cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 562 Documents
PERAN KREATIVITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBANGUN KETERBUKAAN KOMUNIKASI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN CANCEL CULTURE PADA SISWA KELAS XII B SMA KRISTEN 1 SURAKARTA Natalia Rose Diana; Justin Niaga Siman Juntak
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14458

Abstract

The rapid development of digital technology and social media has intensified the phenomenon of cancel culture, influencing students’ social interactions and challenging the Christian values of love and acceptance promoted in schools. This study aims to analyze the role of Christian Religious Education teachers’ creativity in fostering open communication with students as a strategy to prevent cancel culture in Class XII B of SMA Kristen 1 Surakarta. A qualitative case study approach was employed using observations, in-depth interviews, and documentation involving purposively selected teachers and students. Data were analyzed through the Miles and Huberman model and validated using source triangulation, technique triangulation, and member checking. The findings reveal that teacher creativity is reflected in the use of storytelling, flexible learning strategies, personal approaches, and the integration of Christian values of love and acceptance, creating an open and inclusive communication climate. The study concludes that pedagogical creativity plays a significant role in strengthening students’ social relationships and reducing the potential for cancel culture, while providing a foundation for developing a more inclusive and value-based Christian school culture. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah memunculkan fenomena cancel culture yang turut memengaruhi interaksi sosial di lingkungan sekolah, termasuk bertentangan dengan nilai kasih dan penerimaan yang diajarkan dalam Pendidikan Agama Kristen. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kreativitas guru Pendidikan Agama Kristen dalam membangun keterbukaan komunikasi dengan siswa sebagai upaya mencegah cancel culture di kelas XII B SMA Kristen 1 Surakarta. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap guru serta siswa yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi sumber, teknik, dan member check untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas guru diwujudkan melalui penggunaan storytelling, pembelajaran yang fleksibel, pendekatan personal, serta penanaman nilai kasih dan penerimaan sehingga tercipta komunikasi yang terbuka dan lingkungan belajar yang inklusif. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas pedagogis guru Pendidikan Agama Kristen berkontribusi dalam memperkuat relasi sosial antarsiswa dan mengurangi potensi munculnya cancel culture, sekaligus menjadi landasan pengembangan budaya sekolah yang lebih humanis dan berlandaskan nilai-nilai Kristiani.    
RECONSTRUCTING ISLAMIC RELIGIOUS EDUCATION PEDAGOGY BASED ON DEMOCRACY AND MULTICULTURALISM THROUGH CRITICAL-COLLABORATIVE LEARNING IN HIGH SCHOOL Woro Yustia Pratiwi; Musa Asy’arie
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14459

