cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 562 Documents
PENGARUH CHATGPT DAN KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMK: MODERASI TEMAN SEBAYA Dina Oktaviani Putri
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13688

Abstract

ABSTRACT The use of ChatGPT in education has increased significantly, creating new opportunities for students to access information quickly. However, its effectiveness in fostering critical thinking skills remains inconclusive, particularly in vocational education. This study aimed to examine the effects of ChatGPT usage and self-regulated learning on students' critical thinking skills in Basic Banking courses, as well as to investigate the moderating role of peer social support. This research employed a quantitative explanatory approach involving 83 tenth-grade students from the Accounting and Institutional Finance (Akuntansi Keuangan Lembaga/AKL) program at SMKN 10 Surabaya, selected through simple random sampling. Data were analyzed using Multiple Linear Regression and Moderated Regression Analysis (MRA). The findings revealed that ChatGPT usage had no significant effect on students' critical thinking skills, whereas self-regulated learning had a positive and significant effect. Furthermore, peer social support did not moderate the relationship between ChatGPT usage and critical thinking skills, nor did it moderate the relationship between self-regulated learning and critical thinking skills. These findings provide empirical evidence that students' critical thinking skills in Basic Banking learning are more strongly influenced by the internal factor of self-regulated learning than by the intensity of Artificial Intelligence-based technology use or peer social support. The study highlights the importance of instructional strategies that strengthen self-regulated learning while promoting the reflective, analytical, and responsible use of ChatGPT to enhance students' critical thinking skills. ABSTRAK Pemanfaatan ChatGPT dalam pembelajaran semakin meningkat dan membuka peluang baru bagi peserta didik untuk memperoleh informasi secara cepat. Namun, efektivitas penggunaannya dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis masih menunjukkan hasil yang beragam, sehingga diperlukan kajian empiris pada konteks pendidikan vokasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh aktivitas penggunaan ChatGPT dan kemandirian belajar terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran Perbankan Dasar, serta menguji peran dukungan sosial teman sebaya sebagai variabel moderasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan sampel sebanyak 83 siswa kelas X Akuntansi Keuangan Lembaga (AKL) SMKN 10 Surabaya yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Regresi Linear Berganda dan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penggunaan ChatGPT tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis, sedangkan kemandirian belajar berpengaruh positif dan signifikan. Selain itu, dukungan sosial teman sebaya tidak terbukti memoderasi pengaruh aktivitas penggunaan ChatGPT maupun kemandirian belajar terhadap kemampuan berpikir kritis. Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa kemampuan berpikir kritis siswa pada pembelajaran Perbankan Dasar lebih dipengaruhi oleh faktor internal berupa kemandirian belajar dibandingkan intensitas penggunaan teknologi berbasis Artificial Intelligence maupun dukungan sosial teman sebaya. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya strategi pembelajaran yang mengintegrasikan penguatan kemandirian belajar dengan pemanfaatan ChatGPT secara reflektif, analitis, dan bertanggung jawab untuk mendukung berkembangnya kemampuan berpikir kritis siswa.
EKSPLORASI NILAI SOSIAL DALAM TRADISI MA’PASONGLO SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPS DI MTS RONI KABUPATEN TANA TORAJA Hijriah Hijriah; Nasruddin Nasruddin; Hasmiah Herawaty; Zurahmah Zurahmah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13754

