cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
Utilization of fish bone charcoal in feed on growth and physiological responses of catfish fry Clarias gariepinus Fardila Putri, Rizqiyatul; Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.82-91

Abstract

This study aimed to assess the impact of charcoal inclusion in feed on the physiological responses and growth of catfish. The experiment employed a completely randomized design (CRD) with five treatments and four replicates. Charcoal doses in the feed were set at 0% (C0, control), 0.5% (C0.5), 1% (C1), 2% (C2), and 3% (C3). The catfish used weighed 3.95 ± 0.03 g and were kept in 20 hapa units (2×1×1 m³) with a stocking density of 70 fish/hapa for 60 days. The results indicated significant differences (p<0.05) in the hepatosomatic index between treatments, with the highest values recorded in C1 (2.15 ± 0.10b) and C0.5 (1.91 ± 0.19b). However, liver glycogen levels did not significantly vary across treatments (p>0.05). Charcoal supplementation enhanced blood mineral levels (calcium, phosphorus, manganese, and zinc) in the C2 and C3 groups. The highest blood glucose level was observed in C1 (p<0.05). Intestinal histological analysis showed that the highest villi height and surface area were recorded in the C2 group, with values of 540.0 ± 10.2 µm and 34.122 ± 1.311 µm², respectively. Additionally, 2% charcoal supplementation improved final weight, daily growth rate, and protein retention, while reducing feed consumption and the feed conversion ratio compared to the control. Overall, the inclusion of 2% charcoal positively influenced the intestinal histology of catfish, contributing to enhanced growth performance. The study also demonstrated that charcoal addition affected the hepatosomatic index, blood glucose, and blood mineral levels in catfish. Keywords: catfish, charcoal, growth, physiological response ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian charcoal dalam pakan terhadap respons fisiologis dan pertumbuhan ikan lele. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dosis charcoal yang yang berbeda yaitu 0 (C0, kontrol), 0.5 (C0,5), 1 (C1), 2 (C2), dan 3% (C3). Ikan lele yang digunakan berbobot 3,95 ± 0,03 g/ekor dipelihara di hapa berukuran 2×1×1 m³ sebanyak 20 unit dengan kepadatan 70 ekor/hapa selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan hepatosomatik indeks beda nyata antar perlakuan (p<0,05) nilai tertinggi terdapat pada perlakuan C1 2,15 ± 0,10b dan C0,5 1,91± 0,19b. Penambahan charcoal pada pakan tidak berbeda nyata terhadap glikogen hati (P>0,05). Penambahan charcoal dalam pakan dapat meningkatkan kandungan mineral darah ikan (kalsium, fosfor, mangan, dan zinc) pada perlakuan C2 dan C3. Nilai glukosa darah tertinggi pada pakan yang diberi pakan C1 (p<0,05). Hasil histologi usus menunjukkan nilai tertinggi pada tinggi vili dan luas permukaan vili usus terdapat pada perlakuan C2 (2% charcoal) dengan tinggi vili (540,0±10,2 µm) dan luas permukaan vili (34122 ± 1311 µm). Penambahan charcoal 2% pada pakan dapat meningkatkan bobot akhir, laju pertumbuhan harian, retensi protein, menurunkan konsumsi pakan dan feed convertion ratio dibandingkan kontrol. Pemberian charcoal 2% dalam pakan berpengaruh baik terhadap histologi usus ikan lele, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan pada perlakuan C2. Pada penelitian ini juga di temukan bahwa penambahan charcoal dalam pakan berpengaruh terhadap indeks hepatosomatik, glukosa darah, serta mineral darah ikan lele. Kata kunci : charcoal, ikan lele, pertumbuhan, respons fisiologis
Potential of Eurycoma longifolia, Curcuma zedoaria, and Allium sativum extracts as phytobiotics for shrimp health Iqbal Kurniawinata, Mohamad; Sukenda, Sukenda; Wahjuningrum, Dinamella; Widanarni, Widanarni; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.71-81