Abstract

Social change and the complexity of societal diversity require that Islamic Religious Education (PAI) learning not only be oriented towards mastering religious doctrines, but also towards developing a dialogical, inclusive, and democratic learning space. This qualitative research using library research aims to redefine and reconstruct PAI pedagogy based on democracy and multiculturalism through critical-collaborative learning in high schools. Data were obtained through a literature search in the databases of Google Scholar, Scopus, DOAJ, and Garuda Kemdikbud, by selecting 17 relevant sources from 142 identified records for analysis using content analysis, critical analysis, and conceptual synthesis techniques. The results show that the reconstruction of PAI pedagogy based on democracy and multiculturalism is realized through five main stages of syntax, namely democratic awareness, multicultural inquiry, collaborative dialogue, reflective engagement, and transformative action. These five stages of syntax position students as active subjects in constructing religious understanding through dialogue, critical reflection, and social collaboration. The novelty of this research lies in the integration of the principles of democracy, multiculturalism, and critical-collaborative learning into a systematic Islamic Religious Education (PAI) pedagogical framework. The main conclusion of the research confirms that this reconstruction expands the development of Islamic Religious Education (PAI) pedagogy that is more inclusive, humanistic, and responsive to the dynamics of contemporary multicultural society. ABSTRAK Perubahan sosial dan kompleksitas keanekaragaman masyarakat menuntut pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berorientasi pada penguasaan doktrin keagamaan, melainkan juga pengembangan ruang belajar yang dialogis, inklusif, dan demokratis. Penelitian kualitatif metode studi kepustakaan (library research) ini bertujuan meredefinisi dan merekonstruksi pedagogi PAI berbasis demokrasi dan multikulturalisme melalui pembelajaran kritis-kolaboratif di Sekolah Menengah Atas. Data diperoleh melalui pencarian literatur pada basis data Google Scholar, Scopus, DOAJ, dan Garuda Kemdikbud, dengan memilih 17 sumber relevan dari 142 rekaman teridentifikasi untuk dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis), analisis kritis, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi pedagogi PAI berbasis demokrasi dan multikulturalisme terwujud melalui lima tahapan sintaks utama, yaitu kesadaran demokratis (democratic awareness), penelusuran multikultural (multicultural inquiry), dialog kolaboratif (collaborative dialogue), keterlibatan reflektif (reflective engagement), dan aksi transformatif (transformative action). Kelima tahapan sintaks tersebut menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam mengonstruksi pemahaman keagamaan melalui dialog, refleksi kritis, dan kolaborasi sosial. Kebaruan penelitian terletak pada pengintegrasian prinsip demokrasi, multikulturalisme, dan pembelajaran kritis-kolaboratif ke dalam satu kerangka pedagogis PAI yang sistematis. Simpulan utama penelitian menegaskan bahwa rekonstruksi ini memperluas pengembangan pedagogi PAI yang lebih inklusif, humanis, dan responsif terhadap dinamika masyarakat multikultural kontemporer.    
MULTICULTURAL PAI LEARNING DESIGN THROUGH STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS IN HIGH SCHOOL Ria Nata Kusumaa; Musa Asy’arie
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14460

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) learning tends to be teacher-centered, making the instillation of multicultural values ​​less than optimal, so that an inclusive cooperative learning design is needed. This qualitative literature study aims to describe the design of multicultural-based PAI learning through the implementation of the Student Teams Achievement Divisions (STAD) model in Senior High Schools. Data sources were obtained from a review of 25 relevant scientific literature on multicultural education, PAI curriculum, and cooperative learning models, which were then analyzed descriptively and analytically including data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study indicate that the syntax design of the STAD model is able to integrate multicultural values ​​in a structured manner through the formation of heterogeneous groups, cooperative discussion activities, group presentations, individual quizzes, and team awards. The formation of heterogeneous groups facilitates inclusive social interaction of students without differentiating academic or social backgrounds, thus effectively instilling the values ​​of tolerance (tasamuh), brotherhood (ukhutwah), mutual assistance (ta'awun), and deliberation. The novelty of this research lies in the explicit integration of inclusivity principles into each instructional stage of the STAD model in Islamic Religious Education (PAI) subjects. The main conclusion confirms that the implementation of the STAD cooperative learning design can be an alternative transformative and relevant PAI learning strategy to strengthen students' social character and tolerance amidst the dynamics of a pluralistic society. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang cenderung berpusat pada guru membuat penanaman nilai multikultural kurang optimal, sehingga diperlukan desain pembelajaran berpendekatan kooperatif yang inklusif. Penelitian kualitatif studi kepustakaan ini bertujuan mendeskripsikan rancangan pembelajaran PAI berbasis multikultural melalui penerapan model Student Teams Achievement Divisions (STAD) di Sekolah Menengah Atas. Sumber data diperoleh dari penelaahan 25 literatur ilmiah relevan mengenai pendidikan multikultural, kurikulum PAI, serta model cooperative learning, yang kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain sintaks model STAD mampu mengintegrasikan nilai-nilai multikultural secara terstruktur melalui pembentukan kelompok heterogen, kegiatan diskusi kooperatif, presentasi kelompok, kuis individu, serta pemberian penghargaan tim. Pembentukan kelompok yang heterogen memfasilitasi interaksi sosial siswa secara inklusif tanpa membedakan latar belakang akademis maupun sosial, sehingga efektif menanamkan nilai toleransi (tasamuh), persaudaraan (ukhutwah), tolong-menolong (ta'awun), dan musyawarah. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengintegrasian eksplisit prinsip-prinsip inklusivitas ke dalam setiap tahapan instruksional model STAD pada mata pelajaran PAI. Simpulan utama mengonfirmasi bahwa penerapan desain pembelajaran kooperatif STAD dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran PAI yang transformatif dan relevan untuk memperkuat karakter sosial serta toleransi siswa di tengah dinamika masyarakat yang majemuk.  
REVITALISASI BAHASA DAERAH DAN SENI TARI MELALUI PEMBELAJARAN BAHASA DAERAH DAN SANGGAR SENI DI SMP NEGERI 13 MAKASSAR Zalshabila Rahmadhani; Hasni Hasni; Dimas Ario Sumilih
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14461