Abstract

ABSTRACT Social Studies (IPS) learning in schools still tends to rely on textbooks, leaving the potential of local wisdom as a learning resource underutilized. This study aims to explore the social values embedded in the Ma’pasonglo tradition and analyze their relevance and utilization as a Social Studies learning resource at MTs Roni, Tana Toraja Regency. The study employed a qualitative descriptive method with an ethnographic approach. Data were collected through observations, in-depth interviews with traditional leaders, Social Studies teachers, and students, as well as documentation, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that: (1) the Ma’pasonglo tradition embodies the core social values of mutual cooperation, empathy, solidarity, moral responsibility, and respect for ancestors and others, which serve as important social capital in the Tana Toraja community; (2) these values are closely aligned with the Social Studies curriculum, particularly in the topics of social interaction and character education; and (3) the Ma’pasonglo tradition is incorporated into learning through interactive lectures based on cultural experiences and environmental observation, making learning more contextual. This study demonstrates that the Ma’pasonglo tradition can be utilized as a local wisdom-based learning resource that integrates contextual learning and character education in Social Studies. These findings enrich the literature on culture-based Social Studies learning and provide an alternative for teachers to develop more meaningful and contextually relevant learning experiences. ABSTRAK Pembelajaran IPS di sekolah masih cenderung berorientasi pada buku teks sehingga potensi kearifan lokal sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai-nilai sosial dalam tradisi Ma’pasonglo serta menganalisis relevansi dan pemanfaatannya sebagai sumber belajar IPS di MTs Roni Kabupaten Tana Toraja. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat, guru IPS, dan peserta didik, serta dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tradisi Ma’pasonglo mengandung nilai gotong royong, empati, solidaritas, tanggung jawab moral, serta penghormatan terhadap leluhur dan sesama sebagai modal sosial masyarakat Tana Toraja; (2) nilai-nilai tersebut relevan dengan kurikulum IPS, terutama pada materi interaksi sosial dan pendidikan karakter; dan (3) pemanfaatan tradisi Ma’pasonglo diimplementasikan melalui ceramah interaktif berbasis pengalaman budaya dan observasi lingkungan, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Ma’pasonglo dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS berbasis kearifan lokal yang mengintegrasikan pembelajaran kontekstual dan pendidikan karakter. Temuan ini memperkaya kajian pembelajaran IPS berbasis budaya lokal serta menjadi alternatif bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih bermakna.
KENDALA PENERAPAN METODE DISKUSI PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP Fortuna Murdyan Adalea; Markhamah Markhamah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13755

Abstract

ABSTRACT The implementation of the discussion method in junior high school Indonesian language learning continues to face challenges that limit students' active participation and the achievement of learning objectives. Problems such as low self-confidence, dominance of a few students, inadequate understanding of learning materials, and ineffective discussion management reduce the effectiveness of classroom discussions. This study aimed to analyze the challenges encountered in implementing the discussion method in Indonesian language learning at the junior high school level and to identify strategies for overcoming these challenges. A descriptive qualitative approach was employed. Data were collected through semi-structured interviews, classroom observations, and documentation involving an Indonesian language teacher and eighth-grade students. The data were analyzed using thematic analysis, while source and technique triangulation were applied to ensure data trustworthiness. The findings revealed five major challenges: students' low self-confidence, poorly managed discussions, dominance by several students, limited understanding of learning materials, and low classroom discipline. Efforts to address these challenges included providing positive reinforcement, supervising and guiding discussions, forming heterogeneous groups, ensuring equal participation opportunities, and strengthening students' understanding through additional explanations, guiding questions, and instructional media. The study concludes that the effectiveness of the discussion method depends on collaboration between teachers and students through well-managed, participatory, and supportive learning environments. ABSTRAK Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP masih menghadapi permasalahan dalam penerapan metode diskusi sehingga keterlibatan aktif siswa dan pencapaian tujuan pembelajaran belum berlangsung secara optimal. Berbagai kendala, seperti rendahnya kepercayaan diri siswa, dominasi beberapa anggota kelompok, kurangnya pemahaman materi, serta pengelolaan diskusi yang belum efektif, menghambat proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis kendala dalam penerapan metode diskusi pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP serta mengidentifikasi upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi terhadap guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas VIII. Data dianalisis menggunakan analisis tematik dengan menerapkan triangulasi sumber dan triangulasi teknik untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala utama meliputi rendahnya kepercayaan diri siswa, diskusi yang kurang terarah, dominasi beberapa siswa, kurangnya pemahaman materi, dan rendahnya disiplin siswa. Upaya yang dilakukan meliputi pemberian apresiasi, pendampingan dan pengawasan diskusi, pembentukan kelompok heterogen, pemerataan kesempatan berpendapat, serta penguatan pemahaman materi melalui penjelasan ulang, pertanyaan pemantik, dan pemanfaatan media pembelajaran. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas metode diskusi memerlukan kolaborasi antara guru dan siswa melalui pengelolaan pembelajaran yang terstruktur, partisipatif, dan kondusif.
ASESMEN FORMATIF DAN SUMATIF DALAM MENDORONG KREATIVITAS DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMA Nandalia Nandalia
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13780

Abstract

ABSTRACT Within the implementation of the Merdeka Curriculum, assessment is positioned as an integral component of the learning process. Nevertheless, assessment practices in senior high schools remain predominantly focused on measuring academic achievement, limiting their potential to foster creativity and problem-solving skills. This condition underscores the need for a deeper understanding of how formative and summative assessment contribute to the development of twenty-first-century competencies. This study explored the implementation of both assessment approaches at SMA Negeri 9 Yogyakarta using a qualitative case study design. The participants consisted of one mathematics teacher, the vice principal for curriculum affairs, and three students selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that formative assessment is more effective than summative assessment in fostering creativity and problem-solving skills by providing continuous feedback, reflective activities, classroom discussions, practice exercises, and project-based assignments that encourage students to explore multiple solution strategies. In contrast, summative assessment remains primarily oriented toward measuring learning achievement, offering relatively limited opportunities for students to develop and express original ideas. The study concludes that a balanced integration of formative and summative assessment, supported by authentic project- and case-based assessment, contributes to creating more meaningful learning experiences while strengthening students' creativity, problem-solving skills, and the overall quality of learning in a sustainable manner. ABSTRAK Implementasi Kurikulum Merdeka menempatkan asesmen sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran. Namun, praktik penilaian di sekolah menengah atas masih lebih banyak diarahkan pada pengukuran capaian akademik sehingga potensinya dalam membangun kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana asesmen formatif dan asesmen sumatif berkontribusi terhadap pengembangan kompetensi abad ke-21. Penelitian ini mengeksplorasi praktik kedua bentuk asesmen di SMA Negeri 9 Yogyakarta melalui pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri atas seorang guru matematika, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan tiga siswa yang dipilih secara purposive. Data diperoleh melalui wawancara semi-structured kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis. Temuan menunjukkan bahwa asesmen formatif lebih efektif dalam memfasilitasi kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah karena menghadirkan umpan balik berkelanjutan, refleksi, diskusi, latihan, serta penugasan berbasis proyek yang mendorong eksplorasi beragam strategi penyelesaian. Sebaliknya, asesmen sumatif masih didominasi fungsi pengukuran hasil belajar sehingga ruang bagi siswa untuk mengembangkan gagasan relatif terbatas. Hasil penelitian menegaskan bahwa perpaduan proporsional antara asesmen formatif dan sumatif, yang diperkuat asesmen autentik berbasis proyek dan studi kasus, mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus memperkuat kreativitas, kemampuan pemecahan masalah, dan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
PENGARUH POLA ASUH PERMISIF TERHADAP ETIKA SOSIAL PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Raida Hisanah; Muhammad Arsyad; Sulistiyana Sulistiyana
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.13798

Abstract

ABSTRACT Social ethics are an important aspect of students’ lives. However, various forms of deviant behavior among students are suspected to be associated with permissive parenting practices adopted by parents. This condition is reflected in several attitudes exhibited by junior high school students, indicating a low level of social ethics. The purpose of this study is to examine how a permissive parenting style affects the social ethics of students at SMPN 2 Banjarmasin. A quantitative method with a correlation-of-effects design was used in this study. The sample consisted of 266 students selected at random. The Permissive Parenting Style and Social Ethics questionnaires were used to collect data; both had been tested for validity and reliability. Subsequently, the data were analyzed using quantitative descriptive analysis and simple linear regression with SPSS version 31. The results showed that students’ social ethics fell into the high category (62%), while permissive parenting was in the moderate category (72.2%). The coefficient of determination (R² = 0.318) indicates that permissive parenting explains 31.8% of the variance in students’ social ethics. Thus, the more permissive parents’ parenting style is, the lower the students’ social ethics. These findings underscore the importance of the family’s role in shaping social ethics and the need for synergy among families, schools, and the community in supporting adolescents’ character development. ABSTRAK Etika sosial merupakan aspek penting dalam kehidupan siswa. Namun, berbagai perilaku menyimpang pada siswa diduga berkaitan dengan pola asuh permisif yang diterapkan orang tua. Kondisi tersebut tercermin dalam sejumlah sikap siswa sekolah menengah pertama yang menunjukkan rendahnya penerapan etika sosial. Tujuan dari penelitian ini Adalah untuk melihat bagaimana gaya pengasuhan permisif berdampak pada etika sosial siswa di SMPN 2 Banjarmasin. Metode kuantitatif dengan desain korelasi pengaruh digunakan dalam penelitian ini. Sampel penelitian terdiri dari 266 siswa yang dipilih secara acak. Kuesioner Gaya Pengasuhan Permisif dan Etika Sosial digunakan untuk mengumpulkan data, keduanya telah diuji untuk validitas dan kredibilitas. Selanjutnya, data dianalisis dengan analisis deskriptif kuantitatif dan regresi linier sederhana menggunakan program SPSS versi 31. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika sosial siswa berada pada kategori tinggi (62%), sedangkan pola asuh permisif berada pada kategori sedang (72,2%). Nilai koefisien determinasi (R² = 0,318) menunjukkan bahwa pola asuh permisif memberikan prediktor sebesar 31,8% terhadap etika sosial siswa. Dengan demikian, semakin tinggi penerapan pola asuh permisif oleh orang tua, semakin rendah etika sosial yang dimiliki siswa. Temuan ini menegaskan pentingnya peran keluarga dalam membentuk etika sosial serta perlunya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung perkembangan karakter remaja.
PENGARUH METODE DISKUSI KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN TUTOR SEBAYA TERHADAP PARTISIPASI AKTIF SISWA SMA Dhea Amanda; Romi Adiansyah; Muhammad Ali
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14098

