cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 562 Documents
PERAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DALAM MEMBENTUK SIKAP KOMUNIKATIF PESERTA DIDIK (STUDI DESKRIPTIF PADA KELAS VII C DI MTSN 1 PANDEGLANG) Nayla Zulvia Rachma; Ria Yuni Lestari; Qotrun Nida
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14470

Abstract

Pancasila Education learning plays an important role in shaping students' communicative attitudes as part of strengthening character and citizenship competency. However, in its implementation, students are still found to lack confidence in expressing opinions, have not been able to build arguments appropriately, and do not respect the opinions of others in the learning process. This study, conducted from January to March 2026, aims to describe the role of Pancasila Education learning in shaping the communicative attitudes of class VII C students at MTsN 1 Pandeglang using the perspective of Jürgen Habermas's communicative action theory. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data were then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana model which includes data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that Pancasila Education learning through the debate method plays a role in shaping students' communicative attitudes through a dialogue process that provides opportunities for students to express opinions, build arguments, listen, respect the views of others, and justify their opinions rationally. Based on Habermas's communicative action perspective, the learning process encourages the creation of communication that is oriented towards mutual understanding, so that students' communicative attitudes develop through aspects of clarity, accuracy, honesty, listening skills, respect for other people's opinions, courage to speak, and responsibility in communicating. ABSTRAK Pembelajaran Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk sikap komunikatif peserta didik sebagai bagian dari penguatan karakter dan kompetensi kewarganegaraan. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan peserta didik yang kurang percaya diri menyampaikan pendapat, belum mampu membangun argumentasi secara tepat, serta kurang menghargai pendapat orang lain dalam proses pembelajaran. Penelitian yang dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2026 ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran pembelajaran Pendidikan Pancasila dalam membentuk sikap komunikatif peserta didik kelas VII C di MTsN 1 Pandeglang dengan menggunakan perspektif teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Data kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui metode debat berperan dalam membentuk sikap komunikatif peserta didik melalui proses dialog yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat, membangun argumentasi, mendengarkan, menghargai pandangan orang lain, serta mempertanggungjawabkan pendapatnya secara rasional. Berdasarkan perspektif tindakan komunikatif Habermas, proses pembelajaran tersebut mendorong terciptanya komunikasi yang berorientasi pada saling memahami (mutual understanding), sehingga sikap komunikatif peserta didik berkembang melalui aspek kejelasan, ketepatan, kejujuran, kemampuan mendengarkan, penghargaan terhadap pendapat orang lain, keberanian berbicara, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi.    
PENGEMBANGAN ALAT EVALUASI PEMBELAJARAN BERBASIS GAME ZEP QUIZ PADA PEMBELAJARAN PERBANKAN DASAR SISWA KELAS X PROGRAM KEAHLIAN AKUNTANSI DI SMKN 10 SURABAYA Okta Lia Vivia Amanda; Vivi Pratiwi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14471

