cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 352 Documents
KAJIAN TINGKAT KECELAKAAN FATAL, PENCEGAHAN DAN MITIGASI KECELAKAAN KAPAL-KAPAL PENANGKAP IKAN YANG BERBASIS OPERASI DI PPP TEGALSARI, PPN PEKALONGAN DAN PPS CILACAP Djodjo Suwardjo; John Haluan; Indra Jaya; Soen'an H. Poernomo
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.877 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.61-72

Abstract

Kinerja keselamatan armada kapal-kapal penangkap ikan ditunjukkan dengan tingkat kecelakaan fatal kapal penangkap ikan dan posisi risiko kecelakaan armada kapal penangkap apakah berada pada posisi yang unacceptable risk, intermediate risk atau acceptable risk. Tingkat Kecelakaan Fatal armada kapal di PPP Tegalsari, PPN Pekalongan dan PPS Cilacap menunjukkan angka 115 orang meninggal per 100.000 awak kapal pertahun dan masih lebih tinggi bila dibanding tingkat kecelakaan fatal kapal penangkap ikan tingkat dunia, yakni 80 orang meninggal/100.000 awak kapal. Posisi risiko kecelakaan berada pada posisi yang unacceptable risk artinya perlu upaya penurunan risiko kecelakaan dalam kurun waktu satu tahun. Diperlukan upaya pencegahan dan mitigasi untuk menurunkan risiko kecelakaan melalui berbagai hal, yaklni: (1) pelatihan kompetensi keselamatan dan pelayaran bagi para nakhoda dan ABK, (2) peningkatan safety awareness bagi pemilik kapal, Syahbandar pelabuhan perikanan, pengawas kapal perikanan, penyuluh perikanan tangkap, pengajar pada lembaga pendidikan dan pelatihan perikanan, pemuka masyarakat nelayan dan keluarga nelayan, penegakan hukum atas keselamatan kapal perikanan, (3) asuransi awak kapal, (4) membangun standar pendidikan dan pelatihan dan sertifikasi pelaut perikanan, standar kapal penangkap ikan, standar pengawakan dan membangun sistem ketenagakerjaan pada kapal penangkap ikan
RANCANG BANGUN PEREKAM DATA KELEMBABAN RELATIF DAN SUHU UDARA BERBASIS MIKROKONTROLER Acta Withamana; Indra Jaya; Ayi Rachmat
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.356 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.73-79

Abstract

Kelembaban relatif (RH) dan suhu udara merupakan salah satu parameter yang penting dalam pengukuran meteorologi. Pengukuran kedua parameter secara kontinyu diperlukan dalam bidang perikanan dan kelautan. Sebuah perekam data untuk keperluan ini perlu dikembangkan. Perekam data disusun atas mikrokontroler ATmega32 dengan clock 8Mhz, Real-time clock (RTC) DS1307, Sensor kelembaban relatif dan suhu udara Sensirion SHT11, soket SD card, Low-dropout (LDO) Linear Regulator LP2950 dan AIC1734. Selain itu dibutuhkan LED dan beberapa komponen pasif seperti resistor serta kapasitor. Perangkat lunak atau biasa disebut firmware pada alat perekam data ini ditulis dengan menggunakan bahasa BASIC. Program yang digunakan adalah BASCOM-AVR versi 1.11.9.0. Hasil uji coba skala lapangan menunjukan selisih terbesar RH sebesar -20,4% dan suhu udara sebesar 7,3ºC yang disebabkan oleh masuknya kontaminan dan desain PCB dan casing yang tidak melepas panas dengan baik
INDIKATOR KINERJA KUNCI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP TUNA TERPADU DI SULAWESI UTARA Rine Kaunang; Daniel R. Monintja; Victor P.H Nikijuluw; John Haluan
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.558 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.81-92