Abstract

ABSTRACT Student participation in Biology learning is reflected not only in attendance but also in their willingness to interact, express ideas, respond to peers, and take responsibility during group activities. The initial condition at SMA Negeri 9 Bone indicated that such engagement was still limited; therefore, the Excretory System topic was taught through group discussions reinforced by a peer tutoring approach. The study involved 49 students, comprising 26 students in the experimental class and 23 students in the control class, using a quasi-experimental pretest-posttest nonequivalent control group design. Active participation was observed before and after learning, and the data were analyzed using descriptive and inferential statistics. The change in scores showed a stronger pattern in the experimental group, with the mean increasing from 46.08 to 76.27, while the control group increased from 42.87 to 59.91. This shift was also reflected in the category distribution, as students in the experimental group moved from the moderate and low categories to the good and very good categories. The Independent Samples t-test produced a significance value of 0.001 < 0.05. These findings indicate that combining group discussion with peer tutoring significantly differentiated students’ active participation and created a more collaborative learning environment. ABSTRAK Partisipasi siswa dalam pembelajaran Biologi tidak hanya terlihat dari kehadiran, tetapi juga dari kesediaan mereka untuk berinteraksi, menyampaikan gagasan, merespons teman, dan mengambil tanggung jawab dalam kegiatan kelompok. Kondisi awal di SMA Negeri 9 Bone memperlihatkan bahwa keterlibatan tersebut masih terbatas, sehingga pembelajaran Sistem Ekskresi diterapkan melalui diskusi kelompok yang diperkuat dengan pendekatan tutor sebaya. Penelitian ini melibatkan 49 siswa, terdiri atas 26 siswa kelas eksperimen dan 23 siswa kelas kontrol, dengan rancangan quasi-experimental pretest-posttest nonequivalent control group design. Partisipasi aktif diamati sebelum dan sesudah pembelajaran, kemudian data dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Perubahan skor memperlihatkan pola yang lebih kuat pada kelompok eksperimen, dari rata-rata 46,08 menjadi 76,27, sementara kelompok kontrol bergerak dari 42,87 menjadi 59,91. Pergeseran tersebut juga tampak pada distribusi kategori, ketika siswa eksperimen berpindah dari kategori cukup dan kurang menjadi baik dan sangat baik. Pengujian Independent Samples t-test menghasilkan nilai signifikansi 0,001 < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perpaduan diskusi kelompok dan tutor sebaya memberikan perbedaan yang signifikan terhadap partisipasi aktif siswa serta membuka ruang interaksi belajar yang lebih kolaboratif.
PENGUATAN DIGITAL CITIZENSHIP SEBAGAI STRATEGI PREVENTIF TERHADAP KONTEN DIGITAL DESTRUKTIF PADA PESERTA DIDIK SMA Naswa Natania Safira; Tity Kusrina; Samidi Samidi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14137

Abstract

ABSTRACT The rapid advancement of digital technology has significantly expanded students' access to information while simultaneously increasing their exposure to destructive digital content, including fake news, cyberbullying, hate speech, and the misuse of social media. Although various digital literacy programs have been implemented in schools, most primarily emphasize technological proficiency, whereas the reinforcement of digital citizenship as a foundation for fostering ethical and responsible digital behavior has not yet been optimally integrated into educational practices. This study aims to analyze the strengthening of digital citizenship as a preventive strategy against destructive digital content among students at SMA Negeri 3 Tegal. A qualitative approach employing a case study design was adopted. Data were collected through observations, in-depth interviews, and documentation involving the principal, Civic Education (Pancasila and Civic Education/PPKn) teachers, school counselors, and students. Data were analyzed using an interactive model consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing, while data trustworthiness was ensured through source and technique triangulation. The findings reveal that strengthening digital citizenship through Civic Education learning, digital literacy activities, the cultivation of ethical online behavior, and collaboration between schools and parents effectively promotes students' critical, ethical, and responsible use of digital media. These findings demonstrate that strengthening digital citizenship serves as an effective preventive strategy for enhancing students' resilience to destructive digital content while fostering a safe, inclusive, and sustainable digital learning environment. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital telah memperluas akses peserta didik terhadap berbagai sumber informasi, namun pada saat yang sama meningkatkan paparan terhadap konten digital destruktif seperti hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, dan penyalahgunaan media sosial. Berbagai program literasi digital telah diterapkan di sekolah, tetapi sebagian besar masih berfokus pada penguasaan teknologi sehingga penguatan digital citizenship sebagai landasan pembentukan perilaku digital yang etis dan bertanggung jawab belum diimplementasikan secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis penguatan digital citizenship sebagai strategi preventif dalam menghadapi konten digital destruktif pada peserta didik SMA Negeri 3 Tegal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain case study. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), guru Bimbingan dan Konseling (BK), serta peserta didik. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan digital citizenship yang diintegrasikan melalui pembelajaran PPKn, pembiasaan literasi digital, penguatan etika bermedia, serta kolaborasi antara sekolah dan orang tua mampu membentuk perilaku digital yang lebih kritis, bertanggung jawab, dan beretika. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan digital citizenship merupakan strategi preventif yang efektif dalam meningkatkan ketahanan peserta didik terhadap berbagai bentuk konten digital destruktif sekaligus mendukung terciptanya budaya pembelajaran digital yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
HUBUNGAN PENULISAN JURNAL REFLEKTIF TERHADAP GROWTH MINDSET MURID PADA PEMBELAJARAN IPS Syahril Damar Leman; Toto Nusantara; Endah Budiati
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14201

Abstract

ABSTRACT Reflective journals can provide students with a space to revisit their learning experiences, particularly when difficulties are not perceived as evidence of limited ability but rather as part of an ongoing process of improvement. This study examines the relationship between the quality of reflective journal writing and growth mindset in social studies learning among 31 seventh-grade students in Class VII-A at SMP Negeri 25 Malang during the second semester of the 2025/2026 academic year. A quantitative approach with a correlational design was employed, with journal quality assessed using an analytic rubric and growth mindset measured through a 16-item questionnaire using a four-point Likert scale. Both instruments were subjected to validity and reliability testing before the data were analyzed using IBM SPSS Statistics version 25. The analysis included descriptive statistics, the Kolmogorov–Smirnov normality test, a linearity test, the Pearson Product Moment correlation, the coefficient of determination, and simple linear regression. The results revealed a positive and significant correlation between the two variables (r = 0.682; p = 0.000), with an R² of 46.5%. This indicates that variation in reflective journal scores was statistically associated with 46.5% of the variation in growth mindset, while the remaining variation fell outside the model. These findings suggest that the quality of written reflection is associated with how students perceive the development of their abilities and respond to learning experiences. ABSTRAK Jurnal reflektif dapat menjadi ruang bagi murid untuk membaca kembali pengalaman belajar, terutama ketika kesulitan tidak diperlakukan sebagai akhir dari kemampuan, melainkan sebagai bagian dari proses perbaikan. Penelitian ini menelaah keterkaitan kualitas penulisan jurnal reflektif dengan growth mindset dalam pembelajaran IPS pada 31 murid kelas VII-A SMP Negeri 25 Malang selama semester genap Tahun Ajaran 2025/2026. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui desain korelasional, dengan kualitas jurnal diukur menggunakan rubrik analitik dan growth mindset dihimpun melalui angket 16 pernyataan berskala Likert empat poin. Kedua instrumen terlebih dahulu melalui pengujian validitas dan reliabilitas sebelum data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25. Pembacaan data mencakup statistik deskriptif, uji Kolmogorov–Smirnov, uji linearitas, korelasi Pearson Product Moment, koefisien determinasi, serta regresi linear sederhana. Hasil analisis memperlihatkan korelasi positif dan signifikan antara kedua variabel (r = 0,682; p = 0,000), dengan R² sebesar 46,5%. Artinya, variasi skor jurnal reflektif berkaitan secara statistik dengan 46,5% variasi growth mindset, sementara bagian lainnya berada di luar model. Temuan ini memperlihatkan bahwa kualitas refleksi tertulis berasosiasi dengan cara murid memandang perkembangan kemampuan dan merespons pengalaman belajar.
PENERAPAN NILAI-NILAI QUANTUM LEARNING THEORY DI SMK PAWYATAN DAHA 1 KEDIRI Rara Deisyawa Dzahabiyya; Ruri Nurul Aeni Wulandari
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14298