Abstract

Evaluation of basic banking learning in vocational high schools is still dominated by paper-based conventional methods that tend to be passive, underutilizing technology infrastructure and often triggering stress among students. Therefore, an interactive and engaging digital evaluation tool is urgently needed to improve assessment efficiency and student engagement. This study aims to describe the development process, analyze the feasibility level, and determine students' responses to the Zep Quiz game-based learning evaluation tool in Basic Banking learning. This study uses a research and development (R&D) method with the ADDIE model covering the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The subjects consisted of evaluation experts, graphic experts, 10 students of class X AKL 3 in limited testing, and 30 students of class X AKL 1 in the implementation stage at SMK Negeri 10 Surabaya. The evaluation tool covers 4 main topics: banking development in Indonesia, types of banks, bank business activities, and bank deposit products. The results showed that the feasibility level based on the evaluation expert reached 92% and graphic expert reached 98%, with an overall average in the very feasible category. Students' responses to the evaluation tool obtained an average percentage of 97% in the very good category. It is concluded that the Zep Quiz game-based learning evaluation tool is declared highly feasible and effective for evaluation in Basic Banking learning in vocational high schools. ABSTRAK Evaluasi pembelajaran perbankan dasar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga saat ini masih didominasi oleh metode konvensional berbasis kertas yang cenderung pasif, sehingga belum memanfaatkan infrastruktur teknologi secara optimal dan sering memicu ketegangan pada peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan inovasi alat evaluasi digital yang interaktif dan menyenangkan guna meningkatkan efisiensi penilaian serta keterlibatan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan, menganalisis tingkat kelayakan, serta mengetahui respons peserta didik terhadap alat evaluasi pembelajaran berbasis game Zep Quiz pada pembelajaran Perbankan Dasar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) dengan model ADDIE yang meliputi tahapan analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Subjek penelitian terdiri atas ahli evaluasi, ahli grafis, 10 peserta didik kelas X AKL 3 pada uji coba terbatas, dan 30 peserta didik kelas X AKL 1 pada tahap implementasi di SMK Negeri 10 Surabaya. Alat evaluasi memuat 4 materi pokok, yaitu perkembangan perbankan di Indonesia, jenis-jenis bank di Indonesia, kegiatan usaha bank, dan produk simpanan bank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelayakan berdasarkan penilaian ahli evaluasi mencapai 92% dan ahli grafis mencapai 98%, dengan rata-rata keseluruhan berada pada kategori sangat layak. Respons peserta didik terhadap penggunaan alat evaluasi memperoleh rata-rata persentase sebesar 97% dengan kategori sangat baik. Disimpulkan bahwa alat evaluasi pembelajaran berbasis game Zep Quiz dinyatakan sangat layak dan efektif digunakan sebagai instrumen evaluasi pada pembelajaran Perbankan Dasar di SMK.    
PENGARUH INPUT DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP KOMPETENSI AKUNTANSI SISWA KELAS XI AKUNTANSI SMKN 1 PANGKEP DENGAN MODEL ASTIN I-E-O Rachmat Hidayat Burhanuddin; Samsinar Samsinar; Asmar Asmar
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14473

Abstract

Optimizing the accounting competencies of vocational high school students faces serious challenges due to individual student differences and an unsupportive learning environment at school. This study aims to examine the partial and simultaneous effects of learning inputs and the learning environment on the accounting competencies of 11th-grade accounting students at SMKN 1 Pangkep using Astin’s I-E-O (Inputs-Environment-Outcomes) Model. This study employed an ex post facto design with a quantitative approach. The population consisted of 104 students, with a sample of 83 students selected via proportionate stratified random sampling. Data were collected through questionnaires and official school academic records, followed by descriptive statistics, instrument testing, classical assumption tests, and multiple linear regression analysis. The results indicate that learning inputs and the learning environment simultaneously have a positive and statistically significant effect on students' accounting competencies. Partially, the input variable has a positive and significant effect, serving as the dominant contributor to student competency. The learning environment variable also demonstrates a statistically significant positive partial effect. Together, these two variables contribute substantially to accounting competencies, while the remainder is influenced by factors outside the scope of this study. The main conclusion confirms that enhancing students' accounting competencies in both hard skills and soft skills requires synergizing high-quality individual student inputs with a conducive school learning environment. ABSTRAK Pengoptimalan kompetensi akuntansi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menghadapi tantangan serius akibat keragaman karakteristik individu peserta didik dan kondisi lingkungan belajar yang kurang mendukung di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh input dan lingkungan belajar terhadap kompetensi akuntansi siswa kelas XI Akuntansi SMKN 1 Pangkep secara parsial maupun simultan menggunakan kerangka analisis Model Astin I-E-O (Inputs-Environment-Outcomes). Metode penelitian yang digunakan adalah ex post facto dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian melibatkan populasi sebanyak 104 siswa, dengan sampel 83 siswa yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner terstruktur dan dokumentasi nilai murni rapor resmi sekolah, dilanjutkan dengan analisis data mencakup statistik deskriptif, uji instrumen, uji asumsi klasik, serta uji hipotesis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa input dan lingkungan belajar secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi akuntansi siswa. Secara parsial, variabel input terbukti berpengaruh positif dan signifikan serta memberikan kontribusi dominan dalam menjelaskan variansi kompetensi siswa. Variabel lingkungan belajar juga berpengaruh positif dan signifikan secara parsial dengan kontribusi yang nyata terhadap capaian pembelajaran. Sinergi kedua faktor tersebut memberikan kontribusi pengaruh yang dominan terhadap kompetensi akuntansi siswa, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar model penelitian. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kompetensi akuntansi siswa, baik dari aspek hard skill maupun soft skill, secara nyata ditentukan oleh kesiapan kualitas input individu siswa yang disinergikan dengan penciptaan lingkungan belajar yang kondusif.    
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PENDEKATAN DIFERENSIASI PADA MATERI FLUIDA STATIS UNTUK TINGKAT SMA/MA Muhammad Luthfi; Zahriah Zahriah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14510

Abstract

ABSTRACT The need for teaching materials that can respond to differences in students’ readiness, interests, and learning profiles provided the basis for developing a Physics module on Static Fluids. The developed product was designed to offer teaching material aligned with the Merdeka Curriculum while providing opportunities to implement differentiated learning at the senior high school level. The development process employed Research and Development (R&D) using the 4D model, which was implemented through the Development stage. The Define stage was used to map learning needs as well as the characteristics of the subject matter and students, while the Design stage translated these findings into a module, worksheets (LKPD), learning activities, and assessments. The product was subsequently refined through validation by material experts, learning-device experts, and media experts. The feasibility assessment yielded percentages of 92.13% from material experts, 95.37% from learning-device experts, and 83.33% from media experts, all of which were categorized as highly feasible. These results position the module as an alternative teaching material that meets feasibility criteria in terms of content, supporting learning components, and presentation for Static Fluids instruction. Its use in actual classroom settings still requires further investigation through practicality and effectiveness testing to obtain empirical evidence regarding its contribution to students’ learning experiences and outcomes. ABSTRAK Kebutuhan akan bahan ajar yang mampu merespons perbedaan kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik menjadi dasar pengembangan modul Fisika pada materi Fluida Statis. Produk yang dikembangkan diarahkan untuk menghadirkan bahan ajar yang selaras dengan Kurikulum Merdeka sekaligus memberi ruang bagi penerapan pembelajaran berdiferensiasi di jenjang SMA/MA. Proses pengembangan menggunakan Research and Development (R&D) dengan model 4D yang dilaksanakan sampai tahap Development. Tahap Define digunakan untuk memetakan kebutuhan pembelajaran dan karakteristik materi serta peserta didik, sedangkan Design menerjemahkan temuan tersebut ke dalam modul, LKPD, aktivitas pembelajaran, dan asesmen. Produk kemudian disempurnakan melalui validasi ahli materi, ahli perangkat pembelajaran, dan ahli media. Penilaian kelayakan menghasilkan persentase 92,13% dari ahli materi, 95,37% dari ahli perangkat pembelajaran, dan 83,33% dari ahli media, yang seluruhnya termasuk kategori sangat layak. Capaian tersebut menempatkan modul sebagai alternatif bahan ajar yang secara substansi, perangkat pendukung, dan penyajiannya telah memenuhi kriteria kelayakan untuk pembelajaran Fluida Statis. Penggunaan produk pada pembelajaran nyata masih memerlukan pengujian lebih lanjut melalui uji kepraktisan dan efektivitas untuk memperoleh bukti mengenai manfaatnya terhadap pengalaman dan capaian belajar peserta didik.
PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS X SMA Yohanes Silvester Ratu Sogen
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14598

Abstract

Learning motivation is an important factor in successful learning, yet some students remain less active, persistent, and enthusiastic because learning activities are not always connected to real-life contexts. Contextual Teaching and Learning (CTL) can be an alternative strategy because it connects learning materials with students’ experiences, making learning more meaningful. This study aims to examine the implementation of the contextual learning strategy in enhancing the learning motivation of tenth-grade students at St. Darius High School during the 2025/2026 academic year. This study employed a qualitative approach with a descriptive qualitative design. The subjects were four teachers who taught tenth-grade classes. Data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed through data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings indicate that the contextual learning strategy was implemented through the seven main components of CTL: constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, and authentic assessment. Its implementation showed an increase in student learning motivation, as reflected in greater engagement, persistence in completing assignments, interest in learning, and enthusiasm during the learning process. Supporting factors included teacher competence, active student participation, and a conducive learning environment, while inhibiting factors included differences in students’ abilities and limited instructional time. These findings indicate that CTL can serve as an alternative strategy for creating more meaningful learning experiences and enhancing student motivation. ABSTRAK Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran, tetapi masih terdapat siswa yang kurang aktif, tekun, dan antusias karena pembelajaran belum sepenuhnya dikaitkan dengan kehidupan nyata. Strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat menjadi alternatif karena menghubungkan materi dengan pengalaman siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan strategi pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X SMA St. Darius Tahun Pelajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas empat guru yang mengajar kelas X. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kontekstual telah diterapkan melalui tujuh komponen utama CTL, yaitu konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Penerapannya menunjukkan peningkatan motivasi belajar siswa yang ditandai dengan meningkatnya keaktifan, ketekunan menyelesaikan tugas, minat, dan antusiasme dalam pembelajaran. Faktor pendukung meliputi kompetensi guru, partisipasi aktif siswa, dan lingkungan belajar yang kondusif, sedangkan faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan siswa dan keterbatasan waktu pembelajaran. Temuan ini menunjukkan bahwa CTL dapat menjadi alternatif strategi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
IMPLEMENTASI BIMBINGAN KLASIKAL BERBASIS TRI KAYA PARISUDHA UNTUK MENINGKATKAN REGULASI EMOSI SISWA KELAS VII SMP Ni Kadek Devi Kesuma Pratiwi; Ni Wayan Suastini
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14603

Abstract

ABSTRACT Emotional regulation is an important aspect of student development, particularly among seventh-grade students who are experiencing a transition into a secondary school environment. The results of the Student Needs Assessment (Asesmen Kebutuhan Peserta Didik or AKPD) at SMP Negeri 8 Denpasar indicated that some students still required support in recognizing, controlling, and expressing emotions adaptively when faced with situations that did not meet their expectations. This study aimed to improve students’ emotional regulation through classical guidance services based on the values of Tri Kaya Parisudha. The study employed Guidance and Counseling Action Research (Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling or PTBK), conducted in three cycles consisting of planning, implementation, observation, and reflection stages, with the integration of the values of Manacika, Wacika, and Kayika. The participants were 40 seventh-grade students from class VII H at SMP Negeri 8 Denpasar. Data were collected using an emotional regulation questionnaire administered during the pretest and posttest stages and were analyzed using descriptive statistics by comparing the mean scores before and after the intervention. The results showed that the mean emotional regulation score increased from 77.00 in the pretest to 93.50 in the posttest, representing an increase of 16.50 points. This increase indicates an improvement in students’ emotional regulation after participating in the series of classical guidance services based on Tri Kaya Parisudha. Therefore, this local wisdom-based approach has the potential to serve as a contextual alternative in guidance and counseling services to support students’ social and emotional development. ABSTRAK Regulasi emosi menjadi aspek penting dalam perkembangan peserta didik kelas VII yang sedang menghadapi masa transisi menuju lingkungan sekolah menengah. Hasil Asesmen Kebutuhan Peserta Didik (AKPD) di SMP Negeri 8 Denpasar menunjukkan bahwa sebagian peserta didik masih membutuhkan penguatan dalam mengenali, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi secara adaptif ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan. Penelitian ini bertujuan meningkatkan regulasi emosi peserta didik melalui layanan bimbingan klasikal berbasis nilai Tri Kaya Parisudha. Penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi, dengan pengintegrasian nilai Manacika, Wacika, dan Kayika. Subjek penelitian terdiri atas 40 peserta didik kelas VII H SMP Negeri 8 Denpasar. Data dikumpulkan melalui angket regulasi emosi pada tahap pretest dan posttest, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif dengan membandingkan skor rata-rata sebelum dan setelah tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata regulasi emosi meningkat dari 77,00 pada pretest menjadi 93,50 pada posttest, atau bertambah sebesar 16,50 poin. Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perkembangan regulasi emosi setelah peserta didik mengikuti rangkaian layanan bimbingan klasikal berbasis Tri Kaya Parisudha. Dengan demikian, pendekatan berbasis kearifan lokal ini berpotensi menjadi alternatif layanan Bimbingan dan Konseling yang kontekstual dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional peserta didik.
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN SELF EFFICACY TERHADAP PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA MPLB SMK Sofia Rahmawati; Ruri Nurul Aeni Wulandari
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14693

Abstract

Academic procrastination is an important issue in learning because the tendency to delay academic tasks can disrupt students’ learning routines, academic achievement, and competency development, particularly in vocational education, which requires discipline and responsibility in completing both academic and practical tasks. This condition highlights the importance of identifying internal factors that may help reduce students’ tendency to procrastinate. This study aimed to examine the effects of learning motivation and self-efficacy on students’ academic procrastination. A quantitative approach with an explanatory research design was employed. The study was conducted at SMK Ma’arif NU Driyorejo and involved tenth-grade students in the Office Management and Business Services program. Data were collected using a closed-ended Likert-scale questionnaire that had undergone instrument testing. The data were analyzed using multiple linear regression to examine the partial and simultaneous effects of the independent variables on academic procrastination. The results showed that learning motivation and self-efficacy had significant negative effects on academic procrastination, both partially and simultaneously. These findings indicate that higher levels of learning motivation and self-efficacy are associated with a lower tendency to postpone academic tasks. The study confirms that strengthening learning motivation and self-efficacy is important for reducing academic procrastination among vocational high school students. Therefore, teachers are encouraged to implement interactive learning strategies, provide positive reinforcement, and create learning experiences that strengthen students’ motivation and confidence in their ability to complete academic tasks. ABSTRAK Prokrastinasi akademik merupakan salah satu permasalahan penting dalam pembelajaran karena kebiasaan menunda penyelesaian tugas dapat menghambat keteraturan belajar, pencapaian hasil belajar, dan pengembangan kompetensi siswa, khususnya pada pendidikan vokasi yang menuntut kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas akademik maupun praktik. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengidentifikasi faktor internal yang dapat berperan dalam menekan kecenderungan prokrastinasi akademik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh motivasi belajar dan self-efficacy terhadap prokrastinasi akademik siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Penelitian dilaksanakan di SMK Ma’arif NU Driyorejo dengan subjek siswa kelas X Program Keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan instrumen angket tertutup berskala Likert yang telah melalui pengujian instrumen. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk menguji pengaruh parsial dan simultan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar dan self-efficacy secara parsial maupun simultan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap prokrastinasi akademik siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi belajar dan self-efficacy siswa, semakin rendah kecenderungan melakukan penundaan terhadap tugas akademik. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan motivasi belajar dan self-efficacy merupakan aspek penting dalam upaya menekan prokrastinasi akademik siswa. Oleh karena itu, guru perlu mengembangkan pembelajaran yang interaktif, memberikan penguatan positif, serta menciptakan pengalaman belajar yang dapat meningkatkan motivasi dan keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tugas akademik.
PENGARUH SOFT SKILL DAN PENGALAMAN MAGANG TERHADAP KESIAPAN KERJA SISWA MANAJEMEN PERKANTORAN DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL INTERVENING Isna Izzatul Afifah; Triesninda Pahlevi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14723

Abstract

This study was motivated by the low level of work readiness among vocational high school graduates, as reflected in high unemployment rates and the mismatch between graduates’ competencies and the demands of the business and industrial sectors. This study aims to examine the effects of soft skills and internship experience on work readiness, with work motivation serving as an intervening variable, among students in the Office Management and Business Services program at SMK Krian 2 Sidoarjo. A quantitative approach with an ex-post facto design was employed. The participants comprised 108 twelfth-grade students in the Office Management and Business Services program at SMK Krian 2 Sidoarjo, selected using purposive sampling. Data were collected through a Likert-scale questionnaire that had been tested for validity and reliability. The data were analyzed using path analysis with IBM SPSS Statistics, while the Sobel test was employed to examine the mediating effects. The results indicate that soft skills and internship experience have a positive and significant effect on work readiness. Both variables also have a positive and significant effect on work motivation. Furthermore, work motivation has a positive and significant effect on work readiness and partially mediates the effects of soft skills and internship experience on students’ work readiness. These findings suggest that strengthening students’ soft skills, providing meaningful internship experiences, and fostering work motivation simultaneously can contribute to improving their readiness to enter the workforce. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kesiapan kerja lulusan sekolah menengah kejuruan yang tercermin dari tingginya angka pengangguran serta adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh soft skills dan pengalaman praktik kerja lapangan terhadap kesiapan kerja dengan motivasi kerja sebagai variabel intervening pada siswa Program Keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis di SMK Krian 2 Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex-post facto. Subjek penelitian terdiri atas 108 siswa kelas XII Program Keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis di SMK Krian 2 Sidoarjo yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui angket berskala Likert yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan IBM SPSS Statistics, sedangkan uji Sobel digunakan untuk menguji efek mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soft skills dan pengalaman praktik kerja lapangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja. Kedua variabel tersebut juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja. Selanjutnya, motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja serta secara parsial memediasi pengaruh soft skills dan pengalaman praktik kerja lapangan terhadap kesiapan kerja siswa. Dengan demikian, penguatan soft skills, penyelenggaraan pengalaman praktik kerja lapangan yang berkualitas, dan peningkatan motivasi kerja secara terpadu dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesiapan siswa untuk memasuki dunia kerja.
IMPLEMENTASI PEMBIASAAN IBADAH SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS SISWA DI SMP NEGERI 17 BALIKPAPAN Alimuddin Alimuddin; Ika Maryani; Achadi Budi Santosa
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14799

Abstract

ABSTRACT The decline in moral conduct and the emergence of undisciplined behavior among adolescents have led schools to seek educational experiences that extend beyond the transmission of values and become embedded in students’ daily practices. Within this context, this study examines religious worship habituation at SMP Negeri 17 Balikpapan and its relationship with the development of students’ religious character. This study employed a qualitative approach through field research conducted over a six-month period, from January to June 2026, involving informants consisting of the principal, Islamic Religious Education (PAI) teachers, students, and parents. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and their trustworthiness was ensured through source triangulation, member checking, and an audit trail. The analysis proceeded through data collection, condensation, presentation, and thematic conclusion drawing and verification. Students’ religious experiences were cultivated through Qur’an recitation, collective prayer, Duha prayer, congregational Zuhur prayer, and regular religious activities held every Friday. These practices were reinforced through teachers’ exemplary conduct, habituation, guidance, and supervision, alongside parental support within the family environment. The identified changes included greater regularity in worship, discipline, politeness, responsibility, and respect for teachers and parents. Thus, religious worship habituation functions as a space for character education when school programs, exemplary practices, and family support operate in a mutually reinforcing manner. ABSTRAK Persoalan penurunan kualitas akhlak dan munculnya perilaku kurang disiplin pada remaja menempatkan sekolah pada kebutuhan untuk membangun pengalaman pendidikan yang tidak berhenti pada penyampaian nilai, tetapi hadir dalam kebiasaan sehari-hari. Dalam konteks tersebut, penelitian ini menelaah pembiasaan ibadah di SMP Negeri 17 Balikpapan serta keterkaitannya dengan pembentukan karakter religius siswa. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui penelitian lapangan (field research) yang dilaksanakan selama enam bulan, yaitu dari Januari hingga Juni 2026, dengan melibatkan informan yang terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, siswa, dan orang tua siswa. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian diperiksa melalui triangulasi sumber, member checking, dan audit trail. Proses analisis berlangsung melalui pengumpulan data, kondensasi, penyajian, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan secara tematik. Kehidupan religius siswa dibentuk melalui tadarus Al-Qur'an, doa bersama, salat duha, salat zuhur berjamaah, dan kegiatan keagamaan rutin pada hari Jumat. Proses tersebut memperoleh penguatan dari keteladanan, pembiasaan, nasihat, dan pengawasan guru, serta dukungan orang tua di lingkungan keluarga. Perubahan yang teridentifikasi mencakup keteraturan beribadah, kedisiplinan, kesopanan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada guru serta orang tua. Pembiasaan ibadah, dengan demikian, berfungsi sebagai ruang pendidikan karakter ketika program sekolah, praktik keteladanan, dan dukungan keluarga bergerak secara saling melengkapi.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMP DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERINTEGRASI PENDEKATAN SETS PADA MATERI STATISTIKA Dinda Khusnul Khotimah; Luluk Faridah; Abdur Rohim
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14800

Abstract

ABSTRACT Mathematical problem-solving ability is an essential competency that needs to be developed in mathematics education, particularly in statistics, where students are required to understand data, determine appropriate solution strategies, perform calculations, and interpret results within real-life contexts. However, this ability has not developed equally among students with different levels of mathematical competence. This study aimed to describe the mathematical problem-solving ability of eighth-grade students at SMP NU Simo through Problem-Based Learning (PBL) integrated with the Science, Environment, Technology, and Society (SETS) approach in statistics learning. This study employed a descriptive qualitative approach involving six students purposively selected based on pre-test results to represent high-, medium-, and low-ability categories. Data were collected through SETS-contextualized essay tests and interviews, then analyzed using Polya’s four stages of problem solving through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that high-ability students were able to complete all four stages systematically and independently, while medium-ability students successfully completed the first three stages but were not yet consistent in reviewing their solutions. In contrast, low-ability students experienced difficulties beginning at the problem-understanding stage and required scaffolding during the solution process. The integration of PBL and SETS provided more meaningful statistical learning contexts and revealed distinct characteristics of mathematical problem solving across different levels of student ability. ABSTRAK Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi statistika yang menuntut siswa memahami data, menentukan strategi penyelesaian, melakukan perhitungan, dan menafsirkan hasil dalam konteks nyata. Namun, kemampuan tersebut belum berkembang secara merata pada siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VIII SMP NU Simo dalam pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang diintegrasikan dengan pendekatan Science, Environment, Technology, and Society (SETS) pada materi statistika. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan enam siswa yang dipilih secara purposive berdasarkan hasil pre-test untuk mewakili kategori kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui tes uraian berbasis konteks SETS dan wawancara, kemudian dianalisis berdasarkan empat tahap pemecahan masalah Polya melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi mampu memenuhi keempat tahap secara sistematis dan mandiri, siswa berkemampuan sedang mampu melalui tiga tahap awal tetapi belum konsisten dalam meninjau kembali hasil, sedangkan siswa berkemampuan rendah mengalami hambatan sejak memahami masalah dan memerlukan scaffolding dalam penyelesaian. PBL-SETS menghadirkan konteks statistika yang lebih bermakna dan memperlihatkan karakteristik pemecahan masalah yang berbeda pada setiap tingkat kemampuan siswa.