Abstract

The increasing penetration of popular culture in the modern era threatens the sustainability of local languages and traditional arts among urban adolescents. Therefore, cultural revitalization through formal educational institutions is an urgent step to preserve regional identity. This study aims to analyze the contribution of Makassarese language learning and the Luova Teini Dance Art Studio to the revitalization of Makassarese culture at SMP Negeri 13 Makassar using the CIPP evaluation framework (Context, Input, Process, Product) focusing on the product component. The research utilized a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, semi-structured interviews, and documentation. Research informants consisted of Makassarese language teachers, dance studio instructors, and nine students. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results show that learning the Makassarese language and participating in the Dance Art Studio contribute to cultural revitalization by increasing student interest, understanding of language and cultural concepts, fostering cross-ethnic appreciation, and developing social skills such as teamwork and leadership. Nevertheless, limitations remain in the active daily use of the language and deep understanding of the philosophical meanings of traditional dances. These findings emphasize that combining intracurricular and extracurricular learning based on regional culture serves as a strategic medium to revitalize local culture in multi-ethnic school environments. ABSTRAK Meningkatnya penetrasi budaya populer di era modern mengancam keberlangsungan bahasa lokal dan kesenian tradisional di kalangan remaja urban. Oleh karena itu, revitalisasi budaya melalui institusi pendidikan formal menjadi langkah mendesak untuk menjaga entitas identitas daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pembelajaran Bahasa Makassar dan Sanggar Seni Tari Luova Teini dalam revitalisasi budaya Makassar di SMP Negeri 13 Makassar dengan menggunakan kerangka evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) fokus pada komponen product. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas guru Bahasa Makassar, pembina sanggar seni, dan sembilan siswa. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Makassar dan Sanggar Seni Tari berkontribusi terhadap revitalisasi budaya melalui peningkatan minat siswa, pemahaman materi bahasa dan budaya, tumbuhnya apresiasi lintas etnis, serta pengembangan kemampuan sosial seperti kerja sama dan kepemimpinan. Meskipun demikian, masih ditemukan keterbatasan pada penggunaan bahasa secara aktif dalam kehidupan sehari-hari dan pemahaman mendalam terhadap makna filosofis tarian. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler berbasis budaya daerah merupakan sarana strategis dalam merevitalisasi budaya lokal di lingkungan sekolah multietnis.    
TANTANGAN GURU DALAM PEMBELAJARAN DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS PADA SMP NEGERI 1 TILONGKABILA Martina Marsela Bonkur Kakyarmabin; Syarwani Canon; Melizubaida Mahmud; Radia Hafid; Ardiansyah Ardiansyah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14462