Abstract

This study evaluated the efficacy of Eurycoma longifolia, Curcuma zedoaria, and Allium sativum in improving the immune response and resistance of whiteleg shrimp to prevent Vibrio parahaemolyticus infection. The study consisted of two phases, an in vitro phase to determine the compounds contained in three medicinal plants as antibacterials, followed by an in vivo phase to evaluate the effect of the medical plant extract on immune response and robustness against V. parahaemolyticus. The results from the first phase revealed that bioactive compounds present in E. longifolia were more varied and had higher concentrations with a lower bactericidal value when compared to those found in C. zedoaria or A. sativum. In the second phase of the experiment, the medicinal plant extract was added to the feed with a dose that was determined according to the first phase results. The treatments tested in the second phase were 1.6% E. longifolia extract dietary addition (EL16), 6.4% C. zedoaria extract dietary addition (CZ64), 6.4% A. sativum extract dietary addition (AS64) and phytobiotics mixture of 1:1:1 (C1) dietary addition, as well as no phytobiotic for negative control treatment and positive control. The results from the second stage demonstrated that dietary phytobiotic extract addition enhances the immunological responses and improves the shrimp survival against V. parahaemolyticus challenge compared to the control group. In conclusion, E. longifolia, C. zedoaria, and A. sativum showed different bioactive compound profiles, which affect their efficacy against V. parahaemolyticus, with EL16 showing higher efficacy. Keywords: A. sativum, C. zedoaria, E. longifolia, Penaeus vannamei, Phytobiotic ABSTRAK Penelitian ini mengevaluasi efikasi Eurycoma longifolia, Curcuma zedoaria, dan Allium sativum dalam meningkatkan respon imun dan resistensi udang vaname untuk mencegah infeksi Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini terdiri dari dua tahap: tahap in vitro untuk menentukan senyawa yang terkandung dalam tiga tanaman obat sebagai antibakteri, diikuti oleh tahap in vivo untuk mengevaluasi efek ekstrak tanaman obat terhadap respon imun dan ketahanan terhadap V. parahaemolyticus. Hasil dari tahap pertama mengungkapkan bahwa senyawa bioaktif yang ada dalam E. longifolia lebih bervariasi dan memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dengan nilai bakterisida yang lebih rendah jika dibandingkan dengan yang ditemukan di C. zedoaria atau A. sativum. Pada percobaan tahap kedua, ekstrak tanaman obat ditambahkan ke pakan dengan dosis yang ditentukan sesuai dengan hasil tahap pertama. Perlakuan yang diuji pada tahap kedua adalah penambahan 1,6% ekstrak E. longifolia dalam pakan (EL16), penambahan 6,4% ekstrak C. zedoaria dalam pakan (CZ64), penambahan 6,4% ekstrak A. sativum dalam pakan (AS64) dan campuran fitobiotik 1:1:1 (C1) dalam pakan, serta tanpa fitobiotik untuk perlakuan kontrol negatif dan kontrol positif. Hasil dari tahap kedua menunjukkan bahwa penambahan ekstrak fitobiotik dalam pakan meningkatkan respons imunologi dan memperbaiki kelangsungan hidup udang terhadap tantangan V. parahaemolyticus dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebagai kesimpulan, E. longifolia, C. zedoaria, dan A. sativum menunjukkan profil senyawa bioaktif yang berbeda, yang mempengaruhi efikasinya terhadap V. parahaemolyticus, dengan EL16 menunjukkan efikasi yang lebih tinggi. Kata kunci: Allium sativum, Curcuma zedoaria, Eurycoma. longifolia, fitobiotik, Penaeus vannamei
Antibiofilm of metabolites of the Proteus myxofaciens JB 20B for the prevention and treatment of vaname shrimp infected with Vibrio harveyi bacteria Tri Rezeki, Nanda; Wahjuningrum, Dinamella; Widanarni, Widanarni; Elizabeth Waturangi, Diana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.111-120