Abstract

Indikator Kinerja Kunci (IKK) adalah indikator yang digunakan untuk melaporkan kemajuan yang diidentifikasi sebagai faktor penting untuk keberhasilan suatu organisasi yang di lihat dari tujuan dan sasaran. IKK juga dapat berfungsi sebagai alat untuk mengubah, memberikan masukan ke dalam proses manajemen yang akan membantu pembangunan yang mengakibatkan peningkatan kinerja dalam sebuah lingkungan progresif. IKK yang dipilih harus mencerminkan tujuan organisasi, menjadi kunci untuk keberhasilan dan dapat diukur. Indikator kinerja kunci dipakai dalam pertimbangan jangka panjang untuk sebuah organisasi. Secara umum, penelitian ini dilakukan untuk menentukan indikator kinerja kunci dalam mengembangkan penangkapan ikan tuna di Sulawesi Utara dan untuk mendapatkan pengukuran yang jelas serta memberikan informasi bagi pemerintah dalam membuat peraturan. Penelitian ini didasarkan pada Focus Group Discussion (FGD) dengan metode pendekatan kualitatif. Indikator kinerja kunci (IKK) terdiri dari indikator ekonomi, keuangan sosial, ekologis dan dimensi pemerintah, baik di tingkat nasional atau di sektor perikanan. IKK di tingkat perusahaan terdiri dari masukan, keluaran, dampak dan proses.
PENGKAJIAN INVESTASI UNIT PENANGKAPAN DALAM UPAYA PEMANFAATAN SUMBERDAYA UDANG PENAEID SECARA BERKELANJUTAN DI PERAIRAN CIREBON UTARA, JAWA BARAT Dinarwan Dinarwan; Daniel R. Monintja; Akhmad Fauzi; Ernani Lubis
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 1 (2010): MARET 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.394 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.93-104

Abstract

Hasil penelitian sebelumnya perihal optimalisasi pengelolaan perikanan tangkap jaring udang di perairan sekitar Cirebon utara Jawa Barat menunjukkan bahwa kuantitas unit penangkapan jaring udang di wilayah perairan Kabupaten Cirebon masih dapat dikembangkan, sehingga iklim investasi pada unit penangkapan jaring udang di wilayah tersebut dapat memberikan harapan yang baik. Namun sebelum investasi terhadap pengembangan kuantitas unit penangkapan jaring udang direalisasikan, perlu kiranya dikaji secara mendalam terhadap kelayakannya dan kapasitasnya tanpa mengganggu aspek kelestarian sumberdaya udangnya. Penelitian bertujuan : (i) menganalisis kondisi optimal tingkat pemanfaatan sumberdaya udang penaeid dengan didasarkan pada pengelolaan sumberdaya perikanan dibawah rezim optimasi dinamik, (ii) menganalisis peluang pengembangan investasi pada unit penangkapan jaring udang, dan (iii) menganalisis kelayakan finansial investasi tersebut. Penelitian ini menggunakan data runtut waktu (time series) perikanan pada periode 1983 – 2006. Sementara data primer diperoleh melalui wawancara terhadap 90 nelayan Jaring Udang. Hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan model bioekonomi menunjukkan bahwa : (i) tingkat pemanfaatan sumberdaya udang penaeid pada kondisi aktual dengan tingkat harvest sebesar 4 851 278 kg dan effort sebesar 1 137 unit armada penangkapan jaring udang ternyata masih lebih kecil daripada kondisi optimal pengelolaan sumberdaya perikanan rezim optimasi dinamik yang memiliki tingkat harvest sebesar 7 995 410,45 kg dengan effort 4 642,51 unit armada penangkapannya, (ii) peluang pengembangan investasi pada unit penangkapan jaring udang masih dapat dilakukan hingga senilai Rp 40 097 024 651,07 (± 40 milyar rupiah) setara dengan motorisasi 3 506 unit armada penangkapan jaring udang, dan (iii) hasil analisis finansial dari kegiatan usaha penangkapan jaring udang masih layak diusahakan dengan kriteria nilai NPV sebesar Rp 36 093 761,19 dan net B/C sebesar 6,5. Upaya pengembangan investasi terhadap armada unit penangkapan jaring udang mensyaratkan agar pelayanan jasa pelabuhan perikanannya ada dalam kondisi yang baik.
ANALISIS EFISIENSI UNIT PENANGKAPAN PUKAT CINCIN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI LAMPULO BANDA ACEH Ratna Mutia Aprilia; Mustaruddin Mustaruddin; Eko Sri Wiyono; Nimmi Zulbainarni
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 4 No 1 (2013): MEI 2013
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.95 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.4.9-20

Abstract

Pengukuran produktivitas, efisiensi secara teknis dan ekonomi merupakan indikator utama dalam menilai kemampuan usaha dari unit penangkapan. Tujuan penelitian ini adalah menghitung produktivitas unit penangkapan pukat cincin, memformulasikan faktor-faktor produksi yang berperan terhadap hasil tangkapan dan hubungannya terhadap hasil tangkapan unit penangkapan pukat cincin, serta menghitung efisiensi dari penggunaan faktor produksi unit penangkapan pukat cincin yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Lampulo. Faktor produksi yang menunjang hasil tangkapan unit penangkapan pukat cincin seperti ukuran kapal, daya mesin kapal, panjang jaring, tinggi jaring, jumlah awak kapal, BBM, jumlah lampu, jumlah es, jumlah air tawar dan biaya perbekalan dianalisis menggunakan pendekatan Cobb-Douglas. Perhitungan produktivitas dilakukan dengan pendekatan rata-rata hasil tangkapan pukat cincin selama setahun dibagi dengan besarnya Gross Tonage dan trip penangkapan. Hasil penelitian menunjukkan produktivitas per trip tertinggi yaitu 1.86 ton/trip pada tahun 2012 dan produktivitas per GT tertinggi yaitu 9.97 ton/GT pada tahun 2011. Persamaan fungsi produksi Cobb-Douglas unit penangkapan pukat cincin di PPP Lampulo yaitu LnY = -18.875 - 0.432 LnX2 + 0.467 LnX4 - 1.116 LnX5 - 0.184 LnX7 + 2.181 LnX10, dengan nilai R2 = 0.727. Analisis efisiensi teknis pada 54 kapal menunjukkan penggunaan faktor produksi daya mesin kapal (-0.432), jumlah awak kapal (-1.116), dan jumlah lampu (-0.184) nilai elastisitas produksinya sudah negatif (Ep<0) yang menunjukkan penggunaan faktor produksi sudah tidak efisien, sedangkan faktor produksi dari tinggi jaring (0.467) berada pada tahap produksi rasional karena berada antara 0<Ep<1 dan faktor produksi biaya perbekalan (2.181) nilai Ep>1 yang artinya penggunaan faktor produksi belum efisien. Efisiensi ekonomis penggunaan variabel faktor produksi tersebut tidak efisien karena nilai NPMxi/BKMxi<1.
POLA PEMANFAATAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN KABUPATEN CIAMIS Endratno Endratno; Domu Simbolon; Budy Wiryawan; Roza Yusfiandayani
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 4 No 1 (2013): MEI 2013
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.801 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.4.21-29

Abstract

Kegiatan perikanan tangkap berupa area fishing ground pada kawasan konservasi perairan di Kabupaten Ciamis dapat menimbulkan konflik multi sektor dalam pengelolaan perikanan. Integrasi zonasi kawasan konservasi dengan daerah fishing ground belum pernah dilakukan karena batas zonasi kawasan konservasi belum diberikan secara definitif, sehingga perlu dilakukan kajian. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa pola pemanfaatan sumber daya ikan oleh kegiatan perikanan tangkap pada kawasan konservasi perairan Kabupaten Ciamis dengan menggunakan pendekatan analisis spasial. Hasilnya menunjukkan area fishing ground, aturan-aturan mengenai jalur penangkapan pada zonasi yang ada pada kawasan konservasi perairan Kabupaten Ciamis secara spasial. Pola pemanfaatan sumber daya ikan telah sesuai pada zona pemanfaatan dan zona perikanan berkelanjutan, namun masih terdapat alat penangkapan ikan yang belum sesuai dengan mekanisme pemanfaatan berkelanjutan. Kegiatan penangkapan ikan dominan berada pada daerah pantai sehingga perlu dikembangkan dengan mendorong nelayan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan di luar wilayah pantai.
HUBUNGAN TIPE DASAR PERAIRAN DENGAN DISTRIBUSI IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN PANGKAJENE SULAWESI SELATAN 2011 Hidayanto Akbar; Sri Pujiyati; M. Natsir
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 4 No 1 (2013): MEI 2013
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.821 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.4.31-39

Abstract

The bottom on benthic substrate type of waters affect the distribution of demersal fish species. Type of the substrate in waters Pangkajene South Sulawesi dominated by muddy sand. The highest distribution of demersal fish was found in the depth of 10.45 m until 15.25 m with substrate muddy sand, demersal fish was the family of kakap or jenaha (Lutjanidae). Fish demersal in waters Pangkajene more influenced by the depth of waters than type of the substrate on the waters.
KESELAMATAN KAPAL PENANGKAP IKAN, TINJAUAN DARI ASPEK REGULASI NASIONAL DAN INTERNASIONAL Djodjo Suwardjo; John Haluan; Indra Jaya; Soen'an H. Poernomo
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.145 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.1-13

Abstract

Pekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang tergolong membahayakan dibanding pekerjaan lain, maka profesi pelaut kapal penangkap ikan memiliki karakteristik pekerjaan “3d” yaitu: membahayakan (dangerous), kotor (dirty) dan sulit (difficult) dengan ketiga sifat pekerjaan tersebut ditambah faktor ukuran kapal yang didominasi kapal-kapal berukuran relatif kecil, berlayar pada perairan gelombang tinggi dengan kondisi cuaca tidak menentu sehingga dapat meningkatkan tingkat kecelakaan kapal penangkap ikan. Keselamatan kapal penangkap ikan merupakan interaksi faktor-faktor yang kompleks, yakni human factor (nakhoda dan anak buah kapal), machines (kapal dan peralatan keselamatan) dan enviromental (cuaca dan skim pengelolaan sumberdaya perikanan). Permasalahan keselamatan atau kecelakaan akan timbul apabila salah satu elemen dari human factor, machines atau enviromental factor tersebut tidak berfungsi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi peraturan keselamatan kapal penangkap ikan pada tingkat nasional dan internasional serta keterkaitan kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan dan kapal niaga. Penelitian dilaksanakan Mei 2008 – Maret 2009. Data primer diperoleh dari berbagai sumber, seperti Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegal Sari Kota Tegal, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pekalongan, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Cilacap dan Kementerian Perhubungan. Kebijakan keselamatan kapal penangkap ikan pada dasarnya mencakup kebijakan kelaikan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, dan pencegahan polusi laut dari kegiatan kapal penangkap ikan, baik pada tataran nasional maupun internasional. Pengaturan kelaikan dan dinas jaga kapal/pengawakan kapal penangkap ikan merupakan pengawasan atau kontrol dari pemerintah terhadap pihak yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan untuk meningkatkan keselamatan jiwa, harta benda dan lingkungan laut. Mengingat karakteristik pekerjaan pada kapal penangkap ikan membahayakan awak kapal dan lingkungan sosial lebih kompleks, serta jumlah nelayan yang begitu banyak, maka di Indonesia, pengaturan tentang kelaiklautan kapal, dinas jaga kapal/pengawakan kapal, pendidikan, pelatihan dan sertifikasi awak kapal, kepelautan kapal perikanan dan pelabuhan perikanan sebaiknya diatur tersendiri, sebagaimana pengaturan pada tataran internasional telah diatur terpisah dari pengaturan kapal niaga
PERSEPSI PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGELOLAAN WISATA BAHARI DI KEPULAUAN KAPOPOSAN KABUPATEN PANGKEP Khrisna Samudra; Mulyono S. Baskoro; Sugeng Hari Wisudo; Budhi H. Iskandar
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.637 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.15-23

Abstract

Kapoposan islands in Pangkep Regency consist of six small islands named are Kapoposan, Gondongbali, Papandangan, Suranti, Tambakulu and Pamanggangan. Those six islands with the area, will be developing on marine tourism activities. The primary data was collected by survey, deep interview and focus group discussion activities, which being process with Analytical Hierarchy Process (AHP) with helping by expert choice. Based on AHP result, the priority of stakeholders perceptions on marine tourism management of Kapoposan Islands in Pangkep Regency as like this follow: the Central Goverment, the Regency Goverment, the private sector, and non bureaucracy institusion
FAKTOR PERSEPSI INDIVIDU DALAM PENGEMBANGAN PERIKANAN LINTAS BATAS Romelus Far Far; John Haluan; Mulyono S. Baskoro; Victor Nikijuluw
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 1 No 2 (2010): NOVEMBER 2010
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.793 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.1.25-32

Abstract

Mengelola sumber daya perikanan di wilayah perbatasan akan tergantung pada perilaku dan persepsi masyarakat untuk memberi reaksi terhadap masalah mereka. Makalah ini akan menganalisis tentang faktor persepsi individu untuk pengembangan perikanan lintas batas seperti pemasangan sejarah, alat penangkapan ikan, produksi, dan lokasi pemasaran, sumber pengetahuan tentang wilayah pemilik dan model parsial persepsi nelayan di Lirang, Wetar dan Kepulauan Kisar. Model parsial persepsi individu TCIF (Transboundary Commuters for Illegal Fishing) adalah e-1,372 + 0,846 SPKW + 1,029 PAN-TL atau P (TCIF_ individual perception) = f (SPKW, PAN-TL).