Abstract

The implementation of quantum learning in vocational education has the potential to create active, contextual, and meaningful learning experiences that are relevant to students’ future work needs. However, its implementation at SMK Pawyatan Daha 1 Kediri has not been fully consistent, requiring further examination of the values that emerge and the factors that influence its implementation. This study aims to analyze the implementation of quantum learning through the TANDUR framework, identify the values emerging during the learning process, and analyze the factors that hinder its implementation. This study employed a qualitative case study approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving teachers, students, and the vice principal for curriculum. The data were analyzed thematically with the assistance of NVivo 12 software based on the TANDUR framework. The findings indicate that the implementation of quantum learning covered the Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, and Rayakan stages, although these stages were not implemented consistently by all teachers. The values that emerged included learning motivation and interest, active participation, confidence, knowledge acquisition, memory retention, critical thinking, skills, communication, collaboration, responsibility, and independence. The main barriers were related to student characteristics and the students’ social environment, which influenced their readiness, discipline, and engagement in learning. These findings indicate that the implementation of quantum learning depends not only on the completeness of the TANDUR stages but also on student characteristics and a supportive social environment. ABSTRAK Penerapan quantum learning dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki potensi untuk menciptakan pengalaman belajar yang aktif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Namun, penerapannya di SMK Pawyatan Daha 1 Kediri belum sepenuhnya berlangsung secara konsisten, sehingga perlu dikaji nilai-nilai yang muncul serta faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan quantum learning melalui kerangka TANDUR, mengidentifikasi nilai-nilai yang muncul dalam proses pembelajaran, dan menganalisis faktor yang menghambat penerapannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan informan yang terdiri atas guru, siswa, dan waka kurikulum. Data dianalisis secara tematik dengan bantuan software NVivo 12 berdasarkan kerangka TANDUR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan quantum learning melalui TANDUR telah mencakup tahapan Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan, tetapi belum diterapkan secara konsisten oleh seluruh guru. Nilai yang muncul meliputi motivasi dan minat belajar, keaktifan, keberanian, pengetahuan, retensi memori, berpikir kritis, keterampilan, komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab, dan kemandirian. Faktor penghambat terutama berasal dari karakter siswa dan lingkungan sosial siswa yang memengaruhi kesiapan, kedisiplinan, dan keterlibatan dalam pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan quantum learning tidak hanya bergantung pada kelengkapan tahapan TANDUR, melainkan pada kondisi siswa dan lingkungan sosial yang mendukung proses pembelajaran.
PENGARUH AUDIOVISUAL BERBASIS YOUTUBE TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS PIDATO SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 10 SUNGAI KAKAP Intan Larasati; Indriyana Uli; Muhammad Zikri Wiguna
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14353

Abstract

The ability to write speech texts remains a significant challenge for students, particularly in developing ideas, structuring speeches, and applying proper linguistic rules. This study aims to determine the effect of YouTube-based audiovisual media on the environmental speech text writing skills of eighth-grade students at SMP Negeri 10 Sungai Kakap. A quantitative approach with a pre-experimental method and a one-group pretest-posttest design was employed. The sample consisted of 31 students selected using a purposive sampling technique. Data were collected through writing tests administered before and after the treatment, then analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed that the average student score increased from 44.68 in the pretest to 81.55 in the posttest. Hypothesis testing yielded an Asymp. Sig. (2-tailed) value of < 0.001, which is smaller than the 0.05 significance level, thus rejecting  and accepting . These findings prove that YouTube-based audiovisual media significantly improves students' environmental speech text writing skills. Therefore, YouTube-based audiovisual media can serve as an effective alternative learning medium in Indonesian language instruction, particularly for speech writing. ABSTRAK Kemampuan menulis teks pidato masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi siswa, terutama dalam mengembangkan gagasan, menyusun struktur pidato, dan menggunakan kaidah kebahasaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media audiovisual berbasis YouTube terhadap keterampilan menulis teks pidato lingkungan siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Sungai Kakap. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental dan desain one-group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 31 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes menulis sebelum dan sesudah perlakuan, kemudian dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa meningkat dari 44,68 pada pretest menjadi 81,55 pada posttest. Hasil pengujian hipotesis memperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) < 0,001 yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05, sehingga  ditolak dan  diterima. Temuan tersebut membuktikan bahwa media audiovisual berbasis YouTube berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keterampilan menulis teks pidato lingkungan siswa. Oleh karena itu, media audiovisual berbasis YouTube dapat dijadikan salah satu alternatif media pembelajaran Bahasa Indonesia yang efektif, khususnya pada materi menulis teks pidato.