Abstract

Vibrio harveyi is one of the common bacteria that cause disease in vaname shrimp. The aim of this study is to determine the efficacy of bacterial metabolites Proteus myxofaciens JB 20B as an antibiofilm agent in the prevention and treatment of V. harveyi infected vaname shrimp (Litopenaeus vannamei). The experimental design included eight treatments and three replicates: K- (negative control), K+ (positive control), PCA and PGA (antibiotic control 50 g/100ml for preventive and treatment), PCE (preventive extract 0.1 ml/Kg feed), PCS (preventive supernatant 20 ml/Kg feed), PGE (treatment extract 0.1 ml/Kg feed), and PGS (treatment supernatant 20 ml/Kg feed). On day 15th, vaname shrimp were intramuscularly infected with 106 CFU/mL of V. harveyi. Examining clinical symptoms, viewing histology, assessing total hemocyte count, phagocytosis activity, phenoloxidase activity, respiratory burst, and growth performance. According to the findings of this study, the treatment of bacterial metabolites P. myxofaciens JB 20B (PCE, PCS, PGE, and PGS) is superior to the positive control (K+) treatment in terms of reducing shrimp hepatopancreas necrosis, increasing the value of total hemocyte count, phagocytosis activity, phenoloxidase activity, respiratory burst, and growth performance of vaname shrimp through feeding in both prevention and treatment. The use of P. myxofaciens JB 20B bacterial metabolites to control V. harveyi infection in vaname shrimp yielded the best results in the supernatant treatment. Keywords: antibiofilm, biofilm, Proteus myxofaciens JB 20B, vannamei shrimp, Vibrio harveyi ABSTRAK Vibrio harveyi merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit pada udang vaname. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metabolit bakteri Proteus myxofaciens JB 20B sebagai agen antibiofilm dalam pencegahan dan pengobatan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang terinfeksi V. harveyi. Rancangan penelitian ini terdiri dari delapan perlakuan dan tiga kali ulangan: K- (kontrol negatif), K+ (kontrol positif), PCA dan PGA (kontrol antibiotik 50 g/100ml untuk pencegahan dan pengobatan), PCE (ekstrak pencegahan 0,1 ml/Kg pakan), PCS (supernatan pencegahan 20 ml/Kg pakan), PGE (ekstrak pengobatan 0,1 ml/Kg pakan), dan PGS (supernatan pengobatan 20 ml/Kg pakan). Pada hari ke-15, udang vaname diinfeksi secara intramuskular dengan 106 CFU/mL V. harveyi. Memeriksa gejala klinis, melihat histologi, menilai jumlah hemosit total, aktivitas fagositosis, aktivitas phenoloxidase, respiratory burst, dan performa pertumbuhan. Berdasarkan hasil penelitian ini, perlakuan metabolit bakteri P. myxofaciens JB 20B (PCE, PCS, PGE, dan PGS) lebih unggul dibandingkan dengan perlakuan kontrol positif (K+) dalam hal mengurangi nekrosis hepatopankreas udang, meningkatkan nilai jumlah hemosit total, aktivitas fagositosis, aktivitas phenoloxidase, respiratory burst, dan performa pertumbuhan udang vaname melalui pemberian pakan pasca infeksi baik pada pencegahan maupun pada pengobatan. Penggunaan metabolit bakteri P. myxofaciens JB 20B untuk mengendalikan infeksi V. harveyi pada udang vaname memberikan hasil terbaik pada perlakuan supernatan. Kata kunci: antibiofilm, biofilm, Proteus myxofaciens JB 20B, udang vaname, Vibrio harveyi
Rotifer Brachionus rotundiformis enriched with taurine for survival and growth of larval milkfish Chanos chanos Aimma, Muhammad Ariful; Dedi Jusadi; Suprayudi, Muhammad Agus; Alimuddin, Alimuddin; Adiasmara Giri, I Nyoman; Shofa Adestia, Talita
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.102-110

Abstract

This research evaluated the effect of taurine-enriched rotifers on the survival and growth of milkfish larvae. Twenty-five fertilized milkfish eggs were placed in a 250 L cylindrical fiber tank. This study used a completely randomized design with four treatments and five replications. Three days old larvae were given rotifers enriched with taurine at 0, 25, 50, or 75 mg/L. Larvae were cultured until they were 18 days old. The results showed that the taurine content in rotifers was higher in rotifer at 50 mg/L treatment, then decreased at the 75 mg/L treatment. Taurine content in the milkfish larvae aligned with taurine levels in rotifers. Furthermore, the taurine content in rotifers affected milkfish larvae' survival and body length. The highest larval survival and growth was obtained in the 50 mg/L taurine treatment. Thus, it can be concluded that taurine at 50 mg/L is the optimal rotifer enrichment dose for milkfish larvae. Keywords: growth, milkfish larvae, notochord, survival rate, taurine ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian rotifera yang diperkaya taurin terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan bandeng. Dua puluh lima butir telur ikan bandeng yang telah dibuahi ditempatkan pada tangki fiber berbentuk silinder berukuran 250 L. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Larva berumur tiga hari setelah menetas diberi rotifer yang diperkaya taurin dengan dosis 0, 25, 50, atau 75 mg/L. Larva dipelihara hingga berumur 18 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan taurin pada rotifer tertinggi diperoleh pada perlakuan rotifer 50 mg/L, kemudian menurun pada perlakuan rotifer 75 mg/L. Kandungan taurin pada larva ikan bandeng sebanding dengan kandungan taurin pada rotifer. Kandungan taurin pada rotifer berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan panjang tubuh larva ikan bandeng. Kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva tertinggi diperoleh pada perlakuan dosis 50 mg/L. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian taurin 50 mg/L pada pengayaan rotifer merupakan dosis yang optimal untuk diberikan pada larva ikan bandeng. Kata Kunci: kelangsungan hidup, larva bandeng, notochord, pertumbuhan, taurin
Evaluation of food digestibility in Nile tilapia fish Oreochromis niloticus given NSP enzymes and organic chromiium Oktaviani, Amelia; Muhammad Agus Suprayudi; Setiawati, Mia; Achmad Fauzi, Ichsan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.136-147

Abstract

Feed is a crucial factor in tilapia farming because it contributes 92% of the total production cost. This study aims to evaluate the digestibility and utilization of carbohydrates in low-protein feed supplemented with NSP enzymes and organic chromium. The research method employed a factorial completely randomized design with treatments of organic chromium (0, 1, 2) and NSP enzymes (0, 1). The study used 18 aquariums, each measuring 50×40×35 cm. The fish used were tilapia with an average weight of 33.09 ± 0.06 g per fish. The feed used was commercial feed supplemented with organic chromium and NSP enzymes. The study focused on digestibility performance, digestive enzyme activity, growth performance, and antioxidant status. The results showed that the treatments E1C1 and E0C2 resulted in better total digestibility, energy digestibility, and protein digestibility compared to the control and other treatments. Lipase, protease, and amylase enzymes in tilapia fed with the E1C1 treatment showed significantly higher results (P<0.05) compared to the control. Growth performance in tilapia fed with NSP enzymes and organic chromium did not show significant differences from the control (P>0.05). However, antioxidant status, specifically SOD and GPx, was significantly higher in the E0C1 treatment compared to the control (P<0.05). The conclusion of this study is that the addition of NSP enzymes and organic chromium to low-protein feed can improve digestibility and optimize carbohydrate utilization, with the best results achieved with the E1C1 treatment. Keywords: antioxidant, digestive enzymes, Nile tilapia, nutrient digestibility ABSTRAK Pakan menjadi factor krusial dalam usaha budidaya ikan nila karena memiliki kontribusi sebesar 92% dari total biaya produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kecernaan dan kemampuanpemanfaatan karbohidrat pada pakan protein rendah yang diberienzim NSP dan kromium organik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan perlakuan kromium organic (0,1,2) dan enzim NSP (0,1). Wadah yang digunakan merupakan aquarium yang berukuran 50×40×35 cm sebanyak 18 unit. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila dengan bobot rata-rata 33,09 ± 0,06 g/ekor. Pakan yang digunakan merupakan pakan komersial yang diberi penambahan kromium organik dan enzim NSP. Penelitian ini difokuskan pada kinerja kecernaan, aktivitas enzim pencernaan, kinerja Pertumbuhan serta status Antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan E1C1 dan E0C2 menghasilkan nilai kecernaan total, kecernaan energi dan kecernaan protein yang lebih baik dibanding perlakuan kontrol dan perlakuan lainnya. Enzim lipase, protease dan amilase pada ikan nila yang diberipakan perlakuan E1C1 menunjukkan hasil yang lebih tinggi secarasignifikan (P<0,05) terhadap kontrol. Kinerja pertumbuhan pada ikan nila yang diberienzim NSP dan kromium organik menghasilkan nilai yang tidak signifikan dengan kontrol (P>0,05). Walaupun demikian, status antioksidan yang dihasilkan yaitu SOD dan GPx pada perlakuan E0C1 menghasilkan nilai yang lebih tinggi secara signifikan terhadap kontrol (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan enzim NSP dan kromium organik pada pakan rendah protein mampu meningkatkan kinerja kecernaan dan memanfaatkan karbohidrat dengan optimal. Hasil terbaik pada perlakuan E1C1. Kata kunci: antioksidan, enzim pencernaan, kecernaan nutrient, ikan nila
The effectiveness of forest onion Eleutherine bulbosa simplisia to prevent Streptococcus agalactiae infection on Nile tilapia Oreochromis sp. Istiqomah, Amalia; Widanarni, Widanarni; Yuhana, Munti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.1.121-135

Abstract

Forest onion potentially acts as an immunostimulant, enhancing the immune response of tilapia to pathogen infection. This study aimed to evaluate the effectiveness of forest onion simplisia on growth performance, immune response, and resistance of tilapia to Streptococcus agalactiae infection. The research was divided into in vitro and in vivo tests. In vitro testing was conducted to determine the dose of forest onion extract inhibiting the growth of S. agalactiae with seven treatments, namely positive control, negative control, addition of forest onion extract at 0.625, 1.25, 2.5, 5, and 10 mg/mL. In vivo testing to evaluate the administration of forest onion simplisia through feed in enhancing growth performance, immune response, and resistance of tilapia to S. agalactiae. Tilapia with an average weight of 7.57 ± 0.26 g were maintained in glass aquariums sized 60×30×30 cm3 with 15 units at a density of 15 fish/aquarium for 30 days. Experimental treatments included maintaining tilapia with the addition of forest onion simplisia at 12.5, 25, and 50 g/kg feed, negative and positive controls. The results showed that the addition of 12.5 g/kg simplisia significantly increased growth which was significantly different from the other treatments, while the immune response and resistance to S. agalactiae in all simplisia treatments showed values that were not different, but significantly different from the control treatment. The conclusion is supplementation of forest onion simplisia at a dose of 12.5 g/kg effectively enhances growth performance, immune response, and resistance of tilapia to S. agalactiae infection. Keywords: forest onion, immunostimulant, Nile tilapia, Streptococcus agalactiae ABSTRAK Bawang hutan berpotensi sebagai imunostimulan yang dapat meningkatkan respons imun ikan terhadap infeksi patogen. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas simplisia bawang hutan terhadap kinerja pertumbuhan, respons imun dan resistansi ikan nila terhadap infeksi Streptococcus agalactiae. Penelitian terbagi menjadi pengujian in vitro dan in vivo. Pengujian in vitro dilakukan untuk menentukan dosis ekstrak bawang hutan dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. agalactiae dengan delapan perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol negatif, penambahan ekstrak bawang hutan 0,625,1.25, 2,5, 5, dan 10 mg/mL. Adapun pengujian in vivo untuk mengevaluasi pemberian simplisia bawang hutan dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistansi ikan nila terhadap S. agalactiae. Ikan nila berukuran 7,57 ± 0,26 g dipelihara pada akuarium berukuran 60×30×30 cm3 sebanyak 15 unit dengan kepadatan 15 ekor/akuarium selama 30 hari. Perlakuan uji meliputi pemeliharaan ikan nila dengan penambahan simplisia bawang hutan 12.5, 25, dan 50 g/kg pakan, kontrol negatif dan positif. Hasil penelitian menunjukkan penambahan simplisia 12,5 g/kg signifikan meningkatkan pertumbuhan yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, adapun respons imun dan resistansi terhadap S. agalactiae pada semua perlakuan simplisia menunjukkan nilai yang tidak berbeda, akan tetapi berbeda nyata dengan perlakuan kontrol. Kesimpulan penelitian ini adalah suplementasi simplisia bawang hutan 12,5 g/kg efektif meningkatkan kinerja pertumbuhan, respons imun, dan resistansi ikan nila terhadap S. agalactiae. Kata kunci: bawang hutan, ikan nila, immunostimulan, Streptococcus agalactiae
Growth and health performance of pacific white shrimp fed diets with varying protein levels and citral supplementation Paramadina, Siwi; Ekasari, Julie; Agus Suprayudi, Muhammad; Achmad Fauzi, Ichsan; Shofa Adestia, Talita
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.185-198

Abstract

Citral is known for its antimicrobial, antioxidant, and anti-diabetic properties. This study evaluates the effects of dietary citral supplementation on glucose absorption, growth, feed utilization, and health of Pacific white leg shrimp (Litopenaeus vannamei) fed different protein levels. A 2×3 factorial experiment was conducted with two variables: protein content (30% and 35%) and citral concentrations (0, 50, and 75 mg/kg). Shrimp (3.22 ± 0.01 g) were reared in 180 L tanks (30 shrimp/tank) for 60 days. Citral supplementation increased blood glucose levels in the first two hours post-feeding, with a faster return to basal levels. Growth and feed efficiency also improved with citral diets. After stress testing, citral and dietary protein showed a synergistic effect on superoxide dismutase (SOD), with the highest level in the 75 mg/kg citral, 35% protein diet, correlating with higher post-challenge survival. Total haemocyte count (THC), phenoloxidase (PO) activity, respiratory burst (RB), and blood clotting time improved with citral supplementation, while protein level only affected RB. After Vibrio challenge, higher protein increased THC and reduced clotting time, while citral enhanced THC, PO, and RB. The highest post-challenge survival was observed in shrimp fed 75 mg/kg citral with 35% protein (p<0.05). These findings suggest dietary citral supplementation may enhance shrimp health and resilience against stress and Vibrio infection. Keywords: Citral, Cymbopogon citratus, post-prandial glucose, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus ABSTRAK Citral dikenal memiliki sifat antimikroba, antioksidan, dan anti-diabetes. Studi ini mengevaluasi efek suplementasi citral dalam pakan terhadap absorpsi glukosa, pertumbuhan, pemanfaatan pakan, dan kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda. Percobaan faktorial 2×3 dilakukan dengan dua variabel: kadar protein (30% dan 35%) serta konsentrasi citral (0, 50, dan 75 mg/kg). Udang (3,22 ± 0,01 g) dipelihara dalam tangki 180 L (30 ekor/tangki) selama 60 hari. Suplementasi citral meningkatkan kadar glukosa darah dalam dua jam pertama setelah makan, dengan penurunan lebih cepat ke tingkat basal. Pertumbuhan dan efisiensi pakan juga meningkat dengan pakan yang mengandung citral. Setelah uji stres, citral dan protein menunjukkan efek sinergis terhadap kadar superoksida dismutase (SOD), dengan kadar tertinggi pada perlakuan 75 mg/kg citral dalam diet protein 35%, yang berkorelasi dengan tingkat kelangsungan hidup pasca tantangan yang lebih tinggi. Jumlah hemosit total (THC), aktivitas fenoloksidase (PO), respiratory burst (RB), dan waktu pembekuan darah meningkat dengan suplementasi citral, sementara kadar protein hanya berpengaruh pada RB. Setelah tantangan Vibrio, kadar protein yang lebih tinggi meningkatkan THC dan mempercepat pembekuan darah, sedangkan citral meningkatkan THC, PO dan RB. Kelangsungan hidup pasca tantangan tertinggi ditemukan pada udang yang diberi 75 mg/kg citral dengan protein 35% (p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa suplementasi citral dalam pakan dapat meningkatkan kesehatan dan ketahanan udang terhadap stres dan infeksi Vibrio. Kata kunci: Citral, Cymbopogon citratus, glukosa pasca makan, Litopenaeus vannamei, V. parahaemolyticus
The effectiveness of immersed in extract viscera of sea cucumber Holothuria sp on growth, consumption level and feed efficiency in tilapia larvae Oreochromis niloticus Hidayani, Andi Aliah; Achmad, Marlina; Trijuno, Dody Dharmawan; Suwanmala, Jitima; Jannati, Alifah Nurul; Rewa, Atira; Auliah, A. Dyar Fadya
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.148-157

Abstract

The aim of this research was to determine the effect of sea cucumber immersion extract on growth, consumption and feed efficiency in masculinized tilapia larvae aged six to seven days. September–November 2022 was the time the research was carried out and the experimental method used in this study was a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and three replications. The treatment used was the soaking of sea cucumber viscera with doses of 0 ml/L (A), 1 ml/L (B), 3 ml/L for 24 hours (C), 5 ml/L for 24 hours (D), and 0.5 ml/L 17α-MT for 12 hours as positive control (E), then maintained for 60 days. Parameters observed included absolute length growth, absolute weight growth, feed consumption level, feed efficiency and water quality. The results showed that immersion sea cucumber innards for 24 hours with a dose of 1 ml/L showed the highest growth rate in absolute length and a dose of 3 ml/L showed the highest feed consumption rate. Keywords: feed consumption rate, feed efficiency, sea cucumber viscera, tilapia fry ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan pengaruh ekstrak jeroan teripang terhadap pertumbuhan, konsumsi dan efisensi pakan pada larva ikan nila hasil maskulinisasi yang berumur enam sampai tujuh hari. Penelitian ini dilakukan pada bulan September–November 2022 dan metode eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah perendaman jeroan teripang dengan dosis 0 ml/L (A), 1 ml/L (B), 3 ml/L (C), 5 ml/L selama 24 jam (D), dan 0,5 ml/L 17α-MT selama 12 jam sebagai kontrol positif (E), kemudian dipelihara selama 60 hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak dan bobot mutlak ikan, tingkat konsumsi pakan, efisiensi pakan dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan perendaman jeroan teripang selama 24 jam dengan dosis 1 ml/L menunjukkan laju pertumbuhan panjang mutlak yang tertinggi dan pada dosis 3 ml/L tingkat konsumsi pakan dan efsiensi pakan tertinggi. Kata kunci: benih ikan nila, efisiensi pakan, jeroan teripang, tingkat konsumsi pakan
Induction of reproduction of fish Anasa Nomorhampus sp. endemic Palu, Central Sulawesi orally through hormon bioencapsulation use Chironomus sp. Rezki, Dinda Wahyu; Sudrajat, Agus Oman; Soelistyowati, Dinar Tri; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.220-232

Abstract

Species Nomorhampus sp. with the local name Anasa fish, endemic to Palu, Central Sulawesi, has a unique superior mouth shape, beak-shaped jaws, attractive colors and patterns, becoming an export commodity with high economic value, but currently it cannot be cultivated, domestication efforts are needed to avoid extinction, by carrying out hormonal manipulation that accelerates the domestication process. This study aims to evaluate the effectiveness of Oodev® on the induction of reproduction in the fish Nomorhampus sp. through bioencapsulation using Chironomus sp. which resulted in births, five groups of fish were fed using Oodev® at a dose of 1 mL/kg parent weight and NaCl 1 mL/kg parent weight as a control group, the fish were kept for 60 days. This research focuses on assessing specific weight growth rate (LPBS), specific length growth rate (LPPS), survival rate (TKH), gonadosomatic index (IGS), gonadal histology, birth frequency, number of births, and growth performance. Fish fed Oodev® feed showed higher SGR and IGS (p<0.05), 40% of fish fed Oodev® supplementary feed successfully gave birth with a total of 9 fry, while no birth occurred in control fish. Histological analysis showed faster gonad development in fish fed Oodev®. Hormonal induction with Oodev® can accelerate reproduction in anasa fish in cultivation containers. These findings provide valuable insight for fish farmers regarding the effect of Oodev® on gonad development in anasa fish in both male and female parents. It is hoped that this discovery will speed up the process of domestication of Anasa fish. Keywords: domestication, endemic, Nomorhampus sp., Oodev®, reproduction ABSTRAK Spesies Nomorhampus sp. dengan nama lokal ikan Anasa endemik Palu, Sulawesi Tengah, memiliki keunikan bentuk mulut superior rahang berbentuk paruh, warna dan corak menarik menjadi komoditas ekspor dengan nilai ekonomis yang tinggi, namun saat ini belum dapat dibudidayakan, perlu upaya domestikasi agar tidak terjadi kepunahan, dengan melakukan manipulasi hormormonal yang mempercepat proses domestikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Oodev® terhadap induksi reproduksi ikan Nomorhampus sp. melalui bioenkapsulasi menggunakan Chironomus sp. yang menghasilkan kelahiran, lima kelompok ikan yang diberi pakan menggunakan Oodev® dosis 1 mL/kg bobot induk dan NaCl 1 mL/kg bobot induk sebagai kelompok kontrol, ikan dipelihara selama 60 hari. Penelitian ini fokus pada penilaian laju pertumbuhan bobot spesifik (LPBS), laju pertumbuhan panjang spesifik (LPPS), tingkat kelangsungan hidup (TKH), indeks gonadosomatik (IGS), histologi gonad, frekuensi kelahiran, jumlah kelahiran, dan kinerja pertumbuhan. Ikan yang diberi pakan Oodev® menunjukkan SGR dan IGS yang lebih tinggi (p<0,05), 40% ikan yang diberi pakan tambahan Oodev® berhasil melahirkan dengan jumlah total 9 ekor benih, sementara pada ikan kontrol tidak terjadi kelahiran. Analisa histologi menunjukkan perkembangan gonad yang berkembang lebih cepat pada ikan yang diberi pakan Oodev®. Induksi hormonal dengan Oodev® mampu mempercepat reproduksi pada ikan anasa di wadah budidaya. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi pembudidaya ikan mengenai pengaruh Oodev® terhadap perkembangan gonad pada ikan anasa baik pada induk jantan maupun betina. Penemuan ini diharapkan dapat mempercepat proses domestikasi ikan Anasa. Kata kunci: domestikasi, endemik, Nomorhampus sp., Oodev®, reproduksi
Growth, immune responses, and resistance of vannamei shrimp fed with Lactobacillus paracasei probiotic and paraprobiotic and infected with Vibrio parahaemolyticus Nuri Kamaliah, Syarifah; Yuhana, Munti; Widanarni, Widanarni; Setiawati, Mia; Afiff, Usamah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.24.2.199-210

