on the cell density of Chlorella sp. This study used a complete randomized design (CRD) with five treatments of three replicates, namely P0 giving 3 g/L chicken manure (control), P1 = 3 g/L chicken manure enriched with 4% Lemna POC, P2 = 3 g/L chicken manure enriched with 5% Lemna POC, P3 = 3 g/L chicken manure enriched with 6% Lemna POC, and P4 = 3 g/L chicken manure enriched with 7% Lemna POC. The results obtained the highest cell density of Chlorella sp. in the P3 treatment of 516.67 ± 6.29 ×104 cells/mL, a specific growth rate of 0.142 cells/mL/day, and a biomass weight of 0.39 g/L. From the results of the study, it can be concluded that the optimal dose of chicken manure enrichment to increase the cell density of Chlorella sp. is 6% Lemna POC in P3 treatment. Keyword: cell density, chicken manure, Chlorella sp., Lemna POC ABSTRAK Salah satu pupuk organik yang memiliki potensi dimanfaatkan untuk kultur Chlorella sp. adalah kotoran ayam. Namun untuk meningkatkan kandungan unsur hara pada kotoran ayam maka harus diperkaya dengan pupuk organik cair (POC) Lemna dengan dosis berbeda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dosis pengayaan kotoran ayam yang optimal menggunakan POC Lemna terhadap kepadatan sel Chlorella sp. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tiga ulangan, yaitu P0 pemberian 3 g/L kotoran ayam (kontrol), P1 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 4% POC Lemna, P2 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 5% POC Lemna, P3 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 6% POC Lemna, dan P4 = 3 g/L kotoran ayam diperkaya 7% POC Lemna. Hasil penelitian diperoleh kepadatan sel Chlorella sp. tertinggi pada perlakuan P3 sebanyak 516,67 ± 6,29 ×104 sel/mL, laju pertumbuhan spesifik sebesar 0,142 sel/mL/hari dan berat biomassa sebesar 0,39 g/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dosis pengayaan kotoran ayam yang optimal untuk meningkatkan kepadatan sel Chlorella sp. adalah 6% POC Lemna pada perlakuan P3. Kata kunci: Chlorella sp., kepadatan sel, kotoran ayam, POC Lemna

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue