cover
Contact Name
Wahyu Andy Nugraha
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
+6282234502425
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO. BOX 2 Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan
ISSN : -     EISSN : 27237583     DOI : -
Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal aim to become a medium of dissemination of high quality research and scientific note in the fiend of marine and fisheries. This journal can be accessed and downloaded freely for everyone. The article published in this journal have been pass the rigorious peer review by the expert reviewer. This journal accept every article that contain the following, but not limited to, scope: Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal is expected to function as a medium for the dissemination of quality scientific research results as well as scientific rebuttal (notes) in the marine and fisheries sector which can be accessed online and free of charge by the Indonesian community and the international community. The articles (articles) published in this journal are articles that have passed peer-review (partner bebestari). This journal accepts every article which contains, but is not limited to, the scope: 1. Ecology and biology of marine and fisheries 2. Marine and Aquaculture 3. Marine and Aquatic Conservation 4. Marine Water Pollution 5. Management of marine and aquatic resources 6. Marine and fishery processing technology
Articles 276 Documents
Analisis Tutupan Padang Lamun Di Teluk Berhau Pulau Enggano Silalahi, Desy Yohana; Bakhtiar, Deddy; Ariasari, Ana
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.28153

Abstract

ABSTRAKPadang lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan penting bagi keberlangsungan biota laut. Teluk Berhau yang berada di sebelah barat Pulau Enggano memiliki potensi padang lamun yang belum diketahui  informasi biofisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tutupan padang lamun di pesisir Teluk Berhau Pulau Enggano. Metode penelitian ini menggunakan metode kuadrat transek berukuran 50 cm x 50 cm yang diambil setiap 10 m pada setiap transek Dengan demikian, dalam satu lokasi pengamatan (stasiun) terdapat 3 transek, sehingga total panjang transek per stasiun adalah 300 meter dengan jarak antar transek yaitu 100 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis lamun, yaitu Cymodoceae rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii. Tutupan padang lamun di pesisir Teluk Berhau Pulau Enggano memiliki rerata tutupan yang sangat jarang sebesar 18,1% pada transek 1, 17,3% pada transek 2, dan 12,6% pada transek 3. Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii memiliki tutupan sekitar 33,8%-48,1% dan 31,7%-32,5%. Namun, Cymodoceae rotundata hanya ditemukan pada transek 3, yaitu sebesar 21,8%.Kata Kunci: Enhalus acoroides, Padang Lamun, Pulau Enggano, Teluk BerhauABSTRACT Seagrass beds plays an important role in the sustainability of marine biota on marine ecosystem. Berhau Bay, which is to the west of Enggano Island, has the potential for seagrass beds which biophysical information is not yet known. This research aims to analyze the characteristics of seagrass beds on the coast of Berhau Bay, Enggano Island. This research method uses a square transect method measuring 50 cm x 50 cm taken every 10 m on each transect. The research results show that there are three types of seagrass, namely Cymodoceae rotundata, Enhalus acoroides, and Thalassia hemprichii. Seagrass cover on the coast of Berhau Bay, Enggano Island has a very sparse average cover of 18.1% on transect 1, 17.3% on transect 2, and 12.6% on transect 3. Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii have a cover of around 33.8%-48.1% and 31.7%-32.5%. However, Cymodoceae rotundata was only found in transect 3, namely 21.8%.Keywords: Enhalus acoroides, Seagrass Fields, Enggano Island, Berhau Bay
Karakteristik Mangrove Di Desa Kahyapu Pulau Enggano Khairunnisa, Suci Novia; Ariasari, Ana; Anggoro, Ari
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.28154

Abstract

ABSTRAKDesa Kahyapu merupakan salah satu desa yang terletak di Pulau Enggano yang memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan, terutama ekosistem mangrove sehingga perlu dilakukan monitoring mangrove untuk memahami karakteristik, distribusi, dan variasi jenis mangrove yang dilakukan secara berkala untuk menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di Pulau Enggano. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis mangrove, jumlah serta kerapatan mangrove di Desa Kahyapu. Metode penelitian menggunakan metode survei lapangan dengan pengambilan data lapangan (purposive sampling). Survei lapangan dilakukan pada tanggal 06 hingga 09 Januari 2024, menggunakan metode transek ukuran 10 x 10 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 8 jenis mangrove, yaitu Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Lumnitzera littorea, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus moluccensis. Jumlah kerapatan pada stasiun 1 (1.340 ind/ha), stasiun 2 (1.360 ind/ha), stasiun 3 (2.400 ind/ha), stasiun 4 (950 ind/ha), stasiun 5 (1.316,66 ind/ha) dan stasiun 6 (1.650 ind/ha). Kerapatan jenis mangrove yang ditemukan antara lain (6.436,67 ind/ha) Rhizopora apiculata, (803,33 ind/ha) Rhizophora mucronata, (883,33 ind/ha) Bruguiera gymnorrhiza, (510 ind/ha) Sonneratia alba, (100 ind/ha) Lumnitzera littorea, (50 ind/ha) Ceriops tagal, (100 ind/ha) Xylocarpus granatum dan (133,33 ind/ha) Xylocarpus moluccensis. Secara umum, kondisi ekosistem mangrove di Desa Kahyapu digolongkan dalam kondisi kerapatan tinggi dan variasi jenis yang cukup beragam.Kata kunci : Desa Kahyapu, Ekosistem Mangrove, Jenis Mangrove, Pulau EngganoABSTRACTKahyapu Village located on Enggano Island has the potential for utilized natural resources, especially the mangrove ecosystem. Mangroves monitoring is essential to understand the characteristics, distribution, and variations of mangrove types which are carried out periodically to maintain the sustainability of the mangrove ecosystem on Enggano Island. This study aims to determine the types of mangroves, the number and density of mangroves in Kahyapu Village. The research method used a field survey method with field data collection (purposive sampling). The field survey was conducted from January 6 to 9, 2024, using a 10 x 10 m transect method. The results of the study showed that 8 types of mangroves were found, namely Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Lumnitzera littorea, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum and Xylocarpus moluccensis. The density at station 1 (1,340 ind/ha), station 2 (1,360 ind/ha), station 3 (2,400 ind/ha), station 4 (950 ind/ha), station 5 (1,316.66 ind/ha) and station 6 (1,650 ind/ha). The density of mangrove species found included (6,436.67 ind/ha) Rhizopora apiculata, (803.33 ind/ha) Rhizophora mucronata, (883.33 ind/ha) Bruguiera gymnorrhiza, (510 ind/ha) Sonneratia alba, (100 ind/ha) Lumnitzera littorea, (50 ind/ha) Ceriops tagal, (100 ind/ha) Xylocarpus granatum and (133.33 ind/ha) Xylocarpus moluccensis. In general, the condition of the mangrove ecosystem in Kahyapu Village is classified as having high density and quite diverse species variations.Keywords: Kahyapu Village, Mangrove Ecosystem, Mangrove Types, Enggano Island
Estimasi Potensi dan Alokasi Sumber Daya Perikanan Demersal di Perairan Cilacap, Indonesia Hartono, Sugeng; Adiyanto, Fajar; Yuliardi, Amir Yarkhasy; Abdulrahman, Idris
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31300

Abstract

ABSTRAKStudi ilmiah terkait potensi dan alokasi pemanfaatan sumber daya perikanan demersal di Perairan Cilacap belum pernah dilakukan. Oleh karenanya, penelitian bertujuan menentukan tangkapan lestari maksimum atau Maximum Sustainable Yield (MSY) untuk mengkaji potensinya. Adapun alokasi pemanfaatannya ditentukan berdasarkan analisis tangkapan yang dibolehkan atau Total Allowable Catch (TAC). Data sekunder dikumpulkan untuk kebutuhan analisis yang berupa data jumlah tangkapan dan jumlah usaha penangkapan yang bersumber dari PPS Cilacap dan Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap. Selanjutnya, kajian estimasi potensi dilakukan dengan menggunakan Rumus Surplus Produksi Gordon-Schaefer. Ada tujuh alat tangkap yang digunakan nelayan untuk memanfaatkan sumber daya ikan demersal di Perairan Cilacap. Hasil tangkapannya terdiri atas 64 jenis ikan demersal yang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Osteichthyes (35 jenis) dan Chondrichthyes (29 jenis). Perikanan demersal di Perairan Cilacap masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Namun, ada banyak jenis ikan demersal yang harus diberi kesempatan untuk pulih agar populasinya dapat lestari. Setidaknya 21 ikan demersal dari masing-masing Osteichthyes dan Chondrichthyes masuk kategori tereksploitasi secara penuh dan berlebihan. Jenis ikan dari Osteichthyes meliputi Black pomfret, Silver pomfret Three lined rockcod, White spotted triggerfish, Indian halibu, Banded grunter, Black jew, Sin croaker, Triple tail, Red snapper, Largescaled terapon, Chacunda gizzard shad, Largehead hairtail, Common ponyfish, Giant trevally, Goatfish, Bluespot mullet, Bombay duck, Yellow pike conger, Flathead, dan Giant catfish. Sementara jenis ikan dari Chondrichthyes meliputi Tiger shark, Sharpnose sevengill shark, Silky shark, Gummy shark, Bigeye thresher, Dog fish, Sandbar shark, Blue shark, Spot tail shark, Spinner shark, Smalltooth thresher shark, Longfin mako, Shortfin mako, Guitarfishes, Wing skate, Giant manta ray, White spotted whipray, Japanese devilray, Round ribbontail ray, Bowmouth guitarfish, dan Leopard whipray. Penangkapan sumber daya ikan demersal selanjutnya di Perairan Cilacap harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan biodiversitas, agar perikanannya berkelanjutan. Caranya meliputi pemeliharaan dan perbaikan ekosistem perairan serta pembatasan dan pemantauan jumlah tangkapan sumber daya ikan demersal yang dieksploitasi. Peningkatan kualitas kedua aspek dapat mempercepat resiliensi populasi masing-masing spesies.Kata Kunci: Perikanan demersal, status pemanfaatan, tangkapan lestari.   ABSTRACTScientific studies on the potential and allocation of demersal fishery resource utilization in Cilacap waters have not yet been conducted. Therefore, this study aims to determine the Maximum Sustainable Yield (MSY) to assess its potential. The allocation of utilization is determined based on the Total Allowable Catch (TAC) analysis. Secondary data were collected for the analysis, consisting of catch and fishing effort data obtained from Cilacap Fishing Port (PPS Cilacap) and the Cilacap District Fisheries Office. Subsequently, potential estimation was carried out using the Gordon–Schaefer Surplus Production Formula. There are seven fishing gears used by local fishers to exploit demersal fish resources in Cilacap Waters. The catches consist of 64 species of demersal fish, which can be divided into two groups, namely Osteichthyes (35 species) and Chondrichthyes (29 species). Demersal fisheries in Cilacap waters still have potential for further utilization. However, many demersal fish species need opportunities to recover in order to sustain their populations. At least 21 demersal fish species from both Osteichthyes and Chondrichthyes are classified as fully or overexploited. Species of Osteichthyes included black pomfret, silver pomfret three lined rockcod, white spotted triggerfish, Indian halibu, banded grunter, black jew, sin croaker, triple tail, red snapper, largescaled terapon, chacunda gizzard shad, largehead hairtail, common ponyfish, giant trevally, goatfish, bluespot mullet, bombay duck, yellow pike conger, flathead, and giant catfish. Meanwhile species of Chondrichthyes included tiger shark, sharpnose sevengill shark, silky shark, gummy shark, bigeye thresher, dog fish, sandbar shark, blue shark, spot tail shark, spinner shark, smalltooth thresher shark, longfin mako, shortfin mako, guitarfishes, wing skate, giant manta ray, white spotted whipray, Japanese devilray, round ribbontail ray, bowmouth guitarfish, and leopard whipray. Future fishing of demersal fish resources in Cilacap waters must be carried out with consideration for environmental and biodiversity aspects to ensure sustainable fisheries. Methods include maintaining and rehabilitating the aquatic ecosystem, as well as limiting and monitoring the catch size of exploited demersal fish resources. Improving the quality of these two aspects can accelerate the population resilience of each species.Keywords: Demersal fisheries, sustainable yield, utilisation status.
Efektivitas Pakan Ubi Jalar Sebagai Prebiotik Pada Lactobacillus sp. Terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Ardita, Ardita; Wahyu, Farhanah; Haris, Abdul
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.25258

Abstract

ABSTRAKUbi jalar (Ipomea batatas L) merupakan tanaman pangan dengan produktivitas cukup tinggi. Selain itu, ubi jalar juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber prebiotik terutama karena kandungan oligosakaridanya. Oligosakakrida adalah komponen utama prebiotik karena dapat dicerna oleh mukosa usus, sehingga termanfaatkan oleh bakteri di usus seperti Lactobacillus. Lactobacillus sp., merupakan probiotik yang dimana berfungsi sebagai imun ostimulan, pemacu pertumbuhan, dan dapat dijadikan sebagai penyeimbang mikroorganisme dalam pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemenfaatan ubi jalar terfermentasi terhadap pertumbuhan dan sintasan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Rancangan percobaan yang digunakan yaitu metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ubi jalar yang terfermentasi menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P0,05) setiap dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan dan sintasan udang vaname. Pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu pada perlakuan B (Ubi jalar 20%) sebesar 2,18 gram, perlakuan C (Ubi jalar 25%) sebesar 2,06 gram, kemudian perlakuan D (Ubi jalar 30%) sebesar 2,01 gram, dan perlakuan A (Kontrol) sebesar 1,96 gram. Sintasan tertinggi yaitu pada perlakuan B sebesar 97,78%, perlakuan C sebesar 95,56%, kemudian perlakuan D 93,33%, dan A sebesar 91,11%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan ubi jalar dengan dosis 20% dalam pakan mampu meningkatkan pertumbuhan dan sintasan udang vaname.Kata Kunci: fermentasi, pertumbuhan, sintasan, ubi jalar, udang vaname.ABSTRACTSweet potato (Ipomea batatas L) is a food crop with quite high productivity. In addition, sweet potato has the potential to be developed as a source of prebiotics, especially because of its oligosaccharide content. Oligosaccharides are the main component of prebiotics because the intestinal mucosa can digest them, so they are utilized by bacteria in the intestine, such as Lactobacillus. Lactobacillus sp is a probiotic that functions as an immune booster and growth booster and can be used as a counterweight to microorganisms in digestion. This study aims to determine the utilization of fermented sweet potato on the growth and survival rate of white shrimp (Litopenaeus vannamei). The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The results showed that the addition of fermented sweet potato flour showed no significantly different results (P0,05) for each different dose on the growth and survival of Vannamei shrimp. The highest absolute growth was in treatment B (20% sweet potato) of 2,18 grams C treatment (25% sweet potato) of 2,06 grams, then D treatment (30% sweet potato) of 2,01 grams, and 2,01 grams in treatment A (Control) of 1,96 grams. The highest survival was in Treatment B at 97,78%, treatment C at 95,56%, then Treatment D at 93,33%, and A at 91,11%. Based on the results of the study it can be concluded that adding sweet potato at a dose of 20% in the feed can increase the growth and survival of Vannamei shrimp.Keywords: fermentation, growth, survival, sweet potato, vannamei shrimp
Distribusi Parameter Kualitas Air Di Teluk Kotania Untuk Evaluasi Kesesuaian Budidaya Rumput Laut Hatulesila, Greaty Ilona; Tuhumury, Semuel F.; Matakupan, Jolen
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.30388

Abstract

ABSTRAKTeluk Kotania di Kabupaten Seram Bagian Barat memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya rumput laut, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada kualitas lingkungan perairan baik secara fisik, kimia, dan biologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis parameter kualitas air yang mendukung budidaya rumput laut di wilayah tersebut. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2025 di 12 stasiun penelitian, meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi melalui pengukuran in-situ dan uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air seperti suhu (29,63–30,04 °C), salinitas (33,46–33,85 ppt), pH (7,06–7,65), kecerahan (6–18 m), oksigen terlarut (9,12–12,38 mg/l), COD (5,20–10,70 mg/l), dan BOD (3,40–8,70 mg/l) masih berada dalam kisaran optimal dan di bawah ambang batas baku mutu. Kecepatan arus tercatat antara 3,60–24,34 cm/detik, sementara kedalaman perairan berkisar antara 6–24 meter. Konsentrasi nitrat (0,015 mg/l) dan klorofil-a (0,18–3,73 µg/l) tergolong rendah, mengindikasikan kondisi perairan oligotrofik. Sebaliknya, ortofosfat tercatat cukup tinggi (0,0–0,18 mg/l) di beberapa lokasi, diduga akibat aktivitas antropogenik. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa Teluk Kotania masih layak untuk pengembangan budidaya rumput laut berdasarkan parameter kualitas air secara fisik, kimia, dan biologi.Kata Kunci: kualitas air, rumput laut, Teluk Kotania, budidaya lautABSTRACTKotania Bay in West Seram Regency has great potential for developing seaweed culture, but its sustainability is highly dependent on the quality of the aquatic environment, both physically, chemically, and biologically. This study aims to analyze water quality parameters that support seaweed culture in the area. Data was collected in May 2025 at 12 sampling stations, covering physical, chemical, and biological parameters through in-situ measurements and laboratory analysis. The results indicate that most water quality parameters such as temperature (29.63–30.04 °C), salinity (33.46–33.85 ppt), pH (7.06–7.65), transparency (6–18 m), dissolved oxygen (9.12–12.38 mg/l), COD (5.20–10.70 mg/l), and BOD (3.40–8.70 mg/l) are within optimal ranges and below the regulatory thresholds. Current velocity ranged from 3.60–24.34 cm/s, and water depth varied between 6–24 meters. Nitrate (0.015 mg/l) and chlorophyll-a (0.18–3.73 µg/l) levels were low, indicating oligotrophic conditions. Conversely, orthophosphate concentrations were relatively high (0.0–0.18 mg/l) at several locations, likely due to anthropogenic activities. Overall, the analysis suggests that Kotania Bay remains suitable for seaweed culture based on its physical, chemical, and biological water quality parameters.Keywords: water quality, seaweed, Kotania Bay, marine aquaculture
Efektivitas Pakan Alami dalam Meningkatkan Warna dan Tingkat Kelangsungan Hidup Udang Hias, Neocaridina sp. Kusuma, Baruna; Anjaini, Jefri; Devananda, Andiawan Hakim; Sinaga, Sorbakti; Soedibya, Petrus Hary Tjahya
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31252

Abstract

ABSTRAKUdang hias Neocaridina sp. semakin diminati dalam industri akuakultur hias karena warna tubuhnya yang menarik dan kemudahan dalam pemeliharaan. Warna tubuh udang dan tingkat kelangsungan hidupnya dipengaruhi oleh nutrisi yang tersedia dalam pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan alami yang berbeda  (Tubifex sp., Larva Chironomus sp., Daphnia sp. dan pellet spirulina (kontrol) terhadap tingkat kelangsungan hidup, panjang, berat dan warna pada Neocaridina sp. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Udang dipelihara selama 40 hari dalam akuarium dengan kepadatan 1 ekor/liter, dan pakan diberikan secara adlibitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan alami yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan intensitas warna Neocaridina sp. (P0,05), tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan panjang dan berat (P0,05). Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan Tubifex sp. (85,00 ± 7,07%), sedangkan warna tubuh terbaik dicapai pada perlakuan yang sama (3,50 ± 0,12). Tubifex sp. merupakan pakan alami yang paling efektif dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan pigmentasi warna Neocaridina sp. Pentingnya penelitian lanjutan kombinasi pakan alami dan buatannterhadap efisiensi pertumbuhan dan pigmentasi pada Neocaridina sp.Kata Kunci: Karotenoid, Neocaridina sp., pakan alami, pigmentasi warna.ABSTRACTNeocaridina sp. ornamental shrimp are increasingly in demand in the ornamental aquaculture industry due to their attractive body color and ease of maintenance. Shrimp body color and survival rate are influenced by nutrients available in feed. This study aims to determine the effect of different types of natural feed (Tubifex sp., Chironomus sp. larvae, Daphnia sp., and spirulina pellets (control)) on survival rate, length, weight, and color in Neocaridina sp. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates. Shrimp were reared for 40 days in an aquarium with a density of 1 ind/L, and feed was given adlibitum. The results showed that different types of natural food had a significant effect on the survival and color intensity of Neocaridina sp. (P0.05). However, they had no significant effect on the growth of length and weight (P0.05). The highest survival rate was obtained in the Tubifex sp. treatment (85.00 ± 7.07%), while the best body color was achieved in the same treatment (3.50 ± 0.12). Tubifex sp. is the most effective natural food in increasing the survival and color pigmentation of Neocaridina sp. The importance of further research on the combination of natural and artificial feed on the efficiency of growth and pigmentation in Neocaridina sp.Keywords: Carotenoids, color pigmentation, Neocaridina sp., natural food.
Artificial Hatchery Techniques for Siamese Patin Fish (Pangasianodon hypopthalamus) at the Freshwater Aquaculture Fisheries Center, Sungai Gelam, Jambi Ilhamdi, Ilhamdi; Suprakto, Bambang; Triyane, Viola
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.26391

Abstract

ABSTRACTSiamese catfish (Pangasianodon hypopthalamus) is a type of fish that is included in the catfish group, this fish has a fairly large market so the demand for catfish is increasing from year to year. The main obstacle to the production of catfish seeds is the spawning cycle of Siamese catfish which still depends on the season, so optimization is needed in the supply of seeds through artificial spawning with the help of hormonal stimulation. This study aims to examine techniques for artificially hatching Siamese catfish using the hormone ovaprime and evaluate the performance of Siamese catfish hatcheries. The time for carrying out this research was 3 months using the observation method, participating directly in Siamese catfish hatchery techniques and through interviewing sources in the field of catfish hatchery. Siamese catfish hatchery techniques start from preparing the container, rearing the brood stock, selecting the brood stock, spawning, injecting, stripping, fertilizing, hatching, and raising the larvae until they become seeds and are ready for distribution. Based on the results of research on artificial seeding techniques for Siamese Catfish (Pangasianodon hypopthalamus) at the Gelam Jambi River Freshwater Aquaculture Fisheries Center (BPBAT), it produces an average fecundity of 170,394.75 eggs/kg. Meanwhile, the fertilization rate for four cycles averaged 69.54%, and the hatching rate was 68.95%. The problem with hatching Siamese catfish at BPBAT Sungai Gelam is that the availability of natural food is not sufficient for the needs and quantity required for larvae at the start of rearing, causing a decrease in larval survival rates.Keywords: Hatchery techniques, Siamese catfish, Pangasius hypophthalmus, artificially, seeds
Hubungan Kerapatan Lamun dengan Kelimpahan Teripang (Holothuroidea) di Perairan Pantai Domba, Kabupaten Pandeglang, Banten Shofiah, Audina; Sunarto, Sunarto; Yuliadi, Lintang Permata Sari; Pamungkas, Wahyuniar
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31141

Abstract

Padang lamun dengan kerapatan tinggi dimanfaatkan sebagai tempat perlindungan bagi teripang, menciptakan lingkungan yang aman dari predator dan menyediakan berbagai sumber makanan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kerapatan lamun, kelimpahan teripang dan hubungan antara keduanya di Perairan Pantai Domba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pengamatan tegakan lamun dan jumlah teripang dilakukan dengan menggunakan metode line transek kuadran. Penentuan stasiun pengamatan berdasarkan kerapatan lamun rapat, sedang dan jarang. Kerapatan lamun rapat berjumlah 191,27 ind/m2, kerapatan sedang sebesar 128,85 ind/m2, dan kerapatan jarang sebesar 99,03 ind/m2. Jenis lamun yang tumbuh di wilayah Pantai Domba, terdapat tiga spesies lamun yang ditemukan, yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata dan Cymodocea serrulata. Spesies teripang yang ditemukan hanya Holothuria leucospilota. Pada area dengan lamun rapat, kelimpahan berkisar antara 4,36 – 5,58 ind/m², pada lamun sedang 2,67 - 3,27 ind/m², dan pada lamun jarang 1,45 – 2,06 ind/m². Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kerapatan lamun dengan Kelimpahan Teripang di Pantai Domba dengan nilai (r = 0,998). Sebanyak 99,6 % kelimpahan teripang dipengaruhi oleh kerapatan lamun dan sisanya sebanyak 0,4 % dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti faktor lingkungan dan ketersediaan makanan yang mempengaruhi kelangsungan hidup teripang
Inovasi E-Katalog Berbasis Human Centered Design Sebagai Media Promosi Ekowisata Di Smiling Coral Indonesia, Pulau Pramuka Alrizky, Rahmi Tazkiya; Pamungkas, Wahyuniar; Junirahma, Nur Sakinah; Sunarto, Sunarto; Dhahiyat, Ahmad Prawira
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31515

Abstract

ABSTRAKSmiling Coral Indonesia merupakan organisasi yang aktif dalam mengembangkan inisiatif konservasi laut yang terintegrasi dengan aktivitas ekowisata di Pulau Pramuka. Dalam penyebaran informasi mengenai kegiatan tersebut, Smiling Coral Indonesia membutuhkan media promosi berupa katalog yang tersusun secara sistematis dan menarik bagi wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan preferensi wisatawan dan pengelola Smiling Coral Indonesia, Pulau Pramuka mengenai aspek e-katalog terdahulu yang perlu diperbaiki sebagai dasar perancangan inovasi selanjutnya. Setelah  preferensi diperoleh, dilakukan perancangan e-katalog inovasi melalui pendekatan Human Centered Design sebagai bentuk pembaruan media promosi aktivitas ekowisata di Smiling Coral Indonesia, Pulau Pramuka. Penelitian ini menggunakan metode mixed methods dengan teknik pengumpulan data secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan pengujian hasil rancangan menggunakan System Usability Scale (SUS). Analisis kegunaan melibatkan pengguna serta umpan balik dari ahli media komunikasi visual. Hasil penelitian menunjukkan e-katalog terdahulu memerlukan perbaikan pada aspek tampilan dan informasi. E-katalog inovasi berbasis website terbukti mampu meningkatkan efektivitas penyampaian informasi mengenai paket ekowisata dan paket konservasi yang lebih terstruktur, menarik, dan mudah diakses oleh calon wisatawan. Perbaikan ini mendukung peningkatan profesionalisme Smiling Coral Indonesia sebagai penyedia layanan ekowisata serta memperkuat promosi nilai-nilai konservasi laut yang menjadi fokus utama dalam pengembangan ekowisata berkelanjutan di Pulau Pramuka.Kata Kunci: E-Katalog, Ekowisata, Human Centered Design (HCD), Pulau Pramuka.ABSTRACTSmiling Coral Indonesia is an organization actively in developing marine conservation integrated with ecotourism activities on Pramuka Island. To disseminate information about these activities, Smiling Coral Indonesia requires a promotional medium in the form of a systematically organized and visually appealing catalog for prospective tourists. This study aims to identify the preferences of tourists and tourism managers regarding aspects of the previous e-catalog that need improvement as the foundation for the next design innovation. After collecting these preferences, the new e-catalog was developed using a Human-Centered Design approach as an updated promotional tool for Smiling Coral Indonesia’s ecotourism activities. This research employed a mixed methods with purposive sampling. Data were obtained through in-depth interviews and Usability testing using the System Usability Scale (SUS). Usability analysis involved both users and feedback from visual communication media experts. The findings show that the previous e-catalog required improvements in terms of visual presentation and content structure. The newly designed e-catalog successfully enhances the effectiveness of information delivery about ecotourism and conservation packages, making it more organized, engaging, and accessible to potential visitors. These  improvements  support the  professionalization of Smiling Coral Indonesia as an ecotourism service provider and strengthen the promotion of marine conservation values, which are central to the development of sustainable ecotourism on Pramuka Island.Keywords: E-Catalogue, Ecotourism, Human Centered Design (HCD), Pramuka Island.
Rancangan Paket Wisata Mangrove Seeds Expedition Sebagai Edukasi Konservasi di Taman Wisata Alam Angke Kapuk Elwie, Madu Maybelle Von; Pamungkas, Wahyuniar; Junirahma, Nur Sakinah; Prihadi, Donny Juliandri; Annida, Shafira Bilqis
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31477

Abstract

ABSTRAKEkowisata merupakan suatu perjalanan berwisata ke suatu tempat dengan konsep pariwisata berkelanjutan yang memiliki tujuan menjaga kelestarian alam dan fungsi sosial budaya dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, serta aspek pendidikan. Ekowisata mangrove menjadi salah satu contoh bentuk wisata yang mengkolaborasikan antara rekreasi, edukasi, dan konservasi lingkungan. Dengan adanya ekowisata mangrove dapat meningkatkan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan sambil berekreasi. Penelitian ini memanfaatkan data yang diperoleh selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan yang dilaksanakan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik observasi, dokumentasi, studi literatur, serta kuesioner kepada wisatawan sebagai data pendukung perancangan paket wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aspek atraksi memiliki daya tarik utama berupa pengalaman langsung dalam pembibitan mangrove yang bersifat partisipatif dan edukatif; (2) aspek aksesibilitas dinilai cukup memadai meskipun terdapat hambatan berupa kemacetan dan keterbatasan transportasi umum; dan (3) aspek amenitas mendukung kegiatan wisata dengan ketersediaan fasilitas dasar. Konsep paket wisata mangrove seeds expedition ini mengadopsi dari paket wisata yang telah ada di TWA Angke Kapuk yang kegiatannya menekankan pada menancapkan bibit mangrove. Paket mangrove seeds expedition menghadirkan tahapan yang lebih partisipatif mulai dari pencarian bibit, penyiapan media tanam, serta dilengkapi dengan pemberian sertifikat, snack, dan merchandise sebagai penambah daya tarik wisatawan Dengan demikian, penelitian ini merekomendasikan pengembangan atraksi pembibitan yang lebih beragam dan untuk mendukung konservasi ekosistem mangrove melalui kegiatan pembibitan mangrove.Kata Kunci: Ekowisata, Konservasi, 3A, TWA Angke Kapuk, Paket WisataABSTRACTEcotourism is a journey to a place with a sustainable tourism concept that aims to preserve nature and socio-cultural functions by prioritizing aspects of nature conservation, socio-cultural empowerment, and education. Mangrove ecotourism is one example of a form of tourism that collaborates between recreation, education, and environmental conservation. Mangrove ecotourism can raise public awareness about the importance of environmental conservation while enjoying recreation. This study utilizes data obtained during the Field Work Practice activities carried out at Angke Kapuk Nature Tourism Park. The research method used is qualitative with observation techniques, documentation, literature studies, and questionnaires to tourists as supporting data for designing tour packages. The results of the study show that: (1) The attraction aspect has a main attraction in the form of direct experience in mangrove nurseries that are participatory and educational; (2) the accessibility aspect is considered quite adequate even though there are obstacles in the form of traffic jams and limited public transportation; and (3) the amenity aspect supports tourism activities with the availability of basic facilities. The concept of the mangrove seeds expedition tour package is adopted from the existing tour package  at TWA Angke Kapuk whose activities emphasize planting mangrove seeds. The  mangrove seeds expedition package presents more participatory stages starting from searching for seeds, preparing planting media, and is equipped with the provision of certificates, snacks, and merchandise as an additional attraction for tourists. Thus, this study recommends the development of more diverse nursery attractions and to support the conservation of the mangrove ecosystem through mangrove nursery activities.Keywords: Ecotourism, Conservation, 3A, TWA Angke Kapuk, Tour Packages