Abstract

The rapid development of digital technology requires a transformation of learning methods in secondary schools; however, differences in adaptability and digital literacy levels among educators trigger a learning effectiveness gap that is crucial to study in depth. This study aims to analyze the readiness of senior, middle, and junior teachers in adapting technology-based learning, identify the challenges faced in digital learning, and examine teacher adaptation strategies at SMP Negeri 1 Tilongkabila. This study employs a qualitative approach with a case study design. Data were obtained through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that teachers' readiness in digital learning varies. Junior teachers tend to be better prepared to utilize technology, middle teachers are in the adaptation stage, while senior teachers still face various internal obstacles regarding skills and technology anxiety. In addition to internal teacher challenges, external challenges were also found, such as limited facilities, differences in students' abilities, and changes in students' characteristics in the digital era. To overcome these challenges, teachers implement various strategies, such as flexible use of technology, group learning, and adjustments to teaching methods based on students' conditions. These findings show that successful digital learning requires teacher readiness, facility support, and adaptive learning strategies. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital yang pesat menuntut adanya transformasi metode pembelajaran di sekolah menengah, namun perbedaan tingkat adaptabilitas dan literasi digital di antara para pendidik memicu kesenjangan efektivitas pembelajaran yang krusial untuk diteliti secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesiapan guru senior, middle, dan junior dalam mengadaptasi pembelajaran berbasis teknologi, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran digital, serta mengkaji strategi adaptasi guru di SMP Negeri 1 Tilongkabila. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam pembelajaran digital belum merata. Guru junior cenderung lebih siap memanfaatkan teknologi, guru middle berada pada tahap adaptasi, sedangkan guru senior masih menghadapi berbagai kendala internal terkait keterampilan dan kecemasan teknologi. Di samping tantangan internal guru, ditemukan pula tantangan eksternal seperti keterbatasan fasilitas, perbedaan kemampuan siswa, dan perubahan karakter siswa di era digital. Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru menerapkan berbagai strategi seperti penggunaan teknologi secara fleksibel, pembelajaran kelompok, dan penyesuaian metode pembelajaran sesuai kondisi siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran digital memerlukan kesiapan guru, dukungan fasilitas, dan strategi pembelajaran yang adaptif.    
THE EFFECT OF PROJECT-BASED LEARNING ON STUDENTS’ CRITICAL THINKING SKILLS IN JUNIOR HIGH SCHOOL EFL CLASSROOMS Fitri Nurlela; Amir Hamzah; Eva Devi Sofyawati
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14463

Abstract

ABSTRACT Critical thinking is an essential competency required in 21st-century education. However, students in English as a Foreign Language (EFL) classrooms often have limited opportunities to engage in higher-order thinking activities due to teacher-centered instructional practices. This study investigated the effect of Project-Based Learning (PjBL) on students’ critical thinking skills in junior high school EFL classrooms. A quantitative approach employing a quasi-experimental non-equivalent control group design was used. The participants consisted of an experimental group ( ) taught through Project-Based Learning and a control group ( ) taught through conventional instruction. Data were collected through pre-test and post-test essay assessments designed to measure students’ critical thinking skills across analysis, interpretation, evaluation, and inference. The data were analyzed using descriptive statistics, gain score analysis, normality testing, homogeneity testing, the Mann–Whitney  test, and Cohen's  effect size analysis. The statistical analysis revealed a significant difference between the two groups ( ), with the experimental group obtaining a higher post-test mean score and gain score than the control group. Furthermore, the effect size analysis produced a Cohen’s  value of 0.675, indicating a medium treatment effect. These findings suggest that Project-Based Learning is an effective instructional approach for promoting critical thinking skills in EFL classrooms by encouraging inquiry, problem-solving, collaboration, and analytical thinking. This study contributes empirical evidence regarding the effectiveness of Project-Based Learning in improving critical thinking skills among Indonesian junior high school EFL learners, a context that remains underexplored in previous research.   ABSTRAK Berpikir kritis merupakan kompetensi esensial yang dibutuhkan dalam pendidikan abad ke-21. Namun, siswa dalam kelas Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (English as a Foreign Language / EFL) sering kali memiliki kesempatan yang terbatas untuk terlibat dalam kegiatan berpikir tingkat tinggi akibat praktik pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered). Penelitian ini menyelidiki pengaruh Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning / PjBL) terhadap keterampilan berpikir kritis siswa di kelas EFL sekolah menengah pertama (SMP). Pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental non-equivalent control group digunakan dalam penelitian ini. Partisipan terdiri dari kelompok eksperimen ( ) yang diajar menggunakan Pembelajaran Berbasis Proyek dan kelompok kontrol ( ) yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui asesmen esai pre-test dan post-test yang dirancang untuk mengukur keterampilan berpikir kritis siswa mencakup aspek analisis, interpretasi, evaluasi, dan inferensi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis gain score, uji normalitas, uji homogenitas, uji Mann–Whitney U, dan analisis ukuran efek (effect size) Cohen's d. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok ( ), dengan kelompok eksperimen memperoleh rata-rata skor post-test dan gain score yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Selain itu, analisis ukuran efek menghasilkan nilai Cohen’s d sebesar 0,675, yang menunjukkan efek perlakuan dalam kategori sedang (medium). Temuan ini menunjukkan bahwa Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis di kelas EFL dengan mendorong inkuiri, pemecahan masalah, kolaborasi, dan pemikiran analitis. Penelitian ini memberikan bukti empiris mengenai efektivitas Pembelajaran Berbasis Proyek dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis di kalangan siswa SMP EFL di Indonesia, sebuah konteks yang masih jarang diteliti dalam studi-studi sebelumnya.
ANALISIS MODEL PEMBELAJARAN DEEP LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMPN 2 GARAWANGI KABUPATEN KUNINGAN Dewi Pramukawati
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14464

Abstract

The dominance of conventional teacher-centered instructional models and surface learning orientation systemically results in the stagnation of students' motivation and science learning outcomes in regional schools. This predictive-associative ex-post facto quantitative study aims to analyze the predictive contribution and degree of association of the deep learning model—integrating mindful, meaningful, and joyful learning (3M) pillars—towards students' motivation and cognitive science achievement. Utilizing structured data collection techniques via psychometric questionnaires and objective written tests distributed to a sample of 94 eighth-grade students at SMPN 2 Garawangi, data were inferentially analyzed using simple linear regression modeling and Pearson Product Moment correlation coefficients. The results demonstrated that the deep learning model has a statistically significant positive effect on both student motivation and science academic achievement. Correlation analysis confirmed a significant positive relationship between deep learning implementation and improvements in students' motivation and cognitive achievements. Practically, the implementation of this approach effectively transformed the classroom atmosphere into a more interactive environment and substantially increased students' average test scores beyond the minimum mastery criteria. In conclusion, the deep learning instructional model based on three core pillars effectively serves as a valid statistical predictor to optimize students' academic potential and motivation in junior high school science education. ABSTRAK Dominasi model instruksional konvensional yang berpusat pada guru (teacher-centered) dan berorientasi hafalan (surface learning) secara sistemik berimplikasi pada stagnasi motivasi serta hasil belajar sains siswa di daerah. Penelitian kuantitatif berdesain ex-post facto asosiatif-prediktif ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi prediktif dan derajat asosiasi model pembelajaran deep learning yang mengintegrasikan pilar mindful, meaningful, dan joyful learning (3M) terhadap motivasi dan prestasi belajar kognitif IPA siswa. Melalui teknik pengumpulan data terstruktur memanfaatkan kuesioner psikometrik dan tes tertulis objektif yang didistribusikan kepada sampel sebanyak 94 siswa kelas VIII di SMPN 2 Garawangi, seluruh data dianalisis secara inferensial menggunakan pemodelan regresi linear sederhana dan koefisien korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model deep learning terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap motivasi belajar maupun prestasi belajar IPA siswa. Analisis korelasi mengonfirmasi adanya hubungan positif yang signifikan antara penerapan deep learning dengan peningkatan motivasi dan prestasi belajar kognitif peserta didik. Secara praktis, implementasi pendekatan ini terbukti mentransformasi atmosfer kelas menjadi lebih interaktif dan meningkatkan capaian rata-rata ulangan harian siswa secara nyata melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pemodelan deep learning berbasis tiga pilar utama efektif bertindak sebagai prediktor statistik yang valid untuk mengoptimalkan potensi akademik dan motivasi sains siswa di lingkungan sekolah menengah pertama.    
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR JUMP SHOOT DALAM PERMAINAN BOLA BASKET MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) PADA SISWA SISWA KELAS XII-1 SMA NEGERI 5 AMBON S. Rapia Tuarita; Jacob Anaktototy; Mariana Ditboya Hukubun
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14466

Abstract

Learning the jump shoot technique in basketball is complex because it demands well-developed movement coordination, so it is often difficult for students to master when learning still relies on conventional teacher-dominated methods. A similar condition was found in class XII-1 of SMA Negeri 5 Ambon, where students' jump shoot learning outcomes were still low and had not met the minimum mastery criteria. This study aims to improve jump shoot learning outcomes in basketball through the application of the cooperative learning model of the Teams Games Tournament type among students of class XII-1 of SMA Negeri 5 Ambon. This study is classroom action research referring to the spiral model of Kemmis and McTaggart, conducted in two cycles, each consisting of planning, acting, observing, and reflecting stages, with 29 students as subjects. The data were collected through skill tests, written tests, and observation, then analyzed using quantitative descriptive techniques. The results showed an increase in classical mastery from 62% in the first cycle to 100% in the second cycle, and the average score rose from 79 to 89. It was concluded that the Teams Games Tournament cooperative learning model effectively improved students' jump shoot learning outcomes comprehensively and thoroughly. ABSTRAK Pembelajaran teknik jump shoot dalam permainan bola basket tergolong kompleks karena menuntut koordinasi gerak yang matang, sehingga sering kali sulit untuk dikuasai oleh peserta didik apabila pembelajaran masih bertumpu pada metode konvensional yang didominasi sepenuhnya oleh guru. Kondisi serupa juga ditemukan di kelas XII-1 SMA Negeri 5 Ambon, yaitu hasil belajar jump shoot peserta didik masih tergolong rendah dan belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang telah ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar jump shoot dalam permainan bola basket melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament pada peserta didik kelas XII-1 SMA Negeri 5 Ambon. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang mengacu pada model spiral Kemmis dan McTaggart, dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, dengan subjek sebanyak 29 peserta didik. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan, tes tertulis, dan observasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan klasikal dari 62% pada siklus pertama menjadi 100% pada siklus kedua, dengan kenaikan nilai rata-rata dari 79 menjadi 89. Disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament efektif meningkatkan hasil belajar jump shoot peserta didik secara komprehensif.  
HUBUNGAN ANTARA KONDISI EKONOMI ORANG TUA DAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA TINGKAT MADRASAH TSANAWIYAH (STUDI KASUS DI MTS AL FATWA GARUT) Cahyani Safitri
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14467

Abstract

Socio-economic inequality in Indonesia remains a clear challenge that directly affects educational equity and student academic achievement. Limitations in family economic conditions often restrict the fulfillment of basic learning facilities, such as the availability of literacy resources, access to information technology, and parental psychosocial support. Therefore, mapping the relationship between parental economic status and student academic performance is highly urgent to formulate inclusive educational interventions at the madrasah level. This study aims to empirically analyze the relationship between parental economic conditions and student academic achievement at MTs Al Fatwa Garut. This study used a quantitative approach with a correlational method. The sample consisted of 60 students selected using proportionate stratified random sampling from a total population of 180 students. Data were collected through questionnaires regarding parental economic conditions and documentation of report card grades. Correlation test results show a positive and significant relationship between parental economic conditions and student academic achievement. These findings confirm that family economic adequacy plays an important role in supporting madrasah students' academic success. The implications of this study encourage schools and local governments to strengthen scholarship schemes, subsidies for learning facilities, and mentoring for low-income families. ABSTRAK Ketimpangan sosial-ekonomi di Indonesia hingga kini masih menjadi tantangan nyata yang secara langsung berdampak pada pemerataan mutu pendidikan serta pencapaian prestasi akademik siswa. Keterbatasan kondisi ekonomi keluarga sering kali membatasi pemenuhan fasilitas dasar belajar, seperti ketersediaan sarana literasi, akses teknologi informasi, hingga dukungan psikososial orang tua. Oleh karena itu, pemetaan hubungan antara tingkat ekonomi orang tua dan prestasi belajar siswa menjadi sangat mendesak guna merumuskan intervensi pendidikan yang inklusif pada tingkat madrasah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris hubungan antara kondisi ekonomi orang tua dan prestasi belajar siswa di MTs Al Fatwa Garut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel terdiri dari 60 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling dari total populasi 180 siswa. Data dikumpulkan melalui angket kondisi ekonomi orang tua dan dokumentasi nilai rapor siswa. Hasil uji korelasi menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara kondisi ekonomi orang tua dan prestasi belajar siswa. Hasil ini mengonfirmasi bahwa ketercukupan ekonomi keluarga berperan penting dalam menunjang keberhasilan belajar siswa madrasah. Implikasi penelitian ini mendorong sekolah dan pemerintah daerah untuk memperkuat skema beasiswa, subsidi sarana belajar, serta pendampingan keluarga kurang mampu.
SINTESIS FAKTOR PENENTU KINERJA GURU SMK: ANALISIS INTEGRATIF KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL, KEPUASAN KERJA, KOMITMEN ORGANISASI, DAN ADAPTASI KEBIJAKAN VOKASI KONTEMPORER Yudhi Hertanto; Oom Rohmah Syamsudin
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14469

Abstract

The revitalization of vocational education requires Vocational High Schools (SMK) to undergo a massive transformation to produce graduates relevant to industry needs. Amidst the dynamics of urban areas, changes in curriculum policies, and highly dynamic workloads, vocational high school teacher performance is the most crucial factor in determining teaching effectiveness. This study aims to analyze and synthesize the causal relationships between principals' transformational leadership, self-efficacy, psychological well-being, job satisfaction, and organizational commitment on vocational high school teacher performance, with contextual challenges in the metropolitan area of ​​Depok City. Using a Systematic Literature Review (SLR) approach with the PRISMA 2020 protocol, 25 articles from reputable national (SINTA) and international (Scopus) scientific journals from 2016–2026 were synthesized in depth. The results confirm that transformational leadership acts as a driver of the teaching ecosystem, while self-efficacy and organizational commitment serve as direct predictors of instructional performance. Job satisfaction and psychological well-being have been shown to play a significant mediating and protective role in reducing burnout due to the implementation of new policies such as Ministerial Regulation No. 11 of 2025 concerning the Fulfillment of Teacher Workloads and the dialectical implementation of the Academic Ability Test (TKA) based on Ministerial Regulation No. 9 of 2025. This study produces a new integrative conceptual framework that balances the managerial, cognitive-personal, emotional, and behavioral aspects of vocational teachers' work. ABSTRAK Revitalisasi pendidikan vokasi, menuntut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bertransformasi secara masif, guna menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri. Di tengah dinamika wilayah urban dan perubahan kebijakan kurikulum, serta beban kerja yang sangat dinamis, kinerja guru SMK menjadi faktor paling krusial dalam menentukan efektivitas pengajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menyintesis jaring relasi kausalitas antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah, efikasi diri, kesejahteraan psikologis (psychological well-being), kepuasan kerja, dan komitmen organisasi terhadap kinerja guru SMK, dengan lokus tantangan kontekstual di wilayah metropolitan Kota Depok. Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA 2020, sebanyak 25 artikel jurnal ilmiah bereputasi nasional (SINTA) dan internasional (Scopus) dalam rentang waktu 2016–2026 disintesis secara mendalam. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa kepemimpinan transformasional bertindak sebagai penggerak ekosistem pengajaran, sedangkan efikasi diri dan komitmen organisasi berfungsi sebagai prediktor langsung terhadap kinerja instruksional. Kepuasan kerja dan kesejahteraan psikologis terbukti memiliki peran mediasi dan perlindungan (protective factor) yang signifikan dalam mereduksi kejenuhan kerja (burnout) akibat implementasi kebijakan baru seperti Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru serta dialektika pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) berdasarkan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025. Kajian ini menghasilkan kerangka konseptual integratif baru yang menyeimbangkan aspek manajerial, kognitif-personal, emosional, dan perilaku kerja guru vokasi.