Abstract

Vannamei shrimp is one of the most economically valuable aquaculture commodities in Indonesia. One of the pathogenic bacteria that is often found in vannamei shrimp farming is Vibrio parahaemolyticus. This study aimed to analyze the effectivity of Lactobacillus paracasei probiotics and paraprobiotics through feed with different cell densities on growth, and immune responses infected with V. parahaemolyticus. Vannamei shrimp of size 0.63 ± 0.01 were reared in containers with a stocking density of 15 shrimp per container and supplemented feed for 30 days. The research design consisted of six treatments, each with three replicates, namely (K-) feeding without supplements and injected with phosphate-buffered saline (PBS), (K+) feeding without supplements and infected with V. parahaemolyticus (104 CFU/mL), (PRI) feeding with 1% (v/w) probiotic L. paracasei with cell density of 106 CFU/mL, (PRII) 1% (v/w) probiotic L. paracasei cell density 109 CFU/mL, (PAI) 1% (v/w) paraprobiotic L. paracasei cell density 106 CFU/mL, (PAII) 1% (v/w) paraprobiotic L. paracasei cell density 109 CFU/mL. All treatments, except K-, were infected with V. parahaemolyticus (104 CFU/mL). Vannamei shrimp rearing was continued post the challenge test with V. parahaemolyticus which was conducted up to six days post injection. The results showed that feeding both probiotic and paraprobiotic L. paracasei through feed has improved growth, immune response, protein fat retention, and digestive enzyme activity of vannamei shrimp better than those of control. As the recommendation for the disease control of V. parahaemolyticus is feed supplementation with 1% (v/w) probiotic L. paracasei with cell density of 109 CFU/mL. Keywords: Lactobacillus paracasei, paraprobiotic, probiotic, vannamei shrimp, Vibrio parahaemolyticus ABSTRAK Udang vaname merupakan salah satu komoditas akuakultur yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Salah satu bakteri patogen yang sering ditemukan dalam budidaya udang vaname ialah bakteri Vibrio parahaemolyticus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberian probiotik dan paraprobiotik Lactobacillus paracasei melalui pakan dengan kepadatan sel berbeda terhadap pertumbuhan, dan respons imunitas yang diinfeksi V. parahaemolyticus. Udang vaname dengan ukuran 0.63 ± 0.01 gr dipelihara di dalam kontainer dengan padat tebar 15 ekor per wadah dan pemberian pakan bersuplemen selama 30 hari. Rancangan penelitian terdiri dari enam perlakuan, tiga ulangan, yaitu (K-) pemberian pakan tanpa suplemen dan diinjeksi PBS, (K+) pemberian pakan tanpa suplemen dan diinfeksi V. parahaemolyticus (104 CFU/mL), (PRI) pemberian pakan dengan probiotik L. paracasei kepadatan sel 106 CFU/mL dosis 1% (v/w), (PRII) probiotik L. paracasei kepadatan sel 109 CFU/mL dosis 1% (v/w), (PAI) paraprobiotik L. paracasei kepadatan sel 106 CFU/mL dosis 1% (v/w), (PAII) paraprobiotik L. paracasei kepadatan sel 109 CFU/mL dosis 1% (v/w), dan masing-masing diinfeksi V. parahaemolyticus (104 CFU/mL). Pemeliharaan udang vaname dilanjutkan setelah uji tantang dengan V. parahaemolyticus yang dilakukan hingga enam hari pasca injeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik maupun paraprobiotik L. paracasei melalui pakan telah meningkatkan pertumbuhan, respons imun, retensi lemak protein, dan aktivitas enzim pencernaan udang vaname lebih baik dibandingkan kontrol. Untuk pengendalian V. parahaemolyticus diperoleh hasil terbaik dengan aplikasi probiotik L. paracasei dosis 1% (v/w) dengan kepadatan sel 109 CFU/mL. Kata Kunci: Lactobacillus paracasei, paraprobiotik, probiotik, udang vaname, Vibrio parahaemolyticus

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue